Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
I.

Latar Belakang
Antibiotik adalah salah satu obat yang paling sering diresepkan dalam
pengobatan modern dan digunakan untuk mengobati infeksi bakteri pada
tubuh jika digunakan dengan benar. Antibiotik juga dikenal sebagai
antibacterial; antibiotic diambil dari kata Yunani dimana anti berarti
melawan dan bios berarti hidup ( bakteri bentuk kehidupan . penisilin
adalah antibiotic pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming pada
tahun 1929 dan ini merupakan penemuan yang signifikan dalam ilmu
(Setiadi, 2003).
Menurut National Health Services (NHS) di United Kingdom , ada
berbagai jenis antibiotic dan dipakai tergantung pada jenis infeksi.
Diantaranya

adalah

aminoglikosida,

beta

laktam,

sulfonamide,

makrolid,

glikopreptida

tetrasiklin,
dan

kuinolon,

oxazozolidinones..

antibiotic bersifat bakterisidal yang bekerja dengan membunuh bakteri


atau bakteriostatik dimana ia bekerja dengan menghentikan perkembangan
bakteri (Manoharan, 2012).
Indonesia menduduki peringkat ke-8 dari 27 negara dengan beban
tinggi kekebalan obat terhadap kuman (Multidrug Resistance/ MDR)
didunia berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia ( WHO ) tahun 2009.
Infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri umumnya dilihat dalam praktek
adalah impetigo, erysipelas, selulitis, dan folikulitis. Organism yang paling
umum terlihat pad kulit yang terserang infeksi bakteri adalah
strreptokokus,

staphylococcus

aureus

dan

Methicilin-resistent

Staphylococcus Aureus (MRSA). Infeksi bakteri kulit menjadi kondisi


ketujuh yang paling umum dijumpai pada anak anak yang dirawat di
rumah sakit pada tahun 2009) (Manoharan, 2012).

BAB 2
1

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Antibiotika berasal dari bahasa latin yang terdiri dari anti = lawan, bios
=hidup. Adalah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi dan
bakteri tanah, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba
jenis lain, sedang toksisitasnya terhadap manusia relatif kecil (Setiadi, 2003).
Antibiotik pertama kali ditemukan oleh sarjana Inggris dr.Alexander Fleming
(Penisilin) pada tahun 1928. Tetapi penemuan ini baru dikembangkan dan
digunakan dalam terapi di tahun 1941 oleh dr. Florey. Kemudian banyak zat
dengan khasiat antibiotik diisolir oleh penyelidik-penyelidik lain diseluruh
dunia, namun toksisitasnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan
sebagai obat. Antibiotik juga dapat dibuat secara sintetis, atau semisintetis.
Aktivitas antibiotik umumnya dinyatakan dalam satuan berat(mg) kecuali
yang belum sempurna permurniannya dan terdiri dari campuran beberapa
macam zat, atau karena belum diketahui struktur kimianya, aktivitasnya
dinyatakan dalam satuan internasional = Internasional Unit (IU) (Harahap,
2000).
2.2 Klasifikasi
Meskipun terdapat beberapa golongan untuk antibiotik berdasarkan spektrum
bakteri atau cara pemberian ( injeksi, oral dan topikal) atau sifat ( bakterisid
dan bakteriostatis). Golongan antibiotik yang umum digunakan dilihat dari
keefektivitasan, toksisitas, dan potensial alergi (Schwartz, 2010).
1. Penisilin
Merupakan golongan antibiotik paling lama dan memiliki struktur kimia
yang sama dengan chepalosporins. Keduanya sama seperti beta-laktam dan
umumnya bersifat bakteriosid. Penisilin masih dapat dibagi lagi. Penisilin
berdasarkan strukturnya ; penisilinase resisten, terutama methicillin dan
oxacillin. Aminopenisilin seperti ampisillin dan amoxicillin termasuk
dalam golongan spektrum luas dibandingkan dengan penisilin. Penisilin
dengan spektrum luas dapat melawan infeksi karena bakteri dalam jumlah
yang besar. Biasanya mencakup Pseudomonas aeruginosa dan dapat

pemberian

penisilin

dapat

dikombinasikan

dengan

penghambat

penisilinase (Schwartz, 2010).


2. Sefalosporin
Sefalosporin berkaitan erat dengan sefamisin dan carbapenem seperti
penisilin yang mengandung struktur kimia beta laktam. Akibatnya terdapat
beberapa pola silang resisten dan silang alergi diantara obat 0 obatan
dalam golongan tersebut. Obat ini memiliki beberapa golongan dan
dikelompokkan menjadi generasi 1 , generasi 2 , dan generasi 3. Setiap
generasi mempunyai spektrum luas dibandingkan golongan obat
sebelumnya. Selain itu, cefoxitin dan chepamicin sangat kuat dalam
melawan bakteri anaerob, dapat juga digunakan dalam mengobati infeksi
saluran pencernaan. Obat generasi ketiga seperti cefotaxime, ceftizoxime,
ceftriaxone dan yang lainnya dapat menembus sawar pembuluh darahotak. Sehingga dapat juga digunakan untuk pengobatan meningitis dan
ensefalitis. Sefalosporin biasa digunakan untuk perlindungan dalam kasus
-kasus pembedahan (Schwartz, 2010).
3. Fluorokuinolon
Fluorokuinolon merupakan antibiotik buatan dan tidak berasal dari bakteri.
Obat ini termasuk dalam antibiotik karena dapat dengan mudah ditukar
dengan obat antibiotik tradisional. Pada awalnya, berikatan dengan
golongan antibakteri, kuinolon yang tidak terabsorbsi dengan baik dan
dapat digunakan hanya untuk mengobati infeksi saluran kemih.
Fluorokuinolon termasuk obat dengan spektrum luas yang bersifat
bakterisid dan tidak berikatan dengan penisilin atau sefalosporin. Obat ini
didistribusi dan diabsorbsi dengan baik pada jaringan tulang. Secara umum
lebih efektif jika diberikan secara oral maupun intavena melalui infus
(Schwartz, 2010).
4. Tetrasiklin
Disebut tetrasiklin karena struktur kimianya memiliki 4 cincin. Obat ini
berasal dari bakteri spesies Streptomyces. Tetrasiklin termasuk obat dengan
spektrum luas yang bersifat bakteristatik yang efektif dalam pengobatan
berbagai macam penyakit karena mikroorganisme termasuk rickettsia dan
amobiasis parasit (Schwartz, 2010).
5. Makrolide

Obat antibiotik ini berasal dari bakteri Streptomyces, yang mana bakteri
tersebut memiliki struktur kimia makrosiklik lakton. Eritromisin
merupakan bentuk dasar dari golongan ini, sedangkan spektrum dan
penggunaannya sama seperti penisilin. Kelompok
azithromisin

dan

clarithyromycin.

pengobatan infeksi

Clarithyromycin

yang baru yaitu


dikenal

dalam

Helycobacter pylori karena peradangan gaster

(Schwartz, 2010).
Pada golongan antibiotik lainannya termasuk aminoglikosida, yang
digunakan dan efektif dalam pengobatan infeksi Pseudomonas aeruginosa ;
linkosamin, klindamisin, dan lincomisin sangat berperan pada bakteri patogen
anaerob. Terdapat beberapa obat lainnya yang digunakan untuk infeksi yang
lebih spesifik.
2.3 Mekanisme Kerja Antibiotik
Mekanisme kerja antibiotika antara lain (Gelmetti, 2008):
1. Menghambat sintesa dinding sel, akibatnya pembentukan dinding sel tidak
sempurna dan tidak dapat menahan tekanan osmosa dari plasma, akhirnya
sel akan pecah (penisilin dan sefalosporin).
2. Menghambat sintesa membran sel, molekul lipoprotein dari membran sel
dikacaukan pembentukannya, hingga bersifat lebih permeable akibatnya
zat-zat penting dari isi sel dapat keluar (kelompok polipeptida)
3. Menghambat sintesa protein sel, akibatnya sel tidak sempurna terbentuk
(kloramfenicol, tetrasiklin)
4. Menghambat pembentukan asam-asam inti (DNA dan RNA) akibatnya sel
tidak dapat berkembang (rifampisin)

2.4 Efek Samping Antibiotik


Efek samping penggunaan antibiotik dapat dikelompokkan menurut
reaksi alergi, reaksi idiosinkrasi, reaksi toksik, serta perubahan biologik dan
metabolik pada hospes (Harahap, 2000).
4

1. Reaksi alergi
Reaksi alergi dapat ditimbulkan oleh semua antibiotik dengan
melibatkan sistem imun tubuh hospes. Terjadinya tidak bergantung pada
besarnya dosis obat. Manifestasi gejala dan derajat beratnya reaksi dapat
bervariasi (Wasitaatmadja, 2007).
Prognosis reaksi seringkali sukar diramalkan walaupun didasarkan
atas riwayat reaksi alergi pasien. Orang yang pernah mengalami reaksi
alergi, misalnya oleh penisilin, tidak selalu mengalami reaksi itu kembali
ketika diberikan obat yang sama. Sebaliknya orang tanpa riwayat alergi
dapat mengalami reaksi alergi pada penggunaan ulang penisilin. Reaksi
alergi pada kulit akibat penggunaan penisilin dapat menghilang sendiri,
walaupun terapinya diteruskan. Peristiwa ini mungkin berdasarkan pada
desensitisasi. Tetapi pada kejadian reaksi alergi yang lebih berat daripada
eksantem kulit, sebaiknya terapi antibiotik tersebut dihentikan. Sebab
makin berat sifat reaksi pertama makin besar kemungkinan timbulnya
reaksi yang lebih berat pada pemberian ulang, berupa anafilaksis,
dermatitis eksfoliativa, angioedema, dan lain-lain (Harahap, 2000).
2. Reaksi idiosinkrasi
Gejala ini merupakan reaksi abnormal yang diturunkan secara genetik
terhadap pemberian antibiotik tertentu. Sebagai contoh, 10% pria berkulit
hitam akan mengalami anemia hemolitik berat bila mendapat primakuin,
ini disebabkan mereka kekurangan enzim G6PD (Harahap, 2000).
3. Reaksi toksik
Antibiotik pada umumnya bersifat toksik selektif, tetapi sifat ini
relatif. Efek toksik pada hospes dapat ditimbulkan oleh semua jenis
antibiotik. Yang mungkin dapat dianggap relatif tidak toksik sampai saat
ini adalah golongan penisilin. Dalam menimbulkan efek toksik, masingmasing antibiotik dapat memiliki predileksi terhadap organ atau sistem
tertentu pada tubuh hospes(Harahap, 2000).
Golongan aminoglikosida pada umumnya bersifat toksik terutama
terhadap nervus octavus. Golongan tetrasiklin cukup terkenal dalam
mengganggu pertumbuhan jaringan tulang, termasuk gigi, akibat deposisi
5

kompleks tetrasiklin kalsium ortofosfat. Dalam dosis besar obat ini bersifat
hepatotoksik, terutama pada pasien pielonefritis dan pada wanita hamil.
Di samping faktor jenis obat, berbagai faktor dalam tubuh juga dapat
menentukan terjadinya reaksi toksik, antara lain fungsi organ/sistem
tertentu sehubungan dengan biotransformasi dan ekskresi obat (Mohajeri,
2012).
4. Perubahan biologik dan metabolik
Pada tubuh hospes, baik yang sehat maupun yang menderita infeksi,
terdapat populasi mikroflora normal. Dengan keseimbangan ekologik,
populasi mikroflora tersebut biasanya tidak menunjukkan sifat patogen.
Penggunaan antibiotik terutama yang berspektrum luas dapat mengganggu
keseimbangan ekologik mikroflora sehingga jenis mikroba yang
meningkat jumlah populasinya dapat menjadi patogen. Gangguan
keseimbangan ekologik mikroflora normal tubuh dapat terjadi di saluran
cerna, napas, saluran kelamin dan pada kulit. Pada beberapa keadaan
perubahan ini dapat menimbulkan superinfeksi, yaitu suatu infeksi baru
yang terjadi akibat terapi infeksi primer dengan suatu antibiotik. Mikroba
penyebab superinfeksi biasanya ialah jenis mikroba yang menjadi dominan
pertumbuhannya

akibat

penggunaan

antibiotik

berspektrum

luas,

khususnya tetrasiklin. (Harahap, 2000)


Penggunaan antibiotika tanpa resep dokter atau dengan dosis yang
tidak tepat dapat menggagalkan pengobatan dan menimbulkan bahayabahaya lain seperti (Gelmetti, 2008):
a. Sensitasi / hipersensitif
Banyak obat setelah digunakan secara lokal dapatmengakibatkan
kepekaan yang berlebihan, kalau obat yang sama kemudian diberikan
secara oral atau suntikan maka kemungkinan terjadi reaksi hipersentitif
atau alergi seperti gatalgatal kulit kemerah-merahan, bentol-bentol atau
lebih

hebat

lagi

dapat

terjadi

syok,

contohnya

Penisilin

danKloramfenikol. Guna mencegah bahaya ini maka sebaiknya salepsalep menggunakan antibiotika yang tidak akan diberikan secara
sistemis (oral dan suntikan).
6

b.

Resistensi
Jika obat digunakan dengan dosis yang terlalu rendah, atau waktu
terapi kurang lama, maka hal ini dapat menyebabkan terjadinya
resistensi artinya bakteri tidak peka lagi terhadap obat yang
bersangkutan. Untuk mencegah resistensi, dianjurkan menggunakan
kemoterapi dengan dosis yang tepat atau dengan menggunakan
kombinasi obat.

c.

Super infeksi
Yaitu infeksi sekunder yang timbul selama pengobatan dimana sifat
dan penyebab infeksi berbeda dengan penyebab infeksi yang pertama.
Super infeksi terutama terjadi pada penggunaan antibiotika broad
spektrum yang dapat mengganggu keseimbangan antara bakteri di
dalam usus saluran pernafasan dan urogenital. Spesies mikroorganisme
yang lebih kuat atau resisten akan kehilangan saingan, dan berkuasa
menimbulkan infeksi baru misalnya timbul jamur Candida albicans.
Selain antibiotik obat yang menekan sistem tangkis tubuh yaitu
kortikosteroid dan imunosupressiva lainnya dapat menimbulkan super
infeksi. Khususnya, anak-anak dan orang tua sangat mudah dijangkiti
super infeksi ini.
Pada pasien yang lemah, superinfeksi potensial dapat sangat
berbahaya, sebab kebanyakan mikroba penyebab superinfeksi biasanya
adalah kuman gram-negatif dan stafilokokus yang multi-resisten
terhadap obat, candida serta fungus sejati. Keadaan superinfeksi secara
khusus dapat menimbulkan kesulitan di rumah sakit. Kejadian resistensi
galur kuman yang tadinya sensitif terhadap suatu antibiotik di rumah
sakit terus meningkat, sehingga bila superinfeksi terjadi dengan
mikroba yang telah menjadi resisten, terapi akan sangat sukar berhasil.
Faktor yang mempermudah terjadinya superinfeksi adalah:

Adanya faktor atau penyakit yang mengurangi daya tahan tubuh


pasien

Penggunaan antibiotik yang terlalu lama

Luasnya spektrum aktivitas antibiotik, baik tunggal maupun


kombinasi.

Makin luas spektrum antibiotik, makin besar kemungkinan suatu jenis


mikroflora tertentu menjadi dominan. Frekuensi kejadian superinfeksi
paling rendah adalah dengan penisilin G.
Jika terjadi superinfeksi, tindakan yang perlu dilakukan untuk
mengatasinya yaitu menghentikan terapi antibiotik yang sedang digunakan,
melakukan biakan dan tes resistensi obat terhadap mikroba penyebab
superinfeksi, dan memberikan suatu antibiotik yang efektif terhadap
mikroba tersebut sesuai dengan hasil tes resistensi obat.
Selain menimbulkan perubahan biologik tersebut, penggunaan
antibiotik tertentu dapat pula menimbulkan gangguan nutrisi atau metabolik,
contohnya gangguan absorbsi zat makanan oleh neomisin.
2.5 Sediaan Topikal
Sediaan topikal adalah sediaan yang penggunaannya pada kulit dengan
tujuan untuk menghasilkan efek lokal, contoh : lotio, salep, dan krim. Lotio
merupakan preparat cair yang dimaksudkan untuk pemakaian pada bagian
luar kulit. Pada umumnya pembawa dari lotio adalah air. Lotio dimaksudkan
untuk digunakan pada kulit sebagai pelindung atau untuk obat karena sifat
bahan bahannya. Kecairannya memungkinkan pemakaian yang merata dan
cepat pada permukaan kulit. Setelah pemakaian, lotio akan segera kering dan
meninggalkan lapisan tipis dari komponen obat pada permukaan kulit. Fase
terdispersi pada lotio cenderung untuk memisahkan diri dari pembawanya
bila didiamkan sehingga lotio harus dikocok kuat setiap akan digunakan
supaya bahan-bahan yang telah memisah terdispersi kembali (Bonner, 2008).
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan
digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya larut atau terdispersi homogen
dalam dasar salep yang cocok. Salep tidak boleh berbau tengik. Menurut
pemikiran modern salep adalah sediaan semipadat untuk pemakaian pada
kulit dengan atau tanpa penggosokan. Oleh karena itu salep dapat terdiri dari

substansi berminyak atau terdiri dari emulsi lemak atau lilin yang
mengandung air dalam proporsi relatif tinggi (Bonner, 2008).
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau
lebih bahan obat yang terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
Krim mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam
minyak atau minyak dalam air. Sekarang batasan tersebut lebih diarahkan
untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi
mikrokristal asam asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air yang
dapat dicuci dengan air. Prinsip pembuatan krim adalah berdasarkan proses
penyabunan (saponifikasi) dari suatu asam lemak tinggi dengan suatu basa
dan dikerjakan dalam suasana panas yaitu temperatur 70- 80 C. Krim
merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan ke bagian
kulit badan. Obat luar adalah obat yang pemakaiannya tidak melalui mulut,
kerongkongan, dan ke arah lambung. Menurut defenisi tersebut yang
termasuk obat luar adalah obat luka, obat kulit, obat hidung, obat mata, obat
tetes telinga, obat wasir dan sebagainya (Bonner, 2008).
Ada beberapa tipe krim seperti emulsi, air terdispersi dalam minyak
(A/M) dan emulsi minyak terdispersi dalam air (M/A). sebagai pengemulsi
dapat digunakan surfaktan anionik, kationik dan non anionik. Untuk krim tipe
A/M digunakan : sabun monovalen, tween, natrium laurylsulfat, emulgidum
dan lain-lain. Krim tipe M/A mudah dicuci. Dalam pembuatan krim
diperlukan suatu bahan dasar. Bahan dasar yang digunakan harus memenuhi
kriteria-kriteria tertentu. Kualitas dasar krim yang diharapkan adalah sebagai
berikut (Gelmetti, 2008):
a. Stabil
b. Lunak
c. Mudah dipakai
d. Dasar krim yang cocok
e. Terdistribusi merata
Fungsi krim adalah:
a. Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit
b. Sebagai bahan pelumas bagi kulit
9

c. Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak langsung dengan


zat-zat berbahaya.
Obat kulit yang umum digunakan mengandung obat-obat golongan
antibiotika, kortikosteroid, antiseptik lokal, antifungi dan lain-lain. Obat
topikal kulit dapat berupa salep, krim, pasta dan obat cair. Pemilihan bentuk
obat kulit topikal dipengaruhi jenis kerusakan kulit, daya kerja yang
dikehendaki, kondisi penderita, dan daerah kulit yang diobati. Obat kulit
topikal mengandung obat yang bekerja secara lokal. Tapi pada beberapa
keadaan, dapat juga bekerja pada lapisan kulit yang lebih dalam, misalnya
pada pengobatan penyakit kulit kronik dengan obat kulit topikal yang
mengandung kortikosteroid. Obat kulit digunakan untuk mengatasi gangguan
fungsi dan struktur kulit (Bonner, 2008).
Gangguan fungsi struktur kulit dapat dibagi ke dalam tiga golongan, yaitu
(Gelmetti, 2008):
1. Kerusakan Kulit Akut : kerusakan yang masih baru dengan tanda bengkak,
berdarah, melepuh, dan gatal.
2. Kerusakan Kulit Sub Akut : gangguan fungsi dan struktur kulit, yang telah
terjadi antara 7-30 hari, dengan tanda-tanda antara lain bengkak yang
makin parah dan sudah mempengaruhi daerah sekelilingnya.
3. Kerusakan Kulit Kronik : kerusakan yang telah lama terjadi dan hilang
serta timbul kembali, dari beberapa bulan sampai bertahun-tahun.
Biasanya kulit menjadi tebal, keras dan retak-retak.

10

2.6 Pemakaian Antibiotik Topikal


Antibiotika topikal memegang peranan penting pada penanganan kasus
di bidang kulit. Efek samping pemakaian antibiotik topikal diantaranya
adalah menyebabkan terjadinya dermatitis kontak alergi / iritan, penetrasinya
rendah pada jaringan yang terinfeksi, lebih cepat terjadi resistensi mikroba,
efek toksik (absorbsi sistemik), dan mengganggu flora normal tubuh.
Antibiotika topikal adalah obat yang paling sering diresepkan oleh spesialis
11

kulit untuk menangani akne vulgaris ringan sampai sedang serta merupakan
terapi adjunctive dengan obat oral. Untuk infeksi superfisial dengan area yang
terbatas, seperti impetigo, penggunaan bahan topikal dapat mengurangi
kebutuhan akan obat oral, problem kepatuhan, efek samping pada saluran
pencernaan, dan potensi terjadinya interaksi obat. Selanjutnya, antibiotika
topikal seringkali diresepkan sebagai bahan profilaksis setelah tindakan bedah
minor atau tindakan kosmetik (dermabrasi, laser resurfacing) untuk
mengurangi resiko infeksi setelah operasi dan mempercepat penyembuhan
luka (Ozkan, 2000).
2.7 Pengobatan Topikal Untuk Akne
Efikasi antibiotika topikal pada pengobatan akne vulgaris dan rosasea
berhubungan langsung dengan efek antibiotika, dan diduga beberapa
antibiotika topikal memiliki efek anti-inflamasi dengan menekan neutrophil
chemotactic factor atau melalui mekanisme lain. Banyak hal yang harus
dipertimbangkan dalam memilih antibiotika topikal untuk akne vulgaris
karena meningkatnya resistensi terhadap antibiotika yang sering digunakan.
Ini menyebabkan para ahli mencari kemungkinan terapi kombinasi untuk
akne vulgaris yang dapat mengurangi terjadinya resistensi (Ozkan, 2000).
a. Eritromisin
Eritromisin termasuk antibiotika golongan makrolid dan efektif baik
untuk kuman gram positif maupun gram negatif. Antibiotika ini dihasilkan
oleh Streptomyces erythreus dan digunakan untuk pengobatan akne.
Eritromisin berikatan dengan ribosom 50S bakteri dan menghalangi
translokasi molekul peptidil-tRNA dari akseptor ke pihak donor,
bersamaan dengan pembentukan rantai polipepetida dan menghambat
sintesis protein. Eritromisin juga memiliki efek anti-inflamasi yang
membuatnya memiliki kegunaan khusus dalam pengobatan akne
(Wasitaatmadja, 2007).
Eritromisin tersedia dalam sediaan solusio, gel, pledgets dan salep 1,5
%-2% sebagai bahan tunggal. Juga tersedia dalam sediaan kombinasi
dengan benzoil peroksida, yang dapat menghambat resistensi antibiotika
12

terhadap eritromisin. Kombinasi zinc asetat 1,2% dengan eritromisin 4%


lebih efektif daripada dengan Clindamisin (Ozkan, 2000).
b. Klindamisin
Klindamisin

adalah

antibiotika

linkosamid

semisintetik

yang

diturunkan dari linkomisin. Mekanisme kerja antibiotika ini serupa dengan


eritromisin, dengan mengikat ribosom 50S dan menekan sintesis protein
bakteri. Klindamisin digunakan secara topikal dalam sediaan gel, solusio,
dan suspensi (lotio) 1% serta terutama untuk pengobatan akne. Juga
tersedia dalam kombinasi dengan benzoil peroksida yang dapat
menghambat resistensi antibiotika terhadap klindamisin. Efek samping
berupa kolitis pseudomembran jarang dilaporkan pada pemakaian
klindamisin secara topikal (Ozkan, 2000).
c. Metronidasol
Metronidasol, suatu topikal nitroimidasol, saat ini tersedia dalam
bentuk gel, lotio, dan krim 0,75%, serta sebagai krim 1% untuk
pengobatan topikal pada rosasea. Pada konsentrasi ringan, obat dipakai 2
kali sehari, sedangkan pada konsentrasi yang lebih tinggi obat dipakai
sekali sehari. Metronidasol oral memiliki aktifitas broad-spectrum untuk
berbagai organisme protozoa dan organisme anaerob. Mekanisme kerja
metronidasol topikal di kulit belum diketahui; diduga efek antirosasea
berhubungan dengan kemampuan obat sebagai antibiotika, antioksidan dan
anti-inflamasi (Wasitaatmadja, 2007).
d. Asam Azelaik
Asam Azelaik adalah suatu asam dikarboksilik yang ditemukan pada
makanan (sereal whole-grain dan hasil hewan). Secara normal terdapat
pada plasma manusia (20-80 ng/mL), dan pemakaian topikal tidak
mempengaruhi angka ini secara bermakna. Mekanisme kerja obat ini
adalah menormalisasi proses keratinisasi (menurunkan ketebalan stratum
korneum, menurunkan jumlah dan ukuran granul keratohialin, dan
menurunkan jumlah filagrin. Dilaporkan bahwa secara in vitro, terdapat
aktifitas

terhadap

Propionibacterium

acnes

dan

Staphylococcus

epidermidis, yang mungkin berhubungan dengan inhibisi sintesis protein


13

bakteri (tempat yang pasti sampai saat ini belum diketahui). Pada
organisme aerobik terdapat inhibisi enzim oksidoreduktif. Pada bakteri
anaerobik terdapat inhibisi pada enzim oksidoreduksi (seperti tyrosinase,
mitochondrial enzymes of the respiratory chain, 5-alpha reductase, dan
DNA polymerase). Pada bakteri anaerob, terdapat gangguan proses
glikolisis. Asam Azelaik digunakan terutama untuk pengobatan akne
vulgaris, dan ada yang menyarankan digunakan untuk hiperpigmentasi
(misalnya melasma), meskipun FDA tidak menyetujui indikasi ini. Asam
Azelaik tersedia dalam sediaan krim 20% (Ozkan, 2000).
2.8 Pengobatan Topikal Pada Infeksi Bakteri Superfisial
a. Mupirosin
Mupirosin, yang dahulu dikenal sebagai asam pseudomonik A adalah
antibiotika yang diturunkan dari Pseudomonas fluorescens. Obat ini secara
reversibel mengikat sintetase isoleusil-tRNA dan menghambat sintesis
protein bakteri. Aktifitas mupirosin terbatas terhadap bakteri gram positif,
khususnya

staphylococcus

dan

streptococcus.

Aktifitas

obat

ini

meningkatkan suasana asam. Mupirosin sensitif terhadap perubahan suhu,


sehingga tidak boleh terpapar dengan suhu tinggi. Salep mupirosin 2%
dioleskan 3 kali sehari dan terutama diindikasikan untuk pengobatan
impetigo dengan lesi terbatas, yang disebabkan oleh S. aureus dan
Streptococcus pyogenes. Tetapi, pada penderita immunocompromised
terapi yang diberikan harus secara sistemik untuk mencegah komplikasi
yang lebih serius. Pada tahun 1987 dilaporkan resistensi bakteri terhadap
mupirosin yang pertama kali. Setelah itu terdapat beberapa laporan
resistensi mupirosin

karena

pemakaian

antibiotika

topikal

untuk

methicillinresistant S. aureus (MRSA). Penelitian terakhir di Tennessee


Veterans Affairs Hospital menunjukkan bahwa penggunaan jangka
panjang salep mupirosin untuk mengontrol MRSA, khususnya pada
penderita ulkus dekubitus, meningkatkan resistensi yang bermakna. Lebih
lanjut, peneliti Jepang menemukan bahwa mupirosin konsentrasi rendah
dicapai setelah aplikasi intranasal dan dipostulasikan bahwa mungkin ini
14

menjelaskan resistensi terhadap mupirosin pada strain S. aureus. Suatu


studi percobaan
mengandung

menggunakan

basitrasin,

salep

polimiksin

antibiotika
B,

dan

kombinasi

gramisidin

yang

berhasil

menghambat kolonisasi pada 80% (9 dari 11) penderita yang setelah difollow-up selama 2 bulan tetap menunjukkan dekolonisasi. Semua kasus (6
dari 6) terhadap mupirosin-sensitive MRSA dieradikasi, sedangkan 3 dari 5
kasus terhadap mupirosin-sensitive MRSA dieliminasi. Formulasi baru
yang menggunakan asam kalsium (kalsium membantu dalam stabilisasi
bahan kimia) tersedia untuk penggunaan intranasal dalam bentuk salep 2%
dan krim 2% (Mondino, 2003).
2.9 Pengobatan Topikal Untuk Mencegah Infeksi Setelah Tindakan Bedah
Atau Untuk Pengobatan Dermatitis Kronik
Antibiotika topikal banyak dipakai untuk mengurangi infeksi setelah
tindakan bedah minor, pada dermatitis kronik seperti dermatitis stasis dan
dermatitis atopi, atau setelah abrasi ringan pada kulit. Studi terakhir
difokuskan pada insidens infeksi setelah biopsi kulit atau tindakan bedah
yang diberi antibiotika topikal. Pada beberapa kasus, antibiotika topikal
tampaknya menurunkan angka penyembuhan luka. Studi lain menunjukkan
bahwa penggunaan pembawa (vehicle) memberi hasil yang sama seperti
pemberian antibiotika pada penyembuhan luka tanpa resiko dermatitis kontak
iritan atau alergi terhadap bahan antibiotika. Hasil studi yang besar yang
membandingkan basitrasin dan petrolatum pada lebih dari 1200 tindakan
bedah minor dan biopsi menunjukkan bahwa bahan aktif basitrasin tidak
menurunkan angka infeksi secara bermakna, tetapi malah berhubungan
dengan dermatitis kontak alergi (Singh, 2007).
a. Basitrasin
Basitrasin adalah antibiotika polipeptida topikal yang berasal dari
isolasi strain Tracy-I Bacillus subtilis, yang dikultur dari penderita dengan
fraktur compound yang terkontaminasi tanah. Basi ini diturunkan dari
Bacillus, dan trasin berasal dari penderita yang mengalami fraktur
compound (Tracy). Basitrasin adalah antibiotika polipeptida siklik dengan
15

komponen multipel (A,B dan C). Basitrasin A adalah komponen utama


dari produk komersial dan yang sering digunakan sebagai garam zinc.
Basitrasin mengganggu sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat atau
menghambat defosforilasi suatu ikatan membran lipid pirofosfat, pada
kokus gram positif seperti stafilokokus dan streptokokus. Kebanyakan
organisme gram negatif dan jamur resisten terhadap obat ini. Sediaan
tersedia dalam bentuk salep basitrasin dan sebagai basitrasin zinc,
mengandung 400 sampai 500 unit per gram (Singh, 2007).
Basitrasin topikal efektif untuk pengobatan infeksi bakteri superfisial
pada kulit seperti impetigo, furunkolosis, dan pioderma. Obat ini juga
sering dikombinasikan dengan polimiksin B dan neomisin sebagai salep
antibiotika tripel yang dipakai beberapa kali sehari untuk pengobatan
dermatitis atopi, numularis, atau stasis yang disertai dengan infeksi
sekunder. Sayangnya, aplikasi basitrasin topikal memiliki resiko untuk
timbulnya sensitisasi kontak alergi dan meski jarang dapat menimbulkan
syok anafilaktik (Singh, 2007).
b. Polimiksin B
Polimiksin B adalah antibiotika topikal yang diturunkan dari
B.polymyxa, yang asalnya diisolasi dari contoh tanah di Jepang. Polimiksin
B adalah campuran dari polimiksin B1 dan B2, keduanya merupakan
polipeptida siklik. Fungsinya adalah sebagai detergen kationik yang
berinteraksi secara kuat dengan fosfolipid membran sel bakteri, sehingga
menghambat intergritas sel membran (Mondino, 2003).
Polimiksin B aktif melawan organisme gram negatif secara luas
termasuk P.aeruginosa, Enterobacter, dan Escherichia coli. Polimiksin B
tersedia dalam bentuk salep (5000-10000 unit per gram) dalam kombinasi
dengan basitrasin atau neomisin. Cara pemakaiannya dioleskan sekali
sampai tiga kali sehari (Mondino, 2003).

16

2.10 Aminoglikosida Topikal, Termasuk

Neomisin, Gentamisin, Dan

Paromomisin
Aminoglikosida adalah kelompok antibiotika yang penting yang
digunakan baik secara topikal atau pun sistemik untuk pengobatan infeksi
yang disebabkan bakteri gram negatif. Aminoglikosida memberi efek
membunuh bakteri melalui pengikatan subunit ribosomal 30S dan
mengganggu sintesis protein (Manoharan, 2012).
Neomisin sulfat, aminoglikosida yang sering digunakan secara topical
adalah hasil fermentasi Strep. faridae. Neomisin yang tersedia di pasaran
adalah campuran neomisin B dan C , sedangkan framisetin yang digunakan
di Eropa dan Canada adalah neomisin B murni. Neomisin sulfat memiliki
efek mematikan bakteri gram negatif dan sering digunakan sebagai
profilaksis infeksi yang disebabkan oleh abrasi superfisial, terluka, atau luka
bakar. Tersedia dalam bentuk salep (3,5 mg/g) dan dikemas dalam bentuk
kombinasi dengan antibiotika lain seperti basitrasin, polimiksin dan
gramisidin (Bonner, 2008).
Bahan lain yang sering dikombinasikan dengan neomisin adalah
lidokain, pramoksin, atau hidrokortison. Neomisin tidak direkomendasikan
oleh banyak ahli kulit karena dapat menyebabkan dermatitis kontak alergi.
Dermatitis kontak karena pemakaian neomisin memiliki angka prevalensi
yang tinggi, dan pada 6 8% penderita yang dilakukan patch test memberi
hasil positif. Neomisin sulfat (20%) dalam petrolatum digunakan untuk
menilai alergi kontak (Bonner, 2008).
Gentamisin sulfat diturunkan dari hasil fermentasi Micromonospora
purpurea. Tersedia dalam bentuk topikal krim atau salep 0,1%. Antibiotika
ini banyak digunakan oleh ahli bedah kulit ketika melakukan operasi
telinga, terutama pada penderita diabet atau keadaan immunocompromised
lain, sebagai profilaksis terhadap otitis eksterna maligna akibat P.
Aeruginosa (Gelmetti, 2008).
Paromomisin berhubungan erat dengan neomisin dan memiliki efek
antiparasit.

Sediaan

topikal

terdiri

dari

paramomisin

sulfat

dan

17

metilbenzetonium klorida yang digunakan di Israel untuk mengobati


leismaniasis kutaneus (Craft, 2008).
2.11

Antibiotika Lain
a. Gramisidin
Gramisidin adalah antibiotika topikal yang merupakan derivat B.
brevis. Gramisidin adalah peptida linier yang membentuk stationary
ion channels pada bakteri yang sesuai. Aktifitas antibiotika gramisidin
terbatas pada bakteri gram positif (Wasitaatmadja, 2007).
b. Kloramfenikol
Kloramfenikol di Amerika Serikat penggunaannya terbatas untuk
pengobatan infeksi kulit yang ringan. Kloramfenikol pertama kali
diisolasi dari Strep. venezuela, tetapi saat ini disintesis karena struktur
kimianya sederhana. Mekanisme kerjanya hampir mirip dengan
eritromisin dan klindamisin, yaitu menghambat ribosom 50S
memblokade translokasi peptidil tRNA dari akseptor ke penerima.
Kloramfenikol tersedia dalam krim 1 %. Obat ini jarang digunakan
karena dapat menyebabkan anemia aplastik yang fatal atau supresi
sum-sum tulang (Schwatz, 2010).
c. Sulfonamida
Struktur sulfonamida mirip dengan para-aminobenzoic acid (PABA)
dan bersaing dengan zat tersebut selama sintesis asam folat.
Sulfonamida jarang digunakan secara topikal, kecuali krim silver
sulfadiazine (Silvaden) dan krim mafenid asetat. Silver sulfadiazine
melepas silver secara perlahan-lahan. Silver memberi efek pada
membran dan dinding sel bakteri. Mekanisme kerja mefenid tidak
sama dengan sulfonamid karena tidak ada reaksi antagonis terhadap
PABA. Mafenid asetat yang digunakan untuk lesi yang luas pada kulit
dapat menyebabkan asidosis metabolik dan dapat menyebabkan rasa
nyeri. Golongan ini adalah antibiotika broad-spectrum dan digunakan
untuk luka bakar. Superinfeksi oleh Candida dapat terjadi karena
pemakaian krim mafenid (Wasitaatmadja, 2007).
18

d. Clioquinol / Iodochlorhydroxiquin
Clioquinol adalah antibakteri dan antijamur yang di-indikasi-kan
untuk pengobatan kelainan kulit yang disertai peradangan dan tinea
pedis serta infeksi bakteri minor. Clioquinol adalah sintetik
hydroxyquinoline

yang

mekanisme

kerjanya

belum diketahui.

Kerugian clioquinol adalah mengotori pakaian, kulit, rambut dan kuku


serta potensial menyebabkan iritasi. Clioquinol mempengaruhi
penilaian fungsi tiroid (efek ini dapat berlangsung hingga 3 bulan
setelah pemakaian). Tetapi clioquinol tidak mempengaruhi hasil tes
untuk pemeriksaan T3 dan T4 (Schwatz, 2010).
e. Nitrofurazone
Nitrofurazone (Furacin) adalah derivat nitrofuran yang digunakan
untuk pengobatan luka bakar. Mekanisme kerjanya adalah inhibisi
enzim bakteri pada degradasi glukosa dan piruvat secara aerob
maupun anaerob. Nitrofurazone tersedia dalam krim , solusio atau
kompres soluble 0,2%, dan aktifitas spektrum obat ini meliputi
staphylococcus, streptococcus, E. coli, Clostridium perfringens,
Aerobacter enterogenes, dan Proteus sp (Wasitaatmadja, 2007).
f. Asam Fusidat
Asam fusidat adalah sediaan topikal yang tidak tersedia di Amerika
Serikat, tetapi terdapat di Kanada dan Eropa sebagai antibakteri dalam
bentuk krim, salep, impregnated gauze. Asam fusidat adalah
antibiotika steroidal dengan mekanisme kerja mempengaruhi fungsi
faktor elongasi (EF-G) dengan menstabilkan EF-G-GDP-ribosome
complex, mencegah translokasi ribosom dan daur ulang bentuk EF-G
(Schwatz, 2010).
g. Retapamulin
Pada tanggal 17 April 2007 retapamulin telah disetujui oleh
(FDA) untuk digunakan sebagai pengobatan impetigo. Namun bukan
untuk yang disebabkan resisten oleh metisilin ataupun resisten
vankomisin. Retapamulin berikatan dengan subunit 50S ribosom pada
protein L3 dekat dengan peptidil transferase yang pada akhirnya akan
19

menghambat protein sintesis dari bakteri. Pada salah satu penelitian


yang telah dilakukan pada 210 pasien impetigo yang berusia diantara
9 sampai 73 tahun dengan luas lesi tidak lebih dari 100 cm2 atau>2%
luas dari total luas badan. Kultur yang telah dilakukan pada pasien
tersebutdidapatkan 82% dengan infeksi Staphylococcus aureus
(Harahap, 2000).
Pada pasien-pasien tersebut diberi retapamulin sebanyak 2 kali
sehari selama 5 hari terapi. Evaluasi dilakukan mulai hari ke dua
setelah hari terakhir terapi, dan didapatkan luas lesi berkurang, lesi
telah mengering, dan lesi benarbenar telah membaik tanpa
penggunaan

terapi

tambahan.

Pada

85,6%

pasien

dengan

menggunakan retapamulin didapatkan perbaikan klinis dan hanya


52,1% pasien mengalami perbaikan klinis yang menggunakan placebo
(Bonner, 2008).
Dicloxacillin. Penggunaan dicloxacillin merupakan First line
untuk pengobatan impetigo, namun akhir-akhir ini penggunaan
dicloxacillin mulai tergeser oleh penggunaan retapamulin topikal
karena diketahui retapamulin memiliki lebih sedikit efek samping bila
dibandingkan dengan dicloxacillin (Bonner, 2008).

20

BAB 3
KESIMPULAN

Antibiotika topikal memegang peranan penting pada penanganan kasus


di bidang kulit. Pengobatan Topikal Untuk Akne antara lain : eritromisin,
klindamisin, metronidasol, asam azelaik. Pengobatan Topikal Pada Infeksi Bakteri
Superfisial adalah Mupirosin. Pengobatan Topikal Untuk Mencegah Infeksi
Setelah Tindakan Bedah Atau Untuk Pengobatan Dermatitis Kronik antara lain :
Basitrasin, Polimiksin B. Adapula Aminoglikosida Topikal, Termasuk Neomisin,
Gentamisin, Dan Paromomisin. Antibiotika Lain antara lain: Gramisidin,
Kloramfenikol, sulfonamida, Clioquinol, Nitrofurazone (Furacin), Asam fusidat,
Retapamulin.

21

DAFTAR PUSTAKA
Bonner, Mark W. Benson, Paul M. James, William D. 2008. Topical Antibiotic.
In : Wolff, Klaus. Goldsmith, Lowell A. Katz, Stephen I. Glicherst,
Barbara A. Paller, Amy S. Leffel, David J. FitzPatricks Dermatology In
General Medicine. 7th ed. New York : McGraw Hill
Craft N, Lee PK, Zipoli MT, Weinberg AN, Schwartz MN, Johnson RA. 2008.
Superficial cutaneus infection and pyodermas. Fitzpatricks Dermatology
in General Medicine, 7th ed. New York: McGraw-Hill.
Gelmetti, carlo. 2008. Local antibiotics in dermatology. Journal Dermatologic
Therapy, Vol. 21. United States.
Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Hipokrates
Manoharan M. 2012. Penggunaan Antibiotik Terhadap Pasien Pioderma di RSUP
Haji Adam Malik, Medan Berdasarkan Jenis Infeksi Bakteri Kulit.
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Mohajeri, P. Gholamine, B. Rezai, M. Khamisabadi, Y. 2012. Frequency of
Mupirocin Resistant Staphylococcus aureus Strain Isolated From Nasal
Carriers in Hospital Patients in Kermashah : Jundishapur Journal of
Microbiology.
Mondino, P. Santos, K. Bastos, M. deMarval, M. 2003. Improvement of
Mupirocin E-Test for Susceptibility Testing of Staphylococcus aureus.
Rio de Janeiro : Journal of Microbiology.
Ozkan, Metin. Dormaz, Gul. Sabuncu, Ilham. Saracoglu, Nurhan. Akgun,
Yurdanur. Urar, Selim. 2000. Clinical Efficacy of Topical Clindamycin
Phospate and Azelaic Acid on Acne Vulgaris and Emergence of Resistant
Coagulase-Negative Staphyloccoci. Tubitak : Turk Journal Medical
Science
Schwartz, Robert A. Al-Mutairi, Nawaf. 2010. Topical Antibiotics In Dermatology
: An Update. USA and Kuwait : The Gulf Journal of Dermatology and
Venerology.
Setiadi R, Vincent H.S. 2003. Pengantar Antimikroba. Farmakologi dan Terapi.
p.571-583. Jakarta. Gaya baru.
Singh G. 2007. Paedrus Dermatitis. Indian J Dermatol Venereol Leprol. JanuaryFebruary 2007. Vol 73. Issue 1.

22

Wasitaatmadja, Sjarif M. 2007. Akne, Erupsi Akneformis, Rosasea dan Rinofima.


In Djuanda, Adi. Hamzah, Mochtar. Aisah, Siti. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

23