Anda di halaman 1dari 8

KLASIFIKASI ADOPSI INOVASI

BERDASARKAN KECEPATAN MENGADOPSI


Ditujukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penyuluhan dan Komunikasi
Perikanan

Disusun oleh :
Kelompok 13
Sheillawati Permana

230110130062

Dea Febrian

230110130113

Siti Aliyah

230110130144

Yuliana Rafika

230110130153

Rifqi Abdurohman

230110140114

Perikanan B

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2016

KLASIFIKASI ADOPSI INOVASI


BERDASARKAN KECEPATAN MENGADOPSI
A.

Pengertian Adopsi dan Inovasi


Inovasi adalah sesuatu ide, perilaku, produk, informasi, dan praktek-praktek

baru yang belum banyak diketahui, diterima dan digunakan/diterapkan,


dilaksanakan

oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas

tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan


disegala aspek kehidupan masyarakat demi selalu terwujudnya perbaikanperbaikan mutu hidup setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang
bersangkutan (Mardikanto, 1993).
Mardikanto
penerapan
disampaikan

dan

Sri

Sutarni

(1982)

mengartikan

adopsi

sebagai

atau penggunaan sesuatu ide, alat-alat atau teknologi baru yang


berupa pesan komunikasi (lewat penyuluhan). Manifestasi dari

bentuk adopsi ini dapat dilihat atau diamati berupa tingkah laku, metoda, maupun
peralatan dan teknologi yang dipergunakan dalam kegiatan komunikasinya.
B.

Proses Adopsi dan Inovasi


Samsudin (1982) menyebutkan, adopsi adalah suatu proses yang dimulai

dari keluarnya ide-ide dari satu pihak, disampaikan kepada pihak kedua, sampai
diterimanya ide tersebut oleh masyarakat sebagai pihak kedua. Seseorang
menerima suatu hal atau ide baru selalu melalui tahapan-tahapan. Tahapan ini
dikenal sebagai tahap proses adopsi, secara bertahap mulai dari:
1. Awareness (kesadaran), sasaran mulai sadar tentang inovasi yang
ditawarkan oleh penyuluh.
2. Interest (ketertarikan), keinginan untuk mengatahui lebih jauh sesuatu yang
berkaitan dengan inovasi yang ditawarkan.
3. Evaluation (evaluasi), penilaian terhadap baik/buruk atau manfaat inovasi
yeng telah diketahui informasinya secara lebih lengkap.
4. Trial (mencoba), melakukan percobaan dalam skala kecil untuk lebih
meyakinkan penilaiannya.

5. Adoption (adopsi), menerima/menerapkan dengan penuh keyakinan


berdasarkan penilaian dan uji coba yang telah dilakukan dan diamatinya
sendiri.
Rogers (1958) menggolongkan adopter berdasarkan kecepatan adopsi
terhadap suatu inovasi menjadi lima golongan, yaitu:
1. Inovator (perintis atau pelopor). Seorang inovator adalah pribadi yang suka
berpetualang, mencoba hal-hal baru, dan mempunyai obsesi mengenai suatu
hal baru. Sifatnya ini membuatnya berada pada lingkaran hubungan sosial
kosmopolitan, jauh dari lingkup putaran lokal (local circle). Seorang
innovator harus memiliki finansial yang kuat terkait beberapa proses
pengembangan pengetahuan ide baru yang akan dilakukan. Mereka harus
bergelut dengan ketidakpastian mengenai kapan inovasi yang mereka
ciptakan akan diadopsi oleh adopter. Jadi, inovator memegang peranan
sebagai gatekeeping mengenai ide baru dalam sistem sosial (Rogers 1983 :
248).
2. Early adopter (pemula). Early adopter lebih terintegrasi dengan sistem lokal
dibandingkan seorang inovator. Pada kategori ini seorang individu harus
mempunyai peranan yang paling besar menjadi seorang opinion leader di
dalam kebanyakan sistem sosial. Early adopter sering mencari informasi dan
hal-hal terkait dengan sebuah inovasi, karena sifatnya inilah seorang change
agents sering menunjuknya sebagai misionaris lokal untuk menyebarkan
proses difusi. Karena kedekatannya dengan inovasi ini, menjadikannya
sebagai model contoh bagi masyarakat lain, dirinya sangat dihormati dalam
lingkup sistem sosial. Jadi, peran seorang early adopter adalah mengurangi
ketidakpastian mengenai sebuah inovasi untuk dapat diadopsi, perannya
menyampaikan evaluasi subjektif

mengenai inovasi kepada rekan

terdekatnya melalui saluran interpersonal (Rogers 198 : 249).


3. Early Majority (pemula dalam jumlah yang banyak). Seorang early majority
mengadopsi ide baru sesaat sebelum rata-rata anggota sistem sosial
melakukan adopsi serupa. Individu pada tahap ini sering berinteraksi dengan
peers tapi jarang memegang posisi pemimpin. Early majority mendapatkan
posisi unik di antara early majority dan late adopter membuat mereka
2

menjadi link penghubung yang penting dalam proses difusi. Mereka


menjadi penghubung antar fase dalam prses difusi. Periode pengambilan
keputusan difusi pada proses ini cenderung lambat dibanding seorang early
adopter (Rogers 1983 : 249).
4. Late Majority (pemula lanjutan). Individu pada tahap ini cenderung
melakukan adopsi sebuah ide baru ketika mayoritas anggota dalam sistem
sosial telah melakukan adopsi terlebih dahulu. Tindakan adopsi yang lambat
biasanya didasari atas kebutuhan ekonomi dan keinginan menjawab tekanan
sosial. Mereka tidak akan mengadopsi sampai sebagian besar individu
melakukan adopsi terlebih dahulu. Sistem norma sering berperan
menciptakan sikap skeptis ini, peranan seorang peers sangat tinggi dalam
memberikan motivasi untuk melakukan sebuah adopsi inovasi (Rogers 1983
: 250).
5. Laggards (todak melakukan adopsi inovasi). Laggards merupakan kategori
terakhir dalam fase adopsi. Mereka sama sekali tidak memiliki seorang
opinion leader, sifatnya cenderung diluar sistem sosial dan terisolir.
Keputusan untuk melakukan difusi sering diambil setelah mengamati
penggunaan ide baru melalui generasi sebelumnya dan mereka cenderung
berinteraksi dengan sesama kaum tradisional. Kategori ini melambatkan
proses difusi karena sifatnya yang sangat tradisional dan sulit menerima
masukan (Rogers 1983 : 250).
C.

Tingkat Adopsi Inovasi Teknologi Budidaya Ikan Lele Sangkuriang


Kolam Terpal
Studi kasus mengenai adopsi inovasi dan kategorisasi dari berbagai tipe

adopter dalam proses adopsi inovasi teknologi baru bidang perikanan salah
satunya yaitu adopsi teknologi budidaya ikan lele sangkuriang kolam terpal di
kecamatan Cipanas Kabupaten Lebak Pandeglang Banten. Berikut merupakan
kategorisasi adopter pada penerapan teknologi budidaya ikan lele kolam terpal :

a.

Innovator
3

Golongan perintis ini jumlahnya tidak banyak dalam masyarakat. Sekitar


2,5% individu yang pertama kali mengadopsi inovasi (Rogers 1983). Karekteristik
golongan ini antara lain : gemar, mencoba, inovasi, dan rata-rata pada umumnya
berpartisipasi aktif dalam penyebarluasan inovasi. Dalam hal ini golongan perintis
dalam masyarakat memiliki pendidikan yang tinggi sehingga dalam proses adopsi
inovasi yang diberikan penyuluh cenderung lebih cepat mengadopsi dibandingkan
kelompok sosial lainnya. Selain pendidikan yang tinggi, innovator dalam proses
adopsi inovasi juga terdapat beberapa karakteristik lainnya diantaranya, yang
tergolong kelompok innovator yaitu memiliki status ekonomi yang baik sehingga
dalam proses penerapan adopsi inovasi dapat berlangsung secara cepat. Salah satu
studi kasus yaitu dalam kegiatan penyuluhan perikanan kepada pelaku utama
budidaya ikan yang berada di Kecamatan Cipanas Kabupaten Pandeglang hanya
2 orang dari keseluruhan responden yang menjadi perintis inovasi teknologi
budidaya ikan lele kolam terpal. Hal tersebut dikarenakan yang termasuk pada
golongan innovator memiliki lahan sendiri yang mendukung berlangsungnya
penerapan teknologi budidaya ikan lele kolam terpal. Kondisi ekonomi yang baik
sehingga berani dalam mengambil resiko ketika menghadapi kegagalan. Termasuk
golongan yang kosmopolit dalam mencari informasi, dan memiliki hubungan
relasi yang cukup luas di luar daerah untuk mendukung inovasi yang diterapkan.
Termasuk golongan ini yaitu pembudidaya kelas atas yang memiliki modal yang
besar.
b.
Early Adopter
Golongan ini disebut juga dengan golongan pengetrap dini. Golongan ini
mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, gemar membaca buku, suka
mendengar radio, memiliki faktor produksi non lahan yang relative komplit.
13,5% yang menjadi para perintis dalam penerimaan inovasi. Berdasarkan hasil
penelitian Hanan, A et al. (2013) yang termasuk dalam kategori early adopter
sekitar 26,6 % atau 5 orang dari keseluruhan responden yang dari kelima tersebut
tidak memiliki faktor produksi non lahan sehingga dalam penerimaan dan
penerapan innovasi masih mengikuti kelompok budidaya yang berada di daerah
tersebut. Responden yang termasuk early adopter memiliki kondisi ekonomi yang
baik sehingga mendukung dalam proses penerapan inovas. Selain itu juga sesuai
4

dengan karakteristik adopter, responden yang termasuk early adopter mempunyai


tingkat kosmopolit atau kinerja untuk mencari informasi mengenai inovasi teknik
budidaya ikan lele kolam terpal cukup baik dibandingkan dengan kelompok
adopter yang lain. Hal tersebut dilihat dai keaktifan dalam mencari informasi baik
sesama pelaku utama perikanan atau pembudidaya, kepada penyuluh, maupun
kepada lembaga yang terkait dengan usaha yang dijalankan.
c.
Early majority
Golongan ini disebut juga golongan pengerap awal. Sekitar 34% yang
menjadi pera pengikut awal.Golongan ini pada umumnya mempunyai tingkat
pendidikan rata-rata seperti anggota masyarakat lainnya, dapat menerima inovasi
selama inovasi tersebut memberikan keuntungan kepadanya. Berdasarkan hasil
penelitian Hanan, A et al. (2013) yang terkategorikan sebagai early majority
sekitar 63,3 % dari keseluruhan responden pelaku utama budidaya ikan yang
berada di lokasi penelitian. Dalam hal ini, early majority termasuk kelompok
yang menerapkan inovasi lebih awal dibandingkan dengan kelompok masyarakat
pada umumnya. Akses modal yang kurang menjadi pertimbangan utama untuk
mengambil keputusan mengadopsi teknologi budidaya ikan lele kolam terpal
tersebut. Sehingga responden yang tergolong dalam kategori ini

mampu

menerima inovasi namun belum dapat menerapkan inovasi tersebut secara


mandiri.
d.
Late majority
Golongan ini disebut juga dengan pengetrap akhir. Sekitar 34 % yang
menjadi pengetrap akhir.

Golongan ini pada umumnya berusia lanjut dan

memiliki tingkat pendidikan rendah, status sosial ekonominya rendah dan lambat
menerapkan inovasi. Berdasarkan hasil penelitian Hanan, A et al. (2013) golongan
ini selama penerapan teknologi budidaya lele kolam terpal tercatat sekitar 13, 4 %
dari keseluruhan responden. Golongan ini termasuk kedalam kelompok
pembudidaya yang hanya mengikuti saja kegiatan inovasi dan belum menerapkan
teknologi tersebut. Selain itu, menurut Syafruddin (2003) bahwa golongan
penerap akhir ini mengadopsi inovasi apabila telah melihat kebanyakan orang
menggunakan inovasi. Jadi golongan ini melihat keberhasilan sebagian besar

masyarakat, baru berani mengikuti untuk mengadopsi inovasi. Dengan demikian


faktor lingkungan sangat mendukung mereka dalam proses keputusan adopsi.
e.
Laggards
Golongan penolak ini pada umumnya usia lanjut, jumlahnya sangat sedikit
dan tingkat pendidikannya sangatlah rendah, tidak suka terhadap perubahanperubahan. 16% terakhir adalah kaum kolot/tradisional. Kelompok ini memiliki
derajat kekosmopolitan yang sangat rendah dan sangat kolot dalam pemikiran.
Hal- hal tabu selalu dipegang teguh sebagai alat untuk menolak inovasi dan selalu
menjadikan masa lalu sebagai contoh yang baik dan harus dilestarikan (Zubir, E
dan Isdianto, J 2011). Berdasarkan hasil penelitian Hanan, A et al. (2013) analisis
adopsi mengenai teknologi budidaya ikan lele kolam terpal yang termasuk dalam
kategori laggard sekitar 6,3 %

dan termasuk kategori yang keinovatifannya

rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Mardikanto T, 1988, Komunikasi Pembangunan, UNS Press Surakarta.
6

Rogers, E.M. 1983. Diffusions of Innovations, Third Edition. Free Press.


New York
Samsudin, U.S. 1982. Dasar-Dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian.
Binacipta. Bandung.
Syafruddin. 2003. Pengaruh Media Cetak Brosur dalam Proses Adopsi dan Difusi
Inovasi Beternak Ayam Boiler di Kota Kendari. http ://www.
Damadiri.or.id/file/syafruddin. Diakses pada tanggal 29 Maret 2016 Pukul
06.00 WIB.
Zubir, E dan Isdianto Joko. 2011. Kategori Adopter Dan Tingkat Keinovatifan
Masyarakat Nelayan. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Dan
Pengabdian Masyarakat. Universitas Terbuka.