Anda di halaman 1dari 6

METODOLOGI PEMBELAJARAN

MATEMATIKA
Critical Book Review

disusun oleh :
ERLIZA YUSRA (8156171044)
Kelas A-2 Reguler

PROGRAM PASCA SARJANA PENDIDIKAN MATEMATIKA


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas berkat dan karunia-Nya dalam usaha penyelesaian tugas akhir
Metodologi Pembelajaran Matematika mengenai Critical Book Review.
Selama penyusunan makalah ini, penulis banyak mengalami hambatan dan
kesulitan. Namun berkat dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak,
makalah ini dapat terselesaikan. Penulis juga berterimakasih kepada Bapak
Dr. Edy Surya, M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Metodologi
Pembelajaran Matematika.
Penulis menyadari, baik isi maupun teknik penyajian tulisan masih
jauh dari sempurna., untuk itu penulis dengan senang hati menerima kritik
dan saran yang konstruktif dari semua pihak untuk meningkatkan mutu
penulisan selanjutnya. Semoga isi di dalamnya bermanfaat dan segala
usaha kita mendapat ridho dari-Nya.

Medan,

Maret 2016

Erliza Yusra

KRITIKAL BUKU
Judul Buku

: The Mathematical Theory of Communication

Penulis

: Claude E. Shannon & WarrenWeaver

Penerbit

: The University of Illinois Press

Tempat

: Urbana

Tahun Terbit : 1964

Tulisan ini berbentuk critical review dari buku The Mathematical Theory of
Communication chapter Recent Contributions To The Mathematical Theory Of
Communication yang ditulis oleh Claude E. Shannon & WarrenWeaver (The
University of Illinois Press) yang diterbitkan di Urbana pada tahun 1964.
Buku ini dipilih karena pada dasarnya
Bagian bab awal dari buku ini yang berjudul Recent Contributions To The
Mathematical Theory Of Communication, secara garis besar memperlihatkan
bahwa komunikasi memiliki arti yang sangat luas untuk didefenisikan.
Komunikasi yang luas artinya tidak hanya dalam bentuk lisan dan tulisan saja,
tetapi juga mencakup komunikasi dalam seni music, seni gambar, teater, balet,
dan semua hal dalam kehidupan manusia. Buku ini ditulis dalam tiga bagian
utama. Pada bagian pertama dan ketiga, WarrenWeaver bertanggung jawab pada
ide-ide dan kondisinya. Sedangkan pada bagian kedua, yaitu mengenai maslah
komunikasi tingkat A merupakan karya dari Claude E. Shannon.
Kemudian, karena disebutkan bahwa subjek komunikasi itu luas, maka menurut
penulis ada tiga tingkatan masalah pada komunikasi, tingkat A, bagaimana simbol
komunikasi dapat ditularkan secara akurat? (Masalah teknis); tingkat B,
bagaimana tepatnya mentransmisikan simbol menyampaikan makna yang
diinginkan? (Masalah semantik); dan tingkat C, bagaimana secara efektif
menerima makna yang mempengaruhi perilaku dengan cara yang diinginkan?
(Masalah efektivitas). Oleh karena itu, penulis kemudian memberikan penjelasan

mengenai masalah-masalah tersebut dengan memberikan ilustrasi-ilustrasi


sederhana dan kemudian menyimpulkannya.
Pada bagian ini, penulis telah memaparkan dengan cukup baik, karena
pembahasan telah dibagi menjadi sub-sub yang lebih kecil sehinggan
memudahkan untuk para pembaca. Akan tetapi, penulis belum begitu baik dalam
menyajikan isi buku dengan kata-kata, frasa, maupun kalimat yang mudah
dipahami pembaca. Selanjutnya, penulis juga hanya memberikan sedikit ilustrasi
pada kasus-kasus yang menggambarkan masalah komunikasi sehingga penulis
perlu mebaca berulang untuk memahaminya. Sebaiknya, penulis memberikan
suatu pengenalan yang lebih jelas lagi pada awal pembahasan dan juga
menggunakan kata atau kalimat yang lebih memasyarakat sehingga lebih mudah
dipahami, serta ada baiknya jika penulis menambahkan lagi beberapa ilustrasi
kasus nya.
Kemudian mengenai indentitas penulis. Walaupun bab ini merupakan bagian dari
satu buku, alangkah baiknya apabila diberikan sedikit identitas atau seperti
memberikan sedikit catatan kaki (footnote) sehingga para pembaca yang
kebetulan hanya memiliki bagian dari bab ini mengetahui siapa penulis, apakah
memiliki kredibilitas di bidang tersebut atau tidak.
Pemaparan selanjutnya, bab ini menjelaskan lebih rinci mengenai masalah
komunikasi hanya pada tingkatan A, yaitu bagaimana secara simbolis komunikasi
dapat ditularkan dengan akurat. Di mana, sumber informasi membawa pesan,
kemudian diteruskan oleh signal ke penerima pesan yang artinya pesan telash
sampai pada yang dituju. Akan tetapi terdapat variable pengganggu yaitu sumber
kebisingan pada saat proses signal dari transmitter menuju receiver.
Pada penjelasan di atas, penulis sudah cukup baik dengan menjelaskan bagaimana
proses permasalahan pada tingkatan A tersebut dengan memberikan ilustrasi
gambar sehingga mempermudah para pembaca dalam memahaminya.

Kemudian, dari komunikasi beralih ke informasi. Berbicara mengenai kata


informasi, dalam teori ini digunakan arti khusus yang berbeda dari penggunaan
biasanya.

Menururt

penulis

secara

khusus

informasi

harusnya

tidak

membingungkan makna. Yang pasti, kata informasi dalam teori komunikasi ini
tidak begitu berhubungan dengan apa yang anda katakana, atau apa yang anda
bisa katakana. Artinya, informasi adalah ukuran kebebasan seseorang untuk
memilih pesan, dan konsep informasi tidak berlaku untuk pesan yang bersifat
individu. Maka dari itu informasi merupakan suatu kesatuan yang menyeluruh.
Dalah hal ini, penulis memaparkan dengan sangat baik makna dari kata informasi
dalam buku ini. Kemudian penulis juga menyajikan makna informasi dalam kasus
yang sederhana. Akan tetapi kasus ini sederhana untuk penulis, bukan pembaca.
Pembaca masih merasa kekeliruan atau bingung dengan kasus yang diberikan.
Lagi-lagi, sebaiknya penulis menggunakan kehidupan nyata yang terjadi seharihari sehingga dapat dimengerti dengan mudah.
Selanjutnya, pada bab ini dituliskan oleh penulis bahwa dalam komunikasi
terdapat istilah pengkodean. Secara umum, bahwa fungsi pengiriman adalah untuk
mengkodekan dan menuju ke penerima untuk memecahkan kode pesan. Pada
bagian ini diproduksi teorema yang berkaitan dengan saluran komunikasi. Namun
arti penting dari teorema ini akan lebih bermakna jika muncul factor lain dalam
komunikasi, yaitu kebisingan/ kegaduhan. Lalu bagaimanakah kebisingan bisa
mempengaruhi informasi? Menurut penulis seperti yang dijelaskan sebelumnya,
ukuran kebebasan seseorang berdasarkan pemilhan pesan. Jika kebisingan masuk,
maka pesan yang akan terganggu karena efek dari kebisingan tersebut. Kebisingan
juga menjadi penyebab tereganggunya sinyal pemancar komunikasi.
Mengenai pembahasan pada paragraf di atas, penulis sangat baik dalam
menyajikan pembahasannya hingga menurunkan rumus-rumus dan teorema
terkait. Akan tetapi, sebaiknya penulis memasukkan sumber-sumber tertentu
untuk meyakinkan pembaca apakah data-data tersebut akrat atau tidak. Kemudian

juag disaambungkan dengan memberikan sedikit penjelasan yang berisi relevansi


terkait dengan masalah yang diuraikan.
Pada bab ini juga tidak diberikan informasi mengenai tujuan dan sasaran penulis
dalam menulis bab ini. Apakah penulis ingin memberikan kontribusi kepada para
praktisi, umum atau mahasiswa hanya dilakukan berdasarkan penafsiran pembaca.
Secara keseluruhan, dapat diambil beberapa simpulan dari tulisan tersebut.
Pertama, tujuan penulis baik terhadap mahasiswa, praktisi maupun golongan
umum sudah tercapai walaupun penulis tidak mengemukakannya secara eksplisit.
Kedua, penulis telah memaparkan dengan baik mengenai teori komunikasi dan
bagian-bagiannya. Walaupun penulis sendiri belum mengemukakan apakah tujuan
penulisannya buku ini sudah tercaapai atau belum, tetapi buku ini akan sangat
berguna bagi para pembaca semua kalangan, terutama para peneliti, mahasiswa
yang sedang menempuh kuliah studi matematika, dan khususnya kepada reviewer,
sehingga dapat menambah wawasan menjadi lebih luas.