Anda di halaman 1dari 39

UJI DIGNOSTIK RAPID TEST Ag-TB

DIBANDINGKAN KOMBINASI
PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS BTA DAN
FOTO THORAKS
PADA DIAGNOSIS DINI TB PARU

TB (Tuberculosis ) in the world

Th 2010 berkisar 8,8 juta jiwa terdiagnosis TB dan


1,1 juta jiwa meninggal karena infeksi TB dengan HIV
negatif (WHO Report 2011).

Masih merupakan masalah kesehatan


Nasional yang sangat besar.
Di Indonesia (2009) tercatat 1,7 juta orang
meninggal karena TB.
Sepertiga dari populasi dunia sudah tertular
TB sebagaian besar adalah usia produktif
(15-55 tahun).
DIY (2010) ditemukan 33 orang dengan
infeksi TB per 100 ribu penduduk serta
angka kematian 0,87 per 100 ribu
penduduk (Dinkes DIY, 2010).

Dari beberapa komponen progam TB


kontrol, penemuan kasus tetap
menjadi pijakan untuk pengendalian
yang efektif. (Sarin, And Dey, 1995)
Gambaran radiologik tidak ada yang
benar-benar spesifik untuk Tuberculosis
Paru.

Hasil BTA mikroskopis dipengaruhi


oleh jenis spesimen, ketebalan
hapusan, dekolorisasi, jenis kontras
pengecatan yang digunakan,
pelatihan dan personal yang terlatih.
Kendala utama dari kultur
mycobacteria di media konvensional,
selain rumit dan rawan kontaminasi
adalah pertumbuhan yang lambat
serta memerlukan masa inkubasi
minimal 4 minggu (Kent, 1985).

Selama ini penunjang diagnosis TB


berdasarkan
kombinasi
hapusan
sputum (BTA) dengan x-ray.
Metoda Rapid test Ag TB memiliki fitur
yang diinginkan seperti hasil dalam
waktu 2 jam, pelatihan tidak rumit,
mudah diinterpretasikan, berfungsi
dengan baik pada pasien HIV positif
dan memungkinkan pemberian
pengobatan awal sedini mungkin.

Perumusan Masalah
Berapakah hasil uji diagnostik
(sensitifitas dan spesifisitas) Rapid
Test Antigen Mycobacterium
Tuberkulosis dibandingkan
pemeriksaan yang biasa dilakukan
saat ini yaitu hasil kombinasi
pemeriksaan BTA mikrokopis dan foto
thoraks untuk diagnosis dini TB paru?

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum :
- mendapatkan nilai sensititifitas dan
spesifisitas pemeriksaan Rapid Test
Ag-TB dibandingkan gabungan
pemeriksaan BTA mikroskopis dan
foto thoraks pada kasus suspek TB
paru.

Tujuan Khusus
Membandingkan nilai sensitifitas
spesifisitas antara Rapid Test Ag-TB
dengan kombinasi pemeriksaan BTA
mikroskopis dan foto thoraks pada
penderita dengan klinis TB paru.

Manfaat Penelitian
Manfaat bagi Peneliti
- mendapatkan nilai diagnostik
pemeriksaan Rapid Test Ag-TB
dengan Validasi yang tinggi.
Manfaat bagi Klinisi
untuk mendiagnosis TB dengan
cepat sehingga OAT segera dapat
diberikan
Pemerikaan Rapid Test Ag-TB praktis,
mudah tersedia dan dapat dilakukan
di lapangan atau tempat praktek

Manfaat bagi Masyarakat/Penderita


Segera dapat ditegakkan diagnosis
penyakitnya (TB) secara dini dan
cepat sehingga komplikasi penyakit
lebih jauh dapat dicegah
Bagi Penderita dapat menurunkan
angka morbiditas dan mortalitas TB
paru

Keaslian Penelitian
Lalvani dkk : Rapid Detection of
Mycobacterium Tuberkulosis
Infection by Enumeration of Antigenspesific T cells, adanya antigen
specifik T cell menunjukan infeksi TB
positif (spesifitas 96 %).
Shuangfeng Chen dkk: The
Detection and Application of M
Tuberkulosis Specific Secreted
Protein. MTb sectreted protein
spesifitas 100% sensitifitas 30 %

TINJAUAN PUSTAKA
Tuberculosis (TB)

Tuberkulosis adalah penyakit menular


penyebab sekitar 3 juta kematian dan
8 juta kasus setiap tahun.

Bakteri yang bertanggung jawab


terhadap infeksi TB merupakan
kompleks Mycobacterium
tuberculosis.

Masih merupakan masalah kesehatan Nasional yang


sangat
besar.
Pada negara maju diperkirakan setiap tahunnya
hanya 10 sampai 20 kasus baru tuberkulosis diantara
100.000 penduduk
Di Indonesia pada tahun 2009 tercatat 1,7 juta
orang meninggal karena TB diantaranya 600.000
jiwa adalah perempuan dan 9,4 juta kasus TB baru
diantaranya 3,3 juta jiwa adalah perempuan.
Dalam menegakkan diagnosis TBC, terutama TB Paru, gambaran
Radiologis bukan merupakan diagnosis pasti karena tidak selalu
khas dan sangat bervariasi.

PATOFISIOLOGIS

STRATEGI PENGENDALIAN TB
Peranan deteksi kasus dalam pengendalian
infeksi TB
1. Identifikasi sumber infeksi
dalam suatu komunitas

Pengobatan cepat akan


menyembuhkan

Memangkas rantai
penularan

2. Meminimalkan
keterlambatan pengobatan

Meningkatkan kemungkinan
kesembuhan

Metode Diagnosa
M. tuberculosis

Rontgen
Sputum BTA smear
Sputum BTA Kultur
Mantoux
Serology Antibody test
PCR

TB Ag Rapid Test ( New! )

SITUASI PEMERIKSAAN RADIOLOGIS

Perlu diingat bahwa umumnya sulit menentukan


tingkat
aktivitas TB Paru dari foto toraks karena
biasanya
terlihat berbagai stadium dan paduan gambaran
berbagai jenis lesi. Gambaran radiologik tidak
ada yang
benar-benar
Beberapa penyakit
memberikan
spesifikdapat
untuk
Tuberculosis Paru.
(Zul Dahlan: Diagnosis dan Penatalaksanaan Tuberculosis Cermin Dunia Kedokteran 1997: 115:910)
gambaran
radiologik seperti Tuberculosis
(Fasisal Yunus : Diagnostik Tuberkulosis Paru. Pulmonologi klinik. Bagian Pulmonologi FKUI
Jakarta 1992:44)

DIRECT SMEAR PREPARATION


(Flow Chart)

SMEARING
SPREADING
DRYING
FIXATION

STAINING
INITIAL STAINING
HEATING
WASHING
DECOLORIZATION
WASHING
COUNTER-STAINING
WASHING
DRYING

MICROSCOPIC OBSERVATION
RECORDING & REPORTING

DIRECT SMEAR
Perlengkapan pengumpulan
sputum

Sputum Suction (Collection


set)

Unit consists of
graduated 50-mL
screw-cap tube

DIRECT SMEAR

BTA +

DIRECT SMEAR LIMITATION


SENSITIFITAS BTA MIKROSKOPIS
Penemuan kasus baru BTA (+) baru mencapai
4.214 kasus dari target perkiraan sebanyak
24.052 kasus di Jawa Tengah
Kanwil Dep. Kes. Prop. Jateng, Masalah Tuberkulosis di Jawa Tengah, 2000

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS (BTA & BIAKAN)

Diagnosis pasti tuberculosis paru


dapat ditegakkan bila ditemukan basil
tahan asam (BTA) M. tuberculosis sputum,
cairan lambung atau cairan yang dihasilkan
dari bronchial washing. Hanya saja
memerlukan waktu lama untuk memperoleh
pertumbuhan kuman
M Tuberculosis dan diperoleh terutama bila
proses penyakit telah berjalan lanjut.

PEMERIKSAAN KULTUR / BIAKAN

MEDIA EGG-BASE MEDIUM


LOWENSTEIN JENSEN, OGAWA, KUDOH
AGAR-BASE MEDIUM
MIDDLEBROOK, 7H10, 7H-11
MIN 50 100 KUMAN / ml BAHAN
RSP ( + ) 22.9 23.8 %
SIFAT, KIMIA M.tb
TUMBUH 370C, NIASIN +, KATALASE 68OC -, NITRAT
+, PNB(p-nitrobenzoat) HAMBAT TUMBUH
UJI RESISTENSI OAT

PEMERIKSAAN KULTUR / BIAKAN


Sebagai konfirmasi diagnosis TB
Kultur dilakukan apabila hasil BTA negatif

Hasil dapat diamati pertumbuhan setelah 14 hari


pada media kultur

Colonies of M. tuberculosis growing on media

PEMERIKSAAN KULTUR DAN PCR

Pemeriksaan Bactec dapat mendeteksi M. TB


secara cepat, namun mempunyai kelemahan
yaitu
mudah terkontaminasi dan membutuhkan biaya
mahal.
PCR kurang dapat digunakan sebagai
pemeriksaan
penunjang untuk diagnosis TB aktif dengan nilai
sensitivitas 50% dan spesifitas 90,5%.

M. Tuberculosis Antigen (TB Ag)


Rapid Test

Diagnostic to Different of TB and


NTM in Sputum
Sputum AFB Smear

JD
TB-Ag rapid test

Sputum

Digestion buffer

MTB +

NTM +

Sputum culture

NTM -

MTB +

JD
TB-Ag rapid test

Sputum culture

NTM -

MTB +

Confirmed by
Naked eye
PCR
Auto-detection machine

MTB +

NTM -

MTB: Mycobacterium Tuberculosis, MTB


NTM: Non-tuberculosis mycobacteria, NTM)

Kerangka Konsep
Uji Pemeriksaan Rapid Test Ag-TB
Hasil positif
Hasil negatif

Hasil Kultur
sputum
Hasil positif

Gabungan Pemeriksaan Sputum


BTA mikroskopis dan Foto Thorax
Hasil positif
Hasil negatif

Uji Diagnostik
Sensitifitas
Spesifisitas

Hasil
negatif

Hipotesis
Sensitifitas Pemeriksaan Rapid
Test Ag-TB cukup tinggi (lebih
70%) dibandingkan gabungan
pemeriksaan sputum BTA
mikroskopis dan Foto thoraks

METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah penelitian uji diagnostik
menentukan sensitifitas dan spesifisitas Rapid Test Ag-TB
dibandingkan kombinasi hasil pemeriksaan BTA
mikroskopis dan Foto thoraks
Populasi dan Sampel
Populasi adalah seluruh pasien dengan klinis TB yang
datang di poliklinik penyakit dalam RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta, dengan sampel penelitian
adalah sputum BTA dari pasien poliklinik tadi yang dikirim
di laboratorium yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.

Waktu dan tempat


Penelitian ini dilakukan pada pasien yang berkunjung di
poliklinik penyakit dalam dan dilakukan pemeriksaan sputum
BTA di laboratorium RS PKU Muhammadiyah, Yogyakarta dari
bulan Mei sampai Agustus 2012.
Variabel Penelitian
- Variabel Bebas (Independent)
Rapid Test Ag TB (hasil positif dan negatif)
Gabungan mikroskopis BTA dan foto thoraks (hasil positif
dan negatif)
- Variabel terikat (dependent)
Kultur sputum (hasil positif dan negatif)

Definisi Operasional Variabel


1. Sputum BTA mikroskopis positif : bila 2x positif atau 1x positif
- 2x negatif dilakukan pengulangan didapatkan 1 x positif.
2. Hasil foto thoraks positif : bila didapatkan minimal satu lesi
yaitu infiltrat, kalsifikasi, fibrosis, kavitas, pemadatan
lymphonodi peribronchial, effusi pleura, schwarte.
3. Hasil Rapid Test Ag-TB positif : bila ditemukan satu garis pink
pada area kontrol dan satu garis terlihat juga di area tes
4. Hasil Kultur sputum positif : bila ada pertumbuhan
Mycobacterium tuberculosis pada media .
5. Gabungan pemeriksaan sputum BTA mikroskopis dan foto
thoraks dengan hasil positif bila keduanya hasilnya positif.

Prosedur kerja dan Alur Penelitian


Pasien Poliklinik
Penyakit
Dalam/Anak

Pasien
Pasien yang
yang datang
datang ke
ke
laboratorium
RS
PKU
laboratorium RS PKU
Muhammadiyah
Muhammadiyah Yogyakarta
Yogyakarta
untuk
untuk periksa
periksa sputum
sputum BTA
BTA
mikroskopis
mikroskopis
Mengisi
informed
concent
Mengisi informed concent
(kesediaan
(kesediaan
menjadi
menjadiprobandus
probandus
penelitian)
penelitian)
Mengisi
Mengisi
kuesioner
kuesioner

Pengambilan
Pengambilan
Sputum
Sputum
Rapid
Rapid
Test
Test AgAgTB
TB
Hasil
Hasil++
Hasil
Hasil-Sensitifita
Sensitifita
ss
spesifisita
spesifisita
ss

BTA
BTA

Sudah
Sudah Foto
Foto
Thoraks
Thoraks

Belum
Belum Foto
Foto
Thoraks
Thoraks
Pengantar
Pengantar utk
utk
foto
thoraks
foto thoraks
di
di RS
RS PKU
PKU ,, YK
YK

Pinjam
Pinjam Foto
Foto
Thorax
Thorax
(difoto)
(difoto)

mikroskopi
mikroskopi
ss

Foto
Foto
Thoraks
Thoraks

Hasil
Hasil++

Hasil
Hasil +
+

Hasil
Hasil--

Sensitifita
Sensitifita
ss
spesifisita
spesifisita
ss

Hasil
Hasil --

Analisa Data
Uji diagnostik dengan menentukan nilai sensitifitas dan
spesifisitas dari data gabungan pemeriksaan sputum BTA
mikroskopis dan foto thoraks dibandingkan sensitifitas dan
spesifisitas hasil pemeriksaan Rapid Test Ag-TB dilakukan
analisa data dengan chi square, tabel 2x2

NO
1

2
3
4
5
6
7
9
10
11
12
12

NAMA ANGGARAN
Honor Peneliti I
Honor Peneliti II & III (2 orang)
Honor Pembantu peneliti
Laboran (2 orang)
Administrasi

SATUAN
Rp. 5.000.000,@ Rp. 3.000.000,-

JUMLAH

Pemeriksaan Foto thoraks 100 sampel


Sewa alat laboratorium Mikrobiologi
(Mikroskop, ose, lampu spritus, tempat
kultur media, inkubator, dll)
Pemeriksaan Sputum BTA mikroskopis 100
sampel
Pemeriksaan kultur sputum 100 sampel

@ Rp. 150.000,Rp. 2.000.000,-

Rp. 15.000.000,Rp. 2.000.000,-

@ Rp. 30.000,-

Rp. 3.000.000,-

@ Rp. 50.000,-

Rp. 5.000.000,-

Rp. 15.000.000,-

Rp. 1.500.000,Rp. 1.000.000,-

Rapid Test Ag-TB @ Rp. 1.500.000 untuk 25 4 x 1.500.000


sampel
Sterilisasi alat bahan

Rp. 6.000.000,-

Foto kopi lembar kuesioner @ 2lbr x 100 = @ Rp. 1.000,300 lembar


Alat Tulis dan Kertas (ATK)
Rp. 250.000,Penelusuran Pustaka
Rp. 250.000,Entry data dan analisis data
Rp. 1.500.000
Biaya penggandaan
Rp. 500.000

Rp.

JUMLAH

Rp. 50.000.000,-

Rp. 1.200.000,300.000,-

Rp. 250.000,Rp. 250.000,Rp. 750.000,Rp. 250.000,-

No

Bulan/tahun
(2012)

Tahapan Kegiatan
Apr

1
2
3

Persiapan Bahan dan Alat Penelitian dan


perijinan

Mei

Jun

Jul

Agt

Sept

Okt

Nov

Pengambilan sampel sputum dan


pengisian kuesioner

Pemeriksaan Foto thoraks

Pemeriksaan sputum BTA mikroskopis

Pemeriksaan Rapid Test Ag-TB

4
5
5
Entry data dan analisis uji diagnostik
6
7
8
9

Pembuatan Laporan penelitian

X
X

Seminar hasil penelitian

Revisi Penelitian

Penggandaan dan pembuatan naskah


publikasi

THANK YOU