Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Undang-Undang Dasar 1945 telah mengamanatkan bahwa negara wajib


melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi kebutuhan dasarnya
dalam rangka pelayanan umum dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Penyelenggaraan pelayanan publik yang dilaksanakan oleh aparatur pemerintah dalam
berbagai sektor pelayanan.
Yang pada dasarnya menyangkut berbagai aspek kehidupan yang sangat luas.
Dalam kehidupan bernegara, maka pemerintah memiliki fungsi memberikan berbagai
pelayanan publik yang diperlukan dan dibutuhkan oleh masyarakat, mulai dari
pelayanan dalam bentuk pengaturan atau pun pelayanan-pelayanan lain dalam rangka
memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, jasa, dan
lainnya.
Kinerjan pelayanan publik masih belum seperti yang diharapkan, sehingga
masih banyak pelayanan-pelayanan pemerintah yang belum memuaskan dan masih
harus diperbaiki. Buruknya kinerja pelayanan publik ini antara lain dikarenakan belum
dilaksanakannya transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pelayanan
publik.
Di Indonesia, upaya memperbaiki pelayanan sebenarnya juga telah sejak lama
dilaksanakan oleh pemerintah, antara lain melalui Inpres No. 5 Tahun 1984 tentang
Pedoman Penyederhanaan dan Pengendalian Perijinan di Bidang Usaha. Upaya ini
dilanjutkan dengan Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
No. 81/1993 tentang Pedoman Tatalaksana Pelayanan Umum.
Namun pada kenyataannya masih banyak pelayanan yang belum berjalan
secara maksimal. Pelayanan publik didalam bidang pendidikan masih belum
terlaksana secara maksimal. Masih banyak masalah didalam bidang pendidikan. Jika
kualitas pendidikan suatu bangsa rendah, maka akan mengakibatkan kemiskinan dari
berbagai segi. Oleh karena itu membuat makalah ini dengan judul kualitas
pelayanan publik dalam bidang pendidikan yang mempengaruhi kemiskinan"
1

1.2 Rumusan Masalah


1
2
3
4

Bagaimana pengertian pelayanan publik menurut beberapa ahli?


Mengapa kinerja pelayanan publik masih belum berjalan secara maksimal?
Bagaimana pelayanan publik dibidang pendidikan?
Apakah hubungan antara pendidikan dan kemiskinan?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian pelayanan publik menurut para ahli.
2. Untuk mengetahui kinerja pelayanan publik.
3. Untuk mengetahui kualitas pelayanan publik dibidang pendidikan.
4. Untuk mengetahuihubungan pendidikan dan kemiskinan.

BAB II
PEMBAHASAN
2

2.1 Pengertian Pelayanan Publik


Secara luas pelayanan publik atau pelayanan umum dapat didefinisikan sebagai
segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik
yang pada prinsipnya menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh Instansi
pemerintah di Pusat, di Daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau
Badan Usaha Milik Daerah, dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat
maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ada
definisi tentang pengertian pelayanan publik menurut beberapa ahli :
1) Teori pertama, Menurut Widodo Joko, 2001.
Pelayanan Publik dapat diartikan sebagai pemberian pelayanan (melayani) keperluan
orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi tersebut sesuai
dengan aturan pokok dan tata cara yang telah di tetapkan.
2) Teori kedua, Menurut Sadu Wasistiono 1994
pelayanan umum adalah pemberian jasa baik oleh pemerintah ataupun pihak swasta
kepada masyarakat dengan atau tanpa pembayaran guna memenuhi kebutuhan dan
atau kepentingan masyarakat.
3) Teori ketiga, Menurut Robert, 1996.
Pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan
oleh instansi pemerintah pusat, di daerah dan lingkungan badan usaha milik negara
atau daerah dalam, barang atau jasa baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan
masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketertiban-ketertiban.

4) Teori keempat, Menurut Batinggi,1998.


Pelayanan publik dapat diartikan sebagai perbuatan atau kegiatan yang dilakukan
oleh pemerintah untuk mengurus hal-hal yang diperlukan masyarakat atau khalayak
umum. Dengan demikian, kewajiban pemerintah adalah memberikan pelayanan publik
yang menjadi hak setiap warga negara.
3

Dari ketiga teori tersebut menurut pandangan saya yang paling sesuai adalah
teori ketiga menurut Menurut Batinggi,1998. Yang menyatakan bahwa, Pelayanan
publik dapat diartikan sebagai perbuatan atau kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah untuk mengurus hal-hal yang diperlukan masyarakat atau khalayak umum.
Dengan demikian, kewajiban pemerintah adalah memberikan pelayanan publik yang
menjadi hak setiap warga negara. Karena dalam teori ini telah dijelaskan untuk
memberikan pelayanan publik, dilakukan sebuah perbuatan dan kegiatan untuk
memberikan pelayan publik yang menjadi hak setiap warga negara.

2.2 Kualitas pelayanan publik kita saat ini


Kualitas pelayanan publik kita saat ini masih jauh dari harapan. Dapat
dikatakan juga, belum berjalan secara maksimal. Faktor yang mempengaruhi
pelayanan publik belum berjalan secara maksimal adalah ketika perputaran pergantian
kepemimpinan karena lembaga itu tidak memiliki konsep pelayanan publik yang
berkelanjutan. Misalnya, selama lima tahun pejabat bupati, wali kota, gubernur,
presiden, selalu mencalonkan kembali dan berkampanye.
Tetapi konsep pelayanan publik kan tidak berjalan lima tahun. Konsep
pelayanan publik itu seharusnya bersifat jangka menengah dan panjang. Sehingga
membuat pelayanan publik tidak selesai dalam lima tahun. Ganti pemimpin, ganti
konsep. Hal ini dapat mengganggu peningkatan kualitas pelayanan publik. Selain itu,
kinerja pelayanan publik belum dilaksanakannya transparansi dan akuntabilitas dalam
penyelenggaraan pelayanan publik.
Oleh karena itu, pelayanan publik harus dilaksanakan secara transparan dan
akuntabel oleh setiap unit pelayanan instansi pemerintah karena kualitas kinerja
birokrasi pelayanan publik memiliki implikasi yang luas dalam mencapai
kesejahteraan masyarakat. Contohnya didalam bidang pendidikan. untuk mewujudkan
pelayanan yang berkualitas, transparan dan akuntabel antara lain telah ditetapkan
Keputusan Men.PAN Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum
Penyelenggaraan Pelayanan Publik.
Namun demikian transparansi dan akuntabilitas yang merupakan kewajiban
yang harus dilaksanakan secara utuh oleh setiap instansi dan unit pelayanan instansi
4

pemerintah sesuai dengan tugas dan fungsinya belum juga dapat dilaksanakan secara
menyeluruh. Transparansi dan akuntabilitas harus dilaksanakan pada seluruh aspek
manajemen pelayanan publik, meliputi kebijakan, perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan/ pengendalian, dan laporan hasil kinerjanya. Transparansi dan
akuntabilitas hendaknya dimulai dari proses perencanaan pengembangan pelayanan
publik karena sangat terkait dengan kepastian berusaha bagi investor baik dalam
negeri maupun luar negeri, serta kepastian pelayanan bagi masyarakat umum yang
memerlukan dan yang berhak atas pelayanan.

2.3 Pelayanan Publik dibidang Pendidikan


Sebelum kita membahas mengenai permasalahan-permasalahan pendidikan di
Indonesia secara luas, sebaiknya kita melihat definisi dari pendidikan itu sendiri
terlebih dahulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata
dasar didik (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan)
mengenai

akhlak

dan

kecerdasan

pikiran.

Sedangkan pendidikan mempunyai

pengertian yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok
orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan,
proses perbuatan, cara mendidik.
Jika bicara masalah pendidikan banyak hal yang dapat diangkat. Antara lain
sarana pendidikan, pelaku pedidikan mulai dari pengajar hingga siswa yang diajar.
Bagaimana pelayanan publik dalam bidang pendidikan? Berbicara tentang pelayanan
publik di bidang pendidikan, Pengaduan di bidang pendidikan merupakan yang paling
banyak. Karena pendidikan ini merupakan sektor yang paling banyak bersentuhan
dengan masyarakat umum. Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat
memprihatinkan.
Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat
Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari
peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang
menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di
antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997),
5

ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).


Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas
pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi
Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic
Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya
menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut
survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan
sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.
Banyak masalah yang dihadapi oleh pelayanan publik dalam bidang pendidikan,
mengakibatkan kualitas pendidikan di Indonesia belum terlaksana secara efisien dan
efektif. Berbagai faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia semakin
terpuruk. Faktor-faktor tersebut yaitu,

Rendahnya Kualitas Sarana Fisik belajar.


Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi

kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar


rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak
standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya.
Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak
memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat
146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258
ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12%
berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan
sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI
diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk
daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA,
MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.
Dibawah ini adalah beberapa contoh potret buruknya kualitas sarana fisik belaja di
Papua :
6

Potret fasilitas pendidikan di


Papua
Barat.
Sangat memprihatinkan. Hal ini merupakan akibat dari kesejahteraan bangsa
Indonesia yang kurang merata. Padahal penduduk Indonesia bagian timur itu juga
merupakan bagian dari Indonesia ini.

Potret suasana pembelajaran anak-anak SD di Papua. Fasilitas yang digunakan sangat


minim dan terkesan apa ad
Kualitas guru pengajar
7

Keadaan guru di Indonesia juga sangat memprihatinkan. Kebanyakan


guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan
tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu
merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan
penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu
keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan
dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil
sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.
Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih
rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

Adanya pungutan liar


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melarang sekolah negeri
menarik pungutan yang memberatkan siswa di sekolah itu . Sekolah negeri
sudah mendapatkan anggaran dari pemerintah, namun pada kenyataanya
masih banyak pihak sekolah yang melakukan pungutan liar terhadap siswasiswinya. Dengan berbagai alasan, pihak sekolah meminta para siswa-siswi
membayar sejumlah uang yang telah ditetapkan nominalnya atau dengan dali
sukarela.
Perbuatan tersebut termasuk dalam tindak pidana koruptor yang telah
dijelaskan dalam aturan Pasal 12 c UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana
telah diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi (Tipikor), perbuatan pungutan liar yang dilakukan oknum
kepala sekolah dan guru, dapat dikategorikan sebagai gratifikasi. Gratifikasi
bisa dilakukan oleh PNS dan tidak memandang besar kecil nominal.

Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan


Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat
Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan
Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan
8

Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai
94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi.
Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8%
(9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat
terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan
menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh
karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat
untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
Mahalnya biaya pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk
menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk
mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman
Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat
miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin
tidak boleh sekolah.
Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000,
sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta.
Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya
sebatas yang saya bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu
pendidikan kita. Telah dijelaskan,

dalam UU Nomor 20/2003 tentang sistem

pendidikan nasional disebutkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang
sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Bahkan warga negara yang
memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelekt ual, dan sosial berhak
memperoleh pendidikan khusus. Demikian pula warga negara di daerah terpencil atau
terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan
layanankhusus.
Itu artinya, dimanapun kita berada baik di Papua atau pun di Jawa kita berhak
mendapatkan fasilitas yang sama. Namun pada kenyataannya, didaerah-daerah yang
terpolosok seperti di Papua masih banyak sekolah-sekolah yang belum mendapatkan
fasilitas dengan layak dan kesejahteraan yang tidak merata. Sedangkan
9

dengan

putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-VI I 2008, pemerintah harus


menyediakan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan
APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
Anggaran pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi pendidikan yang
dianggarkan melalui kementerian negara/lembaga dan alokasi anggaran pendidikan
melalui transfer ke daerah, termasuk gaji pendidik, namun tidak termasuk anggaran
pendidikan kedinasan, untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi
tanggung jawab pemerintah. Jadi kemana aliran anggaran negara yang telah
dikeluarkan pemerintah untuk pendidikan? Yang seharusnya masyarakat kalangan
menengah

kebawah

dapat

mengenyam

pendidikan

secara

layak.

2.4 Hubungan antara Pendidikan dan kemiskinan


Setiap bangsa yang ingin mencapai kemajuan, menganggap pendidikan sebagai
salah satu dari berbagai kebutuhan vital dan itu sama halnya dengan kebutuhan akan
pangan, sandang dan papan. Bahkan dalam bangsa yang kecil yaitu keluarga,
pendidikan adalah kebutuhan pokok. Dalam arti bahwa, mereka akan mampu
mengurangi kualitas rumah dan bahan makanannya dan mengupayakan pendidikan
tinggi untuk anaknya.
Maka sebaiknya negara juga demikian halnya. Apabila suatu negara ingin cepat
mendapat kemajuan dan perkembangan dalam segala aspek kehidupan, maka prioritas
utama pembangunan adalah pembangunan di bidang pendidikan. Pendidikan adalah
topik yang tidak akan pernah ada habis-habisnya, sebab siapapun, di manapun,
kapanpun, bagaimanapun dan apapun yang terjadi kita harus tetap belajar agar
memperoleh pendidikan yang baik agar kualitas Sumber Daya Manusia di negara kita
dapat maju dan berkembang.
Sejak lama, negeri ini selalu menggalakkan program wajib belajar. Maksud
pemberian wajib belajar itu adalah untuk tujuan yang baik. Wajib belajar itu adalah
pemberian pelayanan kepada anak bangsa untuk memasuki sekolah dengan biaya
murah dan terjangkau oleh kemampuan masyarakat banyak.
Pada umumnya penduduk di Indonesia adalah kalangan yang terbilang belum
10

mampu dalam hal materi. Sehingga, pemerintah pada akhir-akhir ini selalu berusaha
memberikan bantuan khusus kepada sekolah-sekolah atau lebih dikenal dengan BSM
(Bantuan Siswa Miskin). Bantuan itu adalah guna meningkatkan mutu kinerja tenaga
pendidik dan yang terdidik.
Kemiskinan selalu jadi bayang-bayang di balik pendidikan kita. Kemiskinan
menjadikan semuanya semakin kacau. Namun bagaimanapun juga, pendidikan tetap
dinomorsatukan, sebab jika tak ada ilmu tidak akan kita dapati perbaikan kemiskinan.
Kita akan tetap seperti posisi seperti ini di sepanjang tahun. Pendidikan menurut
ketentuan perundang-undangan adalah kewenangan pemerintah daerah. Akan tetapi,
sejauh ini belum ada realisasi yang nyata di lapangan.
Cara pembagian anggaran dan pengelolaannya belum ada kejelasannya.
Otonomi daerah sering menjadikan sistem pendidikan berubah arah. Selalu terdapat
penyelewengan. Dalam target penurunan kemiskinan, diutarakan bahwa hal utama
yang harus dibenahi duluan adalah bidang pendidikan yang semakin merosot.
Perbaikan itu tentunya haruslah ke arah yang lebih baik dan lebih nyata.
Masalah yang terjadi bukan hanya pada persoalan mengenai rendahnya kualitas
pendidikan dinegara kita. Tetapi juga terhadap Rendahnya Relevansi Pendidikan
Dengan Kebutuhan. Yang dimaksud adalah banyaknya anak-anak bangsa kita yang
telah menyelesaikan pendidikannya tetapi mereka tetap juga belum mendapatkan
pekerjaan.
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data
BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka
pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0
sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama
pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan
yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%.
Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak
putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah
ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan
kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang fungsional
terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
11

Sedangkan pada jaman sekarang, kuota pekerjaan semakin sedikit karena


banyaknya angka kelulusan yang belum memenuhi persyaratan pekerjaan tersebut
dikarenakan kurangnya pendidikan. Jika kualitas pendidikan dinegara ini masih tetap
rendah dan tidak diperbaiki maka akan menyebabkan angka pengangguran yang
cukup tinggi dan kehidupan masyarakat kita akan akan menjadi miskin dan minimnya
kesejahteraan.
Akibat dari rendahnya pendidikan masyarakat, rendahnya kualitas sarana dan
banyaknya lulusan yang menganggur, akan mendorong manusia untuk melakukan
tindakan kriminalitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Maka dari itu
pemerintah seharusnya bisa menyebar luaskan sarana pekerjaan agar bisa mengurangi
angka presentase pengangguran dinegeri ini.
Dengan peningkatan mutu pendidikan secara otomatis pengangguran akan
berkurang, kebodohan dapat diatasi dengan mudah. Namun bagaimanapun ceritanya,
pemerintahlah yang harus memberikan tanggung jawab penuh pada masalah ini.
Seperti yang dikatakan Presiden Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah
sepenuhnya, kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas di
Gedung Depdiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (12/3/2007).

BAB III
KESIMPULAN
Dari makalah di atas, dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan publik kita
saat ini masih jauh dari harapan. Terutama kualitas pelayann publik dalam bidang
pendidikan. Kualitas pelayanan publik di negara kita masih sangat rendah. Banyak
12

faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan, yaitu rendahnya kualitas sarana


fisik belajar mahalnya biaya pendidikan, kurangnya pemerataan kesempatan
pendidikan, adanya pungutan liar dalam dunia pendidikan, kualitas guru pengajar. Dan
menurut saya jika kita menginnginkan negara kita maju dan berkembang seharusnya
pemerintah melakukan pelayanan yang cukup maksimal kepada siswa yang kurang
mampu seperti memberikan beasiswa kepada siswa atau mahasiswa yang miskin /
kurang mampu, memberi penghargaan kepada siswa yang menang dalam perlombaan
dalam bidang pendidikan. Dan untuk mengantisipasi banyaknya kemiskinan
hendaknya pemerintah lebih bisa membuka

banyaknya lapangan kerja untuk

pengangguran agar pengangguran dinegara ini mengalami pengurangan dan


kemiskinan dinegara ini.

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Kridawati Sadhana, M.S, Etika Birokrasi Dalam Pelayanan Publik, CV. Citrab Malang,
2010, Malang, h. 131.
13

Dr. Kridawati Sadhana, M.S, Etika Birokrasi Dalam Pelayanan Publik, CV. Citrab Malang,
2010, Malang, h. 132.
Robert, 1996, Pelayanan publik, PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA, 30

http://id.wikipedia.org/wiki/Undang-Undang_Pelayanan_Publik. diakeses pada tanggal 27


desember 2013, pukul 15.00 WIB
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/1601/BAB%20II.pdf?sequence=4.
Diakses pada tanggal 27 desember 2013, pukul 15.45 WIB
http://m.sindoweekly-magz.com/artikel/19/i/12-18-juli-2012/qanda/29/pelayanan-publikmasih-buruk. Diakses pada tanggal 28 desember 2013, pukul 17.53 WIB
http://www.antaranews.com/berita/378971/sekolah-negeri-dilarang-tarik-pungutan.
pada taggal 28 Desember 2013, pukul 18.34 WIB

14

Diakses

Anda mungkin juga menyukai