Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS JURNAL BERJUDUL STRENGTHS-ORIENTED

THERAPEUTIC CONVERSATIONS FOR FAMILIES CHILDREN


WITH CHRONIC ILLNESSES: FINDING FROM THE
LANDSPITALI UNIVERSITY
HOSPITAL NURSING IMPLEMENTATION PROJECT

ANALISIS JURNAL
disusun guna memenuhi tugas pemicu pra-kepaniteraan program pendidikan profesi ners
stase keperawatan keluarga

oleh:
Dicky Andriansyah, S.Kep.
Ratna Lauranita A, S.Kep.
Chrisnina, S.Kep.
Subaida, S.Kep.

NIM 112311101027
NIM 112311101029
NIM 112311101041
NIM 112311101048

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

BAB 1. PEMBAHASAN
1.1 Isi Jurnal
Perawatan kesehatan dengan keluarga yang memiliki anak dengan penyakit
kronis membutuhkan layanan psikososial seperti menawarkan intervensi terapi
percakapan (TCIs). Layanan tersebut dapat dilihat sebagai suatu yang mahal dan
memerlukan waktu yang cukup banyak, namun pemberian terapi tersebut cukup
dianjurkan sebagai pemberian intervensi keluarga dalam membantu pasien dan
anggota keluarga untuk mengelola pengalaman sakit seperti menggunakan strategi
koping aktif, berlatih berpikir optimis atau positif, dan menemukan makna dalam
situasi sakit. Pemberian dukungan psikososial pada keluarga yang memiliki anakanak dengan penyakit kronis dapat membantu mereka dalam menyesuaikan diri
dengan pengalaman penyakit, membantu keluarga melakukan penyesuaian
perubahan yang ditimbulkan oleh penyakit.
Pemberian layanan TCIs dalam perawatan kesehatan pada keluarga pada
anak dengan penyakit kronis bertujuan untuk menciptakan peningkatan dalam
merawat anak-anak dan remaja dengan cara memberi dukungan dan promosi
kesehatan terkait kesehatan fisik dan psikologis. Pelayanan kesehatan keluarga
dalam hal terseut akan berkontribusi terhadap perkembangan yang sehat
antaraanggota keluarga dan dukungan dari anggota keluarga lainnya. Oleh karena
itu, untuk memberikan kualitas perawatan kesehatan yang efektif pada
keluargadengan penyakit kronis perlu diberikan intervensi keperawatan keluarga
seperti pendidikan dan psikososial yang membantu dalam meningkatkan
dukungan yang lebih baik dan memfasilitasi fungsi keluarga, kesejahteraan,
dankualitas hidup.

1.2 Metode

Penelitian menggunakan analisis deskriptif dengan pired sample t test.


Variabel penelitian menggunakan dukungan keluarga yang dirasakan dan ekspresif
fungsi keluarga. Jumlah peserta dalam kelompok eksperimen (35 perempuan, 25
laki-laki, n= 60 orang tua), dengan tingkat alpha 0,5 dan hasilnya 0,674
(menunjukkan efek yang baik setelah mendapatkan terapi TCIs).
1.3 Hasil
Peserta yang dipilih saat penelitian adalah anak-anak yang dirawat atau
menerima layanan kesehatan dari klinik rawat jalan di Rumah Sakit Anak atau dari
unit Kanker di Rumah Sakit Anak dengan peserta yang memilikk penyakit kronis
(N = 37; asma n = 15; diabetes n = 14; kanker n = 8). Sebagian besar anak-anak /
remaja yang menerima layanan kesehatan di Rumah Sakit yang pra-remaja atau
remajausia antara 11 dan 18 tahun (n = 24; 68%); jenis kelamin anak-anak
terdistribusi secara merata, dengan 18 perempuan (51%) dan 17 anak laki-laki
(49%). Dari anak-anak dengan kanker, mereka telahdidiagnosis dengan lama
penyakit rata-rata selama 7,6 bulan (kisaran = 3-17 bulan). Lama waktu rata-rata
sejak didiagnosis untuk anak-anak dengan diabetes adalah4,6 tahun (kisaran = 6
bulan-7 tahun), dan rata-rata lama waktu sejakdiagnosis untuk anak-anak dengan
asma adalah 8,5 tahun (kisaran = 6 bulan-17tahun). Semua anak menerima
pengobatan untuk kanker, asma, atau diabetes pada saat penelitian.Orang tua (N =
60), 35 adalah perempuan dan 25 orang laki-laki. orang tua inimilik 37 keluarga
yang berpartisipasi dalam penelitian. Sebagian besarorang tua berusia 31 sampai
50 tahun (n = 31; 88,0%). Sebagian besarorang tua menikah atau hidup bersama
dengan pasangan mereka (n = 29; 82,9%). Sebagian besar orang tua telah
menyelesaikanpendidikan baik sekolah tinggi atau universitas(n = 34; 97,1%).
pendapatan keluarga berkisar dalam kebanyakan kasus antara US $ 3300 untuk
lebih dari US $ 5.000 per bulan.

1.4 Kesimpulan

Pemberian dalam praktik keperawatan untuk merawat anak-anak dan


remaja dengan penyakit kronis perlu membangun hubungan kolaboratif dengan
orang tua atau pengasuh utama. Tujuannya adalah untuk dapat memberikan
kualitas dan perawatan kesehatan yang lebih baik terutama dalam meningkatkan
dukungan psikososial. Penelitia ini mendapatkan hasil temuan utama dari
pengujian hipotesis dalam penelitian yaitu perlunya pertemuan keluarga yang
dilakukan oleh dokter dan perawat sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan dan
pentingnya keluarga dalam meningkatkan fungi keluarga dan kesejahteraan
keluarga. Penelitian ini juga penting bagi keluarga anak-anak dengan penyakit
kronis, terutama untuk para ibu dari anak-anak dan remaja dengan kanker dan
asma. Ibu perlu diberi kesempatan untuk mengetahui bagaimana mereka
menangani kegiatan merawat anaknya yang memiliki penyakit kronik dengan
memberikan dukungan dan cara mengelola dan mengatasi situasi penyakit yang
dialami setiap hari. Walaupun penelitian ini mendapatkan hasil yang baik dalam
peningkatan fungsi keluarga, namun intervensi ini perlu diuji lebih lanjut dengan
sampel yang lebih besar dan dalam pengaturan perawatan kesehatan yang berbeda.
1.5 Kelebihan
1. Intervensi terapi percakapan melibatkan orang tua dimana orang tua ini
memiliki peran penting dalam membantu proses penyembuhan penyakit anak;
2. Intervensi terapi percakapan dapat membantu dalam mengurangi angka
kejadian depresi dan angka kematian pasien serta secara signifikan juga dapat
menurunkan masalah yang dialami anggota keluarga seperti orang tua atau
pengasuh yang depresi dan merasakan beban yang berat dalam memberi
perawatan kepada anak yang sakit;
3. Intervensi terapi percakapan dilakukan dengan memberikan pelayanan
kesehatan pada keluarga dengan anak yang mengalami penyakit kronis
sehingga keluarga dapat merawat anak dan memberikan dukungan serta
promosi kesehatan terkait kesehatan fisik dan psikologis anak;

4. Intervensi terapi percakapan memberikan dukungan yang lebih baik kepada


keluarga

dan

memfasilitasi

keluarga

sehingga

akan

meningkatkan

kesejahteraan dalam keluarga dan meningkatkan kualitas hidup keluarga;


5. Intervensi terapi percakapan membantu keluarga melakukan penyesuaian baik
jangka panjang maupun jangka pendek dan untuk mengetahui perubahan baik
perubahan fisik dan psikologis yang ditimbulkan oleh penyakit;
6. Intervensi terapi percakapan dapat dilakukan untuk mengatasi stress yang
sedang berlangsung antara orang tua dan anak dengan penyakit kronis dan
meningkatkan adaptasi dan kesejahteraan, meningkatkan kesehatan psikologis
dan keadaan fisik serta berfokus pada pentingnya hubungan sosial;
7. Intervensi terapi percakapan berpusat pada keluarga dan secara signifikan
didapatkan hasil bahwa terjadi peningkatan dinamika keluarga dan penurunan
konflik keluarga setelah intervensi tersebut diberikan.
1.6 Kelemahan
Keakuratan dari hasil intervensi percakapan masih belum jelas dimana hal
ini dibuktikan dari hasil bahwa ibu dari anak dengan penyakit kronis mengalami
perbedaan yang signifikan dimana ibu merasakan dukungan keluarga tinggi
setelah diberikan intervensi percakapan terapeutik, namun ayah dari anak dengan
penyakit kronis belum merasakan perbedaan yang signifikan pada fungsi
keluarganya. Sehingga itu perlu adanya penelusuran lebih lanjut terkait penyebab
terjadinya hal tersebut.
1.7 Aplikasi Jurnal di Indonesia
Jurnal

tersebut

menawarkan

intervensi

terapi

percakapan

(TCIs)

memungkinkan diterapkan di Indonesia dengan baik. Intervensi ini dapat


membantu pasien dan anggota keluarga untuk mengelola pengalaman sakit seperti
menggunakan strategi coping aktif, berlatih berpikir optimis atau positif, dan
menemukan makna dalam situasi sakit.
Hal-hal yang harus diperhatikan perawat dalam mengaplikasikan intervensi
terapi percakapan (TCIs) sesuai jurnal tersebut antara lain:

a. perawat harus perlu meningkatkan pengetahuannya dan kemampuan terlebih


dahulu dalam bidang komunikasi psikososial demi menunjang intervensi yang
diberikan;
b. perawat harus memberikan dukungan psikososial pada keluarga yang
memiliki anak-anak dengan penyakit kronis dengan tujuan dapat membantu
mereka dalam menyesuaikan diri dengan pengalaman penyakit, dan
penyesuaian perubahan yang ditimbulkan oleh penyakit;
c. Perawat harus memberikan promosi kesehatan tanpa henti kepada keluarga
agar anggota keluarga lebih memaknai proses kesembuhan lebih banyak pada
perawatan dalam bentuk fisik dan psikologis;
d. Perawat perlu memperhatikan praktik keperawatan dari segi kolaboratif antara
perawat dengan orang tua atau pengasuh utama, dengan tujuan pemberian
kualitas dan perawatan kesehatan yang lebih baik dari sisi psikososial, yaitu
berupa percakapan terapeutik untuk anak dengan penyakit kronis;
e. Perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada anggota keluarga
khususnya untuk anak dengan penyakit kronis seperti asma dan kanker agar
keluarga lebih siap menghadapi sifat penyakit dan keadaan anak saat sakit;
f. Perawat harus mengajarkan pada orang tua / pengasuh / anggota keluarga
laindalam mengetahui bagaimana mereka menangani kegiatan merawat
anaknya yang memiliki penyakit kronik dengan memberikan dukungan dan
cara mengelola serta mengatasi situasi penyakit yang dialami setiap hari.

DAFTAR PUSTAKA
Svavarsdottir, Erla Kolbrun., Sigurdardottir, Anna Olafia., Tryggvadottir, Gudny
Bergthora. 2014. Strengths-Oriented Therapeutic Conversations for Families
of Children with Chronic Illnesses: Findings from the Landspitali University
Hospital Family Nursing Implementation Project. Journal of Family Nursing.