Anda di halaman 1dari 9

Hipokalemia

A. Definisi
Hipokalemia (kadar kalium yang rendah dalam darah) merupakan suatu
keadaan dimana konsentrasi kalium dalam darah kurang dari 3.8 mEq/L
darah.
B. Etiologi
Penyebab lain hipokalemia meliputi:
a. Peningkatan ekskresi dari kalium dalam tubuh.
b. Beberapa obat yang menyebabkan kehilangan kalium juga dapat
menyebabkan hipokalemia. Obat yang umum termasuk diuretik loop
(seperti Furosemide). Obat lain termasuk steroid, licorice, kadangkadang aspirin, dan antibiotik tertentu.
c. Disfungsi ginjal, ginjal tidak dapat bekerja dengan baik karena suatu
kondisi yang disebut Asidosis Tubular Ginjal (RTA). Ginjal akan
mengeluarkan terlalu banyak kalium. Obat yang menyebabkan RTA
termasuk Cisplatin dan Amfoterisin B.
d. Kehilangan cairan tubuh karena muntah yang berlebihan, diare, atau
berkeringat.
e. Endokrin atau hormonal bermasalah (seperti tingkat aldosteron
meningkat) - aldosteron adalah hormon yang mengatur kadar
potasium. Penyakit tertentu dari sistem endokrin, seperti
aldosteronisme, atau sindrom Cushing, dapat menyebabkan kehilangan
kalium.
f. Miskin diet asupan kalium (Price & Wilson, 2006).
Adapun penyebab lain dari timbulnya penyakit hipokalemia : muntah
berulang-ulang, diare kronik, hilang melalui kemih (mineral kortikoid
berlebihan obat-obat diuretik) (Ilmu Faal, Segi Praktis, hal 209).
C. Manifestasi klinik
a.
CNS dan neuromuskular; lelah, tidak enak badan, reflek tendon dalam
b.
c.

menghilang.
Pernapasan; otot-otot pernapasan lemah, napas dangkal (lanjut).
Saluran cerna; menurunnya motilitas usus besar, anoreksia, mual

d.
e.

mmuntah.
Kardiovaskuler; hipotensi postural, disritmia, perubahan pada EKG.
Ginjal; poliuria,nokturia (Price & Wilson, 2006, hal 344).

D. Pathway

E. Pemeriksaan Penunjang
a. Kalium serum : penurunan, kurang dari 3,5 mEq/L.
b. Klorida serum : sering turun, kurang dari 98 mEq/L.
c. Glukosa serum : agak tinggi.
d. Bikarbonat plasma : meningkat, lebih besar dari 29 mEq/L.
e. Osmolalitas urine : menurun.
f. GDA : pH dan bikarbonat meningkat (Alkalosit metabolik).
(Doenges 2002, hal 1049)
F. Penatalaksanaan
Adapun penatalaksanaan penyakit hipokalemia yang paling baik adalah
pencegahan.Berikut adalah contoh-contoh penatalaksanaannya:
a.Pemberian kalium sebanyak 40-80 mEq/L.
b.
Diet yang mengandung cukup kalium pada orang dewasa rata-rata
50-100 mEq/hari (contoh makanan yang tinggi kalium termasuk
kismis, pisang, aprikot, jeruk,advokat, kacang-kacangan, dan kentang).
c.Pemberian kalium dapat melalui oral maupun bolus intravena dalam
botol infus.
Pada situasi kritis, larutan yang lebih pekat (seperti 20 mEq/L)

d.

dapat diberikan melalui jalur sentral bahkan pada hipokalemia yang


sangat berat, dianjurkan bahwa pemberian kalium tidak lebih dari 2040 mEq/jam ( diencerkan secukupnya) : pada situasi semacam ini
pasien harus dipantua melalui elektrokardigram (EKGdan diobservasi
dengan ketat terhadap tanda-tanda lain seperti perubahan padakekuatan
otot.(Brunner & Suddarth, 2002, hal 260).
G. Pengobatan
a. Pemberian K melalui oral atau Intravena untuk penderita berat.
b. Pemberian kalium lebih disenangi dalam bentuk oral karena lebih
mudah.
c. Pemberian 40-60 mEq dapat menaikkan kadar kalium sebesar 1-1,5
mEq/L, sedangkan pemberian 135-160 mEq dapat menaikkan kadar
kalium sebesar 2,5-3,5 mEq/L. Bila ada intoksikasi digitalis, aritmia,
atau kadar K serum Bila kadar kalium dalam serum > 3 mEq/L,
koreksi K cukup per oral.
d. Monitor kadar kalium tiap 2-4 jam untuk menghindari hiperkalemia
terutama pada pemberian secara intravena.
e. Pemberian K intravena dalam bentuk larutan KCl disarankan melalui
vena yang besar dengan kecepatan 10-20 mEq/jam, kecuali disertai

aritmia atau kelumpuhan otot pernafasan, diberikan dengan kecepatan


40-100 mEq/jam. KCl dilarutkan sebanyak 20 mEq dalam 100 cc NaCl
isotonik.
f. Acetazolamide untuk mencegah serangan.
g. Triamterene atau spironolactone apabila
memberikan efek pada orang tertentu.

ASUHAN KEPERAWATAN HIPOKALEMIA


1. Pengkajian
a. Aktifitas atau istirahat
Gejala :
b. Sirkulasi
Tanda :

kelemahan umum, latergi.

acetazolamide

tidak

Hipotensi
Nadi lemah atau menurun, tidak teratur.
Bunyi jantung jauh.
Perubahan karakteristik EKG.
Disritmis, PVC, takikardia / fibrasi ventrikel.
c. Eliminasi
Tanda :
Nokturia, poliuria bila faktor pemberat pada hipokalemia meliputi GJK

d.

atau DM.
Penurunan bising usus, penurunan mortilitas, usus, ilues paralitik.

Distensi abdomen.
Makanan / cairan
Gejala : Anoreksia, mual, muntah.
Neurosensori

Gejala : parestesia
Tanda :
Penurunan status mental / kacau mental, apatis, mengantuk, peka
rangsangan, koma, hiporefleksia, tetani, paralisis.
Penurunan bising usus, penurunan mortilitas, usus, ileus paralitik.
Distensi abdomen
e.

Nyeri / kenyamanan
Gejala : nyeri / kram otot

f.

Pernapasan
Tanda : hipoventilasi / menurun dalam pernapasan karena kelemahan atau
paralisis

otot

diafragma.

(Marilyn E. Doenges 2002 hal 1048)


Karena hipokalemia dapat mengancam jiwa, penting artinya untuk
memantau timbulnya hipokalemia pad pasien-pasien yang beresiko.
Adanya keletihan, anoreksia, kelemahan otot, penurunan mortilitas usus,
parestesia, atau disritmia harus mendorong perawat untuk memeriksa
konsentrasi kalium serum. Jika tersedia, elektrokardiogram dapat
memberikan informasi yang bernmanfaat. Pasien-pasien yang menerima

digitalis yang berisiko mengalami defisiensi kalium harus dipantau


dengan ketat terhadap tanda-tanda terjadinya toksisitas digitalis karena
hipokalemia meningkatkan aksi digitalis. Pada kenyataannya, dokter
biasanya memilih untuk mempertahankan kadar kalium serum lebih besar
dari 3,5 mEq/L (SI : 3,5 mmol/L) pada pasien-pasien yang menerima
digitalis. (Brunner & Suddarth, 2002, hal.261)
2. Diagnosa Keperawatan
Perubahan

pola

nutrisi

berhubungan

dengan anoreksia, mual

dan

muntah.Kadar kalium kembali dalam batas normal


Kriteria Hasil :
a. Kadar kalium kembali dalam batas normal adalah 3,5-5,0 mEq / L (mEq /
L
b. Menyatakan pemahaman tentang kondisi, program pengobatan
c. Menyatakan tindakan yang diperlukan dan kemungkinan efek samping
obat
Intervensi :
a. Monitor pemberian kadar kalium tiap 2-4 jam untuk menghindari
hiperkalemia terutama pada pemberian secara intravena. Beri kalium
sebanyak 40-80 mEq/L.
b. Diet yang mengandung cukup kalium pada orang dewasa rata-rata 50-100
mEq/hari (contoh makanan yang tinggi kalium termasuk kismis, pisang,
aprikot, jeruk, advokat, kacang-kacangan, dan kentang).
c. Pemberian kalium dapat melalui oral maupun bolus intravena dalam botol
infus.
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Kriteria hasil :
a. Menyatakan pemahaman tentang kondisi, program pengobatan
b. Menyatakan tindakan yang diperlukan dan kemungkinan efek samping
obat

Intervensi :
a. Anjurkan/catat pendidikan tentang obat. Termasuk mengapa obat
diperlukan; bagaimana dan kapan minum obat; apa yang dilakukan bila dosis
terlupakan
b. Kaji ulang kebutuhan kalium
c. Memberikan informasi dalam bentuk tulisan bagi pasien untuk dibawa
pulang
d. Anjurkan pasien melakukan pengukuran nadi dengan tepat
e. Kaji ulang kewaspadaan keamanan, yang memerlukan intervensi medis

DAFTAR PUSTAKA
Guyton & hall. 1997. Kalium dalam cairan ekstraselular. EGC.
Mesiano taufik. Periodik paralisis. Available from http : //www.ommy &
nenny.com
Ricardo Gabriel, dkk. Hipokalemic periodic paralisys. Available from http :
//www.associacion medica argentina.com
Anonim.

Hipokalemic

periodic

paralisys.

Available

from http

//www.genetics.com
Anonim. Periodic paralisys. Available from http : //www.NINDS.com
Ranie

nh.

Hipokalemic

//www.webscapes.com

periodic

paralisys.

Available

from http

Anonim.

Hipokalemic

periodic

paralisys.

Available

from http

//www.medlineplus.com
http://www.mayoclinic.com/health/hyperkalemia/MY00940 16 juni 2011