Anda di halaman 1dari 6

Tax Amnesty, Tantanganmu Dulu dan Kini

Program tax amnesty (pengampunan pajak) memiliki sejarah panjang dan populer di
berbagai negara. Beberapa pembuat kebijakan melihat tax amnesty sebagai langkah yang
efisien, karena langsung meningkatkan pendapatan pajak tertentu tanpa merubah strukturnya
(tarif dan basis pajak) sekaligus secara tidak langsung mengurangi kesenjangan dalam tarif
pajak efektif sebelumnya antara masyarakat yang patuh dengan yang tidak.
Program pengampun pajak ini telah dilakukan di banyak negara di dunia ini, baik
oleh negara maju maupun negara berkembang dengan berbagai cerita sukses maupun
kegagalan. India (1997), Irlandia (1988), Italia (1982, 1984, dan 2001/2002) dan Amerika
Serikat (2009) adalah contoh negara yang sukses menyelenggarakan program pengampunan
pajak. Sedangkan Argentina (1987) dan Prancis (1982 dan 1986) adalah contoh negara yang
gagal dalam program pengampunan pajak.
Di Indonesia sendiri, sudah melakukan beberapa kali program pengampunan pajak.
Pengampunan pajak pertama kali diluncurkan tahun 1964 melalui Penetapan Presiden No. 5
Tahun 1964 tentang Peraturan Pengampunan Pajak. Pengampunan pajak yang diberikan pada
tahun 1964 merupakan pengampunan yang menyangkut penghasilan atau akumulasi modal
yang diperoleh sebelum tanggal 10 November 1964 yang belum dilaporkan dalam SPT dan
yang belum dikenakan Pajak Pendapatan, Pajak Perseroan maupun Pajak Kekayaan.
Pengampunan pajak pada saat itu tidak mempersoalkan sumber penghasilan, apakah
merupakan hasil korupsi, hasil suap-menyuap, ataupun merupakan penyeludupan pajak yang
tidak diungkapkan. Modal tersebut pada pendaftaran dikenakan pungutan satu kali sebesar
10% sebagai tebusan dari pada jumlah pajak-pajak yang menurut peraturan fiskal sebenarnya
terhutang kepada Negara.
Dua dasawarsa kemudian, kebijakan serupa dikeluarkan melalui Keppres No. 26
Tahun 1984. Pertimbangan utama dalam pelaksanaan pengampunan tahun 1984 ialah karena
berubahnya sistem yang dianut dari official assesment menjadi self assesment. Pengampunan
pajak tersebut diberikan atas pajak-pajak yang belum pernah atau belum sepenuhnya
dikenakan atau dipungut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun
bentuk pengampunannya dikenakan tebusan dengan tarif:
1. 1% (satupersen) dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah
pajak yang dimintakan pengampunan, bagi Wajib Pajak yang pada tanggal

ditetapkannya Keputusan Presiden ini telah memasukkan Surat Pemberitahuan Pajak


Pendapatan/Pajak Perseroan tahun 1983 dan Pajak Kekayaan tahun 1984;
2. 10% (sepuluhpersen) dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung
jumlah pajak yang dimintakan pengampunan, bagi Wajib Pajak yang pada tanggal
ditetapkannya Keputusan Presiden ini belum memasukkan Surat Pemberitahuan Pajak
Pendapatan/Pajak Perseroan tahun 1983 dan Pajak Kekayaan tahun 1984.
Fakta historis menunjukkan bahwa kedua program tax amnesty tersebut tidak
memperoleh 'sambutan hangat' dari WP karena tidak diiringi dengan pengampunan
pemerintah di bidang lain selain karena kualitas sistem administasi perpajakan yang masih
minimal. Ketidakberhasilan pengampunan pajak pada 1984, menurut Sofjan Ketua Apindo
(2007), disebabkan pemerintah tidak serius dalam meluncurkan kebijakan tersebut untuk
membantu dunia usaha dan mendongkrak penerimaan negara dari sektor pajak. Sofjan
menjelaskan tax amnesty pada tahun 1984 lebih bernuansa KKN, yaitu untuk menyelamatkan
bisnis keluarga penguasa di masa Orde Baru.
Pada era reformasi tahun 2008 Indonesia juga telah melakukan soft tax amnesty yang
diberi nama Sunset Policy. Sunset Policy pada dasarnya merupakan kebijakan pemberian
fasilitas penghapusan sanksi administratif perpajakan berupa bunga yang diatur dalam Pasal
37 A UU No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6
Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP). Kebijakan ini
dilatarbelakangi oleh tujuan untuk menggenjot penerimaan pajak. Selain itu, masih rendahnya
tax ratio Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya, seperti negara-negara
tetangga juga menjadi alasan diberlakukannya kebijakan ini. Misalnya jika dibandingkan
dengan Malaysia dan Singapura yang tax ratio-nya mencapai 20% Indonesia masih jauh
berada di bawahnya yaitu baru mencapai 13%. Sedangkan jika dibandingkan dengan negaranegara maju seperti Amerika Serikat yang tax ratio-nya mencapai 26,9% dan Inggris 39%,tax
ratio Indonesia masih jauh dari standar ideal. Kebijakan Sunset Policy yang dilakukan tahun
2008 merupakan bentuk differential tax amnesty , yakni dengan membedakan perlakuan
pengampunan pajak, dimana terhadap Wajib Pajak yang belum pernah menyampaikan SPT
diwajibkan membayar pajak-pajaknya dimasa lalu, sedangkan terhadap Wajib Pajak yang
sudah patuh menyampaikan SPT dapat memperbaiki pembayaran pajaknya tanpa dikenakan
sanksi administrasi berupa bunga. Ketentuan ini tertuang dalam Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang
Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP).

Berikut adalah gambaran pelaksanaan tax amnesty di beberapa negara yang dapat
dijadikan pembelajaran dan dasar pemberlakuan kembali kebijakan tax amnesty yang cocok
di Indonesia:
a. Irlandia
Irlandia telah melaksanakan lima kali pengampunan pajak dalam kurun waktu enam
tahun. Pengampunan pajak tersebut diawali pada tahun 1988. Pengampunan berlangsung
selama 10 bulan dimana Wajib Pajak diberi pengampunan sanksi denda, sanksi bunga, atau
sanksi pidana dalam bentuk apapun. Pengampunan tersebut dipublikasikan sebagai satusatunya kesempatan bagi Wajib Pajak untuk diampuni kewajiban perpajakannya dan
dilaksanakannya penegakan hukum pajak secara lebih tegas. Pada saat itu dilakukan pula
reformasi perpajakan secara struktural. Target pemerintah dalam program pengampunan
pajak tersebut adalah $ 50 Juta, tetapi realisasi penerimaan dari pengampunan pajak sebesar $
700 juta.
Pengampunan pajak Irlandia ketika itu dapat dikatakan berhasil. Alasan keberhasilan
pengampunan pajak tersebut adalah:
1) Pengampunan tersebut merupakan pengampunan yang pertama kali diadakan di
Irlandia.
2) Publikasi yang dilaksanakan sehubungan dengan pengampunan berhasil menciptakan
pandangan di masyarakat bahwa pengampunan tersebut adalah kesempatan terakhir
bagi Wajib Pajak tidak patuh untuk diampuni.
3) Diadakan penegakan hukum pajak yang lebih tegas setelah masa pengampunan
berakhir dan terdapat reformasi struktural dalam sistem perpajakan.
4) Peningkatan sanksi bagi kejahatan pajak yang dapat dideteksi setelah program
pengampunan pajak berakhir.
5) Selama program pengampunan pajak berlangsung, pemerintah mempublikasikan
daftar Wajib Pajak yang tidak patuh dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya di
berbagai surat kabar nasional.
Walaupun pengampunan pajak tahun 1988 dipublikasikan sebagai pengampunan
pajak yang pertama dan terakhir yang diselenggarakan pemerintah Irlandia, negara tersebut
kembali melaksanakan pengampunan pajak pada tahun 1993. Hal tersebut dilakukan karena
Irlandia mengalami defisit anggaran yang cukup serius. Pengampunan pajak yang ditawarkan
kepada masyarakat adalah pengampunan pajak istimewa dengan tujuan untuk merangsang
penarikan kembali penghasilan yang tidak diungkapkan dan dilarikan ke luar negeri.
Pengampunan istimewa ini memberikan penghapusan atas semua sanksi denda dan bunga
serta menjamin kerahasiaan sumber dana tersebut. Dana yang dibawa kembali ke dalam
negeri akan mendapatkan pengurangan tarif menjadi sebesar 15%, dimana tarif normalnya
adalah di atas 50%.
Partai oposisi dalam parlemen Irlandia dan berbagai serikat perdagangan mengkritisi
pengampunan pajak tahun 1993 sebagai pengampunan yang diskriminatif karena yang
menjadi subjek pengampunan adalah sebagian orang tertentu yang pada umumnya adalah
orang kaya. Pemerintah Irlandia pun kemudian merespon dengan melaksanakan

pengampunan pajak secara umum yang memberikan penghapusan sanksi denda dan sanksi
bunga, namun pokok pajak yang terutang harus tetap dibayar. Pengampunan pajak tahun
1993 merupakan pengampunan pajak yang gagal dan penerimaan pajak yang didapat lebih
rendah jauh dibawah angka penerimaan pengampunan tahun 1988.
b. Amerika Serikat
Di Amerika Serikat sendiri, sejak tahun 1982 sampai dengan tahun 2005 tercatat
sebanyak 40 negara bagian telah melaksanakan program pengampunan pajak. Terdapat 84
program pengampunan pajak yang dilaksanakan di berbagai negara bagian tersebut sampai
dengan tahun 2007. Sangat disayangkan, berdasarkan penelitian Hasseldine yang
dilaksanakan pada tahun 1998 dari 43 program pengampunan pajak di 35 negara bagian
Amerika Serikat antara tahun 1982 sampai dengan 1997 menunjukkan bahwa persentase
penerimaan pajak yang dihasilkan paling besar tidak melebihi 2,6% dari total penerimaan
pajak dan paling kecil sebesar 0,008% dari keseluruhan penerimaan pajak negara. Hal
tersebut dapat diartikan bahwa pengampunan pajak yang dilakukan di sebagian besar negara
bagian Amerika Serikat tidak berhasil dijalankan sebagai instrumen penarikan pajak.
Pada tahun 2009, Amerika kembali melaksanakan program pengampunan pajak yang kali
ini menarik peminat lebih dari 14.700 orang Amerika dan mengungkap lebih banyak
rekening bank asing rahasia dibandingkan dengan program-program sebelumnya. Alasan
keberhasilan ini, seperti diungkap pejabat penerimaan negara Amerika, adalah karena adanya
publikasi yang luas mengenai perjanjian pada bulan Februari 2009 oleh raksasa perbankan
Swiss untuk membayar $ 780 juta dan mengakui kesalahan tindak pidana dalam membuka
pelayanan rekening rahasia luar negeri yang memungkinkan terjadinya penggelapan pajak.
Selain itu, di bawah tekanan hukum perbankan, Swiss setuju untuk menyerahkan data dari
sekitar 4.450 kliennya yang berasal dari Amerika. Sehingga tidak mengherankan, program
tax amnesty pada tahun 2009 ini sangat memikat banyak Wajib Pajak khususnya klien
perbankan Swiss. Banyak dari mereka yang setuju untuk memulangkan aset dan membayar
kembali pajak lebih awal sehingga mendapat pengurangan bunga dan denda serta terhindar
dari hukuman lebih lanjut. Hal ini kemudian didukung dengan publikasi oleh pemerintah
Amerika tentang pengawasan bank-bank di Tax Heaven Country yang akan diperluas untuk
mengejar kasus penggelapan pajak ke depannya.
Berdasarkan kajian sederhana dengan mempertimbangkan kegagalan atas penerapan
kebijakan tax amnesty di Indonesia dan keberhasilan penerapan kebijakan tax amnesty yang
dilakukan oleh negara-negara lain. Maka menurut penulis, pemerintah hendaknya perlu
mengambil langkah tegas seperti:
a. Penanaman komitmen di semua lini pemerintah sebagai eksekutor kebijakan.
b. Perbaikan regulasi, melihat atas apa yang terjadi pada kegagalan penerapan
kebijakan tax amnesty sebelumnya.
c. Publikasi atau sosialisasi yang dilakukan terkait kebijakan tax amnesty yang
menanamkan pemahaman kepada masyarakat bahwa kebijakan pemangampunan
ini adalah kesempatan terakhir bagi Wajib Pajak tidak patuh untuk diampuni.

d. Selama program pengampunan pajak berlangsung, pemerintah mempublikasikan


daftar Wajib Pajak yang tidak patuh dalam melaksanakan kewajiban
perpajakannya di berbagai surat kabar nasional.
Kesimpulan
Menurut penulis, penerapan kebijakan tax amnesty merupakan tindakan yang tepat
untuk meningkatkan penerimaan pajak. Namun, berkaca pada kegagalan atas penerapan
kebijakan ini, maka hal tersebut perlu didukung dengan regulasi dan sanksi yang tegas serta
komitmen disemua lini pemerintah. Hal ini menjadi tantangan pemerintah Indonesia saat ini
untuk membuat kebijakan tax amnesty ini berhasil diterapkan.

Daftar Pustaka

Diunduh dari id.scribd.com/.../Tinjauan atas pemberlakuan kembali tax amnesty diIndonesia.


Keppres No. 26 Tahun 1984 tentang Pengampunan Pajak.
Penetapan Presiden No. 5 Tahun 1964 tentang Peraturan Pengampunan Pajak.

UU No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP).