Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas petunjuk,
berkah, dan limpahan rahmat-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan Makalah
untuk memenuhi tugas Sumberdaya Perikanan tentang Tanaman Air yang berjudul
yang berjudul Eceng Gondok .
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan Prof. Dr. Ir. Endang Yuli
Herawati, MS sebagai dosen mata kuliah Sumberdaya Perikanan. Oleh karena itu,
kami sampaikan terima kasih. Kami menyadari makalah ini tidak lepas dari
berbagai kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang
membangun demi kesempurnaan dan perbaikan makalah ini. Akhirnya kami
berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Malang,

Desember 2014
Penyusun

DAFTAR ISI
Kata pengantar
............................................................................................................................
1
Daftar isi
............................................................................................................................
2
Pendahuluan
............................................................................................................................
3
1.1 Latar belakang
......................................................................................................................
3
1.2 Rumusan masalah
......................................................................................................................
3
1.3 Tujuan
......................................................................................................................
3
Isi
............................................................................................................................
4
2.1Definisi Eceng Gondok
............................................................................................................................
4
2.1.1Biologi
............................................................................................................................
4
2.1.2Habitat
............................................................................................................................
7
2.2 Distribusi
............................................................................................................................
8
2.3 Pemanfaatan
............................................................................................................................
8
Penutup
............................................................................................................................
12
3.1Kesimpulan
.............................................................................................................................
12

3.2Saran
.............................................................................................................................
12
Daftar Pustaka
.............................................................................................................................
13

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu tanaman air yang sering digunakan dalam pengolahan air limbah
greywater adalah eceng gondok. Hal ini dikarenakan eceng gondok mempunyai
laju pertumbuhan yang sangat cepat, terlebih lagi pada kondisi lingkungan yang
tinggi nutrien seperti limbah domestik/ greywater. Eceng gondok juga
mempunyai sistem perakaran yang luas, hal ini sangat bagus untuk media
pendukung pertumbuhan mikroorganisme (Zimmels, Kirzhner, dan Malkovskaja,
2006). Namun umumnya, eceng gondok sisa pengolahan limbah tersebut hanya
dibuang sebagai sampah tanpa adanya pengolahan lanjut. Padahal eceng
gondok

merupakan

salah

satu

sumber

biomassa

yang

masih

dapat

dimanfaatkan. Hal ini menunjukkan bahwa potensi biomassa eceng gondok yang
sangat berlimpah yang belum dimanfaatkan (Mangisah et al., 2003).
Eceng gondok (Eichhornia crassipes) merupakan tumbuhan air dan lebih
sering dianggap sebagai tumbuhan pengganggu perairan, memiliki tingkat
pertumbuhan yang sangat cepat. Satu batang eceng gondok dalam waktu 52

hari mampu berkembang seluas 1 m2, dan dalam waktu 1 tahun mampu
menutup area seluas 7 m2. Heyne (1987) dalam Sahwalita dan Pasaribu
(2006), menyatakan bahwa dalam waktu 6 bulan pertumbuhan eceng gondok
pada areal 1 Ha dapat mencapai bobot basah sebesar 125 ton (Widia dan
Mardika, 2013).
Cepatnya pertumbuhan eceng gondok dan tingginya daya tahan hidup
menjadikan tumbuhan ini sangat sulit dikendalikan. Eceng gondok berpotensi
menghilangkan air permukaan sampai empat kali lipat jika dibandingkan
dengan permukaan terbuka pada proses transpirasi tumbuhan. Pertumbuhan
populasi eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan pendangkalan
ekosistem perairan dan tertutupnya danau atau rawa (Mawarwati,2001).
1.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana ciri ciri biologi dari Eceng Gondok ?
2. Bagaimana ekologi dari Eceng Gondok ?
3. Bagaimana distribusi dari Eceng Gondok ?
4. Apa saja manfaat dari tumbuhan Eceng Gondok ?
1.3 Tujuan
Dengan merumuskan masalah diatas dapat diketahui tujuan dari makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui ciri ciri biologi dari Eceng Gondok ?
2. Untuk mengetahui ekologi dari Eceng Gondok ?
3. Untuk mengetahui distribusi dari Eceng Gondok ?
4. Untuk mengetahui manfaat dari tumbuhan Eceng Gondok ?
BAB II
ISI
2.1 Definisi Eceng Gondok
Eceng gondok (Eichornia crassipes) merupakan tumbuhan air terbesar
yang hidup mengapung bebas (floating plants). Tumbuhan air, eceng gondok
ini dianggap sebagai pengganggu atau gulma air karena menimbulkan
kerugian. Pada suatu bendungan (waduk) gulma air akan menimbulkan
dampak negatif berupa gangguan terhadap pemanfaatan perairan secara
optimal yaitu mempercepat pendangkalan, menyumbat saluran irigasi,
memperbesar kehilangan air melalui proses evapotranspirasi, mempersulit
transportasi perairan, menurunkan hasil perikanan. Disisi lain, potensi eceng
gondok sebagai sumber bahan organik alternatif dapat dilihat dari beberapa
studi terdahulu terutama untuk mengetahui produksi biomassanya (Sittadewi,
2007)
Tumbuhan Eceng gondok adalah gulma air yang berasal dari Amerika
Selatan. Tumbuhan ini mempunyai daya regenerasi yang cepat karena
potongan-potongan

vegetatifnya

yang

terbawa

arus

air

akan

terus

berkembang menjadi eceng gondok dewasa. Eceng gondok sangat peka


terhadap keadaan yang unsur haranya di dalam air kurang mencukupi tetapi
mempunyai respon terhadap konsentrasi unsur hara yang tinggi (Zaman dan
Sutrisno, 2006).
2.1.1 Biologi
A. Identifikasi

Menurut

Tosepu (2012), struktur anatomi eceng gondok terdiri dari

struktur batang, struktur daun dan struktur akar. Batang tanaman eceng
gondok (petiola) yang berbentuk bulat menggembung, di dalamnya penuh
dengan ruang-ruang udara yang berfungsi untuk mengapung di atas
permukaan air. Lapisan terluar dari petiola adalah epidermis. Lapisan
epidermis pada eceng gondok tidak berfungsi sebagai alat perlindungan
jaringan, tetapi berfungsi untuk mengabsorbsi gas-gas dan zat-zat makanan
secara langsung dari air. Jaringan di sebelah dalam banyak terdapat jaringan
pengangkut yang terdiri dari xylem dan floem, dengan letak yang tersebar
merata di dalam parenkim.

(Google image, 2014)


Eceng gondok mempuyai daun
yang berbentuk bulat telur, ujungnya tumpul dan hampir bulat. Tulang daun
membengkok dengan ukuran 7-25 cm dan di permukaan sebelah atas daun
banyak dijumpai stomata. Eceng gondok mempunyai akar serabut. Akar
eceng gondok dapat mengumpulkan lumpur. Lumpur akan melekat di antara
bulu-bulu akar. Di belakang tudung akar (kaliptra) akan terbentuk sel-sel baru
untuk jaringan akar baru (meristem) (Tanti et al., 2011).

(Google

image,

2014)
Daun eceng gondok berbentuk bulat telur, berwarna hijau segar, dan
mengkilap. Di perairan yang mengandung nitrogen tinggi, eceng gondok
memiliki daun yang relatif lebar dan berwarna hijau tua. Sebaliknya di
perairan yang mengandung nitrogen rendah, eceng gondok memiliki daun
yang relatif kecil dan berwarna kekuning-kuningan, karena pertumbuhan
eceng gondok tergantung dari nutrisi yang tersedia dan cahaya matahari
untuk fotosintesis (Ripley, 2006). Tangkai daun memanjang, berbentuk

silindris, dengan diameter 1-2 cm. Tangkai ini mengandung air yang dibalut
serat yang kuat dan lentur. Akar tanaman ini mampu menetralisir air yang
tercemar limbah sehingga seringkali dimanfaatkan untuk penanganan limbah
industri (Tanti et al., 2011).
Bunga eceng gondok berwarna ungu muda (lila) dan banyak
dimanfaatkan sebagai bunga potong (Tanti et al., 2011).

(Google image, 2014).


B. Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Sub kingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Alismatidae

Ordo

: Alismatales

Famili

: Butomaceae

Genus

: Eichornia

Spesies

: Eichornia crassipes

C. Asal Muasal
Eceng gondok yang berkembang di Indonesia berasal dari Amerika
Selatan (Brazil). Tanaman ini didatangkan tahun 1894 sebagai koleksi di
Kebun Raya Bogor. Eceng gondok di Indonesia pada mulanya diperkenalkan
oleh Kebun Raya Bogor pada tahun 1894 (Tanti et al., 2011).
Menurut Rosiana et al (2007), Eceng gondok pertama kali ditemukan
secara tidak sengaja oleh seorang ilmuan bernama Carl Friedrich Philipp von
Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika
sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil. Selain dikenal dengan
nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok
mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama
Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan
nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe.
D. Siklus Hidup
Menurut Haryanti et al (2006), Eceng gondok dikenal sebagai tanaman
pengganggu ekosistem perairan dikarena siklus hidupnya yang cepat

sehingga menyebabkan BOD yang tinggi. Eceng gondok mampu bereproduksi


dengan cara vegetative maupun generative dengan fase pertama akan
tumbuh batang tunas pada sisi tumbuhan induk, selanjutnya berkembang
menjadi eceng gondok muda, setelah dewasa bagian batang yang
menyambungkan antara tunas dengan tanaman induk akan membusuk dan
patah , dan akhirnya menjadi individu eceng gondok yang baru.
E. Reproduksi
Menurut Rosiana et al (2007),

Reproduksi generative merupakan

reproduksi yang melibatkan proses peleburan gamet jantan dan gamet betina.
Penyerbukan merupakan proses awal terjadinya pembuahan. Eceng gondok
(Eichornia

crassipes)

berkembang

biak

secara

Hidrogami.

Hidrogami

merupakan proses penyerbukan dengan bantuan air. Proses ini terjadi pada
tumbuhan air Eceng gondok (Eichornia crassipes).
Eceng gondok berkembangbiak dengan sangat cepat, baik secara
vegetatif maupun generatif. Perkembangbiakan dengan cara vegetatif dapat
melipat ganda dua kali dalam waktu 7 10 hari (Heyne, 1987 dalam Sahwalita
dan

Pasaribu,

2006).

Perkembangbiakannya

yang

demikian

cepat

menyebabkan tanaman eceng gondok telah berubah menjadi tanaman gulma


di beberapa wilayah perairan di Indonesia.
2.1.2 Habitat
Menurut Mawarwati (2001), pada umumnya eceng gondok tumbuh
mengapung di atas permukaan air dan lahanlahan basah atau di antara
tanamantanaman pertanian yang dibudidayakan di lahan basah. Tanaman ini
banyak dijumpai di daerah rendah di pinggiran sawah, danau, waduk, rawa,
dan di kawasan industri di pinggir sungai dari hulu sampai hilir.
Menurut Haryanti et al (2006), Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam
dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat
penampungan air dan sungai. Eceng gondok hidup mengapung bebas bila
airnya cukup dalam tetapi berakar di dasar kolam atau rawa jika airnya
dangkal. Tingginya sekitar 0,4 - 0,8 meter.
A. Habitat Fisika
Menurut Tosepu (2012), syarat pertumbuhan yang optimum bagi eceng
gondok adalah air yang dangkal, ruang tumbuh luas, air tenang, cukup cahaya
matahari, suhu antara 20-30C. Eceng gondok memanfaatkan kedalaman air
secara terbatas yakni antara 2-3 meter. Namun di daerah tropis ada
kemungkinan sampai sedalam 5 meter. Hal ini disebabkan penetrasi cahaya
matahari hanya akan terjadi pada kedalaman 2-3 meter atau paling banyak 5
meter di bawah permukaan air. Kedalaman air tidak mempengaruhi produksi
biji eceng gondok tetapi mempengaruhi perkecambahan biji. Prosentase
perkecambahan biji eceng gondok yang dibenamkan beberapa sentimeter di
dalam lumpur menjadi menurun jika dibandingkan dengan yang diletakkan di
permukaan lumpur.
Menurut Rosiana et al (2007), Ketenangan air merupakan faktor yang
sangat penting untuk memungkinkan pertumbuhan massal dari eceng gondok.
7

Keadaan air yang bergolak karena mengalir atau bergelombang karena angin
dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok. Eceng gondok sangat
memerlukan cahaya matahari yang cukup dan suhu optimum 25-30 derajat
celcius. Hal ini dapat dipenuhi dengan baik oleh iklim tropis, kecuali di rawarawa yang terlindung oleh hutan. Perkecambahan biji eceng gondok sangat
dipengaruhi oleh cahaya. Dalam keadaan gelap, biji eceng gondok tidak dapat
berkecambah.
B. Habitat Kimia
Menurut Wright dan Purcell (1995) dalam Haryanti et al (2006) , Eceng
gondok merupakan tumbuhan yang sangat toleran terhadap kadar unsur hara
yang rendah dalam air, tetapi respon terhadap kadar unsur hara yang tinggi
juga sangat besar. Pertumbuhan eceng gondok dipengaruhi oleh pH. Pada pH
sekitar 7,0-7,5, eceng gondok mempunyai pertumbuhan yang lebih baik. Pada
pH di bawah 4,2 dapat meracuni pertumbuhan eceng gondok, sehingga eceng
gondok mati.
Menurut Rosiana et al (2007), tumbuhan ini dapat mentolerir perubahan
yang ekstrim dari perubahan ketersediaan organik, Ph, dan racun-racun dalam
air. Pertumbuhan eceng gondok yang cepat terutama disebabkan oleh air yang
mengandung organik yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat
dan potasium (Laporan FAO). Kandungan garam dapat menghambat
pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi pada danau-danau di daerah
pantai Afrika Barat, dimana eceng gondok akan bertambah sepanjang musim
hujan dan berkurang saat kandungan garam naik pada musim kemarau

2.2 Distribusi
Menurut Lestari et al (2011), Eceng gondok adalah tumbuhan yang
berasal dari Brasil. Brasil termasuk negara beriklim tropis. Eceng gondok
tersebar luas di rawa, sunga, danau yang ada di Indonesia. Karena Indonesia
memiliki Iklim tropis yang cocok untuk pertumbuhan Eceng gondok. Eceng
gondok tumbuh subur pada daerah tropis yang ada diseluruh dunia.
2.3 Pemanfaatan
A. Penyerapan Logam Berat Cd
Penurunan kadar Cd disebabkan karena eceng gondok mampu
menyerap dan mengakumulasi logam berat dalam jaringan akar dan daun.
Proses absorpsi Cd pada eceng gondok dapat dikategorikan sebagai
fitoremidiasi. Menurut Khiji and Bareen (2008) dalam Lestari et al (2011),
salah satu proses penting dalam fitoremidiasi adalah rhizofiltrasi. Rhizofiltrasi
merupakan pengendapan zat kontaminan seperti logam berat oleh akar
dengan bantuan zat pengkhelat. Penyerapan logam berat oleh tanaman
dilakukan jika konsentrasi logam dalam media cukup tinggi. Semakin tinggi
konsentrasi polutan maka proses rhizofiltrasi semakin meningkat.
Tanaman mempunyai mekanisme tertentu untuk mencegah keracunan
logam terhadap sel salah satunya dengan menimbun logam dalam organ

tertentu seperti akar. Salisbury dan Ross (1995) dalam Lestari et al (2011),
menyatakan bahwa spesies tanaman yang tumbuh dilingkungan tercemar
logam akan mengalami stres metal dengan membentuk zat fitokhelatin
khususnya dibagian akar sebagai mekanisme toleransi yang penting.
Fitokhelatin merupakan peptida kecil yang kaya asam amino sistein yang
mengandung belerang. Atom belerang dalam sistein ini yang akan mengikat
logam berat dari media tumbuh.
B. Penghasil Biogas
Salah satu tanaman air yang sering digunakan dalam pengolahan air
limbah greywater adalah eceng gondok. Hal ini dikarenakan eceng gondok
mempunyai laju pertumbuhan yang sangat cepat, terlebih lagi pada kondisi
lingkungan yang tinggi nutrien seperti limbah domestik/ greywater. Eceng
gondok juga mempunyai sistem perakaran yang luas, hal ini sangat bagus
untuk media pendukung pertumbuhan mikroorganisme (Zimmels, Kirzhner,
dan Malkovskaja, 2006 dalam Winarni et al., 2011).
Penambahan 1,25 g kotoran sapi pada substrat eceng gondok sebagai
biostarter dapat meningkatkan produksi biogas hingga 5 kali lipat yaitu 45 L
biogas/kg Total Solids (TS) dibandingkan kontrol.. Sedangkan biostarter.
dengan usus bekicot tidak menghasilkan biogas sama sekali. Penambahan
jumlah biostarter menjadi 50 g kotoran sapi hanya meningkatkan 6,3 kali lipat
yaitu 57 L biogas/kg TS. Adanya perlakuan hidrolisis asam terhadap substrat
eceng gondok dan tanpa biostarter hanya menghasilkan 0,1 kali yaitu 9 L
biogas/kg TS. Sedanngkan dengan adanya perlakuan hidrolisis asam dan
penambahan biostarter 1,25 g kotoran sapi, menghasilkan biogas 5,3 kali lipat
yaitu 48 L biogas/kg TS. Oleh karena itu, perlakuan hidrolisis asam terhadap
substrat eceng gondok dinilai kurang menguntungkan (Winarni et al., 2011).
C. Eceng Gondok Terfermentasi Aspergilus niger sebagai Alternatif Pakan
Peningkatan kadar protein kasar eceng gondok hasil fermentasi dengan
Aspergilus niger kemungkinana juga disebabkan karena proses fermentasi
tersebut menggunakan mikrobia Aspergilus niger dimana mikrobia tersebut
berkembang biak dan dapat digunakan sebagai sumber sel protein tunggal.
Menurut Fardiaz (1988) dalam Mangisah et al (2003), selama proses
fermentasi mikrobia akan mengeluarkan enzim enzim yang tersusun dari
protein dan mikrobianya sendiri merupakan sumber protein sel tunggal.
Fermentasi

eceng

gondok

dengan

Aspergilus

niger

mampu

meningkatkan nilai nutritive eceng gondok, yaitu meningkatkan kadar protein


kasar dan menurunkan kadar serat kasar. Lama pemeraman terbaik adalah 3
minggu dengan kadar protein kasar 13,55% dan serat kasar 19,67%
(Mangisah et al., 2003).
D. Pemanfaatan Eceng Gondok untuk Menurunkan Kandungan COD
(Chemical Oxygen Demond) , pH, Bau dan Warna pada Limbah Cair Tahu

Mekanisme Penyerapan Limbah Organik. Metode penurunan atau


penghilangan substansi toksis dalam air limbah dengan media tanaman lebih
dikenal dengan istilah fitoremediasi. Fitoremediasi adalah pemanfaatan
tanaman untuk mengekstraksi, menghilangkan, dan mendetoksifikasi polutan
dari lingkungan. Eceng gondok dapat menyerap zat organik melalui ujung
akar. Zatzat organik yang terserap akan masuk ke dalam batang melalui
pembuluh pengangkut kemudian menyebar ke seluruh bagian tanaman eceng
gondok. Pada proses ini zat organik akan mengalami reaksi biologi dan
terakumulasi di dalam batang tanaman, kemudian diteruskan ke daun
(Sriyana, 2006 dalam Ratnani et al., 2010).
Konsentrasi COD dalam limbah cair tahu yang diolah dengan cara
ditanami eceng gondok mengalami penurunan sampai di bawah baku mutu
limbah cair sampai 2 kali ulangan, yaitu kurang dari 275 ppm dan pada
pengamatan ulangan konsentrasi dapat berkurang hingga 160 ppm.
Konsentrasi COD turun artinya kualitas air menjadi lebih baik. Pada Tabel 3.
Dapat dilihat data hasil pengamatan COD pada limbah cair tahu selama 14
hari. Konsentrasi COD dapat turun kemungkinan terjadi karena adanya proses
absorbsi oleh eceng gondok (Ratnani et al., 2010).

E. Kemampuan Penyerapan Eceng Gondok terhadap Amoniak dalam


Limbah Rumah Sakit
Tumbuhan Eceng gondok adalah gulma air yang berasal dari Amerika
Selatan. Tumbuhan ini mempunyai daya regenerasi yang cepat karena
potongan-potongan

vegetatifnya

yang

terbawa

arus

air

akan

terus

berkembang menjadi eceng gondok dewasa. Eceng gondok sangat peka


terhadap keadaan yang unsur haranya di dalam air kurang mencukupi tetapi
mempunyai respon terhadap konsentrasi unsur hara yang tinggi (Zaman dan
Sutrisno, 2006).
Akar eceng gondok berupa serabut yang penuh dengan bulu akar,
tudung akarnya berwarna merah.Bulu-bulu akar berfungsi sebagai pegangan
atau jangkar, danmsebagian besar berguna untuk mengabsorbsi zat-zat
makanan dalam air (Nurhayati, 1989 dalam Zaman dan Sutrisno, 2006).
Pemanfaatan tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipe) pada pengolahan
air limbah telah banyak dilakukan. Eceng gondok mempunyai kemampuan
berkembang biak dengan dan eceng gondok mempunyai kemampuan
menyerap unsur hara, senyawa organik dan unsur kimia lain dari air limbah
dalam jumlah yang besar.
F. Penerapan Material Eceng Gondok pada Furniture Rumah Tinggal
Tanaman eceng gondok yang dulunya sering dianggap sebagai tanaman
pengganggu karena tingkat pertumbuhannya yang tergolong cepat dan malah
meresahkan karena sulit untuk dikendalikan, kini melalui tangan-tangan kreatif
para produsen, jika di olah dengan proses tertentu dapat dijadikan sebagai
10

salah satu material bahan baku alternatif baru yang tidak kalah menarik untuk
diterapkan pada proses pembuatan sebuah furniture tersebut khususnya
furniture-furniture yang ditempatkan di rumah tinggal (Widia dan Mardika,
2013).
Tekstur alami seratnya yang khas, unik dan berkarakter membuat
material ini mempunyai nilai estetis dan pastinya nilai ekonomis yang juga
tinggi nantinya sehingga lama kelamaan dapat mulai disejajarkan dengan
material-material

lain

yang

sudah

ada

sebelumnya.

Tetapi

sayang

keberadaanya sebagai material alternatif baru yang dapat diterapkan pada


sebuah furniture masih belum terlalu dikenal oleh masyarakat luas saat ini.
Oleh karena itu untuk memberikan pembekalan pengetahuan tentang
penerapan material eceng gondok pada furniture rumah tinggal serta untuk
lebih mengenalkan produk-produk furniture berbahan baku eceng gondok lagi
pada masyarakat luas maka topik penerapan material eceng gondok pada
furniture rumah tinggal ini akan diambil sebagai bahan kajian pada tulisan ini
selanjutnya.

Langkah

penelitian

yang

pertama

dilakukan

adalah

mengumpulkan data-data yang terkait melalui studi kepustakaan dari bukubuku literature, melakukan proses observasi lapangan serta wawancara pada
pihak-pihak terkait. Setelah semua data terkumpul kemudian dianalisa untuk
disimpulkan nantinya. Analisa metodologi penelitian yang dipakai dalam
proses penelitian ini adalah deskriptif analitis karena penelitian ini bertujuan
mendeskripsikan analisa penerapan material eceng gondok pada furniture
rumah tinggal (Widia dan Mardika, 2013).
Penerapan material eceng gondok pada furniture rumah tinggal kini bisa
dijadikan sebagai salah satu pilihan alternatif selain penerapan material
lainnya seperti kayu, rotan, bambu, besi, stainless steel, alumunium dan fiber
plastik. Sebagai material alternatif baru untuk pembuatan furniture, eceng
gondok juga memiliki kualitas yang tidak kalah dengan material-material
sebelumnya yang telah ada di pasaran tersebut. Sedangkan untuk proses
pembuatan furniturenya, tidak terlalu rumit, tidak berbatas bentuk dan dapat
dengan mudah pula dipadu-padankan atau dikombinasikan dengan materialmaterial lain (Widia dan Mardika, 2013).

BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Eceng gondok (Eichchornia crassipes) merupakan tumbuhan air yang
banyak terdapat dilingkungan air tawar seperti, sawah, kolam, danau dan
sungai. Sebagai gulma Eceng gondok mudah menyesuaikan diri dengan
11

lingkungannya., cepat berkembangbiak dan mampu bersaing dengan kuat.,


sehingga dalam waktu yang singkat akan melimpah dan memenuhi
lingkungan perairan.
Salah satu tanaman air yang sering digunakan dalam pengolahan air
limbah greywater adalah eceng gondok. Hal ini dikarenakan eceng gondok
mempunyai laju pertumbuhan yang sangat cepat, terlebih lagi pada kondisi
lingkungan yang tinggi nutrien seperti limbah domestik/ greywater. Eceng
gondok juga mempunyai sistem perakaran yang luas, hal ini sangat bagus
untuk media pendukung pertumbuhan mikroorganisme.
Manfaat dari eceng gondok lainnya adalah sebagai penyerap logam
berat Cd, Penghasil biogas, Altenatif pakan, Menyerap COD, menyerap
amoniak dan digunakan untuk furniture.
1.2 Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk pembaca yang
membaca makalah ini. Jika ada kekurangan dan kekeliruan mohan
dimaafkan karena sesungguhnya didunia ini tidak ada yang sempurna.
Terima kasih kepada ibu Prof. Dr. Ir. Endang Yuli Herawati, MS

telah

membantu kami dalam membuat makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Google image. 2014.


Haryanti. S., Hastuti. R. B., Hastuti. E. D., dan Nurcahyati. Y. 2006. Adaptasi
Fisiologi dan Anatomi Eceng Gondok (Eichornia crassipers) di Berbagai

12

Perairan Tercemar. Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Tumbuhan


Jurusan Biologi FMIPA UNDIP.
Lestari. S., Santoso. S., dan Anggorowati. S.2011. Efektivitas Eceng Gondok
(Echornia crassipes) dalam Penyerapan Kadmium (Cd) pada Leachate
TPA Gunung Tugel. Molekul. 6(1) : 25-29.
Mangisah. I., Nasoetion. M. H., dan Sumarsih. S.2003. Evaluasi Nilai Nutrisi
Eceng GondokTerfermentasi Aspergilus niger sebagai Alternatif Pakan.
Pusat Pnelitian dan Pengembangan Teknologi. Universitas Diponegoro.
Mawarwati, S, Widjanarko, S.B dan Susanto, T. 2001. Mempelajari
Karakteristik Edible Film Berantioksidan dari Germ Gandum (Triticum
Aestivum L.) dan Pengaruhnya Dalam Pengendalian Pencoklatan Pada
Irisan Apel (Malus Sylvestris). Jurnal Biosain. 1(1) :200.
Ratnani. R. D., Hartati. I., Kurniasari. L.2010. Pemanfaatan Eceng Gondok
(Eichornia crassipes) untuk Menurunkan Kandungan COD (Chemical
Oxygen Demond), pH, Baud an Warna pada Limbah Cair Tahu. Laporan
Penelitian Terapan. Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim
Semarang.
Rossiana. N., Supriatun. T dan Dhahiyat. Y. 2007. Fitoremediasi limbah Cair
dengan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) dan Limbah Padat Industri
Minyak Bumi dengan Sengon (Paraserianthes falcataria) Bermikoriza.
Laporan penelitian Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan Nasional. FMIPA Universitas Padjajaran.
Sittadewi. E. H., 2007. Pengolahan Bahan organic Eceng Gondok menjadi
MediaTumbuh untuk Mendukung Pertanian Organik. Jurnal Teknik
Lingkungan. 8 (3) : 229-234.
Tanti. Y. A., Jayanti. Y. R., Prima. A., dan Girisuta. B., 2011. Fermentasi Eceng
Gondok menjadi Bioetanol Menggunakan Pichia stipites. Prosiding
Seminar nasional Teknik Kimia. Universitas katolik Parahyangan
Bandung jawa Barat.
Tosepu. R. 2012. Laju Penurunan Logam Berat Plumbum (Pb) dan Cadmium
(Cd) oleh Eichchornia crassipes dan Cyperus Papyrus. Jurnal Manusia
dan Lingkungan. 19(1) : 37-45.
Widia. E., Mardika. 2013. Penerapan Material Eceng Gondok pada Furniture
Rumah Tinggal. Jurnal Rekajiva. 1(1) : 1-12.
Winarni. P., Trihadiningrum. Y., dan Suprajitno.2010. Biogas Production from
Water Hyacinth. Jurusan Teknik Lingkungan FTI ITS.
Zaman. B., dan Sutrisno. E.2006. Kemampuan Penyerapan Eceng Gondok
terhadap Amoniak dalam Limbah Rumah Sakit Berdasarkan Umur dan
Lama Kontak (Studi Kasus : RS Panti Wilasa, Semarang). Jurnal
Presipitasi. 1(1) : 1907-187X

13