Anda di halaman 1dari 4

2.

Air

Air merupakan bahan esensial bagi hidupnya organisme, oleh karena itu air selalu
penuh dengan benda-benda hidup. Manusia dan makhluk-makhluk lain yang tidak hidup di
dalam air senantiasa mencari tempat-tempat tinggal dekat air supaya mudah mengambil air
untuk keperluan hidupnya, maka desa atau kota zaman dulu tumbuh di sekitar sumber air, di
tepi sungai, atau di tepi danau. Sesudah manusia lebih maju, tempat tinggalnya tidak perlu
dekat air dengan sumber jauh yang disalurkan dengan pipa dan didistribusikan (Prawiro,
1989).
Pentingnya air di dalam tubuh manusia, berkisar antara 50%70% dari seluruh total
berat badan. Tulang manusia mengandung air sebanyak 22% berat tulang, dalam darah dan
ginjal sebanyak 83%. Pentingnya air bagi kesehatan dapat dilihat dari jumlah air yang ada di
dalam organ, 80% dari darah terdiri atas air, dalam tulang mengandung 25%, sedangkan
dalam urat syaraf terdapat 75% air, dalam ginjal mengandung 80% air, dalam hati 70% air,
dan otot 75% air. Kekurangan air menyebabkan penyakit batu ginjal dan kandung kemih,
karena terjadi kristalisasi unsur-unsur yang ada di dalam cairan tubuh. Kehilangan air
sebanyak 15% dari berat badan dapat mengakibatkan kematian. Kebutuhan minum orang
dewasa adalah minimum 1,52 liter air sehari (Slamet, 2004).
Selain pentingnya air bagi tubuh manusia, air dibutuhkan bagi kehidupan lainnya,
baik untuk kebutuhan hidup sehari-hari yaitu keperluan untuk kebutuhan domestik rumah
tangga maupun kebutuhan dalam pertanian, industri, perikanan, pembangkit listrik tenaga air,
dan navigasi, serta rekreasi (Soerjani, 1997).
Air tawar bersih yang layak minum, demikian langka di perkotaan. Sungai-sungai
yang menjadi sumbernya sudah tercemar berbagai macam limbah, mulai dari buangan
sampah organik, rumah tangga hingga limbah beracun dari industri. Air tanah sudah tidak
aman dijadikan bahan air minum karena telah terkontaminasi rembesan dari tangki septik
maupun air permukaan (Pudjarwoto, 1993).
Air merupakan komponen esensial bagi kehidupan jasad hidup. Akan tetapi dapat juga
merupakan suatu substansi yang membawa malapetaka, karena air dapat membawa
mikroorganisme patogen dan zat-zat kimia yang bersifat racun (Gause, 1946).
Banyaknya kontaminan dalam air memerlukan standar tertentu untuk menjamin
kebersihannya. Air yang terkontaminasi oleh bakteri patogen saluran cerna sangat berbahaya
untuk diminum. Hal ini dapat dipastikan dengan penemuan organisme yang ada dalam tinja
manusia atau hewan dan yang tidak pernah terdapat bebas di alam. Ada beberapa organisme
yang termasuk kategori ini, yaitu bakteri Coliform (Escherichia coli), Enterococcus
faecalis,danClostridium. Di Indonesia, bakteri indikator air terkontaminasi adalahEscherichia
coli (Gause, 1946).
2.2 Bakteri Coliform
Bakteri Coliform adalah jenis bakteri yang umum digunakan sebagai indikator
penetuan kualitas sanitasi makanan dan air. Coliform sendiri sebenarnya bukan penyebab dari
penyakit-penyakit bawaan air, namun bakteri jenis ini mudah untuk dikultur dan
keberadaannya dapat digunakan sebagai indikator keberadaan organisme patogen seperti
bakteri lain, virus atau protozoa yang banyak merupakan parasit yang hidup dalam sistem
pencernaan manusia serta terkandung dalam feses. Organisme indikator digunakan karena

ketika seseorang terinfeksi oleh bakteri patogen, orang tersebut akan mengekskresi organisme
indikator jutaan kali lebih banyak dari pada organisme patogen. Hal inilah yang menjadi
alasan untuk menyimpulkan bila tingkat keberadaan organisme indikator rendah maka
organisme patogen akan jauh lebih rendah atau bahkan tidak ada sama sekali (Servais, 2007).
Bakteri Coliform dijadikan sebagai bakteri indikator karena tidak patogen, mudah
serta cepat dikenal dalam tes laboratorium serta dapat dikuantifikasikan, tidak berkembang
biak saat bakteri patogen tidak berkembang biak, jumlahnya dapat dikorelasikan dengan
probabilitas adanya bakteri patogen, serta dapat bertahan lebih lama daripada bakteri patogen
dalam lingkungan yang tidak menguntungkan (Slamet, 2004).
Bakteri Coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih
tepatnya, sebenarnya, bakteri Coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran
bakteri patogen. Penentuan Coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah
koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu,
mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri
patogenik lain. Contoh bakteri Coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter
aerogenes. Jadi, Coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan Coliform,
artinya, kualitas air semakin baik. (Friedheim, 2001).
Eschericia coli, merupakan anggota Coliform yang dapat dibedakan dari
bakteri Coliform lain karena kemampuannya memfermentasikan laktosa pada suhu 44C
(pada JPT hal ini dilakukan pada tahap terakhir atau saat uji kelengkapan). Pengidentifikasian
dapat dilihat dari pertumbuhan dan reaksi yang memberikan warna berbeda pada media
kultur khusus. Saat dikulutur pada media EMB, hasil positif E. coli adalah koloni berwarna
hijau metalik. Tidak seperti golongan Coliform pada umumnya, E. coli merupakan bakteri
yang berasal dari feses dan kehadirannya efektif mengkonfirmasi adanya kontaminasi fekal
pada badan air. Umumnya, pada feses, E. coli ada sebanyak 11% dariColiform (Slamet,
2004).
2.3 Metode MPN
Jumlah mikroorganisme dapat dihitung melalui beberapa cara, namun secara
mendasar dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu perhitungan langsung dan tidak langsung.
Perhitungan secara langsung dapat mengetahui beberapa jumlah mikroorganisme pada suatu
bahan pada suatu saat tertentu tanpa memberikan perlakuan terlebih dahulu, sedangkan
jumlah organisme yang diketahui dari cara tidak langsung terlebih dahulu harus memberikan
perlakuan tertentu sebelum dilakukan perhitungan. Perhitungan secara langsung, dapat
dilakukan dengan beberapa cara antara lain adalah dengan membuat preparat dari suatu bahan
(preparat sederhana diwarnai atau tidak diwarnai) dan penggunaan ruang hitung (counting
chamber). Sedangkan perhitungan cara tidak langsung hanya untuk mengetahui jumlah
mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viable count). Dalam
pelaksanaannya, ada beberapa cara yaitu, perhitungan pada cawan petri (total plate
count/TPC), perhitungan melalui pengenceran, perhitungan jumlah terkecil atau terdekat
(Metode MPN) dan kalorimeter (cara kekeruhan atau turbidimetri). Metode perhitungan
MPN sering digunakan dalam pengamatan untuk menghitung jumlah bakteri yang terdapat di
dalam tanah seperti Nitrosomonas danNitrobacter. Kedua jenis bakteri ini memegang peranan
penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, sehubungan dengan

kemampuannya dalam mengikat N2 dari udara dan mengubah amonium menjadi


nitrat (Dwidjoseputro, 1994).
Metode MPN merupakan salah satu metode perhitungan secara tidak langsung.
Metode MPN terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumptive test), uji konfirmasi
(confirmed test), dan uji kelengkapan (completed test). Dalam uji tahap pertama,
keberadaan Coliform masih dalam tingkat probabilitas rendah, masih dalam dugaan. Uji ini
mendeteksi sifat fermentatif Coliformdalam sampel (Lim, 1998).
Dalam metode MPN, pengenceran harus dilakukan lebih tinggi daripada pengenceran
dalam hitungan cawan, sehingga beberapa tabung larutan hasil pengenceran tersebut
mengandung satu sel jasad renik. Beberapa tabung mungkin mengandung lebih dari satu sel,
sedangkan tabung lainnya tidak mengandung sel. Dengan demikian setelah inkubasi
diharapkan terjadi pertumbuhan pada beberapa tabung yang dinyatakan sebagai tabung positif
sedang tabung lainnya negatif. Metode MPN biasanya digunakan untuk menghitung jumlah
mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair, meskipun dapat pula digunakan untuk contoh
berbentuk padat dengan melakukan pengenceran terlebih dahulu (Fardiaz, 1996).
Metode
MPN
merupakan
uji
deretan
tabung
yang
menyuburkan
pertumbuhan Coliform sehingga diperoleh nilai untuk menduga jumlahColiform dalam
sampel yang diuji. Uji positif akan menghasilkan angka indeks. Angka ini disesuaikan dengan
tabel MPN untuk menentukan jumlah Coliformdalam sampel (Pakadang, 2010).
Metode MPN biasanya dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh
yang berbentuk cair, meskipun dapat pula digunakan untuk contoh berbentuk padat dengan
terlebih dahulu membuat suspensi 1:10 dari contoh tersebut. Metode MPN digunakan
medium cair di dalam tabung reaksi, dimana perhitungannya dilakukan berdasarkan jumlah
tabung yang positif yaitu yang ditumbuhi oleh jasad renik setelah inkubasi pada suhu dan
waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya
kekeruhan atau terbentuknya gas di dalam tabung kecil (tabung durham) yang diletakkan
pada posisi terbalik, yaitu untuk jasad renik pembentuk gas. Untuk setiap pengenceran pada
umumnya digunakan tiga atau lima seri tabung. Lebih banyak tabung yang digunakan
menunjukkan ketelitian yang lebih tinggi, tetapi alat gelas yang digunakan juga lebih
banyak (Fardiaz, 1996).
Untuk metode MPN (most probable number) digunakan medium cair dalam wadah
berupa tabung reaksi, perhitungan di lakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu
tabung yang mengalami perubahan pada mediumnya baik itu berupa perubahan warna atau
terbentuknya gelembung gas pada dasar tabung durham. Pada metode perhitungan MPN ini
digunakan bentuk tiga seri pengenceran, yang pertama 10-1, 10-2 dan 10-3. Kemudian dari hasil
perubahan tersebut dicari nilai MPNnya pada tabel nilai MPN, dan untuk jumlah bakterinya
maka digunakan rumus (Gobel, 2008).
Tabel yang digunakan untuk menentukan nilai MPN dari tiga seri tabung berbeda
dengan tabel lima seri tabung. Kombinasi yang dipilih mulai dari pengenceran tertinggi yagn
masih menghasilkan semua tabung positif sedangkan pada pengenceran yang berikutnya ada
tabung yang negatif. Kombinasi yang diambil terdiri dari tiga pengenceran. Jika pada
pengenceran yang keempat atau seterusnya masih diketemukan tabung yang hasilnya positif,

maka jumlah tabung yang positif tersebut harus ditambahkan pada angka kombinasi yang
ketiga sampai mencapai jumlah maksimum (Volk, 1993).
Beberapa jenis bakteri selain Coliform juga memiliki sifat fermentatif, sehingga
diperlukan uji konfirmasi untuk mengetes kembali kebenaran adanyaColiform dengan
bantuan medium selektif diferensial. Uji kelengkapan kembali meyakinkan hasil tes uji
konfirmasi dengan mendeteksi sifat fermentatif dan pengamatan mikroskop terhadap ciriciri Coliform seperti, berbentuk batang, gram negatif, tidak-berspora. Output metode MPN
adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit
pembentuk koloni (colony forming unit) dalam sampel. Namun, pada umumnya nilai MPN
juda diartikan sebagai perkiraan jumlah individu bakteri. Satuan yang digunakan, umumnya
per 100 mL atau per gram. Metode MPN memiliki limit kepercayaan 95 persen sehingga
pada setiap nilai MPN, terdapat jangkauan nilai MPN terendah dan nilai MPN tertinggi (Lim,
1998).
Uji penduga merupakan uji positif untuk menentukan bakteri Coliform. Media yang
digunakan ialah media Lactose Broth. Bakteri dapat menggunakan laktosa sebagai sumber
karbon, namun ada pula sebagian bakteri enteric yang tidak dapat melakukannya. Kaldu
laktosa mengandung surface tension depressant yang menekan pertumbuhan bakteri gram
positif dan memacu bakteri gram negatif terutama bakteri Coliform. Hasil uji penguat yang
positif atau meragukan menyatakan bahwa sampel air tidak layak untuk diminum. Uji
penguat memerlukan media selektif dan diferensial seperti Eosin-Biru Metilenatau ENDO
agar yang akan diinokulasi dari tabung laktosa yang positif. Uji pelengkap, uji ini merupakan
tahap akhir analisis bakteri dari contoh air. Uji pelengkap dilakukan dengan pewarnaan gram
(Volk, 1993).
http://bloomadailmu.blogspot.co.id/2014/04/uji-kualitas-air-menggunakanmetode-mpn.html