Anda di halaman 1dari 7

RESUME SKILLAB

KONSERVASI GIGI

Oleh :
Novia Fisca Liliany

(141610101042)

Fakultas Kedokteran Gigi


Universitas Jember
2016

RESUME SKILL LAB


KLINIK KONSERVASI GIGI

Konservasi gigi merupakan salah satu cabang ilmu kedokteran gigi yang
bertujuan mempertahankan dan mengembalikan fungsi normal gigi, atau dapat
dijabarkan mempelajari tentang cara menanggulangi kelainan (penyakit) jaringan keras gigi,
pulpa dan periapikal untuk mempertahankan gigi didalam mulut melalui restorasi dan perawatan
endodontic, baik secara konvensional maupun bedah. Ilmu ini bertujuan untuk melakukan
perawatan gigi serta mempertahankan gigi selama mungkin di dalam mulut agar estetik dan fungsi
kunyah kembali normal.
Pada skillab kali ini kita belajar di klinik konservasi gigi dan mendapatkan pasien dengan
kasus gigi berlubang bagian anterior. Sebelum memulai pemeriksaan terlebih dahulu kita
daftarkan pasien pada bagian rekam medis. Hal ini sangat penting karena rekam medis
merupakan sarana untuk penyimpanan berbagai dokumen yang berkaitan dengan
kesehatan pasien. Rekam medik kedokteran gigi adalah suatu dokumentasi yang
sistematis mengenai riwayat perawatan kesehatan gigi seorang pasien oleh saranan
pelayanan kesehatan. Dokumentasi ini dapat berupa catatan tertulis atau dalam
bentuk elektronik, namun harus berisi informasi yang lengkap dan akurat tentang
identitas pasien, diagnosa, perjalanan penyakit, kode penyakit ICD 10, proses
pengobatan

dan

tindakan

medis

serta

dokumentasi

hasil

pemeriksaan

(PRMKG :2014)
Setelah mendapatkan nomer registrasi di bagian rekam medik, barulah
melakukan anamnesis untuk mempermudah dalam mendiagnosis penyakit pasien
sehingga kita dapat menentukan perawatan yang tepat sesuai dengan penyakit
pasien. Pertama kita persilahkan pasien duduk dengan rileks. Jangan lupa
penampilan kita harus rapi dan budayakan tersenyum agar pasien tidak merasa takut.
Awalilah perbincangan dengan menanyakan nama pasien agar mendapatkan kesan

lebih akrab sehingga kita dengan mudah melakukan anamnesis berupa menggali
informasi sebanyak-banyaknya tentang keluhan dan riwayat penyakit pasien.
Berikut merupakan identitas pasien yang kami tulis pada kartu status pasien :

Nama lengkap

: Wahyuningsih / No.RM : 049326

Tanggal lahir/umur

: 8 Februari 1971 / 45 tahun

Pekerjaan

: Pramuniaga

Alamat

: Jalan Manggar II/34 Patrang, Jember Jawa Timur

Status perkawinan

: Kawin

Nama orang tua

:-

Kebangsaan/Suku bangsa

: Indonesia / Jawa

Berdasarkan anamnesis

yang telah dilakukan ibu Wahyuningsih

mempunyai keluhan tambalan lepas pada gigi depan atas setelah menggigit mangga.
Riwayat penyakit berdasarkan keluhan utama adalah Ibu Wahyuningsih tidak
pernah merasakan sakit pada saat makan panas, dingin maupun manis tidak pula
merasakan linu/cekot-cekot. Riwayat perawatan gigi dan mulut yang pernah
dilakukan yakni pernah menambalkan gigi belakang sebelah kanan di puskesmas
sekitar 2-3 tahun yang lalu, penambalan gigi depan atas ditempat praktik dokter gigi
namun 2 bulan yang lalu tambalannya lepas usai menggigit mangga. Untuk riwayat
kesehatan umum (penyakit sistemik/alergi) saat cuaca dingin biasanya bu
Wahyuningsih mengalami biduren. Kebiasan buruk yang sering dilakukan pasien
yakni mengunyah dengan satu sisi yaitu sebelah kiri karena gigi disebelah kanan
sudah tidak ada sehingga merasa kesulitan untuk mengunyah disebelah kanan.
Riwayat kesehatan keluarga, ibu pasien meninggal karena penyakit jantung dan
ayahnya meninggal tanpa sebab pasti tetapi ada pembengkakan di kaki.
Setelah melakukan anamnesis kami melanjutkan dengan pemeriksaan
kondisi umum pasien, jika ditinjau dari kondisi fisik pasien normal namun kali ini

kami tidak melakukan pemeriksaan tanda vital. Untuk pemeriksaan klinis ekstra
oral kondisi wajah, kepala dan leher normal. Pemeriksaan kelenjar nimfe normal
artinya tidak terjadi pembengkakan limfonodi. Pemeriksaan kelenjar saliva juga
normal. Untuk pemeriksaan sendi temporo mandibular mencangkup pergerakan
mandibula membuka dan menutup normal, pergerakan mandibula ke segala arah
normal, kemampuan membuka mulut juga normal.
Berdasarkan pemeriksaan objektif pembengkakan ekstra oral berupa
pembengkakan

kelenjar

submandibula

dan

submental

hasilnya

negatif.

Pemeriksaan ini seharusnya tidak dilakukan karena pasien memiliki keluhan


pada gigi anterior sehingga yang seharusnya diperiksa adalah kelenjar parotis.
Pada gigi 21 karies profunda perforasi karena karies bukan karena trauma.
Pasien tidak mengalami rasa sakit saat dilakukan tes tekan, perkusi pada gigi 21 dan
dua gigi yang mengapit yakni 11 dan 22, pemeriksaan palpasi juga tidak terasa sakit
ini dapat disimpulkan bahwa rangkaian tes tersebut hasilnya negatif. Gigi
mengalami perubahan warna kecoklatan. Kemudian untuk tes kegoyangan gigi,
derajat kegoyangan kami tidak melakukan pemeriksaan hal ini merupakan
kesalahan kami, seharusnya dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui secara
klinis apakah ada kerusakan pada jaringan periodontal atau tidak.
Selanjutnya kami melakukan tes termal berupa tes dingin pada gigi 21 dan
gigi sebelahnya yaitu 11 dan 22 dengan menggunakan chloretil hasilnya negatif,
untuk tes termal panas kami tidak melakukannya. Sebenarnya tes termal tidak
perlu dilakukan apabila karies sudah mengalami perforasi karena pasti
menunjukkan hasil negatif karena mahkota sudah habis sehingga untuk keadaan
gigi yang demikian sebaiknya langsung dilakukan tes jarum miller.
Kondisi gingiva disekitar gigi normal, untuk pemeriksaan polip kami tidak
melakukan pemeriksaan. Tes selanjutnya adalah tes jarum miler, pemeriksaan ini
sangat penting untuk gigi yang sudah karies profunda perforasi guna mengetahui
vitalitas gigi dan mengetahui panjang daerah kerja untuk perawatan selanjutnya.
Pada pemeriksaan jarum miller hasilnya negatif karena pasien tidak merasakan sakit.

Hasil pengukuran panjang jarum miller yang masuk diukur dari stopper yng
diletakkan pada cups tertinggi gigi adalah 17,5mm.
Pemeriksaan selanjutnya merupakan pemeriksaan penunjang yaitu
pemeriksaan radiologi pada gigi 21.

Dari gambaran radiografi diatas dapat kami interpretasikan bahwa kondisi


ruang pulpa pada gigi 21 normal artinya tidak terjadi atropi, ramifikasi, obliterasi
maupun kalsifikasi jadi tidak perlu dilakukan pemeriksaan tersebut. Kondisi akar
gigi normal dan tidak terjadi hipersementosis. Kondisi lamina dura terputus. Terjadi
penebalan pada membran periodontal. Pada daerah periapikal terdapat gambaran
radiolusensi berbatas, hal ini mengindikasikan terdapat pelebaran periodontal di
daerah periapikal kemungkinan pasien juga terserang periodontitis.
Pada gambaran radiografi diatas dapat mengungkap kesalahan bahwa posisi
jarum miller melebihi apikal konstriksi pantas saja pada waktu pemeriksaan jarum
miller pasien merasa sedikit nyeri.
Berdasarkan rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan didapatkan
diagnosa klinik pasien adalah nekrosis pulpa totalis. Rencana perawatan yang akan

dilakukan pada gigi 21 adalah perawatan endo intrakanal dan restorasi mahkota
pasak.
Endo intrakanal adalah pengangkatan seluruh jaringan pulpa yang sudah
mati seluruhnya. Endo intrakanal merupakan perawatan untuk jaringan pulpa yang
telah mengalami kerusakan yang bersifat irreversibel atau untuk gigi dengan
kerusakan jaringan keras yang luas. Jika seluruh jaringan pulpa dan kotoran
diangkat serta saluran akar diisi dengan baik akan diperoleh hasil perawatan yang
baik pula. Tahapan perawatan endo intrakal sama dengan perawatan pulpektomi,
perbedaan perawatannya adalah pada pemakaian anastesi, pada perawatan endo
intrakanal tidak memerlukan anastesi karena gigi dalam kondisi non vital.

Indikasi endo intrakanal :


- Nekrosis pulpa totalis
- Perawatan ulang
- Kelainan periapikal

Kontraindikasi endo intrakanal :


- OH jelek
- Tidak mempunyai nilai estetik / fungsional
- Fraktur dengan arah vertikal
- Mengganggu pertumbuhan gigi tetangga
- Resorbsi interna / eksterna meliputi setengah akar
Mahkota pasak merupakan suatu restorasi indirek. Restorasi ini terdiri dari
dua komponen, yaitu inti dan pasak. Inti dapat dibuat dengan bahan dental amalgam,
komposit resin, semen glass ionomer, atau logam cor.
Pasak dan inti yang ideal harus memenuhi beberapa sifat, diantaranya
modulus elastisitas, compresive strength, dan koefisien ekspansi termal yang sama
dengan dentin. Sifat lain yang harus dimiliki adalah ketahanan terhadap korosi dan
kemampuan untuk berikatan yang baik. Mahkota pasak digunakan terutama pada

gigi dengan kehilangan struktur mahkota dalam jumlah besar. Pembuangan kamar
pulpa pada perawatan endodontik menyebabkan gigi membutuhkan dukungan baik,
dari internal maupun eksternal, karena itu mahkota pasak menjadi indikasi.
Mahkota pasak diindikasikan menjadi restorasi setelah perawatan endodontik pada
gigi anterior jika jaringan keras gigi yang tersisa tidak memiliki bentuk retensi yang
adekuat, yaitu pada gigi dengan sisa kehilangan struktur gigi dalam jumlah besar
dan membutuhkan penutupan menyeluruh.

Sumber penunjang :
1. Panduan Rekam Medik Kedokteran Gigi. Sub direktorat pelayanan kesehatan gigi
dan mulut, Kementrian Kesehatan RI. 2014
2. Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi edisi 3. Bhaum,Phillips,Land. EGC. Jakarta.