Anda di halaman 1dari 18

TUGAS AKHIR

1. PENGERTIAN JEMBATAN WHEATSTONE


Rangkaian sekarang kita kenal sebagai Jembatan Wheatstone sebenarnya pertama
kali dijelaskan oleh Samuel Hunter Christie (1784-1865) pada tahun 1833.
Namun, Sir Charles Wheatstone menemukan banyak kegunaan untuk sirkuit ini
setelah ia menemukan deskripsi pada tahun 1843. Akibatnya, sirkuit ini umumnya
dikenal sebagai Jembatan Wheatstone.
Untuk hari ini, jembatan Wheatstone tetap metode yang paling sensitif dan akurat
untuk mengukur nilai resistansi tepat.

Circuit Dasar Jembatan

Konsep dasar dari Jembatan Wheatstone adalah dua pembagi tegangan, baik
diberi makan oleh input yang sama, seperti yang ditunjukkan ke kanan. Output
rangkaian ini diambil dari kedua output pembagi tegangan, seperti yang
ditunjukkan di sini.
Dalam bentuk klasik, galvanometer (meter dc sangat sensitif saat ini)
dihubungkan antara terminal output, dan digunakan untuk memantau arus yang
mengalir dari satu pembagi tegangan yang lain. Jika dua pembagi tegangan
memiliki rasio yang sama persis (R1/R2 = R3/R4), maka jembatan dikatakan
seimbang dan tidak ada arus ke arah baik melalui galvanometer. Jika salah satu
resistor perubahan bahkan sedikit nilai, jembatan akan menjadi tidak seimbang
dan arus akan mengalir melalui galvanometer. Jadi, galvanometer menjadi
indikator yang sangat sensitif dari kondisi keseimbangan.

Menggunakan Jembatan Wheatstone

Dalam aplikasi dasar, tegangan dc (E) diterapkan ke Jembatan Wheatstone, dan


galvanometer (G) digunakan untuk memantau kondisi keseimbangan. Nilai-nilai
R1 dan R3 diketahui secara tepat, tetapi tidak harus identik. R2 adalah resistansi
variabel dikalibrasi, yang saat ini nilainya dapat dibaca dari dial atau skala.
Sebuah resistor yang tak diketahui, R X, terhubung sebagai sisi keempat sirkuit,
dan kekuasaan diterapkan. R2 disesuaikan sampai galvanometer, G, membaca
arus nol. Pada titik ini, R X = R2 R3/R1.
Sirkuit ini paling sensitif ketika keempat resistor memiliki nilai resistansi yang
sama. Namun, sirkuit bekerja cukup baik dalam hal apapun. Jika R2 dapat
bervariasi pada kisaran resistensi 10:1 dan R1 adalah nilai sama, kita dapat beralih
nilai-nilai dekade dari R3 ke dalam dan keluar dari sirkuit sesuai dengan kisaran
nilai yang kita harapkan dari R X. Menggunakan metode ini, kita secara akurat
dapat mengukur setiap nilai R X dengan memindahkan satu multi-posisi saklar dan
menyesuaikan satu potensiometer presisi.
Jembatan Wheatstone digunakan secara luas untuk pengukuran presisi tahanan dari
sekitar 1 sampai rangkuman mega ohm ( M ) rendah.

Prinsip Dasar
Prinsip dasar dari jembatan Wheatstone didasarkan pada rangkaian yang
ditunjukkan pada gambar 1, dimana rangkaian terdiri dari :
- sumber tegangan baterai ( E )
empat lengan tahanan, yaitu tahanan R1 dan R2 , disebut lengan
-

pembanding,
tahanan R3, disebut lengan standar, dan tahanan R4 adalah tahanan

yang
besarnya tidak diketahui.
Sebuah galvanometer, yang merupakan detektor nol.

Besar arus yang melalui galvanometer tergantung pada beda


potensial(tegangan) antara titik c dan titik d.
Jembatan dikatakan setimbang, jika beda potensial pada galvanometer adalah
nol, artinya tidak ada arus yang mengalir melalui galvanometer. ( kondisi ini
terjadi, jika Vca = Vda atau Vcb = Vdb ).
Jadi jembatan dikatakan setimbang setimbang, jika :
I1 R1 = I2 R2 .. ..( 8-1 )
Pengukuran tahanan Rx tidak bergantung pada karakteristik atau kalibrasi galvanometer
defleksi nol, asalkan detektor nol tersebut mempunyai sensitivitas yang cukup, untuk
menghasilkan posisi setimbang jembatan pada tingkat presisi yang diperlukan.

2. Aplikasi Jembatan Wheatstone Secara Umum


Hal ini tidak mungkin untuk menutup semua variasi praktis dan aplikasi dari
Jembatan Wheatstone, apalagi semua jenis jembatan, di halaman Web tunggal. Sir
Charles Wheatstone ditemukan banyak menggunakan dirinya sendiri, dan lain-lain
telah dikembangkan, bersama dengan banyak variasi, sejak saat itu. Salah satu
aplikasi yang sangat umum dalam industri saat ini adalah untuk memonitor
perangkat sensor seperti pengukur regangan. Perangkat tersebut resistensi
perubahan internal mereka sesuai dengan tingkat tertentu strain (atau tekanan,
suhu, dll), dan berfungsi sebagai resistor R X diketahui. Namun, bukannya
mencoba untuk terus menyesuaikan R2 untuk menyeimbangkan sirkuit,

galvanometer digantikan oleh sebuah sirkuit yang dapat dikalibrasi untuk


merekam tingkat ketidakseimbangan dalam jembatan sebagai nilai strain atau
kondisi lain yang diterapkan pada sensor.
Sebuah aplikasi kedua digunakan oleh distributor daya listrik secara akurat
menemukan istirahat di kabel listrik. Metode ini cepat dan akurat, dan tidak
memerlukan sejumlah besar teknisi lapangan.
Jembatan Wheatstone dengan Pengaman
Jembatan Wheatstone dengan pengaman digunakan untuk pengukuran tahanan
yang sangat tinggi, seperti : tahanan isolasi kabel atau tahanan kebocoran
kapasitor ( umumnya dalam orde beberapa ribu mega ohm ).
Salah satu masalah utama dalam pengukuran tahanan tinggi, terjadinya
kebocoran arus, yaitu :
- disekitar dan sekeliling komponen atau bahan yang diukur.
- sekeliling jepitan kutub pada titik mana komponen dihubungkan ke instrumen
- di dalam instrumen sendiri.
Arus kebocoran ini tentu tidak diinginkan, karena dapat memasuki rangkaian
pengukuran dan mempengaruhi ketelitian pengukuran yang sangat besar sekali.
Arus kebocoran ini, jelas kelihatan pada pengukuran tahanan tinggi, karena
tegangan tinggi diperlukan untuk memperoleh sensitivitas defleksi yang cukup.
Dalam pengukuran, pengaruh dari arus bocor ini, umumnya dihilangkan dengan suatu
rangkaian pengaman.
Rangkaian Pengaman
Dari gambar 9, dapat dijelaskan prinsip sebuah rangkaian pengaman sederhana
di dalam lengan Rx dari sebuah jembatan Wheatstone, sebagai berikut :
Jika rangkaian pengaman tidak ada, maka arus kebocoran I l sepanjang permu-kaan
jepitan kutub yang terisolasi akan bergabung dengan arus Ix melalui komponen yang
diukur, sehingga menghasilkan arus total rangkaian yang lebih besar daripada arus
peralatan yang sebenarnya.

Jika kawat pengaman dipasang mengelilingi permukaan kutub yang terisolasi,


maka kawat pengaman akan menahan arus kebocoran dan mengembalikan ke
baterai.
( agar arus kebocoran selalu menuju sebagian dari kawat pengaman dan mencegah-nya
masuk ke rangkaian jembatan, maka pengaman harus ditempat-kan secara cermat. ). Pada
rangkaian jembatan dalam gambar 10, pengaman sekeliling jepitan kutub di lengan R x,
ditunjukkan oleh sebuah lingkaran kecil disekitar terminal, dan tidak me-nyentuh satu
bagianpun dari rangkaian jembatan dan langsung dihu- bungkan ke baterai. Gambar

Jika dalam aplikasi teknik sipil salah satunya adalah dalam percobaan mengukur
regangan pada benda uji berupa beton atau baja. Dalam percobaan kita gunakan
strain gauge, yaitu semacam pita yang terdiri dari rangkaian listrik untuk
mengukur dilatasi benda uji berdasarkan perubahan hambatan penghantar di
dalam strain gauge. Strain gauge ini direkatkan kuat pada benda uji sehingga
deformasi pada benda uji akan sama dengan deformasi pada strain gauge.
Seperti kita ketahui, jika suatu material ditarik atau ditekan, maka terjadi
perubahan dimensi dari material tersebut sesuai dengan sifat2 elastisitas benda.
Perubahan dimensi pada penghantar akan menyebabkan perubahan hambatan
listrik, ingat persamaan R = L/A. Perubahan hambatan ini sedemikian kecilnya,
sehingga untuk mendapatkan hasil eksaknya harus dimasukkan kedalam
rangkaian jembatan Wheatstone. Rangkaian listrik beserta jembatan
Wheatstonenya sudah ada di dalam strain gauge.
Berbagai pemanfaatan penginderaan jauh dalam berbagai
bidang kehidupan, khususnya dibidang kelautan, hidrologi,
klimatologi, lingkungan dankedirgantaraan. Manfaat dibidang
kelautan (seasat mos) adalah untuk pengamatan sifat fisi air
laut, pemetaan perubahan pantai, abrasi, sedimentasi dan lainlain.(Aryadamis,2009)
Menangkap ikan menggunakan cahaya adalah kegiatan
perburuan seperti halnya menangkap harimau,babi hutan atau

hewan-hewan liar lainnya di hutan, karena sifat


memburu,menjadikan kegiatan penangkapan ikan mengandung
ketidak pastian yang tinggi. Untuk mengurangi ketidak pastian
hasil tangkap ikan tersebut nelayan sejak lama menggunakan
sarana cahaya sebagai alat bantu penangkapan ikan.
Sesunguhnya sangat berkaitan dengan upaya nelayan dalam
memahami prilaku ikan disekitarnya.(vandef,2010)

3. Contoh Aplikasi Jembatan Wheatstone yang Berkaitan dengan Sensor


Perkembangan teknologi elektronika memicu berkembangnya
dunia elektronika yang pada mulanya menggunakan cara
konvensional berubah menggunakan cara modern dengan
memanfaatkan kemajuan teknologi. Bukan hanya di sektor
industri, sektor diluar industi pun tidak luput dari penggunaan
kemajuan teknologi, salah satunya adalah benda alat penghitung
beban, peralatan ini sangat praktis dan efisien. Untuk
pengukuran beban yang bersifat manual sering terjadi kali terjadi
kesalahan dalam pengukuran baik yang berasal dari alat ukur
atau dari manusianya itu sendiri. Hal ini terjadi biasanya karena
ketidaktelitian dalam pembacaan alat ukur yang kurang presisi
atau mungkin dari faktor manusianya itu sendiri.
Tujuan yang hendak dicapai pada tugas akhir ini adalah
pembuatan perangkat keras yaitu Model Timbangan Digital
menggunakan Load Cell berbasis mikrokontroler AT89S51 dan
LCD sebagai penampil dari hasil pengukuran yang telah
dilakukan. Sehingga diharapkan pada akhirnya dalam
pengukuran beban yang dilakukan dapat lebih akurat dan dalam
proses pelayanan pengukuran beban lebih singkat dan lebih
baik.Metode yang digunakan dalam tugas akhir ini meliputi
tahap-tahap studi literatur perangkat keras dan lunak,
perancangan sistem alat; pembuatan perangkat keras, dan
perangkat lunak, pengujian sistem berdasar pada teori yang ada
sampai dengan penyelesaian akhir dan pembuatan laporan.

Perkembangan teknologi yang sangat cepat ini memicu


berkembangnya dunia elektronika yang pada mulanya
menggunakan cara konvensional berubah menggunakan cara
modern dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.

Bukan hanya di sektor industri, sektor diluar pun tidak


luput dari penggunaan kemajuan teknologi, seperti misalnya
pada pengukuran beban di pasar swalayan,pengukuran beban di
terminal barang dan ditempat-tempat lainnya yang tersebar di
berbagai wilayah. Hampir semuanya sudah menggunakan
teknologi digital guna mendukung aktivitas yang mereka
lakukan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka penulis
membuat sebuah alat pengukur berat yang dapat digunakan
dalam berbagai pengukuran berbasis mikrokontroller AT89S51.
Dengan menampilkan suatu hasil pengukuran secara digital,
sehingga diharapkan pengukuran yang dilakukan lebih
akurat,lebih singkat dalam hal pelayanan dapat lebih baik.

Pembuatan perangkat keras dan lunak dari model jembatan


timbang menggunakan Load Cell berbasis mikrokontroler
AT89S51 dan LCD sebagai penampil dari pengukuran beban yang
telah dilakukan.

Dalam sistem yang akan dibuat dibatasi pada hal-hal sebagai


berikut :
a. Perangkat keras yang digunakan berbasis mikrokontroler
AT89S51.
b. Sensor yang digunakan adalah Load Cell sebagai penerima
input.
c. Data pengukuran ditampilkan ke LCD sebagai hasil
pengukuran yang telah
dilakukan.
d. Perangkat lunak untuk mikrokontroler menggunakan bahasa
assembly.
e. Konfigurasi ADC diatur secara free running.
f. Pengukuran beban maksimal 5000 Gram dengan beban awal 0
gram.

A. PENGERTIAN

1. Sensor Berat (Load Cell)

Sensor berat yang digunakan adalah load cell. Load cell yang
dipakai dalam Tugas Akhir ini memiliki kapasitas berat
maksimum 8kg. Tetapi dalam perancangan tugas akhir dibuat
beban pengukuran maksimal 5kg.
Pada saat load cell digunakan dengan diberi alas di bawahnya
dan tempat di atasnya seperti ditunjukkan pada Gambar 2.1
Pada saat dalam kondisi tidak ada beban tegangan keluaran dari
load cell tersebut adalah 0v.

Gambar 2.1 Load Cell tampak samping


a.Penguat Operasional (Operasional Amplifier)
Penguat operasional adalah rangkaian terpadu (IC) yang mempunyai 5 buah
terminal dasar. Dua terminal untuk catu daya, 2 yang lain digunakan untuk isyarat
masukan yang berupa masukan membalik (-) dan masukan tak membalik (+) serta
1 terminal untuk keluaran.

b. Penguat Tak Membalik (Non-inverting Amplifier)


Penguat tak membalik merupakan suatu penguat dimana tegangan
keluarannya atau Vo mempunyai polaritas yang sama dengan tegangan masukan
atau Vi. Rangkaian penguat tak membalik ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2.3. Penguat tak membalik

Arus i mengalir ke Ri karena impedansi masukan op amp sangat besar sehingga


tidak ada arus yang mengalir pada kedua terminal masukannya. Tegangan pada Ri
sama dengan Vi karena perbedaan tegangan pada kedua terminal masukannya
mendekati 0 V.
i = RiVi . (2.1)
Tegangan pada Rf dapat dinyatakan sebagai
VRf = I Rf = ..... (2.2)
Tegangan keluaran Vo didapat dengan menambahkan tegangan pada Ri yaitu Vi
dengan tegangan pada Rf yaitu VRf.
Vo = Vi +xRiRfVi ..(2.3)

c. Penguat Differensial
Penguat differensial merupakan suatu penguat dimana tegangan keluarannya atau
Vo merupakan hasil selisih antara kedua buah tegangan masukan pada terminal
inverting dan non-invertingnya. Rumus umum yang berlaku untuk penguat
differensial adalah sebagai berikut :
Vout = (R2/R1)(V2-V1)=. (2.4)
Rangkaian penguat differensial ditunjukkan pada Gambar 2.4

Gambar 2.4. Penguat differensial.

d. Rangkaian penguat instrumentasi


Rangkaian pengkondisi sinyal menggunakan rangkaian penguat instrumentasi.
Penguat instrumentasi dibuat dengan menghubungkan sebuah penguat tersangga
ke sebuah penguat diferensial.
2. Rangkaian Analog to Digital Converter (ADC)
ADC pada rancangan ini digunakan untuk mengubah masukan
analog keluaran sensor berat yang sudah dikuatkan menjadi data
digital 8 bit. Tipe ADC yang digunakan adalah ADC 0804 pada
mode kerja free running.
Untuk membuat mode kerja ADC 0804 menjadi free running,
maka harus diketahui bagaimana urutan pemberian nilai pada
RDdan WR serta perubahan nilai pada INTR. Urutan pemberian
nilai pada RD, WR perubahan nilai pada INTR

Mode kerja free running ADC diperoleh jika RD danCS


dihubungkan ke ground agar selalu mendapat logika 0 sehingga
ADC akan selalu aktif dan siap memberikan data. Pin WR dan
INTR dijadikan satu karena perubahan logika INTR sama dengan
perubahan logika pada WR, sehingga pemberian logika pada WR
dilakukan secara otomatis oleh keluaran INTR.
Nilai tegangan masukan (Vx) dari sebuah adc secara umum
dapat dirumuskan sebagai berikut:
Sedangkan resolusi dari sebuah adc secara umum dapat
dirumuskan sebagai berikut:
3. Mikrokontroller AT89S51

Gambar 2.7. Mikrokontroller AT89S51


Keterangan :
Vcc : Suplai Tegangan
GND : Ground atau pentanahan
RST : Masukan reset. Kondisi logika 1 selama siklus mesin saat
osilator bekerja dan akan mereset mikrokontroler yang
bersangkutan.
Fungsi - fungsi Port :
Port 0 : Merupakan port paralel 8 bit open drain dua arah. Bila
digunakan untuk mengakses memori luar, port ini akan
memultipleks alamat memori dengan data.
Port 1 : merupakan port paralel 8 bit dua arah yang dapat
digunakan untuk berbagai keperluan.
Port 2 : merupakan port paralel selebar 8 bit dua arah. Port ini
melakukan pengiriman byte alamat bila dilakukan pengaksesan
memori eksternal.
P3.0 : Saluran masukan serial

P3.1
P3.2
P3.3
P3.4
P3.5
P3.6
P3.7

:
:
:
:
:
:
:

Saluaran keluaran serial


Interupsi eksternal 0
Interupsi eksternal 1
Masukan eksternal pewaktu / pencacah 0
Masukan eksternal pewaktu / pencacah 1
Sinyal tanda baca memori data ekstrenal.
Sinyal tanda tulis memori data eksternal.

AT89S51 adalah sebuah mikrokontroller 8 bit terbuat dari CMOS,


yang berkonsumsi daya rendah dan mempunyai kemampuan
tinggi. Mikrokontroller ini memiliki 4Kbyte In-System Flash
Programmable Memory, RAM sebesar 128 byte, 32 input/output,
watchdog timer, dua buah register data pointer, dua buah 16 bit
timer dan counter, lima buah vektor interupsi, sebuah port serial
full-duplex, osilator on-chip, dan rangkaian clock.
AT89S51 dibuat dengan teknologi memori non-volatile dengan
kepadatan tinggi oleh ATMEL. Mikrokontroller ini cocok dengan
instruksi set dan pinout 80C51 standart industri.
Flash on-chip memungkinkan memori program untuk diprogram
ulang dengan programmer memory nonvolatile yang biasa.

B. PERANCANGAN SISTEM
a. Perancangan Perangkat Keras
penjelasan masing-masing dari blok diagram adalah sebagai
berikut :
1. Sensor : Sensor yang digunakan sensor pergeseran adalah hal
ini adalah Load Cell,sensor ini berfungsi pada saat model
timbangan digital diberi beban sensor akan yang mengubah
pergeseran mekanis menjadi perubahan tahanan.
2. Rangkaian Pengkondisi sinyal : Setelah Sensor (Load Cell)
mendapat pressure atau tekanan tegangan ini disesuaikan
terlebih dahulu dangan rangkaian peangkondisi sinyal dengan
tujuan mencari titik ukur awalnya.
3. Rangkaian ADC : Tegangan analog yang berasal dari rangkain
pengkondisi sinyal diubah menjadi data digital
4. Mikrokontroller : Data digital yang berasal dari Rangkaian ADC
diolah yang nantinya di tampilkan ke LCD
5. LCD : Sebagai penampil hasil dari pengukuran beban yang
dilakukan.

b. Rangkaian Mikrokontoler dan LCD

Gambar 3.2 Koneksi mikrokontroler dan lcd.


Untuk dapat menampilkan data karakter ke LCD maka koneksi
mikrokontroler dan LCD dapat dijelaskan sebagai berikut. Data
masukan untuk penampil LCD diberikan melalui Port 0 yaitu P0.0P0.7 dihubungkan dengan D0-D7 pada LCD, sedangkan untuk
mengontrol LCD kaki RS dan E pada LCD dihubungkan dengan
kaki P3.6 dan P3.7 pada mikrokontroller.

C. PERANCANGAN SOFTWARE
Pemrograman AT89S51
Bahasa asembler adalah suatu bahasa pemrograman yang dapat
digunakan untuk memprogram mikrokontroller. Algoritma
pemrograman dari sistem ini dapat dituliskan sebagai berikut:
1. Start (awal program)
2. Inisialisasi dan LCD
3. Baca data ADC 10 X
4. Mengubah format data .
5. Menampilkan tulisan di LCD pada baris 1 BERAT BENDA
6. Menampilkan data berat di LCD pada baris 2

D. PENGUJIAN DAN ANALISA


Pengujian Hardware
1.Pengujian Load Cell dan Jembatan Wheatstone

Pengujian Load Cell dan jembatan Wheatsone dilakukan agar


sensor tersebut dapat bekerja dengan baik,berdasarkan
pengujian tanpa diberi beban terjadi pergeseran nilai pada
jembatan whaetstone sebesar 0,19mV,dengan menggunakan
rangkaian yang ada keluaran load cell dan jembatan wheatsone
diseting menggunakan Variable resistor supaya mendapatkan
0Volt dan ini berhasil.
2. Pengujian Rangkaian Pengkondisi Sinyal
Pengujian Rangkaian Pengkondisi sinyal bertujuan untuk
mengetahui apakah rangkaian yang dihasilkan oleh rangkaian
pengkondisi sinyal tersebut sudah sesuai dengan rangkaian yang
diinginkan dan menguji kestabilan rangkaian tersebut,

Gambar 4.3 Rangkaian pengkondisi sinyal dari sensor berat


Tabel 4.1.1 Hasil pengujian Pengkondisi sinyal terhadap beban
yang diberikan

3. Pengujian ADC
ADC 0804 adalah bagian yang sangat penting pada suatu
instrumentasi elektronika. Untuk itu diperlukan pengujian
terlebih dahulu untuk menetukan dapat tidaknya ADC ini
digunakan sebagai pengubah tegangan analog menjadi bit-bit
digital.

Setelah melakukan perancangan dan pengujian perangkat keras


dan perangkat lunak dari Model Timbangan Digital berbasis
mikrokontroler AT89S51, maka penulis dapat menarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Masa yang diukur oleh sensor Load Cell dapat diubah menjadi
tegangan listrik yang diinginkan dengan menggunakan
rangkaian jembatan Wheatstone.
2. Hubungan yang di dapat antara beban yang diberikan
terhadap output pengkondisi sinyal adalah linear
3. Adanya tegangan offset masukan yaitu sebesar 0,74mV pada
saat tidak ada beban.
4. Dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa rata-rata tingkat
kesalahan beban berat yang ditampilkan adalah sebesar 0,6%

E. SENSOR BERBASIS FLUXGATE


Sensor Berbasis Fluxgate
1. Prinsip Kerja
Sensor fluxgate adalah sensor magnetik yang bekerja
berdasarkan perubahan fluxmagnetik disekitar elemen sensor .
Elemen sensor fluxgate terdiri dari kumparanprimer excitation
coil , kumparan sekunder pick-up coil dan inti ferromagnetik
core.
Berdasarkan arah medan eksitasi yang dihasilkan kumparan
eksitasi, elemensensor fluxgate terdiri dari dua jenis, yaitu:
sensor fluxgate orthogonal dengan arahmedan eksitasi tegak
lurus arah medan eksternal yang diukur, dan sensor
fluxgateparallel dengan arah medan medan eksitasi sejajar
dengan medan eksternal yangdiukur, seperti ditunjukkan
Gambar (10b) dan (10c).Pada metoda fluxgate, pengukuran kuat
medan magnet didasarkan pada hubunganantara kuat medan

magnet H yang diberikan dengan fluks medan magnet induksi


B.Jika B yang dihasilkan berasal dari masukan H berupa
gelombang pulsa bolak-balik,maka dalam keadaan saturasi pada
keluaran B akan timbul gelombang harmonikgenap, gelombang
harmonik ke dua, yang besarnya sebanding dengan medan
magnetluar yang mempengaruhi inti dan arahnya sebanding
dengan arah medan magnet luar.

2. Teknologi Pembuatan Elemen FluxgateTeknologi Konvensional


Teknologi konvensional adalah teknologi manual dimana kawat yang
menjadikumparan eksitasi ( excitation core ) dan kumparan sekunder ( pick-up
coil ) dililitkansecara manual. Inti ferromagnetik menggunakan material buatan
industri seperti Vitrovac Metglas
3. Teknologi PCBs
Teknik PCBs memiliki tiga tahapan proses, yaitu: (1) desain teknik, (2) desain
fisikPCBs, (3) pencetakan ke PCBs. Semua tahapan proses mempunyai
keterkaitan yangsangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Pembuatan elemen sensor
fluxgate denganteknik PCBs yang sangat menentukan adalah:
footprint dan track (jalur).

4. Teknologi Mikro (Microfabrication)


Kawat sebagai bahan kumparan eksitasi dan pick-up serta inti
ferromagnetiksebagai inti dibuat dengan menggunakan berbagai proses teknologi
mikro. Adapunyang termasuk teknologi mikro antara lain:
electroplated/electroplating chemical etching ,flex-foil , photolithograpy
, photoresist dan evaporasi.
Teknologi Hybrid Kombinasi dari teknologi di atas disebuthybrid technology
(Dezuari, dkk., 1999).Teknologi ini mengkombinasikan proses pembuatan elemen
sensor diantara teknologidi atas.

5.

Aplikasi Sensor Berbasis FluxgateSensor Medan Magnet Lemah DC

Karakteristik keluaran sensor magnetik ditunjukkan pada Gambar 12. Tampak


padaGambar 12 daerah linier terdapat pada daerah medan magnet
antara40T hingga40T. Pada daerah ini terdapat hubungan linier antara tegangan
keluaran sensor dengan kuat medan magnet yang diukur.

6. Sensor Kuat arus


Pengukuran kuat arus dilakukan dengan cara menghitung arus yang mengalir
padakawat lurus dengan mendeteksi medan magnet yang dipancarkan. Pada garis
(Printed Circuit Board ) PCB dengan panjang 20 cm dibuat untuk aliran arus.
Sensor magnetikd i m a s u k k a n t e g a k l u r u s s t r i p e . Ar u s d i l e w a t k a n
m u l a i d a r i 0 , 1 m A - 1 9 0 0 m A p a d a PCB-garis, dengan interval tertentu.
Dalam penelitian dilakukan pengukuran untuk jarak 4 mm, 8 mm, dan 18 mm.
Hasilpengukuran arus bahwa keluaran sensor bersifat linier dan kuadratis.
Pendekatankuadratis diaplikasikan untuk daerah pengukuran arus 0-1900mA, dan
pendekatanlinier dilakukan untuk daerah pengukuran arus 0-100mA. Dari kedua
cara pendekatantersebut diperoleh kesalahan maksimum yang relatif kecil, untuk
daerah 0-1900mAkesalahan maksimumnya adalah 4.6 % untuk jarak pengukuran
4 mm, 2.3 % untuk jarak pengukuran8 mm, dan 1.4 % untuk jarak pengukuran 18
mm. Untuk daerahpengukuran arus yang kecil kesalahan dapat lebih dihindari, hal
ini terbukti ketikadilakukan pengukuran pada daerah arus 0-100mA, kesalahan
maksimum pengukuranpada daerah ini adalah 1.64% (18mm),0.62 %
(8mm) dan 0.9 % (4mm).