Anda di halaman 1dari 7

1.

Pemeriksaan Makroskopis
Pemeriksaan makroskopis urin terdiri atas beberapa pemeriksaan, anatara lain
(Gandasoebrata,2009):
a. Volume
Banyaknya urine yang dikeluarkan oleh ginjal dalam 24 jam. Dihitung dalam
gelas ukur. Volume urine normal : 1200-1500 ml/24 jam. Volume urine masingmasing orang bervariasi tergantung pada luas permukaan tubuh, pemakaian cairan,
dan kelembapan udara / penguapan. Pengukuran volume harus dilakukan secara
berjangka selama 24 jam untuk memperoleh hasil yang akurat.
b. Bau
Bau urine yang normal, tidak keras. Bau urine yang normal disebabkan dari
sebagian oleh asam-asam organik yang mudah menguap. Urine yang berbau
ammonia disebabkan oleh pemecahan urea oleh bakteri, sedangkan apabila urine
berbau busuk mengindikasi adanya bakteri atau pasien tersebut terkena infeksi
saluran kencing. Namun, bila urine berbau manis seperti buah-buahan dapat
mengindikasi bahwa pasien tersebut mengalami asidosis diabetika atau kelaparan.
c. Buih
Buih pada urine normal berwarna putih. Jika urine mudah berbuih,
menunjukkan bahwa urine tersebut mengandung protein. Sedangkan jika urine
memiliki buih yang berwarna kuning, hal tersebut disebabkan oleh adanya pigmen
empedu (bilirubin) dalam urine.
d. Kejernihan
Urine normal yang baru dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit berkabut
dan berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan urobilin..
Cara menguji kejernihan sama seperti menguji warna yaitu jernih, agak keruh,
keruh atau sangat keruh. Tidak semua macam kekeruhan bersifat abnormal.

Kekeruhan biasanya terjadi karena kristalisasi atau pengendapan urat (dalam urine
asam) atau fosfat (dalam urine basa). Urine normal pun akan menjadi keruh jika
dibiarkan atau didinginkan. Kekeruhan juga bisa disebabkan oleh bahan selular
berlebihan atau protein dalam urin. Kekeruhan ringan disebut nubecula dan terjadi
dari lender, sel-sel epitel, dan leukosit yang lambat laun mengendap.
Sebab sebab urine keruh dari mula-mula :
Fosfat amorf dan karbonat dalam jumlah besar, mungkin terjadi sesudah pasien
banyak mengonsumsi makanan.
Bakteri.
Unsur sedimen dalam jumlah besar, seperti eritrosit, leukosit dan sel epitel.
Cylus dan lemak.
Benda-benda koloid.
Sebab sebab urine keruh menjadi keruh setelah dibiarkan :
Nubecula.
Urat-urat amorf.
Fosfat amorf dan karbonat.
Bakteri.
e. Warna
Warna urine ditentukan oleh besarnya dieresis. Makin besar dieresis, makin
muda warna urine itu. Biasanya warna urine normal berkisar antara kuning muda dan
kuning tua. Warna itu disebabkan oleh beberapa macam zat warna, terutama
urochrom dan urobilin. Jika didapat warna abnormal disebabkan oleh zat warna yang
dalam keadaan normal pun ada, tetapi sekarang ada dalam jumlah besar.
Kemungkinan adanya zat warna abnormal, berupa hasil metabolisme
abnormal, tetapi mungkin juga berasal dari suatu jenis makanan atau obat-obatan.
Beberapa keadaan warna urine mungkin baru berubah setelah dibiarkan. Beberapa
keadaan yang menyebabkan warna urine adalah :

Merah
Penyebab patologik: hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin. Penyebab
nonpatologik: banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab (kelembak), senna.
Oranye
Penyebab patologik : pigmen empedu.
Penyebab nonpatologik : obat untuk infeksi saliran kemih (piridium), obat lain
termasuk fenotiazin.
Kuning
Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin.
Penyebab nonpatologik : wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin.
Hijau
Penyebab patologik: biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas).
Penyebab nonpatologik: preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik.
Biru
Pengaruh obat: diuretik, dan nitrofuran.
Coklat
Penyebab patologik: hematin asam, mioglobin, pigmen empedu.
Pengaruh obat: levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa.
Hitam atau hitam kecoklatan
Penyebab patologik: melanin, asam homogentisat, indikans, urobilinogen,
methemoglobin.
Pengaruh obat: levodopa, cascara, kompleks besi, fenol

2. Pemeriksaan Kimia Urin


Pemeriksaan kimia urine berguna untuk menunjang diagnosis kelainan di luar
ginjal seperti kelainan metabolism karbohidrat, fungsi hati, gangguan keseimbangan
asam basa, kelainan ginjal, dan saluran kemih seperti infeksi traktus urinarius. berikut ini
merupakan pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan kimia urine (Ganiswarna, 2007) :

a. pH urine
pH normal urine adalah 4,8-7,4 (rujukan yang digunakan oleh Laboratorium
Parahita). pH tidak banyak berarti dalam pemeriksaan penyaring. Akan tetapi pada
gangguan keseimbangan asam-basa penetapan itu memberi gambaran tentang
keadaan dalam tubuh, apalagi jika disertai penetapan jumlah asam yang
diekskresikan dalam waktu tertentu, dan juga jumlah ion NH4.
Selain pada keadaan tersebut di atas, pemeriksaan pH urine segar dapat
memberi petunjuk kearah infeksi saluran kemih. Infeksi oleh E. coli biasanya
menghasilkan urine asam, sedangkan infeksi oleh Proteus yang merombak ureum
menjadi amoniak menyebabkan urine menjadi basa.
Berikut ini adalah keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi pH urine :
pH basa : setelah makan, vegetarian, alkalosis sistemik, infeksi saluran kemih
(Proteus atau Pseudomonas menguraikan urea menjadi CO2 dan ammonia), terapi
alkalinisasi, asidosis tubulus ginjal, spesimen basi.
pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan, penyakit demam pada anak), asidosis
sistemik (kecuali pada gangguan fungsi tubulus, asidosis respiratorik atau
metabolic memicu pengasaman urine dan meningkatkan ekskresi NH4+), terapi
pengasaman.
b. Glukosa urine
Kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam
urin (kurang dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi
karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun.
Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak
sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria
tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes mellitus.

Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa oksidase
(GOD), peroksidase (POD) dan zat warna. Pemeriksaan glukosa urine dapat
menggunakan:

a) Metode Fehling
Prinsip : Dengan pemanasan urine dalam suasana alkali, glukosa akan
mereduksi cupri sulfat menjadi cupro oksida. Pengendapan cupri hidroksida
dicegah dengan penambahan kalium natrium tartrate.
b) Metode Benedict
Prinsip : Glukosa dalam urine akan mereduksi garam-garam kompleks yang
terdapat pada pereaksi benedict (ion cupri direduksi menjadi cupro) dan
mengendap dalam bentuk CuO dan Cu2O.
Interpretasi hasil pada metode Fehling dan Benedict:
(-)

: tetap biru, biru kehijauan.

(+1) : hijau kekuning-kuningan dan keruh (sesuai dengan 0,5 1 % glukosa)


(+2) : kuning keruh (1 1,5 % glukosa)
(+3) : jingga atau warna lumpur keruh (2 3,5 % glukosa)
(+4) : merah bata (lebih dari 3,5 % glukosa)
c.

Protein Urine

Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang


diserap oleh tubulus ginjal. Normal ekskresi protein urine biasanya tidak melebihi
150 mg/24 jam atau 10 mg/dl dalam setiap satu spesimen. Lebih dari 10 mg/ml
didefinisikan sebagai proteinuria.
Sejumlah kecil protein dapat dideteksi dari individu sehat karena perubahan
fisiologis. Selama olah raga, stres atau diet yang tidak seimbang dengan daging dapat
menyebabkan protein dalam jumlah yang signifikan muncul dalam urin. Pramenstruasi dan mandi air panas juga dapat menyebabkan jumlah protein tinggi.
Protein terdiri atas fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin
merupakan petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan
karena penyakit glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi. Sedangkan
peningkatan ekskresi globulin dengan berat molekul rendah merupakan petanda yang
sensitif untuk beberapa tipe penyakit tubulointerstitiel.

Proteinuria biasanya disebabkan oleh penyakit ginjal akibat kerusakan


glomerulus dan atau gangguan reabsorpsi tubulus ginjal. Pemeriksaan protein dalam
urine berdasarkan pada prinsip kesalahan penetapan pH oleh adanya protein. Sebagai
indikator digunakan tertrabromphenol blue yang dalam suatu sistem buffer akan
menyebabkan pH tetap konstan. Akibat kesalahan penetapan pH oleh adanya protein,
urine yang mengandung albumin akan bereaksi dengan indikator menyebabkan
perubahan warna hijau muda sampai hijau. Indikator tersebut sangat spesifik dan
sensitif terhadap albumin. Perubahan warna yang terjadi dalam waktu 60 detik.
Hasilnya dilaporkan sebagai negative, +1 (30 mg/dl), +2 (100 mg/dl), +3 (300 mg/dl)
atau +4 (2000 mg/dl).
Pemeriksaan protein urine dapat juga menggunakan:
a) Metode Rebus
Prinsip : Untuk menyatakan adanya urine yang ditunjukkan dengan
adanya kekeruhan dengan cara penambahan asam akan lebih mendekatkan ke
titik isoelektris dari protein. Pemanasan selanjutnya mengadakan denaturasi
sehingga terjadi presipitasi yang dinilai secara semi kuantitatif.
b) Metode Sulfosalisilat
Prinsip dari metode sulfosalisilat sama dengan metode Rebus. Interpretasi
hasil metode Rebus dan Sulfosalisilat:
(-)

: tetap jernih.

(+1) : ada kekeruhan ringan tanpa butir-butir (0,01 0,05 g/dl)


(+2) : kekeruhan mudah dilihat dan tampak butir-butir (0,05 0,2 g/dl)
(+3) : urine jelas keruh dan kekeruhan itu jelas berkeping-keping (0,2 0,5 g/dl)
(+4) : urine sangat keruh dan bergumpal (lebih dari 0,5 g/dl)

DAPUS:
Ganiswarna sulistia. 2007. Farmakologi dan Terapa, edisi V. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
Gandasoebrata, R. 2009. Penuntun laboratorium Klinik. Jakarta Timur: penerbit Dian Rakyat