Anda di halaman 1dari 60

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR

HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Ilmu ukur tanah adalah ilmu, seni dan teknologi untuk menyajikan informasi

bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun unsur buatan manusia pada bidang
yang dianggap datar.Ilmu ukur tanah sering disebut plan surveying. Ilmu ukur tanah
bagian dari geodesi (geodetic surveying).
Definisi sederhana dari ukur tanah adalah menentukan posisi atau letak titik di
atas atau pada permukaan bumi. Definisi yang lebih berkembang adalah pekerjaan
untuk menggambarkan keadaan fisik sebagian permukaan bumi menyerupai keadaan
sebenarnya dilapangan. Produk yang sesuai dengan definisi terakhir adalah peta
topografi, sedangkan jenis-jenis pekerjaan yang sederhana antara lain mengukur jarak
antara dua titik, mengukur panjang dan lebar atau sisi-sisi sebidang lahan, mengukur
lereng dan penggambaran bentuk sebidang lahan.
Ilmu geodesi mempunyai dua maksud:
1. Maksud ilmiah yaitu yang mempelajari bentuk dan besar bulatan bumi.
2. Maksud praktis yaitu ilmu yang mempelajari penggambaran permukaan
bumi yang dinamakan peta (gambar).
Batasan datar ilmu ukur tanah cakupan wilayahnya yang relatif sempit yaitu
berkisar antara 0,5 derajat x 0,5 derajat atau 55 km x 55 km. Yang membedakan ilmu
ukur dengan geodesi yaitu kalau ilmu ukur tanah tidak memperhatikan kelengkungan
bumi sedangkan geodesi sebaliknya.

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
1.2

Tujuan
Setiap pengukuran dilakukan dengan maksud untuk menetapkan koordinat

dari titik-titik sudut yang diukur, seperti : panjang segi banyak, dan besar sudutsudutnya.
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam proses pembelajaran praktikum
Kerangka Dasar Horizontal ini, diantaranya:
a. Mahasiswa dapat melakukan pengukuran situasi jalan dan bangunan dengan
menggunakan metode pengukuran poligon.
b. Mahasiswa mampu dan terampil dalam menggunakan pesawat theodolit.
c. Mahasiswa dapat melakukan perhitungan, dan mengolah data dari hasil
pengukuran dilapangan.
d. Mahasiswa

dapat

menggambar

peta

situasi

hasil

pengukuran

dengan

menggunakan Metode Bowditch dan Metode Transit.


1.3

Penafsiran
Dalam kegiatan praktikum Kerangka Dasar Horizontal dengan Metode

Poligon tertutup sangat cocok dan berguna untuk melakukan pengukuran KDH di
kampus UPI. Dalam pengolahan bahwa poligon tertutup ini sangat berguna karena
walapun tidak ada ikatan sama sekali koreksi sudut dapat dicari, koreksi koordinat,
jumlah selisih ordinat sama dengan nol dengan sifat poligon tertutup. Sehingga
dalam hasilnya mendapatkan nilai koordinat dari suatu wilayah pengukuran dan luas
pun dapat diketahui.

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

BAB II
PENGUKURAN
KERANGKA DASAR HORIZONTAL

2.1

Pengertian
Pengukuran dan pemetaan poligon merupakan salah satu metode pengukuran

dan pemetaan. Kerangka dasar horizontal yang bertujuan untuk memperoleh


koordinat planimetris (x,y) titik-titik pengukuran.
1. Pengukuran Kerangka Dasar Horisontal (KDH)
2.1 Metode titik tunggal
a. Pengikatan kemuka
b. Pengikatan kebelakang
Pengikatan kebelakang di bagi dua metode:
a. Metode collins
b. Metode cassini
2.2 Metode titik banyak
Banyak titik di bagi lima metode :
a.
b.
c.
d.
e.

Metode poligon
Metode triangulasi
Metode trilaterasi
Metode triangulterasi
Metode kuadrilateral

Pengukuran poligon sendiri mengandung arti salah satu metode penentuan


titik diantara beberapa metode penentuan titik yang lain. Berdasarkan bentuknya
poligon dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu :
1. Polygon berdasarkan visualnya :
a. Poligon tertutup
b. Poligon terbuka

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
c. Poligon bercabang
2. Poligon berdasarkan geometriknya :
a. Poligon terikat sempurna
b. Poligon terikat sebagian
c. Polygon tidak terikat
Metode poligon adalah salah satu cara penentuan posisi titik pengukuran
secara horizontal dimana titik satu dan yang lainnya dihubungkan dengan sudut dan
jarak sehingga membentuk rangkaian titik-titk atau poligon.
Dapat disimpulkan bahwa polygon ialah serangkaian garis berurutan yang
panjang dan arahnya telah ditentukan dari pengukuran lapangan.
2.2

Jenis-jenis Poligon
Berdasarkan bentuknya poligon dibagi dalam dua bagian, diantaranya:

2.2.1

Jenis Polygon Secara Visual

A. Poligon Terbuka
Polygon terbuka ialah polygon yang titik awal dan titik akhirnya merupakan
titik yang berlainan (bukan satu titik yang sama). Dua macam peningkatan
poligon terbuka yaitu peningkatan azimut dan peningkatan koordinat. Contoh
dari polygon terbuka :

1. Poligon terbuka tanpa ikatan

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Gambar 1 : Poligon Terbuka Tanpa Ikatan
1
Si

= sudut yang diukur


= sisi yang diukur

Poligon semacam ini :

Tidak ada koreksi sudut

Tidak ada koreksi koordinat

Orientasi lokal

Koordinat lokal

2. Poligon terbuka, satu ujung terikat saja dan ujung lain tanpa ikatan

Gambar 2 : Poligon Terbuka, Ujung Terikat dan


Ujung Lain Tanpa Ikatan
1
Si
aw

= sudut-sudut yang diukur


= jarak-jarak yang diukur
= azimuth yang diketahui

Polygon semacam ini :

Tidak ada koreksi sudut

Tidak ada koreksi koordinat

Orientasi : benar (bukan lokal)

Koordinat : lokal

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
3. Poligon terbuka, satu ujung terikat koordinat saja dan ujung lain tanpa
ikatan

Gambar 3 : Poligon Terbuka, Satu Ujung Terikat Koordinat Saja


dan Ujung Lain Tanpa Ikatan
1
Si
P

= sudut-sudut yang diukur


= jarak-jarak yang diukur
= titik yang diketahui koordinatnya

Poligon semacam ini :

Tidak ada koreksi sudut

Tidak ada koreksi koordinat

Orientasi : lokal

Koordinat : lokal (kecuali P)

4. Poligon terbuka, satu ujung terikat azimuth dan koordinat, satu ujung
lagi tanpa ikatan

Gambar 4 : Poligon Terbuka, Satu Ujung Azimuth dan Koordinat,


Satu Ujung Lagi Tanpa Ikatan
1
Si

= sudut-sudut yang diukur


= jarak-jarak yang diukur

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
aw
P

= azimuth yang diketahui


= titik yang diketahui koordinatnya

Poligon semacam ini :

Tidak ada koreksi sudut

Tidak ada koreksi koordinat

Orientasi : benar

Koordinat : benar (bukan lokal)

5. Poligon terbuka, pada kedua ujung-ujungnya terikat azimuth

Gambar 5 : Poligon Terbuka, Pada Kedua Ujung-ujungnya


Terikat Azimuth
1
Si
aw dan ak

= sudut-sudut yang diukur


= jarak-jarak yang diukur
= azimuth yang diketahui

Poligon semacam ini :

Koreksi sudut : ada

Koreksi koordinat : tidak ada

Orientasi : benar

Koordinat : lokal

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

6. Poligon terbuka, satu ujungnya terikat azimuth, sedangkan ujung


yang satu lagi terikat orientasi

Gambar 6 : Poligon Terbuka, Satu Ujungnya Terikat Azimuth,


Sedangkan Ujung Yang Satu Lagi Terikat Orientasi
1
Si
aw
P

= sudut-sudut yang diukur


= jarak-jarak yang diukur
= azimuth yang diketahui
= titik yang diketahui koordinatnya

Poligon semacam ini :

Tidak ada koreksi sudut

Tidak ada koreksi koordinat

Orientasi : benar

Koordinat : benar

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

7. Poligon terbuka, kedua ujungnya masing-masing terikat koordinat

Gambar 7: Polygon Terbuka, Kedua Ujungnya Masing-masing


Terikat Koordinat
1
Si
P, Q

= sudut-sudut yang diukur


= jarak-jarak yang diukur
= titik yang diketahui koordinatnya

B. Poligon Tertutup
Polygon tertutup ialah poligon yang bermula dan berakhir pada satu titik yang
sama. Poligon tertutup sering disebut poligon kring (kring poligon). Ditinjau
dari segi pengkatannya (azimut dan koordinat), terdapat beberapa variasi seperti
:
a) Tanpa ikatan
b) Terikat hanya azimut
c) Terikat hanya koordinat
d) Terikat azimut dan koordinat
Keuntungan dari poligon tertutup yaitu, walaupun tidak ada ikatan sama
sekali, namun koreksi sudut dapat dicari dengan adanya sifat poligon tertutup
yang jumlah sudut dalamnya sama dengan (n-2) 1000. Selain itu, terdapat pula
koreksi koordinat dengan adanya konsekuensi logis dari bentuk geometrisnya
bahwa jumlah selisih absis dan jumlah selisih ordinat sama dengan nol.

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Kelemahan poligon tertutup yaitu, bila ada kesalahan yang proporsional
dengan jarak (salah satu salah sistematis) tidak akan ketahuan. Dengan kata
lain, walaupun ada kesalahan, namun poligon tertutup kelihatan baik juga.
Jarak-jarak yang diukur secara elektronis sangat mudah dihinggapi kesalahan
seperti kesalahan frekuensi gelombang.
Pada Poligon Tertutup :

Garis-garis kembali ke titik awal, jadi membentuk segi banyak.

Berakhir di stasiun lain yang mempunyai ketelitian letak sama atau


lebih besar daripada ketelitian letak titik awal.

Gambar 8 : Poligon Tertutup


C. Poligon Bercabang
Poligon bercabang mempunyai satu atau lebih titik simpul, yaitu titik dimana
cabang itu terjadi. Cabang-cabang itu biasanya terbuka, tetapi dapat juga
menutup kepada cabang yang lain.

Gambar 9 : Poligon Bercabang

2.2.2

Jenis Poligon Secara Geometri

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
A. Poligon Terikat Sempurna
Poligon terikat sempurna, yaitu poligon yang diketahui dua buah titik awal
pengukuran dan dua buah titik akhir pengukuran yang telah memiliki koordinat
dan sudut yang didapat dari hasil pengukuran sebelumnya.

B. Poligon Terikat Sebagian


Poligon terikat sebagian, yaitu poligon yang hanya diketahui salah satu titik,
baik itu koordinat maupun sudut, diawal dan diakhir pengukuran.

C. Poligon Tidak Terikat atau Poligon Bebas


Poligon tidak terikat atau poligon bebas, yaitu poligon yang tidak diketahui
sudut atau koordinatnya.

2.3

Syarat-syarat Poligon
Untuk mendapatkan nilai sudut-sudut dalam atau sudut-sudut luar serta jarak-

jarak mendatar antara titik-titik poligon diperoleh atau diukur dari lapangan
menggunakan alat pengukur sudut dan pengukur jarak yang mempunyai tingkat
ketelitian tinggi.
Pengolahan data poligon dikontrol terhadap sudut-sudut dalam atau luar poligon
dan dikontrol terhadap koordinat baik absis maupun ordinat. Pengolahan data poligon
dimulai dengan menghitung sudut awal dan sudut akhir dari titik-titik ikat poligon.
Kontrol sudut poligon diawali untuk memperoleh koreksi sudut poligon dengan cara
mengontrol jumlah sudut poligon terhadap pengurangan sudut akhir dengan sudut
awal poligon. Koreksi sudut tersebut kemudian dibagi secara merata tanpa bobot
terhadap sudut-sudut poligon hasil pengukuran dan pengamatan di lapangan. Sudutsudut jurusan titik poligon terhadap titik poligon berikutnya mengacu terhadap sudut

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
awal poligon yang dijumlahkan terhadap sudut poligon yang dikoreksi. Kontrol
Koordinat berbeda dengan kontrol sudut yaitu koordinat akhir dan awal dikurangi
serta dibandingkan terhadap jumlah proyeksinya terhadap absis dan ordinat. Koreksi
absis dan ordinat akan diperoleh dan dibandingkan dengan mempertimbangkan bobot
kepada masing-masin titik poligon. Bobot koreksi didekati dengan cara perbandingan
jarak pada suatu ruas garis terhadap jarak total poligon dari awal sampai dengan akhir
pengukuran.
Syarat - syarat Polygon :

Syarat geometric:

akhir awal n 2 180

cd ab k ( n 2).180 0
Rumus n 2 didapat dari:
C
c

awal

awal = akhir

Syarat absis :

X akhir X awal d sin

k
n

X C X A d cos
X C X A d cos kx

Syarat ordinat :

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Yakhir Yawal d cos

YC Y A d cos ky
k

2.4

f
n

n = jumlah sudut

Cara Menentukan Besaran Sudut


Sudut adalah lingkaran yang dibagi dalam 4 bagian yang dinamakan
kuadran. Cara menentukan besarnya sudut ada 3 cara, yaitu :

Cara Seksadesimal yaitu, membagi lingkaran dalam 360 bagian yang dinamakan
derajat, sehingga satu kuadran terdiri dari 900. Sistem besaran sudut seksadesimal
selain dalam bentuk derajat, juga disajikan dalam besaran menit dan sekon. Nilai
maksimum sudut ini adalah 3600 60 60.
10 = 60 = 3600

Cara Sentisimal yaitu, membagi lingkaran dalam 400 bagian, sehingga satu
kuadran terdiri dari 100 bagian yang dinamakan grade. Sistem besaran sudut
sentisimal selain disajikan dalam besaran grade, juga disajikan dalam bentuk
centigrade dan centisentigrade. Nilai maksimum sudut ini adalah 400g 100cg 100cc.
1g = 100cg = 10000cc

Cara Radian yaitu, cara menyatakan sudut dengan menggunakan radial sebagai
satuan sudut. Karena keliling lingkaran adalah 2r, maka satu lingkaran
mempunyai sudut sebesar 2r/r = 2 radian.

Hubungan antara radian, derajat dan grade yaitu :


2 radial = 3600 = 4000
a)

Konversi dari seksadesimal ke sistem centisimal :


Degree

= Grade

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Misal

: a0bc

Maka

: x = (400/360)x a0bc= dg ecg fcc

b)

Konversi dari sentisimal ke sistem seksadesimal :


Grade

= Degree

Misal

: ag bcg ccc = x

Maka

: x = (360/400)x a0bc= d0 e f

c)

Konversi dari seksadesimal ke sistem radian :


Degree

= Rad

Misal

: a0bc = x

Maka

: x = (2 /360)x a0bc= d rad

d)

Konversi dari radian ke sistem seksadesimal :


Rad

= Degree

Misal

: a rad = x

Maka

: x = (360/2) a rad = d0 e f

e)

Konversi dari sentisimal ke sistem radian :


Grade= Degree
Misal

: ag bcg ccc = x

Maka

: x = (2 /400) a0bc= d rad

f)

2.5

Konversi dari radian ke sistem seksadesimal :


Rad

= Grade

Misal

: a rad = x

Maka

: x = (400/2) a rad = bg ccg dcc

Alat Pengukur (Pesawat Theodolit)

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Alat pengukur Theodolite dapat mengukur sudut-sudut yang mendatar dan tegak.
Alat pengukur sudut Theodolite dibagi dalam tiga bagian, yaitu :
a.

Bagian bawah, terdiri dari atas tiga sekrup penyetel


S1 yang menyangga suatu tabung dan pelat yang berbentuk lingkaran. Pada tepi
lingkaran dibuat skala lms yang dinamakan limbus.

b.

Bagian tengah, terdiri atas suatu sumbu yang


dimasukan kedalam tabung bagian bawah. Sumbu ini adalah sumbu tegak atau
sumbu ke-1. Diatasnya diletakan lagi suatu pelat yang berbentuk lingkaran dan
mempunyai jari-jari lebih kecil dari jari-jari pelat bagian bawah.

c.

Bagian atas, terdiri dari sumbu mendatar atau


sumbu kedua yang diletakan diatas kaki penyangga sumbu kedua. Pada sumbu ini
ditempatkan suatu teropong tp, yang mempunyai diafragma dan dengan demikian
mempunyai garis bidik gb. Pada sumbu kedua diletakan pelat yang berbentuk
lingkaran dilengkapi dengan skala itu. Untuk mendapatkan bacaan pada skala
lingkaran tegak ini ditempatkan dua nonius pada kaki penyangga sumbu kedua.
Dilihat dari cara pengukuran dan konstruksinya, bentuk alat ukur Theodolit dibagi

ke dalam dua jenis, yakni :


1.

Theodolit reiterasi yaitu theodolit yang pelat lingkaran skala


mendatar dijadikan satu dengan tabung yang terletak diatas tiga sekrup. Pelat
noninus dan pelat skala mendatar dapat diletakan menjadi satu dengan sekrup k 1,
sedangkan penggeseran kecil dari nonius terhadap skala lingkaran, dapat
digunakan sekrup f1. Dua sekrup k1 dan f1 merupakan satu pasang, sekrup f1 dapat
menggerakan pelat nonius bila sekrup k1 telah dikeraskan.

2.

Theodolit repetisi yaitu jenis yang letak pelat dengan skala


lingkaran yang mendatar ditempatkan sedemikian rupa, sehingga pelat ini dapat
berputar dengan tabung pada sekrup penyetel sebagai sumbu putar.

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Perbedaan jenis repetisi dengan reiterasi adalah jika repetisi selain memiliki
sekrup k1 dan f1 juga memiliki sekrup k2 dan f2 yang berguna pada pengukuran
sudut mendatar dengan cara repetisi.

Gambar 10 : Theodolit Top Con

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

Gambar 11 : Theodolit Wild

BAB III
TUJUAN DAN PROSEDUR PENGUKURAN POLIGON KDH

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
3.1

Tujuan Pengukuran Poligon KDH


Dapat menyebutkan definisi Pengukuran Poligon Kerangka Dasar
Horizontal.
Dapat menyebutkan Jenis-jenis poligon berdasarkan tinjauan visual
dan geometriknya.
Dapat menyebutkan

peralatan

yang

digunakan dan prosedur

Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horizontal


Dapat membuat tabel untuk pengolahan data sipat datar KDH.
Dapat memasukan angka angka hasil survey ke dalam tabel.
Dapat memberikan nilai pengolahan data sipat datar KDH baik secara
manual maupun secara komputerisasi.
Dapat menggambarkan hasil pengolahan data KDH dalam bentuk
situasi-situasi titik poligon KDH.
3.2

Prosedur Persiapan Peralatan


Alat theodolit top con (catat nomor serinya)
Statif (perhatikan kecocokannya dengan alat)
Unting unting dan benang
Kompas
Alat tulis dan formulir ukuran
Cat dan kuas
Payung 1 buah (untuk melindungi alat)
Pita ukur 1 buah
Peta wilayah situasi pengukuran
Patok

rambu

ukur

pengukuran

(disesuaikan

dengan

wilayah

pengukuran)
Fomulir peminjaman alat dan absensi kelompok

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
3.3

Prosedur Pengukuran
Para surveyor harus mengenakan kostum untuk survey lapangan
Ketua tim mencatat semua peralatan yang dibutuhkan pada fomulir
peminjaman alat
Para anggota tim mengisi kehadiran praktikum
Ketua tim menyerahkan fomulir peminjaman alat kepada laboran
Ketua tim memeriksa kelengkapan alat dan mencatat nomor serinya
Para anggota tim membawa peralatan ke lapangan
Mempersiapkan pengukuran
Meletakkan alat diatas patok (pasang alat-alat). Patok adalah, tempat
berdiri rambu ukur pada pangukuran sipat datar
Mengetengahkan gelembung nivo, dengan cara :
a.

Menggerakkan dua sekrup kaki kiap kedalam atau keluar saja


dan menggerakkan satu sekrup kaki kiap kekanan atau kekiri
saja.

b.

Mengatur sumbu l tegak lurus sumbi ll teropong dengan


mengetengahkan gelembung nivo tabung rambu ukur.

c.

Dilakukan dengan interaktif sehingga gelembung nivo benarbenar ditengah dan menganggap bahwa garis bidik sejajar
dengan bidang nivo

Mengarahkan pesawat kearah utara magnet (untuk alat Theodolite),


dengan posisi sudut horizontal pada 0 serta jangan lupa untuk
mengunci

sudut horizontal

tersebut

dengan

memutar

sekrup

horizontal.

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

Posisi sudut didalam alat theodolit

0 00
020
040

Derajat

Menit & second

Gambar 12 : Prosedur Pembacaan Sudut Pada Theodolit

Membaca sudut jurusan atau ij,


Cara membaca sudutnya, jika terlihat pada gambar diatas dibaca
0 00 00
Membidik patok muka dan belakang. Dengan posisi biasa dan posisi
luar biasa. Dimana bacaan sudut biasa dengan posisi teropong
disebelah kiri dan posisi bacaan sudut (horizontal dan vertikal)
disebelah kanan, sedangkan bacaan sudut luar biasa dengan posisi
teropong disebelah kana dan posisi bacaan sudut (horizontal dan
vertikal) disebelah kiri.
Jadi, untuk mendapatkan sudut yang sebenarnya hasur dihitung
dengan rumus :

LB B
2

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Lakukan langkah diatas pada semua patok, sehingga kita akan
mendapatkan data-data berupa sudut .
NB : Pencatatan data formulir ukuran yang menggunakan pensil dan
penghapus, atau tipe x. jika salah angka dicoret nilai yang benar
ditulis diatas atau sebelahnya.
3.4

Prosedur Pengolahan Data


Membuat tabel pengolahan data Poligon KDH.
Masukan nilai dari lapangan dan dihitung rata-ratanya.
Hitung setiap titik ikatan cek dari sketsa penggambaran sudut-sudutnya
di lapangan dengan membandingkannya.
Hitung f dengan syarat nilai < 1.
Hitung koreksi dan koreksi.
Hitung X dan Y dengan syarat nilai < 1.
Hitung bobot untuk metode Transit.
Hitung nilai koreksi X dan Y seberapa kesalahan.
Mengetahui nilai koreksinya kemudian koreksi kesalahan X dan Y.
Hitung nilai koordinat X dan Y dimana harus dikontrol nilai koordinat
awal sama dengan nilai penghitungan akhir koordinat X dan Y. ini
dilakukan dengan dua metode yaitu Bowditch dan Transit.
Menghitung luas area poligon tersebut dengan Metode Sarrus

3.5

Prosedur Penggambaran
Data pengolahan telah dihitung secara tepat dan benar.
Prinsip skala di perhitungkan secara sesuai untuk situasi titik-titik poligon
KDH

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Tetapkan ukuran kertas (lebih baik menggunakan kertas millimeter)
Masukan data koordinat X dan Y dengan polyline dalam cad, dengan cara
satu per satu.
Cek luas penggambaran dengan membandingkan nilai pengolahan data.
Rotasikan sesuai gambar situasi peta pengukuran tanpa merubah bentuk
dan ukuran panjang dan sudutnya.
Design/ rancang tata letak penggambaran yang meliputi muka gambar,
legenda, notasi dan skala gambar (sebaiknya di grafis)
3.6

Perataan Poligon
Adalah pembagian salah satu penutup koordinat KX dan KY kepada unsur-

unsur bersangkutan dalam bentuk koreksi-koreksi setelah perataan sementara sudut.


Cara melakukan pembagian bergantung pada perbandingan ketelitian ukuran sudut
dengan ukuran jarak, sehingga terdapat tiga kemungkinan :
a.

Ukuran sudut lebih teliti dari ukuran jarak (Metode transit)

b.

Ukuran sudut sama teliti dengan ukuran jarak (Metode Bowditch)

c.

Ukuran sudut lebih rendah ketelitiannya daripada ukuran jarak.


Perataan poligon terdiri dari dua macam, yaitu :

Metode Bowditch
Dipakai dengan anggapan bahwa ketelitian pengukuran sudut adalah

sebanding dengan ketelitian pengukuran jarak. Pemberian koreksi kepada selisih


absis dan ordinat adalah sebanding dengan panjang sisi bersangkutan.
Bila KX dan KY adalah koreksi yang akan diberikan kepada selisih absis (X)
dan selisih ordinat (Y) sedangkan salah satu penutup koordinat adalah KX dan
KY, maka :

KX

KX
d
d

KY

KY
d
d

Dimana : (d) = jumlah panjang sisi-sisi poligon dan d = panjang sisi


bersangkutan.

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
KX akan berlawanan tanda dengan KX dan KY berlawanan tanda dengan KY, yaitu:
(KX) = - KX

(KY) = - KY

Metode ini banyak dipakai karena hasilnya baik sekali, sangat mendekati hasil
perataan kuadrat terkecil. Metode Bowditch adalah suatu metode pendekatan,
sedangkan metode perataan yang eksak matematis adalah metode perataan
kuadrat terkecil.

Metode Transit.
Metode ini jarang dipakai dan didasarkan pada anggapan bahwa sudut diukur

dengan ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan pengukuran jarak. Koreksi


diberikan sebanding dengan selisih absis dan ordinat, sebagai berikut :

KX

KX
X
/ X /

KY

KY
Y
/ Y /

Dimana (/Y/) DAN (/X/) adalah selisih semua absis dan ordinat dengan tidak
menghiraukan tanda minus dan plusnya.
3.7

Langkah Langkah Perhitungan Poligon Tertutup


Mencari sudut dalam (), dengan rumus :
belakang Muka , seperti gambar

Muka

Belakan
g

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Gambar 13 : Mencari Sudut Dalam ()
Menghitung besar koreksi sudut (f), dengan menggunakan rumus :
Syarat1 akhir awal ( n 2).180 0 f

Menghitung besar sudut dalam koreksi , dengan rumus :



^

f
n

Menghitung besar sudut azimuth koreksi, dengan rumus :

awal 180
0

Menghitung besar koreksi sudut X (fx), dengan menggunakan rumus :


Syarat 2 X akhir X awal d sin f x

Menghitung besar koreksi sudut Y (fy), dengan menggunakan rumus :


Syarat 3 Yakhir Yawal d cos f y

Menghitung besar bobot koreksi untuk metode bowditch, menggunakan


rumus :
bobotX f x .
bobotX f x .

d
d

Menghitung besar bobot koreksi sudut untuk metode transit, menggunakan


rumus :

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

di.Sin ij

bobotX f x .

d.Sin
^

bobotY f y .

di.Cos ij
^

d.Cos

Menghitung besar Koordinat dengan metode Bowditch, menggunakan rumus :


^

X X sebelum d ij .Sin ij f x .
^

Y Ysebelum d ij .Cos ij f y .

d
d

Menghitung besar koordinat dengan metode Transit, menggunakan rumus :


^

X X sebelum dij .Sin ij f x .

di.Sin ij

Y Ysebelum dij .Cos ij f y .

di.Cos ij

Menghitung Luas dengan metode Sarrus, menggunakan rumus :

2 L ABCDA X A xYB X B xYC X C xYD X D xY A


X B xYA X C xYB X D xYC X A xYD

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

BAB IV
PELAKSANAAN PRATIKUM
4.1

Waktu dan Lokasi Pengukuran


1. Hari

: Kamis

Pertemuan ke : 1
Tanggal

: 11 Oktober 2012

Kegiatan

: Pengukuran Poligon

Waktu

: 15.00 s.d selesai

Lokasi

: Sekitar Open Space UPI

2. Hari

: Kamis

Pertemuan ke : 2
Tanggal

: 18 Oktober 2012

Kegiatan

: Pengukuran Poligon Lanjutan

Waktu

: 15.00 s.d selesai

Lokasi

: Sekitar Open Space UPI

3. Hari

: Kamis

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Pertemuan ke : 3

4.2

Tanggal

: 25 Oktober

Kegiatan

: Pengukuran Poligon Perbaikan

Waktu

: 15.30 s.d selesai

Lokasi

: Sekitar Open Space UPI

Keselamatan kerja
1. Hati-hati dalam membawa atau memindahkan theodolit
2. Setiap memindahkan theodolit, theodolit harus dibawa dalam
tempatnya
3. Lindungi theodolit dari terik matahari dan hujan
4. Hati-hati pada saat melakukan pengukuran, ada kemungkinan pada
lokasi pengukuran licin dan curam
5. Efektifkan waktu pengukuran.

4.3

Pelaksanaan Praktikum
Setelah mendapat pengarahan dan pengenalan alat tentang Pengukuran
Poligon KDH maka bersama rekan-rekan dari kelompok 1 melaksanakan
praktikum pengukuran Poligon di sekitar gedung OPEN SPACE UPI.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan :
1. Membaca panduan dan prosedur pelaksanaan praktikum.
2. Pinjam alat theodolit dan alat-alat lain yang diperlihatkan dalam kegiatan
praktikum pengukuran Poligon KDH

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
3. Setelah ke lapangan buat sketsa penggambaran poligon untuk sebagai acuan
perkiraan sudut pembacaan dan sudut dalam.
4. Lakukan pengukuran tiap titik rambu.
5. Pembacaan sudut dilakukan 2 kali, pembacaan biasa dan luar biasa.
6. Beri tanda dengan cat agar tanda yang sebelumnya tampak lebih baru dan
tidak mudah hilang.
7. Lakukan sesuai prosedur
8. Catat dan hitung secara manual agar bisa diketahui kesalahan pembacaan.
9. Hasil data di lapangan kami melakukan pengolahan data di komputer dengan
program excel dan menampilkan gambar dengan Auto CAD.
10. Untuk lebih jelasnya kami menyajikan perhitungan manual pada laporan.

BAB V
PENGOLAHAN DATA DAN PEMETAAN
5.1 Data Lapangan
No

Titik
Patok

a sudut biasa
o

'

"

1.20

347

1.2

125

47

2.1

137

11

40

2.3

54

22

3.2

42

3.4

Desimal

a sudut luar
biasa
o
'
"

Desimal

rata-rata

347,315

347,100 347,0

31

48

347,53

13,2 125,787 124,0

45

3,6

124,751 125,269

137,194 137,0

43

55,2

137,732 137,466

40

54,378

55,0

3,12

55,0842

54,731

20

10

42,336

42,0

44

2,04

42,7339

42,535

179

16

36

179,277 179,0

11

13,2

179,187 179,232

4.3

359

42

359,701 358,0

45

46,8

358,763 359,232

4.5

101

45

50

101,764 100,0

14

2,4

100,234 100,999

5.4

79

37

30

79,625

79,0

54

32,4

79,909

79,767

10

5.6

59

30

20

59,506

59,0

23

54,24 59,3984

59,452

11

6.5

125

27

40

125,461 125,0

38

125,635 125,548

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
12

6.7

345

55

20

345,922 345,0

14

2,4

345,234 345,578

13

7.6

165

165,067 166,0

20,4

166,089 165,578

14

7.8

356

48

20

356,806 356,0

14

2,4

356,234

356,52

15

8.7

176

54

40

176,911 176,0

44,4

176,129

176,52

16

8.9

357

40

357,128 357,0

17

31,2

357,292

357,21

17

9.8

177

40

177,061 177,0

21

32,4

177,359

177,21

18

9.10

358

52

10

358,869 357,0

21

54

357,365 358,117

19

10.9

177

45,6 177,146 177,0

44

52,8

177,748 177,447

20

10.11 359

37

53,4 359,632 359,0

23

359,385 359,508

No

21
22
23
24
25
26
27
28

Titik
Patok

11.1
0
11.1
2
12.1
1
12.1
3
13.1
2
13.1
4
14.1
3
14.1
5

a sudut biasa

a sudut luar biasa

'

"

Desimal

'

"

Desimal

ratarata

179

179,1

180

32

31,2

359

47

13,2

359

13

44,4

179

11

40

179

49

19,2

22

40

40

48

179,8
21
359,5
08
179,5
08
7,529

187

20

10

187

43

19,2

13

16

36

13

19

193

42

192

54

31,0
8
3,6

77

45

50

359,78
7
179,19
44
7,3777
78
187,33
61
13,276
67
193,70
11
77,763
89

180,5
42
359,2
29
179,8
22
7,68

77

35

187,7
22
13,32
53
192,9
01
77,58
81

187,5
29
13,30
1
193,3
01
77,67
6

17,1
6

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

15.1
4
15.1
6
16.1
5
16.1
7
17.1
6
17.1
8
18.1
7
18.1
9
19.1
8
19.2
0
20.1
9
20.1

102

37

30

100

30

20

79

27

40

124

55

20

55

154

48

20

25

54

40

167

40

12

40

178

52

10

45,6

167

37

53,4

102,62
5
100,50
56
79,461
11
124,92
22
55,066
67
154,80
56
25,911
11
167,12
78
12,061
11
178,86
94
1,146

102

22,8

99

39

80

21

124

37,4
4
32,0
4
7,2

55

54

153

53

25

23

168

23

12

25

177

39

25

167,63
15

166

59

33,4
8
24
34,4
4
16,8
22,4
4
39,6
26,0
4
56,4

102,0
23
99,66
04
80,35
89
124,1
02
55,90
93
153,8
9
25,39
29
168,3
88
12,42
29
177,6
61
2,423
9
166,9
99

102,3
24
100,0
83
79,91
124,5
12
55,48
8
154,3
48
25,65
2
167,7
58
12,24
2
178,2
65
1,785
167,3
15

5.2 Menghitung Sudut-sudut Dalam


Menghitung sudut-sudut dalam dapat digunakan rumus:
belakang muka

Dengan ketentuan apabila hasilnya negatif ditambah 360 :


( belakang muka ) 360

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Keterangan:

= Sudut dalam

muka

= Sudut pembacaan muka

belakang = Sudut pembacaan belakang


Titik 1
1 = 12,685 + 12,269 = 137,954

Titik 2

2 = 54,735 + 137,465 = 192,2

Titik 3

3 = 360 179,232 42,535 = 138,233

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

Titik 4

4 = 100,999 + 0,768 = 101,767

Titik 5
5 = 79,769 + 55,452 = 135,221

Titik 6

6 = 125,548 + 14,422 = 139,97

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

Titik 7
7 = 165,578 + 3,480 = 169,058

Titik 8

8 = 176,520 + 2,790 = 179,31

Titik 9

9 = 177,210 + 1,883 = 179,093

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

Titik 10

10 = 171,447 + 0,492 = 177,939

Titik 11

11 = 179,821 + 0,492 = 180,313

Titik 12

12 = 179,508 7,529 = 171,979

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

Titik 13

13 = 187,529 13,301 = 174,228

Titik 14

14 = 193,301 77,676 = 115,625

Titik 15
15 360 102,234 100,083 = 157,683

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

Titik 16
16 = 360 124,512 79,91 = 155,578

Titik 17

17 = 360 55,488 154,348 = 150,164

Titik 18

18 = 360 25,652 167,758 = 166,59

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

Titik 19
19 = 178,265 12,242 = 165,841

Titik 20
Titik
Patok
(alat)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Desimal

137,8540
192,2000
138,2330
101,7670
135,2210
139,9700
169,0580
179,3100
179,0930
177,9390
180,3130
171,9790
174,2280
115,6250
157,6830
155,5780
150,1640
166,5900
165,841
169,0500

Jarak
(d)

24,31
15,54
10,78
17,34
16,28
16,10
22,10
18,54
18,29
10,14
10,39
10,37
22,53
20,50
16,78
20,40
21,62
20,22
24,25
24,30

20 = 167,315 + 1,735 = 169,05

RESUME SUDUT DALAM


)

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

5.3 PERHITUNGAN METODE BOWDITCH


a. Mencari nilai koreksi (f)

akhir - awal = - ( n-2 )*180+ f


0
= 3238,0158 + ( 20-2 )*180 + f
-f
= 3238,0158 + 3240
f
= 1,9842

b. Mencari koreksi

1
2
3
4

=
=
=
=

1 + ( f : 20 ) = 137,854 + (1,9842: 20 ) = 137,9532


2 + ( f : 20 ) = 192,200 + (1,9842: 20 ) = 192,2992
3 + ( f : 20 ) = 138,233 + (1,9842 : 20 ) = 138,3322
4 + ( f : 20 ) = 101,767 + (1,9842 : 20 ) = 101,8662

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

= 5 + ( f : 20 ) = 135,221 + (1,9842 : 20 ) = 135,3202


= 6 + ( f : 20 ) = 139,970 + (1,9842 : 20 ) = 140,0692
= 1 + ( f : 20 ) = 169,058 + (1,9842 : 20 ) = 169,1572
= 1 + ( f : 20 ) = 179,310 + (1,9842 : 20 ) = 179,4092
= 1 + ( f : 20 ) = 179,093 + (1,9842 : 20 ) = 179,1922
= 1 + ( f : 20 ) = 177,939 + (1,9842 : 20 ) = 178,0382
= 1 + ( f : 20 ) = 180,313 + (1,9842 : 20 ) = 180,4122
= 1 + ( f : 20 ) = 171,979 + (1,9842 : 20 ) = 172,0782
= 1 + ( f : 20 ) = 174,228 + (1,9842 : 20 ) = 174,3272
= 1 + ( f : 20 ) = 115,625 + (1,9842 : 20 ) = 115,7242
= 1 + ( f : 20 ) = 157,683 + (1,9842 : 20 ) = 157,7822
= 1 + ( f : 20 ) = 155,6250 + (1,9842 : 20 ) = 155,6772
= 1 + ( f : 20 ) = 150,164 + (1,9842 : 20 ) = 150,2632
= 1 + ( f : 20 ) = 166,590 + (1,9842 : 20 ) = 166,6892
= 1 + ( f : 20 ) = 165,841 + (1,9842 : 20 ) = 165,9402
= 1 + ( f : 20 ) = 169,050 + (1,9842 : 20 ) = 169,1492

c. Mencari koreksi

1.2 = 125,269
2.3 = 1.2 + 2 - 180 = 141,5841
3.4 = 2.3 + 3 - 180 = 103,9324
4.5 = 3.4 + 4 - 180 = 29,8146
5.6 = 4.5 + 5 - 180 = 349,1508
6.7 = 5.6 + 6 - 180 = 313,2360
7.8 = 6.7 + 7 - 180 = 306,4092
8.9 = 7.8 + 8 - 180 = 309,8344
9.10 = 8.9 + 9 - 180 = 313,0426
10.11 = 9.10 + 10 - 180 = 315,0968
11.12 = 10.11 + 11 - 180 = 319,5250
12.13 = 11.12 + 12 - 180 = 315,6192
13.14 = 12.13 + 13 - 180 = 313,9624
14.15 = 13.14 + 14 - 180 = 253,7026
15.16 = 14.15 + 15 - 180 = 235,5008
16.17 = 15.16 + 16 - 180 = 215,1940

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

17.18 = 16.17 + 17 - 180 = 189,4732


18.19 = 17.18 + 18 - 180 = 180,1784
19.20 = 18.19 + 19 - 180 = 170,1346
20.1 = = 19.20 + 20 - 180 = 163,2998

Kontrol
1.2 = 20.1 + 1 - 180 = 125,269 OK !!!

d. Mencari nilai koreksi absis ( fx) dan ordinat (fy)


x = d sin + fx
= ( d1.2 sin 1.2 ) + ( d2.3 sin 2.3 ) + ( d3.4 sin 3.4 ) + ( d4.5 sin 4.5 ) +
( d5.6 sin 5.6 ) + ( d6.7 sin 6.7 ) + ( d7.8 sin 8.9 ) + ( d9.10 sin 9.10 ) +
( d10.11 sin 10.11 ) + ( d11.12 sin 11.12 ) + ( d12.13 sin 12.13 ) +
( d13.14 sin 13.14 ) + ( d14.15 sin 14.15 ) + ( d15.16 sin 15.16 ) +
( d16.17 sin 16.17 ) + ( d17 .18 sin 17.18 ) + ( d18.19 sin 18.19 ) +
( d19.20 sin 19.20 ) + ( d20.1 sin 20.1 )
Fx
y

= 0,5789

= d cos + fx
= ( d1.2 cos 1.2 ) + ( d2.3 cos 2.3 ) + ( d3.4 cos 3.4 ) + ( d4.5 cos 4.5 )
+( d5.6 cos 5.6 ) + ( d6.7 cos 6.7 ) + ( d7.8 cos 8.9 ) + ( d9.10 cos 9.10 )
+ ( d10.11 cos 10.11 ) + ( d11.12 cos 11.12 ) + ( d12.13 cos 12.13 ) +
( d13.14 cos 13.14 ) + ( d14.15 cos 14.15 ) + ( d15.16 cos 15.16 ) +
( d16.17 cos 16.17 ) + ( d17 .18 cos 17.18 ) + ( d18.19 cos 18.19 ) +
( d19.20 cos 19.20 ) + ( d20.1 cos 20.1 )
Fy

= 0,7179

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

MENCARI NILAI BOBOT


Bobot titik 1-2 = 24,31 0,06738

360,78
Bobot titik 2-3 = 15,54 0,04307
360,78
10,78
Bobot titik 3-4 = 360,78 0,02988
17,34
Bobot titik 4-5 = 360,78 0,04806
16,28
Bobot titik 5-6 = 360,78 0,04512
16,10
Bobot titik 6-7 = 360,78 0,04463
22,10
Bobot titik 7-8 = 360,78 0,06126
18,54
Bobot titik 8-9 = 360,78 0,05139
18,29
Bobot titik 9-10 = 360,78 0,0507
10,14
Bobot titik 10-11 = 360,78 0,02811
10,39
Bobot titik 11-12 = 360,78 0,0288
10,37
Bobot titik 12-13 = 360,78 0,02874
22,53
Bobot titik 13-14 = 360,78 0,06245
20,50
Bobot titik 14-15 = 360,78 0,05682
16,78
Bobot titik 15-16 = 360,78 0,04651
20,40
Bobot titik 16-17 = 360,78 0,05654
21,62
Bobot titik 17-18 = 360,78 0,05993
20,22
Bobot titik 18-19 = 360,78 0,05605

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

24,25

Bobot titik 19-20 = 360,78 0,06722


24,30

Bobot titik 20-1 = 360,78 0,06735


MENCARI KOORDINAT
KOORDINAT X :
X1 = 786496,6047
X2 = X1 + d1-2. Sin1-2 + fx.bobot 1-2 = 786522,2956
X3 = X2 + d2-3. Sin2-3 + fx.bobot 2-3 = 786535,6866
X4 = X3 + d3-4. Sin3-4 + fx.bobot 3-4 = 786548,7405
X5 = X4 + d4-5. Sin4-5 + fx.bobot 4-5 = 786561,5295
X6 = X5 + d5-6. Sin5-6 + fx.bobot 5-6 = 786562,3782
X7 = X6 + d6-7. Sin6-7 + fx.bobot 6-7 = 786554.5184
X8 = X7 + d7-8. Sin7-8 + fx.bobot 7-8 = 786542,0441
X9 = X8 + d8-9. Sin8-9 + fx.bobot 8-9 = 786532,2634
X10 = X9 + d9-10. Sin9-10 + fx.bobot 9-10 = 786523,2923

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

X11 = X10 + d10-11. Sin10-11 + fx.bobot 10-11 = 786518,5715


X12 = X11 + d11-12. Sin11-12 + fx.bobot 11-12 = 786514,3244
X13 = X12 + d12-13. Sin12-13 + fx.bobot 12-13 = 786509,5639
X14 = X13 + d13-14. Sin13-14 + fx.bobot 13-14 = 786498,7620
X15 = X14 + d14-15. Sin14-15 + fx.bobot 14-15 = 786484,0129
X16 = X15 + d15-16. Sin15-16 + fx.bobot 15-16 = 786484,2171
X17 = X16 + d16-17. Sin16-17 + fx.bobot 16-17 = 786467,3628
X18 = X17 + d17-18. Sin17-18 + fx.bobot 17-18 = 786469,0008
X19 = X18 + d18-19. Sin18-19 + fx.bobot1 8-19 = 786473,7978
X20 = X19 + d19-20. Sin19-20 + fx.bobot 19-20 = 786483,7812
KONTROL
X1 = X20 + d20-1. Sin20-1 + fx.bobot 20-1 = 786496,6047 ... OK!
KOORDINAT Y :
Y1 = 9240644,8850

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

Y2 = Y1 + d1-2.cos1-2 + fy.bobot1-2 = 9240632,9888


Y3 = Y2 + d2-3.cos2-3 + fy.bobot2-3 = 9240622,1813
Y4 = Y3 + d3-4.cos3-4 + fy.bobot3-4 = 9240620,5351
Y5 = Y4 + d4-5.cos4-5 + fy.bobot4-5 = 9240637,1069
Y6 = Y5 + d5-6.cos5-6 + fy.bobot5-6 = 9240654,5296
Y7 = Y6 + d6-7.cos6-7 + fy.bobot6-7 = 9240666,9759
Y8 = Y7 + d7-8.cos7-8 + fy.bobot7-8 = 9240682,0395
Y9 = Y8 + d8-9.cos8-9 + fy.bobot8-9 = 9240695,5484
Y10 = Y9 + d9-10.cos9-10 + fy.bobot9-10 = 9240709,6247
Y11 = Y10 + d10-11.cos10-11 + fy.bobot10-11 = 9240717,7178
Y12 = Y11 + d11-12.cos11-12 + fy.bobot11-12 = 9240726,5364
Y13 = Y12 + d12-13.cos12-13 + fy.bobot12-13 = 9240734,8611
Y14 = Y13 + d13-14.cos13-14 + fy.bobot13-14 = 9240752,4851
Y15 = Y14 + d14-15.cos14-15 + fy.bobot14-15 = 9240748,5376

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

Y16 = Y15 + d15-16.cos15-16 + fy.bobot15-16 = 9240740,5112


Y17 = Y16 + d16-17.cos16-17 + fy.bobot16-17 = 9240725,6366
Y18 = Y17 + d17-18.cos17-18 + fy.bobot17-18 = 9240706,2154
Y19 = Y18 + d18-19.cos18-19 + fy.bobot18-19 = 9240687,7761
Y20 = Y19 + d19-20.cos19-20 + fy.bobot19-20 = 9240666,0202

KONTROL
Y1 = Y20 + d20-1.cos20-1 +fy.bobot20-1 = 9240644,8850 .... OK!
5.4 PERHITUNGAN METODE TRANSIT
e. Mencari nilai koreksi (f)

akhir - awal = - ( n-2 )*180+ f


0
= 3238,0158 + ( 20-2 )*180 + f
-f
= 3238,0158 + 3240
f
= 1,9842

f.

Mencari
1
=
2
=
3
=
4
=
5
=
6
=
7
=

koreksi
1 + ( f : 20 ) = 137,854 + (1,9842: 20 ) = 137,9532
2 + ( f : 20 ) = 192,200 + (1,9842: 20 ) = 192,2992
3 + ( f : 20 ) = 138,233 + (1,9842 : 20 ) = 138,3322
4 + ( f : 20 ) = 101,767 + (1,9842 : 20 ) = 101,8662
5 + ( f : 20 ) = 135,221 + (1,9842 : 20 ) = 135,3202
6 + ( f : 20 ) = 139,970 + (1,9842 : 20 ) = 140,0692
1 + ( f : 20 ) = 169,058 + (1,9842 : 20 ) = 169,1572

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
8
= 1 + ( f : 20 ) = 179,310 + (1,9842 : 20 ) = 179,4092
9
= 1 + ( f : 20 ) = 179,093 + (1,9842 : 20 ) = 179,1922
10 = 1 + ( f : 20 ) = 177,939 + (1,9842 : 20 ) = 178,0382
11 = 1 + ( f : 20 ) = 180,313 + (1,9842 : 20 ) = 180,4122
12 = 1 + ( f : 20 ) = 171,979 + (1,9842 : 20 ) = 172,0782
13 = 1 + ( f : 20 ) = 174,228 + (1,9842 : 20 ) = 174,3272
14
= 1 + ( f : 20 ) = 115,625 + (1,9842 : 20 ) = 115,7242
15
= 1 + ( f : 20 ) = 157,683 + (1,9842 : 20 ) = 157,7822
16
= 1 + ( f : 20 ) = 155,6250 + (1,9842 : 20 ) = 155,6772
17
= 1 + ( f : 20 ) = 150,164 + (1,9842 : 20 ) = 150,2632
18
= 1 + ( f : 20 ) = 166,590 + (1,9842 : 20 ) = 166,6892
19
= 1 + ( f : 20 ) = 165,841 + (1,9842 : 20 ) = 165,9402
20
= 1 + ( f : 20 ) = 169,050 + (1,9842 : 20 ) = 169,1492
g. Mencari koreksi
1.2 = 15,269
2.3 = 1.2 + 2 - 180 = 141,5841
3.4 = 2.3 + 3 - 180 = 103,9324
4.5 = 3.4 + 4 - 180 = 29,8146
5.6 = 4.5 + 5 - 180 = 349,1508
6.7 = 5.6 + 6 - 180 = 313,2360
7.8 = 6.7 + 7 - 180 = 306,4092
8.9 = 7.8 + 8 - 180 = 309,8344
9.10 = 8.9 + 9 - 180 = 313,0426
10.11 = 9.10 + 10 - 180 = 315,0968
11.12 = 10.11 + 11 - 180 = 319,5250
12.13 = 11.12 + 12 - 180 = 315,6192
13.14 = 12.13 + 13 - 180 = 313,9624
14.15 = 13.14 + 14 - 180 = 253,7026
15.16 = 14.15 + 15 - 180 = 235,5008
16.17 = 15.16 + 16 - 180 = 215,1940
17.18 = 16.17 + 17 - 180 = 189,4732
18.19 = 17.18 + 18 - 180 = 180,1784
19.20 = 18.19 + 19 - 180 = 170,1346
20.1 = = 19.20 + 20 - 180 = 163,2998

Kontrol

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
1.2 = 20.1 + 1 - 180 = 125,269 OK !!!
h. Mencari nilai koreksi absis ( fx) dan ordinat (fy)
x = d sin + fx
= ( d1.2 sin 1.2 ) + ( d2.3 sin 2.3 ) + ( d3.4 sin 3.4 ) + ( d4.5 sin 4.5 ) +
( d5.6 sin 5.6 ) + ( d6.7 sin 6.7 ) + ( d7.8 sin 8.9 ) + ( d9.10 sin 9.10 ) +
( d10.11 sin 10.11 ) + ( d11.12 sin 11.12 ) + ( d12.13 sin 12.13 ) +
( d13.14 sin 13.14 ) + ( d14.15 sin 14.15 ) + ( d15.16 sin 15.16 ) +
( d16.17 sin 16.17 ) + ( d17 .18 sin 17.18 ) + ( d18.19 sin 18.19 ) +
( d19.20 sin 19.20 ) + ( d20.1 sin 20.1 )
Fx
y

= 0,5789

= d cos + fx
= ( d1.2 cos 1.2 ) + ( d2.3 cos 2.3 ) + ( d3.4 cos 3.4 ) + ( d4.5 cos 4.5 )
+( d5.6 cos 5.6 ) + ( d6.7 cos 6.7 ) + ( d7.8 cos 8.9 ) + ( d9.10 cos 9.10 )
+ ( d10.11 cos 10.11 ) + ( d11.12 cos 11.12 ) + ( d12.13 cos 12.13 ) +
( d13.14 cos 13.14 ) + ( d14.15 cos 14.15 ) + ( d15.16 cos 15.16 ) +
( d16.17 cos 16.17 ) + ( d17 .18 cos 17.18 ) + ( d18.19 cos 18.19 ) +
( d19.20 cos 19.20 ) + ( d20.1 cos 20.1 )
Fy

= 0,7179

MENCARI NILAI BOBOT


Sumbu X

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

0,0963

0,0468

0,0507

0,0418

0,0149

0,0569

0,0863

0,0691

0,0648

0,0347

0,0327

0,0352

0,0787

0,0954

0,0671

0,057

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

0,0173

0,0003

0,00202

0,0339
Total = 1

Sumbu Y

0,0525

0,0456

0,0097

0,0563

0,0599

0,0413

0,0491

0,0445

0,0467

0,0269

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

0,0296

0,0277

0,0585

0,0215

0,0356

0,0624

0,0798

0,0757

0,0894

0,0871
Total = 1

MENCARI KOORDINAT
KOORDINAT X :
X1 = 786496,6047
X2 = X1 + d1-2. Sin1-2 + fx.bobot 1-2 = 786524,8007
X3 = X2 + d2-3. Sin2-3 + fx.bobot 2-3 = 786538,5180

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

X4 = X3 + d3-4. Sin3-4 + fx.bobot 3-4 = 786553,3816


X5 = X4 + d4-5. Sin4-5 + fx.bobot 4-5 = 786565,6292
X6 = X5 + d5-6. Sin5-6 + fx.bobot 5-6 = 786563,8537
X7 = X6 + d6-7. Sin6-7 + fx.bobot 6-7 = 786557,0577
X8 = X7 + d7-8. Sin7-8 + fx.bobot 7-8 = 786546,7525
X9 = X8 + d8-9. Sin8-9 + fx.bobot 8-9 = 786538,5038
X10 = X9 + d9-10. Sin9-10 + fx.bobot 9-10 =786530,7589
X11 = X10 + d10-11. Sin10-11 + fx.bobot 10-11 = 786526,6116
X12 = X11 + d11-12. Sin11-12 + fx.bobot 11-12 = 786522,7040
X13 = X12 + d12-13. Sin12-13 + fx.bobot 12-13 = 786518,5016
X14 = X13 + d13-14. Sin13-14 + fx.bobot 13-14 = 786509,1055
X15 = X14 + d14-15. Sin14-15 + fx.bobot 14-15 = 786497,7052
X16 = X15 + d15-16. Sin15-16 + fx.bobot 15-16 = 786489,6927
X17 = X16 + d16-17. Sin16-17 + fx.bobot 16-17 = 786482,8805

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

X18 = X17 + d17-18. Sin17-18 + fx.bobot 17-18 = 786480,8188


X19 = X18 + d18-19. Sin18-19 + fx.bobot1 8-19 = 786480,7823
X20 = X19 + d19-20. Sin19-20 + fx.bobot 19-20 = 786486,6847
KONTROL
X1 = X20 + d20-1. Sin20-1 + fx.bobot 20-1 = 786496,6047 ... OK!

KOORDINAT Y :
Y1 = 9240644,8850
Y2 = Y1 + d1-2.cos1-2 + fy.bobot1-2 = 9240632,5175
Y3 = Y2 + d2-3.cos2-3 + fy.bobot2-3 = 9240621,7898
Y4 = Y3 + d3-4.cos3-4 + fy.bobot3-4 = 9240619,5029
Y5 = Y4 + d4-5.cos4-5 + fy.bobot4-5 = 9240636,3371
Y6 = Y5 + d5-6.cos5-6 + fy.bobot5-6 = 9240654,2278
Y7 = Y6 + d6-7.cos6-7 + fy.bobot6-7 = 9240666,5681

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

Y8 = Y7 + d7-8.cos7-8 + fy.bobot7-8 = 9240681,2457


Y9 = Y8 + d8-9.cos8-9 + fy.bobot8-9 = 9240694,5343
Y10 = Y9 + d9-10.cos9-10 + fy.bobot9-10 = 9240708,5028
Y11 = Y10 + d10-11.cos10-11 + fy.bobot10-11 = 9240716,5392
Y12 = Y11 + d11-12.cos11-12 + fy.bobot11-12 = 9240725,3828
Y13 = Y12 + d12-13.cos12-13 + fy.bobot12-13 = 9240733,6758
Y14 = Y13 + d13-14.cos13-14 + fy.bobot13-14 = 9240751,1760
Y15 = Y14 + d14-15.cos14-15 + fy.bobot14-15 = 9240746,1074
Y16 = Y15 + d15-16.cos15-16 + fy.bobot15-16 = 9240737,7337
Y17 = Y16 + d16-17.cos16-17 + fy.bobot16-17 = 9240723,0455
Y18 = Y17 + d17-18.cos17-18 + fy.bobot17-18 = 9240704,2567
Y19 = Y18 + d18-19.cos18-19 + fy.bobot18-19 = 9240686,4417
Y20 = Y19 + d19-20.cos19-20 + fy.bobot19-20 = 9240665,3918

KONTROL

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Y1 = Y20 + d20-1.cos20-1 +fy.bobot20-1 = 9240644,8850 .... OK!

5.5 MENCARI LUAS


Menggunakan rumus Sarrus
Metode Bowditch
Untuk
145358552621748
Untuk

145358552608182

6783,0469

Metode Transit
Untuk
145359815396928
Untuk

145359815384056
6785,7500

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

5.6

Gambar Hasil Pengukuran


Langkah-langkah penggambaran adalah sebagai berikut:
a.

Buka program autocad

b.

Buatlah kop untuk penggambaran situasi poligon

c.

Atur skala yang diinginkan

d.

Masukan data koordinat dengan cara polyline satu per satu hingga
semuanya kembali ke asal titik ikatan.

e.

Rotasi secara tegak agar terlihat enak di pandang sesuaikan dengan


peta situasi pengukuran poligon.

f.

Lengkapi, dengan legenda, penamaan dan nilai-nilai pengukuran agar


terlihat mudah dimengerti.

g.

Atur penggambaran serapih mungkin sehingga tidak banyak terjadi


kesalahan penggambaran, karena penggambaran ini akurat sesuai data
yang di dapat.

5.7

Penyajian Peta
Setelah pengolahan data selesai, maka langkah selanjutnya adalah
menyajikan data hasil pengukuran dengan menggunakan Microsoft Excel.
Sedangkan untuk menyajikan hasil pengukuran secara grafis dapat
menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel, akan tetapi proporsi gambar
dengan menggunakan Microsoft Excel tidak memiliki keakuratan yang tepat.
Untuk itu dapat digunakan perangkat lunak lain seperti Auto cad, Visio dll,
yang memang di khususkan untuk menyajikan data secara grafis khususnya
dalam bidang keteknik sipilan.

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
Sedangkan penyajian hasil pengukuran dapat disajikan dalam bentuk
konvensional (manual) dan modern (digital). Penyajian peta secara manual
dan

digital

memiliki

keuntungan

dan

kekurangan

masing-masing,

keuntungan-keuntungan dari penyajian peta dalam bentuk digital adalah :


1. Proses pembuatannya relatif cepat
2. Murah dan akurasinya tinggi
3. Tidak dibatasi skala dalam penyajiannya
4. Jika perlu melakukan revisi mudah dilakukan dan tidak perlu
mengeluarkan banyak biaya
5. Dapat melakukan analisis spasial (keruangan) secara mudah
Setelah data hasil pengukuran dihitung, maka kegiatan selanjutnya adalah
mencetak (Print out). Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam mencetak
hasil pengukuran adalah kombinasi ukuran kertas yang digunakan, skala peta,
jenis kertas, dll supaya lebih efektif dan efisien.
Penyajian peta juga harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.

Ukuran kertas
Ukuran kertas yang digunakan untuk pencetakkan peta biasanya seri

A.. Dasar ukuran adalah A0 sebesar 841 x 189 mm, yang luasnya setara
dengan 1 meter persegi. Setiap angka setelah huruf A menyatakan setengah
ukuran dari angka sebelumnya. Jadi, A1 adalah setengah dari A0, A2 adalah
seperempat dari A0 dan A3 adalah seperdelapan dari A0. perhitungan yang
lebih besar dari A0 adalah 2A0 atau dua kali ukuran A0.
Tabel 2 : Ukuran Kertas
Ukuran Kertas
A0

Panjang (mm)
1189

Lebar (mm)
841

A1

841

594

A2

594

420

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
A3

420

297

A4

297

210

A5

210

148

A1

A3

A2

A4

Gambar 14 : Pembagian Kertas Seri A


2.

Legenda
Supaya peta jelas dan dapat dibaca, maka digunakan tanda-tanda atau

simbol-simbol untuk menyatakan elemen-elemen yang ada di atas permukaan


bumi. Untuk dapat membayangkan tinggi rendahnya permukaan bumi, maka
digunakan garis-garis tinggi atau kontur yang menghubungkan daerah-daerah
yang memiliki ketinggian sama di atas permukaan bumi.
3.

Skala
Skala pada peta, dapat digunakan skala numeris dan grafis. Skala

numeris yaitu skala yang menyatakan perbandingan perkecilan yang ditulis

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010
dengan angka, misalnya skala 1 : 25000 atau skala 1 : 50000. Skala grafis
adalah skala yang digunakan untuk menyatakan panjang garis di peta dan
jarak yang diwakilinya di lapangan melalui informasi grafis. Besar kecilnya
skala gambar disesuaikan dengan kebutuhan.
1

0.5

KILOMETER
Gambar 15 : Skala Grafis
4.

Anggota yang melakukan pengukuran


Perlu koordinasi yang tepat dalam melakukan pengukuran agar

pengukuran dapat berjalan dengan baik. Peran ketua kelompok dalam suatu
pengukuran adalah penting dalam proses pengukuran.

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

BAB VI
PENUTUP

6.1

Kesimpulan
Praktikum survey dan pemetaan atau ilmu ukur tanah adalah suatu kegiatan
dalam menganalisis suatu objek wilayah. Selain itu dalam Pengukuran Poligon
Kerangka Dasar Horizontal (KDH) bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan
pembacaan sudut yang kemudian nanti menghasilkan nilai koordinat dan juga luas
area pengukuran tersebut. Yang dimana pengukuran ini bermanfaat untuk membuat
kerangka peta, pengukuran titik tetap dalam kota, dan pengukuran-pengukuran
rencana jalan raya/ kereta api maupun rencana saluran air. Dalam hasilnya kami juga
mendapatkan penggambaran secara digital yaitu situasi titik-titik poligon sehingga
terlihat jelas dan akurat.

6.2

Saran
Diperlukan kekompakan

surveyor yang tinggi agar pengukuran dapat

berjaan dengan lancar. Dalam suatu pengukuran, bukan tidak mungkin akan terjadi
kesalahan-kesalahan sistematis yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti faktor
teknis dan non teknis. Selain itu diperlukan pemahaman dalam mengolah data
Kerangka Dasar Horizontal hingga akhir yang diinginkan.

58

LAPORAN PRAKTIKUM KERANGKA DASAR


HORIZONTAL
Naomi Frisda S 1005219 Kel 1 2010

DAFTAR PUSTAKA
Purwaamijaya, I.M.2007. ____ Petunjuk Praktikum Ilmu Ukur Tanah. Jurusan Pendidikan
Teknik Sipil, FPTK, UPI. Bandung
Wongsotjitro, S.1991. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta : Kanisius.
Sosrodarsono, S.1997. Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan. Jakarta:Pradnya
Paramitha.
Wongsotjitro, S.1992. Ilmu Ukur Tanah. Kanisius, Jogyakarta.
Sianipar, N.F. 2013. Laporan Manual Perhitungan Kerangka Dasar Horizontal. Jurusan
Pendidikan Teknik Sipil, FPTK, UPI. Bandung

58