Anda di halaman 1dari 15

FURUNKEL PADA

HIDUNG

PUTRI HARDYANTI
1310211142

DEFINISI
Furunkel adalah infeksi dari
kelenjar sebasea atau folikel
rambut yang melibatkan jaringan
subkutan.
Bisul hidung (furunkel hidung)
keterbatasan peradangan
supuratif akut depan hidung atau
folikel ujung rambut pada hidung,
kelenjar sebasea atau kelenjar
keringat.

EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini memiliki insidensi yang rendah.
Belum terdapat data spesifik yang menunjukkan prevalensi
furunkel.
Umumnya terjadi paling banyak pada anak-anak, remaja sampai
dewasa muda.

ETIOLOGI
paling sering Staphylococcus aureus
Penularannya dapat melalui kontak atau auto inokulasi dari lesi
penderita.
Komunitas MRSA (methycillin resistant Staphylococcus aureus)
Menggali atau menarik hidung.
Daya tahan tubuh rendah (seperti diabetes) rentan terhadap
penyakit.

PATOFISIOLOGI
Bakteri masuk melalui luka, goresan, robekan dan iritasi pada kulit
-> berkolonisasi di jaringan kulit. Respon primer host untuk
melawan infeksi adalah timbulnya peradangan -> membentuk pus
yang terdiri dari sel darah putih, bakteri dan sel kulit yang mati.

FAKTOR RISIKO
a. Sosio ekonomi rendah
b. Higiene personal yang jelek
c. Rhinitis kronis, akibat iritasi dari sekret rongga hidung.
d. Kebiasaan mengorek-ngorek bagian dalam hidung.

MANIFESTASI KLINIS
Nyeri lokal, berdenyut, bersifat ringan sampai sedang
Kulit disekitarnya tampak bengkak, kemerahan
Kadang disertai demam dan malaise
berkembang dan dalam 4-5 hari akan menghasilkan cairan
purulen

MANIFESTASI KLINIS
Furunkel pada
kolumela

DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Pasien datang dengan keluhan adanya bisul di dalam hidung.
Gejala adanya bisul di dalam hidung kadang disertai rasa nyeri dan perasaan tidak
nyaman. Kadang dapat disertai gejala rhinitis.
Adanya faktor risiko
2. Pemeriksaan fisik
Pada lubang hidung tampak furunkel. Paling sering terdapat pada lateral vestibulum
nasi yang mempunyai vibrissae (rambut hidung).
3. Pemeriksaan Penunjang: Tidak diperlukan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan kultur
tes sensitivitas
CT scan dan MRI jika ada komplikasi

PENATALAKSANAAN
a. Kompres hangat dapat meredakan perasaan tidak nyaman.
b. Jangan memencet atau melakukan insisi pada furunkel.
c. Pemberian antibiotik topikal, seperti pemberian salep antibiotik bacitrasin dan
polmiksin B serta antibiotik oral karena lokasi furunkel yang berpotensial menjadi
bahaya. Antibiotik diberikan dalam 7-10 hari, dengan pemberian Amoxicilin 500 mg,
3x/hari, Cephalexin 250 500 mg, 4x/hari, atau Eritromisin 250 500 mg, 4x/hari.
d. Insisi dilakukan jika sudah timbul abses.
Konseling dan Edukasi Memberitahukan individu dan keluarga untuk:
e. Menghindari kebiasaan mengorek-ngorek bagian dalam hidung.
f.

Tidak memencet atau melakukan insisi pada furunkel.

g. Selalu menjaga kebersihan diri.

KOMPLIKASI
Abses septum nasi
Furunkel pada hidung potensial berbahaya karena infeksi dapat
menyebar ke vena fasialis, vena oftalmika, lalu ke sinus kavernosus
sehingga menyebabkan tromboflebitis sinus kavernosus.
Vestibulitis.

PROGNOSIS
Prognosis pada umumnya bonam
Beberapa kasus dapat menjadi ekstensif atau kronik

PROGNOSIS

Tampilan furunkulosis sebelum dan


sesudah diterapi dengan antibiotik

REFERENSI
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer , IDI, 2014.