Anda di halaman 1dari 5

MEMBRAN EKSTRA EMBRIONAL

PISCES ELASMOBRANCHII

Oleh:

Kelompok 7
Lis Arofah Rismawati
Aevi Aenun Nikmah
Shinta Prabawati
Lisna Aini
Rachma Giri Alifia
Syifa Mubarrak
Syarif Faturokhman

(B1J014046)
(B1J014048)
(B1J014049)
(B1J014050)
(B1J014051)
(B1J014052)
(B1J012088)

TUGAS TERSTRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN


KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

PENDAHULUAN
Elasmobranchii adalah kelompok ikan bertulang rawan . Jumlah spesies
elasmobranchii di dunia mencapai 1000 spesies. Ikan ini memiliki ciri yang unik dan berbeda
dengan ikan lainnya. Ukuran tubuh yang besar, struktur tubuh yang terdiri atas tulang rawan
dan sifatnya sebagai predator, sangat menarik untuk diamati. Anggota elasmobranchii

meliputi pari dan hiu yang dipisahkan dari Holochephali (Chimaera atau hiu hantu)
berdasarkan letak insang pada lengkung ke 5-7. Ikan ini unik karena termasuk dalam
kelompok ikan purba yang masih hidup dengan karakter yang berbeda dengan ikan bertulang
sejati lainnya. Sifat-sifat biologi elasmobranchii antara lain fekunditas rendah, pertumbuhan
lambat, umur yang panjang dan resiko kematian tinggi pada semua tingkat umur. Keunikan
sifat elasmobranchii ini menyebabkan populasinya sangat dipengaruhi oleh aktifitas manusia
(Owen, 2002).
Perkembangan embrional elasmobranchii dimulai dari terbentuknya beberapa selaput
yang berasal dari embrio tetapi terletak di luar tubuh embrio dan tidak menjadi bagian dari
tubuh embrio. Selaput ini disebut selaput ekstra embrionik. Meskipun nantinya tidak menjadi
bagian dari tubuh embrio, akan tetapi selaput ini memiliki peranan yang sangat penting bagi
perkembangan embrio. Selaput ekstra embrionik berfungsi sebagai media perantara bagi
pertukaran zat serta perlindungan bagi embrio. Selaput ini sebenarnya terbentuk dari dua
lapis yaitu dari lapis ektoderm dengan mesoderm somatis (somatopleura) untuk amnion dan
korion serta dari lapis endoderm dengan mesoderm splanknis (splanknopleura) untuk kantung
kuning telur dan alantois
Terdapat empat macam selaput ekstra embrional antara lain :
1. Kantung Kuning Telur ( yolk sac)
Yolk sac adalah selaput yang menyelubungi kuning telur, berkembang baik pada
unggas tetapi relatif tidak berkembang pada mamalia. Yolk sac merupakan selaput ekstra
embrio yang paling awal dibentuk. Splanknopleura embrio ayam tidak membentuk suatu
saluran tertutup tetapi tumbuh diatas permukaan yolk, mengelilinginya sehingga membentuk
suatu kantung. Splanknopleura yang mengelilingi yolk awalnya berasal dari hipoblast primer
dan skunder. Bersamaan dengan melebarnya splanknopleura ekstra embrio, pada
splanknopleura intra embrio terjadi pula lipatan-lipatan sehingga terbentuk dinding
pencernaan atau usus di dalam embrio. Bagian tengah usus tengah yang menghadap ke yolk
tetap terbuka dan pada daerah ini dinding kantung yolk berhubungan dengan dinding usus
pada tangkai yolk. Walaupun kantong yolk dihubungkan dengan usus oleh tangkai yolk,
tetapi makanan tidak dimasukkan lewat tangkai yolk. Lapisan endoderm kantung yolk
membuat lipatan masuk ke dalam yolk dengan bantuan enzim-enzim pencernaan yolk yang
telah dicerna diserap dan dialirkan ke embrio melalui vena vitelin, vena omfalomensenterika
yang terdapat pada tangkai yolk. Selama perkembangan embrio, albumen akan kehilangan
airnya sehingga menjadi lebih kental serta volumenya berkurang. Dengan tubuhnya alatois,
albumen teerdorong ke ujung distal dari kantung yolk. Albumen, seperti hanya yolk,

dikelilingi oleh perpanjangan splanknopleura kantung yolk (kantung albumen), yang


mengarbsorbsi dan mentransfernya melalui sirkulasi ekstra embrio ke dalam tubuh embrio.
Menjelang akhir masa inkubasi, sisa yolk beserta kantung yolk masuk ke dalam rongga perut
dan selanjutnya dinding perut menutup. Sisa yolk sangat penting bagi anak ayam yang baru
menetas, yang akan menggunakannya sebagai makanan kemudian selama awal masa
kehidupan bebasnya.
Pada mamalia kantung kuning telur bersifat sementara. Sel telur mamalia memiliki
jumlah kuning telur sedikit sehingga peran kuning telur sebagai sumber nutrisi digantikan
oleh darah induk melalui plasenta. Meskipun kantung kuning telur berkembang di awal
perkembangan embrional mamalia (kemudian akan mengecil dan hanya menjadi bagian dari
tali pusar), kantung kuning telur memiliki fungsi yang penting. Pada mamalia, kantung
kuning telur pada awal perkembangannya berfungsi sebagai hematopoesis (pembentuk sel-sel
darah) dan pada beberapa spesies sebagai sumber bakal sel gamet primordial.
2. Amnion
Suatu membran tipis berasal dari somatopleura berbentuk suatu kantung
menyelubungi embrio dan berisi cairan. Amnion terdapat pada reptilia burung dan mamalia
sehingga disebut kelompok amniota. Ikan dan amfibia tidak mempunyai amnion sehingga
disebut an amniota.
Pada unggas, amnion terbentuk sebagai akibat pelipatan somatopleura daerah kepala
ke arah dorsokaudal, daerah ekor ke arah dorsokranial, dan daerah dinding lateral ke arah
dorsomedial. Di daerah dorsal lipatan ini akan menyatu dan membentuk mesamnion atau
chorionic raphe yang pada ayam bersifat menetap. Selanjutnya somatopleura sebelah dalam
disebut amnion dan sebelah luar disebut korion. Amnion dan korion dipisahkan oleh ruang
ekstra embrionik (extraembryonic coelom). Amnion berisi cairan yang berasal dari ginjal
fetus, kelenjar mulut dan alat pernafasan. Cairan amnion ini berfungsi sebagai media untuk
mengambang, melindungi serta memungkinkan pergerakan dari tubuh dan tungkai embrio.
Pada mamalia dengan implantasi non invasive, pembentukan amnion dan korion
terjadi seperti pada unggas. Pada mamalia dengan implantasi invasive (seperti manusia dan
rodensia), pembentukan amnion terjadi sebagai akibat peronggaan dari inner cell mass (ICM)
pada saat proses gastrulasi.
3. Korion
Korion merupakan selaput ekstra embrionik paling luar. Pada unggas korion
menempel pada pada selaput kerabang sebelah dalam setelah hari ke 7-8 inkubasi. Korion
bersama-sama dengan alantois berfungsi di dalam pertukaran gas dan air.

Pada marnalia korion merupakan selaput ekstra embrionik yang berhubungan dengan
endometrium induk untuk membentuk plasenta. Korion pada mamalia memiliki vili-vili yang
berfungsi untuk memperluas daerah permukaan korion untuk perlekatan dengan endometrium
induk serta kaya dengan pembuluh-pembuluh darah yang akan berfungsi di dalam pertukaran
darah dengan induk.
4. Alantois
Alantois merupakan selaput ekstra embrionik yang terbentuk dari penonjolan dinding
usus belakang yang berbentuk seperti kantung. Pada unggas dan mamalia (kecuali manusia)
alantois berkembang dan mengisi ruang ekstra embrionik dan bagian luarnya menyatu
dengan korion membentuk korioalantois.
Tabel komparasi Membran Ekstra Embrional pada setiap kelas
Pisces
Amphibi
Reptil
Aves
Mamalia

Saccus vitellinus
Saccus vitellinus
Saccus vitellinus
Saccus vitellinus
Saccus vitellinus

Amnion
Amnion
Amnion

Korion
Korion
Korion

Alantois
Alantois
Alantois

. Menurut Soeminto (2004) dan Storer (1985), tiap kelas mempunyai karakteristik
berbeda terkait jumlah dan macam dari membran ekstra embrionalnya. Pisces dan amfibi
hanya memiliki saccus vitellinus sebagai membran ekstra embrionalnya, dikarenakan
perkembangan embrionya terjadi secara eksternal, fertilisasi eksternal dan juga kelas ini yang
memang masih primitif perkembangannya. Fungsi anti-dehidrasi dari amnion digantikan oleh
perairan tempat dimana embrio berkembang, fungsi korion digantikan oleh lapisan keras
yang juga disebut korion namun bukan korion, dikarenakan lapisan tersebut tidak
berkembang dari somatopleura seperti dari korion pada kelas-kelas lainnya. Alantois tidak
ditemukan pada pisces maupun amfibi dikarenakan setelah ikan keluar dari telur yolk sac
baru digunakan untuk hidup selagi menunggu kesiapan organ pencernaan, berbeda dengan
kelas-kelas lain misal mamalia, aves maupun sebagian reptilia. Sebagian besar hewan
terrestrial (hewan darat) mempunyai membran ekstra embrional yang lengkap. Salah satu
manfaatnya adalah untuk mempertahankan embrio agar tetap bertahan hidup pada lingkungan
yang lebih ekstrim dari pada lingkungan perairan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi
perkembangan embrio hewan terrestrial, sehingga diperlukan mekanisme khusus untuk
melindungi embrio agar tidak mati sebelum berkembang menjadi dewasa.

Pada dasarnya perbedaan antara hewan akuatik dan hewan terrestrial pada kelas hewan
di atas adalah pisces dan amfibi yang notabene tinggal di lingkungan perairan hanya
mempunyai membran ekstra embrional berupa saccus vitellinus atau yolk sac. Embrio pisces
tidak mempunyai amnion dikarenakan kebutuhan akan air sudah sangat dipenuhi oleh
lingkungan, sehingga tidak perlu lagi membentuk amnion untuk mencegah embrio dari
dehidrasi. Selain itu pisces juga tidak memiliki korion, karena fungsi korion pada ikan
digantikan oleh zona pelusida. Alantois berfungsi sebagai penampung sisa-sisa metabolisme
yang merupakan hasil ekskresi dari embrio. Pada embrio pisces sisa-sisa metabolisme akan
langsung dapat diekskresikan ke lingkungan perairan tanpa harus melalu alantois