Anda di halaman 1dari 41

SEROLOGY TUMOR

MARKERS

EPIDEMIOLOGI KANKER

CA Cancer J Clin
2006, 56 (2)

Epidemiologi Kanker
Identifikasi karsinogen manusia
Penyebab yg telah diketahui
menyebabkan kanker

KARSINOGENESIS PADA
MANUSIA
Prevensi primer: strategi paling efektif untuk
mengendalikan kanker, perlu informasi
bahan karsinogenik dan kondisi paparan
Dalam prevensi primer tidak perlu
menunggu mekanisme aksi bahan
karsinogenik diketahui sepenuhnya
Bahan dipikirkan karsinogenik, jika
perubahan dalam frekwensi dan intensitas
paparan mengakibatkan perubahan dalam
frekwensi kejadian

KARSINOGENESIS PADA MANUSIA

1969, WHO mengevaluasi risiko karsinogenik

pada manusia dari bahan kimia, senyawa, fisis,


biologis, dan proses tertentu
Sesuatu dikatakan karsinogenik jika terdapat
cukup bukti karsinogenisitas pada manusia
diperoleh dari penelitian epidemiologis yg valid
Bukti karsinogenisitas pada hewan coba dapat
menjadi pertimbangan, dg bobot lebih ringan
mengingat spesifisitas spesies

BUKTI KARSINOGENISITAS
PADA MANUSIA
Dugaan etiologis biasanya dibuat dg

menghubungkan data yg diperoleh dari berbagai


bidang. Data dapat berasal dari hasil percobaan
pada binatang atau kasus yg tidak lazim.
Hipotesis juga dikembangkan dan diuji
berdasarkan pengetahuan biologis saat ini, sbg
contoh lingkungan asap tembakau dapat
menyebabkan kanker paru
Hipotesis etiologis paling sering dibuat
berdasarkan hubungan statistis antara berbagai
karakteritik pasien dg pola distribusi waktu dan
tempat
Hubungan etiologik mensyaratkan adanya
hubungan statistis

BUKTI KARSINOGENISITAS PADA MANUSIA

Adanya hubungan statistis antara bahan

tertentu dg penyakit kanker tertentu belum


tentu menggambarkan hubungan sebab akibat
Penelitian analitik epidemiologik dirancang
untuk meneliti hubungan antara bahan
tertentu atau karakteristik dan kanker tertentu
pada perseorangan dan menetapkan kekuatan
hubungan setelah menghilangkan confounding
dan bias
Kekuatan dinyatakan sebagai risiko relatif
(=risk ratio atau rate ratio)
Desain: studi kasus kontrol/ studi kohort

EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF
Mencakup karakteristik, pola waktu dan

tempat kejadian kanker


Menghasilkan hipotesis etiologik
Hipotesis epidemiologik yg dikembangkan
dari epidemiologi deskriptif diperkuat jika
bahan yg dicurigai menyebabkan kanker pd
percobaan binatang (lebih baik kalau > 1
spesies, pada organ yg sama dengan organ
target pada manusia). Mutagenisitas invitro juga dapat mendukung hipotesis

Karakteristik individu
Mencakup: umur, jenis kelamin, agama, status

perkawinan, pekerjaan, kelas ekonomi-sosial.


Dipikirkan sebagai faktor risiko
Umur jarang bermanfaat dlm penelitian etiologik,
tetapi juga dapat membantu spt pada kasus lekemia
akut, penyakit Hodgkin, Ca mammae pasca
menopause
Kanker lebih sering terjadi pada laki-laki. Hal ini
dikaitkan dg lebih sering terpapar asap rokok,
minum alkohol, bahaya pekerjaan.
Agama dan etnik seringkali terkait. Budaya sosial
lebih penting dari pada genetik
Kanker perut dan cervix uteri banyak dijumpai pd
klas ekonomi-sosial yg rendah

KARAKTERISTIK WAKTU &


TEMPAT
WHO, setiap tahun mempublikasi kematian kanker

berdasarkan lokasi kanker, umur, jenis kelamin


International Agency for Research on Cancer
mempublikasi setiap 5 th, disebut Cancer Incidence
in Five Continent. Data diperoleh dari registrasi
kanker
Hipotesis nutrisi menyebabkan beberapa kanker
muncul setelah menghubungkan antara incidence
dan kematian dan konsumsi per kapita. Pola
geografis digunakan untuk mengkaitkan
endemisitas malaria dg limfoma burkit dan
paparan sinar matahari dg kanker kulit

KARAKTERISTIK WAKTU &


TEMPAT

Penelitian thd variasi dalam mortalitas


dan insidensi kanker dalam suatu
periode menunjukkan pentingnya
faktor lingkungan dalam etiologi
kanker.
Trend kenaikan jangka panjang kanker
paru dan trend penurunan kanker
perut menimbulkan hipotesis
pengaruh asap tembakau dan
preservasi makanan

MIGRANT
Ada variasi kejadian beberapa jenis kanker,

misalnya Ca mammae dan colon rendah di


Asia dan tinggi di Amerika Utara dan Eropa
dan sebaliknya Ca cervix dan perut lebih
sering di negara sedang berkembang
Penelitian populasi migrant untuk
mengevaluasi perubahan rate penyakit yg
menyertai perubahan lingkungan dan
memberi bukti kuat lingkungan memperjelas
perbedaan yg teramati dalam angka insidensi
kanker

Tumor Markers

KLASIFIKASI & DEFINISI TUMOR MARKER


Hormon
Oncofetal Ag: Reseptor Enzyme
Eutopic
CEA, AFP
Est-progest pPA
hCG
TPA, PSA
Androgen CK-BB
Nor,-epinfrin
Ca125, 549
Corticoster AP
Gastrinoma Ca19.9, 15.3
NSE
Calcitonon
I,phenotyp
LDH
Ectopic
Placenta
Lymp.cell Muramidase
EPO
hCG, hPL, pAP
Mye.cell
ACTH paru
ADH
Immunoglobulin
DNA analysis
PTH
IgG,M,A,E,D, K, Molecular dx

Substan yang disintesis dan dilepas oleh sel tumor,


substan yang disintesis host sbg respon terhadap sel tum

LOKASI DAN DETEKSI TUMOR MARKER

Classically chemically/immunologic diagnostic


Membrane cell

Blood

Core

Lymph
Cytoplasmic

Immunofluorescence
Immunoperoxidase
Flow cytometry
Molecular diagnostic

Capillary

Cavity fluid

CHARACTERISTIC IDEALNYA TUMOR


MARKER
Sensitif
No False , Deteksi micrometastatic
Spesifik
No False (+), in subject no disease
Kadar = Tumor burden
= Konstan/predict outcome stable.D
= Tidak terdeteksi pada complete remisi
Screening in asymptomatic
Diagnostic in symptomatic
Staging in clinical
Early detection in recurence
Volume tumor
Selecting appropriate therapy
Monitor R/
Prognostic indicator

TUMOR
Deteksi Adanya:
Kontak karsinogen, kronisitas, defisiensi

imun
Petanda otonomi pertumbuhan dan ujud
Petanda neovaskularisasi, glikolisis, enzim
destruksi membran

THREE PRINCIPAL CHARACTERISTICS OF


TUMOR

Growth (in tissue.C): Begin growth exponentially-produce rapid critical


mass-slower growth and death of the host.
Loss steady state maintenance, cell birth cell loss
Loss neigh bour contact inhibition, tumor move
over one another and form foci to layer
Surface:

Tumor specific transplantation antigen

Metabolic and:
Biochemical

Survive in anaerobic glycolysis (in high LDH)


Derangement metabolic of the DNA/Protein
Simpler or reversal metabolic occur easy
for example fetuin, globulin (AFP in HCC)

PERAN PROTEKTIF TUMOR

Banyak jenis substan menutupi


permukaan sel

supresi imun seluler


mengikat Ab

RESPON IMUN SEKITAR SEL


TUMOR

Makrofag + limfosit --------> Anti tumor Ab


gInf, GM-CSF, TNF, IL4 --> Fagositosis
AgAb complex : Reaksi Sitotx Komplemen

NK/cT-Cell

Granulosit,

M.fage

1. IMUNOTERAPI

ANTIBODI : Poliklonal
Monoklonal
Konjugate obat, toksin, radioaktif
Butuh titer banyak, Cost efectif Jelek

ANTIBODY-DEPENDENT CELL

CYTOTOXICITY (ADCC)
Tidak mampu untuk jumlah sel tumor >>>

2. IMMUNOTERAPI

SITOKIN:
R/aInf+IL2 -- Modulasi CD8/NK/Expresi

MHC1 TUMOR -- Sitotoksik & Sitofagosit


Meningkat

R/IL2+IL4 -- Modulasi CD8/NK -- Sitoksik dg


resiko shock hipovolemik

3. IMMUNOTERAPI

R/TNF --- Dosis Untuk Tumor amat toksik


R/Transplantasi cytokines gene transfected
tumor cell pada tumor --- Side efect minim

R/Metastase dg IL2 Lymphokine-activated


killer (LAK) atau IL2 activated CD8

TUMOR MARKER
HARUS:
Sensitif (NRP minim) pada prevalensi rendah/ skrining
Diagnostik pada pasien simptomatik benigna,
maligna
Staging, monitor, prognosis, rekuren, burden (Contoh
HCG)
Menilai efektifitas terapi (sensitif dalam monitor,
recuren, prognostik)

ANTIGEN TARGET
Tumor Spesifik Antigen:
Produk onkogen viral, radiasi, kemikal,
faktor risiko lain
Tumor Associated Antigen:
Produk berbagai jenis tumor dari germ sama
Maturasi: Limfoma, Lekemia
Transient : PSA
Onkofetal/Rapid Dividing: BHCG, Ca125,
CEA, AFP

DIAGNOSIS DIFERENSIAL TUMOR


MARKER
KELOMPOK

PROTEIN

NORMAL

TUMOR

NON-TUMOR

Onkoembrional

AFP-Yolksac

Embrio, Yolksac

Onkofetal

AFP-Liver/Alb
CEA/sel adesi

Fetal Liver
Pankreokolorek

B-HCGspesif

Plasenta

Teratoblastoma
Ovarii, Testis
KHS
Pankreokolorek
Paru, Mett Hati
Serviks, Ovarii
Mola, Korio,Testis

PSA
CA125

Prostat
Tubocervicometr

CA 15-3
CA 19-9

Prostat
Servik, Mamae
Paru, GI
Milkfa+Ca.Mamae Mamae, Paru
Pankreas, Gall.B, Pankreokolo
Prostat
rektal

His, CH
Rokok/Inflam Brt
Kista Mamae,RA
Proktitis
Mamae, Pankreas
Hati, Lambung
BPH, Prostitis
Endometriosis
PID, Ovulasi
Inflamasi Mamae
Infl Pankreokolo
rektal, Lambung

1. TUMOR ASSOCIATED ANTIGEN


Prostate specific antigen (PSA):
Organ but not-tumor spesifik (Cytoplasma
epitel prostat baik benigna maupun maligna)

Prostatic acid phosphatase (PAP):


Not-organ spesifik, > 80% dari Asiner Prostat
sisanya dari liver, spleen, brain, paru, testes,
vu cor, otot skelet, platelet

1. ONCOFETAL ANTIGEN

(Monitor & Pgx: >5x, ~stad & 2th tiap 3w 0, SSpesi


65-95%)

CARCINOEMBRIONIC ANTIGEN (CEA)


Endoderm/Yolk sac
Ca. Kolon & Kolitis

Prostatitis
Ca.Paru & Rokok Berat
Ca. Pancreas & Panitis

Ca. Prostat &


Ca. Mamae & Mastitis
Ca. Liver & Hepatitis

2. ONCOFETAL ANTIGEN
(~No.1)

Alfa-fetoprotein (AFP)

Idem No.1
KHS & Hepatitis/CH
Germ-cell.T: Nonsemin: Yolk/Embrio.ca (AFP80%, bHCG
50%))
Terato.ca (bHCG 42%)
Chorio.ca (bHCG 100%)
Seminoma: S.tropoblast.ca (bHCG,15%)
Graviditas

3. ONCOFETAL ANTIGEN
Human Chorionic Gonadotropin (BHCG)

Syncytiotrophoblast

Alfa-HCG: LH, FSH, TSH,

4. ONCOFETAL ANTIGEN
(~No.1)
Ca-125
Coelomic & Amnion (1% Sehat, 22% Benig, 80% Ca
Ovarii nonmucin)

Kista,
Ca.Tubafallopia
Endometriosis
Menstruasi,
Ca. Endouterocervical
Pregnancy
CH
Ca. Pankreas & Liver
Metastase Ca.Mamae, Kolon, Pankreas, Paru

5. ONCOFETAL ANTIGEN
(~No.1)

Ca19-9 (Antigen asialisasi gol.darah


Lewis)

81% Ca.Pankreas
60% Ca.Hepatobilier
Kolestasis
60% Ca.Gastrik
30% Ca.Kolorektal

Pankreatitis
CH,
Gastritis
Kolitis

6. ONCOFETAL ANTIGEN
(~No.1)

Ca 15-3 & Ca 549 (gp Mucin & Membr. Mamae)


Semua Antigen mucin not-organ spesifik
Mastitis
80% Ca.Mamae
Pankreatitis
Ca.Pancreas
Fibrosis, Sarkoidosis, TBC, SLE
Ca.Paru
Ca.Kolorektal
Ca.Hepatik
Ca.Prostat

Kolitis
CH, Hepatitis
Prostatitis

7. ONCOFETAL ANTIGEN
(~No.1)

Tissue Polipetide Antigen (TPA)


Disintesis Ketika Proliperasi sel
Lebih bersifat marker progresifitas
penyakit
Benigna/Maligna
Graviditas
Infeksi Bakterial/Viral