Anda di halaman 1dari 17

Teori Portofolio dan Analisis Investasi

Modul - 6
Efisiensi Pasar dan Analisis Teknis
3 April 2016

Korea Selatan
1

Teori Portofolio dan Analisis Investasi


Kegiatan Belajar 1

Korea Selatan
2

A. Teori Efisien Pasar


Copeland dkk (2005) menyatakan bahwa pasar yang sempurna tersebut harus memenuhi kondisi
sebagai berikut:
1. Pasar harus efisien secara informasi.
2. Ada kompetisi yang smepurna pada pasar produk dan sekuritas.
3. Pasar tidak dibatasi (frictionless).
4. Semua individu memaksimumkan ekspektasi utilitas secara rasional.
Pasar
harus efisien secara informasi informasi yang dimilik perusahaan harus disebarluaskan dan

akan meningkatkan nilai perusahaan. Nilai informasi tersebut dapat dimatematiskan sebagai berikut:
V (n) = (m)*Max (e/m)*U(a,e) V(0)
Dimana
Q(m) = probabilitas marginal menerima sbeuah informasi m,
P(e/m)
= probabilitas bersyarat sebuah kejadian e manakala informasi m ditentukan.
U(a,e)
= utilitas yang dihasilkan sebuah tindakan a jika kejadian e terjadi, di mana harus disebut
kan sebagai fungsi benefit
V(0) = ekspektasi utilitas mengambil keputusan informasi
Pasar efisien secara operasional pasar yang mempunyai transaksi yang likuid untuk saham-saham
dan biaya-biaya yang berlaku sangat murah.
3

A. Teori Efisien Pasar (cont)


Fama (1970) pasar efisien dibagi menjadi 3 kelompok besar:

Efisien bentuk lemah


Weak form efficiency

Efisiensi bentuk semi-kuat


Semistrong-form efficiency

Efisiensi bentuk kuat


Strong-form efficiency

Strong efficient
Semi-strong efficient
Weak-form efficient
Fama (1991) melakukan peruabahan bentuk pasar tersebut kedalam bentuk pengujian menjadi
1. Weak-form efficiency tests diganti menjadi Tests for return Predictability
2. Semistrong-form Efficiency Tests diganti menjadi Event Studies.
3. Strong-frm efficiency diganti menjadi Tests for Private Information.
Tugas latihan!
Apa yang terjadi penelitian di BEJ secara umum yang menggunakan teori Fama (1970)? Apa hasil
4
penelitian tersebut?

B. Teknik Empiris
Bagaimana
melakukan pengujian efisiensi untuk efisiensi pasar lemah, pasar semi-kuat dan pasar

kuat?
Pasar lemah (weak-form efficiency) dapat diuji dengan dua pendekatan:
1. Menguji korelasi antar waktu dengan menggunakan data parametrik.
2. Menguji korelasi dengan menggunakan run test.
Pengujian dapat dilakukan dengan menghitung rata-rata run untuk data yang dimilki sebagai
ukuran ntuk menghitung t-testnya. Rata-rata run untuk sebuah data dihitung sebagai berikut:

m=
Dimana
N = jumlah perubahan harga.
Ni = jumlah perubahan harga untuk setiap tanda.
Selanjutnya menghitung simpangan baku dari run sekelompok data dalam rangka menghitung z-test
atau t-test. Sebagai berikut

B. Teknik Empiris (cont.)


Alexander (1961) mengembangkan sebuah teknik yang dikenal dengan teknik filter. Teknik
ini merupakan teknik mekanis peraturan trading yang berusaha mengaplikasikan kriteria
yang lebih kompleks untuk mengidentifikasikan pergerakan harga saham.
Penelitian pasar semi-strong dilakukan dengan menguji informasi publik terhadap harga saham.

Informasi publik dari perusahaan


Bapepam/OJK dan Bursa
(2x24jam)

Pengumuman pendapatan perusahaan


Pengumuman deviden
Aksi korporasi: right issue, mogok
kerja, dll.

Abnormal Performance Index (API) teknik untuk menyelidiki hubungan antara data akuntasi
dengan harga saham. API diinterpretasikan dengan dua cara: sebagai ukuran nilai informasi privat
dan sebagai ukuran hubungan yang mengukur hubungan antara data akuntasi dan saham.
Dihitung sebagai berikut:

API w =
APIw adalah kumulatif abnormal performance index sampai pada akhir periode w
N adalah jumlah saham
Rij adalah tingkat pengembalian aktual saham ke I pada periode ke j
Rmj adalah tingkat pengembalian pasar pada periode j

B. Teknik Empiris (cont.)


Banyak penelitian efisiensi semi strong dengan menggunakan studi kejadian (event studies) yang
bermaksud untuk melihat pengaruh adanya kejadian yang terjadi pada perusahaan atau di luar
perusahaan saat mempengaruhi harga saham perusahaan, seperti gambar berikut:

B. Teknik Empiris (cont.)


Analisis Teknik salah satu pendekatan dalam membeli saham, analisis teknis dikembangan
setelah teori DOW dan pada tahun 1920an dipergunakan secara luas oleh kelompok Theorists.
Ada dua jenis situasi pasar:
Pasar Bullish sebuah optimistis akan kenaikan harga berkelanjutan di pasar.
Pasar Bearish kebalikan dari pasar bullish dan harga cenderung mengalami penurunan yang
disertai dengan volume perdagangan yang tinggi.
Ada dua istilah penting, level pendukung (supporting level) dan level penahan (resistance level).
Dengan grafik berikut:

B. Teknik Empiris (cont.)


Pola saham yang paling umum harus diketahui adalah Head dan Shoulder Pola dimulai
dengan bahu yang akan diikuti kepala dan kemudian turun membentuk bahu kebali.

Investor memperhatikan waktu yang tepat dalam melakukan pembalian agar mencapai profit
yang maksimum.
Pada grafik diatas, gunung kecil terjadi artinya investor bisa mengambil untung dari pola kecil,
kemudian membeli kembali dan terjadi keuntungan yang besar.

B. Teknik Empiris (cont.)


a. Teori Dow
Teori Dow = harga saham bergerak berhubungan dengan pergerakan harga seluruh saham.
Pasar harga saham = Harga saham
Pasar harga saham = Harga saham
Pergerakan harga saham dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok:
1. Primary Trend
Menguraikan pergerakan harga saham dalam jangka panjang.
2. Secondary atau Intermediate trends
Menguraikan pergerakan harga saham dalam jangka pendek dapat disebut mingguan dan
uraiannya menjelaskan deviasi yang terjadi dari garis trendnya.
3. Teritary or minor trends
Menguraikan pergerakan harga saham dalam jangka yang sangat pendek yaitu harian.

B. Teknik Empiris (cont.)


1) Bullish Patterns
Pola harga saham diketahui meningkat dengan memperhatikan dukungan melalui volume
perdagangan.
a) An Ascending Bottom
b) Inverted and Shoulders Bottom

c) Double and Triple Bottoms

d) Saucer formation

B. Teknik Empiris (cont.)


2) Bearish Patterns
Harga saham cenderung menurun yang berkelanjutan.
a) Descending Top
b) Head and shoulders formation

c) Double and Triple Tops

d) The reverse saucer, or the umbrella pattern

B. Teknik Empiris (cont.)


b. Relative strength Index
Relative Strength Index termasuk salah indikator yang sering digunakan oleh traders.
Perhitungan sbb:
RSI = 100-[100/1+R)]
R = U/D
U = Rata-rata perubahan kenaikan harga (An average of upward price change)
D = Rata-rata perubahan penurunan harga (An average of downward price change)
c. Interpretasi
Semakin pendek jangka waktu yang digunakan, indikator RSI akan semakin terlihat berfluktuasi.
Tops and bottoms, RS I biasanya mencapai puncaknya di atas level 70 dan bottoms di bawah level
30. RS I 70 berarti saham sudah terlalu banyak dibeli/overbought (time to sell) dan RS I 30 berarti
saham sudah terlalu banyak dijual/oversold (time to buy).

B. Teknik Empiris (cont.)


d. Retracement Theory
Tidak ada pasar yang mengalami peningkatan secara perlahan atau turun secara perlahan juga.
Setiap gerakan pada primary direction akan selalu diikuti oleh suatu reaksi. Misalkan, pada
uptrend, harga saham naik, kemudian turun (retraced back) sebelum naik lagi.
Menentukan normal retracement berkisar 1/3 dan 2/3 dari previous move, tapi ada pula pada
kisaran 40 60%.
W. D. Gann menentapkan retracement lever yaitu 1/8, , 3/8, , 5/8, 2/3, , dan semuanya, yang
sering digunakan oleh para technical analyst adalah FIBONACCI Retracement level, yang
menetapkan 38.2% dan 61.8% sebagai titik kritis diantara retracement level yang lain yaitu pada
level 23.6%, 50%, 100%, 161.8%, 261.8%, dan 423.6%.
Step 1 : tentukan primary trends (i.e uptrend)
Step 2 : ukur jarak antara bottom price dengan top price 62.75 54.25 = 8.5
Step 3 : 23.6% retracement berarti harga akan bergerak turun ke level 60.74 sebelum naik lagi
62.75 (23.6% x 8.5) = 60.74

B. Teknik Empiris (cont.)


3) Rata-rata bergerak

Merupakan salah satu bentuk peramalan data di masa datang.


Dengan rumusan sbb :
Dimana :
Fm+1
= Nilai peramalan pada periode m+1; Xi = data
M = Periode rata-rata bergerak
Estimasi untuk rata-rata bergerak 3 bulan untuk April 2009 sbb:

B. Teknik Empiris (cont.)


4) Statik TRIN

Pada pasar saham dapat diperoleh harga masa lalu dan volume transaksi atas seluruh saham
maupun masing-masing saham.
Rumusan TRIN sbb :

Ukuran rasio ini menyatakan bahwa TRIN > 1 menyatakan pasar mengalami penurunan
dikarenakan jumlah saham yang turun lebih tinggi dari jumlah saham yang naik di mana
menyatakan tekanan jual tinggi.

Latihan
Modul 6 hal. 28 soal 1-3
Tes formatif

17

Anda mungkin juga menyukai