Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM KONSERVASI ENERGI

SISTEM PENERANGAN

Disusun sebagai salah satu tugas mata konservasi energi pada semester VI

Diusulkan Oleh :
Rechan Afranzia Nugraha
131711021

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


BANDUNG
2016
BAB I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang

Kebutuhan akan tenaga listrik terus bertambah dari tahun ke tahun. Namun, ketersediaan
bahan bakar fosil sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik terus berkurang. Jika dilihat
dari penggunaan listrik pada sektor bangunan, penggunaan energi listrik yang dominan salah
satunya terdapat pada sistem pencahayaan, sehingga perlu dilakukan penghematan dalam
pemanfaatannya.
Berbagai cara dapat dilakukan dalam penghematan energi, pemerintah melalui PP No. 30
Tahun 2007 merumuskan upaya untuk menghadapi krisis energi di Indonesia melalui
konservasi energi. Secara garis besar konservasi energi adalah upaya sistematis, terencana,
dan terpadu untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatannya. Salah satu langkah dalam
konservasi energi adalah audit energi(pengukuran). Analisis data hasil audit energi akan
menghasilkan seberapa besar peluang penghematan energi dengan langkah-langkah yang
sesuai dengan kondisi eksisting.
Dalam pelaksaan konservasi energi, dapat diaplikasikan pada praktikum konservasi energi
salah satunya sistem pencahayaan. Dengan cara pengukuran langsung (audit) tingkat
pencahayaan setiap lampu yaitu CFL, LED, Halogen dan TL dengan ballast kovensional dan
elektrik, menganalisa hasil audit , menentukan langkah konservasi terbaik berdasarkan
eksisting.
I.2. Tujuan
Berikut tujuan dari praktikum konservasi energi sistem penerangan :

Mahasiswa dapat mengidentifikasi konservasi energi yang dilakukan pada sistem

penerangan
Mahasiswa dapat mengetahui penghematan setelah dilakukan konservasi energi
pada sistem penerangan

I.3. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka dapat dirumuskan permasalahan
yaitu menentukan langkah konservasi terbaik dalam rangka hemat energi pada setiap lampu.
Dengan cara mengetahui daya terukur, tingkat pencahayaan, daya pencahayaan (efikasi), luas

bidang kerja, dan spesifikasi lampu yaitu CFL,LED,Halogen dan TL dengan ballast
konvensional dan eletrik.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Tingkat Pencahayaan (Iluminasi)
Tingkat Pencahayaan merupakan besarnya cahaya yang dibutuhkan untuk menerangi
suatu ruangan. Tingkat pencahayaan digunakan untuk menentukan kualitas pencahayaan
pada setiap ruangan sesuai dengan fungsinya. Lambang iluminasi adalah E dengan satuan
lux (lux) sesuai persamaan berikut.
E=

F
A .(1)

Keterangan :
E : Intensitas penerangan (lux)
F : Fluks cahaya (luman)
A : Luas bidang kerja (m2)
Tingkat pencahayaan ini juga dapat dilakukan dengan cara pengukuran langsung
menggunakan alat ukur luxmeter, sehingga dapat langsung diketahui nilai tingkat
pencahayaan pada suatu bidang kerja tertentu. Berikut merupakan prosedur pengukuran
pada sistem pencahayaan dengan menggunakan luxmeter.
Dalam mengoperasikan atau menjalankan lux meter perlu diperhatikan alat sensornya,
karena sensornyalah yang kan mengukur kekuatan penerangan suatu cahaya. Oleh karena
itu sensor harus ditempatkan tegak lurus pada daerah yang akan diukur tingkat kekuatan
cahayanya (iluminasi) secara tepat agar hasil yang ditampilkan pun akuarat. Adapun
prosedur penggunaan alat ini adalah sebagai berikut :
1. Nyalakan luxmeter.
2. Pilih kisaran range yang akan diukur ( 2.000 lux, 20.000 lux atau 50.000 lux) pada
tombol Range.

3. Arahkan sensor cahaya tegak lurus terhadap bidang kerja dengan menggunakan tangan
pada permukaan daerah yang akan diukur kuat penerangannya.
4.

Lihat hasil pengukuran pada layar panel.

II.2. Efikasi
Adalah rentang angka perbandingan antara fluks cahaya (lumen) dengan daya listrik
suatu sumber cahaya (watt), dalam satuan lumen/watt. Efikasi juga disebut fluks cahaya
spesifik, biasanya nilai efikasi ini didapat pada katalog dari suatu produk lampu. Nilai
efikasi ini berbanding lurus dengan efisiensi lampu, sesuai persamaan berikut.
eff =

energi terpakai (cahaya)


. (2)
input ( daya input)

Untuk mengetahui daya pencahayaan (efikasi) didapatkan dari nilai tingkat


pencahayaan dari luxmeter dibagi dengan daya terukur yang ditunjukan oleh voltmeter
dan amperemeter.
II.3.Faktor Daya (Cos Phi)
Faktor daya atau sering disebut cos adalah perbandingan daya sesungguhnya dengan
daya semu. Semakin rendah nilai faktor daya akan mengakibatkan daya reaktif nya makin
besar, sebaliknya jika nilai faktor daya semakin besar maka daya reaktif menuju 0 nol.
Persamaan faktor daya dan faktor reaktif :

Keterangan : Cos phi = faktor daya


P = Daya aktif (Watt)
S = Daya semu (VA)

Pada umumnya suatu pabrik mempunyai faktor daya listrik yang rendah, hal ini
disebabkan karena banyak menggunakan peralatan-peralatan seperti mesin-mesin, mesin
las, lampu TL, transformewr dan lain -lain.
4

Untuk memperbaiki besarnya faktor daya listrik ini dapat dilakukan dengan memasang
kapasitor daya secara paralel terhadap beban listrik tersebut. Hal ini dikarenakan pada
faktor daya listrik yang rendah, peralatan listrik banyak menarik daya reaktif induktif
sehingga perlu dikompensir dengan daya reaktif kapasitif agar faktor daya listrik dari
peralatan tersebut menjadi lebih besar.
Besarnya rating kapasitor daya dapat ditentukan setelah didapat data-data dari
peralatan listrik, kemudian dilakukan perhitungan untuk mendapatkan rating kapasitor daya
tersebut.
Rating kapasitor daya dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
C=

Qc
( 4)
2
V .w
Keterangan : C = kapasitor (F)
Qc = Daya reaktif kapasitor (VAR)
V = Tegangan (V)
w = 2 phi f

BAB III. METODE


Berikut merupakan metode yang digunakan, antara lain :
II.1. Prosedut Kerja
1. Periksa rangkaian yang sudah tersedia pada meja kerja
2. Catat spesifikasi dari lampu-lampu pada meja kerja
3. Rangkai secara tertutup sesuai skema rangkaian. Jika ingin menggunakan ballast
konvensional,elektrik,tambah kapasitor,dan menggunkan jenis lampu yang lain.
4. Nyalakan MCB
5. Catat parameter yang dibutuhkan :
- Tegangan (V)
- Arus (A)
- Intensitas cahaya dengan menggunakan luxmeter (Lux)
- Tinggi lampu terhadap bidang kerja (cm)
- Luas bidang kerja (m2)
6. Matikan MCB
II.2. Skema Rangkaian dan Titik Pengukuran
A. Skema Rangkaian
5

Berikut merupakan skema rangkaian yang digunakan dalam praktikum sistem


pencahayaan.
BK
TL
BE
mcb
C
A

CFL
L1
LED

L2
AC

V
HLG

L3

Gambar skema rangkaian sistem pencahayaan


(Sumber : Data Primer)

B. Titik Pengukuran
Skema simulasi titk pengukuran tingkat pencahayaan pada bidang kerja (1m 2). Skema
titik pengukuran dibawah digunakan untuk jenis lampu yang lain seperti :
CFL,Halogen,LED. Namun,sebagai referensi kelompok kami menggunakan tiga titik
pengukuran yaitu: di ujung kanan,di ujung kiri, dan di tengah yang tegak lurus dengan
lampu.

Lampu Philips TLD 58W/54-765 Cool Daylight


Lampu

62c
m

Luxmet
er

Bidang kerja

Gambar skema titik pengukuran


(Sumber : Data Primer)

II.4.Alat dan Bahan Yang Digunakan


Berikut merupakan alat dan bahan yang digunakan.
Tabel 1. Alat dan Bahan

Lux meter

Lampu CFL

Kapasitor 8mF

Lampu LED

Volt meter

Lampu
Halogen

Ampere meter

Lampu TL

Ballast
Konvensional

Ballast Elektrik

BAB IV. Kompilasi Data dan Analisa


Berikut merupakan data yang didapatkan mencangkup data primer hasil pengukuran dan
data olahan beserta analisisnya.
A. Data Primer
1. Spesifikasi Lampu
Berikut merupakan spesifikasi lampu yang digunakan ketika praktikum sistem
pencahayaan :
Tabel 2 Spesifikasi Lampu

No
1

Jenis Lampu
CFL

Spesifikasi Lampu
Essential 18W 220-240V 50-60Hz I=130mA

Halogen

CoolDaylight 1100lm 61 lm/W


Osram Concentra Germany 240V 60W

LED

R63 350 q538


10.5W Temperatur Warna 6500K 90mA

TL

220-240Vac 50/60 Hz
Philips Lifemax Tubelight TL-D 58W/54-765

3
4
2. Pengukuran

Berikut merupakan data hasil pengukuran praktikum sistem pencahayaan :


Tabel 3 Data Pengukuran

No
1

Jenis Lampu
TL 58W +BK

Tegangan(V)
222

Arus(A)

Lux terukur

Keterangan

0.37

(lumen/m2)
975

Terjadi lonjakan
arus dari nol 0,6
0,37 (stabil) dan
mengalami delay 2

2
3

TL 58W+BE
TL 58W+BK+C

219
222

0,23
0,33

1005

detik
Lampu terang,

947

tidak ada flick


Mengalami delay
selama 4 detik
sebelum nyala
stabil dan terdengar
suara dengung
8

TL 58W+BE+C

219

0,65

1075

Terjadi kenaikan

5
6

LED
Halogen

222
219

0,1
0,25

770
1105

arus dari biasanya


Lampu terang
Lampu terang
berwana

CFL

222

0,13

2800

kekuningan
Lampu terang

Kondisi ketika pengukuran :


-

Pengukuran dilakukan sekitar pukul 8.30 di lab Tegangan Tinggi


Pada saat pengukuran sistem pencahayaan pada bidang kerja, cahaya alami
langsung terhalangi seperti yang ditunjukan simulasi berikut.

Cahaya
alami

Oran
g
Jendela

Gambar Skema Kondisi Pengukuran


(Sumber : Data Primer)

B. Data olahan
Berikut merupakan data hasil olahan data primer :
Tabel 4. Hasil Olahan Data.

N
o

Jenis Lampu

1
2
3
4
5
6
7

TL 58W +BK
TL 58W+BE
TL 58W+BK+C
TL 58W+BE+C
LED
Halogen
CFL

Daya
terukur
(watt)
82.14
50,37
66.6
142.35
22.2
54.75
28.86

Lux terukur

Efikasi
(Lum/watt/m2)

975
1005
947
1075
770
1105
280

11.86
19.95
14.2
7.55
34.6
20.18
9.7

Daya
Terpasang
(watt)
58
58
58
58
10.5
60
18

Cos
phi
0.7
0.85
0.87
0.4
0.47
0.85
0.62

C. Analisis
1. Analisis Antara Lampu TL 58W
Lampu TL dengan daya terpasang yang sama yaitu 58 W .Namun, dengan menggunakan
ballast yang berbeda dan dengan penambahan kapasitor. Didapatkan hasil daya terukur, lux
terukur, efikasi, dan cos phi pada table IV.3.

TL 58W + Ballast Konvensional (Kumparan)

Daya terukur yang paling tinggi adalah saat menggunakan ballast konvensional yaitu
82.14W dengan tingkat pencahayaan 975 lux. Sehingga daya pencahayaan yang dihasilkan
kecil yaitu 11.86 lum/w/m2 dan nilai cos phi nya yaitu 0,7 ,hal ini disebabkan oleh induktor
yang menyebabkan adanya daya listrik yang terbuang. Rangkaian yang ada komponen
induktor akan mengakibatkan arus tertinggal (lagging) terhadap tegangan yang menimbulkan
sudut fasa (cos phi), nilai cos phi ini lah yang akan mengakibatkan seberapa besar energi
terbuang. Hal ini dibuktikan saat lampu TL 58W + ballast konvensional energi terbuang
berupa terjadinyanya lonjakan arus sebesar 0,6 A sebelum stabil ke 0,37A dengan flick
(kedip) 2 detik.

TL 58W + Ballast Elektrik


Saat lampu TL dihubungkan dengan ballast elektronik arus starting menjadi lebih

stabil karena BE ini termasuk ballast hemat energi karena komponennya terdiri dari sistem
rangkaian penyearah - inverter (power electronic) yang mampu menyalakan dan mematikan
10

pada frekuensi tinggi. Daya yang dihasilkan oleh lampu TL +ballast elektrik ini menjadi
lebih kecil yaitu 50,37W dengan daya pencahayaan yang tinggi yaitu 19.95 lum/watt/m 2.
Namun ada yang janggal yaitu daya terpasang lampu TL 58W sedangkan daya terukurnya
50,37W, ketika daya terukur (semu) lebih kecil dari daya nyata maka nilai cos phi nya akan
1.

TL 58W + Ballast Konvensional + Kapasitor


Dengan penambahan kapasitor pada ballast konvensional ini berfungsi untuk

memperbaiki nilai cos phi, dimana akibat rangkaian yang ada komponen induktor yang
mengakibatkan arus tertinggal (lagging) terhadap tegangan sehingga muncul sudut beda
fasa (cos phi). Hal ini dibuktikan dengan saat lampu TL 58W+BK nilai cos phi 0,7
sedangkan saat memakai kapasitor nilai cos phi 0,85. Berikut merupakan persamaan
menentukan nilai kapasitor.

11

Hal ini dibuktikan dengan name plate nilai kapasitor yang digunakan adalah 8 mF.
Namun kekurangan kondisi ini adalah lampu TL masih mengalami flick(kedip) selama 4
detik dan terdengar suara dengung yang merupakan indikasi dari energi terbuang.
Ballast konvensional + kapasitor menjadi lebih efektif hal ini ditunjukan dengan
naiknya nilai efikasi setelah dipasang kapasitor yang semula 11.86 lum/watt/m2 menjadi
14.2 lum/watt/m2.

TL 58W + Ballast Elektrik + Kapasitor


Dengan penambahan kapasitor pada ballast elektrik ini tidak bermanfaat seperti

ballast konvensional + kapasitor. Karena semakin banyaknya penggunaan ballast


elektronik untuk meningkatkan efisiensi lampu, maka bentuk gelombang tegangan dan
arus berubah menjadi nonsinusoidal. Seberapa jauh suatu gelombang menyimpang dari
bentuk sinusoidal dinyatakan dengan besarnya kandungan harmonisa. Arus harmonisa
adalah arus listrik yang frekuensinya kelipatan bulat dari frekuensi dasarnya (PT. PLN
menggunakan frekuensi dasar 50 Hz). Artinya, arus harmonisa mempunyai frekuensi
yang lebih tinggi dibanding frekuensi dasar 50 Hz.
Berlawanan dengan trafo atau induktor, kapasitor mempunyai impedansi atau
hambatan yang rendah pada frekuensi yang tinggi. Karena arus listrik cenderung
mengalir melalui melalui lintasan yang hambatannya rendah maka arus harmonisa
cenderung mengalir melalui kapasitor. Akibatnya, kapasitor bisa mengalami arus lebih
karena adanya harmonisa. Hal ini dibuktikan dengan nilai arus yang tinggi yaitu 0,65A
saat ballast elektronik + kapasitor, salah satu solusi dari permasalahan ini adalah dengan
memasang induktor yang dipasang seri untuk mencegah mengalirnya arus harmonisa
melalui kapasitor. Namun biaya pemasangan kapasitor menjadi lebih mahal.
2. Analisis Antara Lampu CFL dengan LED
Berikut merupakan analisis antara lampu CFL (compact flourscent) dan LED (light
emited diode) berdasarkan aspek hemat energinya.

Lampu CFL, merupakan teknologi lampu pengembangan dari lampu Incandescent


Light Bulbs (ILB), pada masanya lampu ini merupakan lampu hemat energi karena
12

dengan memiliki daya yang relatif kecil dengan warna cahayanya yang putih dan
tingkat pencahayaan yang baik. Namun lampu CFL memiliki kekurangan
diantaranya.
- Memliki efek buruk pada lingkungan,hal ini disebabkan lampu CFL mengandung
merkuri, logam beracun,dan harus didaur ulang secara benar ketika terbakar
-

habis.
Color Temperature / suhu warna = makin tinggi nilainya makin putih warna
cahayanya dan sebaliknya makin kecil nilainya makin kuning warna cahayanya.

Jika berdasarkan hasil praktikum lampu CFL18W memiliki tingkat pencahayaan


yang tinggi yaitu 2800 lux namun daya semunya pun tinggi yaitu 28,86W sehingga
efikasi yang dihasilkan lebih rendah yaitu 9,7 lum/w/m 2 dibandingkan dengan LED,
dimana efikasi eff , sehingga bisa dikatakan lampu LED lebih hemat energi.

Lampu LED memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh lampu CFL, yakni
ketahahannya hingga puluhan tahun serta efisiensi nya yang jauh lebih baik. Hal ini
dibuktikan dengan hasil praktikum dimana dengan daya hanya 10.5W mampu
menghasilkan tingkat pencahayaan yang baik yaitu 770 lux dengan daya semu yang
rendah dibandingkan dengan lampu CFL yaitu 22.2W : 28.68W, sehingga nilai
efikasinya pun lebih tinggi dibandingkan CFL yaitu berkisar 34W. Dengan lifetime
yang lama yaitu 5000 jam dan effisiensi yang lebih baik dari lampu CFL, maka lampu
LED menjadi solusi lampu hemat energi pada masa ini.

3. Analisis General Dari Segi Pemanfaatannya


Berikut merupakan analisis general dilihat dari segi pemanfaatan setiap lampu.

Lampu TL 58W
Langkah terbaik dari pemanfaatan lampu TL 58W sesuai hasil praktikum adalah

dengan menggunakan ballast elektronik, penggunaan lampu TL kebanyakan digunakan


pada ruangan gedung yang luas(industri,gedung komersil,pemerintahan) karena faktor
kenyamanan dari tingkat pencahayaannya. Hal ini dapat terlihat saat lampu TL 58W +
ballast elektronik unggul dari segala aspek mulai dari tingkat pencahayaan, daya , efikasi,
dan faktor daya dibandingkan lampu TL + BK atau lampu TL + BK +kapasitor.
13

Lampu CFL
Lampu CFL masih banyak digunakan pada sektor rumah tangga, karena masyarakat

beranggapan harga lampu CFL lebih murah dibandingkan lampu yang lainnya untuk
menghasilkan tingkat pencahayaan yang baik. Jika dilihat dari aspek yang lainnya lampu
CFL memiliki tingkat pencahayaan yang baik, namun membutuhkan daya yang besar.

Lampu LED
Pemanfaatan lampu hemat energi jenis lampu LED masih kurang di sektor rumah

tangga karena harganya yang 2x lipat dibandingkan lampu CFL, namun jika masyarakat
mengerti tentang karakteristik lampu LED seperti lifetime yang lama, effisiensi yang
baik, dan tingkat pencahayaan yang baik pula. Maka harga tersebut sebanding dengan
keunggulan dari lampu LED.

Lampu Halogen
Lampu halogen banyak digunakan di panggung (Stage Lighting) ataupun studio untuk

lampu sorot. Hal ini didasarkan pada sifat-sifat yang dimiliki oleh lampu halogen yang
dimana pengaturan cahayanya (dimmer) lebih mudah dilakukan dan ON/OFF dapat
secara langsung, disesuaikan dengan kebutuhan sistem penerangan panggung / studio
yang diinginkan. Lampu halogen juga digunakan untuk penerangan yang memerlukan
fisik lampu yang lebih kecil tetapi dengan fluks cahaya yang tinggi (landasan pacu kapal
terbang). Dengan alasan yang sama lampu halogen juga banyak digunakan sebagai lampu
proyektor dalam overhead projector, lampu depan mobil, dll. Hal ini dibuktikan dengan
hasil praktikum dimana fluks cahaya lampu halogen 60W berkisar 1105 lum/watt dengan
daya terukur 54.75W, hal ini menyebabkan efikasinya menjadi lebih tinggi yaitu 20.18
lum/w/m2, bahkan lebih tinggi dibandingkan lampu CFL dan lamu TL.

BAB V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum konservasi sistem pencahayaan didapatkan kesimpulan
sebagai berikut.

14

1. Terdapat beberapa konservasi yang dilakukan pada praktikum sistem pencahayaan


diantaranya.
- Low cost : membersihkan lampu, hal tersebut tidak dilakukan saat praktikum
sistem pencahayaan. Namun bisa dijadikan opsi untuk meningkatkan efisiensi dari
-

lampu.
Medium cost : mengganti ballast konvensional dengan ballast elektrik. Hal
tersebut menjadi solusi lampu hemat energi yang diterapkan pada lampu TL58W,
dimana dari aspek pencahayaan,efikasi, daya, dan cos phi. Lampu TL 58W +

ballast elektrik lebih baik dari lampu TL lainnya.


High cost : dengan mengganti lampu, seperti lampu CFL diganti dengan lampu
LED yang lebih hemat energi, atau lampu TL yang diganti dengan lampu LED

tabung.
2. Penghematan setelah dilakukan konservasi yaitu sebagai berikut.
No
1

Sebelum Konservasi
Lampu TL 58W + BK

Setelah Konservasi 1
Lampu TL 58W+ BK+C

Setelah Konservasi 2
Lampu TL 58W+BE

Efikasi = 11,86 lum/w/m2

8mF

Efikasi = 19,95 lum/w/m2

Lampu CFL 18W

Efikasi = 14,2 lum/w/m2


Diganti dengan LED

Efikasi = 9,7 lum/w/m2

10.5W
Efikasi = 34,6 lum/w/m2
DAFTAR PUSTAKA

Understanding power quality, B. Gridwood, Energy Mad Ltd.


Understanding power and power quality measurement, , http://www.transcat.com.
Understanding power factor, , http://www.princetongreen.org
http://electricsourcestation.blogspot.co.id/2009/04/klasifikasi-jenis-dan-model-lampu-serta.html/
diunduh pada tanggal 25-03-2016, 10:00
https://konversi.wordpress.com/2009/11/18/kapasitor-bermanfaat-sekaligus-berbahaya/ diunduh
pada tanggal 25-03-2016, 12:00

15

https://gulangguling.com/2015/08/03/lampu-led-lebih-hemat-perbandingan-ukuran-watt-lampuled-dan-neon/ diunduh pada tanggal 26-03-2016, 07:00

16