Anda di halaman 1dari 6

KAJIAN EVIDENCE BASED MEMBATASI GERAK PADA PERSALINAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Pada Ibu
Bersalin dan Bayi Baru Lahir

Disusun Oleh:
Kelompok VII
1. Betri Cahyanti

P07124215086

2. Fitri Eka Widati

P07124215094

3. Linda Kusumawati

P07124215102

4. Rika Nofitasari

P07124215110

5. Tuti Nuryani

P07124215118

Dosen Pembimbing: Sumarah, SST, M.Ph


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
DIV ALIH JENJANG KEBIDANAN
2015/2016

MOBILISASI
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah,
teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk
kemandirian (Barbara Kozier, 1995). Sebaliknya keadaan imobilisasi adalah suatu
pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri
dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada
pada posisi tetap dengan gravitasi berkurang seperti saat duduk atau berbaring
(Susan J. Garrison, 2004).
PERSALINAN
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil
konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi persalinan sejati, yang
ditandai oleh perubahan progresif pada serviks dan diakhiri dengan pelepasan
plasenta (Varney, 2007).
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi
pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi
belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu
maupun pada janin (Saifuddin,10).
Sedangkan persalinan normal menurut WHO adalah persalinan yang dimulai
secara spontan, beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama
proses persalinan. Bayi dilahirkan secara spontan dalam presentasi belakang kepala
pada usia kehamilan antara 37 hingga 42 minggu lengkap. Setelah persalinan ibu
maupun bayi berada dalam kondisi sehat.
ASUHAN PERSALINAN
Dasar asuhan persalinan normal adalah asuhan yang bersih dan aman selama
persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan komplikasi terutama
perdarahan pasca persalinan, hipotermia, dan asifiksia bayi baru lahir. Sementara
itu, focus utamanya adalah mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan
suatu pergeseran paradigma dari sikap menunggu dan dan menangani komplikasi
menjadi mencegah komplikasi yang mungkin terjadi (Sarwono, 2010, hal 297).

Dalam persalinan dikenal ada empat kala yaitu Kala I, Kala II, Kala III, dan Kala
IV persalinan. Kala satu persalinan mulai ketika telah tercapai kontraksi uterus
dengan frekuensi, intensitas, dan durasi yang cukup untuk menghasilkan pendataran
dan dilatasi serviks yang progresif. Kala satu persalinan selesai ketika serviks sudah
membuka lengkap (sekitar 10 cm). Setelah pembukan lengkap dilanjutkan dengan
kala II persalinan yaitu kala pengeluaran bayi, kala III persalinan yaitu pengeluaran
plasenta, dan diahiri kala IV yaitu 2 jam postpartum.
Ada lima aspek dasar atau lima benang merah, yang penting dan saling terkait
dalam asuhan persalinan yang bersih dan aman. Berbagai aspek tersebut melekat
pada setiap persalinan, baik normal maupun patologis. Lima Benang Merah tersebut
adalah:
1. Membuat Keputusan Klinik
2. Asuhan Sayang Ibu dan Sayang Bayi
3. Pencegahan Infeksi
4. Pencatatan (Rekam Medik) Asuhan Persalinan
5. Rujukan
Lima Benang Merah ini akan selalu berlaku dalam penatalaksanaan persalinan,
mulai dari kala I hingga kala IV, termasuk penatalaksanaan bayi baru lahir.
Asuhan yang dapat dilakukan oleh bidan adalah sebagai berikut:
1. Memberikan dukungan dan yakinkan dirinya
2. Memberikan informasi mengenai proses dan kemajuan persalinan
3. Lakukan perubahan posisi, yaitu posisi sesuai dengan keinginan ibu, tetapi jika
ibu ingin di tempat tidur sebaiknya dianjurkan tidur miring ke kiri
4. Hadirkan pendamping agar menemaninya (suami atau ibunya), untuk memijat
atau menggosok punggungnya atau membasuh mukanya diantara kontraksi
5. Mengajarkan kepada ibu teknik pernapasan yaitu ibu diminta untuk menarik
napas panjang, menahan napasnya sebentar kemudian dilepaskan dengan cara
meniup udara keluar sewaktu terasa kontraksi
6. Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi serta prosedur
yang akan dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan

7. Menganjurkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar kemaluannya setelah


buang air kecil/besar
8. Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi, berikan cukup
minum
9. Mengosongkan kandung kemih ibu
10. Melakukan pemantauan
Dari beberapa asuhan tersrbut salah satunya adalah melakukan perubahan
posisi, yaitu posisi sesuai dengan keinginan ibu. Ibu yang menjalani persalinan
harus mengupayakan posisi yang nyaman baginya, dengan catatan tidak ada
kontraindikasi untuk posisi terkait.
MOBILISASI PADA PERSALINAN
Pada kala I fase laten maupun fase aktif persalinan, bidan perlu untuk
memberikan asuhan sayang ibu salah satunya dengan memfasilitasi ibu dalam hal
perubahan posisi dan melakukan mobilisasi sesuai dengan keinginannya, dengan
catatan tidak terdapat kontraindikasi dari posisi dan mobilisasi yang dilakukan.
Selain itu manajemen nyeri juga diperlukan untuk membantu ibu meredakan sakit
yang dirasakannya.
1. Manajemen nyeri
Seiring dengan bertambahnya pembukaan serviks pada fase aktif, rasa nyeri
yang dirasakan ibu pun akan semakin bertambah. Oleh karena itu, dibutuhkan
manajemen nyeri agar nyeri yang dirasakan ibu dapat berkurang atau teralihkan.
Ada dua pendekatan dalam manajemen nyeri yaitu pendekatan nonfarmakologis
dan farmakologis.
Pendekatan nonfarmakologis misalnya : relaksasi dan distraksi, imajinasi
atau visualisasi, masase atau pijatan, hidroterapi, akupresur, dan sebagainya.
Sedangkan pendekatan farmakologis contohnya : pemberian obat jenis
sedatif/tranquilizer, opioid, dan sebagainya.
Pada dasarnya ibu bersalin mengalami nyeri dengan tingkat yang berbedabeda. Rasa nyeri menjadi lebih buruk ketika kecemasan, ketegangan, dan
kelemahan muncul. Dengan membatasi gerak pada ibu bersalin akan
menimbulkan ketegangan yang berefek pada nyeri.

2. Posisi
Wanita harus mengambil posisi apapun yang membuatnya nyaman, posisi ini
bisa berubah, dapat di tempat tidur atau di luar tempat tidur, berdiri yang dapat
meredakan sakit kontraksi, berjalan, duduk, berlutut di atas satu kaki sedangkan
kaki yang lainnya ditekuk, mengayun, berjongkok, berlutut, posisi tangan dan
lutut, lutut dada atau pada posisi terlentang atau lateral (kanan atau kiri).
Pengaturan posisi di tempat tidur mencakup miring kiri, mengatur letak
bantal, guling selimut atau handuk, atau mengatur strategi letak benda-benda ini
untuk meningkatkan relaksaki, mengurangi ketegangan otot, dan menghilangkan
titik-titik tekanan. Hal ini dapat dilakukan setiap posisi yang dianggap wanita
nyaman.
3. Mobilisasi
Pada saat fase laten biasanya akan berlangsung cukup lama apalagi kalau
ibu hamil tersebut primigravida, maka tidak ada salahnya jika ibu difasilitasi
untuk mobilisasi seperti :
a. Berjalan, membantu ibu bernapas lebih mudah, dan pastikan saat berjalanjalan ibu ditemani
b. Menggerakkan pinggul kedepan dan kebelakang atau bentuk lingkaran untuk
membantu bayi bergerak menuju panggul dan untuk membuat ibu nyaman
Pada saat fase aktif biasanya ibu akan memilih untuk berada di tempat tidur
karena merasa sakitnya sudah semakin sering dan lama sehingga ibu akan
enggan meninggalkan tempat tidur. Posisi yang dianjurkan yaitu berbaring miring
kiri karena sangat baik untuk oksigenisasi ibu ke janin.
PEMBATASAN MOBILISASI PADA PERSALINAN
Mobilisasi sangat penting dalam persalinan, merubah posisi khususnya ketika
merasakan kontraksi. Gerakan berdiri, berjalan, dan berjongkok merupakan gerakan
yang paling efektif untuk membantu proses turunnya bagian terendah janin.
Sehingga pembatasan gerak pada kondisi ini dapat menghambat proses penurunan
kepala dan berakibat pada kala I memanjang. Padahal gerakan kecil seperti gerakan
miring di tempat tidur dapat memberikan kondisi yang santai, oksigenisasi yang baik

untuk janin serta meminimalkan laserasi, sedangkan gerakan merangkak dapat


mempercepat rotasi, meminimalkan peregangan perinium dan rasa sakit punggung.
Namun, adakalanya ibu tidak diperbolehkan turun dari tempat tidur atau melakukan
ambulasi, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Ketika ketuban pecah, janin berukuran kecil (di bawah 2000 gram), presentasi
kaki atau bokong atau letak melintang. Pada keadaan seperti ini, muncul resiko
prolapsus tali pusat yang meningkat ketika ibu dalam posisi berdiri. Bahkan
posisi telentang dengan kepala berada di atas tempat tidur, yang ditinggikan
dengan bantal lebih dari 20 sampai 30 derajat akan semakin meningkatkan
resiko prolapsus tali pusat.
2. Ketika ibu mendapat pengobatan dengan obat yang membuat ibu pusing atau
membuat kakinya tidak stabil ketika berdiri.
3. Selama persalinan yang kemajuannya cepat.
4. Ketika ibu mengalami komplikasi obstetrik atau medis yang mengharuskan ibu
tetap di tempat tidur.
Pembatasan gerak yang dilakukan pada ibu bersalin akan menimbulkan stress
pada ibu dalam menjalani masa bersalinnya yang menyebabkan persalinan akan
berlangsung tidak fisiologis seperti persalinan lama.
Berdasarkan jurnal yang kami temukan tidak menyebutkan adanya dampak
yang posisif dari pembatasan gerak pada persalinan normal sehingga tidak ada
anjuran untuk melakukan pembatasan gerak pada persalinan normal kecuali ada
indikasi seperti yang disebut di atas.
Pada jurnal tersebut dilakukan penelitian mengenai perlakuan aktif birth pada
ibu dalam masa persalinan dibandingan dengan ibu yang tidak dilakukan aktif birth
dalam masa persalinannya. Aktif birth itu sendiri yaitu asuhan yang diberikan kepada
ibu dalam masa persalinan dimana ibu akan diberikan kesempatan untuk memilih
posisi yang dianggapnya nyaman dan memiliki afek nyeri minimal. Dalam penelitian
jurnal tersebut diperoleh hasil bahwa ibu yang diberikan perlakuan akan merasakan
nyeri yang lebih minimal daripada ibu yang tidak diberi perlakuan.