Anda di halaman 1dari 100

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Deskripsi Singkat Mata Kuliah Perpajakan


Matakuliah ini membahas aplikasi peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia
sehubungan dengan perlakukan akuntansi dan koreksi fiskal atas laporan keuangan.

1.2

Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan dapat mengaplikasikan
peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia sehubungan dengan perlakukan
akuntansi dan koreksi fiskal atas laporan keuangan.

1.3

Metode Pembelajaran
Matakuliah ini menggunakan metode kuliah interaktif, yang dipadu dengan
pembelajaran dengan ceramah, small group, diskusi dan menyelesaikan kasus.
Aktifitas diskusi, latihan di kelas dan kemampuan menyelesaikan kasus-kasus
perpajakan merupakan indikator penilaian kemajuan mahasiswa.

1.4

Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP)


Modul ini disusun sesuai dengan GBPP sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan penjelasan umum mata kuliah perpajakan dan isi dari modul
ini. Bab ini meliputi: deskripsi mata kuliah, tujuan pembelajaran, metode pembelajaran
dan Garis-Garis Program Pembelajaran (GBPP).
BAB II HAK-HAK DAN KEWAJIBAN WAJIB PAJAK
Dalam bab ini diuraikan hak-hak dan kewajiban Wajib Pajak.
BAB III PAJAK PENGHASILAN PASAL 21/26 (1)
Dalam bab ini diuraikan pengertian PPh Pasal 21/26, dasar perhitungan PPh Pasal
21/26 dan tarif PPh Pasal 21/26.
BAB IV PAJAK PENGHASILAN PASAL 21/26 (2)
Dalam bab ini diuraikan cara menghitung PPh Pasal 21/26 dan akuntansi PPh Pasal
21/26.
BAB V PAJAK PENGHASILAN PASAL 21/26 (PPh PASAL 21/26)
Dalam bab ini diuraikan cara mengisi SPT PPh Pasal 21/26 dan melaporkan SPT PPh
Pasal 21/26.
BAB VI PAJAK PENGHASILAN PASAL 22 (PPh PASAL 22)
Dalam bab ini diuraikan pengertian, dasar perhitungan, tarif, cara menghitung pajak
terutang dan akuntansi PPh Pasal 22.

Modul Perpajakan

BAB VII PAJAK PENGHASILAN PASAL 23/26 (PPh PASAL 23/26)


Dalam bab ini diuraikan pengertian, dasar perhitungan, tarif, cara menghitung pajak
terutang dan akuntansi PPh Pasal 23/26.
BAB VIII PAJAK PENGHASILAN PASAL 4 (2)
Dalam bab ini diuraikan pengertian, dasar perhitungan, tarif, cara menghitung pajak
terutang dan akuntansi PPh Pasal 4 (2).
BAB IX PAJAK PENGHASILAN PASAL 24 (PPh PASAL 24)
Dalam bab ini diuraikan pengertian, dasar perhitungan, tarif, cara menghitung pajak
terutang dan akuntansi PPh Pasal 24.
BAB X KOREKSI FISKAL
Dalam bab ini diuraikan cara menghitung dan mengkoreksi laporan keuanga sesuai
peraturan perpajakan.
BAB XI PSAK NO. 46
Dalam bab ini diuraikan cara pelaporan pajak penghasilan sesuai PSAK No. 46
BAB XII PPN dan PPn BM (1)
Dalam bab ini diuraikan kreteria Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak
(JKP), Pengusaha Kecil, Penyerahan BKP dan JKP serta PPN Masukan dan Kredit
Pajak.
BAB XIII PPN dan PPn BM (2)
Dalam bab ini diuraikan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) PPN dan PPn BM, tarif, PPN
yang bersifat final dan akuntansi PPN dan PPn BM.
BAB XVI PENGISIAN DAN PELAPORAN SPT
Dalam bab ini diuraikan cara mengisi dan melaporkan SPT PPN dan PPn BM, cara
mengisi dan melaporkan SPT Tahunan Orang Pribadi dan SPT Tahunan Badan.
BAB XV MANAJEMEN PAJAK
Dalam bab ini diuraikan cara membuat strategi, perencanaan, pengorganisasian dan
pengendalian pajak perusahaan.

Modul Perpajakan

BAB II
HAK-HAK DAN KEWAJIBAN WAJIB PAJAK
Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah mengikuti materi ini, mahasiswa diharapkan dapat
menjelaskan hak-hak dan kewajiban Wajib Pajak.

2.1 Pendahuluan
Dalam rangka lebih memberikan keadilan dibidang perpajakan yaitu antara
keseimbangan hak negara dan hak warga Negara pembayar pajak, maka Undangundang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
mengakomodir mengenai hak dan kewajiban Wajib Pajak.
2.2 Kewajiban Wajib Pajak
1) Pasal 2 ayat 1
Setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib
mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang wilayah kerjanya
meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
2) Pasal 2 ayat 2
Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha yang dikenai pajak berdasarkan UndangUndang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya, wajib melaporkan
usahanya pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi
tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha, dan tempat kegiatan usaha
dilakukan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.
3) Pasal 2 ayat 4a
Kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak yang diterbitkan NPWP dan/atau yang
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) secara jabatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) dimulai sejak saat Wajib Pajak memenuhi persyaratan
subjektif dan objektif seusai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan, paling lama 5 (lima) tahun sebelum diterbitkannya Nomor Pokok Wajib
Pajak dan/atau dikukuhkannya sebagai Pengusaha Kena Pajak.
4) Pasal 3 ayat 1
Setiap Wajib Pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap,
dan jelas, dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab,
satuan mata uang Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor
Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat
lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
5) Pasal 10 ayat 1
Wajib Pajak wajib membayar atau menyetor pajak yang terutang dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak ke kas negara melalui tempat pembayaran
yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Modul Perpajakan

6) Pasal 25 ayat 3a
Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak, Wajib
Pajak wajib melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang
telah disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, sebelum
surat keberatan disampaikan.
7) Pasal 35A ayat 1
Setiap instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain, wajib memberikan
data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan kepada Direktorat Jenderal
Pajak yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah dengan
memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2).
2.3

Hak-Hak Wajib Pajak


1) Pasal 3 ayat 3a
Wajib Pajak dengan kriteria tertentu dapat melaporkan beberapa Masa Pajak dalam
1 (satu) Surat Pemberitahuan Masa.
2) Pasal 3 ayat 4
Wajib Pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) untuk paling lama
2 (dua) bulan dengan cara menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atau
dengan cara lain kepada Direktur Jenderal Pajak yang ketentuannya diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
3) Pasal 8 ayat 1
Wajib Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan Surat Pemberitahuan yang
telah disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis, dengan syarat
Direktur Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan.
4) Pasal 8 ayat 6
Wajib Pajak dapat membetulkan Surat Pemberitahuan Tahunan yang telah
disampaikan, dalam hal Wajib Pajak menerima ketetapan pajak, Surat Keputusan
Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, atau Putusan
Peninjauan Kembali Tahun Pajak sebelumnya atau beberapa Tahun Pajak
sebelumnya, yang menyatakan rugi fiskal yang berbeda dengan rugi fiskal yang
telah dikompensasikan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan yang akan
dibetulkan tersebut, dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah menerima surat
ketetapan pajak, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan,
Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali, dengan syarat Direktur
Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan.
5) Pasal 26A ayat 2
Tata cara pengajuan dan penyelesaian keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), antara lain, mengatur tentang pemberian hak kepada Wajib Pajak untuk hadir
memberikan keterangan atau memperoleh penjelasan mengenai keberatannya.
6) Pasal 29A
Terhadap Wajib Pajak badan yang pernyataan pendaftaran emisi sahamnya telah
dinyatakan efektif oleh badan pengawas pasar modal dan menyampaikan Surat
Pemberitahuan dengan dilampiri Laporan Keuangan yang telah diaudit oleh Akuntan
Publik dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian yang :

Modul Perpajakan

a. Surat Pemberitahuan Wajib Pajak menyatakan lebih bayar sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 17B; atau
b. terpilih untuk diperiksa berdasarkan analisis
pemeriksaan melalui Pemeriksaan Kantor.

risiko

dapat

dilakukan

7) Pasal 37A ayat 2


Wajib Pajak orang pribadi yang secara sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh
Nomor Pokok Wajib Pajak paling lama 1 (satu) tahun setelah berlakunya UndangUndang ini diberikan penghapusan sanksi administrasi atas pajak yang tidak atau
kurang dibayar untuk Tahun Pajak sebelum diperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan
tidak dilakukan pemeriksaan pajak, kecuali terdapat data atau keterangan yang
menyatakan bahwa Surat Pemberitahuan yang disampaikan Wajib Pajak tidak benar
atau menyatakan lebih bayar.
8) Pasal 2 ayat 6
Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak
apabila :
a. diajukan permohonan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak oleh Wajib Pajak
dan/atau ahli warisnya apabila Wajib Pajak sudah tidak memenuhi persyaratan
subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan;
b. Wajib Pajak badan dilikuidasi karena penghentian atau penggabungan usaha;
c. Wajib Pajak bentuk usaha tetap menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia;
atau
d. dianggap perlu oleh Direktur Jenderal Pajak untuk menghapuskan Nomor Pokok
Wajib Pajak dari Wajib Pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif
dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
9) Pasal 37A ayat 1
Wajib Pajak yang menyampaikan pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan sebelum Tahun Pajak 2007, yang mengakibatkan pajak yang masih
harus dibayar menjadi lebih besar dan dilakukan paling lambat tanggal 28 Pebruari
2009, dapat diberikan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi berupa
bunga atas keterlambatan pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
10) Pasal 17B ayat 4
Apabila pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1a) tidak dilanjutkan dengan penyidikan;
dilanjutkan dengan penyidikan, tetapi tidak dilanjutkan dengan penuntutan tindak
pidana di bidang perpajakan; atau dilanjutkan dengan penyidikan dan penuntutan
tindak pidana di bidang perpajakan, tetapi diputus bebas atau lepas dari segala
tuntutan hukum berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap, dan dalam hal kepada Wajib Pajak diterbitkan Surat Ketetapan Pajak
Lebih Bayar, kepada Wajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua
persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan, dihitung sejak
berakhirnya jangka waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sampai dengan saat diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar, dan bagian dari
bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

Modul Perpajakan

11) Pasal 17D ayat 2


Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dapat diberikan
pengembalian:
a. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan
bebas;
b. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
dengan jumlah peredaran usaha dan jumlah lebih bayar sampai dengan
jumlah tertentu;
c. Wajib Pajak badan dengan jumlah peredaran usaha dan jumlah lebih bayar
sampai dengan jumlah tertentu; atau
d. Pengusaha Kena Pajak yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa
Pajak Pertambahan Nilai dengan jumlah penyerahan dan jumlah lebih bayar
sampai dengan jumlah tertentu.
12) Pasal 17E
Orang pribadi yang bukan subjek dalam negeri yang melakukan pengembalian
Barang Kena Pajak di dalam daerah pabean yang tidak dikonsumsi di daerah
pabean dapat diberikan pengembalian Pajak Pertambahan Nilai yang telah dibayar,
yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
13) Pasal 17C ayat 2 ( senada dengan pasal 17D ayat 2 )
Kriteria tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : tepat waktu dalam
menyampaikan Surat Pemberitahuan; tidak mempunyai tunggakan pajak untuk
semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak yang telah memperoleh izin untuk
mengangsur atau menunda pembayaran pajak; Laporan Keuangan diaudit oleh
Akuntan Publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah dengan pendapat
Wajar Tanpa Pengecualian selama 3 (tiga) tahun berturut-turut; dan tidak pernah
dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka
waktu 5 (lima) tahun terakhir.

2.4 Soal Latihan


1) Jelaskan kewajiban wajib pajak sesuai Undang-Undang Ketentuan Umum dan
Tatacara Perpajakan.
2) Jelaskan hak-hak wajib pajak sesuai Undang-Undang Ketentuan Umum dan
Tatacara Perpajakan.

Modul Perpajakan

BAB III
PAJAK PENGHASILAN PASAL 21/26
(1)
Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan
pengertian, dasar pengenaan dan pemotongan serta tarif PPh Pasal 21/26.

3.1

Pengertian dan Obyek PPh Pasal 21/26

Pengertian
Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh Pasal 21) adalah Pajak Penghasilan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak orang pribadi Subjek Pajak
dalam negeri. PPh Pasal 21 dikenakan atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium,
tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan
dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi
Subjek Pajak dalam negeri.
Pajak Penghasilan Pasal 26 (PPh Pasal 26) adalah Pajak Penghasilan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak orang pribadi Subjek Pajak
luar negeri. PPh Pasal 26 dikenakan atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium,
tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan
dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi
Subjek Pajak luar negeri.
Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26, meliputi:
a. pemberi kerja yang terdiri dari:
1)
2)

orang pribadi dan badan;


cabang, perwakilan, atau unit, dalam hal yang melakukan sebagian atau seluruh
administrasi yang terkait dengan pembayaran gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan
pembayaran lain adalah cabang, perwakilan, atau unit tersebut.

b. bendahara atau pemegang kas pemerintah;


c. dana pensiun, badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja, dan badan-badan lain
pembayar uang pensiun secara berkala dan tunjangan hari tua atau jaminan hari tua;
d. Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan yang
membayar:
1. honorarium, komisi, fee, atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan
jasa yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status Subjek Pajak dalam negeri,
termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas dan bertindak untuk dan
atas namanya sendiri, bukan untuk dan atas nama persekutuannya;
2. honorarium, komisi, fee, atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan
jasa yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status Subjek Pajak luar negeri;
3. honorarium, komisi, fee, atau imbalan lain kepada peserta pendidikan dan pelatihan,
serta pegawai magang;
e. penyelenggara kegiatan, termasuk badan pemerintah, organisasi yang bersifat nasional
dan internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya yang
menyelenggarakan kegiatan, yang membayar honorarium, hadiah, atau penghargaan
dalam bentuk apapun kepada WP orang pribadi berkenaan dengan suatu kegiatan.
Modul Perpajakan

Tidak termasuk sebagai pemberi kerja yang mempunyai kewajiban untuk melakukan
pemotongan pajak adalah:
a. kantor perwakilan negara asing;
b. organisasi-organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Pajak Penghasilan, yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan;
c. pemberi kerja orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas yang semata-mata mempekerjakan orang pribadi untuk melakukan pekerjaan
rumah tangga atau pekerjaan bukan dalam rangka melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas.
Penerima Penghasilan Yang Dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26
Penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 adalah orang
pribadi yang merupakan:
a. pegawai;
b.

penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua, atau
jaminan hari tua, termasuk ahli warisnya;

c.

Bukan Pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan


pemberian jasa, meliputi:
1) tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan,
arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;
2) pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron,
bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain
drama, penari, pemahat pelukis, dan seniman lainnya;
3) olahragawan;
4) penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
5) pengarang, peneliti, dan penerjemah;
6) pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik, komputer dan sistem
aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi, dan sosial serta
pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan;
7) agen iklan;
8) pengawas atau pengelola proyek;
9) pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi
perantara;
10) petugas penjaja barang dagangan;
11) petugas dinas luar asuransi;
12) distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan kegiatan sejenis
lainnya;

d. anggota dewan komisaris atau dewan pengawas yang tidak merangkap sebagai Pegawai
Tetap pada perusahaan yang sama;
e. mantan pegawai;
f. peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan
keikutsertaannya dalam suatu kegiatan, antara lain:
1) peserta perlombaan dalam segala bidang, antara lain perlombaan olah raga, seni,
ketangkasan, ilmu pengetahuan, teknologi dan perlombaan lainnya;
2) peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, atau kunjungan kerja;
3) peserta atau anggota dalam suatu kepanitiaan sebagai penyelenggara kegiatan
tertentu;
4) peserta pendidikan dan pelatihan;
5) peserta kegiatan lainnya.
Modul Perpajakan

Tidak termasuk dalam pengertian penerima penghasilan


Tidak termasuk dalam pengertian penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21
dan/atau PPh Pasal 26, adalah:
a. pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing, dan
orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat
tinggal bersama mereka, dengan syarat bukan WNI dan di Indonesia tidak menerima
atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut, serta
negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;
b. pejabat perwakilan organisasi internasional yang telah ditetapkan oleh Menteri
Keuangan, dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan
usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari
Indonesia.
Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26
(1) Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 adalah:
a. penghasilan yang diterima atau diperoleh Pegawai Tetap, baik berupa Penghasilan
yang Bersifat Teratur maupun Tidak Teratur;
b. penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara teratur berupa
uang pensiun atau penghasilan sejenisnya;
c. penghasilan berupa uang pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua, atau
jaminan hari tua yang dibayarkan sekaligus, yang pembayarannya melewati jangka
waktu 2 (dua) tahun sejak pegawai berhenti bekerja;
d. penghasilan Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas, berupa upah harian,
upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan secara
bulanan;
e. imbalan kepada Bukan Pegawai, antara lain berupa honorarium, komisi, fee, dan
imbalan sejenisnya dengan nama dan dalam bentuk apapun sebagai imbalan
sehubungan jasa yang dilakukan;
f. imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku, uang representasi,
uang rapat, honorarium, hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk
apapun, dan imbalan sejenis dengan nama apapun;
g. penghasilan berupa honorarium atau imbalan yang bersifat tidak teratur yang diterima
atau diperoleh anggota dewan komisaris atau dewan pengawas yang tidak
merangkap sebagai Pegawai Tetap pada perusahaan yang sama;
h. penghasilan berupa jasa produksi, tantiem, gratifikasi, bonus atau imbalan lain yang
bersifat tidak teratur yang diterima atau diperoleh mantan pegawai; atau
i. penghasilan berupa penarikan dana pensiun oleh peserta program pensiun yang
masih berstatus sebagai pegawai, dari dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan.
(2) Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 termasuk pula
penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya dengan nama dan
dalam bentuk apapun yang diberikan oleh:
a. WP yang dikenakan PPh yang bersifat final; atau
b. WP yang dikenakan PPh berdasarkan norma penghitungan khusus (deemed profit).
Penghasilan Diterima atau Diperoleh Dalam Mata Uang Asing
Dalam hal penghasilan diterima atau diperoleh dalam mata uang asing, penghitungan PPh
Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 didasarkan pada nilai tukar (kurs) yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan yang berlaku pada saat pembayaran penghasilan tersebut atau pada
saat dibebankan sebagai biaya.
Penghasilan Berupa Penerimaan Dalam Bentuk Natura dan/atau Kenikmatan Lainnya
Penghitungan PPh Pasal 21 dan/atau 26 atas penghasilan berupa penerimaan dalam
bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya didasarkan pada harga pasar atas barang yang
diberikan atau nilai wajar atas pemberian natura dan/atau kenikmatan yang diberikan.
Modul Perpajakan

Tidak termasuk dalam pengertian penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21


Tidak termasuk dalam pengertian penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah:
a. pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari perusahaan asuransi
sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa,
asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa;
b. penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dalam bentuk apapun yang
diberikan oleh Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali penghasilan yang diatur dalam
Undang-undang Pajak Penghasilan;
c. iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan, iuran tunjangan hari tua atau iuran jaminan hari
tua kepada badan penyelenggara tunjangan hari tua atau badan penyelenggara
jaminan sosial tenaga kerja yang dibayar oleh pemberi kerja;
d. zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari badan atau lembaga amil
zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah, atau sumbangan keagamaan
yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia yang diterima
oleh orang pribadi yang berhak dari lembaga keagamaan yang dibentuk atau
disahkan oleh Pemerintah sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha,
pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang
bersangkutan;
e. beasiswa sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan.
3.2 Dasar Pengenaan Pemotongan PPh Pasal 21/26
(1) Dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 21 adalah sebagai berikut:
a. Penghasilan Kena Pajak, yang berlaku bagi:
1. Pegawai Tetap;
2. penerima pensiun berkala;
3. Pegawai Tidak Tetap yang penghasilannya dibayar secara bulanan atau
jumlah kumulatif penghasilan yang diterima dalam 1 (satu) bulan kalender
telah melebihi Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah); dan
4. Bukan Pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c yang
menerima imbalan yang bersifat berkesinambungan;
b. jumlah penghasilan yang melebihi Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) sehari, yang
berlaku bagi Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas yang menerima upah
harian, upah mingguan, upah satuan atau upah borongan, sepanjang penghasilan
kumulatif yang diterima dalam 1 (satu) bulan kalender belum melebihi
Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah);
c. 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan bruto, yang berlaku bagi Bukan
Pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c yang menerima imbalan
yang tidak bersifat berkesinambungan; atau
d. jumlah penghasilan bruto, yang berlaku bagi penerima penghasilan selain penerima
penghasilan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, dan huruf c.
(2) Dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 26 adalah jumlah penghasilan bruto.
3.3 Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
(1) Besarnya PTKP per tahun adalah sebagai berikut:
a. Rp 36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang
pribadi;
b. Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin; dan
c. Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga
Modul Perpajakan

10

sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat,
yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap
keluarga.
(2) PTKP per bulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf c adalah PTKP
per tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibagi 12 (dua belas), sebesar:
a. Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang pribadi;
b. Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak
yang kawin; dan
c. Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota
keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak
angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang
untuk setiap keluarga.
Besarnya PTKP bagi karyawati berlaku ketentuan sebagai berikut:
a. bagi karyawati kawin, sebesar PTKP untuk dirinya sendiri;
b. bagi karyawati tidak kawin, sebesar PTKP untuk dirinya sendiri ditambah PTKP
untuk keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya.
Dalam hal karyawati kawin dapat menunjukkan keterangan tertulis dari Pemerintah Daerah
setempat serendah-rendahnya kecamatan yang menyatakan bahwa suaminya tidak
menerima atau memperoleh penghasilan, besarnya PTKP adalah PTKP untuk dirinya
sendiri ditambah PTKP untuk status kawin dan PTKP untuk keluarga yang menjadi
tanggungan sepenuhnya.
Atas penghasilan bagi Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas yang tidak dibayar
secara bulanan atau jumlah kumulatifnya dalam 1 (satu) bulan kalender belum melebihi Rp
3.000.000,00 (tiga juta rupiah), berlaku ketentuan sebagai berikut:
a. tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 21, dalam hal penghasilan sehari atau ratarata penghasilan sehari belum melebihi Rp 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah); atau
b. dilakukan pemotongan PPh Pasal 21, dalam hal penghasilan sehari atau rata-rata
penghasilan sehari melebihi Rp 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah), dan jumlah
sebesar Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) tersebut merupakan jumlah yang
dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

3.4 Tarif Pemotongan PPh Pasal 21/26


Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan diterapkan
atas Penghasilan Kena Pajak dari:
a. Pegawai Tetap;
b. Penerima Pensiun berkala yang dibayarkan secara bulanan;
c. Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas yang dibayarkan secara bulanan.
Untuk perhitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong setiap masa pajak, kecuali masa
pajak terakhir, tarif diterapkan atas perkiraan penghasilan yang akan diperoleh selama 1
(satu) tahun, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. perkiraan atas penghasilan yang bersifat teratur adalah jumlah penghasilan teratur
dalam (satu) bulan dikalikan 12 (dua belas);
b. dalam hal terdapat tambahan penghasilan yang bersifat tidak teratur maka
perkiraan penghasilan yang akan diperoleh selama 1 (satu) tahun adalah sebesar
jumlah pada huruf a ditambah dengan jumlah penghasilan yang bersifat tidak
teratur.
Jumlah PPh Pasal 21 yang harus dipotong untuk setiap masa pajak adalah:
a. atas penghasilan yang bersifat teratur adalah sebesar Pajak Penghasilan terutang
Modul Perpajakan

11

b.

atas jumlah penghasilan dibagi 12 (dua belas);


atas penghasilan yang bersifat tidak teratur adalah sebesar selisih antara Pajak
Penghasilan yang terutang atas jumlah penghasilan dengan Pajak Penghasilan
yang terutang atas jumlah penghasilan.

Besarnya PPh Pasal 21 yang harus dipotong untuk masa pajak terakhir adalah selisih
antara PPh yang terutang atas seluruh PKP selama 1 (satu) tahun pajak atau bagian tahun
pajak dengan PPh Pasal 21 yang telah dipotong pada masa-masa sebelumnya dalam tahun
pajak yang bersangkutan. Dalam hal kewajiban pajak subjektif Pegawai Tetap hanya
meliputi bagian tahun pajak maka perhitungan PPh Pasal 21 yang terutang untuk bagian
tahun pajak tersebut dihitung berdasarkan penghasilan kena pajak yang disetahunkan,
sebanding dengan jumlah bulan dalam bagian tahun pajak yang bersangkutan.
Dalam hal Pegawai Tetap berhenti bekerja sebelum bulan Desember dan jumlah PPh Pasal
21 yang telah dipotong dalam tahun kalender yang bersangkutan lebih besar dari PPh Pasal
21 yang terutang untuk 1 (satu) tahun pajak maka kelebihan PPh Pasal 21 yang telah
dipotong tersebut dikembalikan kepada Pegawai Tetap yang bersangkutan bersamaan
dengan pemberian bukti pemotongan PPh Pasal 21, paling lambat akhir bulan berikutnya
setelah berhenti bekerja.
Jumlah Penghasilan Kena Pajak sebagai dasar penerapan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a
Undang-Undang Pajak Penghasilan dibulatkan ke bawah hingga ribuan penuh.
Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja
Lepas berupa upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan, dan uang saku
harian, sepanjang penghasilan tidak dibayarkan secara bulanan, tarif lapisan pertama
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh diterapkan atas:
a. jumlah penghasilan bruto sehari yang melebihi Rp 300.000,00 (tiga ratus ribu
rupiah); atau
b. jumlah penghasilan bruto dikurangi PTKP yang sebenarnya, dalam hal jumlah
penghasilan kumulatif dalam 1 (satu) bulan kalender telah melebihi Rp 3.000.000,00
(tiga juta rupiah).
(2)
Dalam hal jumlah penghasilan kumulatif dalam satu bulan kalender telah melebihi Rp
8.200.000,00 (delapan juta dua ratus ribu rupiah), PPh Pasal 21 dihitung dengan
menerapkan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan atas jumlah
Penghasilan Kena Pajak yang disetahunkan.
Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh diterapkan atas jumlah kumulatif dari:
a. Penghasilan Kena Pajak, sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan
bruto dikurangi PTKP per bulan, yang diterima atau diperoleh Bukan Pegawai yang
memenuhi ketentuan ;
b. 50% dari jumlah penghasilan bruto untuk setiap pembayaran imbalan kepada
Bukan Pegawai yang bersifat berkesinambungan yang tidak memenuhi ketentuan ;
c. jumlah penghasilan bruto berupa honorarium atau imbalan yang bersifat tidak
teratur yang diterima atau diperoleh anggota dewan komisaris atau dewan
pengawas yang tidak merangkap sebagai Pegawai Tetap pada perusahaan yang
sama;
d. jumlah penghasilan bruto berupa jasa produksi, tantiem, gratifikasi, bonus atau
imbalan lain yang bersifat tidak teratur yang diterima atau diperoleh mantan
pegawai; atau
e. jumlah penghasilan bruto berupa penarikan dana pensiun oleh peserta program
pensiun yang masih berstatus sebagai pegawai, dari dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.
Modul Perpajakan

12

Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang PPh diterapkan atas:
a. 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan bruto untuk setiap pembayaran
imbalan kepada Bukan Pegawai yang tidak bersifat berkesinambungan;
b. jumlah penghasilan bruto untuk setiap kali pembayaran yang bersifat utuh dan tidak
dipecah, yang diterima oleh peserta kegiatan.
Tarif PPh Pasal 26 sebesar 20% dan bersifat final diterapkan atas penghasilan bruto yang
diterima atau diperoleh sebagai imbalan atas pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan
oleh orang pribadi dengan status Subjek Pajak luar negeri dengan memperhatikan
ketentuan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda yang berlaku antara RI dengan
negara domisili Subjek Pajak luar negeri tersebut. PPh Pasal 26 tidak bersifat final dalam hal
orang pribadi sebagai WP luar negeri tersebut berubah status menjadi WP dalam negeri.
Tarif Pemotongan Penerima Penghasilan yang Tidak Mempunyai NPWP
Tarif Pemotongan PPh Pasal 21 Bagi Penerima Penghasilan Yang Tidak Mempunyai NPWP,
yaitu:
1) Bagi penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 yang tidak memiliki
NPWP, dikenakan pemotongan PPh Pasal 21 dengan tarif lebih tinggi 20% (dua
puluh persen) daripada tarif yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang memiliki
NPWP.
2) Jumlah PPh Pasal 21 yang harus dipotong adalah sebesar 120% (seratus dua
puluh persen) dari jumlah PPh Pasal 21 yang seharusnya dipotong dalam hal yang
bersangkutan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak.
3) Pemotongan PPh Pasal 21 yang tidak memiliki NPWP hanya berlaku untuk
pemotongan PPh Pasal 21 yang bersifat tidak final.
4) Dalam hal Pegawai Tetap atau penerima pensiun berkala sebagai penerima
penghasilan yang telah dipotong PPh Pasal 21 dengan tarif yang lebih tinggi
mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dalam tahun kalender yang
bersangkutan paling lama sebelum pemotongan PPh Pasal 21 untuk masa pajak
Desember, PPh Pasal 21 yang telah dipotong atas selisih pengenaan tarif sebesar
20% (dua puluh persen) lebih tinggi tersebut diperhitungkan dengan PPh Pasal 21
yang terutang untuk bulan-bulan selanjutnya setelah memiliki NPWP.
Sesuai UU Nomor 36 Tahun 2008, tarif pasal 17 adalah sebagai berikut:
Lapisan Penghasilan Kena Pajak
sampai dengan Rp. 50.000.000
di atas Rp. 50.000.000 sampai dengan Rp. 250.000.000
di atas Rp. 250.000.000 sampai dengan Rp. 500.000.000
di atas Rp. 500.000.000

Tarif Pajak
5%
15%
25%
30%

3.5 Soal Latihan


1)
2)
3)
4)

Jelaskan pengertian Pajak Penghasilan Pasal 21!


Bagaimana dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 21?
Pada tahun pajak 2013, seorang karyawati yang belum menikah berstatus TK/2,
kemudian pada tahun yang sama menikah, bagaimana statusnya pada tahun pajak
2012 dan 2013? Jelaskan!
Hitung Pajak Terutang, jika Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh Rp800.000.000,-

Modul Perpajakan

13

BAB IV
PAJAK PENGHASILAN PASAL 21/26
(2)
Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat
menghitung PPh Pasal 21/26 dan mengakuntansikan PPh Pasal 21/26.

4.1

Menghitung PPh Pasal 21/26


Menghitung merupakan proses dalam sistem self assesment untuk menentukan
jumlah pajak terutang. Ada dua hal yang harus dipahami, yaitu tarif pajak dan penghasilan
kena pajak.
Penghasilan Kena Pajak (PKP)
Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam dalam UU PPh adalah sbb:
a. bagi Pegawai Tetap dan penerima pensiun berkala, sebesar penghasilan neto
dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP);
b. bagi Pegawai Tidak Tetap, sebesar penghasilan bruto dikurangi PTKP;
c. bagi Bukan Pegawai, sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan
bruto dikurangi PTKP per bulan.
Penghasilan Neto
Besarnya penghasilan neto bagi Pegawai Tetap yang dipotong PPh Pasal 21 adalah jumlah
seluruh penghasilan bruto dikurangi dengan:
a. biaya jabatan, sebesar 5% (lima persen) dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya
Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) sebulan atau Rp6.000.000,00 (enam juta
rupiah) setahun;
b. iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh pegawai kepada dana pensiun
yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan atau badan
penyelenggara tunjangan hari tua atau jaminan hari tua yang dipersamakan
dengan dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.
Besarnya penghasilan neto bagi penerima pensiun berkala yang dipotong PPh Pasal 21
adalah seluruh jumlah penghasilan bruto dikurangi dengan biaya pensiun, sebesar 5% (lima
persen) dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya Rp200.000,00 (dua ratus ribu rupiah)
sebulan atau Rp2.400.000,00 (dua juta empat ratus ribu rupiah) setahun.
Penghitungan PPh Pasal 21 Untuk Pegawai Tetap Dan Penerima Pensiun Berkala
Penghitungan PPh Pasal 21 untuk pegawai tetap dan penerima pensiun berkala dibedakan
menjadi 2 (dua), yaitu:
1) Penghitungan masa atau bulanan yang menjadi dasar pemotongan PPh Pasal 21 yang
terutang untuk setiap masa pajak, yang dilaporkan dalam SPT Masa PPh Pasal 21,
selain masa pajak Desember atau masa pajak di mana pegawai tetap berhenti bekerja;
2) Penghitungan kembali sebagai dasar pengisian Form 1721 Al atau 1721 A2 dan
pemotongan PPh Pasal 21 yang terutang untuk masa pajak Desember atau masa pajak
di mana pegawai tetap berhenti bekerja. Penghitungan kembali ini dilakukan pada:
a. bulan dimana pegawai tetap berhenti bekerja atau pensiun;
b. bulan Desember bagi pegawai tetap yang bekerja sampai akhir tahun kalender dan
bagi penerima pensiun yang menerima uang pensiun sampai akhir tahun kalender.
Modul Perpajakan

14

Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Teratur


Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Teratur bagi Pegawai Tetap:
a)Untuk menghitung PPh Pasal 21 atas penghasilan pegawai tetap, terlebih dahulu
dihitung seluruh penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh selama sebulan,
yang meliputi seluruh gaji, segala jenis tunjangan dan pembayaran teratur lainnya,
termasuk uang lembur (overtime) dan pembayaran sejenisnya.
b)Untuk perusahaan yang masuk program Jamsostek, premi Jaminan Kecelakaan Kerja
(JKK), premi Jaminan Kematian (JK) dan premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
(JPK) yang dibayar oleh pemberi kerja merupakan penghasilan bagi pegawai.
c) Selanjutnya dihitung jumlah penghasilan neto sebulan yang diperoleh dengan cara
mengurangi penghasilan bruto sebulan dengan biaya jabatan, serta iuran pensiun,
iuran Jaminan Hari Tua, dan/atau iuran Tunjangan Hari Tua yang dibayar sendiri oleh
pegawai yang bersangkutan melalui pemberi kerja kepada Dana Pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan atau kepada Badan
Penyelenggara Program Jamsostek. Selanjutnya dihitung penghasilan neto setahun,
yaitu jumlah penghasilan neto sebulan dikalikan 12.
d)Dalam hal seorang pegawai tetap dengan kewajiban pajak subjektifnya sebagai Wajib
Pajak dalam negeri sudah ada sejak awal tahun, tetapi mulai bekerja setelah bulan
Januari, maka penghasilan neto setahun dihitung dengan mengalikan penghasilan
neto sebulan dengan banyaknya bulan sejak pegawai yang bersangkutan mulai
bekerja sampai dengan bulan Desember. Selanjutnya dihitung Penghasilan Kena
Pajak sebagai dasar penerapan Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh, yaitu sebesar
Penghasilan neto setahun dikurangi dengan PTKP.
e)Setelah diperoleh PPh terutang dengan menerapkan Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU
PPh terhadap Penghasilan Kena Pajak, selanjutnya dihitung PPh Pasal 21 sebulan,
yang harus dipotong dan/atau disetor ke kas negara, yaitu sebesar:
1) Jumlah PPh Pasal 21 setahun atas penghasilan dibagi dengan 12; atau
2) Jumlah PPh Pasal 21 setahun atas penghasilan dibagi banyaknya bulan yang
menjadi faktor pengali.
f) Apabila pajak yang terutang oleh pemberi kerja tidak didasarkan atas masa gaji
sebulan, maka untuk penghitungan PPh Pasal 21, jumlah penghasilan tersebut
terlebih dahulu dijadikan penghasilan bulanan dengan mempergunakan faktor
perkalian sebagai berikut:
1) Gaji untuk masa seminggu dikalikan dengan 4;
2) Gaji untuk masa sehari dikalikan dengan 26.
g)Selanjutnya dilakukan penghitungan PPh Pasal 21 sebulan . PPh Pasal 21 atas
penghasilan seminggu dihitung berdasarkan PPh Pasal 21 sebulan dibagi 4,
sedangkan PPh Pasal 21 atas penghasilan sehari dihitung berdasarkan PPh Pasal 21
sebulan dibagi 26.
h)Jika kepada pegawai di samping dibayar gaji bulanan juga dibayar kenaikan gaji yang
berlaku surut (rapel), misalnya untuk 5 (lima) bulan, maka penghitungan PPh Pasal
21 atas rapel tersebut adalah sebagai berikut :
a. rapel dibagi dengan banyaknya bulan perolehan rapel tersebut (dalam hal ini 5
bulan);
b. hasil pembagian rapel tersebut ditambahkan pada gaji setiap bulan sebelum
adanya kenaikan gaji, yang sudah dikenakan pemotongan PPh Pasal 21;
c. PPh Pasal 21 atas gaji untuk bulan-bulan setelah ada kenaikan, dihitung
kembali atas dasar gaji baru setelah ada kenaikan;
d. PPh Pasal 21 terutang atas tambahan gaji untuk bulan-bulan dimaksud adalah
selisih antara jumlah pajak yang dihitung berdasarkan huruf c dikurangi jumlah
pajak yang telah dipotong sebagaimana disebut pada huruf b.
Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Teratur bagi Penerima Pensiun Berkala
1. Penghitungan PPh Pasal 21 atas uang pensiun bulanan yang diterima atau diperoleh
penerima pensiun pada tahun pertama pensiun adalah sebagai berikut:
Modul Perpajakan

15

a.

b.

c.
d.

e.

hitung penghasilan neto sebulan yang diperoleh dengan cara mengurangi


penghasilan bruto dengan biaya pensiun, kemudian dikalikan banyaknya bulan
sejak pegawai yang bersangkutan menerima pensiun sampai dengan bulan
Desember;
penghasilan neto pensiun ditambah dengan penghasilan neto dalam tahun yang
bersangkutan yang diterima atau diperoleh dari pemberi kerja sebelum pegawai
yang bersangkutan pensiun sesuai dengan yang tercantum dalam bukti
pemotongan PPh Pasal 21 sebelum pensiun;
untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak, jumlah penghasilan tersebut dikurangi
dengan PTKP, dan selanjutnya dihitung PPh Pasal 21 atas PKP tersebut;
PPh Pasal 21 atas uang pensiun dalam tahun yang bersangkutan dihitung dengan
cara mengurangi PPh Pasal 21 dalam huruf c dengan PPh Pasal 21 yang terutang
dari pemberi kerja sebelum pegawai yang bersangkutan pensiun sesuai dengan
yang tercantum dalam bukti pemotongan PPh Pasal 21 sebelum pensiun;
PPh Pasal 21 atas uang pensiun bulanan adalah sebesar PPh Pasal 21 dibagi
dengan banyaknya bulan .

2. Penghitungan PPh Pasal 21 atas uang pensiun bulanan untuk tahun kedua dan
selanjutnya adalah terlebih dahulu dihitung penghasilan neto sebulan yang diperoleh
dengan cara mengurangi penghasilan bruto dengan biaya pensiun. Selanjutnya PPh Pasal
21 dihitung dengan cara penghitungan untuk pegawai tetap.
Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Tidak Teratur bagi Pegawai Tetap
1. Apabila kepada pegawai tetap diberikan jasa produksi, tantiem, gratifikasi, bonus, premi,
tunjangan hari raya, dan penghasilan lain semacam itu yang sifatnya tidak tetap dan
biasanya dibayarkan sekali setahun, maka PPh Pasal 21 dihitung dan dipotong dengan
cara sebagai berikut :
a. dihitung PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur yang disetahunkan ditambah
dengan penghasilan tidak teratur berupa tantiem, jasa produksi, dan sebagainya.
b. dihitung PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur yang disetahunkan tanpa tantiem,
jasa produksi, dan sebagainya.
c. selisih antara PPh Pasal 21 menurut penghitungan huruf a dan huruf b adalah PPh
Pasal 21 atas penghasilan tidak teratur berupa tantiem, jasa produksi, dan
sebagainya.
2. Dalam hal pegawai tetap yang kewajiban pajak subjektifnya sudah ada sejak awal tahun,
namun baru mulai bekerja setelah bulan Januari, maka PPh Pasal 21 atas penghasilan
yang tidak teratur tersebut dihitung dengan cara sebagaimana pada butir 1 dengan
memperhatikan ketentuan mengenai Penghitungan PPh Pasal 21 Bulanan atas
Penghasilan Teratur.
Penghitungan PPh Pasal 21 Untuk Pegawai Tidak Tetap Atau Tenaga Kerja Lepas
Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas, Pemagang dan Calon Pegawai yang
Menerima Upah Harian, Upah Mingguan, Upah Satuan, Upah Borongan, Uang Saku Harian
atau Mingguan:
1. Tentukan jumlah upah/uang saku harian, atau rata-rata upah/uang saku yang diterima
atau diperoleh dalam sehari:
a) upah/uang saku mingguan dibagi banyaknya hari bekerja dalam seminggu;
b) upah satuan dikalikan dengan jumlah rata-rata satuan yang dihasilkan dalam
sehari;
c) upah borongan dibagi dengan jumlah hari yang digunakan untuk menyelesaikan
pekerjaan borongan.
2. Dalam hal upah/uang saku harian atau rata-rata upah/uang saku harian belum melebihi
Rp300.000,00, dan jumlah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan kalender
yang bersangkutan belum melebihi Rp3.000.000,00, maka tidak ada PPh Pasal 21 yang
harus dipotong.
Modul Perpajakan

16

3. Dalam hal upah/uang saku harian atau rata-rata upah/uang saku harian telah melebihi
Rp300.000,00, dan sepanjang jumlah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan
kalender yang bersangkutan belum melebihi Rp3.000.000,00, maka PPh Pasal 21 yang
harus dipotong adalah sebesar upah/uang saku harian atau rata-rata upah/uang saku
harian setelah dikurangi Rp300.000,00, dikalikan 5%.
4. Dalam hal jumlah upah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan kalender yang
bersangkutan telah melebihi Rp3.000.000,00 dan kurang dari Rp8.200.000,00, maka PPh
Pasal 21 yang harus dipotong adalah sebesar upah/uang saku harian atau rata-rata
upah/uang saku harian setelah dikurangi PTKP sehari, dikalikan 5%.
5. Dalam hal jumlah upah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam satu bulan kalender
telah melebihi Rp8.200.000,00, maka PPh Pasal 21 dihitung dengan menerapkan Tarif
Pasal 17 atas jumlah upah bruto dalam satu bulan yang disetahunkan setelah dikurangi
PTKP, dan PPh Pasal 21 yang harus dipotong adalah sebesar PPh Pasal 21 hasil
perhitungan tersebut dibagi 12.
Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas, Pemagang dan Calon Pegawai yang
Menerima Upah yang Dibayarkan Secara Bulanan
PPh Pasal 21 dihitung dengan menerapkan Tarif Pasal 17 atas jumlah upah bruto yang
disetahunkan setelah dikurangi PTKP, dan PPh Pasal 21 yang harus dipotong adalah
sebesar PPh Pasal 21 hasil perhitungan tersebut dibagi 12.
Penghitungan PPh Pasal 21 Bagi Anggota Dewan Pengawas Atau Dewan Komisaris
Yang Tidak Merangkap Sebagai Pegawai Tetap, Mantan Pegawai Yang Menerima Jasa
Produksi, Tantiem, Gratifikasi, Bonus Atau Imbalan Lain Yang Bersifat Tidak Teratur,
Dan Peserta Program Pensiun Yang Masih Berstatus Sebagai Pegawai Yang Menarik
Dana Pensiun
1. Penghitungan PPh Pasal 21 untuk Anggota Dewan Pengawas atau Dewan Komisaris
Yang Tidak Merangkap Sebagai Pegawai Tetap. PPh Pasal 21 dihitung dengan
menerapkan Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh atas kumulatif jumlah penghasilan
bruto yang diterima atau diperoleh selama 1 (satu) tahun kalender.
2. Penghitungan PPh Pasal 21 bagi Mantan Pegawai Yang Menerima Penghasilan Berupa
Jasa Produksi, Tantiem, Gratifikasi, Bonus atau Imbalan Lain yang Bersifat Tidak
Teratur PPh Pasal 21 dihitung dengan cara menerapkan Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a
UU PPh atas kumulatif jumlah penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh selama 1
(satu) tahun kalender.
3. Penghitungan PPh Pasal 21 bagi Peserta Program Pensiun Yang Masih Berstatus
Sebagai Pegawai yang Menarik Dana Pensiun PPh Pasal 21 dihitung dengan
menerapkan Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh dari kumulatif jumlah penghasilan
bruto yang dibayarkan selama 1 (satu) tahun kalender.
Penghitungan PPh Pasal 21 Bagi OP Yang Berstatus Sebagai Bukan Pegawai
Pemotongan PPh Pasal 21 bagi orang pribadi dalam negeri bukan pegawai, atas imbalan
yang bersifat berkesinambungan
a. Bagi yang telah memiliki NPWP dan hanya memperoleh penghasilan dari
hubungan kerja dengan Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 serta tidak
memperoleh penghasilan lainnya PPh Pasal 21 dihitung dengan menerapkan tarif
Pasal 17 atas jumlah kumulatif penghasilan kena pajak dalam tahun kalender yang
bersangkutan. Besarnya penghasilan kena pajak adalah sebesar 50% (lima puluh
persen) dari jumlah penghasilan bruto dikurangi PTKP per bulan.
b. Bagi yang tidak memiliki NPWP atau memperoleh penghasilan lainnya selain dari
hubungan kerja dengan Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 serta
memperoleh penghasilan lainnya PPh Pasal 21 dihitung dengan menerapkan tarif
Pasal 17 atas jumlah kumulatif 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan
bruto dalam tahun kalender yang bersangkutan.
Modul Perpajakan

17

Pemotongan PPh Pasal 21 Bagi Orang Pribadi Dalam Negeri Bukan Pegawai, atas
Imbalan yang Tidak Bersifat Berkesinambungan.
PPh Pasal 21 dihitung dengan menerapkan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh atas 50%
(lima puluh persen) dari jumlah penghasilan bruto.
Dalam hal bukan pegawai adalah dokter yang melakukan praktik di rumah sakit dan/atau
klinik maka besarnya jumlah penghasilan bruto adalah sebesar jasa dokter yang dibayarkan
pasien melalui rumah sakit dan/atau klinik sebelum dipotong biaya-biaya atau bagi hasil oleh
rumah sakit dan/atau klinik. Dalam hal bukan pegawai memberikan jasa kepada Pemotong
PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26.
Melakukan penyerahan material atau barang maka besarnya jumlah penghasilan bruto
hanya atas pemberian jasanya saja, kecuali apabila dalam kontrak/perjanjian tidak dapat
dipisahkan antara pemberian jasa dengan
Penghitungan PPh Pasal 21 Bagi Peserta Kegiatan
PPh Pasal 21 dihitung dengan menerapkan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh atas
jumlah penghasilan bruto untuk setiap kali pembayaran yang bersifat utuh dan tidak
dipecah, yang diterima oleh peserta kegiatan.
( Penghasilan Bruto x Tarif Pasal 17 ayat (1))
Penghitungan PPh Pasal 26 Bagi Op Yang Berstatus Sebagai Subjek Pajak LN
1. Dasar pengenaan PPh Pasal 26 adalah dari jumlah penghasilan bruto.
2. Dikenakan tarif PPh Pasal 26 sebesar 20% dengan memperhatikan ketentuan yang
diatur dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B), dalam hal orang pribadi
yang menerima penghasilan adalah subjek pajak dalam negeri dari negara yang telah
mempunyai P3B dengan Indonesia.
4.2 Saat Terutang PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26
PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 terutang bagi Penerima Penghasilan pada saat
dilakukan pembayaran atau pada saat terutangnya penghasilan yang bersangkutan. PPh
Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 terutang bagi Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal
26 untuk setiap masa pajak. Saat terutang untuk setiap masa pajak adalah akhir bulan
dilakukannya pembayaran atau pada akhir bulan terutangnya penghasilan yang
bersangkutan.
4.3 Contoh Penghitungan dan Akuntansi PPh Pasal 21/26
Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21 Terhadap Penghasilan Pegawai Tetap
Fajar Ariwibowo pada tahun 2015 bekerja pada perusahaan PT Jaya Abadi dengan
memperoleh gaji sebulan Rp4.500.000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar
Rp100.000,00. Fajar Ariwibowo menikah tetapi belum mempunyai anak. Pada bulan
Januari penghasilan Fajar Ariwibowo dari PT Jaya Abadi hanya dari gaji. Penghitungan
PPh Pasal 21 bulan Januari adalah sebagai berikut:
Gaji
Rp 4.500.000,00
Pengurangan:
1. Biaya Jabatan 5% X Rp2.500.000,00 = Rp 125.000,00
2. luran pensiun
= Rp 100.000,00
Rp 225.000,00
Penghasilan neto sebulan
Rp 4.275.000,00
Penghasilan neto setahun adalah
12 x Rp4.275.000,00
Rp51.300.000,00
PTKP setahun
- untuk WP sendiri
Rp 36.000.000,00
- tambahan karena menikah
Rp 3.000.000,00
Rp39.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak setahun
Rp12.300.000,00
Modul Perpajakan

18

PPh Pasal 21 terutang


5% x Rp12.300.000,00 = Rp 615.000,00
PPh Pasal 21 bulan Januari
Rp615.000,00 : 12 = Rp 51.250,00
Jurnal yang dibuat PT Jaya Abadi :
Biaya Gaji
Rp 4.500.000,00
Utang PPh Pasal 21
Kas/Bank

Rp
51.250,00
Rp 4.448.750,00

Catatan:
a. Biaya Jabatan adalah biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan
yang dapat dikurangkan dari penghasilan setiap orang yang bekerja sebagai pegawai
tetap tanpa memandang mempunyai jabatan ataupun tidak.
b. Contoh di atas berlaku apabila pegawai yang bersangkutan sudah memiliki NPWP.
Dalam hal pegawai yang bersangkutan belum memiliki NPWP, maka jumlah PPh Pasal
21 yang harus dipotong pada bulan Januari adalah sebesar:
c. 120% x Rp4.063,00= Rp4.875,00.
Penghitungan Pemotongan Pph Pasal 21 Terhadap Penghasilan Pegawai Harian,
Tenaga Harian Lepas, Penerima Upah Satuan, Dan Penerima Upah Borongan Dengan
Upah Harian
Nurcahyo dengan status belum menikah pada bulan Januari 2015 bekerja sebagai buruh
harian PT Cipta Mandiri Sejahtera. la bekerja selama 10 hari dan menerima upah harian
sebesar Rp300.000,00.
Penghitungan PPh Pasal 21 terutang:
Upah sehari
Dikurangi batas upah harian tidak dilakukan pemotongan PPh
Penghasilan Kena Pajak sehari
PPh Pasal 21 dipotong atas Upah sehari:

Rp 300.000,00
Rp 300.000,00
Rp 0,00
Rp 0,00

Sampai dengan hari ke-10, karena jumlah kumulatif upah yang diterima belum melebihi
Rp3.000.000,00 maka tidak ada PPh Pasal 21 yang dipotong.
Pada hari ke-11 jumlah kumulatif upah yang diterima melebihi Rp3.000.000,00, maka PPh
Pasal 21 terutang dihitung berdasarkan upah setelah dikurangi PTKP yang sebenarnya.
Upah s.d hari ke-11 (Rp200.000,00 x 11)
Rp 3.300.000,00
PTKP sebenarnya:
11 x (Rp36.000.000,00/ 360)
Rp 1.100.000,00
Penghasilan Kena Pajak s.d hari ke-11
Rp 2.200.000,00
PPh Pasal 21 terutang s.d hari ke-11
5% x Rp2.200.000,00
Rp 110.000,00
PPh Pasal 21 yang telah dipotong s.d hari ke-10
Rp
0,00
PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke-11
Rp 110.000,00
Sehingga pada hari ke-11, upah bersih yang diterima Nurcahyo sebesar:
Rp300.000,00 Rp110.000= Rp190.000,00
Jurnal yang dibuat PT Cipta Mandiri Sejahtera :
Biaya Gaji
Rp 300.000,00
Utang PPh Pasal 21
Rp 110.000,00
Kas/Bank
Rp 190.000,00

4.4 Soal Latihan


Modul Perpajakan

19

1)

2)

3)

Bapak Akhmad telah menikah mempunyai anak 3, bekerja pada perusahaan PT


Bandung Permai sebagai pegawai tetap sejak 1 Februari 2015. Gaji sebulan Rp.
4.500.000,- dan iuran pensiun yang dibayar tiap bulan sebesar Rp. 25.000,-. Hitung
PPh Pasal 21 yang terutang dan jurnal atas transaksi tersebut!
Tuan Johar seorang arsitek ternama, pada bulan April 2015 menerima honorarium
sebesar Rp. 50.000.000,- dari PT HK sebagai imbalan atas pemberian jasa teknik
yang dilakukannya. Hitung PPh Pasal 21 yang terutang dan jurnal atas transaksi
tersebut!
Bapak Budi dalam bulan April 2015 menerima uang tebusan pensiun dari Dana
Pensiun Purna Jarya sebesar Rp. 750.000.000,-. Hitung PPh Pasal 21 yang
terutang dan jurnal atas transaksi tersebut!

Modul Perpajakan

20

BAB V
PAJAK PENGHASILAN PASAL 21/26
(3)
Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat
mengisi dan melaporkan SPT PPh Pasal 21/26.

5.1

Mengisi SPT PPh Pasal 21/26


a. Pengertian
Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) Masa PPh Pasal 21/26 adalah sarana untuk
melaporkan pemotongan PPh yang dilakukan oleh pemberi kerja, bendaharawan
pemerintah, dana pensiun atau badan lain dan penyelenggara kegiatan atas
penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan lain yang diterima
atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri atau luar negeri.
Sebagai media pelaporan, SPT Masa PPh Pasal 21/26 akan memuat identitas
pemotong pajak (NPWP, nama dan alamat), masa pajak, penyetoran (tanggal dan
jumlah yang disetorkan), jumlah penerima penghasilan, jumlah total penghasilan
bruto untuk masing-masing jenis penerima penghasilan dan besarnya PPh yang
dipotong untuk masa tersebut, termasuk PPh Pasal 21 yang dipotong final.
Kecuali Pegawai Tetap dan Pensiunan serta Penerima pembayaran berkala lainnya,
maka wajib dibuatkan bukti potong pada saat dilakukan pemotongan PPh Pasal
21/26. Dengan demikian atas Pemotongan PPh Pasal 21/26 yang dilakukan untuk
masa Pajak (setiap bulan) harus dimasukkan dalam SPT Masa PPh Pasal 21/26 dan
disampaikan ke KPP atau Kantor Penyuluhan Pajak tempat pemotong PPh Pasal
21/26 terdaftar selambat-lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya, disertai dengan
Daftar Bukti Pemotongan PPh Psl 21/26 dan SSP.
b.

Tatacara Pengisian SPT Masa PPh Pasal 21/26


Dalam pengisian SPT Masa PPh Pasal 21/26 sesuai formulir nomor F.1.1.32.01
maka urutan pengisiannya adalah sebagai berikut:
1) Identitas Pemotong Pajak
Diisi dengan identitas lengkap (NPWP, nama, alamat, no. telepon dan
email) Pemotong Pajak
2) Masa Pajak dan tahun Pajak
Diisi sesuai dengan masa dan tahun pajak dilakukannya pemotongan.
3) Tanggal Penyetoran
Diisi dengan tanggal penyetoran pajak. Apabila penyetoran dilakukan
lebih dari satu kali, maka diisi dengan tanggal penyetoran yang terakhir.
4) Lampiran
Dibutuhkan tanda X sesuai dengan yang dilampirkan
Apabila SPT ditandatangani oleh bukan Pemotong Pajak,
maka harus dilampirkan Surat Kuasa Khusus bermaterai cukup.
Dalam hal Wajib Pajak telah meninggal dunia dan SPT
ditandatangani oleh ahli waris maka perlu dilampirkan Surat
Keterangan Kematian dari instansi yang berwenang.

Modul Perpajakan

21

5)

6)

Kolom (3), (4) dan (5)


Diisi sesuai dengan jumlah penerima penghasilan, jumlah penghasilan
bruto dan jumlah pajak yang dipotong untuk masing-masing golongan
penerima penghasilan.
Pemotong PPh Pasal 21/26 wajib menggunakan SPT Masa PPh Pasal
21/26 dalam bentuk e-SPT dalam hal:
melakukan pemotongan PPh Pasal 21 terhadap pegawai tetap dan
penerima pensiun atau tunjangan hari tua/jaminan hari tua berkala
dan/atau terhadap pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional
Indonesia/Polisi Republik Indonesia, pejabat negara dan pensiunannya
yang jumlahnya lebih dari 20 (dua puluh) orang dalam 1 (satu) masa
pajak; dan/atau
melakukan pemotongan PPh Pasal 21 (Tidak Final) dan/atau Pasal 26
selain pemotongan PPh sebagaimana dimaksud pada huruf a dengan
bukti pemotongan yang jumlahnya lebih dari 20 (dua puluh) dokumen
dalam 1 (satu) masa pajak; dan/atau
melakukan pemotongan PPh Pasal 21(Final) dengan bukti
pemotongan yang jumlahnya lebih dari 20 (dua puluh) dokumen dalam
1 (satu) masa pajak; dan/atau
melakukan penyetoran pajak dengan SSP dan/atau bukti Pbk yang
jumlahnya lebih dari 20 (dua puluh) dokumen dalam 1 (satu) masa
pajak.
Apabila tidak lebih dari 20 (dua puluh) maka pemotong PPh Pasal 21/26
dapat menggunakan SPT Masa PPh Pasal 21/26 dalam bentuk formulir
kerta (hard copy) atau e-SPT.

c. Kewajiban menyampaikan SPT


Kewajban melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak
dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan dalam SPT tercantum dalam Pasal 3 ayat 1
UU KUP yang berbunyi sebagai berikut :
Setiap WP wajib mengisi SPT dengan benar, lengkap, dan jelas, dalam bahasa
Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan
menandatangani serta menyampaikannya ke kantor DJP tempat WP terdaftar atau
dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak.
Yang dimaksud dengan benar, lengkap, dan jelas dalam mengisi SPT adalah :
a) benar adalah benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam penerapan
ketentuan peraturan UU Pajak, dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya;
b) lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak
dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam SPT; dan
c) jelas melaporkan asal-usul / sumber objek pajak dan unsur lain yang harus diisikan
dalam SPT. SPT yang telah diisi dengan benar, lengkap, dan jelas tersebut wajib
disampaikan ke kantor DJP tempat WP terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain
yang ditetapkan oleh DJP, dan kewajiban penyampaian SPT oleh Pemotong atau
Pemungut Pajak dilakukan untuk setiap Masa Pajak.
d. Tempat dan cara pengambilan SPT
Pasal 3 ayat (2) UU KUP menyatakan, WP mengambil sendiri SPT ditempat yang
ditetapkan oleh Dirjen (pada kantor DJP atau tempat lain yang diperkirakan mudah
terjangkau oleh WP) atau mengambil dengan cara lain yang tata cara pelaksanaannya

Modul Perpajakan

22

diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Dalam PMK No.
243/PMK.03/2014 tgl 24-12- 2014 diatur :
SPT berbentuk formulir kertas (hard copy) dapat diambil secara langsung di KPP dan
tempat lain yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak. SPT berbentuk e-SPT dapat diambil
secara langsung oleh WP dengan cara mengunduh format SPT atau aplikasi e-SPT
dari situs DJP.
e. Cara penyampaian SPT
Penyampaian SPT oleh WP dapat dilakukan secara langsung melalui KPP atau
KP2KP; melalui pos dengan bukti pengiriman surat; atau dengan cara lain seperti
melalui perusahaan jasa ekspedisi/kurir dengan bukti pengiriman surat; atau e-Filing
melalui website Direktorat Jenderal Pajak atau ASP (Penyedia Jasa Aplikasi) dan
diberikan Bukti Penerimaan Elektronik.
e-Filing adalah suatu cara penyampaian SPT yang dilakukan secara on-line yang real
time melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) atau Penyedia Jasa
Aplikasi atau Application Service Provider (ASP). (PER-14/PJ/2013)
Batas waktu penyampaian SPT pada pasal 3 ayat 3 UU KUP diatur bahwa SPT Masa
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir Masa Pajak.
f. SPT dianggap Tidak Disampaikan.
Dalam Pasal 3 ayat 7 UU KUP dinyatakan bahwa, SPT dianggap tidak
disampaikan apabila:
1) SPT tidak ditandatangani;
2) SPT tidak dilampiri keterangan dan/atau dokumen sesuai dengan Per. Menkeu;
3) SPT lebih bayar disampaikan telah lewat 3 tahun sesudah berakhirnya Masa
Pajak, bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak, dan WP telah ditegur secara
tertulis; atau
4) SPT disampaikan setelah Dirjen Pajak melakukan pemeriksaan / menerbitkan
SKP.
g. Sanksi karena tidak menyampaikan SPT.
Sanksi bagi WP yang tidak menyampaikan SPT, dapat berupa sanksi administrasi
ataupun sanksi pidana. Pasal 7 ayat (1) UU KUP menyatakan apabila SPT tidak
disampaikan dalam jangka waktunya atau batas waktu perpanjangan penyampaian
SPT, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar:
Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk SPT Masa PPN,
Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Masa lainnya,
Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) untuk SPT Tahunan PPh WP Badan
Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Tahunan PPh WP Orang Pribadi.

5.2 SOAL LATIHAN


Diminta mengisi SPT PPh Pasal 21

Modul Perpajakan

23

BAB VI
PAJAK PENGHASILAN PASAL 22
Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan PPh
Pasal 22, dasar perhitungan, tarif, cara menghitung dan
akuntansi PPh Pasal 22.

6.1 Pengertian PPh Pasal 22


Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 adalah PPh yang dipungut oleh:
1) Bendahara Pemerintah Pusat/Daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan
lembaga-lembaga negara lainnya, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan
barang;
2) Badan-badan tertentu, baik badan pemerintah maupun swasta berkenaan dengan
kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain.
3) Wajib Pajak Badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat
mewah.
6.2 Pemungut, Objek, Sifat, dan Tarif PPh Pasal 22
Pemungut, objek, dan tarif PPh Pasal 22 dapat dilihat pada tabel berikut:
No.
1.

Pemungut
Bank Devisa dan
Direktorat
Jenderal Bea
dan Cukai
(DJBC)

Objek
Impor barang

Ekspor komoditas
tambang,
batubara, mineral
logam, dan
mineral bukan
logam yang
dilakukan oleh
Modul Perpajakan

Tarif
Barang tertentu =
10% x nilai impor
Barang tertentu
lainnya =
7,5% nilai impor
Selain barang tertentu
dan barang tertentu
lainnya yang
menggunakan API =
2,5% x nilai impor
Atas impor kedelai,
gandum, dan tepung
terigu = 0,5% x nilai
impor
Selain barang tertentu
dan barang tertentu
lainnya, yang tidak
menggunakan API=
7,5% x nilai impor
Barang yang tidak
dikuasai =
7,5% x harga jual lelang

1,5% x nilai ekspor

Keterangan
Nilai impor didapatkan
dari penghitungan Cost
Insurance and Freight
(CIF) ditambah dengan
Bea Masuk dan
pungutan lainnya yang
dikenakan berdasarkan
ketentuan peraturan
perundang-undangan
kepabeanan di bidang
impor.
Angka Pengenal Importir
(API) adalah tanda
pengenal sebagai
importir yang harus
dimiliki setiap
perusahaan yang
melakukan perdagangan
impor.
Daftar barang tertentu
dan barang tertentu
lainnya dapat dilihat
pada Lampiran I dan II
PMK No. 107 Tahun
2015.
Nilai ekspor adalah nilai
Free on Board (FOB),
sebagaimana tercantum
pada Pemberitahuan
Ekspor Barang.

24

No.

Pemungut

2.

Bendahara
pemerintah dan
Kuasa Pengguna
Anggaran (KPA)

3.

Badan usaha
tertentu

Modul Perpajakan

Objek
eksportir, kecuali
yang dilakukan
oleh Wajib Pajak
yang terkait dalam
perjanjian
kerjasama
pengusaha
pertambangan
dan Kontrak
Karya;
Pembayaran atas
pembelian barang

Pembayaran atas
pembelian barang
dan/atau bahanbahan
untuk keperluan
kegiatan
usahanya

Tarif

Keterangan
Daftar ekspor komoditas
tambang batubaru,
mineral logam dan
mineral bukan logam
yang dikenakan
pemungutan PPh Pasal
22 dapat dilihat pada
Lampiran III PMK No.
107 Tahun 2015.

1,5% x harga pembelian


tidak termasuk PPN

Bendahara pengeluaran
berkenaan dengan
pembayaran atas
pembelian barang
yang dilakukan dengan
mekanisme uang
persediaan (UP).
KPA atau pejabat
penerbit Surat Perintah
Membayar (SPM)
yang diberi delegasi
olehKPA, berkenaan
dengan
pembayaran atas
pembelian barang
kepada pihak ketiga
yang dilakukan dengan
mekanisme pembayaran
langsung (LS)
Yang termasuk badan
usaha tertentu, meliputi:
Badan Usaha Milik
Negara (BUMN);
BUMN yang dilakukan
restrukturisasi oleh
Pemerintah setelah
berlakunya PMK No. 107
Tahun 2015; dan
Badan usaha tertentu
yang dimiliki secara
langsung oleh BUMN,
meliputi:
PT Pupuk Sriwidjaja
Palembang,
PT Petrokimia Gresik,
PT Pupuk kujang,
PT Pupuk Kalimantan
Timur,
PT Pupuk Iskandar
Muda,
PT Telekomunikasi
Selular,
PT Indonesia Power,
PT Pembangkitan JawaBali, PT Semen Padang,
PT Semen Tonasa,
PT Elnusa Tbk,
PT Krakatau

1,5% x harga pembelian


tidak termasuk PPN

25

No.

Pemungut

Objek

Tarif

Semua jenis semen =


0,25% x DPP PPN
Kertas =
0,1 % x DPP PPN
Baja =
0,3% x DPP PPN
Semua jenis kendaraan
bermotor beroda dua
atau lebih = 0,45% x
DPP PPN
Semua jenis obat =
0,3% x DPP PPN
0,45% x DPP PPN

4.

Badan usaha
yang bergerak
dalam bidang
usaha industri
semen, industri
kertas, industri
baja, industri
otomotif, dan
industri farmasi

Penjualan hasil
produksinya
kepada distributor
di dalam negeri

5.

Agen Tunggal
Pemegang
Merek (ATPM),
Agen Pemegang
Merek (APM),
dan
importir umum
kendaraan
bermotor
Produsen atau
importir Bahan
Bakar Minyak
(BBM), bahan
bakar gas, dan
pelumas

Penjualan
kendaraan
bermotor di dalam
negeri

Industri atau
eksportir yang

Pembelian bahanbahan untuk

6.

7.

Modul Perpajakan

Penjualan bahan
bakar minyak,
bahan bakar gas,
dan pelumas

Keterangan
Wajatama, PT Rajawali
Nusindo, PT Wijaya
Karya Beton Tbk,
PT Kimia Farma
Apotek, PT Kimia Farma
Trading & Distribution,
PT Badak Natural Gas
Liquefaction,
PT Tambang Timah,
PT Petikemas Surabaya,
PT Indonesia Comnets
Plus, PT Bank Syariah
Mandiri, PT Bank BRI
Syariah, dan PT Bank
BNI Syariah

BBM yang dijual kepada


stasiun pengisian bahan
bakar umum (SPBU)
Pertamina =
0,25% x harga penjualan
tidak termasuk PPN
BBM yang dijual kepada
SPBU bukan Pertamina
=
0,3% x harga penjualan
tidak termasuk PPN
BBM yang dijual selain
kepada SPBU =
0,3% x harga penjualan
tidak termasuk PPN
Bahan bakar gas =
0,3% x harga penjualan
tidak termasuk PPN
Pelumas =
0,3% x harga penjualan
tidak termasuk PPN
0,25% x harga
pembelian tidak
26

No.

8.

9.

10.

Pemungut
bergerak dalam
sektor
kehutanan,
perkebunan,
pertanian,
peternakan, dan
perikanan
Industri atau
badan usaha
yang melakukan
pembelian
komoditas
tambang
batubara, mineral
logam, dan
mineral bukan
logam, dari
badan atau
orang pribadi
pemegang
izin usaha
pertambangan
Badan usaha
yang
memproduksi
emas batangan
Wajib pajak
badan yang
melakukan
penjualan barang
yang tergolong
sangat mewah

Modul Perpajakan

Objek
keperluan
industrinya atau
ekspornya

Tarif
termasuk PPN

pembelian
komoditas
tambang
batubara, mineral
logam, dan
mineral bukan
logam

1,5% x harga pembelian


tidak termasuk PPN

penjualan emas
batangan di dalam
negeri

0,45% x harga jual

barang yang
tergolong sangat
mewah

5% x harga jual tidak


termasuk PPN dan
PPnBM

Keterangan

Barang-barang yang
tergolong sangat mewah
yang transaski
penjualannya menjadi objek
pemungutan PPh Pasal 22
adalah :
Pesawat terbang pribadi
dan helikopter pribadi;
Kapal pesiar, yatch, dan
sejenisnya;
Rumah beserta
tanahnya dengan harga
jual atau harga
pengalihannya lebih dari
Rp5.000.000.000,- atau
luas bangunannya lebih
dari 400 m2;
Apartemen,
kondominium dan
sejenisnya dengan harga
jual atau pengalihannya
lebih dari
Rp5.000.000.000,- atau
luas bangunannya lebih
dari 150 m2;
Kendaraan bermotor
roda empat
pengangkutan orang
kurang dari 10 orang
berupa sedan, jeep,
SUV, MPV, minibus dan
sejenisnya dengan harga
27

No.

Pemungut

Objek

Tarif

Keterangan
jual lebih dari
Rp2.000.000.000,- atau
dengan kapasitas
silinder lebih dari 3.000
cc; dan/atau
kendaraan bermotor
roda dua dan tiga,
dengan harga jual lebih
dari Rp300.000.000,00
atau dengan kapasitas
silinder lebih dari 250cc.

Tarif pemungutan PPh Pasal 22 sebagaimana tabel di atas dikenakan lebih tinggi 100% bagi
yang tidak memiliki atau tidak dapat menunjukkan NPWP-nya, atas objek pemungutan PPh
Pasal 22 yang bersifat tidak final.
Sifat Pemungutan
Pada umumnya, sifat pemungutan PPh Pasal 22 bersifat tidak final, kecuali penjualan bahan
bakar minyak dan bahan bakar gas kepada penyalur/agen, bersifat final.
Bersifat tidak final artinya dapat diperhitungkan sebagai pembayaran PPh dalam tahun
berjalan bagi wajib pajak yang dipungut.
Pengecualian
Pemungutan PPh Pasal 22 oleh pemungut sebagaimana tabel di atas dikecualikan atas
objek sebagaimana tabel berikut:
No.
1.

2.

Pemungut
Bank Devisa dan
Direktorat Jenderal
Bea dan Cukai
(DJBC)

Bendahara dan
KPA
Badan usaha
tertentu
Industri atau
eksportir yang
bergerak dalam
sektor kehutanan,
perkebunan,
pertanian, peternak
an, dan perikanan,
Industri atau badan

Modul Perpajakan

Pengecualian
Impor barang dan atau penyerahan barang yang
berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan tidak terutang PPh
Impor barang yang dibebaskan dari Bea Masuk
dan atau PPN
Impor emas batangan oleh Wajib Pajak yang
bergerak dalam bidang industri perhiasan emas
yang akan diproses untuk menghasilkan barang
perhiasan dari emas untuk tujuan ekspor
Impor sementara jika waktu impornya nyata-nyata
dimaksudkan untuk diekspor kembali
Impor kembali (re-impor) meliputi barang-barang
yang telah diekspor kemudian diimpor kembali
dalam kualitas yang sama atau barang-barang
yang telah diekspor untuk keperluan perbaikan,
pengerjaan dan pengujian, yang telah memenuhi
syarat yang ditentukan oleh DJBC
Pembayaran yang dilakukan oleh bendahara dan
KPA yang jumlahnya paling banyak Rp
2.000.000,00 (dua juta rupiah) dan tidak
merupakan pembayaran yang terpecah-pecah
Pembayaran yang dilakukan oleh badan usaha
tertentu yang jumlahnya paling banyak
Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan tidak
merupakan pembayaran yang terpecah-pecah
Pembayaran untuk pembelian barang sehubungan
dengan penggunaan dana Bantuan Operasional
Sekolah (BOS).
Pembayaran untuk pembelian bahan bakar
minyak, bahan bakar gas, pelumas, benda-benda

Keterangan
Dinyatakan
dengan Surat
Keterangan
Bebas (SKB).
Dilaksanakan
oleh DJBC
Dinyatakan
dengan SKB
Dilaksanakan
oleh DJBC

28

No.

3.
4.
5.

Pemungut
usaha yang
melakukan
pembelian
komoditas tambang
batubara, mineral
logam, dan mineral
bukan logam, dari
badan atau orang
pribadi pemegang
izin usaha
pertambangan

ATPM, APM, dan


importir umum
kendaraan bermotor
Badan usaha yang
memproduksi emas
batangan
Wajib pajak badan
yang melakukan
penjualan barang
yang tergolong sangat
mewah

Pengecualian
pos serta pemakaian air dan listrik
Pembayaran untuk pembelian minyak bumi, gas
bumi, dan/atau produk sampingan dari kegiatan
usaha hulu di bidang minyak dan gas bumi
yang dihasilkan di Indonesia dari :
kontraktor yang melakukan eksplorasi dan
eksploitasi berdasarkan kontrak kerja sama;
atau;
kantor pusat kontraktor yang melakukan
eksplorasi dan eksploitasi berdasarkan kontrak
kerja sama.
Pembayaran untuk pembelian panas bumi atau
listrik hasil pengusahaan panas bumi dari Wajib
Pajak yang menjalankan usaha di bidang usaha
panas bumi berdasarkan kontrak kerja sama
pengusahaan sumber daya panas bumi
Pembayaran atas pembelian bahan-bahan untuk
keperluan industri atau ekspor oleh badan usaha
industri atau eksportir yang bergerak dalam
sektor kehutanan,
perkebunan,
pertanian,
peternakan, dan perikanan yang jumlahnya paling
banyak Rp20.000.000,00 tidak termasuk PPN dan
tidak merupakan pembayaran yang terpecahpecah
Pembelian batubara, mineral logam, dan mineral
bukan logam dari badan atau orang pribadi
pemegang izin usaha pertambangan yang telah
dipungut Pajak Penghasilan Pasal 22 atas
pembelian barang dan/atau bahan-bahan untuk
keperluan kegiatan usaha oleh BUMN
Penjualan kendaraan bermotor yang telah dikenai
pemungutan PPh Pasal 22 atas pembelian barang
yang tergolong sangat mewah.
Penjualan emas batangan oleh badan usaha yang
memproduksi emas batangan kepada Bank
Indonesia
Pembelian barang yang tergolong sangat mewah
yang dilakukan oleh bukan subjek pajak

Keterangan

Dilakukan tanpa
SKB

6.3 Saat Terutang dan Pelunasan/Pemungutan, Tata Cara Penyetoran, Serta Waktu
Pelaporan PPh Pasal 22
No.
1.

Objek
Impor barang

Modul Perpajakan

Saat Terutang dan


Pelunasan/
Pemungutan
terutang dan dilunasi
bersamaan dengan saat
pembayaran Bea Masuk.
Dalam hal pembayaran
Bea Masuk ditunda atau
dibebaskan, maka PPh
Pasal 22 terutang dan
dilunasi
pada
saat
penyelesaian dokumen
Pemberitahuan
Impor
Barang (PIB)

Tata Cara Penyetoran

Waktu
Pelaporan

Disetor oleh importir dengan


menggunakan formulir Surat
Setoran Pajak, Cukai dan
Pabean (SSPCP).
Disetor ke bank devisa, atau
bank persepsi, atau bendahara
Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai, dalam jangka waktu 1
(satu) hari setelah pemungutan
pajak

Paling lambat
tanggal
20
setelah masa
pajak berakhir.
Dilaporkan
secara
mingguan
paling lama
pada hari kerja
terakhir
minggu
29

2.

3.

Atas
ekspor
komoditas
tambang
batubara,
mineral logam,
dan mineral
bukan logam
Atas pembelian
barang
dan/atau
bahan-bahan
untuk
keperluan
kegiatan usaha

Penyetoran
oleh
eksportir
yang bersangkutan
dengan
SSPCP ke kas negara melalui
Kantor Pos, bank devisa, atau
bank persepsi.

terutang dan dipungut


pada saat pembayaran

Wajib disetor oleh KPA atau


penanda tangan SPM pada hari
yang
sama
dengan
pelaksanaan
pembayaran
kepada
PKP
rekanan
pemerintah
melalui
Kantor
Pelayanan
Perbendaharaan
Negara
Wajib disetor oleh bendahara
pengeluaran
ke
kas
negara melalui Kantor Pos,
bank persepsi, paling lama 7
(tujuh) hari setelah tanggal
pelaksanaan pembayaran atas
penyerahan
barang
yang
dibiayai APBN atau APBD.
Pemungutan yang dilakukan
selain
oleh
KPA
dan
Bendaharan dilakukan dengan
menerbitkan Bukti Pemungutan
PPh Pasal 22 dan wajib disetor
oleh pemungut ke kas negara
melalui Kantor Pos, atau bank
persepsi paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan
berikutnya
setelah masa pajak berakhir
Dilakukan dengan menerbitkan
Bukti Pemungutan PPh Pasal
22
dan
wajib
disetor
oleh pemungut ke kas negara
melalui Kantor Pos, atau bank
persepsi paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan
berikutnya
setelah masa pajak berakhir
Dilakukan dengan menerbitkan
Bukti Pemungutan PPh Pasal
22
dan
wajib
disetor
oleh pemungut ke kas negara
melalui Kantor Pos, atau bank
persepsi paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan
berikutnya
setelah masa pajak berakhir

Paling lama 14
hari
setelah
Masa
Pajak
berakhir.

Dilakukan dengan menerbitkan


Bukti Pemungutan PPh Pasal
22
dan
wajib
disetor
oleh pemungut ke kas negara
melalui Kantor Pos, atau bank
persepsi paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan
berikutnya
setelah masa pajak berakhir
Dilakukan dengan menerbitkan

Dilaporkan
paling lama 20
hari setelah
Masa Pajak
berakhir.

4.

Atas
ekspor
komoditas
tambang
batubara,
mineral logam,
dan mineral
bukan logam

terutang dan dilunasi


bersamaan dengan saat
penyelesaian
dokumen Pemberitahuan
Ekspor Barang (PEB)

5.

Atas pembelian
barang
dan
pembelian
barang
dan/atau
bahan-bahan
untuk
keperluan kegia
tan usaha
Atas penjualan
hasil produksi,
penjualan
kendaraan
bermotor, dan
penjualan emas
batangan

terutang dan dipungut


pada saat pembayaran

Atas penjualan

terutang

6.

7.

Modul Perpajakan

berikutnya
Paling lambat
tanggal
20
setelah masa
pajak berakhir.

Terutang dan dilunasi


bersamaan dengan saat
penyelesaian
dokumen Pemberitahuan
Ekspor Barang (PEB)

terutang dan dipungut


pada saat penjualan

dan

dipungut

Paling lama 14
hari
setelah
Masa
Pajak
berakhir.

Dilaporkan
paling lama 20
hari
setelah
Masa
Pajak
berakhir.

Dilaporkan
paling lama 20
hari setelah
Masa Pajak
berakhir.

Dilaporkan
paling lama 20
hari setelah
Masa Pajak
berakhir.

Dilaporkan
30

bahan
bakar
minyak, bahan
bakar gas, dan
pelumas

pada
saat penerbitan
surat
perintah
pengeluaran
barang
(delivery order)

8.

Atas pembelian
bahan-bahan
dan pembelian
batubara,
mineral logam,
dan
mineral
bukan logam.

terutang dan dipungut


pada saat pembelian

9.

Barang
yang
tergolong
sangat mewah

terutang dan dipungut


pada saat penjualan

Bukti Pemungutan PPh Pasal


22
dan
wajib
disetor
oleh pemungut ke kas negara
melalui Kantor Pos, atau bank
persepsi paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan
berikutnya
setelah masa pajak berakhir
Dilakukan dengan menerbitkan
Bukti Pemungutan PPh Pasal
22
dan
wajib
disetor
oleh pemungut ke kas negara
melalui Kantor Pos, atau bank
persepsi paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan
berikutnya
setelah masa pajak berakhir
Dilakukan dengan menerbitkan
Bukti Pemungutan PPh Pasal
22
dan
wajib
disetor
oleh pemungut ke kas negara
melalui Kantor Pos, atau bank
persepsi paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan
berikutnya
setelah masa pajak berakhir

paling lama 20
hari setelah
Masa Pajak
berakhir.

Dilaporkan
paling lama 20
hari setelah
Masa Pajak
berakhir.

Dilaporkan
paling lama 20
hari setelah
Masa Pajak
berakhir.

6.4 Contoh Soal dan Pembahasan


Hitung PPh Pasal 22 pada transaksi berikut kemudian buatlah jurnal untuk mencatat
transaksi tersebut:
a. Pada tanggal 12 Oktober 2015, PT HAMKA yang mempunyai API mengimpor sebuah
patung (barang tertentu lainnya) dengan nilai CIF sebesar Rp160.000.000,00, di
mana tarif bea masuk patung sebesar 25%. Barang tersebut merupakan persediaan
barang dagang bagi PT HAMKA.
b. Pada tanggal 15 Oktober 2015, PT ABC yang tidak mempunyai API mengimpor barang
(selain barang tertentu dan barang tertentu lainnya) dengan nilai impor sebesar
Rp200.000.000,00 (dengan asumsi termasuk bea masuk sebesar 25%). Barang
tersebut merupakan persediaan barang dagang bagi PT ABC.
c. Pada tanggal 18 Oktober 2015, bendaharawan Kota Makassar membeli ATK secara
tunai pada UD Maju senilai Rp5.500.000,00 (termasuk PPN). ATK tersebut akan
dipergunakan kegiatan operasional kantor.
d. Pada tanggal 21 Oktober 2015, PT Semen Tonasa membeli ATK pada UD Mantap
senilai Rp12.100.000,00 termasuk PPN.
Jawaban:
a. Tarif PPh Pasal 22 atas impor barang tertentu lainnya adalah sebesar 7,5% dari nilai
impor. Oleh karena itu, penghitungan PPh Pasal 22 yang terutang adalah
PPH Pasal 22 terutang = 7,5% x Rp200.000.000,00
= Rp15.000.000,00
Jurnal pada saat diterima invoice
Persediaan Barang Dagang Patung
Utang Usaha

Modul Perpajakan

Rp160.000.000,00
Rp160.000.000,00

31

Jurnal pada saat pembayaran Bea Masuk dan pengambilan barang adalah
Persediaan Barang Dagang Patung
Rp40.000.000,00
PPN-Masukan
Rp20.000.000,00
Uang Muka PPh Pasal 22
Rp15.000.000,00
Kas
*Rp75.000.000,00
*Rp40.000.000,00 (Pembayaran bea masuk) + Rp15.000.000,00 (Pemungutan PPh
Pasal 22 oleh DJBC) + Rp20.000.000,00 (Pemungutan PPN oleh DJBC)
b.

Tarif PPh Pasal 22 atas impor barang selain barang tertentu dan barang tertentu
lainnya bagi wajib pajak yang tidak memiliki API adalah sebesar 7,5% dari nilai impor.
Oleh karena itu, PPh Pasal 22 yang terutang adalah
PPH Pasal 22 terutang = 7,5% x Rp200.000.000,00
= Rp15.000.000,00
Jurnal pada saat diterima invoice
Persediaan Barang Dagang Patung*
Rp160.000.000,00
Utang Usaha
*Merupakan nilai CIF, yaitu 100/125 x Rp200.000.000,00

Rp160.000.000,00

Jurnal pada saat pelunasan pembayaran Bea Masuk adalah


Persediaan Barang Dagang Patung
Rp40.000.000,00
PPN-Masukan
Rp20.000.000,00
Uang Muka PPh Pasal 22
Rp15.000.000,00
Kas
*Rp75.000.000,00
* Rp40.000.000,00 (Pembayaran bea masuk) + Rp15.000.000,00 (Pemungutan PPh
Pasal 22 oleh DJBC) + Rp20.000.000,00 (Pemungutan PPN oleh DJBC)
c.

Tarif PPh Pasal 22 atas pembayaran pembelian ATK yang dilakukan oleh bendahara
pemerintah adalah sebesar 1,5% dari harga pembelian tidak termasuk PPN. Pada
kasus di atas terutang PPh Pasal 22 karena nilainya pembayarannya melebihi
Rp2.000.000,00 dan bendaharawan merupakan pemungut PPN, maka penghitungan
PPh Pasal 22 yang terutang adalah
Pembayaran tidak termasuk PPN = 100/110 x Rp5.500.000,00
= Rp5.000.000,00
Dengan demikian PPh Pasal 22 yang terutang atas pembayaran tersebut adalah
sebesar 1,5% x Rp5.000.000 = Rp75.000,00.
Jurnal Pemerintah Kota Makassar pada saat penerimaan dan pembayaran terkait
transaksi pembelian ATK oleh Bendahara:
Persediaan ATK
Rp5.500.000,00
Utang PPh Pasal 22
Rp75.000,00
Utang PPN
Rp500.000,00
Kas
Rp4.925.000,00
Jurnal UD Maju pada saat penyerahan dan pembayaran ATK:
Kas
Rp4.925.000,00
Uang Muka PPh Pasal 22
Rp75.000,00
PPN-Keluaran
Rp500.000,00
Penjualan
PPN-Keluaran

Rp5.000.000,00
Rp500.000,00

Jurnal Pemerintah Kota Makassar saat penyetoran PPh Pasal 22 ke Kas Negara
Utang PPh Pasal 22
Rp75.000,00
Kas
Rp75.000,00
Modul Perpajakan

32

Jurnal Pemerintah Kota Makassar saat penyetoran PPN ke Kas Negara


Utang PPN
Rp500.000,00
Kas
Rp500.000,00
d.

PT Semen Tonasa merupakan Badan Usaha Tertentu sebagaimana dimaksud dalam


PMK Nomor 107 Tahun 2015, sehingga PT Semen Tonasa memungut PPh Pasal 22
untuk pembayaran atas pembelian ATK tersebut yang bernilai lebih dari
Rp10.000.000,00 tidak termasuk PPN. PT Semen Tonasa juga merupakan Pemungut
PPN berdasarkan PMK Nomor 136 Tahun 2012. Penghitungan PPh Pasal 22 terutang
adalah
Pembayaran tidak termasuk PPN = 100/110 x Rp12.100.000,00
= Rp11.000.000,00
Dengan demikian PPh Pasal 22 yang terutang atas pembayaran ATK tersebut adalah
sebesar 1,5% x Rp11.000.000 = Rp165.000,00.
Jurnal PT Semen Tonasa pada saat penerimaan dan pembayaran terkait transaksi
pembelian ATK oleh Bendahara:
Persediaan ATK
Rp12.100.000,00
Utang PPh Pasal 22
Rp165.000,00
Utang PPN
Rp1.100.000,00
Kas
Rp10.835.000,00
Jurnal UD Mantap pada saat penyerahan dan pembayaran ATK:
Kas
Rp10.835.000,00
Uang Muka PPh Pasal 22
Rp165.000,00
PPN-Keluaran
Rp1.100.000,00
Penjualan
PPN-Keluaran

Rp11.000.000,00
Rp1.100.000,00

Jurnal PT Semen Tonasa saat penyetoran PPh Pasal 22 ke Kas Negara


Utang PPh Pasal 22
Rp165.000,00
Kas
Rp165.000,00
Jurnal PT Semen Tonasa saat penyetoran PPN ke Kas Negara
Utang PPh Pasal 22
Rp1.100.000,00
Kas

Rp1.100.000,00

6.5 Soal Latihan


Hitung PPh Pasal 22 pada transaksi berikut kemudian buatlah jurnal untuk mencatat
transaksi tersebut:
a. Pada tanggal 10 Oktober 2015, PT ARIES yang mempunyai API mengimpor kasur
(barang tertentu) dengan Nilai Impor sebesar Rp400.000.000,00 (termasuk bea
masuk sebesar 25%). Barang tersebut merupakan persediaan barang dagang bagi
PT ARIES.
b. Pada tanggal 13 Oktober 2015, PT XYZ yang tidak mempunyai API mengimpor barang
(selain barang tertentu dan barang tertentu lainnya) dengan Nilai Impor Rp
400.000.000,00 (termasuk bea masuk sebesar 25%). Barang tersebut merupakan
persediaan barang dagang bagi PT XYZ.

Modul Perpajakan

33

c. Pada tanggal 15 Oktober 2015, bendaharawan Kota Makassar membeli ATK pada UD
Maju senilai Rp2.100.000,00 termasuk PPN. ATK tersebut akan dipergunakan
kegiatan operasional kantor.
d. Pada tanggal 18 Oktober 2015, PT Semen Tonasa membeli ATK pada UD Mantap
senilai Rp5.500.000,00 termasuk PPN.

Modul Perpajakan

34

BAB VII
PAJAK PENGHASILAN PASAL 23/26
Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan PPh
Pasal 23/26, dasar perhitungan, tarif, cara menghitung dan
akuntansi PPh Pasal 23/26.

7.1. Pengertian PPh Pasal 23/26


Pajak Penghasilan Pasal 23 merupakan pajak yang dipotong atas penghasilan yang
berasal dari modal, penyerahan jasa, atau hadiah dan penghargaan, selain yang telah
dipotong PPh Pasal 21.
Pemotong dan Penerima Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 23
1) Pemotong PPh Pasal 23:
a. badan pemerintah;
b. Subjek Pajak badan dalam negeri;
c. penyelenggaraan kegiatan;
d. bentuk usaha tetap (BUT);
e. perwakilan perusahaan luar negeri lainnya;
f. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri tertentu, yang ditunjuk oleh Direktur
Jenderal Pajak.
2) Penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 23:
a. WP dalam negeri;
b. BUT
7.2. Dasar Perhitungan Tarif PPh Pasal 23/26
Tarif dan Objek PPh Pasal 23
1. 15% dari jumlah bruto atas:
a.
dividen
b.
bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan
pengembalian utang;
c.
royalti; dan
d.
hadiah, penghargaan, bonus dan sejenisnya selain yang telah dipotong PPh
pasal 21.
2. 2% dari jumlah bruto atas:
a.
sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta kecuali
sewa tanah dan/atau bangunan; dan
b.
imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi,
jasa konsultan, jasa lain selain jasa yang telah di potong PPh Pasal 21. Jasa lain
terdiri dari: (PMK141/03/2015)
1)
Jasa penilai (appraisal);
2)
Jasa aktuaris;
3)
Jasa akuntansi, pembukuan, dan atestasi laporan keuangan;
4)
Jasa hukum;
5)
Jasa arsitektur;
6)
Jasa perencanaan kota dan arsitektur landscape;
7)
Jasa perancang (design);
8)
Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi
(migas), kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap;
Modul Perpajakan

35

9)
10)
11)
12)
13)
14)
15)
16)
17)
18)
19)
20)
21)
22)
23)
24)
25)

26)

27)
28)
29)
30)
31)
32)
33)
34)
35)
36)
37)
38)
39)
40)
41)
42)
43)
44)
45)
46)
47)

Jasa penunjang di bidang usaha panas bumi dan penambangan minyak dan
gas bumi (migas);
Jasa penambangan dan jasa penunjang selain di bidang usaha panas bumi
dan penambangan minyak dan gas bumi (migas);
Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara;
Jasa penebangan hutan;
Jasa pengolahan limbah;
Jasa penyedia tenaga kerja dan/ atau tenaga ahli (outsourcing services);
Jasa perantara dan/ atau keagenan;
Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang dilakukan oleh
Bursa Efek, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan
Efek Indonesia (KPEI);
Jasa kustodian/penyimpanan/penitipan, kecuali yang dilakukan oleh Kustodian
Sentral Efek Indonesia (KSEI);
Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara;
Jasa mixing film;
Jasa pembuatan saranan promosi film, iklan, poster, photo, slide, klise,
banner,pamphlet, baliho dan folder;
Jasa sehubungan dengan software atau hardware atau sistem komputer,
termasuk perawatan, pemeliharaan dan perbaikan;
Jasa pembuatan dan/ atau pengelolaan website;
Jasa internet termasuk sambungannya;
Jasa penyimpanan, pengolahan, dan/atau penyaluran data, informasi, dan/atau
program;
Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC,
dan/atau TV kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang
lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/ atau sertifikasi
sebagai pengusaha konstruksi;
Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, peralatan, listrik, telepon, air,
gas, AC, TV kabel, dan/atau bangunan, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak
yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan inempunyai izin dan/ atau
sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;
Jasa perawatan kendaraan dan/ atau alat transportasi darat, laut dan udara;
Jasa maklon;
Jasa penyelidikan dan keamanan;
Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer;
Jasa penyediaan tempat. dan/atau waktu dalam media masa, media luar ruang
atau media lain untuk penyampaian informasi, dan/ atau jasa periklanan;
Jasa pembasmian hama;
Jasa kebersihan atau cleaning service;
Jasa sedot septic tank;
Jasa pemeliharaan kolam;
Jasa katering atau tata boga;
Jasa freight forwarding;
Jasa logistik;
Jasa pengurusan dokumen;
Jasa pengepakan;
Jasa loading dan unloading;
Jasa laboratorium dan/ atau pengujian kecuali yang dilakukan oleh lembaga
atau insitusi pendidikan dalam rangka penelitian akademis;
Jasa pengelolaan parkir;
Jasa penyondiran tanah pengujian
Jasa penyiapan dan/ atau pengolahan lahan;
Jasa pembibitan dan/ atau penanaman bibit;
Jasa pemeliharaan tanaman;

Modul Perpajakan

36

48)
49)

Jasa pemanenan;
Jasa pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan/atau
perhutanan;
50) Jasa dekorasi;
51) Jasa pencetakan/penerbitan;
52) Jasa penerjemahan;
53) Jasa pengangkutan/ekspedisi kecuali yang telah diatur dalam Pasal 15
Undang-Undang Pajak Penghasilan;
54) Jasa pelayanan kepelabuhanan;
55) Jasa pengangkutan melalui jalur pipa;
56) Jasa pengelolaan penitipan anak;
57) Jasa pelatihan dan/ atau kursus;
58) Jasa pengiriman dan pengisian uang ke ATM;
59) Jasa sertifikasi;
60) Jasa survey;
61) Jasa tester, dan
62) Jasa selain jasa-jasa tersebut di atas yang pembayarannya dibebankan pada
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah.
3. Untuk yang tidak memiliki NPWP besarnya tarif pemotongan adalah lebih tinggi 100%
dari tariff PPh Pasal 23.
4. Jumlah bruto sebagaimana dimaksud diatas:
a) untuk jasa katering adalah seluruh jumlah penghasilan dengan nama dan dalam
bentuk apapun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh
tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri,
penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar
negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap, dan
b) untuk jasa selain jasa katering adalah seluruh jumlah penghasilan dengan nama dan
dalam bentuk apapun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah
jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak badan dalam
negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan
luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap, tidak
termasuk:
1) pembayaran gajl, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain sebagai
imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dibayarkan oleh Wajib Pajak
penyedia tenaga kerja kepada tenaga kerja yang melakukan pekerjaan,
berdasarkan kontrak dengan pengguna jasa;
2) pembayaran kepada penyedia jasa atas pengadaan/pembelian barang atau
material yang terkait dengan jasa yang diberikan;
3) pembayaran kepada pihak ketiga yang dibayarkan melalui penyedia jasa, terkait
Jasa yang diberikan oleh penyedia jasa; dan/ atau
4) pembayaran kepada penyedia Jasa yang merupakan penggantian
(reimbursement) atas biaya yang telah dibayarkan penyedia jasa kepada pihak
ketiga dalam rangka pemberian jasa bersangkutan.
Pengeculian Objek Pemotongan PPh Pasal 23
Dikecualikan dari Pemotongan PPh Pasal 23 adalah:
1.
Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank;
2.
Sewa yang dibayar atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak
opsi;
3.
Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai
WP dalam negeri, koperasi, BUMN/BUMD, dari penyertaan modal pada badan usaha
yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
a. dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan;
Modul Perpajakan

37

4.
5.
6.
7.

b. bagi perseroan terbatas, BUMN/BUMD, kepemilikan saham pada badan yang


memberikan dividen paling rendah 25% ( dua puluh lima persen) dari jumlah modal
yang disetor;
Dividen yang diterima orang pribadi
Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma dan kongsi
termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif;
SHU koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya;
Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan
yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan.

7.3. Saat Terutang, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 23


1. Pajak penghasilan pasal 23 terutang pada akhir bulan dilakukannnya pembayaran atau
pada akhir bulan terutangnya penghasilan yang bersangkutan.
2. Pajak penghasilan pasal 23 harus disetorkan oleh pemotong pajak selambat-lambatnya
tanggal 10 bulan takwim berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak ke bank
persepsi atau Kantor Pos Indonesia.
3. Pemotong PPh Pasal 23 di wajibkan menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa
selambat-lambatnya 20 hari setelah masa pajak berakhir.
4. Pemotongan PPh Pasal 23 harus memberikan tanda bukti pemotong kepada orang
pribadi atau badan yang dibebani Pajak Penghasilan yang dipotong.
5. Pelaksanaan pemotong, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 23 dilakukan secara
desentralisasi artinya dilakukan di tempat terjadinya pembayaran atau terutangnya
penghasilan yang merupakan Objek PPh Pasal 23, hal ini dimaksudkan untuk
mempermudah, pengawasan terhadap pelaksaan pemotongan PPh Pasal 23 tersebut
Dalam hal jatuh tempo penyetoran atau batas akhir pelaporan PPh Pasal 23 bertepatan
dengan hari libur termasuk hari sabtu atau hari libur nasional, penyetoran atau pelaporan
dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.
7.4. Bukti Pemotong PPh Pasal 23
Pemotong Pajak harus memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 23 kepada Wajib Pajak
Orang Pribadi atau badan yang telah dipotong PPh Pasal 23.
7.5. Contoh Soal
1.

PT Jumbo (pihak pertama) melakukan kontrak dengan PT Iklan Promo selaku


perusahaan agen periklanan (pihak kedua) untuk membuat iklan sekaligus memasang
iklan pada PT Perusahaan Media (pihak ketiga). Nilai kontrak yang telah disepakati
adalah sebesar Rp255.000.000,00. Rincian tagihan PT Iklan Promo kepada PT Jumbo
terdiri dari:
jasa pembuatan materi iklan sebesar Rp100.000.000,00;
fee agen Rp5.000.000,00; dan
biaya pemasangan iklan Rp150.000.000,00.
Atas biaya pemasangan iklan tersebut, PT Perusahaan Media menagih kepada PT Iklan
Promo sebesar Rp150.000.000,00 yang kemudian akan dilakukan reimbursement
(penggantian) oleh PT Jumbo kepada PT Iklan Promo. Pemotongan PPh Pasal 23 atas
transaksi di atas adalah sebagai berikut:
a.
Pemotongan PPh Pasal 23 yang dilakukan PT Iklan
Promo atas pembayaran jasa pemasangan iklan kepada PT Perusahaan Media
adalah sebesar :
2% x Rp 150.000.000,- = Rp3.000.000,00.

Modul Perpajakan

38

e.

f.

Pemotongan PPh Pasal 23 yang dilakukan PT Jumbo atas pembayaran jasa


pembuatan materi iklan dan jasa keagenan kepada PT Iklan Promo adalah:
1)
Untuk jasa pembuatan materi iklan sebesar:
2% x Rp100.000.000,00 = Rp2.000.000,00; dan
2)
untuk jasa keagenan sebesar:
2% x Rp5.000.000,00 = Rp100.000,00.
Dalam hal tidak ada faktur tagihan atau bukti pembayaran dari PT Iklan Promo
kepada PT Perusahaan Media atas rincian tagihan di atas, maka jumlah bruto
sebagai dasar pemotongan PPh Pasal 23 oleh PT Jumbo kepada PT Iklan Promo
adalah sebesar Rp255.000.000,00, sehingga PPh Pasal 23 yang harus dipotong
oleh PT Jumbo atas pembayaran kepada PT Iklan Promo adalah sebesar:
2% x Rp255.000.000,00 = Rp5.100.000,00
Jurnal pada saat Pembayaran dari PT.Iklan Promo pada PT.Perusahaan Media
PT. Iklan Promo
Piutang kepada PT. Jumbo
Rp150.000.000
Utang PPh 23
Rp3.000.000
Kas
Rp147.000.000
PT. Perusahaan Media
Kas
Uang Muka PPh 23
Pendapatan-Pemasangan Iklan

Rp147.000.000
Rp3.000.000
Rp150.000.000

Jurnal pada saat Pembayaran dari PT.Jumbo kepada PT.Iklan Promo


PT. Jumbo
Beban Iklan
Rp255.000.000
Utang PPh 23
Rp2.100.000
Kas
Rp252.900.000
PT. Iklan Promo
Kas
Uang Muka PPh 23
Piutang
Pendapatan

Rp252.900.000
Rp2.100.000
Rp150.000.000
Rp105.000.000

7.6. Soal Latihan


1. Acara ulang tahun perusahaan PT. Antariksa melakukan pesta bagi karyawan dan
para tamu undangan. Untuk kebutuhan tersebut PT. Antariksa menggunakan Jasa
CV. Margaboga untuk menyediakan catering, dengan nilai pembelian sebesar Rp.
68.000.000,-Dalam kontrak yang dibuat disebutkan sebagai berikut:
Makanan dan minuman untuk 300 orang @ 150.000, = Rp. 85.000.000
Pemakaian peralatan dan Tenaga Kerja = Rp 20.000.000
Fee = Rp 23.000.000
Harga disepakati = Rp 38.000.000
Hitunglah PPh Pasal 23 yang terutang adalah atas transaksi di atas:
2. Pada bulan Oktober 2009 PT A memberikan pinjaman kepada PT B sebesar
Rp1.000.000.000,00 dengan tingkat bunga sebesar 10% (sepuluh persen) per tahun.
Jatuh tempo pembayaran bunga setiap tanggal 1 April dan 1 Oktober. Pada 1 April
2010, PT B membayar bunga sebesar Rp50.000.000,00 kepada PT A. Atas bunga
pinjaman ini, PT A telah mengakui sebagai penghasilan di tahun 2009 sebesar
Rp25.000.000,00 (bunga selama Oktober s.d Desember 2009).
Hitunglah PPh Pasal 23 yang terutang?
Modul Perpajakan

39

BAB VIII
PAJAK PENGHASILAN PASAL 4 AYAT (2)
Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan PPh
Pasal 4 Ayat 2, dasar perhitungan, tarif, cara menghitung dan
akuntansi PPh Pasal 4 Ayat (2)

8.1 Pengertian PPh Pasal 4 Ayat 2


Pasal 4 (2) Undang-undang PPh mengatur bahwa beberapa Penghasilan tertentu
dengan syarat ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah, dapat pajak bersifat final.
Penghasilan tersebut adalah:
1.
penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan
surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada
anggota koperasi orang pribadi;
2.
Hadiah undian adalah hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang
diberikan melalui undian;
3.
penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang
diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan
penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan
modal ventura;
4.
penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan,
usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan;
dan
5.
penghasilan tertentu lainnya, yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Pemerintah.
Pengenaan bersifat final merupakan suatu pengenaan pajak yang memiliki karakteristik
berbeda dari Pajak Penghasilan secara umum. Dalam penjelasan Pasal 4 ayat (2) di
uraikan bahwa terdapat pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam menetapkan
pengenaan pajak bersifat final adalah antara lain:
Perlu adanya dorongan dalam rangka perkembangan investasi dan tabungan
masyarakat;
kesederhanaan dalam pemungutan pajak;
berkurangnya beban administrasi bagi Wajib Pajak maupun DJP;
pemerataan dalam pengenaan pajaknya; dan
memperhatikan perkembangan ekonomi dan moneter.
Perlakuan tersendiri dalam pengenaan pajak atas jenis penghasilan tersebut termasuk
sifat, besarnya, dan tata cara pelaksanaan pembayaran, pemotongan, atau pemungutan
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Lebih lanjut dalam dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 94 tahun 2010
ditegaskan bahwa dalam hal penghasilan tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat
final dengan Peraturan Pemerintah tersendiri, atas penghasilan tersebut dikenai Pajak
Penghasilan berdasarkan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 Undang-Undang
Pajak Penghasilan. Pengaturan ini dalam Peraturan Pemerintah ini memberikan
penegasan bahwa jika terdapat Peraturan Pemerintah yang mengenakan Pajak bersifat
final, maka pengenaan pajak secara umum seperti yang diatur dalam undang-undang
Pajak Penghasilan di kesampingkan, sehingga yang berlaku adalah PengenaanPajak
secara Final seperti yang diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Modul Perpajakan

40

Karakteristik pengenaan Pajak Penghasilan Bersifat Final antara lain sebagai berikut :
Pengenaannya dipisahkan dengan penghasilan yang dikenakan tarif PPh umum.
Terutang pada setiap transaksi atau tanpa diakumulasikan pada periode tahun pajak.
Pelunasannya dapat menggunakan mekanisme witholding, atau disetor sendiri oleh
Wajib Pajak. Jika pajak yang terutang lebih besar dibandingkan dengan jumlah yang
telah dipotong atau dipungut pihak lain, maka kekurangannya di setor sendiri oleh
wajib pajak.
Pajak
Penghasilan
Final
atau
yang
bersifat
final
tidak
dapat
diperhitungkan/dikreditkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang yang dikenakan
tarif umum.
Biaya/pengeluaran untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang
pengenaan pajaknya bersifat finaltidak dapat dikurangkan dalam rangka
penghitungan Penghasilan Kena Pajak yang bersifat umum.
Biasanya Tarif pajak yang dikenakan terhadap penghasilan yang pengenaan
pajaknya bersifat final adalah tarif tunggal meskipun ada juga yang bersifat progresif.
Dilakukan pembukuan terpisah dengan yang dikenakan tarif pajak bersifat umum,
atau yang bukan merupakan objek pajak, serta yang mendapatkan fasilitas
perpajakan. (Pasal 27 Peraturan Pemerintah Nomor 94 tahun 2010).
Selain diaturpada Pasal 4 Ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan, Pengenaan PPh
bersifat Final juga diatur pada Pajak 15, Pasal 17 ayat (2c), dan Pasal 22Undangundang Pajak Penghasilan.
8.2 Objek, Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak PPh Final atau Bersifat Final
No
1.

Objek
Bunga Deposito dan Tabungan serta
Diskonto SBI
Dasar Hukum :
PPh Pasal 4 ayat (2)
PP No. 131 Tahun 2000
KMK-51/KMK.04/2001
SE-01/PJ.43/2001
Pengecualian:

Tarif
20% (untuk
WPDN & BUT)
20% atau Tarif
P3B (untuk
WPLN)

Dasar Perhitungan
Jumlah Bruto Bunga

a.

Bung
a deposito dan tabungan serta diskonto
SBI sepanjang jumlah deposito dan
tabungan serta SBI tersebut tidak
melebihi Rp 7.500.000,00 dan bukan
merupakan jumlah yang dipecah-pecah.
b.
Bung
a dan diskonto yang diterima atau
diperoleh bank yang didirikan di
IndonesiaIndonesia. atau cabang bank
luar negeri
c.
Bung
a deposito dan tabungan serta diskonto
SBI yang diterima atau diperoleh Dana
Pensiun yang telah disahkan Menteri
Keuangan, sepanjang dananya diperoleh
dari sumber pendapatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 29 UndangUndang Nomor 11 Tahun 1992 Tentang
Modul Perpajakan

41

Dana Pensiun.
d.

2.

3.

4.

Bung
a tabungan pada bank yang ditunjuk
Pemerintah dalam rangka pemilikan
rumah sederhana dan sangat sederhada,
kapling siap bangun untuk rumah
sederhana dan sangat sederhana, atau
rumah susun sederhana sepanjang untuk
dihuni sendiri.
Hadiah Undian
Dasar Hukum :

PPh Pasal 4 ayat 2

PP No. 132 Tahun 2000 jo KEP395/PJ./2001


Bunga Simpanan Anggota Koperasi
Dasar Hukum:

PPh Pasal 4 ayat (2)

PPh Psal 17 ayat 7

PP No.15 Tahun 2009


a.
Peng
hasilan berupa bunga simpanan sampai
dengan Rp240.000,00 perbulan
b.
Peng
hasilan berupa bunga simpanan lebih dari
Rp240.000,00 perbulan
Bunga Obligasi
Dasar Hukum :

PPh Pasal 4 ayat 2

PPh Pasal 17 ayat 7

PP No. 16 Tahun 2009


a.
Bung
a Obligasi dengan kupon
1.
WP DN & BUT
2.
WP LN
b.
Disk
onto Obligasi dengan kupon
1.
WP DN & BUT
2.
WP LN
c.

0%
10%

Jumlah bruto bunga

15%
20% atau Tarif
berdasarkan
P3B

Jumlah bruto bunga


sesuai dengan masa
kepemilikan obligasi

15%
20% atau Tarif
berdasarkan
P3B

Disk
onto Obligasi tanpa bunga
1.
WP DN & BUT
2.
WP LN

d.

25%

Jumlah bruto nilai


hadiah yang
dibayarkan atau nilai
pasar
hadiah berupa natura
atau kenikmatan

15%
20% atau Tarif
berdasarkan
P3B

Selisih lebih harga


jual atau nilai
nominal di atas
harga perolehan
obligasi, tidak
termasuk bunga
berjalan
Selisih lebih harga
jual atau nilai
nominal di atas
harga perolehan
obligasi

Bung
a dan/atau diskonto dari Obligasi yang
diterima dan/atau diperoleh Wajib Pajak

Modul Perpajakan

42

5.

reksadana yang terdaftar pada Badan


Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan

untuk tahun 2009 sampai dengan


tahun 2010;

untuk tahun 2011 sampai dengan


tahun 2013;

untuk tahun 2014 dan

seterusnya.
Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek
Dasar Hukum:

PPh Pasal 4 ayat (2)

PP No.41/1994

PP No.14/1997

282/KMK.04/1997

SE-06/PJ.4/1997
a.
Saha
m pendiri
b.

6.

7.

8.

Buka
n saham pendiri
Pengalihan Hak Atas Tanah dan/Atau
Bangunan (Sejak 1 Januari 2009, baik OP
maupun Badan)
Dasar Hukum:

PPh Pasal 4 ayat (2)

PP 71 tahun 08

PMK-243/PMK.33/2008;

PER30/PJ./2009
Rumah susun dan rumah susun
sederhana
Penghasilan yang diterima atau diperoleh
dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan
Dasar Hukum:
PPh Pasal 4 ayat (2)
PP No. 29 tahun 1996
PP No. 5 tahun 2002
KMK-120/KMK.03/2002
KEP-227/PJ/2002
Usaha Jasa Kontruksi
Dasar Hukum:
PPh Pasal 4 ayat (2)
PP No. 140 Tahun 2000 jo PP No. 51
Tahun 2008, direvisi dengan PP No 40
Tahun 2009
SE-05/PJ.03/2008
bersifat final bagi Wajib Pajak yang
memenuhi kualifikasi sebagai usaha kecil
berdasarkan sertifikat yang dikeluarkan oleh
lembaga yang berwenang, serta yang
mempunyai nilai pengadaan sampai dengan

Modul Perpajakan

0%
5%
15%

(0,1% X Nilai Transaksi) + (0,5% X


nilai saham pasar saat Penawaran
Umum Perdana (IPO))
0,1% X Nilai Transaksi

5%

bruto nilai
penjualan/pengalihan
tanah dan/atau
bangunan .

1%

10%

Jumlah bruto nilai


persewaan
tanah dan/atau
bangunan baik yang
diterima/diperoleh
WP Orang Pribadi
maupun WP Badan
Jumlah bruto

43

Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)


a.
Waji
b Pajak penyedia jasa perencanaan
konstruksi;
b.
Waji
b Pajak penyedia jasa pelaksanaan
konstruksi;
c.
Waji
b Pajak penyedia jasa pengawasan
konstruks
9.

10.

Uang
Pesangon
yang
Dibayarkan
sekaligus
Dasar Hukum:

PPh Pasal 21

PP No. 68 tahun 2009

PMK No. 16/PMK.03/2010


a.
Penghasilan bruto s.d. Rp50 juta
b.
Rp50 juta s.d. Rp100 juta
c.
Rp100 juta s.d. Rp500 juta
d.
Diatas Rp500 juta
Uang manfaat pensiun; Tunjangan hari tua
atau Jaminan Hari Tua yang dibayarkan
sekaligus
a.
Peng
hasilan bruto s.d. Rp50 juta
b.
Diata
s Rp500 juta
Pelayaran DN dan/atau Penerbangan LN
Dasar Hukum:

PPh Pasal 15.

KMK 416/KMK.04/1996

SE 29/PJ.4/1996

KMK 417/KMK.04/1996

SE 32/PJ.4/1996
a.
Pelayaran Dalam Negeri

b.
11.

Pelayaran atau Penerbangan Luar Negeri


WP
LN
yang
mempunyai
kantor
perwakilan dagang di Indonesia
Dasar Hukum:

PPh Pasal 15.

634/KMK.04/1994

Modul Perpajakan

4%
2%
4%

Penghasilan bruto
0%
5%
15%
25%

0%

Penghasilan bruto

5%

1,2%

Peredaran bruto
(norma khusus)

2,64%
0,44%

Nilai Ekspor Bruto


(norma khusus)

44


Kep-667/PJ/2001

SE-2/PJ.03/2008
12. Nilai bangunan yang diterima dalam
rangka Bangun Guna Serah sehubungan
dengan berakhirnya masa perjanjian (OP)
Dasar Hukum:
1. PPh Pasal 15.
2. 248/KMK.04/1995
3. SE-38/PJ.4/1995
Dikecualikan: jika pemegang hak atas tanah
dan bangunan adalah badan pemerintah
13. Honorarium/imbalan
atas
beban
APBN/APBD
yang
diterima
Pejabat
Negara, PNS, anggota TNI, POLRI dan
Pensiunan.
Dasar Hukum:

PPh Pasal 21 ayat (1)

PP 45 tahun 1994

Kep-545/PJ./2000

Per-15/PJ./2006
14. Penyalur/Dealer/Agen Produk Pertamina
dan Premix
Dasar Hukum:

PPh Pasal 22

254/KMK.03/2001 Jo

392/KMK.03/2001 Jo

236/KMK.03/2003 Jo

154/PMK.03/2007 Jo

08/PMK.03/2008 Jo

210/PMK.03/2008
a.
Penj
ualan SPBU Swasta
b.
Penj
ualan SPBU Pertamina
c.
Penj
ualan minyak Tanah
d.
Penj
ualan Gas LPG/Pelumas
15. Diskonto Surat Utang Negara ( SPBN &
ORI)
Dasar Hukum:

PPh Pasal 4 ayat (2)

PP.27 Th 2008
16. Penjualan Saham Milik Perusahaan Modal
Ventura
Dasar Hukum:

PPh Pasal 4 ayat (2)

PP No.4/1995

250/KMK.04/1995

SE-33/PJ.4/-1995
17. WP yang melakukan kegiatan usaha jasa
Modul Perpajakan

5%

jumlah bruto nilai


yang tertinggi antara
lain pasar dengan
Nilai Jual Obyek
Pajak (NJOP) bagian
bangunan yang
diserahkan

15%

Penghasilan bruto

252/PMK.
03 /08

PER
31/PJ/2009

PER
57/PJ /2009
Akan diatur dengan
permen keu ter
sendiri

Penjualan
0,3%
0,25%
0,3%
0,3%

20%

Jumlah Diskonto
SPN

0,1%

Jumlah bruto nilai


transaksi penjualan
saham atau
pengalihan
penyertaan modal

7% x 30% x total biaya pembuatan


45

18.

maklon
(Contract
Manufacturing)
Internasional di bidang produksi mainan
anak-anak.
Dasar Hukum:
PPh Pasal 15
KMK 543/KMK.03/2002
SE 02/PJ.31/2003
Penghasilan dari usaha yang diterima oleh
Wajib Pajak yang tidak melebihi 4,8 M
dalam 1 Tahun
Dasar Hukum:
PP 46 Tahun 2013

atau perakitan barang tidak termasuk


biaya pemakaian bahan baku (direct
materials)

1% x omzet (Jumlah Peredaran Bruto)

8.3 Pemotong atau Pemungut Pajak PPh Pasal 4 Ayat (2)


1.

Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto SBI


Bank dan Bank Indonesia wajib memotong Pajak Penghasilan yang melakukan
pembayaran bunga wajib memotong PPh final yang terutang. Demikian juga Dana
Pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan dan bank yang menjual
kembali Sertifikat Bank Indonesia kepada pihak lain yang bukan bank atau kepada Dana
Pensiun yang pendiriannya belum disahkan oleh Menteri Keuangan, wajib memotong
Pajak Penghasilan atas diskonto Sertifikat Bank Indonesia tersebut.

2.

Hadiah Undian
Penyelenggara undian wajib memotong atau memungut Pajak Penghasilan.
Penyelenggara undian adalah orang pribadi, badan, kepanitiaan, organisasi (termasuk
organisasi internasional) atau penyelenggara lainnya termasuk pengusaha yang menjual
barang atau jasa yang memberikan hadiah dengan cara diundi.

3.

Bunga Simpanan Anggota Koperasi


Koperasi yang melakukan pembayaran bunga simpanan kepada anggota koperasi orang
pribadi.

4.

Bunga Obligasi
Pemotongan Pajak Penghasilan dilakukan oleh:
a. penerbit Obligasi (emiten) atau kustodian selaku agen pembayaran yang ditunjuk,
atas:
1) bunga dan/atau diskonto yang diterima atau diperoleh pemegang Obligasi
dengan kupon pada saat jatuh tempo Bunga Obligasi; dan
2) diskonto yang diterima atau diperoleh pemegang Obligasi tanpa bunga pada saat
jatuh tempo Obligasi;
b. perusahaan efek, dealer, atau bank, selaku perantara, atas bunga dan/atau diskonto
Obligasi yang diterima atau diperoleh penjual Obligasi pada saat transaksi; dan/atau
c. perusahaan efek, dealer, bank, dana pensiun, dan reksadana, selaku pembeli
Obligasi langsung tanpa melalui perantara, atas bunga dan/atau diskonto Obligasi
yang diterima atau diperoleh penjual Obligasi pada saat transaksi.
Dalam hal penjualan Obligasi dilakukan secara langsung tanpa melalui perantara
kepada pihak-pihak lain selain pemotong pajak tersebut di atas, kustodian atau subregistry selaku pihak-pihak yang melakukan pencatatan mutasi hak kepemilikan
Obligasi, wajib melakukan pemotongan dengan cara memungut Pajak Penghasilan
yang bersifat final yang terutang dari penjual Obligasi sebelum mutasi hak
kepemilikan dilakukan.

Modul Perpajakan

46

Dalam hal penjualan Obligasi tidak memerlukan pencatatan mutasi hak kepemilikan
Obligasi melainkan hanya atas unjuk, pemotongan Pajak Penghasilan yang bersifat
final dilakukan oleh penerbit Obligasi (emiten) atau kustodian yang ditunjuk selaku
agen pembayaran, dari pembeli/pemegang Obligasi pada saat:
jatuh tempo bunga, untuk penghasilan bunga yang dihitung berdasarkan masa
kepemilikan penuh sejak tanggal jatuh tempo bunga terakhir;
jatuh tempo Obligasi, untuk penghasilan diskonto yang dihitung berdasarkan
masa kepemilikan penuh sejak tanggal penerbitan perdana Obligasi.
Dalam hal dapat dibuktikan bahwa penjual Obligasi atas unjuk sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) adalah pihak yang tidak diberlakukan pemotongan Pajak
Penghasilan atau pihak lain yang telah dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan
pemotongan Pajak Penghasilan yang bersifat final atas bunga pada saat jatuh tempo
bunga atau diskonto pada saat jatuh tempo Obligasi, dihitung berdasarkan masa
kepemilikan penuh dikurangi dengan masa kepemilikan penjual Obligasi tersebut.

5.

Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek


Penyelenggaraan bursa efek melalui perantara pedagang efek ditunjuk sebagai
pemotong pajak final yang terutang.

6.

Pengalihan Hak Atas Tanah dan/Atau Bangunan (Sejak 1 Januari 2009, baik OP
maupun Badan)
Ditunjuk sebagai pemungut pajak adalah Pejabat yang berwenang hanya menanda
tangani akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang atas pengalihan hak
atas tanah dan/atau bangunan. Pejabat yang berwenang tersebut adalah Notaris,
Pejabat Pembuat Akta Tanah, Camat, Pejabat Lelang, atau pejabat lain yang diberi
wewenang sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.
Jika pembayaran dilakukan oleh bendaharawan atau pejabat yang ditunjuk melakukan
pembayaran, maka pajak yang terutang dipungut oleh bendaharawan atau pejabat yang
melakukan pembayaran atau pejabat yang menyetujui tukarmenukar. Badan Pertanahan
Nasional hanya mengeluarkan surat keputusan pemberian hak, pengakuan hak, dan
peralihan hak atas tanah, apabila permohonannya dilengkapi dengan Surat Setoran
Pajak, kecuali atas permohonan yang dikecualikan dari pengenaan pajak.

7.

Penghasilan yang diterima atau diperoleh dari Persewaan Tanah dan/atau


Bangunan
Pemotongan dilakukan oleh penyewa dalam hal penyewa adalah Badan Pemerintah,
Subjek Pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap,
kerjasama operasi, perwakilan perusahaan luar negeri lainnya, dan orang pribadi yang
ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.Dalam hal penyewa bukan merupakan
pemotong pajak di atas, maka pelunasan pajak terutang dilakukan dengan penyetoran
sendiri oleh yang menyewakan.
Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP - 50/PJ./1996 Tentang
Penunjukan Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri Tertentu Sebagai Pemotong Pajak
Penghasilan Atas Penghasilan Dari Persewaan Tanah Dan/Atau Bangunan,ditunjuk
sebagai pemotong pajak adalah :
a. Akuntan, arsitek, dokter, Notaris, Pejabat Pembuat Akte Tanah (PPAT) kecuali PPAT
tersebut adalah Camat, pengacara, dan konsultan, yang melakukan pekerjaan
bebas;
b. Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan;
yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak dalam negeri. Wajib Pajak orang pribadi dalam
negeri tersebut menjadi pemotong pajak dengan Surat Keputusan Penunjukan sebagai
Pemotong Pajak Penghasilan atas penghasilan dari persewaan tanah dan/atau
bangunan kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang diterbitkan oleh Kepala
KPP setempat.

Modul Perpajakan

47

8.

Usaha Jasa Kontruksi


Dipotong oleh pengguna jasa, dalam hal pengguna jasa adalah badan Pemerintah,
Subjek Pajak badan dalam negeri, bentuk usaha tetap, atau orang pribadi sebagai Wajib
Pajak dalam negeri yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak sebagai pemotong Pajak
Penghasilan.

9.

Uang Pesangon yang Dibayarkan sekaligus


Uang manfaat pensiun; Tunjangan hari tua atau Jaminan Hari Tua yang dibayarkan
sekaligus
Pajak penghasilan PPh pasal 21 di potong oleh Pemberi kerja

10. Pelayaran Dalam Negeri


Yang melakukan pemotongan pajak adalah pihak penyewa./pencharter kapal atau
pesawat. Pemotongan dilakukan pada saat sewa/charter itu terutang (dibukukan sebagai
biaya oleh penyewa/pencharter) atau pada saat sewa/charter itu dibayarkan kepada
pihak yang menyewakan/mencharterkan tergantung peristiwa mana yang terjadi terlebih
dahulu.
Pelayaran atau Penerbangan Luar Negeri
Yang melakukan pemotongan pajak adalah pihak penyewa/pencharter kapal.
Pemotongan pajak dilakukan oleh penyewa/pencharter pada saat sewa/charter itu
terutang (dibukukan sebagai biaya oleh penyewa/pencharter) atau pada saat
sewa/charter itu dibayarkan kepada pihak yang menyewakan/mencharterkan tergantung
peristiwa mana yang terjadi terlebih dahulu.
11. WP LN yang mempunyai kantor perwakilan dagang di Indonesia
Disetorkan sendiri oleh WP yang bersangkutan
12. Nilai bangunan yang diterima dalam rangka Bangun Guna Serah sehubungan
dengan berakhirnya masa perjanjian
Yang melakukan pemotongan pajak adalah pemegang hak atas tanah.
13. Honorarium/imbalan atas beban APBN/APBD yang diterima Pejabat Negara, PNS,
anggota TNI, POLRI dan Pensiunan.
Yang melakukan pemotongan pajak adalah Bendaharawan Pemerintah
14. Penyalur/Dealer/Agen Produk Pertamina dan Premix
Yang melakukan pemotongan pajak adalah Pertamina
15. Diskonto Surat Utang Negara (SPBN & ORI)
Pemotongan Pajak Penghasilan atas Diskonto SPN dilakukan oleh :
a. Penerbit SPN (emiten) atau kustodian yang ditunjuk selaku agen pembayaran, atas
diskonto yang diterima pemegang SPN saat jatuh tempo;
b. Perusahaan efek (broker) atau bank selaku pedagang perantara (dealer), atas
diskonto yang diterima atau diperoleh penjual SPN pada saat transaksi di Pasar
Sekunder;
c. Perusahaan efek (broker), bank, dana pensiun, dan reksadana selaku pembeli SPN
tanpa melalui pedagang perantara, atas diskonto yang diterima atau diperoleh
penjual SPN pada saat transaksi di Pasar Sekunder.
d. Dalam hal penjualan SPN secara langsung tanpa melalui pedagang perantara dan
dilakukan kepada pihak selain pemotong pajak,pihak yang melakukan pencatatan
perubahan hak kepemilikan SPN (sub registry) wajib memotong Pajak Penghasilan
Final yang terutang sebelum mutasi hak kepemilikan dapat dilakukan.
16. Penjualan Saham Milik Perusahaan Modal Ventura
Modul Perpajakan

48

Pada dasarnya Pajak final yang terutang hitung secara self assessment, namun jika
saham yang diperdagangkan adalah saham yang diperdagangkan di bursa efek, maka
yang ditunjuk sebagai pemotong adalah penyelenggara bursa atau pedagang perantara
efek.
17. WP yang melakukan kegiatan usaha jasa maklon (Contract Manufacturing)
Internasional di bidang produksi mainan anak-anak.

Pemotong adalah yang melakukan usaha.


18. Penghasilan dari usaha yang diterima oleh Wajib Pajak yang tidak melebihi 4,8 M
dalam 1 Tahun
Disetorkan sendiri oleh WP yang bersangkutan
8.4 Saat Terutang, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 4 ayat 2
1.

Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto SBI


Saat Terutang
Penyetoran
Pelaporan
Terutang pada saat di Bank atau Bank Indonesia Melaporkan ke KPP tempat
peroleh atau diterimanya sebagai pemotong PPh final terdaftar paling lambat 20
penghasilan
dari
bunga wajib menyetorkan ke kas hari setelah masa pajak
deposito, tabungan serta Negara
paling
lambat berakhir.
diskonto
sertifikat
Bank tanggal 10 bulan berikutnya
Indonesia (SBI) oleh Wajib setelah Masa Pajak berakhir
Pajak dalam negeri, BUT, dan,
dan wajib pajak luar negeri
yang
dibayarkan
oleh
pemotong
PPh
final
berdasarkan ketentuan ini
yaitu Bank pembayar bunga
dan dana pensiun.

2.

Hadiah Undian
Saat Terutang
Penyetoran
Terutang dan dipotong pada Penyetoran dilakukan paling
saat
pembayaran
atau lambat tanggal 10 bulan
penyerahan hadiah tersebut
berikutnya setelah bulan saat
terutangnya dan

Pelaporan
Pelaporan melalui SPT Masa
PPh Final paling lambat 20
hari
setelah
masa
pajakberakhir.

3.

Bunga Simpanan Anggota Koperasi


Atas Pemotongan yang dilakukan Koperasi memberikan tanda bukti pemotongan
Pajak Penghasilan Final Pasal 4 ayat (2) kepada Wajib Pajak orang pribadi yang
dipotong Pajak Penghasilan setiap melakukan pemotongan.

Kewajiban memberikan tanda bukti pemotongan Pajak Penghasilan Final Pasal 4


ayat (2), tetap dilakukan terhadap penghasilan dari bunga simpanan yang dikenai
tarif pemotongan sebesar 0% (nol persen).
Saat Terutang
Penyetoran
Pelaporan
Terutang
pada
saat Pajak Penghasilan yang Koperasi
wajib
pembayaran bunga
telah dipotong oleh koperasi menyampaikan
laporan
wajib disetor ke kas Negara tentang pemotongan dan
melalui Kantor Pos atau penyetoran
Pajak
bank yang ditunjuk oleh Penghasilan
sebagaimana

Modul Perpajakan

49

Menteri Keuangan, paling


lama tanggal 10 (sepuluh)
bulan berikutnya setelah
masa
pajak
berakhir.
Penyetoran
Pajak
Penghasilan
dilakukan
dengan menggunakan Surat
Setoran Pajak.

dimaksud dalam Pasal 3 dan


Pasal 5 paling lama 20 (dua
puluh) hari setelah masa
pajak berakhir. Pelaporan
Pajak Penghasilan dilakukan
dengan menggunakan Surat
Pemberitahuan Masa Pajak
Penghasilan Final Pasal 4
ayat (2).

4. Bunga Obligasi
Penjual Obligasi wajib memberitahukan kepada pemotong pajak mengenai harga
perolehan dan tanggal perolehan Obligasi yang sebenarnya, untuk keperluan
penghitungan bunga dan/atau diskonto yang menjadi dasar pemotongan Pajak
Penghasilan.
Dalam hal Obligasi yang dijual tidak dapat ditentukan harga perolehan dan tanggal
perolehan yang sebenarnya, harga perolehan dan tanggal perolehan yang wajib
diberitahukan oleh penjual Obligasi kepada pemotong pajak ditentukan dengan cara
mendahulukan harga perolehan dan tanggal perolehan Obligasi sejenis yang diperoleh
pertama (metode First In First Out).
Pemberitahuan dilakukan dengan menyerahkan formulir Bukti Pemotongan Pajak
Penghasilan Final Pasal 4 ayat (2) dari pembelian Obligasi tersebut sebelumnya.
Ketentuan ini juga berlaku bagi penjual Obligasi yang tidak diberlakukan pemotongan
Pajak Penghasilan.
Dalam hal penjual Obligasi tidak memberitahukan harga perolehan dan tanggal
perolehan Obligasi, atas penghasilan bunga dan/atau diskonto yang tidak atau kurang
diberitahukan, dikenai Pajak Penghasilan sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 85/PMK.03/2011 tentang Tata Cara
Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Bunga Obligasi
beserta perubahannya dalam tahun diketahuinya ketidakbenaran dimaksud dan dikenai
sanksi administrasi berupa bunga.
Saat Terutang
Penyetoran
Pelaporan
Terutang pada saat jatuh Pemotong
Pajak Pemotong
Pajak
tempo bunga obligasi
Penghasilan wajib menyetor Penghasilan
wajib
Pajak Penghasilan ke Kantor menyampaikan
laporan
Pos atau bank persepsi, tentang pemotongan dan
paling lama tanggal 10 penyetoran
Pajak
(sepuluh) bulan berikutnya Penghasilan paling lama 20
setelah
bulan
dilakukan (dua puluh) hari setelah
pemotongan pajak.
bulan dilakukan pemotongan
Penyetoran
Pajak pajak.
Penghasilan
dengan Pelaporan
Pajak
menggunakan Surat Setoran Penghasilan
dilakukan
Pajak.
dengan menggunakan Surat
Pemberitahuan Masa Pajak
Penghasilan Final Pasal 4
ayat (2).
5. Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek

Pemotongan, penyetoran, dan pelaporan Pajak Penghasilan yang terutang


sebesar 0,1% (nol koma satu persen) untuk setiap transaksi penjualan saham,
dilakukan oleh penyelenggaraan bursa efek sebagai berikut.
a. Pemotongan Pajak Penghasilan oleh penyelengaraan bursa efek dilakukan
melalui perantara pedagang efek pada saat pelunasan transaksi penjualan
Modul Perpajakan

50

6.

saham. Transaksi penjualan saham di bursa efek hanya dapat dilakukan oleh
investor melalui perantara pedagang efek, sehingga penyelenggaraan bursa efek
tidak dapat melakukan pemotong secara langsung pada pihak yang menjual
saham. Oleh karena itu, pemotongan Pajak Penghasilan harus dilakukan melalui
perantara pedagang efek pada saat perantara tersebut melakukan pelunasan
transaksi penjual tersebut kepada investor. Dengan demikian, perantara
pedagang efek ikut bertanggung jawab atas pemotongan Pajak Penghasilan
tersebut.
b. Penyelenggara bursa efek wajib menyetor Pajak Penghasilan tersebut ke bank
persepsi atau Kantor Pos selambat-lambatnya tanggal 20 (dua puluh) bulan
berikutnya setelah bulan terjadinya transaksi penjualan saham. Sebagai contoh,
untuk transaksi penjualan saham yang terjadi selama bulan September 1997,
Pajak Penghasilan yang telah dipotong oleh penyelenggara bursa efek harus
disetorkan selambat-lambatnya tanggal 20 Oktober 1997.
c. Penyelenggaraan bursa efek wajib menyampaikan laporan tentang pemotongan
dan penyetoran Pajak Penghasilan tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan
Pajak setempat selambat-lambatnya tanggal 25 (dua puluh lima) bulan yang
sama dengan bulan penyetoran.
Tata cara penyetoran dan pelaporan tambahan PPh yang terutang atas saham
pendiri (sebesar 0,5%), dilakukan sebagai berikut.
1) Emiten atas nama yang terutang sebesar 0,5% kepada Bank Persepsi atau
Kantor Pos:
a. Sebelum penjualan seham pendiri, selambat-lamabatnya tanggal 29
November 1997, apabila saham tersebut telah diperdagangan di bursa efek
sebelum tanggal 29 Mei 1997;
b. Sebelum penjualan saham pendiri, selambat-lambatnya satu bulan setelah
saham tersebut diperdagangkan di bursa efek pada atau setelah tanggal 29
Mei 1997.
2) Emiten wajib menyampaikan laporan mengenai penyetoran tambahan Pajak
Penghasilan yang terutang tersebut kepada Kepala Pelayaan Pajak setempat
selambat-lambatnya tanggal 20 (dua puluh) bulan berikutnya setelah bulan
penyetoran.
Laporan dimaksud sekurang-kurangnya berisikan:
a. Nama dan NPWP pemilik saham pendiri;
b. Nilai saham;
c. Pajak Penghasilan Terutang;
d. Tanggal penyetoran pajak;
Laporan penyetoran ini dilampiri dengan Surat Setoran Pajak (SSP) lembar ke
3.
3) Emiten wajib melaporkan kepada penyelenggaraan bursa efek bahwa atas
seluruh saham pendiri telah dibayarkan tambahan Pajak Penghasilan sebesar
0,5%, sehingga untuk selanjutnya transaksi penjualan saham pendiri hanya
dikenakan Pajak Penghasilan 0,1%.

Pengalihan Hak Atas Tanah dan/Atau Bangunan (Sejak 1 Januari 2009, baik
OP maupun Badan)

Orang pribadi atau badan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari
pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan wajib membayar sendiri Pajak
Penghasilan yang terutang ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro sebelum
akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang atas pengalihan hak
atas tanah dan/atau bangunan ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang,
apabila kepadanya dibuktikan oleh Orang pribadi atau badan dimaksud bahwa
kewajiban pelunasan telah dipenuhi dengan menyerahkan fotokopi Surat Setoran
Pajak yang bersangkutan dengan menunjukkan aslinya.

Modul Perpajakan

51

Jika transaksi pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dilakukan antara
pemegang hak kepada bendaharawan atau pejabat yang ditunjuk melakukan
pembayaran, maka Bendaharawan atau pejabat tersebut wajib menyetor Pajak
Penghasilan yang telah dipungut ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro
sebelum melakukan pembayaran kepada orang pribadi atau badan yang berhak
menerimanya atau sebelum tukar-menukar dilaksanakan.
Penyetoran pajak terutang dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak
atas nama orang pribadi atau badan yang menerima pembayaran atau yang
melakukan tukar-menukar. Bendaharawan atau pejabat dimaksud wajib
menyampaikan laporan mengenai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan
kepada Direktur Jenderal Pajak.

7.

Penghasilan yang diterima atau diperoleh dari Persewaan Tanah dan/atau


Bangunan

Dalam melaksanakan pemotongan Pajak Penghasilan pihak penyewa wajib:


Saat Terutang
Penyetoran
Pelaporan
PPh atas penghasilan dari Menyetor Pajak penghasilan Melaporkan pemotongan dan
persewaan tanah dan/atau yang terutang ke Bank penyetoran Pajak penghasilan
bangunan terutang pada Persepsi atau Kantor
yang terutang
saat
pembayaran
atau Pos dan Giro paling lambat ke Kantor Pelayanan Pajak
terutangnya sewa.
tanggal 10 (sepuluh) bulan paling lambat tanggal 20 (dua
takwin berikutnya
puluh) bulan takwin
setelah bulan pembayaran berikutnya
setelah
bulan
atau terutangnya sewa
pembayaran atau terutangnya
sewa

Dalam melaksanakan penyetoran sendiri Pajak Penghasilan, pihak yang


menyewakan berwajiban
Saat Terutang
Penyetoran
Pelaporan
PPh atas penghasilan dari Menyetor Pajak penghasilan Melaporkan pemotongan dan
persewaan tanah dan/atau yang terutang ke Bank penyetoran Pajak penghasilan
bangunan terutang pada Persepsi atau Kantor
yang terutang
saat
pembayaran
atau Pos dan Giro paling lambat ke Kantor pelayanan Pajak
terutangnya sewa.
tanggal 15 (lima belas) bulan paling lambat tanggal 20 (dua
takwin berikutnya
puluh) bulan takwin
setelah bulan pembayaran berikutnya
setelah
bulan
atau terutangnya sewa;
pembayaran atau terutangnya
sewa

Bagi Wajib Pajak yang semata-mata bergerak di bidang usaha persewaan tanah
dan atau bangunan tidak diwajibkan membayar Pajak Penghasilan Pasal 25.

8.

Usaha Jasa Kontruksi


Pelunasan Pajak Penghasilan yang bersifat final, dilakukan dengan:
a. Dipotong oleh Pengguna Jasa dalam hal Pengguna Jasa merupakan pemotong
pajak.
Terutang pada saat pembayaran
PPh Final yang dipotong = Tarif Pajak X jumlah pembayaran (tidak termasuk
PPN)
Pajak Penghasilan yang dipotong oleh Pengguna Jasa, disetorkan ke kas
Negara melalui Kantor Pos atau bank persepsi paling lama tanggal 10 (sepuluh)
bulan berikutnya setelah dilakukan pemotongan pajak
Pembayaran Pajak Penghasilan atau Penyetoran Pajak Penghasilan dilakukan
dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain yang
disamakan dengan Surat Setoran Pajak.

Modul Perpajakan

52

Pemotong Pajak Penghasilan memberikan tanda bukti pemotongan kepada


Penyedia Jasa yang dipotong Pajak Penghasilan setiap melakukan pemotongan.
Pemotongan pajak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa paling lama
20 (dua puluh) hari setelah bulan dilakukan pemotongan pajak atau penerimaan
pembayaran.
b. Disetor sendiri oleh Penyedia Jasa, dalam hal pengguna jasa bukan merupakan
pemotong pajak.
Terutang pada saat penerimaan pembayaran
PPh disetor sendiri =Tarif Pajak X jumlah penerimaan pembayaran (tidak
termasuk PPN).
pajak terutang tersebut disetor sendiri oleh Penyedia Jasa, maka penyetoran
dilakukan paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah
penerimaan pembayaran
Pembayaran Pajak Penghasilan atau Penyetoran Pajak Penghasilan dilakukan
dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain yang
disamakan dengan Surat Setoran Pajak.
Pemotong Pajak Penghasilan memberikan tanda bukti pemotongan kepada
Penyedia Jasa yang dipotong Pajak Penghasilan setiap melakukan pemotongan.
Pemotongan pajak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa paling lama
20 (dua puluh) hari setelah bulan dilakukan pemotongan pajak atau penerimaan
pembayaran
9.

Uang Pesangon yang Dibayarkan sekaligus


Uang manfaat pensiun; Tunjangan hari tua atau Jaminan Hari Tua yang dibayarkan
sekaligus
Pembayaran dianggap sekaligus jika sebagian atau seluruh pembayarannya dilakukan
dalam jangka waktu paling lama 2 tahun kalender. Pembayaran sekaligus meliputi;

Pembayaran sebanyak-banyaknya 20% dari manfaat pensiun yang dibayarkan


secara sekaligus pada saat Pegawai sebagai peserta pensiun atau meninggal dunia.

Pembayaran manfaat pensiun bulanan yang lebih kecil dari suatu jumlah tertentu
yang ditetapkan dari waktu ke waktu oleh Menteri Keuangan yang dibayarkan secara
sekaligus

Pengalihan Uang Manfaat Pensiun kepada perusahaan asuransi jiwa dengan


cara Dana Pensiun membeli anuitas seumur hidup.
Berikut ketentuan lainya mengenai PPh atas uang pesangon, uang manfaat pensiun,
tunjangan hari tua, dan jaminan hari tua yang dibayar sekaligus;

Dalam hal pemberi kerja mengalihkan Uang Pesangon secara bertahap atau
berkala kepada Pengelola Dana Pesangon Tenaga Kerja, Pegawai dianggap belum
menerima hak atas Uang Pesangon sehingga tidak terutang Pajak Penghasilan
Pasal 21 yang bersifat final. Pada saat Pengelola Dana Pesangon Tenaga Kerja
membayar Uang Pesangon kepada Pegawai, dilakukan pemotongan PPh pasal 21
yang bersifat final oleh Pengelola Dana Pesangon Tenaga Kerja.

Dalam hal terjadi pengalihan Uang Manfaat Pensiun kepada perusahaan


asuransi jiwa dengan cara Dana Pensiun membeli anuitas seumur hidup, pegawai
sebagai peserta dianggap telah menerima hak atas Uang Manfaat Pensiun yang
dibayarkan secara sekaligus sehingga terutang PPh pasal 21 yang bersifat final.
Pemotongan dilakukan oleh Dana Pensiun Pemberi Kerja atau Dana Pensiun
Lembaga Keuangan pada saat pembelian anuitas seumur hidup. Pada saat
perusahaan asuransi jiwa membayar Uang Manfaat Pensiun kepada Pegawai, tidak
dilakukan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21.

Pemotong wajib memberikan bukti potong baik dimainta maupun tidak pada saat
pemotongan kepada pegawai yang menerima penghasilan tesebut termasuk
pegawai yang dikenakan tarif 0%.

Modul Perpajakan

53

Saat Terutang
Terutang
pada
pembayaran.

10.

Penyetoran
saat PPh
Pasal
21
yang
dipotong oleh Pemotong
Pajak untuk setiap masa
wajib disetor ke Kantor Pos
atau bank persepsi, paling
lama 10 hari setelah Masa
Pajak berakhir.

Pelaporan
Pemotong
Pajak
wajib
melaporkan
pemotongan
dan penyetorannya dengan
menyampaikan SPT masa
PPh 21 paling lambat 20
hari setalah masa pajak
berakhir.

Pelayaran Dalam Negeri


Yang menjadi objek pajak adalah peredaran bruto yaitu semua imbalan atau nilai
pengganti berupa uang atau nilai uang yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
perusahaan pelayaran dalamnegeri dari pengangkutan orang dan/atau barang, termasuk
penghasilan penyewaan kapal yang dilakukan dari:
a. pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan lainnya di Indonesia;
b. pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan di luar Indonesia;
c. pelabuhan di luar Indonesia ke pelabuhan di Indonesia; dan
d. pelabuhan di luar Indonesia ke pelabuhan lainnya di luar Indonesia
Terminologi objek penyerahan jasa perkapalan, ditegaskan dalam Surat Dirjen Pajak
Nomor S - 852/PJ.341/2003 Tentang Penegasan Perlakuan PPh Atas Sewa Kapal,
bahwa dalam terminologi jasa angkutan kapal (lautan dan udara), dikenal beberapa jenis
charter/sewa, yaitu:
a. Sewa berdasarkan pemakaian ruang (space charter);
b. Sewa berdasarkan pemakaian waktu (time charter);
c. Sewa kapal tanpa awak (bareboat charter);
d. Sewa kapal dengan awak (fully-manned basis).
Apabila charter/sewa atas pemakaian ruang, waktu dan/atau sewa dengan awaknya dan
digunakan untuk pengangkutan orang dan atau barang yang dimuat dari satu pelabuhan
ke pelabuhan lain di Indonesia dan/atau dari pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan di
luar negeri, maka perlakuan perpajakannya sesuai ketentuan Pasal 15 UU PPh jo
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 417/KMK.04/1996 sebagaimana ditegaskan lebih
lanjut dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-32/PJ.4/1996. Namun
apabila charter/sewa kapal didasarkan atas sewa kapal tanpa awak, maka perlakuan
perpajakannya sesuai ketentuan Pasal 23 Ayat (1) huruf c UU PPh sebagai sewa aktiva
berwujud.
Pelunasan PPh yang terutang atas penyerahan jasa Perusahaan Pelayaran Dalam
Negeri dilakukan sebagai berikut :
a. Dalam hal penghasilan diperoleh berdasarkan perjanjian persewaan atau charter
dengan pemotong pajak, maka pihak yang membayar atau terutang hasil tersebut
wajib :
1) Memotong PPh yang terutang pada saat pembayaran atau terutangnya imbalan
atau nilai pengganti;
2) Memberikan Bukti Pemotongan PPh atas Penghasilan Perusahaan Pelayaran
Dalam Negeri (Final) kepada pihak yang menerima atau memperoleh
penghasilan
3) Menyetor PPh yang terutang ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro
selambat lambatnya 10 bulan berikutnya setelah bulan pembayaran atau
terutangnya imbalan, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP);
4) Melaporkan pemotongan dan penyetoran yang dilakukan ke Kantor Pelayanan
Pajak selambat-lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya setelah bulan
pembayaran atau terutangnya imbalan, dengan menggunakan SPT Masa PPh
Pasal 15 (Terlampir Lampiran XI _SPT Masa PPh Pasal 15) dilampiri dengan
Lembar ke-3 SSP dan Lembar ke-2 Bukti Pemotongan PPh atas Penghasilan
Perusahaan Pelayaran Dalam Negeri (Final) (Terlampir Lampiran XII-Bukti
Potong PPh Pasal 15).

Modul Perpajakan

54

b. Dalam hal penghasilan diperoleh selain sebagaimana dimaksud pada huruf a, maka
Wajib Pajak perusahaan pelayaran dalam negeri wajib:
1) Menyetor PPh yang terutang ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro
selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikut setelah bulan diterima atau
diperolehnya penghasilan, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP)
Final;
2) Melaporkan penyetoran yang dilakukan ke Kantor Pelayanan Pajak selambatlambatnya tanggal 20 bulan berikut setelah bulan diterima atau diperolehnya
penghasilan, dengan menggunakan bentuk SPT Masa PPh Pasal 15 (terlampirLampiran XI) dilampiri dengan lembar ke-3 SSP Final;
c. Dalam hal Wajib Pajak membayar pajak di Luar negeri (PPh Pasal 24), dapat
diperhitungkan dengan PPh, untuk masing-masing negara setinggi-tingginya 1,2%
(satu koma dua persen) dari penghasilan yang diterima atau diperolehnya diluar
negeri tersebut.
d. Dalam hal Wajib Pajak juga menerima atau memperoleh penghasilan lainnya selain
penghasilan di atas, maka atas penghasilan lainnya dikenakan PPh berdasarkan
ketentuan perpajakan yang berlaku.
Pelayaran atau Penerbangan Luar Negeri
Pelunasan atau pembayaran PPh Wajib Pajak perusahaan pelayaran dan/atau
Penerbangan luar negeri sebagaimana dimaksud pada butir 4 dilakukan sebagai berikut:
a. Dalam hal penghasilan diperoleh berdasarkan perjanjian charter, maka pihak yang
membayar atau pihak yang mencharter wajib :
1) Memotong PPh yang terutang pada saat pembayaran atau terutangnya
imbalan/nilaipengganti;
2) Memberikan Bukti pemotongan PPh atas Penghasilan Perusahaan Pelayaran
dan/atauPenerbangan luar negeri (final) kepada pihak yang menerima atau
memperoleh penghasilan;
3) Menyetor PPh yang terutang ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro
selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya setelah bulan pembayaran atau
terutangnya imbalan, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP).
4) Melaporkan pemotongan dan penyetoran yang dilakukan ke Kantor Pelayanan
Pajak selambat-lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya setelah bulan
pembayaran atau terutangnya imbalan, dengan menggunakan SPT Masa PPh
Pasal 15, dilampiri dengan Lembarke-3 SSP dan lembar ke-2 Bukti Pemotongan
PPh atas Penghasilan Perusahaan Pelayaran dan/atau Penerbangan Luar
Negeri (final).
b. Dalam hal penghasilan diperoleh selain diperoleh berdasarkan perjanjian charter,
maka Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran dan/atau Penerbangan luar Negeri Wajib:
1) Menyetor PPh yang terutang ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro
selambat lambatnya tanggal 15 bulan berikut setelah bulan diterima atau
diperolehnya penghasilan, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP)
Final:
2) Melaporkan penyetoran yang dilakukan ke Kantor Pelayanan Pajak selambat
lambatnya tanggal 20 bulan berikut setelah bulan diterima atau diperolehnya
penghasilan, dengan menggunakan SPT PPh Pasal 15 dilampiri dengan lembar
ke-3 SSP Final.
c. Dalam hal Wajib Pajak juga menerima atau memperoleh penghasilan lainnya selain
penghasilan dari penyerahan jasa pelayaran atau penerbangan, maka atas
penghasilan lainnya tersebut dikenakan PPh berdasarkan ketentuan yang berlaku.
11.

WP LN yang mempunyai kantor perwakilan dagang di Indonesia


Wajib Pajak Luar Negeri yang berasal dari negara yang belum mempunyai tax treaty
dengan Indonesia (Non Treaty Partner).

Modul Perpajakan

55

Saat Terutang
Terutang
pada
menerima penghasilan

Penyetoran
saat Wajib Pajak Luar Negeri
yang mempunyai Kantor
Perwakilan
Dagang
di
Indonesia wajib membayar
Pajak Penghasilan yang
terutang dalam suatu masa
Pajak ke bank persepsi atau
Kantor
Pos
dan
Giro
selambat-lambatnya tanggal
15 (lima belas) bulan berikut
setelah bulan diterima atau
diperolehnya
penghasilan,
dengan menggunakan satu
Surat Setoran Pajak (SSP)
Final

Pelaporan
Wajib Pajak Luar Negeri
yang mempunyai Kantor
Perwakilan
Dagang
di
Indonesia wajib melaporkan
pembayaran
Pajak
Penghasilan yang dilakukan
ke Kantor Pelayanan Pajak
selambat-lambatnya tanggal
20 (duapuluh) bulan berikut
setelah bulan diterima atau
diperolehnya
penghasilan,
dengan
menggunakan
bentuk sebagaimana pada
lampiran I dan dilampiri
dengan lembar ke-3 SSP
Final.

12.

Nilai bangunan yang diterima dalam rangka Bangun Guna Serah


sehubungan dengan berakhirnya masa perjanjian
Saat Terutang
Penyetoran
Pelaporan
Terutang pada saat terjadi Wajib Pajak Luar pajak yang melaporkan
pembayaran
transaksi.
menerima
penghasilan Pajak Penghasilan yang
mengenail Nilai Bangunan dilakukan
ke
Kantor
yang diterima dalam rangka Pelayanan Pajak selambatbangunan
guna
serah lambatnya
tanggal 20
suhubungan
dengan (duapuluh) bulan berikut
berakhirnya masa perjanjian,
menyetorkan pajak atas
transaksi tersebut ke kantor
pos atau bank persepsi
paling lambat tanggal 15
bulan berikutnya dengan
menggunakan SSP

13.

Honorarium/imbalan atas beban APBN/APBD yang diterima Pejabat Negara,


PNS, anggota TNI, POLRI dan Pensiunan.
Saat Terutang
Penyetoran
Pelaporan
Saat terutang adalah saat Menyetorkan Paling Lambat Pelaporan
dilakukan
Pejabat
Negara,
PNs Tanggal 15 Bulan Berikutnya Bendaharawan
yang
anggota TNI, POLRI dan
melakukan pemotngan paling
Pensiunan
Menerima
lambat tanggal 20 bulan
Honorium atau imbalan yang
berikutnya.
dimaksud
14.

Penyalur/Dealer/Agen Produk Pertamina dan Premix


Saat Terutang
Penyetoran
Pelaporan
Saat Terutang adalah saat Menyetorkan Paling Lambat Pelaporan dilakukan paling
Pihak
Pertamina Tanggal 15 Bulan Berikutnya lambat tanggal 20 bulan
Modul Perpajakan

56

Menyerahkan
Produk
Pertamina ke Penyalur/Agen
Dealer

berikutnya.

15.

Diskonto Surat Utang Negara (SPBN & ORI)


Penjual SPN berkewajiban memberitahukan kepada pemotong pajak mengenai harga
perolehan SPN yang sebenarnya, untuk keperluan penghitungan Diskonto yang menjadi
dasar pemotongan Pajak Penghasilan. Kewajiban penjual SPN untuk memberitahukan
kepada pemotong pajak mengenai harga perolehan SPN dan tanggal perolehan yang
sebenarnya untuk keperluan penghitungan diskonto yang menjadi dasar pemotongan
Pajak Penghasilan, dilakukan dengan menyerahkan lembar ke-4 Bukti Pemotongan
Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) dari pembelian SPN sebelumnya atau menyerahkan
fotokopi bukti pembelian di pasar perdana yang sah dalam hal SPN diperoleh di pasar
perdana. Apabila penjual SPN tidak memberitahukan data/informasi yang sebenarnya
kepada pemotong pajak, maka atas penghasilan berupa Diskonto SPN yang tidak atau
kurang diberitahukan, dikenakan Pajak Penghasilan sebagaimana mestinya dalam tahun
diketahuinya ketidakbenaran dimaksud ditambah dengan sanksi administrasi berupa
bunga.
Saat Terutang
Penyetoran
Pelaporan
Terutang
pada
tanggal Menyetor Pajak Penghasilan melaporkan pemotongan dan
transaksi saat penjualan
yang terutang ke Bank penyetoran
Pajak
SPN di Pasar Sekunder atau Persepsi atau Kantor
Penghasilan
ke
Kantor
pada tanggal saat jatuh Pos dan Giro paling lama Pelayanan Pajak dengan
tempo SPN
tanggal 10 (sepuluh) bulan menggunakan SPT Masa
berikutnya setelah
PPh Pasal 4 (2) (Terlampir
bulan pemotongan;
Lampiran X SPT Masa PPh
Pasal 4 ayat (2)) paling lama
tanggal 20 (dua puluh) bulan
berikutnya setelah bulan
pemotongan.
16.

Penjualan Saham Milik Perusahaan Modal Ventura


Saat Terutang
Penyetoran
Pelaporan
Terutang pada saat tanggal PPh Final atas penghasilan melaporkan pemotongan dan
transaksi penjualan saham perusahaan modal ventura penyetoran
Pajak
milik
perusahaan
modal dari
transaksi
penjualan Penghasilan
ke
Kantor
ventura
saham
atau
pengalihan Pelayanan Pajak dengan
penyertaan
modal
pada menggunakan SPT Masa
perusahaan
pasangan PPh Pasal 4 (2) paling lama
usahanya
disetorkan tanggal 20 (dua puluh) bulan
selambat-lambatnya tanggal berikutnya setelah bulan
15 masa pajak setelah pemotongan
terjadinya
transaksi
penjualan
saham,
dan
dilaporkan
dengan
menggunakan SPT Masa
PPh Pasal 4 (2) UU Pajak
Penghasilan, kecuali atas
saham-saham
yang
diperdagangkan di bursa
efek.
17.

WP yang melakukan kegiatan usaha jasa maklon (Contract Manufacturing)


Internasional di bidang produksi mainan anak-anak.

Modul Perpajakan

57

Saat Terutang
Penyetoran
Terutang pada saat selesai pembayaran pajak setiap
pembuatan/penjualan
bulan harus dilakukan paling
lambat tanggal 15 bulan
berikut
dengan
menggunakan Surat Setoran
Pajak (SSP) PPh final

Pelaporan
pelaporan pajak setiap bulan
harus
dilakukan
paling
lambat tanggal 20 bulan
berikut
dengan
menggunakan SSP PPh
Final lembar ke-3.

18.

Penghasilan dari usaha yang diterima oleh Wajib Pajak yang tidak melebihi
4,8 M dalam 1 Tahun
Saat Terutang
Penyetoran
Pelaporan
Terutang
pada
saat pembayaran pajak setiap pelaporan pajak setiap bulan
menerima penghasilan
bulan harus dilakukan paling harus
dilakukan
paling
lambat tanggal 15 bulan lambat tanggal 20 bulan
berikut
dengan berikut
dengan
menggunakan Surat Setoran menggunakan SSP PPh
Pajak (SSP)
Final lembar ke-3.
8.5 Contoh Soal
1.

PT.Rahardi Sport Center (Pengusaha Kena Pajak) yang memiliki gedung


kantor empat lantai menyewakan ruangan di lantai tiga gedung tersebut kepada PT.Gunung Abadi Jaya
dengannilai sewa 22.000.000 sebulan termasuk PPN, maka PPh Pasal 4 ayat (2) atas persewaan
gedung kantor tersebut adalah ?
Jawab :
Nilai sewa termasuk PPN = 22.000.000
DPP (100/110x22.000.000) =20.000.000
PPN (10% x 20.000.000) = 2.000.000
Objek PPh Pasal 4 ayat (2) = 20.000.000
PPh Pasal 4 ayat (2) : 20.000.000 x 10 % =2.000.000
Jurnal PT. Gunung Abadi Jaya
Beban Sewa
Rp22.000.000
Utang PPh Final
Kas
Jurnal PT. Rahardi Sport Center
Kas
Rp20.000.000
Beban PPh Final
Rp2.000.000
Penghasilan Sewa
PPN Keluaran

Rp2.000.000
Rp20.000.000

Rp20.000.000
Rp2.000.000

8.6 Soal Latihan


1.
Rizaldi dan Sofyan Maliki merupakan
pegawai PT Sabar Abadi. Pada akhir tahun 2010 perusahaan mengalami kesulitan
keuangan dan melakukan pengurangan pegawai. Pada 15 Januari 2011, Rizaldi dan
Sofyan Maliki terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh PT Sabar Abadi. Kedua
pegawai tersebut berhak mendapatkan uang pesangon sesuai dengan masa kerja
dimana masing-masing menerima uang pesangon sebesar Rp. 40 juta dan Rp. 300 juta
yang dibayarkan sekaligus kepada Rizaldi dan Sofyan Maliki pada 15 Januari 2011.
Bagaimana kewajiban pemotongan/pemungutan

Modul Perpajakan

58

2.

PT. ABC adalah Sebuah Perusahaan yang memiliki 2 gedung


yaitu gedung A dan B. Gedung B disewakan ke PT 234 seharga Rp 50.000.000 untuk
dijadikan tempat kegiatan usaha, Bagaimana kah Menghitung PPh yang terutang atas
transaksi tersebut.

Modul Perpajakan

59

BAB IX
PAJAK PENGHASILAN PASAL 24
Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan PPh Pasal
24, dasar perhitungan, tarif, cara menghitung dan akuntansi PPh Pasal 24.

9.1. Pengertian PPh Pasal 24


Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 24 merupakan pajak yang dibayar atau terutang di luar
negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam
negeri dan boleh dikreditkan terhadap pajak yang terutang dalam tahun pajak yang sama.
Pada dasarnya Wajib Pajak dalam negeri terutang pajak atas seluruh penghasilan, termasuk
penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri. Untuk meringankan beban pajak
ganda yang dapat terjadi karena pengenaan pajak atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh di luar negeri, ketentuan ini mengatur tentang perhitungan besarnya pajak atas
penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak
yang terutang atas seluruh penghasilan Wajib Pajak dalam negeri. Pajak atas penghasilan
yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang
terutang di Indonesia hanyalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak.
Contoh:
PT A di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Z Inc. di Negara X. Z Inc.
tersebut dalam tahun 1995 memperoleh keuntungan sebesar US$ 100,000.00. Pajak
Penghasilan yang berlaku di negara Z adalah 48% dan Pajak Dividen adalah 38%.
Penghitungan pajak atas dividen tersebut adalah sebagai berikut:
Keuntungan Z Inc
Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Z Inc. (48%)
Pajak atas dividen (38%)
Dividen yang dikirim ke Indonesia

US$ 100,000.00
US$ 48,000.00 (-)
US$ 52,000.00
US$ 19,760.00 (-)
US$ 32,240.00

Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan terhadap seluruh Pajak Penghasilan yang
terutang atas PT A adalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima
atau diperoleh di luar negeri, dalam contoh di atas yaitu jumlah sebesar US$ 19,760.00.
Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Z Inc. sebesar US$ 48,000.00 tidak dapat
dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang atas PT A, karena pajak sebesar US$
48,000.00 tersebut tidak dikenakan langsung atas penghasilan yang diterima atau diperoleh
PT A dari luar negeri, melainkan pajak yang dikenakan atas keuntungan Z Inc. di negara X.
9.2. Penghitungan Kredit Pajak Luar Negeri
Besarnya kredit pajak adalah sebesar pajak penghasilan yang dibayar atau terutang di luar
negeri tetapi tidak boleh melebihi penghitungan pajak yang terutang berdasarkan Undangundang ini. Untuk memberikan perlakuan pemajakan yang sama antara penghasilan yang
diterima atau diperoleh dari luar negeri dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh di
Indonesia, maka besarnya pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri dapat dikreditkan
terhadap pajak yang terutang di Indonesia tetapi tidak boleh melebihi besarnya pajak yang
dihitung berdasarkan Undang-undang ini.
Modul Perpajakan

60

Cara penghitungan besarnya pajak yang dapat dikreditkan:


a. Apabila dalam Penghasilan Kena Pajak terdapat penghasilan yang berasal dari luar
negeri, maka Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri atas
penghasilan tersebut dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang
di Indonesia.
b. Pengkreditan pajak dilakukan dalam tahun pajak digabungkannya penghasilan dari
luar negeri tersebut dengan penghasilan di Indonesia.
c. Jumlah kredit pajak paling tinggi sama dengan jumlah pajak yang dibayar atau
terutang di luar negeri, tetapi tidak boleh melebihi jumlah tertentu.
d. Jumlah tertentu dihitung menurut perbandingan antara penghasilan dari luar negeri
terhadap Penghasilan Kena Pajak dikalikan dengan pajak yang terutang atas
Penghasilan Kena Pajak, paling tinggi sama dengan pajak yang terutang atas
Penghasilan Kena Pajak dalam hal Penghasilan Kena Pajak lebih kecil dari
penghasilan luar negeri.
e. Apabila Penghasilan luar negeri berasal dari beberapa negara, maka penghitungan
Kredit pajak dilakukan untuk masing-masing negara.
f. Penghasilan Kena Pajak tidak termasuk Penghasilan yang dikenakan Pajak yang
bersifat final dan atau penghasilan yang dikenakan pajak tersendiri menurut
Undang-undang Pajak Penghasilan.
Dalam hal jumlah PPh yang dibayar atau terutang di luar negeri melebihi jumlah kredit pajak
yang diperkenankan, maka kelebihan tersebut tidak dapat diperhitungkan dengan Pajak
Penghasilan yang terutang tahun berikutnya, tidak boleh dibebankan sebagai biaya atau
pengurang penghasilan, dan tidak dapat dimintakan restitusi.
Dalam hal terjadi perubahan besarnya penghasilan yang berasal dari luar negeri, Wajib
Pajak harus melakukan pembetulan SPT untuk tahun pajak yang bersangkutan dengan
melampirkan dokumen yang berkenaan dengan perubahan tersebut. Dalam hal pembetulan
menyebabkan Pajak Penghasilan kurang dibayar, maka atas kekurangan tersebut tidak
dikenakan bunga sesuai Undang-undang Ketentuan Umum Perpajakan. Dalam hal
pembetulan menyebabkan Pajak Penghasilan lebih dibayar, maka atas kelebihan tersebut
dapat dikembalikan kepada Wajib Pajak setelah diperhitungkan dengan utang pajak lainnya.
Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikreditkan, sumber penghasilan
ditentukan sebagai berikut:
a. penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari pengalihan saham
dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang menerbitkan saham atau
sekuritas tersebut didirikan atau bertempat kedudukan;
b. penghasilan berupa bunga, royalti, dan sewa sehubungan dengan penggunaan harta
gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga, royalti, atau
sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada;
c. penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah
negara tempat harta tersebut terletak;
d. penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan adalah
negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut bertempat
kedudukan atau berada;
e. penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap tersebut
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan;
f. penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan atau tanda turut
serta dalam pembiayaan atau permodalan dalam perusahaan pertambangan adalah
negara tempat lokasi penambangan berada;
g. keuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara tempat harta tetap berada;
h. keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu bentuk usaha
tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap berada.
Modul Perpajakan

61

Dalam perhitungan kredit pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri
yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang menurut Undang-Undang ini,
penentuan sumber penghasilan menjadi sangat penting. Selanjutnya, ketentuan ini
mengatur tentang penentuan sumber penghasilan untuk memperhitungkan kredit pajak luar
negeri tersebut.
Mengingat Undang-Undang ini menganut pengertian penghasilan yang luas, maka
penentuan sumber dari penghasilan dipergunakan prinsip yang sama dengan prinsip
tersebut, misalnya A sebagai Wajib Pajak dalam negeri memiliki sebuah rumah di Singapura
dan dalam tahun 1995 rumah tersebut dijual. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan
rumah tersebut merupakan penghasilan yang bersumber di Singapura karena rumah
tersebut terletak di Singapura.
Apabila pajak atas penghasilan dari luar negeri yang dikreditkan ternyata kemudian
dikurangkan atau dikembalikan, maka pajak yang terutang menurut Undang-undang ini
harus ditambah dengan jumlah tersebut pada tahun pengurangan atau pengembalian itu
dilakukan. Apabila terjadi pengurangan atau pengembalian pajak atas penghasilan yang
dibayar di luar negeri, sehingga besarnya pajak yang dapat dikreditkan di Indonesia menjadi
lebih kecil dari besarnya perhitungan semula, maka selisihnya ditambahkan pada Pajak
Penghasilan yang terutang menurut Undang-undang ini.
Misalnya dalam tahun 1996, Wajib Pajak mendapat pengurangan pajak atas penghasilan
luar negeri tahun pajak 1995 sebesar Rp 5.000.000,00 yang semula telah termasuk dalam
jumlah pajak yang dikreditkan terhadap pajak yang terutang untuk tahun pajak 1995, maka
jumlah sebesar Rp5.000.000,00 tersebut ditambahkan pada Pajak Penghasilan yang
terutang dalam tahun pajak 1996.
Permohonan Kredit Pajak Luar Negeri
Untuk melaksanakan pengkreditan pajak luar negeri, Wajib Pajak wajib menyampaikan
permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan melampirkan:
1. laporan Keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri;
2. fotocopy Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri;
3. dokumen pembayaran pajak di luar negeri.
Permohonan kredit pajak luar negeri tersebut harus disampaikan bersamaan dengan
penyampaian
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. Namun, atas
permohonan Wajib Pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat memperpanjang jangka waktu
penyampaian lampiran-lampiran permohonan tersebut karena alasan-alasan di luar
kemampuan Wajib Pajak (force majeur).
9.3. Kredit Pajak Luar Negeri (LAMPIRAN KHUSUS 7A/7B DALAM SPT TAHUNAN)
Diisi dengan rincian bukti pemotongan/pembayaran PPh yang terutang di luar
negeri dengan didukung laporan keuangan penghasilan dari luar negeri, fotokopi
Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri, dan fotokopi dokumen
pembayaran pajak di luar negeri. Tata cara penghitungan agar mengacu pada
Pasal 24 UU PPh jo. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 164/KMK.03/2002
tanggal 19 April 2002.
-

Pengkreditan PPh yang terutang/dibayar di luar negeri terhadap PPh yang terutang
di Indonesia adalah mana yang lebih kecil antara jumlah yang sebenarnya atau
jumlah tertentu yang dihitung berdasarkan formula sebagai berikut:

Modul Perpajakan

62

Jumlah Penghasilan dari LN


----------------------------------

Total PPh Terutang

Penghasilan Kena Pajak


- Dalam hal penghasilan yang diterima/diperoleh di luar negeri berasal dari beberapa

negara, maka penghitungan kredit pajak berdasarkan formula tersebut dilakukan


untuk masing-masing negara (ordinary credit per country basis). Penghasilan kena
pajak dalam formula tersebut tidak termasuk Pajak yang bersifat final sebagaimana
dimaksud Pasal 4 ayat (2), Pasal 8 ayat (1) dan ayat (4) UU PPh.
PENGHITUNGAN KREDIT PAJAK LUAR NEGERI WAJIB PAJAK BADAN
Contoh Soal 1
PT Abadi di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam thn 2015 sbb:
Penghasilan dalam negeri
Rp 1.000.000.000
Penghasilan luar negeri
Rp 1.000.000.000
(dengan tarif pajak 20 %)
Penghitungan jumlah maksimum kredit pajak luar negeri adalah:
1. Penghasilan dalam negeri
Rp 1.000.000.000
Penghasilan luar negeri
Rp 1.000.000.000
Jumlah penghasilan neto

Rp.2.000.000.000

2. Apabila jumlah penghasilan neto sama dengan Penghasilan Kena Pajak, maka
sesuai dengan tarif Pasal 17, pajak Penghasilan yang terutang adalah:
25 % x Rp
2.000.000.000 =
Rp 500.000.000
3. Batas maksimum kredit pajak luar negeri adalah:
Rp 1.000.000.000,00
x Rp 500.000.000 Rp 250.000.000
Rp 2.000.000.000,00

Oleh karena itu batas maksimum kredit pajak luar negeri sebesar Rp 250.000.000
lebih besar dari jumlah pajak luar negeri yang terutang atau dibayar di luar negeri
yaitu sebesar Rp 200.000.000,00 (20 % x Rp 1.000.000.000,00), maka jumlah
kredit pajak luar negeri yang diperkenankan adalah Rp 200.000.000,00.
Jurnal
Jurnal pada saat penerimaan penghasilan luar negeri
Kas
Pajak Dibayar Dimuka
Pendapatan dividen

800.000.000
200.000.000

Jurnal pada saat penghitungan PPh akhir tahun


Beban Pajak
500.000.000
Utang Pajak
Pajak Dibayar Dimuka PPh 24

1.000.000.000

300.000.000
200.000.000

Contoh Soal 2

Modul Perpajakan

63

Asumsikan semua penghasilan sama dengan soal 1 namun tarif pajak luar negeri yang
berlaku adalah 30% dari penghailan luar negeri sebesar Rp1.000.000.000,00 maka
jumlah pajak yang dipotong diluar negeri adalah Rp3000.000.000.
Oleh karena itu batas maksimum kredit pajak luar negeri sebesar Rp 250.000.000 lebih
kecil dari jumlah pajak luar negeri yang terutang atau dibayar di luar negeri yaitu sebesar
Rp300.000.000,00 (30 % x Rp 1.000.000.000,00), maka jumlah kredit pajak luar negeri
yang diperkenankan adalah Rp 250.000.000,00
Penghitungan Kredit Pajak Luar Negeri WP Orang Pribadi
Seperti pada contoh diatas, apabila penghasilan dari dalam negeri diperoleh oleh
Wajib Pajak orang pribadi, untuk menghitung penghasilan kena pajak harus dikurangi
terlebih dahulu dengan penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Oleh karena itu,
penghasilan PPh pasal 24 menjadi sebagai berikut:
Penghasilan dari luar negeri sebesar Rp1.000.000.000,00 dengan tarif pajak 20%.
Penghasilan dalam negeri sebesar Rp1.000.000.000,00 pada Tahun 2015
1. Penghasilan neto
Rp 2.000.000.000,00
PTKP (K/3)
(Rp. 48.000.000,00) +
Penghasilan Kena Pajak
Rp. 1.952.000.000,00
2. Pajak penghasilan terutang sesuai tarif Pasal 17
5 % x Rp
50.000.000,00 =
Rp
1.250.000,00
15 % x Rp 200.000.000,00 =
Rp
2.500.000,00
25 % x Rp 250.000.000,00 =
Rp 25.000.000,00
30 % x Rp 1.452.000.000,00 =
Rp 435.600.000,00
Jumlah Pajak Terutang
Rp 464.350.000,00
3. Batas maksimum kredit pajak luar negeri adalah:
Rp 1.000.000.000,00
x Rp 464.350.000,00 Rp 2 37.884.221,00
Rp 1.952.000.000,00

Pajak yang terutang atau dibayar di luar negeri Rp 200.000.000,00 ternyata masih
lebih kecil dibanding batas maksimumnya (Rp237.884.221,00). Oleh karena itu, jumlah
kredit pajak luar negeri (Pasal 24) yang diperkenankan adalah Rp 200.000.000,00.
Jurnal
Jurnal saat pembayaran gaji
Gaji
1.000.000.000
Kas
962.115.779
Hutang Pajak
37.884.221
Jurnal saat penghitungan PPh akhir tahun
Beban Pajak
Pajak Dibayar Dimuka PPh 24
Hutang Pajak

237.884.221
200.000.000
37.884.221

9.4. Soal Latihan


1. PT Agung Sakti di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Zinc, di Amerika
Serikat. Zinc tersebut dalam tahun 2013 memperoleh keuntungan sebesar US$
200.000,00. Pajak Penghasilan yang berlaku di Amerika Serikat sebesar 48% dan Pajak
Dividen adalah 38%. Berapa Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan.
2. PT Abadi di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2013 sebagai berikut:
Penghasilan dalam negeri
Rp 200.000.000,00
Modul Perpajakan

64

Penghasilan luar negeri


(dengan tarif pajak 30 %)

Rp 400.000.000,00

3. Bapak Adi dengan PTKP K/0 di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2013
sebagai berikut:
Penghasilan dalam negeri
Rp 100.000.000,00
Penghasilan luar negeri
Rp 200.000.000,00
(dengan tarif pajak 40 %)

Modul Perpajakan

65

BAB X
KOREKSI FISKAL (PENYESUAIN FISKAL)
Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat menghitung dan
mengoreksi laporan keuangan sesuai peraturan perpajakan.

10.1 Pengertian Koreksi Fiskal


Koreksi fiskal (penyesuaian fiskal) adalah koreksi atau penyesuaian yang harus dilakukan
oleh Wajib Pajak sebelum menghitung Pajak Penghasilan (PPh) bagi wajib pajak badan dan
wajib pajak orang pribadi (yang menggunakan pembukuan dalam menghitung penghasilan
kena pajak). Koreksi fiskal terjadi karena adanya perbedaan perlakuan/pengakuan
penghasilan maupun biaya antara akuntansi komersial dengan akuntansi pajak.
10.2 Pembagian Koreksi Fiskal
Penyesuaian fiskal terdiri dari :
1) Koreksi karena perbedaan waktu
Beda Waktu merupakan perbedaan metode perhitungan pendapatan dan/atau biaya
tiap tahun atau tahun buku yang digunakan antara komersial dengan fiskal.
Dengan demikian total biaya atau pendapatan menurut komersial dan fiskal adalah
sama besar, yang berbeda adalah lamanya waktu pengalokasian pendapatan dan
atau biaya tersebut.
Contoh :
- Biaya Penyusutan atau amortisasi
- Penilaian persediaan
2) Koreksi karena perbedaan tetap
Koreksi beda tetap timbul karena adanya perbedaan pengakuan pendapatan antara
komersial dan fiskal.
Koreksi beda tetap terdiri dari:
a. Beda tetap atas penghasilan yang bukan objek PPh
Seperti bantuan, sumbangan, harta hibahan yang diterima sepanjang tidak ada
hubungan usaha dengan pekerjaan, kepemilikan atau pengusaan antara pihakpihak yang bersangkutan dan dari pemerintah.
b. Beda tetap murni, yaitu:
- Biaya yang dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, memelihara
penghasilan yang bukan objek pajak.
- Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan/jasa yang diberikan
dalam bentuk natura/kenikmatan.
- Sanksi administrasi berupa bunga, denda atau kenaikan
- PPh Pasal 23/26 yang ditanggung oleh perusahaan.
c. Beda tetap yang disebabkan tidak dipenuhinya syarat-syarat khusus, yaitu:
- Berhubungan dengan kegiatan langsung perusahaan
- Adanya bukti pendukung yang kuat
- Karena lokasi
- Penggunaan praktek-praktek akuntansi yang tidak sehat.
3) Koreksi karena pengenaan pajak final
Koreksi ini terdiri dari:
Modul Perpajakan

66

Pendapatan yang telah dipotong pajak final oleh pihak yang membayarakan
penghasilan seperti pendapatan bunga deposito, pendapatan jasa giro,
penghasilan sewa tanah dan atau bangunan, pendapatan karena pengalihan hak
atas tanah dan/atau bangunan (khusus untuk WP Badan real estate dan OP).
Biaya untuk mendapatkan, memelihara, menagih penghasilan yang telah
dikenakan PPh final seperti biaya yang berhubungan dengan penghasilan dari
sewa tanah dan atau bangunan, biaya yang berhubungan dengan penghasilan
dari pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan.

Penyesuaian Fiskal, terdiri dari:


1. Penyesuaian fiskal positif
Yang dimaksud dengan penyesuaian fiskal positif adalah penyesuaian terhadap
penghasilan neto komersial (di luar unsur penghasilan yang dikenai PPh final dan yang
tidak termasuk Objek Pajak) dalam rangka menghitung PKP berdasarkan UU PPh
beserta peraturan pelaksanaannya, yang bersifat menambah penghasilan dan/atau
mengurangi biaya-biaya komersial.
Penyesuaian Fiskal positif, terdiri dari:
a. pengeluaran perusahaan untuk pembelian/perbaikan rumah atau kendaraan
pribadi, biaya perjalanan pribadi/keluarga, biaya premi asuransi pribadi/keluarga,
dan pengeluaran lainnya untuk kepentingan pemegang saham, sekutu, atau
anggota, tidak dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan.
b. pembentukan atau pemupukan dana cadangan secara fiskal tidak dapat
dibebankan sebagai biaya perusahaan. Namun untuk jenis-jenis usaha tertentu
yang secara ekonomis memang diperlukan adanya cadangan untuk menutup
beban atau kerugian yang akan terjadi di kemudian hari, secara fiskal
diperkenankan, yang terbatas pada:
1) cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan
pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang;
2) cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang
dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;
3) cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan;
4) cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;
5) cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan
6) cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah
industri untuk usaha pengolahan limbah industri.
c. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan
dalam bentuk natura dan kenikmatan (benefit in-kind) bukan merupakan
penghasilan bagi pegawai yang bersangkutan.
d. pembayaran gaji, honorarium, dan imbalan lain sehubungan dengan pekerjaan
atau jasa yang diberikan kepada pemegang saham atau pihak yang mempunyai
hubungan istimewa, dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sepanjang
jumlahnya tidak melebihi kewajaran.
e. bantuan atau sumbangan dan harta hibahan yang diterima oleh badan keagamaan,
badan pendidikan, badan sosial, atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan, bukan merupakan penghasilan sepanjang tidak
terdapat hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihakpihak yang bersangkutan.
Zakat atas penghasilan yang dibayar oleh Wajib Pajak Badan dalam
negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak, dengan syarat:
Modul Perpajakan

67

f.
g.

h.
i.
j.

k.

Penghasilan yang dikenai zakat merupakan Objek Pajak yang telah dilaporkan
dalam SPT Tahunan;
Pembayaran zakat dilakukan kepada Badan Amil Zakat (BAZ) atau Lembaga
Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk atau disahkan pembentukannya oleh
Pemerintah Pusat/Daerah;
Dengan demikian zakat atas harta selain penghasilan dan zakat atas
penghasilan yang tidak memenuhi persyaratan tersebut tidak dapat dibebankan
sebagai biaya perusahaan (perlakuan pajaknya sama dengan sumbangan).
PPh badan serta kredit pajak bukan merupakan biaya perusahaan.
bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan
kongsi bukan merupakan penghasilan. Oleh karena itu sesuai dengan prinsip
taxability and deductibility, bagi perseroan komanditer tersebut pembayaran gaji
kepada para anggotanya tidak dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan.
sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan, serta sanksi pidana
berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di
bidang perpajakan bukan merupakan biaya perusahaan.
Penyesuaian Penyusutan dan Amortisasi Fiskal.
Penyesuaian berdasarkan Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 138 Tahun 2000,
dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak dapat ditetapkan saat pengakuan biaya
dalam hal-hal tertentu dan bagi Wajib Pajak tertentu sesuai dengan kebijaksanaan
Pemerintah.
Penyesuaian berdasarkan ketentuan umum Pasal 4 dan Pasal 6 UU PPh beserta
peraturan pelaksanaannya, dalam hal:
terdapat penghasilan yang tidak diakui secara komersial akan tetapi termasuk
Objek Pajak yang dikenai PPh tidak bersifat final;
terdapat biaya-biaya perusahaan lainnya atau kerugian yang diakui secara
komersial akan tetapi tidak dapat diakui secara fiskal;
terdapat kerugian usaha di luar negeri baik melalui bentuk usaha tetap (BUT)
ataupun bukan BUT, setelah dilakukan penyesuaian fiskal positif dan negatif.

2. Penyesuaian Fiskal Negatif


Yang dimaksud dengan penyesuaian fiskal negatif adalah penyesuaian terhadap
penghasilan neto komersial (di luar unsur penghasilan yang dikenai PPh final dan yang tidak
termasuk Objek Pajak) dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak berdasarkan UU
PPh beserta peraturan pelaksanaannya, yang bersifat mengurangi penghasilan dan/atau
menambah biaya-biaya komersial.
a.

Penyesuaian berdasarkan Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 138 Tahun 2000,


dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak dapat ditetapkan saat pengakuan
penghasilan dalam hal-hal tertentu dan bagi Wajib Pajak tertentu sesuai dengan
kebijaksanaan Pemerintah.

b.

Penyesuaian berdasarkan ketentuan umum Pasal 6 UU PPh beserta peraturan


pelaksanaannya, dalam hal terdapat biaya-biaya perusahaan lainnya atau kerugian
yang tidak diakui secara komersial akan tetapi dapat diakui secara fiskal, antara lain :
1) Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat :
(a) Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
(b) Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada
Direktorat Jenderal Pajak; dan

Modul Perpajakan

68

(c) Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi
pemerintah yang menangani piutang negara; atau adanya perjanjian tertulis
mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur
yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau
khusus; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan
untuk jumlah utang tertentu;
(d) Syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan
piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)
huruf k;
2) Kompensasi atas kerugian apabila penghasilan bruto setelah pengurangan
sebagaimana dimaksud pada Pasal 6 ayat 1 undang-undang PPh didapat kerugian.
Kompensasi kerugian tersebut dapat dilakukan paling lama sampai dengan 5 tahun
dari tahun pajak saat terjadi kerugian.

Bentuk Kertas Kerja Rekonsiliasi Fiskal


Sampai saat ini belum ada bentuk baku kertas kerja rekonsiliasi fiskal. Dibawah ini
disajikan bentuk kertas kerja yang sering digunakan dalam bentuk sehari-hari :
PT ABC
Rekonsiliasi fiskal
Laba komersial sebelum pajak ..........................
xxx
Ditambah koreksi positif:
- Sumbangan. ...... xxx
- Iklan dan promisi....... xxx
- Kenikmatan........ xxx
- Biaya dalam bentuk natura...... xxx
- Biaya pemeliharaan gedung yang disewakan . xxx
- Biaya penyusutan ..... xxx
- Biaya penyisihan kerugian piutang...... xxx
Dikurangi koreksi negatif:
- Biaya penyusutan.
- Pendapatan sewa gedung..
- Pendapatan deviden..
- Pendapatan bunga deposito..
- Pendapatan Jasa giro
- Biaya piutang tak tertagih...........................................
- Kompensasi kerugian.................................................
Laba/rugi fiskal sebelum pajak

Modul Perpajakan

xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx

69

BAB XI
PSAK NOMOR 46
AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN
Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat mengetahui
pelaporan pajak penghasilan

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 46 Akuntansi Pajak Penghasilan


merupakan adopsi dari IAS 12 Accounting for Income Taxes. PSAK 46 berfokus pada pajak
penghasilan perusahaan yakni beban pajak penghasilan dan pajak tangguhan.
PSAK 46 (2013): Pajak Penghasilan mengadopsi IAS 12I ncome Taxesper efektif 1 Januari
2013 kecuali:
1. IAS 12 paragraf 8998 tentang tanggal efektif tidak diadopsi karena tidak relevan.
2. IAS 12 paragraf 99 tentang penarikan standar lain tidak diadopsi karena tidak
relevan.
3. PSAK 46 menambahkan Dasar Kesimpulan tentang latar belakang pencabutan
pengaturan pajak penghasilan final dan pengaturan hal khusus.
Secara umum perbedaan PSAK 46 (2013): Pajak penghaslian dengan PSAK 46 (2010):
Pajak penghasilanadalah sebagai berikut

11. 1 Pendahuluan
PSAK 46 bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi untuk pajak penghasilan.
Masalah utama dalam perlakuan akuntansi untuk pajak penghasilan adalah bagaimana
menghitung konsekuensi pajak kini dan masa depan untuk hal-hal berikut ini:
(a) pemulihan (penyelesaian) jumlah tercatat aset (liabilitas) di masa depan yang
diakui pada laporan posisi keuangan entitas.
Modul Perpajakan

70

(b) transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian lain pada periode kini yang diakui
pada laporan keuangan entitas.
11.2 Pengakuan
Pengakuan aset atau liabilitas pada laporan keuangan, mengandung makna bahwa
entitas pelapor mempunyai harapan untuk memulihkan atau menyelesaikan jumlah
tercatat aset atau liabilitas tersebut. Jika besar kemungkinan pemulihan dan
penyelesaian jumlah tercatat tersebut akan menimbulkan pembayaran pajak masa
depan lebih besar (lebih kecil) dari yang seharusnya dibanding seandainya pemulihan
atau pelunasan tersebut tidak mempunyai konsekuensi pajak, Pernyataan ini
mensyaratkan entitas untuk mengakui liabilitas pajak tangguhan (aset pajak tangguhan)
dengan batas pengecualian terbatas tertentu.
Pengakuan Aset Pajak Kini Dan Liabilitas Pajak Kini
Jumlah pajak kini untuk periode kini dan periode sebelumnya yang belum dibayar diakui
sebagai liabilitas. Apabila jumlah pajak yang telah dibayar untuk periode kini dan
periode-periode sebelumnya melebihi jumlah pajak yang terutang untuk periode-periode
tersebut, maka selisihnya diakui sebagai aset. Manfaat yang berkaitan dengan rugi
pajak yang dapat ditarik kembali untuk memulihkan pajak kini dari periode sebelumnya
harus diakui sebagai aset.
Pengakuan Aset Pajak Tangguhan Dan Liabilitas Pajak Tangguhan
Pada saat entitas memiliki Laba sebelum pajak lebih besar dari Penghasilan
kena pajak maka ada pengakuan pajak menurut akuntansi sehingga diakui
beban pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan.
Pada saat entitas memiliki Laba sebelum pajak lebih kecil Penghasilan kena
pajak maka pajak yang dibayarkan lebih besar daripada laba menurut akuntansi
sehingga diakui aset pajak tangguhan dan manfaat pajak tangguhan.
Perusahaan memiliki kerugian yang dapat dikompensasikan di masa mendatang
maka manfaat tersebut diakui pada saat kerugian tersebut terjadi atau Aset
pajak tangguhan dan manfaat pajak tangguhan.
Aset pajak tangguhan direview untuk memastikan bahwa manfaat di masa
mendatang akan diperoleh entitas
Perbedaan Temporer Kena Pajak
Semua perbedaan temporer kena pajak diakui sebagai liabilitas pajak tangguhan,
kecuali jika timbul perbedaan temporer kena pajak yang berasal dari:
(a) pengakuan awal goodwill; atau
(b) pengakuan awal aset atau liabilitas dari suatu transaksi yang:
(i) bukan transaksi kombinasi bisnis; dan
(ii) pada saat transaksi, tidak mempengaruhi laba akuntansi dan laba kena pajak
(rugi pajak).
Aset pajak tangguhan diakui untuk seluruh perbedaan temporer dapat dikurangkan
sepanjang kemungkinan besar laba kena pajak akan tersedia sehingga perbedaan
temporer dapatdimanfaatkan untuk mengurangi laba dimaksud, kecuali jika aset pajak
tangguhan timbul dari pengakuan awal aset atau pengakuan awal liabilitas dalam
transaksi yang:
a) bukan merupakan kombinasi bisnis; dan
b) pada saat transaksi, dampaknya tidak mempengaruhi laba akuntansi maupun
laba kena pajak (rugi pajak).
InvestasipadaEntitasAnak,Cabang,danEntitasAsosiasiatauBagianPartisipasidala
mPengaturanBersama

Modul Perpajakan

71

Entitas mengakui liabilitas pajak tangguhan untuk semua perbedaan temporer kena
pajak terkait dengan investasi pada entitas anak, cabang dan asosiasi, serta bagian
partisipasi dalam pengaturan bersama, kecuali sepanjang kedua kondisi berikut
terpenuhi:
a) entitas induk, investor, atau venturer bersama atau operator bersama mampu
mengendalikan waktu pembalikan perbedaan temporer; dan
b) kemungkinan besar perbedaan temporer tidak akan dibalik dimasa depan yang
dapat diperkirakan.
Entitas mengakui aset pajak tangguhan untuk semua perbedaan temporer dapat
dikurangkan yang timbul dari investasi pada entitas anak, cabang dan entitas
asosiasi, serta bagian partisipasi dalam ventura pengaturan bersama sepanjang,
dan hanya sepanjang, kemungkinan besar terjadi:
a) perbedaan temporer akan dibalik di masa depan yang dapat diperkirakan;
dan
b) laba kena pajak akan tersedia dalam jumlah yang memadai sehingga
perbedaan temporer dapat dimanfaatkan.
Pengakuan Awal Aset atau Liabilitas
Perbedaan temporer mungkin timbul pada saat pengakuan awal suatu aset atau
liabilitas. Metode akuntansi untuk perbedaan temporer tersebut, bergantung dari sifat
transaksi yang menyebabkan dilakukannya pengakuan awal aset atau liabilitas:
(a) dalam suatu kombinasi bisnis, entitas mengakui liabilitas atau aset pajak tangguhan,
dan pengakuan ini mempengaruhi jumlah goodwill atau keuntungan penawaran
pembelian yang diakui ;
(b) apabila transaksi tersebut mempengaruhi baik laba akuntansi maupun laba kena
pajak, maka entitas mengakui aset atau liabilitas pajak tangguhan dan mengakui
beban atau penghasilan pajak tangguhan dalam laporan laba rugi.
(c) apabila transaksi tersebut bukan kombinasi bisnis dan tidak mempengaruhi baik laba
akuntansi maupun laba kena pajak maka entitas hendaknya tidak melanggar dari
pengecualian, yang mengakui timbulnya aset atau liabilitas pajak tangguhan dan
menyesuaikan jumlah tercatat aset atau liabilitas dengan jumlah yang sama.
Penyesuaian semacam itu akan membuat laporan keuangan kurang transparan.
Karenanya, Pernyataan ini tidak mengizinkan entitas mengakui timbulnya aset atau
liabilitas pajak tangguhan baik pengakuan awal maupun sesudahnya. Selanjutnya,
entitas tidak mengakui perubahaan selanjutnya pada aset atau liabilitas pajak
tangguhan yang belum diakui pada saat aset tersebut disusutkan.
Contoh:
Biaya perolehan aset 150 memiliki jumlah tercatat sebesar 100. Akumulasi penyusutan
untuk tujuan pajak adalah 90 dan tarif pajak 25%. Dasar pengenaan pajak aset
adalah 60 (biaya perolehan aset 150 dikurangi akumulasi penyusutan pajak 90).
Untuk memulihkan jumlah tercatat 100, maka entitas harus memperoleh laba kena
pajak sebesar 100, tetapi hanya akan mampu mengurangi penyusutan pajak sebesar
60. Akibatnya, entitas akan membayar pajak penghasilan sebesar 10 (40 x 25%)
apabila dapat memulihkan jumlah tercatat aset. Perbedaan antara jumlah tercatat
sebesar 100 dan dasar pengenaan pajak sebesar 60 adalah perbedaan temporer
kena pajak sebesar 40. Oleh karena itu, entitas mengakui liabilitas pajak tangguhan
sebesar 10 (40 x 25%) menggantikan pajak penghasilan yang akan dibayarkan
apabila dapat memulihkan jumlah tercatat aset tersebu.
Perbedaan Temporer Dapat Dikurangkan
Aset pajak tangguhan diakui untuk seluruh perbedaan temporer dapat dikurangkan,
sepanjang kemungkinan besar bahwa laba kena pajak akan tersedia dalam jumlah
yang cukup memadai sehingga perbedaan temporer dapat dikurangkan tersebut dapat
dimanfaatkan, kecuali jika aset pajak tangguhan timbul dari pengakuan awal aset atau
Modul Perpajakan

72

pengakuan awal liabilitas dalam transaksi yang:


(a) bukan dari transaksi kombinasi bisnis; dan
(b) pada saat transaksi, tidak mempengaruhi baik laba akuntansi maupun laba kena
pajak (rugi pajak)
Pengakuan Pajak Kini Dan Pajak Tangguhan
Perlakuan akuntansi untuk pajak kini dan pajak tangguhan yang berasal dari suatu
transaksi atau kejadian lain harus konsisten dengan perlakuan akuntansi untuk
transaksi atau kejadian itu sendiri.
Pos-pos yang Diakui dalam Laporan Laba Rugi
Pajak kini dan pajak tangguhan diakui sebagai penghasilan atau beban pada laporan
laba rugi untuk periode, kecuali apabila pajak penghasilan yang berasal dari:
(a) suatu transaksi atau kejadian yang diakui, pada periode yang sama atau berbeda, di
luar laporan laba rugi baik dalam pendapatan komprehensif lain maupun secara
langsung dalam ekuitas. atau
(b) kombinasi bisnis .
11.3 Pengukuran
Liabilitas (aset) pajak kini untuk periode kini dan periode sebelumnya diukur sebesar jumlah
yang diharapkan untuk dibayar (direstitusi) kepada otoritas perpajakan, yang dihitung
menggunakan tarif pajak (peraturan pajak) yang telah berlaku atau yang telah secara
substantif berlaku pada periode pelaporan.
Aset dan liabilitas pajak tangguhan harus diukur dengan menggunakan tarif pajak yang akan
berlaku pada saat aset dipulihkan atau liabilitas diselesaikan, yaitu dengan tarif pajak yang
telah berlaku atau yang telah secara substantif berlaku pada periode pelaporan.
11.4 Penyajian
Entitas melakuan saling hapus atas aset pajak kini dan liabilitas pajak kini jika dan
hanya jika, entitas:
(a) memiliki hak secara hukum untuk melakukan saling hapus jumlah yang diakui; dan
(b) berniat untuk menyelesaikan dengan dasar neto, atau merealisasikan aset dan
menyelesaikan liabilitas secara bersamaan.
Beban (Penghasilan) Pajak Terkait dengan Laba Rugi dari Aktivitas Normaldisajikan
tersendiri pada laporan laba rugi komprehensif.
11.5 Pengungkapan
Komponen utama beban (penghasilan) pajak diungkapkan secara terpisah.
Komponen beban (penghasilan) pajak meliputi:
a) beban (penghasilan) pajak kini;
b) penyesuaian yang diakui pada periode atas pajak kini yang berasal dari periode
sebelumnya;
c) jumlah beban (penghasilan) pajak tangguhan baik yang berasal dari timbulnya
perbedaan temporer maupun dari realisasinya;
d) jumlah beban (penghasilan) pajak tangguhan terkait dengan perubahan tarif pajak
atau penerapan peraturan perpajakan yang baru;
e) jumlah manfaat yang ditimbulkan dari rugi pajak yang tidak diakui sebelumnya,
kredit pajak atau perbedaan temporer periode sebelumnya yang digunakan untuk
mengurangi beban pajak kini;
f) jumlah manfaat dari rugi pajak yang tidak diakui sebelumnya, kredit pajak, atau
perbedaan temporer periode sebelumnya yang digunakan untuk mengurangi beban
pajak tangguhan;
Modul Perpajakan

73

g)
h)

beban pajak tangguhan ditimbulkan dari penurunan (write-down), atau penyesuaian


kembali penurunan terdahulu atas aset pajak tangguhan; dan
jumlah beban (penghasilan) yang berhubungan dengan perubahan kebijakan
akuntansi dan kesalahan yang diperhitungkan dalam laporan laba rugi .
Apabila nilai tercatat aset atau liabilitas yang berhubungan dengan pajak penghasilan
final berbeda dari dasar pengenaan pajaknya maka perbedaan tersebut tidak diakui
sebagai aset atau liabilitas pajak tangguhan.

11.6 Ilustrasi
Pada 31 Desember 20X1 nilai intrinsik penghargaan pengganti 120. Entitas A
mengakui aset pajak tangguhan 48 (120 X 40%). Entitas A mengakui pajak
penghasilan tangguhan 16 (48-32) dari penambahan pada nilai intrinsik penghargaan
pengganti. Penjurnalan akuntansi adalah sebagai berikut:
Dr
Cr

Aset pajak tangguhan


Pajak penghasilan tangguhan

Modul Perpajakan

Rp 16
Rp 16

74

BAB XII
PPN DAN PPn BM
(1)
Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat mengetahui kreteria
BKP dan JKP, Pengertian Pengusaha Kecil, Pengertian Penyerahan BKP dan
JKP dan PPN Masukan.

12.1 Pajak Pertambahan Nilai


Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai
dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen.

Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas:


a)

penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
pengusaha. Pengusaha yang melakukan kegiatan penyerahan BKP meliputi Pengusaha
yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) (kecuali pengusaha kecil
yang batasannya ditetapkan Menteri Keuangan) maupun Pengusaha yang seharusnya
dikukuhkan menjadi PKP, tetapi belum dikukuhkan.
Penyerahan barang yang dikenai pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
barang berwujud yang diserahkan merupakan BKP,
barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan BKP Tidak Berwujud,
penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean; dan
penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya.

b)

impor Barang Kena Pajak. Pajak dipungut pada saat impor BKP dan pemungutannya
dilakukan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Siapapun yang memasukkan
Barang Kena Pajak ke dalam Daerah Pabean tanpa memperhatikan apakah dilakukan
dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya atau tidak, tetap dikenakan pajak.

c)

penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
pengusaha. Pengusaha yang melakukan kegiatan penyerahan JKP meliputi baik
Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP (kecuali pengusaha kecil yang
batasannya ditetapkan Menteri Keuangan) maupun Pengusaha yang seharusnya
dikukuhkan sebagai PKP, tetapi belum dikukuhkan.
Penyerahan jasa yang terutang pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
jasa yang diserahkan merupakan JKP,
penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean; dan
penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.
Termasuk dalam pengertian penyerahan JKP adalah JKP yang dimanfaatkan untuk
kepentingan sendiri dan/atau yang diberikan secara cuma-cuma.

d)

pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.
Untuk dapat memberikan perlakuan pengenaan pajak yang sama dengan impor BKP,
atas BKP Tidak Berwujud yang berasal dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan
oleh siapa pun di dalam Daerah Pabean juga dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Contoh:
Pengusaha Y yang berkedudukan di Pekalongan memperoleh hak menggunakan
merek yang dimiliki Pengusaha R yang berkedudukan di Jepang. Atas pemanfaatan

Modul Perpajakan

75

merek tersebut oleh Pengusaha Y di dalam Daerah Pabean terutang Pajak


Pertambahan Nilai.
e)

pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. Jasa yang
berasal dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan oleh siapapun di dalam Daerah
Pabean dikenai Pajak Pertambahan Nilai.
Contoh:
Pengusaha Kena Pajak C di Surabaya memanfaatkan JKP dari Pengusaha B yang
berkedudukan di Singapura. Atas pemanfaatan JKP tersebut terutang Pajak
Pertambahan Nilai.

f)

ekspor BKP Berwujud oleh PKP; Pengusaha yang melakukan ekspor Barang Kena
Pajak Berwujud hanya Pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena
Pajak kecuali pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan Menteri Keuangan.

g)

ekspor BKP Tidak Berwujud oleh PKP; Pengusaha yang melakukan ekspor BKP Tidak
Berwujud hanya pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak
kecuali pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan Menteri Keuangan.

h)

Yang dimaksud dengan "Barang Kena Pajak Tidak Berwujud" adalah :


1) penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang kesusastraan, kesenian
atau karya ilmiah, paten, desain atau model, rencana, formula atau proses rahasia,
merek dagang, atau bentuk hak kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa
lainnya;
2) penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan industrial, komersial,
atau ilmiah;
3) pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah, teknikal, industrial, atau
komersial;
4) pemberian bantuan tambahan atau pelengkap sehubungan dengan penggunaan
atau hak menggunakan hak-hak tersebut pada angka 1, penggunaan atau hak
menggunakan peralatan/perlengkapan tersebut pada angka 2, atau pemberian
pengetahuan atau informasi tersebut pada angka 3, berupa :
a. penerimaan atau hak menerima rekaman gambar atau rekaman suara atau
keduanya, yang disalurkan kepada masyarakat melalui satelit, kabel, serta
optik, atau teknologi yang serupa;
b. penggunaan atau hak menggunakan rekaman gambar atau rekaman suara
atau keduanya, untuk siaran televisi atau radio yang disiarkan/dipancarkan
melalui satelit, kabel, serat optik, atau teknologi yang serupa; dan
c. penggunaan atau hak menggunakan sebagian atau seluruh spektrum radion
komunikasi;
5) penggunaan atau hak menggunakan film gambar hidup (motion picture films), film
atau pita video untuk siaran televisi, atau pita suara untuk siaran radio; dan
6) pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan penggunaan
atau pemberian hak kekayaan intelektual/industrial atau hak-hak lainnya
sebagaimana tersebut di atas.
ekspor JKP oleh PKP. Termasuk dalam pengertian ekspor JKP adalah penyerahan JKP
dari dalam Daerah Pabean ke luar Daerah Pabean oleh PKP yang menghasilkan dan
melakukan ekspor Barang Kena Pajak Berwujud atas dasar pesanan atau permintaan
dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan di luar Daerah Pabean.

12.2 Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP)
BKP adalah barang yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (UU PPN dan PPn BM).
JKP adalah jasa yang dikenai pajak berdasarkan UU PPN dan PPn BM. Penyerahan
Modul Perpajakan

76

BKP adalah setiap kegiatan penyerahan BKP. Penyerahan JKP adalah setiap kegiatan
pemberian JKP.
Yang termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak adalah:
penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian. Yang dimaksud
dengan perjanjian meliputi jual beli, tukar menukar, jual beli dengan angsuran, atau
perjanjian lain yang mengakibatkan penyerahan hak atas barang.
pengalihan Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian sewa beli dan/atau perjanjian
sewa guna usaha (leasing) dengan hak opsi. Dalam hal penyerahan Barang Kena
Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak dalam rangka perjanjian sewa guna usaha
(leasing) dengan hak opsi, Barang Kena Pajak dianggap diserahkan langsung dari
Pengusaha Kena Pajak pemasok (supplier) kepada pihak yang membutuhkan
barang (lessee).
penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara atau melalui juru
lelang. Yang dimaksud dengan "pedagang perantara" adalah orang pribadi atau
badan yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya dengan nama sendiri
melakukan perjanjian atau perikatan atas dan untuk tanggungan orang lain dengan
mendapat upah atau balas jasa tertentu, misalnya komisioner. Sedangkan yang
dimaksud juru lelang adalah juru lelang Pemerintah atau yang ditunjuk oleh
Pemerintah.
pemakaian sendiri dan/atau pemberian cumacuma atas Barang Kena Pajak. Yang
dimaksud dengan "pemakaian sendiri" adalah pemakaian untuk kepentingan
pengusaha sendiri, pengurus, atau karyawan, baik barang produksi sendiri maupun
bukan produksi sendiri. Yang dimaksud dengan "pemberian cuma-cuma" adalah
pemberian yang diberikan tanpa pembayaran baik barang produksi sendiri maupun
bukan produksi sendiri, seperti pemberian contoh barang untuk promosi kepada
relasi atau pembeli.
Barang Kena Pajak berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula
tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran
perusahaan. Barang Kena Pajak berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut
tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat
pembubaran perusahaan, disamakan dengan pemakaian sendiri, sehingga
dianggap sebagai penyerahan Barang Kena Pajak.
penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau
penyerahan Barang Kena Pajak antar cabang. Dalam hal suatu perusahaan
mempunyai lebih dari satu tempat pajak terutang baik sebagai pusat maupun
sebagai cabang perusahaan, pemindahan Barang Kena Pajak antar tempat
tersebut merupakan penyerahan Barang Kena Pajak.
penyerahan Barang Kena Pajak secara konsinyasi. Dalam hal penyerahan secara
konsinyasi, Pajak Pertambahan Nilai yang sudah dibayar pada waktu Barang Kena
Pajak yang bersangkutan diserahkan untuk dititipkan dapat dikreditkan dengan
Pajak Keluaran pada Masa Pajak terjadinya penyerahan Barang Kena Pajak yang
dititipkan tersebut. Sebaliknya, jika Barang Kena Pajak titipan tersebut tidak laku
dijual dan diputuskan untuk dikembalikan kepada pemilik Barang Kena Pajak,
Pengusaha yang menerima titipan tersebut dapat menggunakan ketentuan
mengenai pengembalian Barang Kena Pajak (retur) .
penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak dalam rangka
perjanjian pembiayaan yang dilakukan berdasarkan prinsip syariah, yang
penyerahannya dianggap langsung dari Pengusaha Kena Pajak kepada pihak yang
membutuhkan Barang Kena Pajak. Contoh Dalam transaksi Murabahah, Bank
Syariah X bertindak sebagai penyedia dana untuk membeli sebuah kendaraan
bermotor dari Pengusaha Kena Pajak A atas pesanan Nasabah Bank Syariah
(Tuan B). Meskipun berdasarkan prinsip Syariah, Bank Syariah harus membeli
dahulu kendaraan bermotor tersebut dan kemudian menjualnya kepada Tuan B,
berdasarkan Undang-undang ini, penyerahan kendaraan bermotor tersebut
dianggap dilakukan langsung oleh Pengusaha Kena Pajak A kepada Tuan B.
Modul Perpajakan

77

Yang tidak termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak adalah:
penyerahan Barang Kena Pajak kepada makelar sebagaimana dimaksud dalam
Kitab Undang- Undang Hukum Dagang. Yang dimaksud dengan "makelar" adalah
makelar sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang
yaitu pedagang perantara yang diangkat oleh Presiden atau oleh pejabat yang oleh
Presiden dinyatakan berwenang untuk itu. Mereka menyelenggarakan perusahaan
mereka dengan melakukan pekerjaan dengan mendapat upah atau provisi tertentu,
atas amanat dan atas nama orang-orang lain yang dengan mereka tidak terdapat
hubungan kerja.Dalam hal Pengusaha Kena Pajak mempunyai lebih dari satu
tempat kegiatan usaha, baik sebagai pusat maupun cabang perusahaan, dan
Pengusaha Kena Pajak tersebut telah menyampaikan pemberitahuan secara
tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak, pemindahan Barang Kena Pajak dari satu
tempat kegiatan usaha ke tempat kegiatan usaha lainnya (pusat ke cabang atau
sebaliknya atau antarcabang) dianggap tidak termasuk dalam pengertian
penyerahan Barang Kena Pajak, kecuali pemindahan Barang Kena Pajak antar
tempat pajak terutang.
penyerahan Barang Kena Pajak untuk jaminan utang-piutang;
penyerahan Barang Kena Pajak dalam hal Pengusaha Kena Pajak melakukan
pemusatan tempat pajak terutang;
pengalihan Barang Kena Pajak dalam rangka penggabungan, peleburan,
pemekaran, pemecahan, dan pengambilalihan usaha dengan syarat pihak yang
melakukan pengalihan dan yang menerima pengalihan adalah Pengusaha Kena
Pajak. Yang dimaksud dengan "pemecahan usaha" adalah pemisahan usaha
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai
perseroan terbatas.
Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, dan yang
Pajak Masukan atas perolehannya tidak dapat dikreditkan. Barang Kena Pajak
berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan yang masih
tersisa pada saat pembubaran perusahaan, yang Pajak Masukan atas
perolehannya tidak dapat dikreditkan karena tidak mempunyai hubungan langsung
dengan kegiatan usaha dan/atau aktiva berupa kendaraan bermotor sedan dan
station wagon, yang Pajak Masukan atas perolehannya tidak dapat dikreditkan ,
tidak termasuk dalam pengertian Penyerahan Barang Kena Pajak.
12.3 Pengertian Pengusaha Kecil
Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam
kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang,
mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak
berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan usaha jasa termasuk mengekspor jasa,
atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean. Pengusaha Kena Pajak adalah
Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan / atau penyerahan
Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-undang.
Pengusaha yang melakukan penyerahan, kecuali pengusaha kecil yang
batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan, wajib melaporkan usahanya untuk
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan wajib memungut, menyetor, dan
melaporkan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang
terutang. Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau
penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean dan/atau melakukan ekspor
Barang Kena Pajak Berwujud, ekspor Jasa Kena Pajak, dan/atau ekspor Barang Kena
Pajak Tidak Berwujud diwajibkan:

melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;


Modul Perpajakan

78

memungut pajak yang terutang;


menyetorkan Pajak Pertambahan Nilai yang masih harus dibayar dalam hal
Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan yang dapat dikreditkan
serta menyetorkan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang; dan
melaporkan penghitungan pajak. Kewajiban di atas tidak berlaku untuk
pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Pengusaha kecil diperkenankan untuk memilih dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.
Apabila pengusaha kecil memilih menjadi Pengusaha Kena Pajak, Undang-Undang ini
berlaku sepenuhnya bagi pengusaha kecil tersebut.
Sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 197/PMK.03/2013 tentang perubahan atas
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2010 tentang Batasan Pengusaha Kecil
Pajak Pertambahan Nilai dalam Pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa Pengusaha kecil
merupakan pengusaha yang selama 1 (satu) tahun buku melakukan penyerahan Barang
Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dengan jumlah peredaran bruto dan/atau
penerimaan bruto tidak lebih dari Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta
rupiah).
12.4 PPN Masukan
Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh
Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak dan/atau perolehan Jasa
Kena Pajak dan/atau pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah
Pabean dan/atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan/atau impor
Barang Kena Pajak.
12.5 Soal Latihan
1) Jelaskan kreteria Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak.
2) Jelaskan apa yang disebut pengusaha kecil.
3) Jelaskan apa yang disebut penyerahan BKP dan JKP

Modul Perpajakan

79

BAB XIII
PPN DAN PPn BM
(2)

Tujuan Instruksional Umum (TIU) :


Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat mengetahui
Dasar Pengenaan Pajak, Tarif, PPN yang bersifat final dan akuntansi
PPN dan PPn BM.

13.1 Dasar Pengenaan Pajak


Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor,
atau Nilai Lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang.
a) Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak, tidak
termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-undang ini dan
potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak
b) Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa
Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, tetapi tidak termasuk
Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-Undang ini dan potongan
harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak atau nilai berupa uang yang dibayar atau
seharusnya dibayar oleh Penerima Jasa karena pemanfaatan Jasa Kena Pajak
dan/atau oleh penerima manfaat Barang Kena Pajak Tidak Berwujud karena
pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean.
c) Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk
ditambah pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundangundangan yang
mengatur mengenai kepabeanan dan cukai untuk impor Barang Kena Pajak, tidak
termasuk Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah yang dipungut
menurut Undang-Undang ini.
d) Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh eksportir.
e) Nilai lain. Nilai lain yang ditetapkan sebagai Dasar Pengenaan Pajak adalah sebagai
berikut :
1) untuk pemakaian sendiri BKP dan/atau JKP adalah Harga Jual atau Penggantian
setelah dikurangi laba kotor;
2) untuk pemberian cuma-cuma BKP dan/atau JKP adalah Harga Jual atau
Penggantian setelah dikurangi laba kotor;
3) untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per judul film;
4) untuk penyerahan produk hasil tembakau adalah sebesar harga jual eceran;
5) untuk Barang Kena Pajak berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan
semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran
perusahaan, adalah harga pasar wajar;
6) untuk penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya
dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak antar cabang adalah harga pokok
penjualan atau harga perolehan;
7) untuk penyerahan Barang Kena Pajak melalui pedagang perantara adalah harga
yang disepakati antara pedagang perantara dengan pembeli;
8) untuk penyerahan Barang Kena Pajak melalui juru lelang adalah harga lelang;
Modul Perpajakan

80

9)

untuk penyerahan jasa pengiriman paket adalah 10 % (sepuluh persen) dari jumlah
yang ditagih atau jumlah yang seharusnya ditagih; atau
10) untuk penyerahan jasa biro perjalanan atau jasa biro wisata dan/atau jasa agen
perjalanan wisata berupa paket wisata, pemesanan sarana akomodasi, yang
penyerahannya tidak didasari pada pemberian komisi/imbalan atas penyerahan
jasa perantara penjualan adalah 10% (sepuluh persen) dari jumlah tagihan atau
jumlah yang seharusnya ditagih;
11) untuk penyerahan jasa pengurusan transportasi (freight forwarding) yang di dalam
tagihan jasa pengurusan transportasi tersebut terdapat biaya transportasi (freight
charges) adalah 10% (sepuluh persen) dari jumlah yang ditagih atau seharusnya
ditagih.
Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas:
a) penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
pengusaha. Penyerahan barang yang dikenai pajak harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
a. barang berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak,
b. barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak Tidak
Berwujud,
c. penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean; dan
d. penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya.
b)
c)

impor Barang Kena Pajak;


penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha.
Penyerahan jasa yang terutang pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. jasa yang diserahkan merupakan Jasa Kena Pajak,
b. penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean; dan
c. penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.
Termasuk dalam pengertian penyerahan Jasa Kena Pajak adalah Jasa Kena Pajak
yang dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri dan/atau yang diberikan secara cumacuma. Ketentuan mengenai batasan kegiatan dan jenis Jasa Kena Pajak yang atas
ekspornya dikenai Pajak Pertambahan Nilai dengan Peraturan Menteri Keuangan.

d)

pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean. Untuk dapat memberikan perlakuan pengenaan pajak yang sama
dengan impor Barang Kena Pajak, atas Barang Kena Pajak Tidak Berwujud yang
berasal dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan oleh siapa pun di dalam Daerah
Pabean juga dikenai Pajak Pertambahan Nilai.
Contoh:
Pengusaha A yang berkedudukan di Jakarta memperoleh hak menggunakan merek
yang dimiliki Pengusaha B yang berkedudukan di Hongkong. Atas pemanfaatan merek
tersebut oleh Pengusaha A di dalam Daerah Pabean terutang Pajak Pertambahan Nilai.

e)

pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. Jasa
yang berasal dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan oleh siapapun di dalam
Daerah Pabean dikenai Pajak Pertambahan Nilai.
Misalnya, Pengusaha Kena Pajak C di Surabaya memanfaatkan Jasa Kena Pajak dari
Pengusaha B yang berkedudukan di Singapura. Atas pemanfaatan Jasa Kena Pajak
tersebut terutang Pajak Pertambahan Nilai.

f)

ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak;

g)

ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak; dan ekspor
Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.

Modul Perpajakan

81

Yang dimaksud dengan "Barang Kena Pajak Tidak Berwujud" adalah :


1. Penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang kesusastraan, kesenian atau
karya ilmiah, paten, desain atau model, rencana, formula atau proses rahasia, merek
dagang, atau bentuk hak kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa lainnya;
2. penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan industrial, komersial, atau
ilmiah;
3. pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah, teknikal, industrial, atau
komersial;
4. pemberian bantuan tambahan atau pelengkap sehubungan dengan penggunaan atau
hak menggunakan hak-hak tersebut pada angka 1, penggunaan atau hak
menggunakan peralatan/perlengkapan tersebut pada angka 2, atau pemberian
pengetahuan atau informasi tersebut pada angka 3, berupa :
a) penerimaan atau hak menerima rekaman gambar atau rekaman suara atau
keduanya, yang disalurkan kepada masyarakat melalui satelit, kabel, serta optik,
atau teknologi yang serupa;
b) penggunaan atau hak menggunakan rekaman gambar atau rekaman suara atau
keduanya, untuk siaran televisi atau radio yang disiarkan/dipancarkan melalui
satelit, kabel, serat optik, atau teknologi yang serupa; dan
c) penggunaan atau hak menggunakan sebagian atau seluruh spektrum radion
komunikasi;
5. penggunaan atau hak menggunakan film gambar hidup (motion picture films), film atau
pita video untuk siaran televisi, atau pita suara untuk siaran radio; dan
6. pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan penggunaan atau
pemberian hak kekayaan intelektual/industrial atau hak-hak lainnya sebagaimana
tersebut di atas.
13.2 Tarif PPN dan PPn BM
Tarif PPN dan PPnBM
1) Tarif PPN adalah 10% (sepuluh persen).
Tarif PPN sebesar 0% (sepuluh persen) diterapkan atas:

ekspor Barang Kena Pajak (BKP) Berwujud;

ekspor BKP Tidak Berwujud; dan

ekspor Jasa Kena Pajak.


Tarif pajak sebagaimana dimaksud di atas dapat diubah menjadi paling rendah 5% (lima
persen) dan paling tinggi 15% (lima belas persen) yang perubahan tarifnya diatur dengan
Peraturan Pemerintah
2) Tarif PPnBM adalah paling rendah 10% (sepuluh persen) dan paling tinggi 200% (dua
ratus persen).
3) Tarif PPnBM atas ekspor BKP yang tergolong mewah adalah 0% (nol persen).
Cara Menghitung Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Dan Pajak Penjualan Atas Barang
Mewah (PPnBM)
PPN dan PPnBM yang terutang dihitung dengan cara mengalikan Tarif Pajak dengan Dasar
Pengenaan Pajak (DPP).
Contoh Cara Menghitung PPN dan PPnBM
a) PKP A menjual tunai Barang Kena Pajak dengan Harga Jual Rp 25.000.000,00 Pajak
Pertambahan Nilai yang terutang
= 10% x Rp25.000.000,00 = Rp2.500.000,00
PPN sebesar Rp2.500.000,00 tersebut merupakan Pajak Keluaran yang dipungut oleh
Pengusaha Kena Pajak A.
Modul Perpajakan

82

c. PKP B melakukan penyerahan Jasa Kena Pajak dengan memperoleh Penggantian


sebesar Rp20.000.000,00
PPN yang terutang yang dipungut oleh PKP B
= 10% x Rp20.000.000,00 = Rp 2.000.000,00
PPN sebesar Rp2.000.000,00 tersebut merupakan Pajak Keluaran yang dipungut oleh
Pengusaha Kena Pajak B.
c)

Seseorang mengimpor Barang Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dengan Nilai Impor
sebesar Rp15.000.000,00. PPN yang dipungut melalui Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai
= 10% x Rp15.000.000,00 = Rp 1.500.000,00

d)

Pengusaha Kena Pajak D mengimpor Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah
dengan Nilai Impor sebesar Rp5.000.000,00 Barang Kena Pajak yang tergolong mewah
tersebut selain dikenai PPN juga dikenai PPnBM misalnya dengan tarif 20%.
Penghitungan PPN dan PPnBM yang terutang atas impor Barang Kena Pajak yang
tergolong mewah tersebut adalah:
Dasar Pengenaan Pajak = Rp 5.000.000,00
PPN = 10% x Rp5.000.000,00
PPn BM = 20% x Rp5.000.000,00

= Rp 500.000,00
= Rp1.000.000,00

Kemudian PKP D menggunakan BKP yang diimpor tersebut sebagai bagian dari suatu
BKP yang atas penyerahannya dikenakan PPN 10% dan PPnBM dengan tarif misalnya
35%. Oleh karena PPnBM yang telah dibayar atas BKP yang diimpor tersebut tidak
dapat dikreditkan, maka PPnBM sebesar Rp1.000.000,00 dapat ditambahkan ke dalam
harga BKP yang dihasilkan oleh PKP D atau dibebankan sebagai biaya.
Misalnya PKP D menjual BKP yang dihasilkannya, maka penghitungan PPN dan PPn
BM yang terutang adalah :
Dasar Pengenaan Pajak = Rp50.000.000,00
PPN
= 10% x Rp50.000.000,00 = Rp 5.000.000,00
PPn BM = 35% x Rp50.000.000,00 = Rp17.500.000,00
PPN sebesar Rp500.000,00 yang dibayar pada saat impor merupakan pajak masukan
bagi PKP D dan PPN sebesar Rp5.000.000,00 merupakan pajak keluaran bagi PKP
D. Sedangkan PPnBM sebesar Rp1.000.000,00 tidak dapat dikreditkan. Begitu pun
dengan PPnBM sebesar Rp17.500.000,00 tidak dapat dikreditkan oleh PKP X.
13.3 Fasilitas PPN dan PPn BM
Pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya atau dibebaskan dari pengenaan
pajak, baik untuk sementara waktu maupun selamanya, untuk:
a. kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean;
b. penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu;
c. impor Barang Kena Pajak tertentu;
d. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud tertentu dari luar Daerah Pabean di
dalam Daerah Pabean; dan
e. pemanfaatan Jasa Kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah
Pabean, diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Modul Perpajakan

83

Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak dan/atau perolehan Jasa
Kena Pajak yang atas penyerahannya tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai dapat
dikreditkan. Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak dan/atau
perolehan Jasa Kena Pajak yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan Pajak
Pertambahan Nilai tidak dapat dikreditkan
Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak berupa aktiva
yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak,
kecuali atas penyerahan aktiva yang Pajak Masukannya tidak dapat dikreditkan.
Penyerahan Barang Kena Pajak, antara lain berupa mesin, bangunan, peralatan, perabotan
atau Barang Kena Pajak lain yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh
Pengusaha Kena Pajak dikenai pajak. Namun, Pajak Pertambahan Nilai tidak dikenakan
atas pengalihan Barang Kena Pajak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan
kegiatan usaha dan pengalihan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, yaitu kendaran bermotor berupa sedan dan station wagon, yang menurut
ketentuan Pajak Masukan atas perolehan aktiva tersebut tidak dapat dikreditkan.
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang sudah dibayar atas
pembelian Barang Kena Pajak yang dibawa ke luar Daerah Pabean oleh orang pribadi
pemegang paspor luar negeri dapat diminta kembali. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah yang dapat diminta kembali harus memenuhi syarat:
nilai Pajak Pertambahan Nilai paling sedikit Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) dan
dapat disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah;
pembelian Barang Kena Pajak dilakukan dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sebelum
keberangkatan ke luar Daerah Pabean; dan
faktur Pajak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5),
kecuali pada kolom Nomor Pokok Wajib Pajak dan alamat pembeli diisi dengan
nomor paspor dan alamat lengkap di negara yang menerbitkan paspor atas
penjualan kepada orang pribadi pemegang paspor luar negeri yang tidak
mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak.
Permintaan kembali PPN dan PPn BM dilakukan pada saat orang pribadi pemegang paspor
luar negeri meninggalkan Indonesia dan disampaikan kepada Direktur Jenderal Pajak
melalui Kantor Direktorat Jenderal Pajak di bandar udara yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan. Dokumen yang harus ditunjukkan pada saat meminta kembali PPN dan PPn BM
adalah:
paspor;
pas naik (boarding pass) untuk keberangkatan orang pribadi ke luar Daerah
Pabean;
Faktur Pajak .
Ketentuan mengenai tata cara pengajuan dan penyelesaian permintaan kembali Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
13.4 Akuntansi PPN dan PPn BM
Akuntansi PPN ditujukan untuk perhitungan PPN dan pelaporannya dalam SPT,
sehingga cakupannya meliputi:
1. Pencatatan harga perolehan dan penyerahan BKP
2. Kewajiban melakukan pencatatan
3. Kewajiban Wajib Pajak ( WP ) yang memilih norma perhitungan penghasilan
bersih.
4. Teknik pembukuan
Modul Perpajakan

84

5.

Perlakuan atas pajak masukan yang tidak dapat dikreditkan.

Terdapat dua cara pembukuan dalam akuntansi, yaitu metode faktur dan metode kas.
Metode faktur mencatat PPN terutang saat faktur dikeluarkan, dipakai oleh PKP yang telah
dikukuhkan. Metode kas mencatat PPN terutang pada saat penerimaan pembayaran, tanpa
tergantung pada pembuatan faktur, di gunakan oleh perusahaan yang tidak atau belum
dikukuhkan sebagai PKP. Dalam catatan pembukuan, perlu dilakukan pemisahan atas :

Jumlah harga perolehan atau nilai pengganti


Jumlah harga jual atau nilai penganti
Nama barang dan satuan nya.
Jumlah harga jual selain BKP ( seperti hasil bumi, perikanan, dan kehutanan )
Jumlah nilai ekspor.
Jumlah harga jual BKP yang dikenai PPnBM

Contoh jurnal transaksi pembelian barang yang mengandung kewajiban PPN :


PT X membeli barang degangan secara kredit dari PT A pada tanggal 25
Desember 2014, seharga Rp 30.000.000
Persediaan Barang Dagang
Pajak Masukan 10%
Utang Dagang

Rp 30.000.000
Rp 3.000.000
Rp 33.000.000

PT Xmembeli tunai perlengkapan tulis seharga Rp 1.000.000 pada toko merah


pada 26 Desember 2014, dan sudah termasuk beban PPN nya.
Perlengkapan administratif
Beban PPN
Kas

Rp1.000.000
Rp 100.000
Rp 1.100.000

Dalam hal ini beban PPN tidak dapat dikreditkan karena pembelian tidak berhubungan
langsung dengan proses produksi perusahaan atau sebagai kegiatan utama perusahaan
tersebut.
13.5 Soal Latihan
Transaksi yang berkaitan dengan PPN dan PPn BM PT ABC dalam bulan Januari 2014:
Membeli sasis kendaraan bermotor dari PT Mobilanda dengan harga Rp
100.000.000,- dengan potongan harga 10% (termasuk PPN).
Menyuruh perusahaan Karoseri Aman untuk mengubah sasis tersebut menjadi
kendaraan bermotor angkutan orang dengan biaya sebesar Rp 20.000.000
ditambah PPN 10%.
Menjual kendaraan hasil rakitan tersebut dengan harga Rp 150.000.000,(termasuk PPN 10% dan PPn BM 15% yang dipungut oleh PT ABC)
Hitung : a) PPN yang harus disetor
b) PPn BM yang harus disetor
c) Jurnal transaksi tersebut di atas

Modul Perpajakan

85

BAB XIV
PENGISIAN DAN PELAPORAN SPT

Tujuan Instruksional Umum (TIU) :


Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan mampu mengisi dan
melaporkan SPT Masa PPN dan PPn BM, SPT Tahunan Orang Pribadi dan
SPT Tahunan Badan.

14.1 Mengisi dan Melaporkan SPT Masa PPN dan PPn BM


Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2009 (Undang-Undang KUP), hal-hal yang perlu diperhatikan oleh
Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah sebagai berikut:
1. Setiap PKP wajib mengisi dan menyampaikan SPT Masa PPN dengan benar, lengkap,
dan jelas serta menandatanganinya.
2. SPT Masa PPN ditandatangani oleh PKP atau orang yang diberi kuasa
menandatangani sepanjang dilampiri dengan surat kuasa khusus.
3. PKP harus mengambil sendiri formulir SPT Masa PPN ke Kantor Pelayanan Pajak
(KPP)/Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) atau dengan
cara mengunduh (download) melalui laman www.pajak.go.id.
4. Penyampaian SPT Masa PPN dilakukan secara langsung ke KPP tempat PKP
dikukuhkan atau KP2KP atau tempat lain yang ditetapkan Direktur Jenderal Pajak.
5. Selain disampaikan secara langsung, SPT Masa PPN dapat disampaikan melalui pos
dengan bukti pengiriman atau dengan cara lain sebagaimana diatur dalam Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 181/PMK.03/2007 dan perubahan/penggantinya.
6. Setiap PKP yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPT Masa PPN atau
menyampaikan SPT Masa PPN dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak
lengkap sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak 4 (empat)
kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.
Fungsi Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) Bagi
Pengusaha Kena Pajak Yang Menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan
Pajak Masukan
Dalam sistem self assessment, SPT Masa PPN berfungsi sebagai sarana bagi PKP yang
menggunakan
pedoman
penghitungan
pengkreditan
Pajak
Masukan
untuk
mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang
dan melaporkan tentang:
pengkreditan Pajak Masukan (PM) terhadap Pajak Keluaran (PK); dan
pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dalam suatu Masa
Pajak.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai
Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 (Undang-Undang PPN),
Undang-Undang KUP, dan aturan pelaksanaan Undang-Undang PPN yaitu:
Modul Perpajakan

86

PMK Nomor 74/PMK.03/2010 tentang Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak


Masukan Bagi Pengusaha Kena Pajak Yang Mempunyai Peredaran Usaha Tidak
Melebihi Jumlah Tertentu; dan
PMK Nomor 78/PMK.03/2010 tentang Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak
Masukan Bagi Pengusaha Kena Pajak yang Melakukan Penyerahan yang Terutang
Pajak dan Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak, sebagaimana telah diubah terakhir
dengan PMK Nomor 135/PMK.011/2014 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.03/2010 tentang Pedoman Penghitungan
Pengkreditan Pajak Masukan Bagi Pengusaha Kena Pajak yang Melakukan
Penyerahan yang Terutang Pajak dan Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak.
PMK Nomor 79/PMK.03/2010 tentang Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak
Masukan Bagi Pengusaha Kena Pajak Yang Melakukan Kegiatan Usaha Tertentu, maka
perlu dibuat SPT Masa PPN khusus bagi PKP yang menggunakan pedoman
penghitungan pengkreditan Pajak Masukan untuk memberi kemudahan dalam
melaporkan kewajiban perpajakannya, yaitu SPT Masa PPN 1111 DM.
SPT Masa PPN 1111 DM ini wajib digunakan oleh PKP yang menggunakan pedoman
penghitungan pengkreditan Pajak Masukan untuk pelaporan SPT Masa PPN mulai Masa
Pajak Januari 2011.
14.2 Mengisi dan Melaporkan SPT Tahunan WP OP
Berdasarkan ketentuan Undang-undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, halhal yang perlu diperhatikan oleh Wajib Pajak adalah sebagai berikut :
1.

2.
3.
4.

5.

6.

7.

8.

Setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPT dengan benar, lengkap, dan jelas, dalam bahasa
Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah,
dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor Direktorat Jenderal Pajak
tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh
Direktur Jenderal Pajak. ( PMK No. 243/PMK.03/2014)
SPT berbentuk formulir kertas (hardcopy) dapat diambil secara langsung di Kantor
Pelayanan Pajak dan tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
Wajib Pajak orang pribadi wajib menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib
Pajak orang pribadi paling lama 3 (tiga) bulan setelah akhir Tahun Pajak.
Penyampaian SPT Tahunan dapat dilakukan melalui Kantor Pos secara tercatat atau
melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal
Pajak sebagaimana diatur dalam Keputusan Dirjen Pajak No. Kep-518/PJ./2000.
Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan harus dibayar
lunas paling lambat tanggal 25 bulan ketiga setelah tahun pajak berakhir. Apabila
pembayaran dilakukan setelah tanggal jatuh tempo, dikenakan sanksi administrasi
berupa bunga sebesar 2% sebulan yang dihitung dari saat jatuh tempo pembayaran
sampai dengan tanggal pembayaran dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 bulan.
Wajib Pajak wajib membayar atau menyetor pajak yang terutang ke Kas Negara melalui
Kantor Pos atau bank yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk
menerima pembayaran pajak (Bank Persepsi).
DJP atas permohonan Wajib Pajak dapat memberikan persetujuan untuk mengangsur
atau menunda pembayaran pajak termasuk kekurangan pembayaran pajak yang
terutang pada SPT Tahunan (PPh Pasal 29) paling lama 12 (dua belas) bulan.
Wajib Pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT Tahunan paling
lama 2 (dua) bulan sejak batas waktu penyampaian SPT Tahunan. Pemberitahuan
Perpanjangan SPT Tahunan disampaikan dalam bentuk dokumen elektronik.

Modul Perpajakan

87

Pemberitahuan perpanjangan SPT Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14


ayat (1) disampaikan:
a. Secara Langsung
b. Melalui pos dengan bukti pengiriman surat
c. Dengan cara lain
9. SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu penyampaian atau batas waktu
perpanjangan penyampaian SPT, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda
sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang KUP.
10. Setiap orang yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPT Tahunan atau
menyampaikan SPT Tahunan tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau
melampirkan keterangan yang isinya tidak benar, sehingga dapat menimbulkan
kerugian pada Negara, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun
dan atau denda paling tinggi 2 kali jumlah pajak yang terutang yang tidak atau kurang
dibayar.
Setiap orang yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPT Tahunan atau menyampaikan
SPT Tahunan dan atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap sehingga
dapat menimbulkan kerugian pada Negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6
(enam) tahun dan denda paling tinggi 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang dibayar.
14.3 Mengisi dan Melaporkan SPT Tahunan Badan
Berdasarkan ketentuan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor
16 Tahun 2009 (UU KUP), hal-hal yang perlu diperhatikan oleh Wajib Pajak adalah sebagai
berikut:
1)

Setiap Wajib Pajak wajib mengisi dan menyampaikan SPT Tahunan dengan benar,
lengkap dan jelas serta menandatanganinya.

2)

SPT Tahunan ditandatangani oleh pengurus, direksi, atau orang yang diberi kuasa
untuk menandatangani sepanjang dilampiri dengan surat kuasa khusus.

3)

SPT Tahunan dianggap tidak disampaikan apabila tidak ditandatangani atau tidak
sepenuhnya dilampiri keterangan dan/atau dokumen sebagaimana ditetapkan dalam
PMK Nomor 181/PMK.03/2007 tentang Bentuk dan Isi Surat Pemberitahuan, serta Tata
Cara Pengambilan, Pengisian dan Penandatanganan dan Penyampaian Surat
Pemberitahuan sebagaimana telah diubah dengan PMK Nomor 152/PMK.03/2009 dan
Keputusan DJP Nomor KEP-214/PJ./2001 tentang Keterangan dan/atau Dokumen Yang
harus Dilampirkan dalam Surat Pemberitahuan.

4)

Wajib Pajak harus mengambil sendiri formulir SPT Tahunan ke Kantor Pelayanan Pajak
(KPP)/Kantor Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) atau dengan cara
mengunduh (download) melalui website www.pajak.go.id dan menyampaikannya paling
lambat 4 (empat) bulan setelah Tahun Pajak berakhir.

5)

Penyampaian SPT Tahunan dapat dilakukan secara langsung di KPP tempat Wajib
Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh DJP meliputi
Pojok Pajak, Mobil Pajak dan Tempat Khusus Penerimaan SPT (Drop Box) atau dapat
dikirimkan melalui pos dengan tanda bukti penerimaan surat atau dengan cara lain

Modul Perpajakan

88

sebagaimana diatur dalam PMK Nomor 181/PMK.03/2007 tentang Bentuk dan Isi Surat
Pemberitahuan, serta Tata Cara Pengambilan, Pengisian dan Penandatanganan dan
Penyampaian Surat Pemberitahuan sebagaimana telah diubah dengan PMK Nomor
152/PMK.03/2009.
6)

Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan harus dibayar
lunas sebelum SPT PPh disampaikan. Apabila pembayaran dilakukan setelah tanggal
jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, dikenai sanksi administrasi berupa
bunga sebesar 2% perbulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai
dengan tanggal pembayaran dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

7)

Wajib Pajak wajib membayar atau menyetor pajak yang terutang ke Kas Negara melalui
Kantor Pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk menerima
pembayaran pajak (Bank Persepsi).

8)

DJP atas permohonan Wajib Pajak dapat memberikan persetujuan untuk mengangsur
atau menunda pembayaran pajak termasuk kekurangan pembayaran pajak yang
terutang berdasarkan SPT Tahunan (PPh Pasal 29) paling lama 12 (dua belas) bulan.
Berdasarkan Peraturan DJP Nomor PER-38/PJ/2008 tentang Tata Cara Pemberian
Angsuran atau Penundaan Pembayaran Pajak, permohonan harus diajukan secara
tertulis kepada Kepala KPP tempat Wajib Pajak terdaftar paling lama 9 (sembilan) hari
kerja sebelum jatuh tempo pembayaran, dengan menggunakan formulir tertentu.

9)

Wajib Pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT Tahunan paling
lama 2 (dua) bulan. Pemberitahuan harus disertai penghitungan sementara pajak
terutang dalam 1 (satu) tahun pajak dan Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan
kekurangan pembayaran pajak yang terutang.

10) Apabila SPT Tahunan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditetapkan atau
dalam batas waktu perpanjangan penyampaian SPT Tahunan, dikenai sanksi
administrasi berupa denda sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah).
11) Pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan mata uang Dollar $ dapat
diselenggarakan oleh Wajib Pajak setelah mendapat izin Menteri Keuangan. Wajib
Pajak yang diizinkan untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan
bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat wajib menyampaikan SPT
Tahunan PPh Badan beserta lampirannya dalam bahasa Indonesia (kecuali lampiran
berupa laporan keuangan) dan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat. Persetujuan ini
diatur dalam PMK Nomor 196/PMK.03/2007.
12) Setiap orang yang karena kealpaannya atau dengan sengaja tidak menyampaikan SPT
Tahunan atau menyampaikan SPT Tahunan tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap,
atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar, sehingga dapat menimbulkan
kerugian pada pendapatan negara, dapat dikenai sanksi administrasi dan/atau sanksi
pidana sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

14.4 Soal Latihan


1) Latihan mengisi SPT Tahunan PPN dan PPN BM
2) Latihan mengisi SPT Tahunan PPh WP OP
3) Latihan mengisi SPT Tahunan PPh WP Badan

Modul Perpajakan

89

BAB XV
MANAJEMEN PAJAK

Tujuan Instruksional Umum (TIU) :


Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan mampu membuat strategi,
perencanaan, pengorganisasian dan pengendalian pajak penghasilan dan
pajak pertambahan nilai

15.1 Pengertian Perencanaan Pajak


Perencanaan pajak merupakan tindakan penstrukturan yang terkait dengan konskuensi
potensi pajaknya, yang tekanannya kepada pengendalian setiap transaksi yang ada
konsekuensi pajaknya.
Tujuannya adalah bagaimana pengendalian tersebut dapat mengefesienkan jumlah pajak
yang akan ditransfer ke pemerintah, melalui apa yang disebut sebagai penghindaran pajak,
bukan penyelundupan pajak yang merupakan tindak pidana fiskal yang tidak akan
ditoleransi.
Perencanaan Pajak Dilakukan Pada:
1) Saat akan mendirikan perusahaan:
* Memilih bentuk usaha : Perseorangan, Persekutuan, Fa,CV, PT dan lain-lain.
* Memilih metode pembukuan; metode penyusutan; metode penilaian persediaan, dan
lain-lain.
2) Saat menjalankan usaha:
* Pilihan alternatif transaksi
* Tanggungjawab terhadap stakeholders (Perusahaan, konsumen, karyawan, kreditur,
Pemerintah, Pemasok, investor, dan lain-lain)
3) Saat akan menutup Usaha:
Perhatikan dampak perpajakan pada saat akan menutup perusahaan, baik karena
likuidasi, merger, pemekaran dll.
15.2 Pelaksanaan Perencanaan Pajak
Dalam suatu perencanaan pajak, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
a. Tidak melanggar ketentuan perpajakan.
b. Sesuai kondisi yang ada. Perencanaan pajak yang dilakukan tidak melanggar peraturan
perpajakan yang ada.
c. Bukti atau dokumen pendukung transaksi mencukupi dan sesuai.
Untuk dapat mencapai tujuan perencanaan pajak ada dua hal yang perlu dikuasai dan
dilaksanakan, yaitu:
a. memahami ketentuan peraturan perpajakan;
Modul Perpajakan

90

b. menyelenggarakan pembukuan yang memenuhi syarat.


Perencanaan Pajak Dalam Rangka Mengefisienkan PPh Badan, diupayakan melalui:
a. Pemilihan alternatif dasar pembukuan dan tata cara pembukuan
b. Pengelolaan transaksi yang berkaitan dengan pemberian kesejahteraan kepada
karyawan
c. Pemilihan metode penyusutan aktiva tetap dan amortisasi aktiva tidak berwujud
d. Transaksi yang berkaitan dengan withholding tax ( pemungutan pajak kepada pihak
ketiga)
e. Penyertaan pada Perseroan Terbatas dalam negeri
f. Optimalisasi pengkreditan pajak yang telah dibayar
g. Permohonan penurunan pembayaran lumpsum (angsuran PPh Ps 25 bulanan)
h. Pengajuan SKB (Surat Keterangan Bebas) PPh Psl 22 dan Pasal 23
i. PPh atas transaksi tertentu.
Perencanaan PPN dapat dilakukan antara lain:
a.
Memaksimalkan PPN Masukan yang dapat dikreditkan, perusahaan sebaiknya
memperoleh Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak dari Pengusaha Kena Pajak,
supaya Pajak Masukannya dapat dikreditkan. Perusahaan perlu mengamati dengan
cermat jangan sampai terdapat Pajak Masukan yang belum dikreditkan lagi dan juga
jangan sampai Faktur Pajak yang diterima tidak memenuhi syarat sebagai Faktur
Pajak Standar.
b.

Dalam hal penjualan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak yang
pembayarannya belum diterima, pembuatan Faktur Pajak bisa ditunda sampai akhir
bulan berikutnya setelah penyerahan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak.

c.

Dalam hal terjadi retur penjualan, harus diiringi dengan Nota Retur yang memenuhi
syarat sebagai Nota Retur lengkap sehingga PPN dan atau PPn BM atas retur dapat
mengurangi jumlah PPN dan PPn BM yang telah dipungut pada masa diterimanya
Nota Retur.

15.3 Soal Latihan


Secara umum perencanaan pajak adalah proses mengorganisasi usaha wajib pajak atau
kelompok wajib pajak sedemikian rupa sehingga hutang pajaknya baik pajak penghasilan
maupun pajak-pajak lainnya, berada dalam posisi yang minimal, sepanjang hal ini
dimungkinkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jelaskan:
a)

Cara yang dapat dilakukan oleh perencana pajak (tax planner) perusahaan dalam
melakukan perencanaan pajak!

b)

Manfaat yang bisa diperoleh dari perencanaan pajak

Modul Perpajakan

91

PERATURAN-PERATURAN YANG DIGUNAKAN DALAM PERPAJAKAN


Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16
Tahun 2009.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPn BM) sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009.
Peraturan Pemerintah, Nomor 42 Tahun 1995 tentang Bea Masuk, Bea Masuk Tambahan,
Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Dan Pajak
Penghasilan Dalam Rangka Pelaksanaan Proyek Pemerintah Yang Dibiayai Dengan
Hibah Atau Dana Pinjaman Luar Negeri sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2001.
Peraturan Pemerintah, Nomor 138 Tahun 2000 tentang Penghitungan Penghasilan Kena
Pajak Dan Pelunasan Pajak Penghasilan Dalam Tahun Berjalan.
Peraturan Pemerintah, Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk
Penanaman Modal Di Bidang-Bidang Usaha Tertentu Dan/Atau Di Daerah-Daerah
Tertentu sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 62 tahun
2008.
Peraturan Pemerintah, Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan
Dari Usaha Jasa Konstruksi.
Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 Tentang tentang Pembayaran Pajak
Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan
sebagaimana terakhir diubah dengan Nomor 71 Tahun 2008 Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1995 Tentang Pajak Penghasilan
Atas Penghasilan Perusahaan Modal Ventura Dari Transaksi Penjualan Saham Atau
Pengalihan Penyertaan Modal Pada Perusahaan Pasangan Usahanya.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1997 Tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1994 Tentang Pajak Penghasilan Atas
Penghasilan Dari Transaksi Penjualan Saham Di Bursa Efek.
Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996 tentang Tentang Pembayaran Pajak
Penghasilan Atas Penghasilan Dari Persewaan Tanah Dan/Atau Bangunan
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
5 Tahun 2002.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 2000 Tentang Pajak
Penghasilan Atas Bunga Deposito Dan Tabungan Serta Diskonto Sertifikat Bank
Indonesia.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 132 Tahun 2000 Tentang Pajak
Penghasilan Atas Hadiah Undian.
Modul Perpajakan

92

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2008 Tentang Pajak


Penghasilan Atas Diskonto Surat Perbendaharan Negara.
Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan
Dari Usaha Jasa Konstruksi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2009 Tentang Pajak
Penghasilan Atas Bunga Simpanan Yang Dibayarkan Oleh Koperasi Kepada
Anggota Koperasi Orang Pribadi.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2009 Tentang Tarif Pajak
Penghasilan Pasal 21 Atas Penghasilan Berupa Uang Pesangon, Uang Manfaat
Pensiun, Tunjangan Hari Tua, Dan Jaminan Hari Tua Yang Dibayarkan Sekaligus.
Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Perhitungan Penghasilan Kena Pajak
Dan Pelunasan Pajak Penghasilan Dalam Tahun Berjalan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 100 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Pajak Penghasilan Atas
Penghasilan Berupa Bunga Obligasi.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2013 Tentang Pajak
Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak
Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.
Peraturan Menteri Keuangan, Nomor 16/PMK.03/2007 tentang Pemberian Fasilitas Pajak
Penghasilan Untuk Penanaman Modal Di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di
Daerah-Daerah Tertentu.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 181/PMK.03/2007 tentang Bentuk dan Isi Surat
Pemberitahuan, serta Tata Cara Pengambilan, Pengisian dan Penandatanganan dan
Penyampaian Surat Pemberitahuan sebagaimana telah diubah dengan PMK Nomor
152/PMK.03/2009.
Peraturan Menteri Keuangan, Nomor 192/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Penetapan Wajib
Pajak Dengan Kriteria Tertentu Dalam Rangka Pengembalian Pendahuluan
Kelebihan Pembayaran Pajak
Peraturan Menteri Keuangan, Nomor 193/PMK.03/2007 tentang Batasan Jumlah Peredaran
Usaha, Jumlah Penyerahan, Dan Jumlah Lebih Bayar Bagi Wajib Pajak Yang
Memenuhi Persyaratan Tertentu Yang Dapat Diberikan Pengembalian Pendahuluan
Kelebihan Pajak s.t.d.t.d Peraturan Menteri Keuangan Nomor 54/PMK.03/2009.
Peraturan Menteri Keuangan, Nomor 196/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Penyelenggaraan
Pembukuan Dengan Menggunakan Bahasa Asing Dan Satuan mata Uang Selain
Rupiah Serta Kewajiban Penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak Badan.
Peraturan Menteri Keuangan, Nomor 187/PMK.03/2008 tentang tatacara Pemotongan,
Penyetoran, Pelaporan Dan Penatausahaan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan
Dari Usaha Jasa Konstruksi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 153/PMK.03/2009.

Modul Perpajakan

93

Peraturan Menteri Keuangan, Nomor 255/PMK.03/2008 tentang Penghitungan Besarnya


Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Pajak Berjalan Yang Harus Dibayar
Sendiri Oleh Wajib Pajak Baru, Bank, Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi, Badan
Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Wajib Pajak Masuk Bursa Dan Wajib
Pajak Lainnya Yang Berdasarkan Ketentuan Diharuskan Membuat Laporan
Keuangan Berkala Termasuk Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu stdd
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 208/PMK.03/2009.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81/PMK.03/2009 tentang Pembentukan Atas
Pemupukan Dana Cadangan Yang Boleh Dikurangkan Sebagai Biaya.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 83/PMK.03/2009 tentang Penyediaan Makanan dan
Minuman Bagi Seluruh Pegawai serta Penggantian atau Imbalan dalam Bentuk
Natura dan Kenikmatan Di Daerah Tertentu dan yang Berkaitan Dengan
Pelaksanaan Pekerjaan Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto Pemberi
Kerja.
Peraturan Menteri Keuangan, Nomor 96/PMK.03/2009 tentang Jenis-Jenis Harta yang
Termasuk dalam Kelompok Harta Berwujud Bukan Bangunan untuk Keperluan
Penyusutan.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2010 tentang Batasan Pengusaha Kecil
Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana telah diubah dengan PMK Nomor
197/PMK.03/2013.
Peraturan Menteri Keuangan, Nomor 75/PMK.03/2010 tentang Nilai Lain Sebagai Dasar
Pengenaan Pajak sebagaimana terakhir kali diubah dengan PMK Nomor
121/PMK.03/2015.
Peraturan Menteri Keuangan, Nomor 162/PMK.011/2012 tentang Penyesuaian Besarnya
Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana telah diubah dengan PMK Nomor
152/PMK.010/2015.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 242/PMK.03/2014 tentang Tata Cara Pembayaran dan
Penyetoran Pajak.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 243/PMK.03/2014 tentang Surat Pemberitahuan (SPT).
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Nomor 604/KMK.04/1994 tentang BadanBadan Dan Pengusaha Kecil Yang Menerima Harta Hibahan Yang Tidak Termasuk
Sebagai Objek PPh.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 634/KMK.04/1994 Tentang Norma
Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Luar Negeri Yang
Mempunyai Kantor Perwakilan Dagang Di Indonesia.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 635/KMK.04/1994 Tentang Pelaksanaan Pembayaran
Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau
Bangunan Sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik
Indonesia Nomor 243/PMK.03/2008.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 248/KMK.04/1995 Tentang
Perlakuan Pajak Penghasilan Terhadap Pihak- Pihak Yang Melakukan Kerjasama
Dalam Bentuk Perjanjian Bangun Guna Serah ("Built Operate And Transfer").
Modul Perpajakan

94

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 250/KMK.04/1995 Tentang


Perusahaan Kecil Dan Menengah Pasangan Usaha Dari Perusahaan Modal Ventura
Dan Perlakuan Perpajakan Atas Penyertaan Modal Perusahaan Modal Ventura.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 394/KMK.04/1996 Tentang
Pelaksanaan Pembayaran Dan Pemotongan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan
Dari Persewaan Tanah Dan Atau Bangunan sebagaimana telah diubah dengan KMK
Nomor 120/KMK.03/2002.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 416/KMK.04/1996 Tentang Norma
Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran
Dalam Negeri.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 417/KMK.04/1996 Tentang Norma
Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran
Dan/Atau Penerbangan Luar Negeri.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 282/KMK.04/1997 Tentang
Pelaksanaan Pemungutan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Transaksi
Penjualan Saham Di Bursa Efek.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Nomor 521/KMK.04/2000 tentang JenisJenis Harta Yang Termasuk Dalam Kelompok Harta Berwujud Untuk Keperluan
Penyusutan Bagi Kontraktor Yang Melakukan Eksplorasi dan Eksploitasi Minyak Dan
Gas Bumi Dalam Rangka Kontrak Bagi Hasil dengan Perusahaan Pertambangan
Minyak Dan Gas Bumi Negara (Pertamina).
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 51/Kmk.04/2001 Tentang
Pemotongan Pajak Penghasilan Atas Bunga Deposito Dan Tabungan Serta Diskonto
Sertifikat Bank Indonesia.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Nomor 164/KMK.03/2002 Tentang Kredit
Pajak Luar Negeri.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 543/KMK.03/2002 tentang Norma
Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Dan Cara Pembayaran Pajak Penghasilan
Bagi Wajib Pajak Yang Melakukan Kegiatan Usaha Jasa Maklon (Contract
Manufacturing) Internasional Di Bidang Produksi Mainan Anak-Anak.
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-67/PJ./2007 tentang Tata Cara Pemberian
Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal Di Bidang-Bidang Usaha
Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu.
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-38/PJ/2008 tentang Tata Cara Pemberian
Angsuran atau Penundaan Pembayaran Pajak, permohonan harus diajukan secara
tertulis kepada Kepala KPP tempat Wajib Pajak terdaftar paling lama 9 (sembilan)
hari kerja sebelum jatuh tempo pembayaran, dengan menggunakan formulir tertentu.
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-38/PJ/2008 tentang Tata Cara Pemberian
Angsuran atau Penundaan Pembayaran Pajak.
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 30/PJ/2009 Tentang Tata Cara Pemberian
Pengecualian Dari Kewajiban Pembayaran Atau Pemungutan Pajak Penghasilan
Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan.
Modul Perpajakan

95

Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-57/PJ/2010 tentang Tata Cara dan Prosedur
Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 Sehubungan dengan Pembayaran atas
Penyerahan Barang dan Kegiatan di Bidang Impor atau Kegiatan Usaha di Bidang
Lain sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan PER-31/PJ/2015.
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-14/PJ/2013 tentang Bentuk, Isi, Tata Cara
Pengisian dan Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21
dan/atau Pasal 26 serta Bentuk Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21
dan/atau Pasal 26.
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2015 tentang Pengenaan Pajak
Penghasilan Atas Hadiah Dan Penghargaan.
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-19/PJ/2015 tentang Tata Cara Pemungutan
Pajak Penghasilan Pasal 22 atas Penjualan Barang yang Tergolong Sangat Mewah
sebagaimana telah diubah dengan PER-24/PJ/2015.
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-141/PJ./1999 tentang Pengakuan
Penghasilan Dari Pengalihan Harta/Agunan Berupa Tanah Dan/Atau Bangunan Bagi
Wajib Pajak Tertentu.
Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. KEP-518/PJ./2000 tentang Penyampaian Surat
Pemberitahuan Selain Melalui Kantor Pos.
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-214/PJ./2001 tentang Keterangan dan/atau
Dokumen Yang harus Dilampirkan dalam Surat Pemberitahuan.
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-563/PJ./2001 tentang Saat Pengakuan
Penghasilan Berupa Keuntungan Karena Pembebasan Utang Yang Diperoleh
Debitur Tertentu Dari Perjanjian Restrukturisasi Utang Usaha.
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP - 667/PJ./2001 Tentang Ralat Keputusan
Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-667/PJ./2001 Tanggal 29 Oktober 2001 Tentang
Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Luar Negeri Yang
Mempunyai Kantor Perwakilan Dagang Di Indonesia.
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-184/PJ./2002 tentang Pengakuan
Penghasilan Atas Penghasilan Bank Berupa Bunga Kredit Non Performing.
Keputusan Direktur Jenderal Pajak, Nomor KEP-220/PJ./2002 tentang Perlakuan Pajak
Penghasilan atas Biaya Pemakaian Telepon Seluler dan Kendaraan Perusahaan.
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-227/PJ./2002 Tentang Tata Cara
Pemotongan Dan Pembayaran, Serta Pelaporan Pajak Penghasilan Dari Persewaan
Tanah Dan Atau Bangunan.
Keputusan Direktur Jenderal Pajak, Nomor KEP-316/PJ./2002 tentang Perlakuan Pajak
Penghasilan atas Pengeluaran/Biaya Perolehan Perangkat Lunak (Software)
Komputer.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-33/Pj.4/1995 tentang Perusahaan Kecil
Dan Menengah Pasangan Usaha Modal Ventura Dan Perlakuan Perpajakan Atas
Penyertaan Modal Perusahaan Modal Ventura.

Modul Perpajakan

96

Surat

Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-32/PJ.4/1996 Tentang Norma


Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Yang Bergerak Di Bidang
Usaha Pelayaran Dan/Atau Penerbangan Luar Negeri (Seri PPH Umum NO. 37).

Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-06/PJ.4/1997 Tentang Pelaksanaan


Pemungutan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Transaksi Penjualan Saham
Di Bursa Efek.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-01/Pj.43/2001 Tentang Peraturan
Pemerintah Nomor 131 Tahun 2000 Tanggal 15 Desember 2000 Tentang Pajak
Penghasilan Atas Bunga Deposito Dan Tabungan Serta Diskonto Sertifikat Bank
Indonesia.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-04/PJ.42/2002 tentang Perlakuan PPh Atas
Pemberian Imbalan Bunga Kepada Wajib Pajak.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-07/PJ.42/2002 tentang Penghitungan
Penyusutan Atas Komputer, Printer, Scanner dan Sejenisnya.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-08/PJ.42/2002 tentang Pengakuan
Penghasilan Atas Penghasilan Bank Berupa Bunga Kredit Non-Performing.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-09/PJ.42/2002 tentang Perlakuan Pajak
Penghasilan atas Biaya Pemakaian Telepon Seluler dan Kendaraan Perusahaan.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-02/PJ.42/2003 tentang Kewajiban
Mencantumkan Nomor Pokok Wajib Pajak dalam SPT Tahunan PPh Wajib Pajak
Badan Bagi Pemegang Saham/Pemilik Modal, Pengurus dan Komisaris.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-01/PJ.33/2005 tentang Pemberian Imbalan
Bunga Kepada Wajib Pajak.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-2/PJ.03/2008 Tentang Penegasan Atas
Penerapan Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Luar
Negeri Yang Mempunyai Kantor Perwakilan Dagang (Representative Office/Liaison
Office) Di Indonesia.
Referensi Tambahan:
Waluyo, 2010. Perpajakan Indnesia: buku 2 edisi 10. Salemba Empat. Jakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2009. Standar Akuntansi Keuangan: per 1 Juli 2009. Salemba
Empat. Jakarta.
www.pajak.go.id

Modul Perpajakan

97

PERATURAN PERPAJAKAN

Dibawah ini Daftar Peraturan Menteri Keuangan mengenai Petunjuk Pelaksanaan UU


PPh yang baru Nomor 36 tahun 2008.
Peraturan Menteri Keuangan No. 215/PMK.03/2008, Tentang Penetapan OrganisasiOrganisasi Internasional Dan Pejabat-Pejabat Perwakilan Organisasi Internasional Yang
Tidak Termasuk Subjek Pajak Penghasilan Lampiran Peraturan Menteri Keuangan
Peraturan Menteri Keuangan No. 245/PMK.03/2008 Tentang Badan- Badan Dan Orang
Pibadi Yang Menjalankan Usaha Mikro Dan Kecil Yang Menerima Harta Hibah, Bantuan,
Atau Sumbangan Yang Tidak Termasuk Sebagai Objek Pajak Penghasilan
Peraturan Menteri Keuangan No. 246/PMK.03/2008
Dikecualikan Dari Objek Pajak Penghasilan

Tentang

Beasiswa

Yang

Peraturan Menteri Keuangan No. 247/PMK.03/2008, Tentang Bantuan Atau Santunan


Yang Dibayarkan Oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kepada Wajib Pajak
Tertentu Yang Dikecualikan Dari Objek Pajak Penghasilan
Peraturan Menteri Keuangan No. 248/PMK.03/2008 Tentang Amortisasi Atas
Pengeluaran Untuk Memperoleh Harta Tak Berwujud Dan Pengeluaran Lainnya Untuk
Bidang Usaha Tertentu
Peraturan Menteri Keuangan No. 249/PMK.03/2008 Tentang Penyusutan atas
Pengeluaran untuk Memperoleh Harta Berwujud yang Dimiliki dan Digunakan dalam
Bidang Usaha Tertentu
Peraturan Menteri Keuangan No.250/PMK.03/2008 Tentang Besarnya Biaya Jabatan
atau Biaya Pensiun yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto Pegawai Tetap atau
Pensiunan
Peraturan Menteri Keuangan No. 251/PMK.03/2008, Tgl.31 Desember 2008 Tentang
Penghasilan atas Jasa Keuangan yang Dilakukan oleh Badan Usaha yang Berfungsi
sebagai penyalur Pinjaman dan/atau Pembiayaan yang Tidak Dilakukan Pemotongan
Pajak Penghasilan Pasal 23
Peraturan Menteri Keuangan No. 252/PMK.03/2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pemotongan Pajak atas Penghasilan Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan
Orang Pribadi
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 253/PMK.03/2008 tentang Wajib Pajak Badan
Tertentu sebagai Pemungut Pajak Penghasilan dari Pembelian atas Penjualan Barang yang
Tergolong Sangat Mewah sebagaimana telah diubah dengan PMK Nomor
90/PMK.03/2015.

Modul Perpajakan

98

Peraturan Menteri Keuangan No. 254/PMK.03/2008 Tentang Penetapan Bagian


Penghasilan Sehubungan Dengan Pekerjaan Dari Pegawai Harian Dan Mingguan Serta
Pegawai Tidak Tetap Lainnya Yang Tidak Dikenakan Pemotongan Pajak Penghasilan,
sebagaimana terakhir diubah dengan PMK Nomor 152/PMK.010/2015.
Peraturan Menteri Keuangan No. 255/PMK.03/2008 Tentang Penghitungan Besarnya
Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Pajak Berjalan Yang Harus Dibayar Sendiri
Oleh Wajib Pajak Baru, Bank, Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi, Badan Usaha Milik
Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Wajib Pajak Masuk Bursa Dan Wajib Pajak Lainnya
Yang Berdasarkan Ketentuan Diharuskan Membuat Laporan Keuangan Berkala Termasuk
Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu
Peraturan Menteri Keuangan No. 256/PMK.03/2008 Tentang Penetapan Saat
Diperolehnya Deviden Oleh Wajib Pajak Dalam Negeri Atas Penyertaan Modal Pada
Badan Usaha Di Luar Negeri Selain Badan Usaha Yang Menjual Sahamnya di Bursa Efek
Peraturan Menteri Keuangan No. 257/PMK.03/2008 Tentang Perlakuan Perpajakan Atas
Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak Dari Suatu Bentuk Usaha Tetap
Peraturan Menteri Keuangan No. 258/PMK.03/2008, Tgl.31 Desember 2008 Tentang
Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 Atas Penghasilan Dari Penjualan Atau
Pengalihan Saham Sebagaimana Dimaksud Dalam Pasal 18 Ayat(3c) Undang Undang
Pajak Penghasilan Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Luar Negeri
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 16/PMK.03/2010 Tentang Tata
Cara Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 Atas Penghasilan Berupa Uang Pesangon,
Uang Manfaat Pensiun, Tunjangan Hari Tua, Dan Jaminan Hari Tua Yang Dibayarkan
Sekaligus.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2010 tentang Pemungut Pajak
Penghasilan Pasal 22 Sehubungan dengan Pembayaran atas Penyerahan Barang dan
Kegiatan di Bidang Impor atau Kegiatan Usaha di Bidang Lain sebagaimana telah diubah
beberapa kali terakhir dengan PMK Nomor 107/PMK.010/2015.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 122/PMK.010/2015 tentang Penyesuaian Besarnya
Penghasilan Tidak Kena Pajak.
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 141/PMK.03/2015 tentang Jenis
Jasa Lain Sebagaimana Dimaksud Dalam Pasal 23 Ayat (1) Huruf C Angka 2 UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan Sebagaimana Telah Beberapa
Kali Diubah Terakhir Dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.

Modul Perpajakan

99

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152/PMK.010/2015 tentang Penetapan bagian


Penghasilan sehubungan dengan Pekerjaan dari Pegawai Harian dan Mingguan serta
pegawai harian dan Mingguan serta Pegawai Tidak Tetap Lainnya yang Tidak Dikenakan
Pemotongan Panjak Penghasilan.

Modul Perpajakan

100