Anda di halaman 1dari 13

RESUME

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Genetika


yang dibimbing oleh Bapak Duran Corebima Aloysius

Disusun oleh:
Kelompok 7
Offering B
Jody Oki Ibrahim

(140341606446)

Novia Naylul Muna

(140341604895)

The Learning University

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
April 2016

LAJU MUTASI DAN DETEKSI MUTASI


LAJU MUTASI
Parameter yang digunakan untuk mengukur kejadiannya mutasi ada 2:
1. Laju mutasi (mutation rate) : peluang mutasi sebagai fungsi dari waktu
2. Frekuensi mutasi (mutation frequency) : kejadian mutasi pada suatu macam sel atau
populasi.
Pada umumnya laju mutasi yang teramati rendah, dengan demikian mutasi spontan jarang
terjadi, sekalipun frekuensi yang teramati berbeda dari gen ke gen maupun dari makhluk hidup
ke makhluk hidup. Laju mutasi gen-gen tertentupada berbagai makhlu hidup, sedangkan frekunsi
mutasi spontan di lokus-lokus tertentu pada berbagai makhluk hidup.
Dalam hal ini tersirat bahwa kesimpulan tentang laju mutasi yang teramati rendah serta
mutasi spontan yang jaran terjadi itu didasarkan pada mutasi yang dampaknya teramati
(terdeteksi), dan sama sekali tidak termasuk mutasi yang dampaknya tidak teramati (tidak
terdeteksi), apalagi mutasi yang sudah sempat diperbaiki.
Menurut Gardner dkk, mengatakan bahwa pengukuran frekuensi muatasi ke depan ( forward
mutation) berkisar 10-8 hingga 10-10 muatasi yang dapat terdeteksi per pasangan nucleotide per
generasi, demikian pula untuk makhluk hidup eukariotik, perkiraan mutasi ke depan berkisar
sekitar 10-7 hingga 10-9 mutasi yang dapat terdeteksi per pasangan nucleotide per generasi.
Seperti yang telah dikemukakan bahwa laju muatasi secara individual memang rendah. Akan
tetapi, jika diperhatikan kenyataan bahwa tiap individu makhluk hidup mempunyai banyak gen,
dan tiap spesies tersusun dari banyak individu, maka (dalam batas mutasi yang terdeteksi
sekalipun) sebenarnya mutasi merupakan peristiwa yang biasa, tidak jarang. Pengukuran laju
mutasi spontan pada bakteri dan fag elatif mudah disbanding pengukuran pada kelompokkelompok makhluk hidup yang lebih tinggi. Pengukuran laju mutasi yang lebih mudah pada
bakteri dan fag tersebut disebabkan karena kromosom kelompok-kelompok makhluk hidup
tingkat rendah tersebut monoploid. Pengukuran laju mutasi pada makhluk hidup memang sangat
sulit karena kromosom-kromosom makhluk hidup yzng lebih tinggi bukan monoploid, tetapi
(terutama) diploid, keadaan kromosom yang bikan monoploid, (misalkan diploid) memang
menyebabkan mutan resesif tidak terdeteksi jika berada dala kondisi heterozigot.

DETEKSI MUTASI
Deteksi Mutasi Pada Bakteri Dan Jamur
Deteksi mutasi pada makhluk hidup monoploid semacam bakteri dan jamur sangat efisien.
Dalam hal ini deteksi mutasi tergantung kepada suatu system seleksi yang mudah memisahkan
sel-sel mutan dari yang bukan mutan. Prinsip-prinsip umum deteksi mutasi pada bakteri dan
jamur berbeda.
Neurospora crasa adalah jamur yang bersifat monoploid (diploid) pada fase vegetatif.oleh
karena itu deteksi mutasi pada fase itu sangat mutah dilakukan dibanding pada fase generatif atau
dibanding pada makhlik hidup yang lainnya.
Deteksi Mutasi Pada Drosophila
Deteksi mutasi pada Drosophila, menggunakan pengukuran laju mutasi letal resesif yang
terpaut kromosom kelamin X menggunakan teknik Muller-5. Teknik yang dikembangkan oleh H.
J. Muller ini merupakan suatu teknik deteksi mutasi pada Drosophila dan disebut juga teknik
CIBVC yaitu suatu inversi yang menekan (menghalangi) peristiwa pindah silang. Selain itu
dengan teknik mutasi kromosom X berlekatan atau attached-X procedure. Teknik ini
menggunakan individu betina yang memiliki kromosom X berlekatan. Teknik ini dimanfaatkan
untuk mendeteksi mutasi morfologi yang resesif bahkan lebih sederhana karena hanya satu
generasi yang dibutuhkan. Deteksi mutasi pada makhluk hidup monoploid semacam bakteri dan
jamur sangat efisien dan bergantung pada suatu sistem seleksi yang mudah memisahkan antara
sel mutan dari yang bukan merupakan sel mutan, contohnya pada Neurospora crassa yaitu jamur
yang bersifat monoploid (haploid) pada fase vegetatif. Deteksi mutasi pada fase tersebut lebih
mudah daripada fase generatif atau dibandingkan dengan makhluk hidup yang lainnya. Konidia
monoploid yang mengandung mutan dapat dideteksi dan diisolasi berdasarkan kegagalannya
tumbuh pada suatu medium lengkap.
Deteksi Mutasi Pada Tumbuhan Tinggi
Banyak variasi morfologi tumbuhan tinggi dapat terdeteksi secara sederhana melalui
pengamatan visual. Di samping itu ada juga teknik yang digunakan untuk mendeteksi mutasimutasi biokimiawi. Teknik pertama adalah melalui teknik analisis komposisi biokimia. Teknik

yang kedua adalah menggunakan teknik analisis silsilah. Sifat fenotip yang berlatar belakang
genetic semacam ini biasanya muncul sebentar-sebentar sepanjang sejumlah generasi. Seperti
diketahui ekspresi fenotip bila yang terpaut otosom tidak terpaut pada kondisi heterozigot.
Selain melalui analisis silsilah, dewasa ini deteksi pada manusia juga dilakukan melalui
analisis in vitro. Seperti yang diketahui sel-sel manusia secara rasio sudah dapat dikultur. Deteksi
mutasi melalui analisi in vitro yang memanfaatkan kultur sel, dapat didasarkan pada analisis
aktivasi enzyme, migrasi protein pada medan elektroforetik, serta pengurutan langsun protein
maupun DNA. Deteksi mutasi pada tumbuhan tingkat tinggi. Teknik yang pertama yaitu melalui
analisis komposisi biokimia misalnya isolasi protein dari endosperm jagung, hidrolisis proteinprotein tersebut serta penetapan komposisi asam amino, misalnya jika dibanding galur-galur
yang bukan mutan, mutan apaque 2 mengandung lebih banyak lisin. Teknik yang kedua
menggunakan kultur jaringan galur-galur sel tumbuhan pada medium yang sudah tertentu. Dalam
hal ini sel-sel tumbuhan diperlukan sebagai mikroorganisme, kebutuhan biokimiawi dapat
ditetapkan dengan cara menambah dan mengurangi nutrient-nutrien dalam media kultur. Teknik
kedua memiliki keuntungan karena teknik yang berhubungan dengan mutan letal kondosional
dapat digunakan terhadap sel-sel tumbuhan pada kultur jaringan, selanjutnya diterapkan untuk
genetika tingkat tinggi.
Deteksi Mutasi Pada Manusia
Deteksi mutasi pada manusia misalnya berkaitan dengan sifat ataupun kelainan tertentu
dilakukan dengan bantuan analisis silsilah. Setelah suatu sifat dipastikan menurun selanjutnya
diramalkan apakah alela mutan tersebut terpaut kromosom kelamin atau terpaut autosom. Mutasi
yang paling mudah dideteksi adalah mutasi dominan. Jika gen mutan dominan terdapat pada
kromosom kelamin X maka seorang ayah yang tergolong penderita akan mewariskan ciri fenotip
terkait kepada semua anak perempuannya. Sebaliknya jika gen mutan dominan terpaut autosom
maka hampir 50% anak (yang berasal dari orang tua heterozigot) diharapkan mewarisi ciri mutan
tersebut. Mutasi resesif yang terpaut kromosom kelamin dan alela-alela mutan resesif yang
terpaut otosom dapat juga dideteksi dengan bantuan analisis silsilah. Salah satu contoh mutan
resesif yang terpaut kromosom kelamin pada manusia adalah yang mengekspresi kelamin
hemofili. Ekspresi fenotip bila terpaut autosom tidak terpaut pada kondisi heterozigot. Selain
deteksi dengan cara di atas, deteksi mutasi juga dapat dilakukan melalui analisis in vitro yang

memanfaatkan kultur sel, dapat didasarkan pada analisis aktivitas enzim dan pengurutan
langsung DNA maupun protein.
Uji Arnes
Dikembangkan oleh Bruce Arnes pada awal 1970-an. Uji arnes menggunakan bakteri
Sallmonella tryphimurium sebagai organisme uji. Yang digunakan adalah 2 strain S. typhimirium
kedua strain itu sama-sama tergolong auksotrofik untuk histidin. Seperti diketahui strain yang
bersifat auksotrofik untuk histidin adalah yang membutuhkan tambahan histidin dalam medium
pertumbuhan agar dapat hidup (tumbuh). Dari kedua strain itu, pada salah satu strain mutan his
dapat ddikembangkan menjadi his+ oleh suatu mutasi pergantian basa, sedangkan pada strain
lain mutasi his dapat dikembalikan menjadi his + oleh suatu mutasi pengubah rangka. Kedua
strain itu juga memiliki mutan-mutan lain yang memungkinkan semakin tepat digunakan untuk
memanipulasi eksperimental. Mutan-mutai lain misalnya yang menyababkan semakin sensitive
terhadap mutagenesis akibat aktivasi system perbaikan, serta yang menyebabkan sel semakin
permiabel terhadap molekul organic asing.

Mekanisme Perbaikan DNA, Mutasi, dan Adaptasi, Mutasi dan Kanker, Aplikasi Praktis
Mutasi, Serta sakit Genetik Manusia yang Ditimbulkan oleh Kesalahan Replikasi DNA dan
Kesalahan Perbaikan DNA

I. Mekanisme Perbaikan DNA


1.1 Perbaikan kerusakan DNA Akibat Mutasi Secara Langsung
1.1.1 Perbaikan oleh Aktivitas Enzim Polimerase DNA
Selain mempunyai aktivitas polimerisasi dalam arah 5 3, enzim polimerisasi DNA
pada bakteri juga memiliki aktivitas eksonuklease dalam arah 3 5. Aktvitas eksonuklease
inilah yang antara lain memperbaiki kerusakan DNA akibat mutasi pada bakteri. Pengenalan
kesalahan insersi nukleotida selama polimerisasi oleh enzim DNA polimerase sebagai akibat
adanya bonggol pada unting ganda molekul DNA yang ditimbulkan oleh adanya pasangan basa
yang salah. Diduga pula pada basa yang salah tidak dapat membentuk ikatan hidrogen.

Polimerisasi DNA akan terhenti dan tidak berlaku hingga nukleotida yang salah dipotong
dan diikuti dengan penggantian nukleotida yang benar dan terbentuk ikatan hidrogen yang
diperlukan. Pemotongan nukleotida yang dilakukan oleh aktivitas eksonuklease berlangsung
dalam arah 3 5, jika pemotongan itu sudah dilakukan, aktivitas polimerisasi dalam arah 5
3 dari enzim polimerase DNA akan pulih kembali.
Bukti Peran penting aktivitas eksonuklease dari enzim polimerase DNA yang menekan laju
mutasi pada bakteri dapat terlihat pada mutasi gen mutator pada E. Coli. Jika gen-gen mutator
pada E. Coli mengalami mutasi, maka frekuensi mutasi pada E. Coli menjadi lebih tinggi.
Misalnya, mutasi pada gen mut D mengakibatkan perubahan suatu sub unit (epsilon)
polimerase III DNA yang menimbulkan cacat pada aktivitas perbaikan arah 3 5, sehingga
banyak nukleotida yang salah tidak sempat diperbaiki.
1.1.2 Fotoreaktivasi Dimer Pirimidin yang Diinduksi oleh UV
Fotoreaktivasi merupakan proses yang membutuhkan cahaya. Proses perbaikan dibantu
oleh cahaya yang kelihatan dalam rentang 320-370 nm, dimer timin (atau dimer pirimidin lain)
langsung berbalik pulih menjadi bentukan semula. Fotoreaktivasi dikatalisasi oleh enzim
fotoliase yang diduga berfungsi sebagai pembersih sepanjang unting ganda mencari bonggol
yang terbentuk akibat dimer timin (atau pirimidin lain). Enzim fosfoliase akan menyingkirkan
dimer jika diaktivasi oleh suatu foton.
1.1.3 Perbaikan Kerusakan Akibat Alkilasi
Kerusakan DNA akibat alkilasi dapat dipulihkan oleh enzim perbaikan DNA khusus yang
disebut metiltransferase O6-metilguanin atau O5methylguanine methyltransferase yang dikode
oleh gen ada, dimana enzim tersebut akan menemukan O6-metilguanin pada molekul DNA dan
selanjutnya menyingkirkan gugus metil tersebut kemudian DNA tersebut pulih kembali.
1.1.4 Perbaikan Kerusakan DNA dengan Cara Membuang Pasangan Basa
Yang tergolong dalam perbaikan dengan cara membuang pasangan basa adalah perbaikan
melalui pemotongan, perbaikan dengan bantuan glikosilase, serta perbaikan melalui koreksi
pasangan yang salah.
a. Perbaikan Melalui Pemotongan (Excision Repair)

Disebut sebagai perbaikan gelap atau dark repair, karena tidak membutuhkan cahaya. Proses
perbaikan ini memperbaiki dimer pirimidin yang terbentuk akibat induksi cahaya UV.
Mekanisme perbaikan ini ditemukan pada tahun 1964 oleh R.P. Boyea dan P. Howard serta R.
Selow dan W. Carrier. Penelitian dilakukan dengan mengisolasi beberapa mutan E. Coli yang
sensitive terhadap UV. Setelah dilakukan radiasi, mutan-mtan tersebut memperlihatkan laju
mutasi dalam gelap yang labih tinggi dari pada normal. Mutan tersebut adalah uvr A, di mana
mutan ini diketahui sebagai mutan yang dapat memperbaiki dimer hanya dengan bantuan cahaya.
Dalam hubungan ini wild type dari mutan avr A disebut avr A+. Wild type dari mutan uvr A+ ini
mampu memperbaiki dimer dalam gelap.
Sistem perbaikan melalui pemotongan pada E. Coli tidak hanya memperbaiki dimer
pirimidin, tetapi juga berbagai distorsi lain dari helix DNA. Distorsi helix ditemukan oleh enzim
endonuklease avr ABC. Enzim tersebut merupakan gabungan enzim-enzim yang masing-masing
dikode oleh gen avr A, B, dan C. enzim tersebut memotong unting DNA yang rusak pada posisi 8
nukleotida ke arah ujung 5 dari titik kerusakan dan nukleotida kea rah ujung 3 dari titik posisi
dimer tadi. Dengan demikian terlihat bahwa penggalan DNA yang dipotong adalah seukuran 12
nukleotida dan di dalam penggalan yang terpotong tersebut memang terdapat kerusakan.
Selanjutnya pada celah sepanjang 12 nukleotida berlangsung polimerisasi DNA yang dikatalis
oleh enzim polymerase I DNA, penggalan yang baru terbentuk itu selanjutnya disambung ke
penggalan lama dengan bantuan enzim ligase DNA. Terkadang saat berlangsungnya polimerisasi
DNA dalam rangka perbaikan itu terjadi pula kesalahan dan kesalahan tersebut merupakan
sumber lain dari mutasi yang terjadi karena radiasi UV, sebagian besar sebab dari kesalhan
tersebut adalah perpasangan yang tidak benar antara nukleotida baru dengan nukleotida yang
terdapat pada unting template.
b. Perbaikan dengan Bantuan Glikosilase
Basa yang rusak dapat disingkirkan dari molekul DNA dengan bantuan enzim glikosilase
yang dapat mendeteksi basa yang tak lazim dan selanjutnya mengkatalisasi penyingkirannya dari
gula deoksiribosa. Aktivitas katalitik enzim glikosilase menimbulkan suatu lubang pada DNA,
posisi itu disebut tapak AP yang merupakan tapak apurinik (tidak ada purin berupa guanin dan
adenin) atau tapak pirimidik (tidak ada pirimidin berupa sitosin atau timin). Lubang itu kemudian
ditemukan oleh enzim endonuklease AP yang selanjutnya memotong ikatan fosfodiester di
samping basa yang lepas tadi. Pemotongan tersebut memungkinkan bekerjanya enzim

polimerase I DNA (E. Coli). Kemudian enzim polimerase I DNA menyingkirkan beberapa
nukleotida didepan basa yang lepas itu dengan menggunakan aktivitas eksonukleasenya dalam
arah 5 3 dan melakukan polimerisasi mengisi celah yang terbentuk dengan menggunakan
aktivitas polimerisasinya. Akhirnya, enzim ligase DNA menyambung penggalan nukleotida baru
ke ujung arah 3 dengan penggalan nukleotida yang lama.
c. Perbaikan Melalui Koreksi Pasangan Basa yang Salah
Masih terdapat kesalahan-kesalahan yang tersisa dari perbaikan DNA, biasanya berupa
pasangan basa yang tidak berpasangan dan pada proses replikasi berikutnya yang berakibat
terjadi mutasi spontan. Kesalahan yang tersisa dibetulkan oleh sistem perbaikan lain yang
disebut perbaikan pasangan yang salah (mismatched correction).
Sistem perbaikan koreksi pasangan basa yang salah dikode oleh tiga gen, yaitu mut H, mut
L, dan mut S. Enzim tersebut mencari pasangan basa yang salah kemudian mengkatalisasi
penyingkiran suatu segmen DNA (unting tunggal) yang mengandung pasangan basa yang salah.
Enzim polimerase DNA akan mengkatalisasi polimerisasi pada celah yang terbentuk dan
penyambungan hasil polimerisasi ke arah ujung 3 dengan penggalan yang lama, dikatalisasi oleh
enzim ligase DNA.
Enzim koreksi pasangan yang salah bekerja dengan cara pertama kali mengenali unting
DNA baru. Unting DNA baru dikenali oleh enzim tersebut karena belum mengalami metilasi.
Setelah unting baru dikenali, enzim tersebut menyingkirkan basa yang salah dari unting baru itu,
selanjutnya berlangsung polimerisasi yang dikatalisasi polimerase I DNA, pada akhirnya hasil
polimerisasi itu sisambung oleh enzim ligase DNA.
Pada molekul DNA, termasuk disekitar tempat pasangan basa yang salah terdapat uruturutan basa nukleotida berupa GATS yang bersifat palindromik (Russel, 1992 dalam Corebima,
2008). Basa A pada palindrom biasanya mengalami metilasi yang dikatalisasi oleh enzim
metilase-dam (enzim yang dikode oleh gen dam). Pada unting DNA yang baru terbentuk, selama
beberapa saat setelah polimerisasi, basa A pada palindrom tadi belum mengalami metilasi dan
keadaan inilah yang dikenali oleh enzim koreksi atas pasangan yang salah. Selain melakukan
koreksi atas pasangan basa yang salah, enzim pengkoreksi itu juga dapat memperbaiki delesi
maupun adisi sejumlah kecil pasangan basa.
II. Mutasi dan Adaptasi

Pada dasarnya mutasi yang terjadi tidak ada kaitannya dengan kepentingan apakah mutasi
itu bermanfaat atau bahkan merugikan. Efek mutasi itu baru dikualifikasi menguntungkan atau
merugikan setelah dihubungkan dengan habitat lingkungan tempat hidup individu yang
mengalami mutasi. Gen-gen yang terkandung didalam tiap populasi yang sudah lolos dari proses
seleksi alam, individu yang hidup dalam tiap populasi adalah yang sudah berhasil lolos dari
proses seleksi alam. Dalam hal ini varian-varian alela dalam suatu populasi bersifat adaptif, dan
setiap mutan baru memang lebih berpeluang merugikan sekalipun dapat juga menguntungkan.
Contoh menguntungkan dan merugiakan adalah peningkatan pigmen melanin yang
dibuthkan untuk melindungi tubuh dari sinar UV yang terkandung didalam sinar matahari
menguntungkan bagi populasi manusia yang hidup diwilayah Afrika tropic tetapi tidak
menguntungkan bagi populasi manusia penghuni Skandinavia. Pada dasarnya setiap mutasi yang
terjadi tidak ada kaitannya dengan mutasi bermanfaat atau tidak bermanfaat atau bahkan
merugikan. Efek mutasi itu baru dikualifikasi menguntungkan atau merugikan setelah
dihubungkan dengan habitat lingkungan tempat hidup individu yang mengalami mutasi. Peluang
tiap mutan memperbesar daya penyesuaian suatu individu lebih besar manakala populasi (yang
mengandung individu mutan) tersebut menempati habitat baru atau terjadi perubahan
lingkungan.
III. Mutasi dan Kanker
Sebagian besar agen mutasi yang kuat, seperti radiasi pengion dan radiasi UV maupun
berbagai zat kimia, bersifat karsinogenik atau penginduksi kanker. Teknik-teknik sensitif sudah
dikembangkan untuk menguji zat-zat kimia maupun agen-agen lain sehingga dapat diketahui
apakah bersifat mutagenik, karsinogenik ataupun keduanya.
Uji karsinogenitas dilaksanakan dengan memanfaatkan rodentia dan tikus yang baru lahir
yang kemudian hewan ini disuntik dengan zat yang akan diuji yang selanjutnya akan diperiksa
dalam hubungannya dalam pembentukan tumor. Uji mutagenitas juga sering dilaksanakan
dengan cara yang sama. Namun, karena mutasi adalah peristiwa yang sangat jarang maka
pengujian semacam ini tidak layak dan daya mutagen yang rendah jarang dideteksi.
Adanya korelasi antara daya mutagen dan daya karsinogen sebenarnya sejalan dengan teori
yang menyatakan bahwa kanker disebabkan mutasi somatik. Mutasi somatik dapat menyebabkan
timbulnya kanker, diperkuat oleh penemuan onkogen seluler (onkogen penyebab kanker) dan
oleh demonstrasi yang menunjukkan bahwa onkogen bertanggung jawab terhadap karsinomma

kandung kemih akibat perubahan satu padang basa. Sifat umum dari semua tipe kanker adalah
bahwa sel-sel kanker yang ganas terus-menerus membelah, padahal sel normal tidak membelah.
Dalam hubungan ini terlihat bahawa semua sel kanker kehilangan kontrol terhadap pembelahan
sel secara normal dan berakibat terbentuknya tumor. Pembelahan sel memanng tidak diragukan
lagi dikontrol oleh gen dan mutasi yang menimpa gen bertanggung jawab terhadap kontrol
pembelahan sel, dapat menghilangkan fungsi kontrol dari gen terhadap pembelahan sel.
IV. Aplikasi Praktis Mutasi
Adanya mutasi, orang dapat menggunakan alela-alela dalam analisis genetik. Kajian hasil
persilangan yang melahirkan hukum pemisahan dan hukum pilihan bebas mendel memang telah
mungkin dilakukan berkat adanya alela-alela mutan.
4.1 Mutasi yang Bermanfaat dalam Perakitan Bibit
Sekalipun sebagian besar mutasi tidak menguntungkan, upaya untuk mengembangkan
sifat-sifat yang diinginkan melalui mutasi induksi sudah dilakukan oleh para perakit bibit
tanaman. Perakit bibit tanaman sudah menghasilkan bibit rakitan gandum, kedelai, tomat, padi
serta pohon buah-buahan. Tanaman yang tumbuh dari bibit rakitan itu terbukti dapat
menghasilkan panen yang meningkat, kandungan zat (misalnya protein dan sebagainya) yang
semakin sesuai dengan yang diharapkan, bahkan tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
Salah satu contoh lain dari bibit rakitan yang memanfaatkan mutasi terinduksi adalah
bibit penicilium yang menghasilkan penisilin yang lebih banyak. Bibit tersebut diperoleh dari
hasil radiasi spora. Akibat adanya perlakuan radiasi tersebut, beberapa spora yang telah diradiasi
tumbuh menghasilkan banyak penisilin.
4.2 Telaah Proses Biologis melalui Analisis Mutasi
Mutasi sudah digunakan secara ekstensif untuk menangkap jalur terjadinya proses
biologis. Urut-urutan tahap pada suatu jalur reaksi dapat ditentukan engan cara mengisolasi dan
mempelajari mutasi-mutasi pada gen pengkode enzim-enzim yang terlibat. Karena tiap mutasi
akan mengurangi aktivitas satu polipeptida, maka melalui mutasi orang dapat menemukan gamak
yang sangat berguna untuk pengungkap proses biologis. Intermediet Y dihasilkan dari prekursor
X yang dikatalisis oleh enzim A (produk gen A). Intermediet Y tersebut dapat segera dikonversi
menjadi produk Z dengan bantuan enzim B (produk gen B). Pada keadaan semacam ini
intermediet Y dapat sangat sedikit jumlahnya sehingga secara biokimia sangat sulit diidentifikasi.

Namun, jika gen B mengalami mutasi yang tidak memproduksi enzim B, maka intermediet Y
akan sering terakumulasi mencapai kadar yang tinggi sehingga memudahkan upaya isolasi
identifikasi.
V. Sakit Genetik Manusia Yang Ditimbulkan Oleh Kesalahan Replikasi DNA Dan
Kesalahan Perbaikan DNA
Sel sel manusia dapat mengidap beberapa sakit genetik yang terjadi secara alam
bersangkut paut dengan cacat pada replikasi DNA khususnya kegagalan perbaikan. Beberapa
mutan ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
Sakit
Xeroderma

pigmentosum

Gejala
Gatal,

Fungsi yang diserang


bercak- Perbaikan kerusakan DNA

kulit

(XP)

bercak seperti tahi lalat, oleh radiasi UV atau oleh

Alaxia taelangluctase (AT)

kanker kulit
Cacat koordinasi
cenderung

senyawa kimia.
otot Replikasi perbaikan DNA.

mengalami

infeksi pernapasan, peka


terhadap

radiasi,

cenderung

terkena

kanker
Anemi Fanconi (FA)

kromosom

terputus-putus.
Anemi
aplastik, Replikasi perbaikan DNA,
perubahan pigmen pada dimer UV serta tambahan
kulit, nalformasi jantung, senyawa
ginjal,

Sindrom Bloom (BS)

serta

kimia

tidak

anggota disingkirkan dari DNA.

gerak; leukimia.
Kerdil; sakit kulit karena Pemanjangan rantai DNA
peka

terhadap

matahari,

cahaya pada replikasi.

kromosom

terputus-putus.
Individu penderita anemi aplastik tidak atau menghasilkan sedikit sel-sel darah merah.
Penderita Xeroderm pigmentosum sangat peka terhadap cahaya matahari, mengidap
banyak tumor kulit teutama pada bagian tubuh yang terbuka misalnya, wajah; disamping itu kulit

juga bercak hitm seperti tahi lalat. Sakit Xeroderma pigmentosum itu disebabkan oleh mutan
resesif homozigot. Mutan resesif itu didua bersangkut paut dengan suatu gen pengkode protein
yang brperan pad perbaikan kerusakan DNA. Dilain pihak pada beberapa khusus sudah diungkap
bahwa yang cacat tampaknya adalah endonuklease yang berfungsi mengenal dimer timin dan
mengkaralisasi tahap pertama perbaikan penyingkiran atau exicon repair.
Analisis genetik atas sel-sel pengidap Xeroderma pigmentosum menunjukkan bahwa
mutasi pada sebanyak 6 gen yang berbed dapat menimbulkan sakit tersebut. Hal tersebut mudah
dipahami karena banyak enzim diketahui tersusun dua atau lebih macam polipeptida dan karena
mutasi pada salah satu gen pengkode polipeptida yang terlibat pada proses perbaikan yang
mempunyai banyak tahap dapat menimbulkn hambatan pada sesuatu jalur perbaikan.

Pertanyaan:
1. Berapakah kemungkinan terjadinya mutasi yang memguntungkan selama spesies itu ada?
Jumlah mutasi gen yang menguntungkan yang mungkin terjadi adalah:
Pada satu individu:
1
1
1
x
1000
x
=
100.000
1000
100.000
Pada tiap generasi:
1
100.000 x 200.000.000 = 2000
Selama spesies itu ada (500 generasi)
2000 x 5000 = 10.000.000
Jadi terbukti, sekalipun mutasi tersebut jarang terjadi dan mutasi yang menguntungkan
sangat kecil kemungkinannnya, tetapi jika ditinjau selama periode evolusi suatu species
maka kemungkinan terjadinya mutasi adaptif akan tetap besar.
2. Apa sajakah faktor yang menyebabkan perubahan frekuensi gen?
Mutasi, seleksi alam, migrasi (emigrasi dan imigrasi), rekombinasi dan seleksi,
perubahan alam sekitar.
3. Bagaimana mutasi bisa dikatakan tidak selalu diidentikkan dengan dampak merugikan?
Jawab: Efek mutasi baru dikualifikasi menguntungkan atau merugikan setelah
dihubungkan dengan habitat lingkungan tempat hidup individu yang mengalami mutasi.
Peluang tiap mutan memperbesar daya penyesuaian suatu individu lebih besar manakala

populasi (yang mengandung individu mutan) tersebut menempati habitat baru atau terjadi
perubahan lingkungan.
4. Bagaimana runtutan terjadinya mekanisme perbaikan DNA melalui koreksi pasangan
basa yang salah?
Jawab:

Sistem perbaikan koreksi pasangan basa yang salah dikode oleh tiga gen, yaitu mut H,

mut L, dan mut S. Enzim tersebut mencari pasangan basa yang salah.
Setelah ditemukan, enzim tersebut mengkatalisasi penyingkiran suatu segmen DNA

(unting tunggal) yang mengandung pasangan basa yang salah.


Kemudian enzim polimerase DNA mengkatalisasi polimerisasi pada celah yang terbentuk
dan penyambungan hasil polimerisasi ke arah ujung 3 dengan penggalan yang lama,

dikatalisasi oleh enzim ligase DNA.


Enzim koreksi pasangan yang salah bekerja dengan cara pertama kali mengenali unting
DNA baru.
Setelah unting baru dikenali, enzim tersebut menyingkirkan basa yang salah dari unting

baru itu, selanjutnya berlangsung polimerisasi yang dikatalisasi polimerase I DNA


Pada akhirnya hasil polimerisasi itu sisambung oleh enzim ligase DNA.