Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manajemen sebagai suatu proses sosial, meletakkan bobotnya pada interaksi orang-orang,
baik orang-orang yang berada di dalam maupun di luar lembaga-lembaga formal, atau yang
berada di atas maupun di bawah posisi operasional seseorang. Selain itu juga manajemen
pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas yang ringan, karena tidak hanya berkaitan
dengan permasalahan teknis, tetapi mencakup berbagai persoalan yang rumit dan kompleks,
sehingga menuntut manajemen pendidikan yang lebih baik. Sayangnya, selama ini aspek
manajemen pendidikan pada berbagai tingkat dan satuan pendidikan belum mendapat perhatian
yang serius, sehingga seluruh komponen sistem pendidikan kurang berfungsi dengan baik.
Lemahnya manajemen pendidikan juga memberikan dampak terhadap efisiensi internal
pendidikan yang terlihat dari jumlah peserta didik yang mengulang dan putus sekolah. Dari
permasalahan-permasalahan tersebut dapat dilihat bahwa belum mengenanya fungsi-fungsi dari
manajemen karena kurangnya pemahaman tentang pentingnya fungsi-fungsi manajemen.
B. Rumusan Masalah
1. Unsur Unsur Manajemen Pendidikan
2. Fungsi-Fungsi Management Pendidikan
3. Aplikasi Unsur Dan Fungsi Manajemen pendidikan

BAB II
PENDAHULUAN
A. UNSUR UNSUR MANAJEMEN PENDIDIKAN
Adapun unsur-unsur pendidikan adalah:

endidikan

Pihak yang menjadi obyek utama pendidikan

: Pihak yang menjadi subyek dari pelaksanaan pendidikan


: Bahan atau pengalaman belajar yang disusun menjadi kurikulum
: Tindakan yang menjdi kelamgsungan mendidik
: keadaan yang berbengaruh terhadap hasil pendidikan
:

Landasan yang menjadi fundamental dari segala kegiatn pendidikan.


Pendidikan adalah suatu usaha sadar yang teratur dan tematis yang dilakukan seseorang
untuk mempengaruhi agar anak mempunyai sifat dan tabiat yang sesuai dengan tujuan
pendidikan.Yang menjadi eksistensi mendidik terletak pada tujuan mendidik, sedang mengajar
eksistensinya terletak pada materinya.Oleh karena itu dapat disimpulkan mendidik lebih luas dari
pada mengajar,dan mengajar merupakan sarana dalam mendidik.
Adapun faktor-faktoryang membatasi kemampuan pendidikan :

anak didik

: di dalam anak didik terdpt potensi-potensi yang butuh pendidikan dari luar

pendidik

: guru mempunyai metode penyampian yang berbeda dan beragam.


-

Faktor lingkumgan : lingkungan sangat berpengaruh baik positif maupun negatif.


Lama pendidikan tidak akhirnya.Menurut Lengeverd bahwa di saat ketika anak itu telah
sadar atau mengenal kewibawaan.Adapun ciri-cirinya:adanya kestabilan,sifat tanggung jawab
dan sifat berdiri sendiri. Menurut sarjanawan pendidikan dari Barat lama pendidikan jika anak
telah berumur 20 atau 21 tahun sedang menurut bangsa Timur,bahwa prndidikan tidak hanya di
mulai sejak prenatal melainkan di mulai sejak anak diciptakan(konsepsi). Dasardan tujuan
merupakan salah masalah ynng sangat fundamental dalam pelaksanaan pendidikan.Oleh karena
itu dasar akan mennetukan corak dan isi dari pendidikan akan menuju arah mana anak dibawa.
[1]

C. FUNGSI-FUNGSI MANAGEMENT PENDIDIKAN


1. Lima Fungsi Utama Manajemen
Penting untuk diingat, bahwa manajemen adalah suatu bentuk kerja. Manager, dalam
melakukan pekerjaannya, harus melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu, yang dinamakan
fungsi-fungsi manajemen, yang terdiri dari,
1) Planning- menentukan tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan
datang dan apa yang harus diperbuat agar dapat mencapai tujuan-tujuan itu.

2) Organizing- mengelompokkan dan menentukan berbagai kegiatan penting dan memberikan


kekuasaan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan itu.
3) Staffing- menentukan keperluan-keperluan sumberdaya manusia, pengarahan, penyaringan,
latihan dan pengembangan tenaga kerja.
4) Motivating- mengarahkan atau menyalurkan perilaku manusia kearah tujuan-tujuan. Bernard
Berelson dalam Siswanto, mendefenisikan motivasi sebagai keadaan jiwa dan sikap mental
manusai yang memberikn energi, mendorong kegiatan, dan mengarah dan menyalurkan perilaku
ke arah mencapai kebutuhan yang memberikan kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan.
[2]
5) Controlling- mengukur pelaksanaan dengan tujuan-tujuan, menentukan sebab-sebab
penyimpangan-penyimpangan dan mengambil tindakan-tindakan korektif dimana perlu.[3]
2. Fungsi-Fungsi Manajemen
1) Perencanaan[4]
Self-audit- menentukan keadaan organisasi sekarang.
Survey - lingkungan.
Objectives- tujuan.
2) Pengorganisasian
Identity- tetapkan dengan teliti dan tentukan pekerjaan yang akan dilaksanakan.
Break work down- bagi-bagi pekerjaan menjadi tugas-tugas setiap orang.
Tugas-tugas kelompok menjadi posisi-posisi.
3) Kepegawaian
Tentukan keperluan-keperluan sumber daya
Kerahkanlah pegawai-pegawai sedapat mungkin
Saringlah
4) Pemotivasian
Berhubungan dengan staf dan jelaskan tujuan-tujuan kepada bawahan.
Bagi-bagikan ukuran-ukuran pelaksanaan- performance standards Latih dan bimbing bawahan untuk memenuhi ukuran-ukuran pelaksanaan itu.
5) Pengawasan
Tetapkan ukuran-ukuran.
Perbaiki penyimpangan-penyimpangan.
Berhubungan selalu selam proses pengawasan.[5]
Manajemen pendidikan mempunyai fungsi yang terpadu dengan proses pendidikan
khususnya dengan pengelolaan proses pembelajaran. Dalam hubungan ini, terdapat beberapa
fungsi manajemen pendidikan. Berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen ini, pandangan dari
beberapa ahli ialah sebagai berikut:
Menurut G.R. Terry terdapat empat fungsi manajemen, yaitu :

1. Planning (perencanaan);
2. Organizing (pengorganisasian);
3. Actuating (pelaksanaan); dan
4. Controlling (pengawasan).
Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi :
1. Planning (perencanaan);
2. Organizing (pengorganisasian);
3. Commanding (pengaturan);
4. Coordinating (pengkoordinasian); dan
5. Controlling (pengawasan).
Harold Koontz dan Cyril O Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen, mencakup:
1. Planning (perencanaan);
2. Organizing (pengorganisasian);
3. Staffing (penentuan staf);
4. Directing (pengarahan); dan
5. Controlling (pengawasan).
L. Gullick mengemukakan tujuh fungsi manajemen, yaitu:
1. Planning (perencanaan);
2. Organizing (pengorganisasian);
3. Staffing (penentuan staf);
4. Directing (pengarahan);
5. Coordinating (pengkoordinasian);
6. Reporting (pelaporan); dan
7. Budgeting (penganggaran).
Berbicara tentang fungsi manajemen pendidikan Islam tidaklah bisa terlepas dari fungsi
manajemen secara umum seperti yang dikemukakan Henry Fayol seorang industriyawan Prancis,
dia mengatakan bahwa fungsi-fungsi manajemen itu adalah merancang, mengorganisasikan,
memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan
sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus
berlangsung hingga sekarang.

Sementara itu Robbin dan Coulter[6] mengatakan bahwa fungsi dasar manajemen yang
paling penting adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan. Senada
dengan itu Mahdi bin Ibrahim[7] menyatakan bahwa fungsi manajemen atau tugas
kepemimpinan

dalam

pelaksanaannya

meliputi

berbagai

hal,

yaitu

Perencanaan,

pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian.


1. Fungsi Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam
bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil
yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan Islam perencanaan harus dijadikan
langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan para pengelola pendidikan
Islam. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam
menentukan perencanaan pendidikan Islam akan berakibat sangat patal bagi keberlangsungan
pendidikan Islam. Bahkan Allah memberikan arahan kepada setiap orang yang beriman untuk
mendesain sebuah rencana apa yang akan dilakukan dikemudian hari, sebagaimana Firman-Nya
dalam Al Quran Surat Al Hasyr : 18 yang berbunyi :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanya
untuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas target
kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target kebahagiaan dunia
dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang.
Mahdi bin Ibrahim[8]mengemukakan bahwa ada lima perkara penting untuk diperhatikan
demi keberhasilan sebuah perencanaan, yaitu :
-

Ketelitian dan kejelasan dalam membentuk tujuan

Ketepatan waktu dengan tujuan yang hendak dicapai

Keterkaitan antara fase-fase operasionalrencana dengan penanggung jawab operasional, agar


mereka mengetahui fase-fase tersebut dengan tujuan yang hendak dicapai.

Perhatian terhadap aspek-aspek amaliah ditinjau dari sisi penerimaan masyarakat,


mempertimbangkan perencanaa, kesesuaian perencanaan dengan tim yang bertanggung jawab
terhadap operasionalnya atau dengan mitra kerjanya, kemungkinan-kemungkinan yang bisa
dicapai, dan kesiapan perencanaan melakukan evaluasi secara terus menerus dalam
merealisasikan tujuan.
-

Kemampuan organisatoris penanggung jaawab operasional.


Sementara itu menurut Ramayulis[9] mengatakan bahwa dalam Manajemen pendidikan

Islam perencanaan itu meliputi :


-

Penentuan prioritas agar pelaksanaan pendidikan berjalan efektif, prioritas kebutuhan agar
melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam proses pendidikan, masyarakat dan bahkan
murid.

Penetapan tujuan sebagai garis pengarahan dan sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil
pendidikan
-

Formulasi prosedur sebagai tahap-tahap rencana tindakan.

Penyerahan tanggung jawab kepada individu dan kelompok-kelompok kerja.


Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Manajeman Pendidikan Islam

perencanaan merupakan kunci utama untuk menentukan aktivitas berikutnya. Tanpa perencanaan
yang matang aktivitas lainnya tidaklah akan berjalan dengan baik bahkan mungkin akan gagal.
Oleh karena itu buatlah perencanaan sematang mungkin agar menemui kesuksesan yang
memuaskan.
2. Fungsi Pengorganisasian (Organizing)
Ajaran Islam senantiasa mendorong para pemeluknya untuk melakukan segala sesuatu
secara terorganisir dengan rapi, sebab bisa jadi suatu kebenaran yang tidak terorganisir dengan
rapi akan dengan mudah bisa diluluhlantakan oleh kebathilan yang tersusun rapi.
Menurut Terry[10] pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen
dilaksnakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia,
sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.

Organisasi dalam pandangan Islam bukan semata-mata wadah, melainkan lebih


menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebih
menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu ada pemimpin
dan bawahan.[11]
Sementara itu Ramayulis[12]menyatakan bahwa pengorganisasian dalam pendidikan Islam
adalah proses penentuan struktur, aktivitas, interkasi, koordinasi, desain struktur, wewenang,
tugas secara transparan, dan jelas. Dalam lembaga pendidikan Isla, baik yang bersifat individual,
kelompok, maupun kelembagaan.
Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan Islam akan dapat berjalan dengan lancar
dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan
organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat
diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akan sangat
membantu bagi para manajer pendidikan Islam.
Dari uraian di atas dapat difahami bahwa pengorganisasian merupakan fase kedua setelah
perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu
dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan
tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yang efektif. Banyak pikiran,
tangan, dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus dikoordinasi bukan saja untuk
diselesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi juga untuk menciptakan kegunaan bagi
masing-masing anggota kelompok tersebut terhadap keinginan keterampilan dan pengetahuan.
3. Fungsi Pengarahan (Directing)
Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga mereka
menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Di dalam fungsi pengarahan terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang diberi
pengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarah adalah orang yang memberikan
pengarahan berupa perintah, larangan, dan bimbingan. Yang diberipengarahan adalah orang yang
diinginkan dapat merealisasikan pengarahan. Isi pengarahan adalah sesuatu yang disampaikan
pengarah baik berupa perintah, larangan, maupun bimbingan. Sedangkan metode pengarahan
adalah sistem komunikasi antara pengarah dan yang diberi pengarahan.

Dalam manajemen pendidikan Islam, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orang
yang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknya
harus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu : Keteladanan, konsistensi, keterbukaan,
kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah, larangan, maupun
bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuan sipenerima arahan, sebab jika
hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapat dilaksanakan dengan baik oleh
sipenerima pengarahan.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa fungsi pengarahan dalam manajemen
pendidikan Islam adalah proses bimbingan yang didasari prinsip-prinsip religius kepada rekan
kerja, sehingga orang tersebut mau melaksanakan tugasnya dengan sungguh- sungguh dan
bersemangat disertai keikhlasan yang sangat mendalam.
4. Fungsi Pengendalian (Controlling)
Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna
menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
Bahkan Didin dan Hendri[13] menyatakan bahwa dalam pandangan Islam pengawasan dilakukan
untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah dan membenarkan yang hak.
Dalam pendidikan Islam pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus
menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifat
materil maupun spirituil.
Menurut Ramayulis[14]pengawasan dalam pendidikan Islam mempunyai karakteristik
sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan spiritual, monitoring bukan hanya manajer,
tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang manusiawi yang menjunjung martabat
manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencaan
yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan Allah sebagai pengawas
yang Maha Mengetahui. Di sisi lain pengawasan dalam konsep Islam lebih mengutamakan
menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman.
C. APLIKASI UNSUR DAN FUNGSI MANAJEMENPENDIDIKAN[15]
Tuntutan akan lulusan lembaga pendidikan yang bermutu semakin mendesak karena
semakin ketatnya persaingan dalam lapangan kerja. Pendidikan dan lembaga-lembaga

pendidikan mengupayakan segala cara untuk meningkatkan daya saing lulusan serta produkproduk akademik lainnya, yang antara lain dicapai melalui peningkatan mutu pendidikan. Tata
Administrasi Negara ( TAN) dan Tata Laksana Pemerintahan ( TLP) dalam bidang pendidikan
haruslah dapat menyesuaikan dan menjawab tantangan tersebut.
Untuk mencapai terselenggaranya pendidikan bermutu, dikenal dengan perlunya
paradigma baru pendidikan yang difokuskan pada otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan
evaluasi.
Unsur-unsur paradigma baru pendidikan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut
Pengertian otonomi dalam pendidikan belum sepenuhnya mendapatkan kesepakatan pengertian
dan implementasinya. Tetapi paling tidak, dapat dimengerti sebagai bentuk pendelegasian
kewenangan seperti dalam penerimaan dan pengelolaan peserta didik dan staf pengajar/ staf non
akademik, pengembangan kurikulum dan materi ajar, serta penentuan standar akademik. Dalam
penerapannya di sekolah. misalnya, paling tidak bahwa guru/pengajar semestinya diberikan hakhak profesi yang mempunyai otoritas di kelas, dan tak sekedar sebagai bagian kepanjangan
tangan birokrasi di atasnya .
Akuntabilitas diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan output dan outcome yang
memuaskan pelanggan. Akuntabilitas menuntut kesepadanan antara tujuan lembaga pendidikan
tersebut dengan kenyataan dalam hal norma, etika dan nilai (values) termasuk semua program
dan kegiatan yang dilaksanakannya. Hal ini memerlukan transparansi (keterbukaan) dari semua
fihak yang terlibat dan akuntabilitas untuk penggunaan semua sumberdayanya.
Suatu pengendalian dan akreditasi dari luar diperlukan melalui proses evaluasi tentang
pengembangan mutu lembaga pendidikan tersebut. Hasil akreditasi tersebut perlu diketahui oleh
masyarakat yang menunjukkan posisi lembaga pendidikan yang bersangkutan dalam
menghasilkan produk atau jasa yang bermutu. Pelaksanaan akreditasi dilakukan oleh suatu badan
yang berwenang.
Adapun evaluasi adalah suatu upaya sistematis untuk mengumpulkan dan memproses
informasi yang menghasilkan kesimpulan tentang nilai, manfaat, serta kinerja dari lembaga
pendidikan atau unit kerja yang dievaluasi, kemudian menggunakan hasil evaluasi tersebut dalam
proses pengambilan keputusan dan perencanaan. Evaluasi bisa dilakukan secara internal atau
eksternal.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Manajemen Pendidikan adalah proses
pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya)
baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan
orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan
baik di dunia maupun di akhirat.
Banyak sekali para ulama di bidang manajemen yang menyebutkan tentang fungsi-fungsi
manajemen diantaranya adalah Mahdi bin Ibrahim, dia mengatakan bahwa fungsi manajemen itu
di antaranya adalah Fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.
Ada banyak pendapat mengenai fungsi-fungsi manajemen diantaranya yaitu, : Perencanaan
(Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengarahan (Directing), dan Pengendalian
(Controlling).
http://langitjinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.com/2014/01/makalahunsur-unsur-manajemen_17.html

http://langitjinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.com/2014/01/makalahunsur-unsur-manajemen_17.html

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di setiap kegiatan ataupun organisasi, pastinya memeliki unsur manajemen di dalamnya.
Dengan adanya manajemen maka semua kegiatan dari organisasi tersebut dapat di jalankan secara
sisitematis, rapi dan sesuai dengan apa yang di inginkan untuk mencapai tujuan.
Seperti halnya organisasi yang memiliki unsur manajemen di dalamnya, maka dalam sebuah
praktik pelayanan kesehatan pun terdapat unsur manajemen di dalamnya. Unsur-unsur manajemen

dalam pelayanan kebidanan antara lain ialah perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,


pengawasan, pengendalian dan penilaian, serta pencatatan dan pelaporan.
Pengawasan, pengendalian, dan penilaian merupakan proses akhir dari proses manajemen,
dimana dalam pelaksanaannya proses pengawasan dan pengendalian saling keterkaitan dengan
proses-proses yang lain terutama dalam perencanaan. Dalam proses manajemen ditetapkan suatu
standar yang menjadi acuan, diantaranya yaitu : visi-misi, standar asuhan, penampilan kinerja,
keuangan, dan lain sebagainya. Dengan demikian dalam pelaksanaannya perlu dilakukan
pengawasan apakah setiap tahapan proses manajemen telah sesuai dengan standar atau tidak dan jika
ditemukan adanya penyimpangan maka perlu dilakukan pengendalian sehingga kembali sesuai
standar yang berlaku.
Pengawasan merupakan salah satu fungsi dalam manajemen suatu organisasi. Dimana
memiliki arti suatu proses mengawasi dan mengevaluasi suatu kegiatan. Suatu Pengawasan
dikatakan penting karena Tanpa adanya pengawasan yang baik tentunya akan menghasilkan
tujuan yang kurang memuaskan, baik bagi organisasinya itu sendiri maupun bagi para
pekerjanya. Di dalam suatu organisasi terdapat tipe-tipe pengawasan yang digunakan, seperti
pengawasan Pendahuluan (preliminary control), Pengawasan pada saat kerja berlangsung
(cocurrent control), Pengawasan Feed Back (feed back control).Di dalam proses pengawasan
juga diperlukan Tahap-tahap pengawasan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tahap-tahap
pengawasan tersebut terdiri dari beberapa macam, yaitu Tahap Penetapan Standar, Tahap
Penentuan Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan, Tahap Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan, Tahap
Pembandingan Pelaksanaan dengan Standar dan Analisa Penyimpangan dan Tahap Pengambilan
Tindakan Koreksi. Suatu Organisasi juga memiliki perancangan proses pengawasan, yang
berguna untuk merencanakan secara sistematis dan terstruktur agar proses pengawasan berjalan
sesuai dengan apa yang dibutuhkan atau direncanakan. Untuk menjalankan proses pengawasan
tersebut dibutuhkan alat bantu manajerial dikarenakan jika terjadi kesalahan dalam suatu proses
dapat langsung diperbaiki. Selain itu, pada alat-alat bantu pengawasan ini dapat menunjang
terwujudnya proses pengawasan yang sesuai dengan kebutuhan. Pengawasan juga meliputi
bidang-bidang pengawasan yang menunjang keberhasilan dari suatu tujuan organisasi
diantaranya.
Seperti hanya pada mobil,anda menekan gas,maka mobil anda akan berjalan lebih
cepat.Putarlah setir anta maka mobil akan berganti arah.tekan pedal rem,maka mobil pun akan
segera berhenti atau melaju secara perlahan. Dengan segala perangkat ini,anda mengendalikan
arah dan kecepatan: jika beberapa diantaranya tidak berfungsi, mobil tidak akan melakukan apa
yang anda inginkan. Dengan kata lain,mobil tersebut berada diluar kendali. Sebuah Organisasi
juga harus dikendalikan; yaitu perangkat harus berda pada tempatnya untuk memastikan bahwa
tujuan strategisnya dapat tercapai. Akan tetapi pengendalian organisasi lebuh rumit daripada
menegemudikan sebuah mobil.
Maka dari itulah, makalah ini akan membahas secara lengkap mengenai unsur manajemen
pada tahap pengawasan, pengendalian dan penilaian dalam pelayanan kesehatan, salah satu
contohnya pelayanan kesehatan di puskesmas dan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh
bidan.

B. Perumusan Masalah
Dalam makalah ini, penyusun akan memberikan fokus masalah mengenai unsur manajemen
dalam pelayanan kesehatan yaitu pelayanan kebidanan tentang pengawasan, pengendalian, dan
penilaian antara lain :

Apa yang di maksud dengan manajemen pelayanan kebidanan?

Apa pengertian dari pengawasan?

Apa saja jenis-jenis pengawasan?

Apa saja tipe-tipe pengawasan?

Apa kah tujuan dari adanya pengawasan?

Apa saja tahap-tahap prosese pengawasan?

Apa yang menjadi prinsip pengawasan?

Seberapa penting di adakannya pengawasan?

Bagaimana karakte dari pengawasan?r

Apa saja manfaat dari di adakannya pengawasan?

Apa yang di maksud dengan pengendalian?

Bagaimana langkah-langkah dalam pengendalian?

Apa saja yang menjadi jenis-jenis pengendalian?

Bagaimana karakteristik dari pengendalian?

Apa yang di maksud dengan penilaian?

Apa manfaat dari diadakannya penilaian?

Apa saja metode yang dapat dilakukan dalam proses penilaian?

C. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini, agar:

Mahasiswa dapat mengetahui apa yang di maksud dengan manajemen pelayanan


kebidanan

Agar mahasisiwa mengetahui apa yang dimaksud dengan pengawasan.

Mengetahui apa saja jenis-jenis pengawasan.

Untuk mengetahui apa saja tipe-tipe pengawasan.

Untuk menegetahui apa yang menjadi tujuan dari adanya pengawasan.

Untuk mengetahui apa saja tahap-tahap prosese pengawasan.

Untuk mengetahui prinsip pengawasan.

Mengetahui bagaimana karakter dari pengawasan.

Mengetahui apa saja manfaat dari di adakannya pengawasan.

Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan pengendalian.

Menegetahui langkah-langkah dalam pengendalian.

Untuk mengetahui apa saja yang menjadi jenis-jenis pengendalian.

Agar menegetahui bagaimana karakteristik dari pengendalian.

Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan penilaian.

Untuk mengetahui apa manfaat dari diadakannya penilaian.

Mengetahui apa saja metode yang dapat dilakukan dalam proses penilaia

BAB II
PEMBAHASAN
A. Manajemen Pelayanan Kebidanan
Manajemen Pelayanan Kebidanan didefinisikan sebagai rangkaian kegiatan yang bekerja
secara sistematis untuk menghasilkan saluaran Pelayanan Kebidanan yang efektif dan efisien.
Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan membentuk fungsi-fungsi manajemen.
Ada 3 (tiga) fungsi manajemen yang dikenal yakni Pengawasan, Pengendalian, dan
Penilaian. Semua fungsi manajemen tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan
berkesinambungan (Departemen Kesehatan, 2004).
B. Pengawasan (Monitoring)

Pengertian Pengawasan
Pengawasan bisa didefinisikan sebagai suatu usaha sistematis oleh manajemen bisnis untuk
membandingkan kinerja standar, rencana, atau tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk
menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan untuk mengambil tindakan
penyembuhan yang diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia digunakan dengan
seefektif dan seefisien mungkin didalam mencapai tujuan.
George R. Tery (2006:395) mengartikan pengawasan sebagai mendeterminasi apa yang
telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan
tidankan-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Robbin (dalam Sugandha, 1999 : 150) menyatakan pengawasan itu merupakan suatu
proses aktivitas yang sangat mendasar, sehingga membutuhkan seorang manajer untuk
menjalankan tugas dan pekerjaan organisasi.
Kertonegoro (1998 : 163) menyatakan pengawasan itu adalah proses melaui manajer
berusaha memperoleh kayakinan bahwa kegiatan yang dilakukan sesuai dengan perencanaannya.
Terry (dalam Sujamto, 1986 : 17) menyatakan Pengawasan adalah untuk menentukan apa
yang telah dicapai, mengadakan evaluasi atasannya, dan mengambil tindakan-tidakan korektif
bila diperlukan untuk menjamin agar hasilnya sesuai dengan rencana.
Dale (dalam Winardi, 2000:224) dikatakan bahwa pengawasan tidak hanya melihat sesuatu
dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan mengawasi, tetapi juga mengandung arti
memperbaiki dan meluruskannya sehingga mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang
direncanakan.
Kesimpulannya, pengwasan merupakan suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar
pelaksanaan tujuan dengan tujuan-tujuan perencanaan,merancang system informasi umpan
balik,membandingkan
kegiatan
nyata
dengan
standar
yang
telah
ditetapkan
sebelumnya,menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan
koreksi yang diperlukan.
Jenis-jenis Pengawasan
1. Pengawasan fungsiomal (struktural). Fungsi pengawasan ini melekat pada seseorang yang
menjabat sebagai pimpinan lembaga.
2. Pengawasan publik. Pengawasan ini dilakukan oleh masyarakat.
3. Pengawasan non fungsional. Pengawasan ini biasanya dilakukan oleh badan-badan yag
diberikan wewenang untuk melakukan pengawasan seperti DPR, BPK, KPK, dan lain-lain.
Tipe-Tipe Pengawasan
Donnelly, et al. (dalam Zuhad, 1996:302) mengelompokkan pengawasan menjadi 3 Tipe
pengawasan yaitu :
1. Pengawasan Pendahuluan (preliminary control)
Pengawasan pendahuluan atau feedforward controls. Pengawasan pendahuluan, atau sering
di sebut steering controls. Dirancang untuk mangantisipasi masalah-masalah atau penyimpanganpenyimpangan dari standar atau tujuan dan memungkinan koreksi dibuat sebelum suatu tahap
kegiatan
tertentu
di
selesaikan
.
Manajemen menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur dan aturan-aturan
yang ditujukan pada hilangnya perilaku yang menyebabkan hasil kerja yang tidak diinginkan di
masa depan. Dipandang dari sudut prespektif demikian, maka kebijaksanaan-kebijaksanaan
merupakan pedoman-pedoman yang baik untuk tindakan masa mendatang. Pengawasan

pendahuluan meliputi; Pengawasan pendahuluan sumber daya manusia, Pengawasan


pendahuluan bahan-bahan, Pengawasan pendahuluan modal dan Pengawasan pendahuluan
sumber-sumber daya financial.
2. Pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent control)
Pengawasan yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan atau concurrent
control. Pengawsan ini, sering di sebut pengwasan ya-tidak, scereening control atau berhentiterus,dilakukan selama suatu kegiatan berlangsung.
Memonitor pekerjaan yang berlangsung guna memastikan bahwa sasaran-sasaran telah
dicapai. Concurrent control terutama terdiri dari tindakan-tindakan para supervisor yang
mengarahkan
pekerjaan
para
bawahan
mereka.
Direction berhubungan dengan tindakan-tindakan para manajer sewaktu mereka berupaya untuk:
Mengajarkan para bawahan mereka bagaimana cara penerapan metode-metode serta prosedurprsedur yang tepat.
Mengawasi pekerjaan mereka agar pekerjaan dilaksanakan sebagaimana mestinya.
3. Pengawasan Feed Back (feed back control)
Pengawasan umpan balik atau feedback control. Pengawasan umpan balik, juga dikenal
sebagai past-action controls , mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah di selesaikan.
Pengawasan Feed Back yaitu mengukur hasil suatu kegiatan yang telah dilaksakan, guna
mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak sesuai dengan standar. Pengawasan
yang dipusatkan pada kinerja organisasional dimasa lalu. Tindakan korektif ditujukan ke arah
proses pembelian sumber daya atau operasi-operasi aktual. Sifat kas dari metode-metode
pengawasan feed back (umpan balik) adalah bahwa dipusatkan perhatian pada hasil-hasil
historikal, sebagai landasan untuk mengoreksi tindakan-tindakan masa mendatang. Adapun
sejumlah metode pengawasan feed back yang banyak dilakukan oleh dunia bisnis yaitu:
Analysis Laporan Keuangan (Financial Statement Analysis)
Analisis Biaya Standar (Standard Cost Analysis)
Pengawasan Kualitas (Quality Control)
Evaluasi Hasil Pekerjaan Pekerja (Employee Performance Evaluation)
Obyek Pengawasan
Dalam melaksanakan fungsi pengawasan manajerial, ada lima jenis obyek yang perlu dijadikan
sasaran pengawasan.
1. Obyek yang menyangkut kuantitas dan kualitas barang atau jasa. Pengawasan ini bersifat fisik.
2. Keuangan
3. Pelaksanaan program dilapangan
4. Obyek yang bersifat strategis
5. Pelaksanaan kerja sama dengan sektor lain yang terkait.
Tujuan Dari Fungsi Pengawasan
Tujuan dari Fungsi Pengawasan
1. Adaptasi lingkungan
2. Meminimalkan kegagalan
3. Meminimumkan biayaMengantisipasi kompleksitas dari organisasi

Tahap-Tahap Proses Pengawasan


Tahap Proses Pengawasan :
1. Tahap Penetapan Standar
Tahap pertama dalam pengawasan adalah penetapan standar pelaksanaan. Standar mengadung
arti sebagai suatu satuan pengukuran yang dapat di gunakan sebagai patokan untuk penilaian
hasil-hasil.
Tiga bentuk standar yang umum adalah:
Standar-standar phisik, mungkin meliputi kuatitas barang atau jasa , jumlah langganan ,atau
kualitas produk.
Standar-standar moneter, yang ditunjukan dalam rupiah dan mencakup biaya tenaga kerja ,
biiaya penjualan laba kotor, pendapatan penjualan dan sejenisnya.
Standar-standar waktu , meliputikecepatan produksi atau batas waktu suatu pekerjaan harus di
selesaikan.
2. Tahap Penentuan Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Digunakan sebagai dasar atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan secara tepat. Penentuan
standar sia-sia bila tidak disertai berbagai cara untuk mengukur pekaksanaan kegiatan nyata.oleh
karena itu, tahap kedua dalam pengawasan adalah menentukan pengukuran pelaksanaan kegiatan
secara tepat. Pengukuran pelaksanaan kegiatan dapat di lakukuan dengan menjawab pertayaan
sebagai berikut:
Berapa kali (how often)
Apa (what form)
Siapa (who)
3. Tahap Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Beberapa proses yang berulang-ulang dan kontinue, yang berupa atas, pengamatan,
laporan, metode, pengujian, dan sampel. Ada berbagai cara untuk melakukan pengukuran
pelaksanaan, yaitu:
Pengamatan (observasi)
Laporan-laporan, baik lisan dan tulisan
Metode-metode otomatis, dan
Inspeksi, pengujian (test), atau dengan pengambilan sampel
4. Tahap Pembandingan Pelaksanaan dengan Standar dan Analisa Penyimpangan
Digunakan untuk mengetahui penyebab terjadinya penyimpangan dan menganalisanya
mengapa bisa terjadi demikian, juga digunakan sebagai alat pengambilan keputusan bagai
manajer.
Tahap kritis dari proses pengawasan nyata dengan pelaksanaan nyata yang di rencanakan
atau standar yang telah di tetap kan. Walaupan tahap ini paling mudah di lakukan, tetapi
kompleksitas dapat terjadi pada saat menginterpretasikan adannya penyimpangan.
5. Tahap Pengambilan Tindakan Koreksi

Bila diketahui dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan, dimana perlu ada perbaikan
dalam pelaksanaan.
Bila hasil analisa menunjukkan perlunya tindakan koreksi, tindakan ini harus di ambil.
Tindakan koreksi dapat diambil dalam berbagai berbentuk. Standar mungkin diubah,
pelaksanaan diperbaikin, atau keduanya dilakukan bersamaan.
Langkah-langkah proses pengawasan yaitu:
1. Menurut Kadarman (2001, hal. 161) langkah-langkah proses pengawasan yaitu:
Menetapkan Standar
Karena perencanaan merupakan tolak ukur untuk merancang pengawasan, maka secara logis hal
irri berarti bahwa langkah pertama dalam proses pengawasan adalah menyusun rencana.
Perencanaan yang dimaksud disini adalah menentukan standar.
Mengukur Kinerja
Langkah kedua dalam pengawasan adalah mengukur atau mengevaluasi kinerja yang dicapai
terhadap standar yang telah ditentukan.
Memperbaiki Penyimpangan
Proses pengawasan tidak lengkap jika tidak ada tindakan perbaikan terhadap penyimpanganpenyimpangan yang terjadi.
2. Menurut G. R. Terry dalam Sukama (1992, hal. 116) proses pengawasan terbagi atas 4 tahapan,
yaitu:
Menentukan standar atau dasar bagi pengawasan.
Mengukur pelaksanaan
Membandingkan pelaksanaan dengan standar dan temukanlah perbedaan jika ada.
Memperbaiki penyimpangan dengan cara-cara tindakan yang tepat.
3. Terry (dalam Winardi, 1986:397) bahwa pengawasan terdiri daripada suatu proses yang dibentuk
oleh tiga macam langkah-langkah yang bersifat universal yakni:
mengukur hasil pekerjaan
membandingkan hasil pekerjaan dengan standard dan memastikan perbedaan (apabila ada
perbedaan),
mengoreksi penyimpangan yang tidak dikehendaki melalui tindakan perbaikan.

Prinsip Pengawasan
1. Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan harus dimengerti oleh staf dan hasilnya mudah
diukur. Misalnya tentang waktu dan tugas-tugas pokok yang harus diselesaikan oleh staf.
2. Fungsi pengawasan harus difahami pimpinan sebagai suatu kegiatan yang sangat penting dalam
upaya mencapai tujuan organisasi.
3. Standar unjuk kerja harus dijelaskan kepada seluruh staf karena kinerja staf akan terus dinilai
oleh pimpinan sebagai pertimbangan untuk memberikan reward kepada mereka yang dianggap
mampu bekerja.
Pentingnya Pengawasan

1. Perubahan lingkungan organisasi


Berbagai perubahan lingkungan organisasi terjadi terus-menerus dan tak dapat dihindari, seperti
munculnya inovasi produk dan pesaing baru, diketemukannya bahan baku baru dsb. Melalui
fungsi pengawasannya manajer mendeteksi perubahan yang berpengaruh pada barang dan jasa
organisasi sehingga mampu menghadapi tantangan atau memanfaatkan kesempatan yang
diciptakan perubahan yang terjadi.
2. Peningkatan kompleksitas organisasi
Semakin besar organisasi, makin memerlukan pengawasan yang lebih formal dan hati-hati.
Berbagai jenis produk harus diawasi untuk menjamin kualitas dan profitabilitas tetap terjaga.
Semuanya memerlukan pelaksanaan fungsi pengawasan dengan lebih efisien dan efektif.
3. Meminimalisasikan tingginya kesalahan-kesalahan
Bila para bawahan tidak membuat kesalahan, manajer dapat secara sederhana melakukan fungsi
pengawasan. Tetapi kebanyakan anggota organisasi sering membuat kesalahan. Sistem
pengawasan memungkinkan manajer mendeteksi kesalahan tersebut sebelum menjadi kritis.
4. Kebutuhan manager untuk mendelegasikan wewenang
Bila manajer mendelegasikan wewenang kepada bawahannya tanggung jawab atasan itu sendiri
tidak berkurang. Satu-satunya cara manajer dapat menen-tukan apakah bawahan telah melakukan
tugasnya adalah dengan mengimplementasikan sistem penga-wasan.
5. Komunikasi
6. Menilai informasi dan mengambil tindakan koreksi
Langkah terakhir adalah pembandingan penunjuk dengan standar, penentuan apakah tindakan
koreksi perlu diambil dan kemudian pengambilan tindakan.
Karakteristik-Karakteristik Pengawasan Yang Efektif
Karakteristik-karakteristik pengawasan yang efektif
1. Akurat
2. Tepat waktu
3. Obyektif
4. Terpusat pada titik-titik pengawasan strategic
5. Realistic secara ekonomis
6. Realistic secara organisasional
7. Terkoordinasi dengan alliran kerja organisasi
8. Fleksibel
9. Bersifat sebagai petunjukan dan operasional
10. Diterima para anggota organisasi
Manfaat Pengawasan
1. Dapat mengetahui sejauh mana program sudah dilakukan oleh staf, apakah sesuai dengan
standar atau rencana kerja, apakah sumber daya telah digunakan sesuai dengan yang telah
ditetapkan. Fungsi wasdal akan meningkatkan efisiensi kegiatan program.
2. Dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staf dalam melaksanakan tugastugasnya.
3. Dapat mengetahui apakah waktu dan sumber daya lainnya mencukupi kebutuhan dan telah
dimanfaatkan secara efisien.
4. Dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan

5. Dapat mengetahui staf yang perlu diberikan penghargaan, dipromosikan atau diberikan pelatihan
lanjutan.
Standar Pengawasan
1. Standar Norma
Standar ini di buat berdasarkan pngalaman staf melaksanakan kegiatan program yang sejenis
atau yang dilaksanakan dalam situasi yang sama di masa lalu.
2. Standar Kriteria
Standar ini di terapkan untu kegiatan pelayanan oleh petugas yang sudahmendapat pelatihan.
Standar ini terkait dengan tingkat profesionalisme staf.
Kedua standar ini juga di gunakan untuk menyusun standar operating prosedur, pedoman
kerja petugas, atau penilaian kemampuan petugas kesehatan.
C. Pengendalian (Controlling)
Pengertian Pengendalian
Pengendalian adalah suatu proses pemantauan prestasi dan pengambilan tindakan untuk
menjamin hasil yang diharapkan. Sedangkan Proses Pengendalian manajemen adalah proses
dimana manajer pada seluruh tingkatan memastikan bahwa orang-orang yang mereka awasi
mengimplementasikan
strategi
yang
di
maksud.
Proses pengendalian bertujuan megukur kemajuan kearah tujuan dan memungkinkan manajer
mendeteksi penyimpangan dari perencanaan tepat pada waktunya untuk mengambil tindakan
perbaikan.
Langkah-Langkah Dalam Proses Pengendalian
Definisi Mockler membagi pengendalian dalam empat langkah:
1. Penetapan standar dan metode untuk pengukuran prestasi
Langkah ini mencakup standart dan ukuran untuk segala hal
2. Pengukuran Prestasi
Langkah ini merupakan proses yang berkesinambungan, berulang-ulang dengan frekuensi yang
actual tergantung pada jenis aktifitas yang sedang diukur.
3. Membandingkan hasil-hasil yang telah diukur dengan target atau standard yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Jika prestasi sesuai dengan standar, manajer dapat mengasumsikan bahwa Segala sesuatu telah
berjalan secara terkendali, ia tidak perlu ikut campur secara aktif dalam operasi organisasi
4. Mengambil tindakan perbaikan
Ini dilakukan jika prestasi turun di bawah standard dan analisis menunjukan perlunya diambil
tindakan. Tindakan perbaikan ini dapat berupa mengadakan perubahan terhadap satu atau lebih
banyak aktivitas dalam operasi organisasi. Para manajer hanya memonitor prestasi kerja dan
bukan
melakukan
pengendalian.
Proses pengendalian harus dilaksanakan oleh manajer diseluruh organisasi. Karena pentingnya
pengendalian keuangan, ada sebagian orang mengangap bahwa tangungjawab pengendalain ini
untuk sebagian besar dapat diserahkan kepada akuntan atau kontroler. Akan tetapi semua
manajer perlu mengadakan pengendalian, agar pelaksanaan operasinya dapat berhasil.
Faktor-Faktor Yang Menciptakan Kebutuhan Akan Pengendalian

1.

2.

3.

4.

Faktor-faktor itu meliputi :


Perubahan.
Merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam lingkungan organisasi manapun. Melalui
fungsi pengendalian, manajer mendeteksi perubahan yang mempengaruhi produk atau jasa
perusahaan. Ia kemudian dapat mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman atau
memanfaatkan peluang yang muncul akibat perubahan tersebut.
Kerumitan.
Yang menambah sifat komplek organisasi zaman sekarang ialah desentralisasi. Desentralisasi
dapat mempermudah usaha pengendalian organanisasi, karena operasi organisasi tidak perlu lagi
dikontrol oleh kantor pusatnya.
Kesalahan.
Tidak dapat dipungkiri sebagai manusia anggota organisasi juga dapat membuat kesalahan,
dengan system pengendalian memungkinkan manajer untuk mendeteksi kesalahan-kesalahan
sebelum menjadi gawat.
Delegasi.
Hal ini merupakan salah satu cara manajer untuk menentukan apakah bawahanya melaksanakan
tugas yang didelegasikan kepadanya dengan menerapkan system pengendalian.

Elemen-Elemen Sistem Pengendalian


Eleman-elemen System Pengendalian :
1. Pelacak ( Detector) atau sensor, sebuah perangkat yang mengukur apa yang sebenarnya terjadi
dalam proses yang sedang dikendalikan.
2. Penaksir ( assessor), suatu perangkat yang menentukan signifikasi dari peristiwa actual dengan
membandingkanya dengan bebrapa standar atau ekspetasi dari yang sebenarnya terjadi.
3. Effektor, suatu perangkat(yamg sering disebut feedback) yang mengubah perilaku jika assessor
mengindikasikan kebutuhan yang dipenuhi.
4. Jaringan komunikasi, perangkat yang meneruskan informasi antara detector dan assessor dan
antara
assessor
dan
effektor.
Jenis-Jenis Metoda Pengendalian
Metode-metode pengendalian dapat dikelompokan menjadi :
1. Pengendalian pra-tindakan.
Pengendalian pratindakan memastikan bahwa sebelum suatu tindakan diambil maka sumber daya
manusia, bahan dan keuangan yang diperlukan telah dianggarkan.
2. Pengendalian Kemudi, atau Pengendalian Umpan Kedepan.
Pengendalian kemudi dirancang untuk mendeteksi penyimpangan-penyimpangan dari standar
atau tujuan tertentu dan memungkinkan tindakan perbaikan diambil sebelum suatu urutan
tertentu dirampungkan.
3. Pengendalian Penyaringan
Pengendalian penyaringan merupakan suatu proses dimana aspek-aspek spesifik dari suatu
prosedur harus disetujui atau syarat tertentu harus dipenuhi sebelum kegiatan dapat dilanjutkan.
Pengendalian penyaringan menjadi sangat berguna sebagai alat pengecekan ulang.
4. Pengendalian Purna Tindakan
Pengendalian purna tindakan mengukur hasil-hasil dari suatu tindakan yang telah dirampungkan.

Karakteristik Sistem Pengendalian Yang Efektif


System-sistem pengendalian yang dapat dihandalkan dan yang efektif mempunyai
karakteristik tertentu yang sama. Arti penting relative dari karakteristik tersebut akan berbedabeda menurut keadaan masing-masing, tetapi sebagian besar system pengendalian diperkuat oleh
kehadiranya.
1. Akurat, informasi tentang hasil prestasi harus akurat.
2. Tepat waktu. Informasi harus dikumpulkan, diarahkan dan segera dievaluasi jika hendak diambil
tindakan tepat pada waktunya untuk menghasilkan perbaikan Obyektif dan Konprehensif,
3. informasi dalam system pengendalian harus dapat dipahami dan dianggap onyektif oleh individu
yang mengunakanya.
4. Dipusatkan pada tempat-tempat pengendalian strategic. Sistem pengendalian sebaiknya
dipusatkan pada bidang-bidang yang paling banyak akan terjadi penyimpangan dari standar atau
yang akan menimbulkan kerugian paling besar. Dari segi ekonomi realistis, biaya untuk
mengimpletasi system pengendalianya sebaiknya lebih sedikit atau maksimal sama dengan
keuntungan yang diperoleh dari system itu.
5. Realistis dari segi organisasi
6. Dikoordinasikan dengan arus pekerjaan organisasi.
7. Luwes. Sistem pengendalian harus mengandung sifat luwes, sehingga organisasi tersebut dapat
segera bertindak untuk mengatasi perubahan-perubahan yang merugikan atau menfaatkan
peluang-peluang baru.
8. Persepektif dan Operasional. Sitem pengendaliaan yang efektif dapat mengidentifikasi, setelah
terjadi penyimpangan dari standar, tindakan perbaikan yang perlu diambil.
9. Diterima oleh para anggota organisasi. Pengendalian harus berkaitan dengan tujuan yang berarti
dan dapat diterima. Agar pengendalian bisa berlangsung seperti yang diinginkan, Newman
menganjurkan bahwah,standar itu juga harus diterima oleh para anggota organisasi sebagai
bagian integral dan adil dari pekerjaan mereka.
Masalah Dalam Penetapan Sistem Pengendalian Yang Efektif
Sejumlah masalah yang menggangu akan merintangi efektifitas system pengendalian yang
sering timbul:
1. Factor-faktor yang dengan mudah diukur terlalu banyak dititikberatkan, sementara hal-hal yang
sulit diukur tidak diberi perhatian yang cukup.
2. Factor-faktor jangka pendek mungkin terlalu berlebihan ditekankan dengan mengorbankan
D. Penilaian (Evaluasi)
Definisi
Douglass (1992) mengatakan bahwa Penilaian Kinerja adalah metode untuk mendapatkan dan
memproses informasi yang dibutuhkan. Sedangkan Marquis dan Houston (2000) menjelaskan
pengertian penilaian kinerja adalah salah satu bagian dari proses pengawasan dan pengendalian,
dimana kinerja staf keperawatan dinilai dan dibandingkan dengan standar yang ada pada organisasi.
Dengan demikian penilaian kinerja juga dapat dikatakan sebagai suatu proses ketika suatu unit
keperawatan mengevaluasi hasil kerja atau prestasi para pemegang jabatan, baik sebagai kepala
bidang keperawatan, kepala ruangan maupun sebagai perawat pelaksana.
Manfaat Penilaian Kinerja

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Hasil penilaian kinerja dari masing-masing staf memiliki nilai manfaat dan kegunaan, diantaranya
yaitu :
Bidan akan mengetahui dimana letak kekurangan dirinya, sehingga catatan kekurangan dirinya akan
menjadi dasar untuk perbaikan kinerjanya dikemudian hari.
Sebagai dasar dalam penyesuaian kompensasi, dimana kompensasi dimaksudkan sebagai reward atas
kinerja yang ditampilkan.
Kinerja yang ditampilkan dapat menjadi pertimbangan untuk dipromosikan atau adanya penurunan
jabatan.
Untuk menentukan pelatihan dan pengembangan yang dibutuhkan oleh staf
Untuk menentukan perencanaan dan pengembangan karir dari masing-masing staf
Defisiensi penempatan staf
Ketidakakuratan informasi dapat diklarifikasi dengan hasil dari penilaian kinerja
Dapat mendiagnosis kesalahan dari rancangan pekerjaan
Memberikan kesempatan kerja yang adil bagi seluruh staf keperawatan

Metode Evaluasi
1. Anecdotal records
Penilaian yang didasarkan pada catatan kinerja dari staf keperawatan pada periode tertentu
2. Check list
Penilaian yang menggunakan instrument khusus dapat melalui observasi maupun kuesioner, dimana
dalam instrument tersebut sudah terdapat pernyataan-pernyataan yang tinggal di check list sesuai
kinerja yang ditampilkan staf
3. Rating scales
Penilaian yang menggunakan skala yang member gambaran mulai dari kinerja tinggi sampai rendah
4. Metode manajemen berdasarkan sasaran (Management By Objective-MBO)
merupakan suatu progam penilaian dan penetapan tujuan diseluruh organisasi yang komfrehensif
dengan menetapkan tujuan organisasi, menetapkan tujuan departemental, membahas tujuan
departemen, menetapkan sasaran yang diharapkan, mengukur hasilnya dengan tolok ukur yang telah
disepakati, sehingga dapat digunakan sebagai umpan balik secara berkala.
5. Peer review
Penilaian dilakukan oleh kelompok khusus yang memiliki profesi dan keilmuan yang sama.

6. Critical incident
Penilai membuat buku harian yang berisi contoh-contoh yang diinginkan atau tidak diinginkan atau
insiden dari perilaku staf perawat yang berhubungan dengan kerja masing-masing jawaban.

Setiap hasil kegiatan harus dievaluasi sebagai bentuk pertanggung jawaban


institusi terhadap publik dan pemerintah daerah.
Kegiatan penilaian dilakukan pada akhir tahun anggaran. Kegiatan yang dilakukan
mencakup hal-hal berikut :
1. Melakukan penilaian terhadap penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai, dibandingkan
dengan rencana tahunan dan standar pelayanan.
2. Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan pencapaian serta masalah
dan hambatan yang ditemukan untuk rencana tahun berikutnya.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam pelayanan kesehatan salah satunya pelayanan kebidanan, tentunya mengandung
unsur-unsur manajemen di dalamnya. Salah satu unsurnya dalah pengawasan, pengendalian dan
penilaian. Ketinga unsur ini sangat berperan penting selain unsur perencanaan di dalam
pencapaian tujuan pelayanan kebidanan yang optimal.
Pengwasan merupakan suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan
tujuan
dengan
tujuan-tujuan
perencanaan,merancang
system
informasi
umpan
balik,membandingkan
kegiatan
nyata
dengan
standar
yang
telah
ditetapkan
sebelumnya,menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan
koreksi yang diperlukan.
Pengawasan, pengendalian dan penilaian sangat penting disebabkan karena perubahan
lingkungan organisasi, Peningkatan kompleksitas organisasi, meminimalisasikan tingginya
kesalahan-kesalahan, kebutuhan manager untuk mendelegasikan wewenang, sebagai media
komunikasi dan menilai informasi serta untuk mengambil tindakan dan koreksi.
B. Saran
Pengawasan, pengendalian dan penilaian harus selalu di terapkan dan dilaksanakan secara
rutin oleh anggota-anggota/ tenaga kesehatan dalam memberi pelayanan kesehatan. Dan di
lakukan oleh seseorang yang memeng layak untuk mengemban tanggung jawab tersebut seperti
seorang manejer atau ketua tim.