Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
Diabetes Mellitus (DM) yang umum dikenal sebagai kencing
manis

adalah

penyakit

yang

ditandai

dengan

hiperglikemia

(peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan bervariasi,


terutama setelah makan. Diabetes

mellitus merupakan keadaan

hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat


gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik
pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran
basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop electron.
Laporan dari WHO mengenai studi populasi DM di berbagai
Negara, jumlah penderita diabetes mellitus pada tahun 2005 di
Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita
diabetes mellitus dengan prevalensi 8,4 juta jiwa. Urutan diatasnya
adalah India (31,7 juta jiwa), China (20,8 juta jiwa), dan Amerika
Serikat (17,7 juta jiwa) (WHO, 2010).
Klasifikasi DM menurut WHO dibagi menjadi beberapa tipe.
Yang pertama yaitu DM tipe 1 dimana secara etiologi terjadi
destruksi sel beta, umumnya menjurus kepada defisiensi insulin
absolute, terjadi auto imun serta idiopati. Yang kedua adalah DM
tipe 2 secara etiologi bervariasi mulai dari dominan resistensi
insulin disertai defisiensi insulin relative sampai yang terjadi defek
sekresi insulin disertai resistensi insulin. Yang ketiga adalah DM
Gestasional yaitu diabetes yang terjadi pada saat kehamilan atau
karena berat bayi yang dilahirkan lebih. Dan selanjutnya adalah DM
tipe lainnya dimana terjadi defek fungsi sel beta, defek genetik

kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena


obat atau zat kimia, adanya infeksi, sebab imunologi yang jarang,
serta sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM (WHO, 2015).
Berdasarkan laporan rumah sakit dan puskesmas, prevalensi
diabetes mellitus tergantung insulin atau yang lebih dikenal dengan
DM tipe I di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2009 sebesar 0,16%,
mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2008
sebesar 0,09%. Prevalensi kasus diabetes mellitus tidak tergantung
insulin lebih dikenal dengan DM tipe II, mengalami peningkatan dari
0,83% pada tahun 2007, menjadi 0,96% pada tahun 2008, dan
1,25% pada tahun 2009 (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2010).
Jumlah

tersebut

semakin

membuktikan

bahwa

penyakit

Diabetes Mellitus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang


serius. Data Departemen Kesehatan RI menyebutkan bahwa jumlah
pasien rawat inap maupun rawat jalan di Rumah Sakit menempati
urutan pertama dari seluruh penyakit endokrin adalah Diabetes
mellitus. Organisasi yang peduli terhadap permasalahan Diabetes,
Diabetic

Federation

mengestimasi

bahwa

jumlah

penderita

Diabetes mellitus di Indonesia pada tahun 2008, terdapat 5,6 juta


penderita Diabetes untuk usia diatas 20 tahun, akan meningkat
menjadi 8,2 juta pada tahun 2020, bila tidak dilakukan upaya
perubahan pola hidup sehat pada penderita (Depkes RI, 2010).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Diabetes Mellitus
Menurut Perkeni (2011) dan ADA (2012) Diabetes Melitus
adalah

suatu

karakteristik

kelompok

hiperglikemia

penyakit
yang

metabolik

terjadi

karena

dengan
kelainan

sekresi insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya, yang


menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal,
saraf dan pembuluh darah.
B. Klasifikasi dan Diagnosis Diabetes Mellitus
Klasifikasi dari Diabetes Melitus berdasarkan ADA (2012)
dan Perkeni (2011) adalah sebagai berikut:
I.

Diabetes Melitus Tipe 1


(Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi
insulin absolut):
A. Melalui Proses Imunologik
B. Idiopatik

II.

Diabetes Melitus Tipe 2


(Bervariasi mulai terutama yang predominan resistensi
insulin disertai
defesiensi

insulin

relatif

sampai

yang

predominan

gangguan sekresi insulin


bersama resistensi insulin)
III.

Diabetes Melitus Tipe Lain


A. Defek Genetik fungsi sel Beta :
- Kromosom 12, HNF-1 (dahulu MODY 3)
- Kromosom 7, glukokinase (dahulu MODY 2)
- Kromosom 20, HNF-4 (dahulu MODY 1)
- Kromosom 13, insulin Promoter factor-1 (IPF-1,
dahulu MODY4)
- Kromosom 17, HNF-1 (dahulu MODY 5)
- Kromosom 2, Neuro D1 (dahulu MODY 6)
- DNA Mitochondria, dan lainnya
B. Defek genetik kerja insulin : resistensi insulin tipe A,
leprechaunism,

sindrom

Rhabson

Mendenhall,

diabetes lipoatrofik, lainnya


C. Penyakit

eksokrin

Pankreas

Pankreatitis,

trauma/pankreatektomi, neoplasma, fibrosis kistik,


hemokromatosis, pankreatopati fibro kalkulus, lainnya
D. Endokrinopati

akromegali,

sindrom

cushing,

feokromotositoma, hipertiroidisme somatostatinoma,


aldosteronoma, lainnya
E. Karena obat/zat kimia : vacor, pentamidin, asam
nikotinat, glukokortikoid,

hormone

tiroid,

diazoxid,

agonis edrenergic, tiazid, dilantin, interferon alfa,


lainnya
F. Infeksi : rubella congenital, CMV, lainnya
G. Imunologi (jarang) : sindrom Stiff-man, antibody
anti reseptor insulin lainnya
H. Sindrom genetik lain : Sindrom Down, Sindrom
Klinefelter,

sindrom

Turner,

sindrom

Friedreichs,

Chorea

Hutington,

sindrom

Laurence-Moon-Biedl,

Distrofi

Miotonik,

Porfiria,

Ataksia

Wolframs,

Sindrom Prader Willi, lainnya


IV.

Diabetes kehamilan

Diagnosis dari Diabetes Melitus harus didasarkan atas


pemeriksaan kadar glukosa darah. Penegakan diagnosis
Diabetes Melitus harus memperhatikan asal bahan darah
yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. Penegakan
diagnosis berdasarkan pemeriksaan yang dianjurkan adalah
pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan
darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole
blood), vena ataupun kapiler tetap dapat dipergunakan
dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang
berbeda sesuai pembakuan oleh WHO, sedangkan untuk
tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan

menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler (Perkeni,


2011).
Kriteria

Diagnostik

Diabetes

Melitus

dan

Gangguan

Glukosa menurut ADA pada tahun 2012 adalah sebagai


berikut:
1. A1C 6,5 % atau
2. Kadar Glukosa Darah Sewaktu (plasma vena) >
200mg/dl atau
3. Kadar Glukosa Darah Puasa > 126mg/dl atau
4. Kadar Glukosa Plasma > 200 mg/dl pada 2 jam
sesudah beban glukosa 75 gram pada TTGO
Sedangkan

menurut

Perkeni,

Kadar

Glukosa

Darah

Sewaktu dan Puasa sebagai Patokan Penyaring dan diagnosis


DM dijelaskan dalam tabel berikut:

C. Faktor-Faktor Predisposisi dabetes Mellitus


Faktor-faktor predisposisi terjadinya diabetes mellitus
meliputi keturunan, ras atau etnis, obesitas, penyakit lain,

usia, riwayat diabetes pada kehamilan, infeksi, dan obatobatan.


1. Keturunan
Apabila ibu, ayah, kakak, atau adik mengidap diabetes,
kemungkinan diri juga terkena diabetes lebih besar
daripada bila yang menderita diabetes adalah kakek,
nenek, atau saudara ibu dan saudara ayah. Sekitar 50%
pasien diabetes tipe 2 mempunyai orang tua yang
menderita diabetes, dan lebih sepertiga pasien diabetes
mempunyai saudara yang mengidap diabetes. Diabetes
tipe 2 lebih banyak terkait dengan faktor riwayat keluarga
atau keturunan ketimbang diabetes tipe 1. Pada diabetes
tipe 1, kemungkinan orang terkena diabetes hanya 3-5%
bila orang tua dan saudaranya adalah pengidap diabetes.
2. Ras atau Etnis
Beberapa ras tertentu, seperti suku Indian di Amerika,
Hispanik, dan orang Amerika di Afrika, mempunyai risiko
lebih besar terkena diabetes tipe 2. Kebanyakan orang dari
ras-ras tersebut dulunya adalah pemburu dan petani dan
biasanya kurus. Namun, sekarang makanan lebih banyak
dan gerak badannya makin berkurang sehingga banyak
mengalami obesitas sampai diabetes dan tekanan darah
tinggi.

Pada

orang-orang

Amerika

di

Afrika

(African

Americans) pada usia di atas 45 tahun, mereka yang kulit


hitam, terutama wanita, lebih sering terkena diabetes 1,42,3 kali daripada mereka yang kulit putih.
3. Obesitas

Kegemukan adalah faktor risiko yang paling penting untuk


diperhatikan. Sebab, melonjaknya angka kejadian diabetes
tipe 2 sangat terkait dengan obesitas. Lebih dari 8 di
antara 10 penderita diabetes tipe 2 adalah mereka yang
obesitas. Makin banyak jaringan lemak, jaringan tubuh dan
otot akan makin resisten terhadap kerja insulin (insulin
resistance), terutama bila lemak tubuh atau kelebihan
berat badan terkumpul di daerah sentral atau perut
(central obesity). Lemak ini akan memblokir kerja insulin
sehingga glukosa tidak dapat diangkut ke dalam sel dan
menumpuk dalam peredaran darah.
4. Penyakit Lain
Beberapa penyakit tertentu dalam prosesnya cenderung
diikuti dengan tingginya kadar glukosa darah di kemudian
hari.

Akibatnya,

pasien

juga

bisa

terkena

diabetes.

Penyakit-penyakit itu antara lain : hipertensi, gout (pirai)


atau radang sendi akibat kadar asam urat dalam darah
yang tinggi, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit
pembuluh darah perifer, atau infeksi kulit yang berulang.
5. Usia
Risiko

terkena

diabetes

akan

meningkat

dengan

bertambahnya usia, terutama diatas 40 tahun, serta


mereka

yang

kurang

gerak

badan,

massa

ototnya

berkurang, dan berat badannya makin bertambah. Namun,


belakangan ini, dengan makin banyaknya anak yang
mengalami obesitas, angka kejadian diabetes tipe 2 pada
anak dan remaja pun meningkat.
6. Riwayat Diabetes pada Kehamilan

Diabetes pada kehamilan atau gestational diabetes dapat


terjadi pada 2-5% ibu hamil. Biasanya di abetes akan
hilang setelah anak lahir. Namun, lebih dari setengahnya
akan terkena diabetes di kemudian hari. Semua ibu hamil
harus diperiksa glukosa darahnya. Ibu hamil dengan
diabetes dapat melahirkan bayi besar dengan berat badan
lebih dari 4 kg. Apabaila ini terjadi, sangat besar
kemungkinan si ibu akan mengidap diabetes tipe 2 kelak.
7. Infeksi
Pada kasus diabetes tipe 1 yang terjadi pada anak,
seringkali didahului dengan infeksi flu atau batuk pilek
yang berulang-ulang. Penyebabnya adalah infeksi oleh
virus, seperti mumps dan Coxsackie, yang dapat merusak
sel pankreas dan menimbulkan diabetes.
8. Obat-obatan
Beberapa obat dapat meningkatkan kadar glukosa darah,
dan bahkan bisa menyebabkan diabetes. Bila mempunyai
risiko terkena diabetes, harus memakai obat-obatan ini
dengan

sangat

hati-hati.

Obat-obatan

yang

dapat

menaikkan glukosa darah antara lain adalah hormon


steroid, beberapa obat anti-hipertensi, dan obat untuk
menurunkan kolesterol.
D. Patogenesis Pada Diabetes Mellitus
Semua tipe Diabetes Melitus, sebab utamanya adalah
hiperglikemi atau tingginya gula darah dalam tubuh yang
disebabkan sekresi insulin, kerja dari insulin atau keduanya.

Defisiensi insulin dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu (ADA,


2012) :
a. Rusaknya sel-sel pancreas. Rusaknya sel beta ini
dapat dikarenakan genetik, imunologis atau dari
lingkungan seperti virus. Karakteristik ini biasanya
terdapat pada DiabetesMelitus tipe 1.
b. Penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas.
c. Kerusakan reseptor insulin di jaringan perifer.
Apabila di dalam tubuh terjadi kekurangan insulin, maka
dapat mengakibatkan (Ignativicius dan Workman, 2006;
Smeltzer et al,
2008) :
a. Menurunnya

transpor

glukosa

melalui

membran

sel,

keadaan ini mengakibatkan sel-sel kekurangan makanan


sehingga meningkatkan metabolisme lemak dalam tubuh.
Manifestasi

yang

muncul

adalah

penderita

Diabetes

Melitus selalu merasa lapar atau nafsu makan meningkat


atau yang biasa disebut poliphagia.
b. Meningkatnya

pembentukan

glikolisis

dan

glukoneogenesis,
E. Gejala Dan Tanda Diabetes Mellitus
Gejala

dan

tanda-tanda

Diabetes

Melitus

dapat

digolongkan menjadi gejala akut dan gejala kronik (Perkeni,


2011) :
1. Gejala Akut Penyakit Diabetes Melitus
Gejala penyakit Diabetes Melitus dari satu penderita ke
penderita

lain

bervariasi,

bahkan

mungkin

tidak

menunjukkan gejala

apa

pun sampai saat tertentu.

Permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi serba banyak


(poli) yaitu banyak makan (poliphagi), banyak minum
(polidipsi) dan banyak kencing (poliuri). Keadaan tersebut,
jika tidak segera diobati maka akan timbul gejala banyak
minum,

banyak

kencing,

nafsu

makan

mulai

berkurang/berat badan turun dengan cepat (turun 5 10


kg dalam waktu 2 4 minggu), mudah lelah, dan bila tidak
lekas diobati, akan timbul rasa mual, bahkan penderita
akan jatuh koma yang disebut dengan koma diabetik.
2. Gejala Kronik Diabetes Melitus
Gejala kronik yang sering dialami oleh penderita Diabetes
Melitus adalah kesemutan; kulit terasa panas, atau seperti
tertusuk-tusuk jarum; rasa tebal di kulit; kram; capai ;
mudah mengantuk, mata kabur, biasanya sering ganti
kacamata; gatal di sekitar kemaluan terutama wanita; gigi
mudah goyah dan mudah lepas kemampuan seksual
menurun, bahkan impotensi dan para ibu hamil sering
mengalami

keguguran

atau

kematian

janin

dalam

kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg.


F. Penatalaksanaan
1. Antidiabetika Oral (Sutrisna, EM, 2015)
Dari

cara pemberiannya obat hipoglikemik terdiri dari

obat hipoglikemik oral dan obat hipoglikemik suntik yang


mengandung insulin. Obat hipoglikemik oral di Indonesia
terutama

didominasi

oleh

golongan

-glukosidase

inhibitor (acarbose), dan golongan meglitinid. Golongan

obat hipoglikemik oral lainnya adalah Thiazolidinedion


(glitazone).
a. Golongan Sulfonilurea
Obat ini menurunkan kadar glukosa darah dengan cara
merangsang keluarnya insulin dari sel pancreas. Ia
tidak dapat berfungsi manakala pancreas rusak dan
tidak memproduksi insulin lagi, dengan demikian cocok
untuk pasien DM tipe II dengan berat badan normal.
Pada pasien gemuk penggunaanya perlu hati-hati
karena mungkin kadar insulin darahnya sudah tinggi
namun kurang

efektif

karena resistensi insulin,

akibatnya hiperinsulinemia semakin berlebih dan ini


sangat berbahaya.
Beberapa
antara

contoh

lain:

obat

klorpopamid,

golongan

sulfonilurea

glikazid, glibenklamid,

glipizid, glikuidon, dan tolbutamid (Anonim, 2000)


b. Golongan Biguanid
Metformin

satu-satunya

golongan

biguanid

yang

tersedia, bekerja menghambat glukoneogenesis dan


meningkatkan penggunaan glukosa di jaringan. Jadi,
obat ini hanya efektif bila terdapat insulin endogen.
Karena kerjanya yang berbeda dengan sulfonilurea,
keduanya tidak dapat dipertukarkan. Dapat digunakan
sendiri atau bersama dengan golongan sulfonilurea.
Kelebihan dari golongan sulfonilurea adalah tidak
menaikan

berat

badan,

dapat

menurunkan kadar

insulin

plasma,

dan

tidak

menimbulkan

masalah

hipoglikemia (Anonim, 2000).

c. Golongan Inhibitor -glukosidase


Akarbose

dan

miglitol,

obat-obat

ini

termasuk

kelompok obat baru, yang berdasarkan persaingan


inhibisi enzim -glukosidase di mukosa duodenum,
sehingga

reaksi

penguraian dipolisakarida

menjadi

monosakarida dihambat. Dengan demikian glukosa


dilepaskan lebih lambat dan absorbsinya ke dalam
darah juga kurang cepat, lebih rendah dan merata,
sehingga memuncaknya kadar gula darah dihindarkan.
d. Golongan Meglitinid: repaglinida (Novonorm)
Obat ini bekerja menurut suatu mekanisme khusus,
yakni mencetuskan pelepasan insulin dari pancreas
segera sesudah makan. Meglitinid harus diminum tepat
sebelum makan dan karena reabsorbsinya

cepat,

maka mencapai kadar puncak dalam 1 jam. Insulin


yang

dilepaskan

menurunkan

glukosa

darah

secukupnya. Eksresinya juga cepat sekali, dalam waktu


1 jam sudah dikeluarkan dari tubuh.
e. Golongan Thiazolidinedion
Troglitazon adalah kelompok obat baru pula pada
tahun 1996 dipasarkan di AS dan Inggris. Kegiatan

farmakologisnya luas dan berupa penurunan kadar


glukosa

dan

kepekaan
dan

insulin

bagi

dengan

insulin

hati. Sebagai

dari

jalan
otot,

meningkatkan
jaringan

lemak

efeknya penyerapan glukosa ke

dalam jaringan lemak dan otot meningkat. Begitu pula


menurunkan kadar trigliserida/asam lemak bebas dan
mengurangi glukoneogenesis dalam hati. Zat ini tidak
mendorong

pancreas

untuk

meningkatkan

pelepasan insulin seperti sulfonylurea.


2. Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari
penatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada
penderita diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini :
a. Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya
vitamin dan mineral)
b. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang
sesuai
c. Memenuhi kebutuhan energi
d. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya
dengan

mengupayakan

kadar

glukosa

darah

mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan


praktis
e. Menurunkan
meningkat

kadar

lemak

darah

jika

kadar

ini

BAB III
KASUS SKENARIO 1
A. Skenario Kasus
A 56-year-old woman with diabetes mellitus came to the
primary health care complaining of nausea and vomiting since
two weeks ago. Omeprazole and antacids were administered
but partial relief. She also complained that there was an itchy
area with multiple plaque located at the neck and her inguinal
region.
She had a history of diabetes mellitus for two years. She
had taken glibenclamid for oral antidiabetic since two years
ago. From physical examination showed that weight was

50kgs, the height was 150 cms, the lips were dirty; the vital
signs and the remainder of the examination was normal. The
capillary blood glucose level was 250 mg/dl, the lipid profile
and liver functions test were normal. The skin lesions at the
neck and inguinal region showed that there was red area and
multiple annular scary plaques with raised edges.
The

doctor

gave

her

oral

drugs:

glibenclamid,

omeprazole, domperidon, and cetirizin. Then topical drug :


miconazol cream.
B. Analisis Kasus
Untuk kasus scenario diatas, Pasien dapat dibarikan
terapi secara rawat jalan. Karena tidak ada indikasi penyakit
yang membahayakan. Keluhan pasien adalah mual dan
muntah sudah dua minggu disertai adanya gatal-gatal pada
leher dan region inguinal. Dari ukk yang dijelaskan dalam
scenario kasus,

terdapat area

kemarahan dengan plak

multiple annular yang berbatas tegas dengan tepi meninggi,


merujuk pada tinea kruris.
Penyakit utama pasien adalah Diabetes Mellitus dan telah
menderita DM selama dua tahun, hal ini dibuktikan dengan
pemakaian glibenclamid selama dua tahun. Glibenclamid
adalah

obat

antidiabetika

golongan

sulfonylurea,

yang

mempunyai kerja menurunkan kadar glukosa darah dengan


cara merangsang keluarnya insulin dari sel pancreas.
Tersedia dalam bentuk tablet 2,5mg dan 5mg.
Untuk keluhan mual dan muntah dokter memberikan
Omeprazole. Omeprazol berfungsi sebagai penurun kadar
asam yang diproduksi oleh lambung. Keadaan mual dan

muntah bisa jadi dikarenakan keadaan asam lambung pasien


meningkat. Tersedia sediaan tablet 20mg dan 40mg, injeksi,
dan kapsul. Masuk kedalam jenis penghambat pompa proton.
Sebagai tambahan, dokter member Domperidone. Yaitu
obat

anti-emetik.

Berfungsi

sebagai pereda

rasa

mual,

muntah, gangguan perut, rasa tidak nyaman akibat kejang,


serta refluks asam lambung. Namun, berisiko menganggu
detak jantung pada usia lanjut. Tersedia dalam tablet 10mg,
syrup dan suppositoria. Dikonsumsi 30menit-1jam sebelum
makan.
Untuk keadaan gatal pasien, dokter memberikan obat
cetirizine. Obat ini termasuk golongan antihistamin, sangat
beruna untuk mengurangi gatal-gatal karena alergi seperti
ruam pada kulit. Kerjanya menghalangi kinerja senyawa
histamine yang diproduksi oleh tubuh. Tersedia dalam sediaan
tablet 10mg, kapsul, obat kunyah, obat larut dan syrup.
Dokter juga memberikan topical drug berupa miconazole
krim. Miconazole digunakan untuk mengatasi infeksi jamur
spectrum luas yang menyerang bagian tubuh seperti vagina,
mulut, dan kulit. Tiap g krim mengandung miconazole nitrat
20mg. cra pemakaian dioleskan secukupnya 2 kali sehari.
Selain

memberikan

pengobatan

medikamentosa,

sebaiknya diberikan konseling terhadap penyakit pasien.


Seperti,

menjaga

higienitas

lebih

baik,

menghindari

pemakaian celana yang ketat, sering mengganti pakaian, dan


memakai pakaian dalam yang dapat menyerap keringat.
Karena jamur sering tumbuh pada tempat yang lembab dan
sering resisten.

BAB V

KESIMPULAN
1. Pasien tidak perlu pemeriksaan penunjang, diberikan terapi
secara rawat jalan
2. Pasien memiliki penyakit Diabetes Mellitus, disertai keluhan
mual dan muntah serta terserang penyakit jamur, tinea kruris.
3. Selain harus patuh dengan meminum obat yang diresepkan,
pasien juga harus lebih menjaga higientasnya.

DAFTAR PUSTAKA
ADA (American Diabetic Assosiation), 2012
Perkeni, 2011
Dinkes Jateng, 2010
Depkes RI, 2010
WHO (World Health Organization), 2015
WHO (World Health Organization), 2010. Epidemiology Diabetic
mellitus.
Sutrisna, EM. 2015. Dasar-Dasar Pengobatan Rasional: Buku
Ajar Blok Rational. Surakarta: Muhammadiyah University Press