Anda di halaman 1dari 7

CARBON BLACK :Indonesia Kekurangan Pasok 9000 TON/Tahun

Sumber : www.industri.bisnis.com
Kamis, 21/06/2012 21:37 WIB
JAKARTAIndonesia masih kekurangan produk karbon hitam (carbon black) sebanyak
90.000 ton per tahun karena didorong permintaan yang tinggi dari industri ban.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, saat ini kebutuhan karbon hitam nasional
mencapai 240.000 metrik ton per tahun. Akan tetapi, industri baru bisa memenuhi
permintaan pasar sebanyak 150.000 metrik ton per tahun.
Direktur Kimia Dasar Ditjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Tony
Tanduk menuturkan saat ini industri nasional yang memproduksi karbon hitam hanya satu
perusahaan, yakni PT Cabot Indonesia.
Permintaan black carbon dari industri ban terus meningkat seiring dengan tingginya
permintaan mobil dan motor, katanya kepada Bisnis hari ini, Kamis (20/6/2012)
PT Cabot Indonesia akan menambah kapasitas terpasang produksi karbon hitam sebanyak
140.000 metrik ton per tahun dengan investasi sebesar US$100 juta.
Gerry Howan, Direktur PT Cabot Indonesia, menuturkan ekspansi tersebut direalisasikan
dengan membangun pabrik di Kawasan Cilegon, Banten.
Menurutnya, saat ini kapasitas terpasang produk karbon hitam perusahaan tersebut
mencapai 150.000 metrik ton per tahun. Adapun permintaan produk tersebut mencapai
240.000 metrik ton per tahun.
Dengan penambahan kapasitas produksi tersebut, berarti anak perusahaan Cabot
Corporation itu telah memiliki produksi sebanyak 290.000 metrik ton.
Produksi kami masih jauh rendah dibandingkan dengan permintaan yang ada di pasar,
ujarnya. Dengan penambahan kapasitas produksi tersebut, perusahaan tersebut berharap
bisa memenuhi permintaan produk yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Dia mengungkapkan permintaan produk yang bisa digunakan untuk bahan baku ban
tersebut diprediksi bisa mencapai 300.000 metrik ton pada 3 tahun ke depan.
Dengan pertumbuhan permintaan produk karbon hitam tersebut di pasar, berarti kami
telah memenuhi sebagian besar permintaan pasar, tuturnya.
Dia menjelaskan 90% permintaan karbon hitam berasal dari industri ban, sedangkan sisanya
berasal dari sejumlah industri, terutama industri produk karet.
Untuk memproduksi karbon hitam, selama ini Cabot masih mengandalkan bahan baku
impor. Dia berharap masalah bahan baku bisa teratasi pada tahun depan, dengan pasokan
yang berasal dari PT Krakatau Steel Tbk.
Buangan atau residu dari produksi PT Krakatau Steel Tbk bisa kami gunakan untuk bahan
baku, tuturnya.(sut)

Mendag: BMAD Karbon Hitam Tetap Diperpanjang


Sumber : www.antaranews.com
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Perdagangan (Mendag), Mari Elka Pangestu, menegaskan
bahwa Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) untuk impor karbon hitam (carbon black) tetap
diperpanjang meski ada protes dari kalangan industri barang dari karet sebagai pengguna
karbon hitam.
"Masalah utamanya eksportir `carbon black` tidak `cooperative`. Kita tidak memperoleh
informasi dari eksportir India dan Thailand sehingga setelah dievaluasi dan dihitung
kesimpulan dari analisanya adalah bahwa `injury` (berbagai kerugian yang dialami industri
karbon hitam dalam negeri) masih bisa terjadi maka itu diperpanjang," kata Mendag di
Jakarta, Rabu.
Perpanjangan pengenaan BMAD itu, lanjut Mendag, dapat berlaku tanpa memerlukan Surat
Keputusan (SK) baru dari Menteri Keuangan.
"Kalau memang kita tidak usulkan untuk diubah berarti diperpanjang. Perpanjangan tidak
perlu SK baru karena ini hasil `review` (peninjauan ulang)," ujarnya.
Karbon hitam adalah serbuk hitam yang berfungsi sebagai pewarna dan penguat
(reinforcing) dalam proses produksi di industri barang-barang berbahan baku karet, seperti
ban, suku cadang otomotif, film plastik, pipa, dan kabel listrik.
Kebijakan untuk memperpanjang penerapan bea masuk anti dumping (BMAD) sampai 2009,
diprotes sejumlah industri di dalam negeri.
"PT Cabot Indonesia (produsen karbon hitam) sebelumnya monopoli. Masa sendiri
dilindungi. Kan ada 13 pabrik ban, berpuluh-puluh pabrik `sparepart` karet, berpuluh-puluh
pabrik sepatu karet. Itu semua pakai karbon hitam," ujar Ketua Asosiasi Produsen Ban
Indonesia (APBI) Azis Pane di Jakarta, Selasa (8/5).
Ia mengatakan rekomendasi KADI yang memperpanjang BMAD dari seharusnya berakhir 28
April 2007 menjadi September 2009 dinilai kontraproduktif terhadap program pemerintah
meningkatkan kinerja industri hilir berbasis bahan baku lokal, terutama karet, sebagai
pengguna karbon hitam.
Apalagi untuk memajukan industri hilir berbahan baku karet, pemerintah, lanjut dia, sudah
menghapus PPN karet, sehingga daya saing dan minat mengembangkan industri hilir
meningkat.
"Kalau mau memajukan industri berbasis karet agar bisa memberi nilai tambah, jangan
bahan bakunya yang dihantam (dengan penerapan BMAD)," kata Azis.
Karbon hitam ("carbon black") adalah serbuk hitam yang memberi warna dan merupakan
komponen penting dalam produksi industri berbahan karet seperti ban, suku cadang

otomotif, film plastik, pipa, kabel listrik, dan lain-lain.


Azis mengatakan selama sekitar dua tahun diterapkan BMAD seharusnya PT Cabot
Indonesia sebagai satu-satunya produsen bisa bersaing dan tidak boleh dilindungi lagi.
Akibat penerapan BMAD, kata Azis, harga karbon hitam di dalam negeri meningkat dan
perbedaannya dengan harga impor mencapai 17 persen.
"Kalau harga bahan bakunya saja mahal, akan mengurangi daya saing industri hilirnya,
karena biaya produksinya jadi lebih mahal," ujarnya.
Menurut dia, keberatan industri dalam negeri pengguna karbon hitam terhadap rekomendasi
KADI itu sudah disampaikan ke Menteri Perdagangan (Mendag) Mari E Pangestu dan Kadin
Indonesia juga mendukung keberatan sejumlah industri tersebut.

Sejarah
Petisi antidumping produk impor karbon hitam, diajukan pada bulan September 1999 oleh
PT. Cabot Indonesia dan PT. Karbon Indonesia.
Inisiasi petisi tuduhan dumping itu dilakukan sejak tanggal 3 Desember 1999 kepada tiga
negara yang diduga melakukan praktek dumping yaitu India, Thailand, dan Republik Korea.
Periode investigasi dimulai sejak 3 Desember 1999 hingga 2 Juni 2001.
Hasil penyelidikan menemukan bahwa pihak petisioner telah mengalami kerugian pada
periode investigasi yang terindikasi dari penurunan produksi, penjualan, pangsa pasar,
utilisasi
kapasitas, keuntungan, return on investment, cash flow, dan tenaga kerja.
Terdapat bukti causal link (sebab akibat) bahwa kerugian Petisioner disebabkan dumping
dari India, Thailand, dan Republik Korea, yang dibuktikan dengan adanya volume effect
(peningkatan impor dan pangsa impor) serta price effect pada periode investigasi.
Disclosure (Laporan Hasil Penyelidikan) dikeluarkan pada tanggal 12 April 2001. Tanggapan
atas disclosure diterima dari Philips Carbon Black, Korea Steel Chemical, Columbia Chemical
Korea, Korean Carbon Black, Thai Carbon Black.
Atas usulan pengenaan BMAD oleh Menteri Perdagangan, kemudian Menteri Keuangan
menetapkan pengenaan BMAD pada tanggal 6 September 2004 melalui keputusan
No.397/KMK.01/2004.
Perusahaan yang terkena BMAD adalah India sebesar 11 persen (untuk Philips Carbon Black
dan produsen/eksportir lainnya), Republik Korea (Korea Steel Chemical 10 persen, Columbia

Chemical Korea 7 persen, Korean Carbon Black 9 persen, sedangkan produsen/ eksportir
lainnya 10persen), Thailand (Thai Carbon Black 17 persen yang juga berlaku untuk
produsen/eksportir lainnya). (*)

Rabu, 20 Juni 2012 | 09:19

Cabot Indonesia Investasi US$100 Juta


Ilustrasi--Gas Karbon keluaran sebuah pabrik. (AFP)
Kami akan ekspansi menaikkan kapasitas hampir dua kali lipat. Yakni,
menambah kapasitas terpasang sebesar 140 ribu ton per tahun
Produsen karbon hitam (carbon black) PT Cabot Indonesia (Cabot) berinvestasi untuk
ekspansi kapasitas produksi hingga dua kali lipat. Direktur Cabot Gerry Howan
mengatakan, kapasitas terpasang pabrik saat ini sekitar 150 ribu ton per tahun. Sementara,
permintaan pasar mencapai 230 ribu ton.
"Kami akan ekspansi menaikkan kapasitas hampir dua kali lipat. Yakni, menambah kapasitas
terpasang sebesar 140 ribu ton per tahun. Nilai investasinya sekitar US$ 100 juta. Lokasinya
sama di Cilegon," kata Gerry usai pertemuan tertutup dengan Menteri Perindustrian MS
Hidayat di kantornya di Jakarta, hari ini.
Untuk itu, Gerry mengharapkan, dukungan pemerintah melalui Menteri perindustrian M.S.
Hidayat.
"Pada kesempatan yang baik ini, kami diundang pak Menteri, dan kami ingin pergunakan
sebaik-baiknya. Untuk meminta bantuan dan pertolongan dari pak Menteri supaya rencana
ekspansi ini bisa berjalan dengan baik," ujar Gerry.
Pertemuan tersebut juga menghadirkan pimpinan perusahaan asing asal Eropa dan Amerika
Serikat (AS) di Indonesia. Yakni, PT Mercedes-Benz Indonesia, PT Tirta Investama-Danone

Aqua, PT Cabot Indonesia, PT Lafarge Indonesia, PT HM Sampoerna Tbk, PT Dow Chemical,


dan PT BMW Indonesia.
"Mereka menyampaikan kepuasan dan keluhan mereka berinvestasi di sini. Kebanyakan
mereka puas. Kalau pun ada keluhan, seputar perpajakan, infrastruktur, regulasi, dan
masih ribet mengurus perizinan investasi. Mereka mau nambah investasi di sini dan melihat
potensi di sini besar. Seperti Cabot ini. Mereka melihat peluang di industri ban dan otomotif
kita yang tumbuh terus," kata Hidayat.
Sementara itu, Gerry menambahkan, ekspansi itu akan memanfaatkan pasokan bahan baku
dari PT Krakatau Steel Indonesia Tbk. Semua hasil produksi Cabot, kata Gerry, dipasok
sepenuhnya untuk kebutuhan bahan baku industri ban dan otomotif di dalam negeri.
"Kami menaikkan produksi untuk memenuhi permintaan. Seiring naiknya permintaan di
industri ban dan otomotif di sini. Karena itu, dalam 3 tahun, permintaan karbon hitam akan
menjadi 230 ribu ton per tahun. Soal bahan baku, selama ini, kami mengimpor. Nanti, tahun
2013 kami akan menggunakan pasokan dari PT KS," papar Gerry.