Anda di halaman 1dari 16

HAK BESERTA KEWAJIBAN DARI FISKUS DAN WAJIB PAJAK

BERDASARKAN UU KUP NO 6 TAHUN 1983 BESERTA PERUBAHANNYA


No
1.

Pasal
Pasal 1
(Ketentuan
Umum)

2.

3.

Pasal 3

Hak Fiskus

Kewajiban Fiskus

Hak Wajib Pajak

Kewajiban Wajib Pajak

1. Dapat menetapkan tempat 1. Menerbitkan


NPWP 1. Memperoleh Nomor Pokok 1. WP wajib mendaftarkan
pendaftaran
dan/atau
dan/atau
mengukuhkan
Wajib Pajak
diri pada kantor Direktorat
2.
WP
sebagai
pengusaha
pelaporan
selain
yang
Pengusaha
Kena
Pajak
Jenderal
Pajak
yang
untuk tempat kegiatan
ditetapkan pada ayat (1)
secara jabatan apabila
wilayah kerjanya meliputi
usaha berhak dilakukan
dan ayat(2)
Wajib
Pajak
atau
tempat
tinggal
atau
2. Dapat
melakukan
untuk
dikukuhkan
menjadi
Pengusaha
Kena
Pajak
tempat kedudukan Wajib
pencabutan PKP
Pengusaha Kena Pajak
tidak
melaksanakan
Pajak.
3. Memohon
penghapusan 2. WP
pengusaha
yang
kewajibannya
NPWP
apabila
sudah
tidak
dikenai
pajak
wajib
sebagaimana
dimaksud
memenuhi syarat objektif
melaporkan
usahanya
pada ayat (1) dan/atau
dan/atau subjektif
pada Kantor DJP yang
ayat (2)
2. Melakukan penghapusan
wilayah kerjanya meliputi
NPWP apabila terdapat
tempat
tinggal
atau
permohonan penghapusan
tempat
kedudukan
yang dikarenakan tidak
Pengusaha.
terpenuhinya
syarat
objektif dan/atau subjektif
1. Memberikan
izin 1. Menerbitkan surat teguran 1. Mendapatkan
1. Mengisi surat pemberipembukuan dalam bahasa
apabila
surat
perpanjangan
waktu
tahuan dengan benar,
asing dan mata uang asing
pemberitahuan
tidak
penyampaian
surat
lengkap, dan jelas. (ayat
(ayat 1a)
disampaikan sesuai batas
pemeberitahuan tahunan
1, 1a, 1b)
2. Mengambil sendiri surat
waktu (ayat 5a)
pajak (ayat 4).
surat 2. Mengetahui
surat
pemberitahuan di tempat
2. Menerbitkan
peraturan 2. Meneliti
pemeberitahuan
WP
pemeritahuan
yang
yang telah ditetapkan.
untuk WP kriteria tertentu
apabila dianggap tidak
dikirimkan
apabila
(ayat 2)
(ayat 3, 3a, 3b, 3c)
surat
disampaikan (ayat 7)
dianggap
tidak 3. Menyampaikan
3.
Memberitahukan
kepada
pemberi-tahuan
sesuai
disampaikan (ayat 7a)
3. Memberikan
izin
WP
bahwa
surat
dengan batas waktu dan
perpanjangan
waktu
pemeberitahuan
tata cara pelaporan (ayat
penyampaian
surat
diaanggap
tidak
3, 3a, 3b, 3c)
pemberitahuan
tahunan
4.
Surat
pemberitahuan
disampaikan (ayat 7a)
pajak (ayat 4)

4. Mengecualikan
dari
kewajiban
sebagaimana
ayat
(1)
adalah
WP
penghasilan tertentu (ayat
8)

4.

Pasal 4

5.

Pasal 5

6.

Pasal 6

Untuk menyampaikan Surat


Pemberitahuan,
Direktur
Jenderal Pajak dalam hal-hal
tertentu dapat menentukan
tempat lain bukan tempat
sebagaimana
dimaksud
dalam
Pasal 13 ayat (1).
-

sabagi-mana
ayat
(4)
harus disertai perhitungan
sementara pajak terutang
selama 1 tahun
5. Bentuk, isi, dan tata cara
pelaporan surat pemberitahuan
harus
sesuai
dengan peraturan. (Ayat
6)
Memberitahukan
bahwa 1. Memberikan kuasa untuk 1. Wajib Pajak wajib mengisi
Surat
pemberitahuan
mengisi
dan
dan menyampaikan Surat
dianggap tidak disampaikan
menandatangani
surat
Pemberi-tahuan
dengan
apabila laporan keuangan
pemberitahuan. (ayat 3)
benar, Lengkap beserta
audit
KAP
tidak dilampirkan. (ayat 4b) 2. Meminta
lampirannya, jelas, dan
terhadap
laporan
menandatanganinya (ayat
keuangannya
1, 2, 3)
2. WP
wajib
pembukuan
harus melampiri surat
pemberi-tahuan
berupa
laporan keuangan.
-

Memberi tanggal dan bukti 1. Diberikan


bukti
penerimaan Surat Pemberipenerimaan
Surat
tahuan yang disampaikan
Pemberitahuan
yang
langsung oleh Wajib Pajak
disampaikan
langsung
olehnya
2. Dapat menyampaian Surat
Pemberitahuan
dengan
cara dikirimkan melalui
pos dengan tanda
3. bukti pengiriman surat
atau dengan cara lain

7.

8.

Memberikan
sanksi
administrasi kepada wajib
pajak jika wajib pajak tidak
menyampaikan
surat
pemberitahuan sesuai pasal
3 ayat (4)
dengan besar
denda sbb:
a. Rp. 500 ribu untuk surat
pemebritahuan
pajak
pertambahan nilai
b. Rp. 100 ribu untuk surat
masa lainnya
c. Rp.
1
juta
untuk
memberitahuan
tahunan
pajak penghasilan badan
d. Rp. 100 ribu untuk surat
pemberitahuan
pajak
penghasilan WP OP
Pasal 8 (1), Memberi sanksi administrasi
Pasal 8 (1a) berupa bunga sebesar 2%
Pasal 8 (2a) per bulan atas jumlah pajak
Pasal 8 (3)
yang
kurang
dibayar,
dihitung
sejak
saat
penyampaian SPT berakhir
sampai
dengan
tanggal

yang diatur dengan atau


berdasarkan
4. Peraturan
Menteri
Keuangan
5. Tanda bukti dan tanggal
pengiriman surat untuk
penyampaian
Surat
Pemberitahuan
6. sebagaimana
dimaksud,
dianggap sebagai tanda
bukti dan tanggal
7. penerimaan
sepanjang
Surat
Pemberitahuan
tersebut telah lengkap
Membayar
denda
administrasi
yang
telah
ditetapkan,
jika
tidak
melakukan
penyampaian
surat pemberitahuan seperti
tersebut dalam pasal 3 ayat
(4)

Pasal 7

Tidak melakukan penyidikan


apabila WP dengan kemauan
sendiri
mengungkapkan
ketidak-benaran
perbuatannya
tersebut
dengan disertai pelunasan
kekurangan
pembayaran

membetulkan SPT yang telah


disampaikan
dengan
menyam-paikan pernyataan
tertulis, dengan syarat Dirjen
Pajak
belum
melakukan
tindakan pemeriksaan (pasal
8 ayai 1)

menyampaikan pembetulan
SPT paling lambat 2 (dua)
tahun sebelum daluwarsa
penetapan,
dalam
hal
pembetulan SPT menyatakan
rugi atau lebih bayar (pasal 8
ayat 1a)

pembayaran dan bagian dari


bulan dihitung penuh 1 bulan
(pasal 8 ayat 2a)

9.

Pasal 8 ayat
(4)
juncto
Pasal 8 ayat
(5)

10.

Pasal 9 ayat
(2)
juncto
Pasal 9 ayat
(4)

11.

Pasal 9 ayat
(3)
juncto
Pasal 9 ayat
(3a)

melakukan pemeriksaan dan


menerbitkan surat ketetapan
pajak,
melanjutkan
pemeriksaan,
apabila
dari
hasil
pemeriksaan terbukti bahwa
laporan
pengungkapan
ternyata tidak
sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya,
dan
menerbitkan surat ketetapan
pajak.
Dirjen
Pajak
atas
permohonan
WP
dapat
memberikan
persetujuan
untuk
mengangsur
atau
menunda pembayaran pajak
termasuk
kekurangan
pembayaran paling lama 12
(dua
belas)
bulan
dan
terbatas kepada WP yang
benar-benar
sedang
mengalami kesulitan
likuiditas.
Memberi sanksi administrasi
berupa bunga sebesar 2%
(dua persen) per bulan yang
dihitung
mulai
dari
berakhirnya batas waktu
penyampaian
Surat

jumlah
pajak
yang
sebenarnya terutang
beserta sanksi administrasi
berupa denda sebesar 150%
(seratus lima puluh persen)
dari jumlah pajak yang
kurang dibayar (Pasal 8 ayat
(3)
Wajib
Pajak
dengan
kesadaran
sendiri
dapat
mengungkapkan
dalam
laporan tersendiri tentang
ketidakbenaran
pengisian
Surat Pemberitahuan yang
telah disampaikan sesuai
keadaan yang sebenarnya
(walaupun Dirjen Pajak telah
melakukan
pemeriksaan
tetapi belum menerbitkan
SKP)

harus melunasi pajak yang


kurang bayar yang timbul
sebagai
akibat
dari
pengungkapan
ketidakbenaran
pengisian
SPT
beserta sanksi administrasi
berupa kenaikan sebesar
50% dari pajak yang kurang
bayar
(sebelum
laporan
tersendiri disampaikan)

membayar lunas kekurangan


pembayaran
pajak
yang
terutang berdasarkan SPT
PPh
sebelum
SPT
PPh
disampaikan

Atas
permohonan
Wajib
Pajak dapat memberikan
persetujuan
untuk
mengangsur atau menunda
pembayaran pajak termasuk
kekurangan
pembayaran

Bagi WP usaha kecil dan WP


di daerah tertentu, jangka
waktu
pelunasan
dapat
diperpanjang paling lama
menjadi 2 (dua) bulan

Melunasi
dalam
jangka
waktu 1 (satu) bulan sejak
tanggal diterbitkannya Surat
Tagihan
Pajak,
Surat
Ketetapan
Pajak
Kurang
Bayar, serta Surat Ketetapan

Pemberitahuan
Tahunan
sampai
dengan
tanggal
pembayaran, dan bagian
dari bulan dihitung penuh 1
(satu) bulan jika pembayaran
atau
penyetoran
pajak
sebagaimana ayat (2) (pasal
9ayat 2b)

12.

Pasal
10
ayat
(1)
juncto Pasal
13 ayat (1)

13.

Pasal
11
ayat
(1)
(1a)juncto
Pasal
11
ayat (3)

sebagaimana dimaksud pada


ayat (2) paling lama 12 (dua
belas)
bulan,
yang
pelaksanaannya
diatur
dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan.
(pasal 9 ayat 4)

Dirjen
Pajak
dapat
menerbitkan SKP Kurang
Bayar apabila dalam jangka
waktu 5 tahun setelah saat
terutangnya
pajak
atau
berakhirnya
masa
pajak,
bagian tahun pajak, atau
tahun pajak
Mengembalikan
kelebihan
pembayaran pajak atas Pasal
17, Pasal 17B, Pasal 17C,
atau
Pasal
17D,
Surat
Keputusan Keberatan, Surat
Keputusan
Pembetulan,
Surat
Keputusan
Pengurangan
Sanksi
Adminis-trasi,
Surat
Keputusan
Peng-hapusan
Sanksi Administrasi, Surat
Keputusan
Pengurangan
Ketetapan
Pajak,
Surat
Keputusan
Pembatalan
Ketetapan
Pajak,
dan
Putusan
Banding
atau
Putusan Peninjauan Kembali,
serta
Surat
Keputusan
Pemberian Imbalan Bunga

Pajak
Kurang
Bayar
Tambahan,
dan
Surat
Keputusan Keberatan, Surat
Keputusan
Pembetulan,
Putusan
Banding,
serta
Putusan
Peninjauan Kembali, yang
menyebabkan jumlah pajak
yang
harus
dibayar
bertambah
wajib
membayar
atau
menyetor
pajak
yang
terutang dengan
menggunakan SSP ke kas
negara
melalui
tempat
pembayaran
yang diatur dengan atau
berdasarkan
Peraturan
Menteri Keuangan

14.

Pasal
ayat (2)

11

15.

Pasal
ayat (3)

11

16.

Pasal
ayat (1)

12

17.

Pasal
12
ayat (2) dan
(3)

18.

Pasal
13A
juncto Pasal
38

dikembalikan kepada Wajib


Pajak, dengan ketentuan
apabila ada permohonan WP
dan apabila WP mempunyai
utang pajak maka langsung
diperhitungkan
untuk
pelunasan utang pajak tsb
(pasal 11 ayat 1 dan 1a)
Mengembalikan
kelebihan
pembayaran
pajak
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan (1a) paling lama
1 bulan sejak permohonan
pengembalian
kelebihan
pembayaran pajak di terima
Memberi
imbalan
bunga
sebesar 2% per bulan atas
keterlambatan
pengembalian
kelebihan
pembayaran pajak, apabila
pengembalian
kelebihan
pembayaran pajak dilakukan
setelah jangka waktu 1 bulan
Menerbitkan SKP apabila
terdapat
ketidakbenaran
dalam pengisian SPT atau
ditemukannya data fiskal
yang tidak dilaporkan WP
Menetapkan jumlah pajak
yang terutang, apabila Dirjen
Pajak mendapatkan bukti
jumlah pajak yang terutang
menurut SPT tidak benar
Menerbitkan Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar dalam
jangka waktu 5 (lima) tahun
setelah saat terutangnya
pajak atau berakhirnya Masa

Mengenakan
sanksi
administrasi
Dengan menerbitkan surat
ketetapan pajak atau Surat
Tagihan Pajak

Menerima
pengembalian
kelebihan pembayaran pajak
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan (1a) paling lama
1 bulan sejak permohonan
pengembalian
kelebihan
pembayaran pajak di terima
Mendapatkan imbalan bunga
sebesar 2% per bulan atas
keterlambatan
pengembalian
kelebihan
pembayaran pajak, apabila
pengembalian
kelebihan
pembayaran pajak dilakukan
setelah jangka waktu 1 bulan

Wajib Pajak yang


kealpaannya
menyampai-kan
Pemberitahuan atau
Menyampaikan

karena
tidak
Surat
Surat

Wajib membayar pajak yang


terutang sesuai ketentuan
peraturan
perundangundangan perpajakan, tanpa
menggantungkan pada SKP
Menyampaikan SPT dengan
jumlah pajak yang terutang
sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan
perpajakan
Wajib melunasi kekurangan
pembayaran jumlah pajak
yang terutang beserta sanksi
administrasi
berupa
kenaikan sebesar 200% (dua

Pajak, bagian Tahun Pajak,


atau Tahun Pajak

19.

Pasal
14
ayat (1) , (3,
(4), dan (5)

Menambah dengan sanksi


administrasi berupa bunga
sebesar 2% (dua persen) per
bulan untuk paling lama 24
(dua puluh empat) bulan,
dihitung
sejak
saat
terutangnya
pajak
atau
berakhirnya
Masa
Pajak,
bagian Tahun Pajak, atau
Tahun Pajak sampai dengan
diterbitkannya Surat Tagihan
Pajak (pasal 14 ayat 3)

Pemberi-tahuan, tetapi isinya


tidak
benar
atau
tidak
lengkap, atau melampirkan
keterangan yang isinya tidak
benar
sehingga
dapat
menimbulkan kerugian pada
pendapatan negara, tidak
dikenai sanksi pidana apabila
kealpaan tersebut pertama
kali dilakukan oleh Wajib
Pajak
dan
Wajib
Pajak
tersebut
wajib
melunasi
kekurangan
pembayar-an
jumlahpajak yang terutang
beserta sanksi administrasi
berupa kenaikan sebesar
200% (dua ratus persen) dari
jumlah pajak yang kurang
dibayar
yang
ditetapkan
melalui penerbitan Surat
Ketetapan
Pajak
Kurang
Bayar.
Menerbitkan surat tagihan
pajak apabila a). Pph tahun
berjalan tidak atau kurang
bayar,
b)
terdapat
kekurangan
pembayaran
pajak akibat salah tulis atau
salah hitung, c)WP dikenai
sanksi administrasi berupa
denda dan atau bunga,
d)pengusaha
yang
telah
dikukuhkan
sebagai
Pengusaha
Kena
Pajak,
tetapi tidak membuat faktur
pajak atau membuat faktur
pajak, tetapi tidak tepat
waktu, e) pengusaha yang

ratus persen) dari Jumlah


pajak yang kurang dibayar

1.Wajib menyetor pajak yang


terutang
dan
sanksi
administrasi berupa denda
sebesar 2% dari dasar
pengenaan pajak untuk
pengusaha atau PKP yang
yang
telah
dikukuhkan
sebagai PKP, tetapi tidak
membuat faktur pajak atau
membuat
faktur
pajaktetapi tidak tepat waktu,
pengusaha
yang
telah
dikukuhkan sebagai PKP
yang tidak mengisi faktur
pajak secara lengkap, atau
PKP
melaporkan
faktur

telah dikukuhkan sebagai


Pengusaha Kena Pajak yang
tidak mengisi faktur pajak
secara lengkap sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13
ayat
(5)
Undang-Undang
Pajak
Pertambahan
Nilai
1984 dan perubahannya, f)
Pengusaha
Kena
Pajak
melaporkan
faktur
pajak
tidak sesuai dengan masa
Penerbitan
faktur
pajak,
g)Pengusaha
Kena
Pajak
yang gagal berproduksi dan
telah
diberikan
pengembalian
Pajak
Masukan
sebagai-mana
dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (6a)
Undang-Undang
Pajak
Pertambahan Nilai 1984 dan
perubahannya (pasal 14 ayat
1)
20.

Pasal 15

21.

Pasal 16

pajak tidak sesuai dengan


masa penerbitan faktur
pajak;
2.Terhadap PKP yang gagal
berproduksi
dan
telah
diberikan
pengembalian
Pajak
Masukan
dikenai
sanksi administrasi berupa
bunga sebesar 2% (dua
persen) per bulan dari
jumlah pajak yang ditagih
kembali,
dihitung
dari
tanggal penerbitan Surat
Keputusan
Pengembalian
Kelebihan
Pembayaran
Pajak
sampai
dengan
tanggal penerbitan Surat
Tagihan Pajak, dan bagian
dari bulan dihitung penuh 1
(satu) bulan

Direktur jenderal pajak dpt


menerbitkan:
1. SKPKBT yg baru dlm 5
Thn
stlh
berakhirnya
masa pajak
2. SKPKBT tetap setelah 5
Thn SKPKBT berakhir

1.Membayar kekurangan pajak


beserta dendan 100% dari
jmlh kekurangan setelah
diterbitkan-nya SKPKBT
2.Membayar bunga sebesar
48% dari jumlah pajak
kurang
bayar
setelah
berakhirnya jangka waktu
SKPKBT berakhir
Dirjen
Pajak
wajib
memberikan
keputusan
membetulkan
surat
ketetapan pajak, STP, SKP,
SKPSA
apabila
terjadi
kesalahan dlm perhitungan
paling lama 6 bln setelah

Apabila dalam 6bln Dirjen


Pajak belum menjawab surat
permohonan
pembetulan
belum ada jawaban maka
dianggap
permohanan
diterima.

22.

Pasal 17

23.

Pasal 22

24.

Pasal 23

Dapat
menangguhkan
daluwarsa penaguhan paksa
apabila:
a. diterbitkan Surat Paksa;
b. ada
pengakuan
utang
pajak dari Wajib Pajak baik
langsung maupun tidak
langsung;
c. diterbitkan
Surat
Ketetapan Pajak Kurang
Bayar
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13
ayat
(5),
atau
Surat
Ketetapan Pajak Kurang
Bayar
Tambahan
sebagaimana
dimaksud
dalam Pasal 15 ayat (4);
atau
d. dilakukan
penyidikan
tindak pidana di bidang
perpajakan.

surat permohonan diterima.


Dirjen Pajak menerbitkan
surat ketetepan pajak lebih
bayar
apabila
terjadi
kelebihan setelah dilakukan
pemeriksaan.
Menetapkan
daluwarsa
penagihan
pajak
untuk
memberikan
kepastian
hukum kapan utang pajak
tidak dapat ditagih

Menerima gugatan WP atau


penanggung
pajak
yang
diajukan
kepada
badan
peradilan pajak

Menerima
pengembalian
atas kelebihan pembayaran
pajak

Mendapatkan
kepastian
hokum kapan hutang pajak
tidak dapat ditagih

Dapat mengajukan gugatan


kepada
badan
peradilan
pajak terhadap:
a) pelaksanaan Surat Paksa,
Surat
Perintah
Melaksanakan Penyitaan,
atau
Pengumuman
Lelang;
b) keputusan
pencegahan
dalam rangka penagihan
pajak; keputusan yang
berkaitan
dengan

Membayar
jumlah
pajak
terutang sebelum daluwarsa
penagihan pajak

25.

Pasal 25

1) Dalam hal Wajib Pajak 1)


mengajukan
keberatan
atas
surat
ketetapan
pajak,
fiskus
berhak
menerima
pelunasan
pajak yang masih harus
dibayar
paling
sedikit
sejumlah yang
2) telah disetujui Wajib Pajak
dalam pembahasan akhir
hasil
pemeriksaan, 2)
sebelum surat keberatan
disampaikan.
3) Fiskus
berhak
tidak
mempertimbangkan surat 3)
keberatan yang diajukan
oleh wajib pajak yang
tidak
memenuhi
persyaratan sebagaimana
yang dimaksud pada ayat
(1), ayat (2), ayat (3), dan
ayat (3a)
4) Fiskus berhakmengenakan
sanksi administrasi berupa

Menerima
pengajuan
keberatan WP atas SKPKB,
SKPKBT,
SKPN,
atau
pemotongan
atau
pemungutan pajak oleh
pihak ketiga berdasarkan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan
perpajakan.yang diajukan
secara tertulis
Fiskus wajib memberikan
tanda penerimaan surat
keberatan yang diajukan
oleh wajib pajak.
Apabila diminta oleh Wajib
Pajak
untuk
keperluan
pengajuan
keberatan,
Direktur
Jenderal
Pajak
wajib
memberikan
keterangan secara tertulis
hal-hal yang menjadi dasar
pengenaan
pajak,
penghitungan rugi, atau
pemotongan
atau

pelaksanaan keputusan
perpajakan, selain yang
ditetapkan dalam Pasal
25 ayat (1) dan Pasal 26;
c) atau penerbitan surat
ketetapan
pajak
atau
Surat
Keputusan
Keberatan yang dalam
penerbitannya
tidak
sesuai dengan prosedur
atau tata cara yang telah
diatur dalam ketentuan
peraturan
perundangundangan perpajakan
1) Dapat dapat mengajukan
keberatan secara tertulis
dalam bahasa Indonesia
dengan
mengemukakan
jumlah
pajak
yang
terutang, jumlah pajak
yang
dipotong
atau
dipungut, atau jumlah rugi
menurut
penghitungan
Wajib
Pajak
dengan
disertai
alasan
yang
menjadi
dasar
penghitungan
hanya
kepada Direktur Jenderal
Pajak atas suatuSKPKB,
SKPKBT,
SKPN, atau
pemotongan
atau
pemungutan pajak oleh
pihak ketiga berdasarkan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan
perpajakan yang diajukan
secara tertulis
2) Wajib
Pajak
berhak

Dalam
hal
Wajib
Pajak
mengajukan keberatan atas
surat ketetapan pajak, Wajib
Pajak wajib melunasi pajak
yang masih harus dibayar
paling sedikit sejumlah yang
telah disetujui Wajib Pajak
dalam pembahasan akhir
hasil pemeriksaan, sebelum
surat
keberatan
disampaikan.
Dalam
hal
mengajukan
keberatan, Wajib pajak wajib
memenuhi
persyaratan
sebagaimana yang dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), ayat
(3), dan ayat (3a)
Wajib Pajak wajib membayar
sanksi administrasi berupa
denda sebebsar 50% dari
jumlah pajak berdasarkan
keputusan
keberatan

denda sebebsar 50% dari


jumlah pajak berdasarkan 4)
keputusan
keberatan
dikurangi dengan pajak
yang
telah
dibayar
sebelum
mengajukan
keberatan.

26.

Pasal 26

27.

Pasal 26A

28.

Pasal 27

29.

Pasal 27A

pemungutan pajak.
menerima
tanda
Dalam hal Wajib Pajak
penerimaan surat atas
mengajukan permohonan
pengajuan keberatan yang
banding,
Fiskus
disampaikan
kepada
berkewajiban untuk tidak
Direktorat Jenderal Pajak.
mengenakan
sanksi 3) Wajib
Pajak
berhak
administrasi berupa denda
menerima
keterangan
sebesar 50% sebagaimana
secara
tertulis
hal-hal
dimaksud pada ayat (9) .
yang
menjadi
dasar
pengenaan
pajak,
penghitungan rugi, atau
pemotongan
atau
pemungutan pajak.
4) Dalam hal Wajib Pajak
mengajukan permohonan
banding,
sanksi
administrasi berupa denda
sebesar 50% sebagaimana
dimaksud pada ayat (9)
tidak dikenakan
Memberikan keputusan atas
pengajuan keberatan dari
WP paling lambat 12 hari
stlh keberatan diterima
Dapat
hadir
untuk
memperoleh
penjelasan
terkait penetapan pajak
Memberikan
keterangan Dapat mengajukan banding
secara tertulis hal-hal yg atas
surat
keputusan
menjadi
dasar
Surat Keberatan penetapan pajak
Keputusan
Keberatan
yg
diterbitkan
Membayar bunga sebesar
2%perbulan paling lama 24
bulan atas kelebihan bayar
SKPKB,
SKPKBT,
SKPN,
SKPLB
jika
keputusan
peradilang mengakabulkan

dikurangi dengan pajak yang


telah
dibayar
sebelum
mengajukan keberatan.

Menyampaikan
ketidakbenaran
ketetapan pajak

bukti-bukti
surat

Memberikan
keterangan
berkaitan dengan keberatan
penetapan pajak
Membayar denda 100% atas
sanksi
administrasi
jika
permohonan banding ditolak
atau dikabulkan sebagian

sebagian
/keseluruhan
keberatan,
permohonan
banding atau permohonan
peninjauan kembali
30.

Pasal 28

31.

Pasal 36

WP OP dan badan yg
melakukan kegiatan usaha di
indonesia
wajib
menyelenggarakan
pembukuan, atau bagi WP yg
dikecualikan
wajib
melakukan pencatatan.
Memberi
keputusan
atas
permohonan yang diajukan
dalam jangka waktu paling
lama
6
(enam) bulan sejak tanggal
permohonan
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)
diterima

Apabila diminta oleh Wajib Dapat


mengajukan
Pajak, Direktur Jenderal Pajak permohonan:
wajib
memberikana. Pengurangan
atau
keterangan secara tertulis
penghapusan
sanksi
hal-hal yang menjadi dasar
administrasiberupa bunga,
untuk
menolak
atau
denda, dan kenaikan yang
mengabulkan
sebagian
terutang
sesuaidengan
permohonan
Wajib
Pajak
ketentuan
peraturan
sebagaimana dimaksud pada
perundangayat (1c).
undanganperpajakan dalam
hal
sanksi
tersebut
dikenakan karenakekhilafan
Wajib Pajak atau bukan
karena kesalahannya;
b. pegurangan
atau
pembatalan
surat
ketetapan pajak yang tidak
benar;
c. pengurangan
atau
pembatalkan Surat Tagihan
Pajaksebagaimana
dimaksud dalam Pasal 14
yang tidak benar; atau
d. pembatalkan
hasil
pemeriksaan pajak atau
surat ketetapanpajak dari
hasil pemeriksaan yang

dilaksanakan tanpa:
1. penyampaian
surat
pemberitahuan
hasil
pemeriksaan;atau
2. pembahasan akhir hasil
pemeriksaan
dengan
WajibPajak.
32.

Pasal 36 B

33.

Pasal 37 A

Direktorat Jenderal Pajak 1)


dapat diberi insentif atas
dasar pencapaian kinerja
tertentu

Membuat
kode
etik
pegawai
Direktorat
Jenderal
Pajak.
(2) mematuhi kode etik
pegawai
Direktorat
Jenderal Pajak.
2) Melakukan
Pengawasan
pelaksanaan
dan
penampungan pengaduan
pelanggaran
kode
etik
pegawai
Direktorat
Jenderal
Pajak
dilaksanakan oleh Komite
Kode Etik
1) Wajib
Pajak
yang
menyampaikan
pembetulan
Surat
Pemberitahuan
Tahunan
Pajak Penghasilan sebelum
Tahun Pajak 2007, yang
mengakibatkan pajak yang
masih
harus
dibayar
menjadi lebih besar dan
dilakukan
paling
lama
dalam jangka waktu 1
(satu)
tahun
setelah
berlakunya
UndangUndang ini, dapat
diberikan
pengurangan

atau penghapusan sanksi


administrasi berupa bunga
atas
keterlambatan
pelunasan
kekurangan
pembayaran pajak yang
ketentuannya
diatur
dengan atau berdasarkan
Peraturan
Menteri
Keuangan.
2) Wajib Pajak orang pribadi
yang
secara
sukarela
mendaftarkan diri untuk
memperoleh Nomor Pokok
Wajib Pajak paling lama
1(satu)
tahun
setelah
berlakunya
UndangUndang
ini
diberikan
penghapusan
sanksi
administrasi atas pajak
yang tidak atau kurang
dibayar untuk Tahun Pajak
sebelum diperoleh Nomor
Pokok Wajib Pajak dan
tidak
dilakukan
pemeriksaan
pajak,
kecuali terdapat data atau
keterangan
yang
menyatakan bahwa Surat
Pemberitahuan
yang
disampaikan Wajib Pajak
tidak
benar
atau
menyatakan lebih bayar.
34.

Pasal 43

Direktur
Jenderal
Pajak
berdasarkan informasi, data,
laporan, dan pengaduan berwenang
melakukan
pemeriksaan
bukti

35.

Pasal 44

permulaan
sebelum
dilakukanpenyidikan tindak
pidana di bidang perpajakan.
1) Menerima
keterangan
atau laporan berkenaan
dengan
tindak
pidana
perpajakan
2) Meminta bantuan tenaga
ahli
dalam
rangka
penyidikan tindak pidana
perpajakan
3) Menyuruh
berhenti
dan/atau
melarang
seseorang meninggalkan
ruangan
atau
tempat
pada saat pemeriksaan
sedang berlangsung dan
memeriksa
identitas
orang, benda, an/atau
dokumen yang dibawa
4) Memotret seseorang yang
berkaitan dengan tindak
pidana perpajakan
5) Memanggil orang untuk
didengar keterangannya
dan
diperiksa
sebagai
tersangka atau saksi
6) Menghentikan penyidikan
7) Meminta bantuan aparat
penegak
hukum
lain
dalam penyidikan

1) Mencari, mengumpulkan 1) Berhak mengetahui kapan


dan
menelitiketerangan
jadwal
dimulainya
atau laporan berkenaan
penyidikan
didampingi
dengan
tindak
pidana 2) Berhak
pengacara
selama
perpajakan
2) Meneliti,
mencari,
penyidikan, ketika wajip
mengumpulkan
pajak sudah ditetapkan
keterangan mengenai OP
sebagai tersangka
atau
Badan
tentang
kebenaran
perbuatan
yang
dilakukan
sehubungan tindak pidana
perpajakan
3) Meminta keterangan dan
bahan bukti dari OP atau
Badan sehubungan tindak
pidana perpajakan
4) Memeriksa buku, catatan,
dan
dokumen
lain
berkenaan tindak pidana
perpajakan
5) Melakukan penggeledahan
untuk
mendapatkan
bahan bukti pembukuan,
pencatatan dan dokumen
lain
serta
melakukan
penyitaan
terhadap
barang bukti tersebut
6) Melakukan tindakan lain
yang
perlu
untuk
kelancaran
penyidikan
tindak pidana perpajakan
menurut
ketentuan
peraturan
perundangundangan
7) Memberitahukan

1) Bersedia
memberikan
keterangan atau laporan
berkenaan dengan tindak
pidana perpajakan.
2) Bersedia
memberikan
keterangan
mengenai
tentang
kebenaran
perbuatan yang dilakukan
serta
bahan
bukti
sehubungan
dengan
tindak pidana perpajakan.
3) Bersedia
menghentikan
kegiatan dan/atau tidak
meninggalkan
ruangan
pada
saat
pemeriksan
sedang berlangsung.
4) Bersedia
memenuhi
panggilan untuk didengar
keterangannya
dan
diperiksa
sebagai
tersangka atau saksi

dimulainya
penyidikan
dan menyampaikan hasil
penyidikannya
kepada
penuntut umum melalui
penyidik pejabat POLRI