Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN
1.I. LATAR BELAKANG
Al Quran sebagai pegangan hidup umat Islam telah mengatur kegiatan bisnis secara eksplisit,
dan memandang bisnis sebagai sebuah pekerjaan yang menguntungkan dan menyenangkan,
sehingga Al Quran sangat mendorong dan memotivasi umat Islam untuk melakukan transaksi
bisnis dalam kehidupan mereka.
Salah satu ajaran Al Quran yang paling penting dalam masalah pemenuhan janji dan kontrak
adalah kewajiban menghormati semua kontrak dan janji (akad), serta memenuhi semua
kewajiban. Al Quran juga mengingatkan bahwa setiap orang akan dimintai
pertanggungjawabannya dalam hal yang berkaitan dengan ikatan janji dan kontrak yang
dilakukannya sebagaimana terdapat dalam Surah Al Israa ayat 34. Hal ini merupakan bukti
nyata bahwa Al Quran menginginkan keadilan terus ditegakkan dalam melakukan semua
kesepakatan yang telah disetujui.
Oleh karena pentingnya kewajiban menghormati serta memenuhi semua akad (kontrak) dalam
kehidupan berbisnis. Maka dari itu saya sebagai penulis mencoba memaparkan bagaimana
aplikasi akad dalam bisnis. Yang penjelasannya akan dismapaikan dalam isi esai berikut ini.
1.2. POKOK MASALAH
Berikut adalah pokok-pokok masalah yang akan dibahas dalam esai ini :
a.
b
c.

Apa definisi dari akad?


Aspek Syariah apa saja yag ada dalam akad?

Bagaimana aplikasi dari akad syariah dalam kehidupan ekonomi ?

d . Apa saja rukun dan syarat akad?


e.macam-macam syarat akad ?
F.Bagaimana pembagian macam-macam akad ?
G.bagaimana berakhirnya akad ?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Secara etimilogi, akad antara lain berarti:[1] ikatan antara dua perkara, baik secara nyata
maupun ikatan secara maknawi, dari satu segi maupun dari dua segi.
Secara umum, pengertian akad dalam arti luas hamper sama dengan pengertian akad dari segi
bahasa menurut pendapat ulama Syafiiyah, Malikiyah, dan Hanabilah yaitu:[2] segala sesuatu
yang dikerjakan oleh seseorang berdasarkan keinginannya sendiri, seperti wakaf, talak,
pembebasan, atau sesuatu yang pembentukannya membutuhkan keinginan dua orang seperti jualbeli, perwakilan, dan gadai.
Pengertian akad secara khususyang dikemukakan oleh ulama Fiqh, antara lain:
Menurut Ibn Abidin, Akad adalah perikatan yang ditetapkan dengan ijab qabul berdasarkan
ketentuan syra yang berdampak pada objeknya.[3]
Menurut Al Kamal Ibn Human, Akad adalah pengaitan salah seorang yang akad dengan yang
lainnya secara syara pada segi yang tampak dan berdampak pada objeknya.[4]
DASAR HUKUM AKAD
Surah AN-NISA AYAT 4
rtinya : Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai
pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada
kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah)
pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (Q.S. An Nisa :
4)[6]
SURAH AL BAQARAH 232
Artinya : Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, Maka
janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal
suaminya[146], apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang
maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu
kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah
mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. (Q.S. Al Baqarah : 232)[7]

2.2 Aspek Syariah Akad


Dalam perbankan syariah semua aturan bukan hanya terpaku pada peraturan-peraturan dari
pihak pemerintah, akan tetapi peraturan dari Al-quran dan As-sunah yang paling utama, sehingga
memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi. Ketentuan-ketentuan akad dalam melakukan
transaksi di perbankan syariah diantaranya :
1. Rukun, seperti: penjual, pembeli, barang, harga, akad/ijab-qabul
2. Syarat, diantaranya :
a. Barang dan jasa harus halal sehingga transaksi atas barang dan jasa yang haram menjadi batal
demi hukum syariah.
b. Harga barang dan jasa harus jelas.
c. Tempat penyerahan harus jelas karena akad berdampak pada biaya transportasi
d. Barang yang ditransaksikan harus sepenuhnya dalam kepemilikan. Tidak boleh menual sesuatu
yang belum dimiliki atau dikuasai seperti yang terjadi pada transaksi.1[2]
2.3 Aplikasi Akad Syariah Dalam Bisnis
Al Quran sebagai pegangan hidup umat Islam telah mengatur kegiatan bisnis secara eksplisit,
dan memandang bisnis sebagai sebuah pekerjaan yang menguntungkan dan menyenangkan,
sehingga Al Quran sangat mendorong dan memotivasi umat Islam untuk melakukan transaksi
bisnis dalam kehidupan mereka.
Al Quran mengakui legitimasi bisnis, dan juga memaparkan prinsip-prinsip dan petunjukpetunjuk dalam masalah bisnis antar individu maupun kelompok.Al Quran mengakui hak
individu dan kelompok untuk memiliki dan memindahkan suatu kekayaan secara bebas dan
tanpa paksaan. Al Quran mengakui otoritas deligatif terhadap harta yang dimiliki secara legal
oleh seorang individu atau kelompok. Al Quran memberikan kemerdekaan penuh untuk
melakukan transaksi apa saja, sesuai dengan yang dikehendaki dengan batas-batas yang
ditentukan oleh Syariah. Kekayaan dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat dan
tindakan penggunaan harta orang lain dengan cara tidak halal atau tanpa izin dari pemilik yang
sah merupakan hal yang dilarang. Oleh karena itu, penghormatan hak hidup, harta dan
kehormatan merupakan kewajiban agama sebagaimana terungkap dalam Surah An Nisaa ayat
29.[9]
Pengakuan Al Quran terhadap pemilikan harta benda, merupakan dasar legalitas seorang Muslim
untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan harta miliknya, apakah dia akan
menggunakan, menjual atau menukar harta miliknya dengan bentuk kekayaan yang lain. Al
Quran memberikan kebebasan berbisnis secara sempurna, baik yang bersifat internal maupun
eksternal. Pembatasan dalam hal keuangan dan kontrol pertukaran juga dibebaskan, karena hal
itu menyangkut kebebasan para pelaku bisnis. Kompetensi terbuka didasarkan pada hukum
natural dan alami, yakni berdasarkan penawaran dan permintaan (supply dan demand).
1

Akan tetapi perlu diingat bahwa legalitas dan kebebasan di atas, jangan diartikan dapat
menghapuskan semua larangan tata aturan dan norma yang ada di dalam kehidupan berbisnis.
Seorang Muslim diwajibkan melaksanakan secara penuh dan ketat semua etika bisnis yang ditata
oleh Al Quran pada saat melakukan semua transaksi, yakni:[10]
1.

Adanya ijab qabul (tawaran dan penerimaan) antara dua pihak yang melakukan transaksi;

2.

Kepemilikan barang yang ditransaksikan itu benar dan sah

3.

Komoditas yang ditransaksikan berbentuk harta yang bernilai

4.

Harga yang ditetapkan merupakan harga yang potensial dan wajar

5. Adanya opsi bagi pembeli untuk membatalkan kontrak saat jika mendapatkan kerusakan
pada komoditas yang akan diperjualbelikan (Khiyar Ar-Ruyah)
6. Adanya opsi bagi pembeli untuk membatalkan kontrak yang terjadi dalam jangka waktu
tertentu yang disepakati oleh kedua belah pihak (Khiyar Asy- Syarth)
Meskipun dalam melakukan transaksi bisnis, seorang Muslim harus juga memperhatikan
keadilan sosial bagi masyarakat luas. Ajaran Al Quran yang menyangkut keadilan dalam bisnis
dapat dikategorikan menjadi dua, yakni bersifat imperatif (perintah) dan berbentuk perlindungan.
Salah satu ajaran Al Quran yang paling penting dalam masalah pemenuhan janji dan kontrak
adalah kewajiban menghormati semua kontrak dan janji, serta memenuhi semua kewajiban. Al
Quran juga mengingatkan bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya dalam hal
yang berkaitan dengan ikatan janji dan kontrak yang dilakukannya sebagaimana terdapat dalam
Surah Al Israa ayat 34. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa Al Quran menginginkan keadilan
terus ditegakkan dalam melakukan semua kesepakatan yang telah disetujui.
Kepercayaan konsumen memainkan peranan yang vital dalam perkembangan dan kemajuan
bisnis. Itulah sebabnya mengapa semua pelaku bisnis besar melakukan segala daya upaya untuk
membangun kepercayaan konsumen. Al Quran berulangkali menekankan perlunya hal tersebut,
melalui ayat-ayat yang memerintahkan umat Islam untuk menimbang dan mengukur dengan cara
yang benar dan akurat, dan memperingatkan dengan keras siapa saja yang melakukan
kecurangan akan mendapat konsekuensi yang pahit dan getir dari Allah SWT.
Dalam membangun sebuah usaha, salah satu yang dibutuhkan adalah modal. Modal dalam
pengertian ekonomi Syariah bukan hanya uang, tetapi meliputi materi baik berupa uang ataupun
materi lainnya, serta kemampuan dan kesempatan. Berbagai macam bentuk akad muamalah
terdapat dalam Ekonomi Syariah guna membangun sebuah usaha, yakni antara lain sebagaimana
yang dipaparkan secara singkat berikut ini.[11]
1. Al Musyarakah (Kerjasama Modal Usaha)

Al Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dan
masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan keuntungan dan resiko akan
ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
Al Musyarakah dalam aplikasi lembaga keuangan Syariah dapat berbentuk:
1.
Pembiayaan Proyek, yaitu pelaku usaha dan Lembaga Keuangan Syariah (selaku pemodal)
sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek tersebut. Setelah proyek selesai, nasabah
mengembalikan dana yang digunakan beserta bagi hasil yang telah disepakati di awal perjanjian
(ijab-kabul).
2.
Modal Ventura, yakni penanaman modal dilakukan oleh lembaga keuangan Syariah untuk
jangka waktu tertentu, dan setelah itu lembaga keuangan tersebut melakukan divestasi atau
menjual bagian sahamnya kepada pemegang saham perusahaan.
2. Al Mudharabah (Kerjasama Mitra Usaha dan Investasi)
Al Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dengan ketentuan pihak pertama
(shahibul maal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola, dan
keuntungan usaha dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak.
Aplikasi Al Mudharabah dalam pembiayaan Lembaga Keuangan Syariah adalah berbentuk:
Pembiayaan Modal Kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa;
Investasi Khusus, disebut juga mudharabah muqayyadah, adalah pembiayaan dengan sumber
dana khusus, di luar dana nasabah penyimpan biasa, yang digunakan untuk proyek-proyek yang
telah ditetapkan oleh nasabah investor (shahibul maal).
3. Al Murabahah (Jual Beli dengan Pembayaran Tangguh)
Al Murabahah adalah jual-beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang
disepakati dengan ketentuan penjual harus memberitahu harga produk yang ia beli dan
menentukan suatu tingkat keuntungan (margin) sebagai tambahannya
Dalam transaksi Al Murabahah harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.

Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah;

2.

Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang telah ditetapkan;

3.

Kontrak harus bebas dari riba;

4.

Penjual harus menjelaskan kepada pembeli jika terjadi cacat atas barang setelah pembelian;

5.

Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian.

Aplikasi Al Murabahah pada Lembaga Keuangan Syariah adalah untuk pembiayaan pembelian
barang-barang investasi. Al Murabahah adalah kontrak untuk sekali akad (one short deal),
sehingga kurang tepat jika digunakan untuk pembiayaan modal kerja.
4. Bai As Salam (Pesanan Barang dengan Pembayaran di Muka)
Bai as salam berarti pemesanan barang dengan persyaratan yang telah ditentukan dan diserahkan
kemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan sebelum barang diterima.
Dalam transaksi Bai as Salam harus memenuhi 5 (lima) rukun yang mensyaratkan harus ada
pembeli, penjual, modal (uang), barang, dan ucapan (sighot).
Bai as Salam berbeda dengan ijon, sebab pada ijon, barang yang dibeli tidak diukur dan
ditimbang secara jelas dan spesifik, dan penetapan harga beli sangat tergantung kepada
keputusan si tengkulak yang mempunyai posisi lebih kuat. Aplikasi Bai as Salam pada Lembaga
Keuangan Syariah biasanya dipergunakan pada pembiayaan bagi petani dengan jangka waktu
yang relatif pendek, yaitu 2-6 bulan. Lembaga Keuangan dapat menjual kembali barang yang
dibeli kepada pembeli kedua, misalnya kepada Bulog, Pedagang Pasar Induk, atau Grosir.
Penjualan kembali kepada pembeli kedua ini dikenal dengan istilah Salam Paralel.
5. Bai Al Istishna (Jual Beli Berdasarkan Pesanan)
Transaksi Bai al Istishna merupakan kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang
melalui pesanan, pembuat barang berkewajiban memenuhi pesanan pembeli sesuai dengan
spesifikasi yang telah disepakati. Pembayaran dapat dilakukan di muka, melalui cicilan, atau
ditangguhkan sampai batas waktu yang telah ditentukan.
Dalam sebuah kontrak Bai al Istishna, pembeli dapat mengizinkan pembuat barang
menggunakan sub kontraktor untuk melaksanakan kontrak tersebut. Dengan demikian, pembuat
barang dapat membuat kontrak istishna kedua untuk memenuhi kewajibannya pada kontrak
pertama. Kontrak seperti ini dikenal sebagai Istishna Paralel
6. Al Ijarah (Sewa/ Leasing)
Al Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa melalui pembayaran sewa
tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (Ownership) atas barang itu sendiri. Dalam
perkembangannya kontrak Al Ijarah dapat pula dipadukan dengan kontrak jual-beli yang dikenal
dengan istilah sewa-beli yang artinya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang oleh
si penyewa pada akhir periode penyewaan.
Dalam aplikasi, Al Ijarah dapat dioperasikan dalam bentuk operating lease maupun financial
lease, namun pada umumnya Lembaga Keuangan biasanya menggunakan Al Ijarah dalam bentuk
sewa-beli karena lebih sederhana dari sisi pembukuan, dan Lembaga Keuangan tidak direpotkan
untuk pemeliharaan asset, baik saat leasing ataupun sesudahnya.
7. Qard Al Hasan (Pinjaman Kebajikan)

Qard adalah akad yang dikhususkan pada pinjaman dari harta yang terukur dan dapat ditagih
kembali serta merupakan akad saling Bantu-membantu dan bukan merupakan transaksi bisnis
secara komersial.
Salah satu fungsi Lembaga Keuangan Syariah adalah ikut serta dalam kegiatan sosial, yang
diaplikasikan dengan menyalurkan dana dalam bentuk qard dari dana yang dihimpun dari hasil
zakat, infaq, dan sadaqah.
Qard al Hasan adalah produk perbankan syariah untuk nasabah yang membutuhkan dana untuk
keperluan mendesak dengan kriteria tertentu dan bukan untuk tujuan konsumtif. Pengembalian
pinjaman ditentukan dalam jangka waktu tertentu dan dapat dikembalikan sekaligus atau
diangsur tanpa tambahan atas dana yang dipinjam.
Dengan demikian, dapat kita lihat, bahwa dalam sistem ekonomi syariah mempunyai produk
yang jauh lebih lengkap dari Lembaga Keuangan yang berdasarkan ekonomi Konvensional,
karena semata-mata hanya menggunakan akad pinjam meminjam dan mengandalkan
pendapatannya dari nilai waktu atas uang yang dipinjamkannya kepada nasabah (debitur) bank
tersebut.

2.4 Rukun dan Syarat Akad


Rukun Akad
Beberapa hal yang dipandang sebagai rukun akad oleh jumhur ulama yaitu:
1. Al aqidain
Al aqidain, atau pihak-pihak yang melakukan akad harus memenuhi persyaratan kecakapan
bertindak hukum (Mukallaf). Apabila pemilik objek adalah orang yang tidak cakap bertindak
hukum seperti orang gila, syafih, anak kecil yang belum mumayyis, maka akadnya harus
dilakukan oleh walinya.
Agar aqidain dapat dianggap cakap melakukan perbuatan hukum, harus memenuhi prinsip
kecakapan (ahliyatul aqid) melakukan akad untuk diri sendiri, atau karena mendapat
kewenangan melakukan akad (al wilayatul aqid) menggantikan orang lain berdasarkan
2.

perwakilan (wakalah).
Mahallul aqad (objek akad)
Mahallul aqad dapat menerima hukum akad, artinya pada setiap akad berlaku ketentuanketentuan khusus yang berkenaan dengan objeknya, apakah dapat dikenai hukum akad atau
tidak. Syarat umum mengenai objek adalah: (a)Berbentuk harta, (b)dimiliki oleh seseorang, dan

(c)bernilai harta dalam pandangan syara.


Jumhur ulama menambahkan ketentuan umum harus suci objeknya.
Syarat-syarat mahallul aqad
1. Objek akad tersedia ketika terjadi akad
2. Mahal al aqd / maqud alaihi dibenarkan oleh syara
3. Mahal Al Aqd harus jelas dan diketahui oleh aqidain

4. Objek akad harus suci.2[3]


3. Maudhuul akad (tujuan akad)
Yang dimaksud dengan maudhuul akad adalah tujuan dan hukum yang mana suatu akad
disyariatkan untuk tujuan tersebut. Untuk satu jenis akad tujuan yang hendak dicapainya satu,
dan untuk jenis akad lainnya berlaku tujuan yang berbeda.3[4]
4. Sighat akad (ijab dan qabul)
Sighat akad adalah ungkapan yang menunjukkan kesepakatan dua belah pihak yang
melakukan akad dan kesepakatan tersebut lazimnya terjadi melalui formula akad (sighat al aqd).
Nah, disini dia sebagai unsur akad yang paling penting, bahkan dalam pandangan fuqaha
hanafiyah suatu akad adalah identik dengan sighatnya. Sighat akad yang terdiri dari ijab dan
qabul sesungguhnya merupakan ekspresi kehendak (iradah) yang menggambarkan kesepakatan
dan kerelaan kedua belah pihak atas hak dan kewajiban yang ditimbulkan dari perikatan akad.
Syarat-syarat sighat aqad:
a. Ijab dan qabul harus jelas (dinyatakan dengan ungkapan yang jelas dan pasti maknanya)
sehingga dapat dipahami jenis akad yang dikehendaki.
b. Adanya kesesuaian maksud antara ijab dan qabul. Pernyataan qabul dipersyaratkan adanya
keselarasan atau persesuaian terhadap ijab dalam banyak hal.
c. Ijab dan qabul mencerminkan kehendak masing-masing pihak secara pasti, tidak ragu-ragu dan
tidak menunjukkan adanya unsur keraguan dan paksaan.
d. Ijab dan qabul harus bersambung, maksudnya ijab dan qabul dilakukan dalam satu majlis.
Syarat-syarat Akad
a. Syarat terjadinya akad
Syarat terjadinya akad adalah segala sesuatu yang disyaratkan untuk terjadinya akad secara
syara. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, akad menjadi batal. Syarat ini terbagi atas dua
bagian:
1) Umum, yakni syarat-syarat yang harus ada pada setiap akad.
Syarat-syarat umum yang harus dipenuhi dalam setiap akad adalah:
Pelaku akad cakap bertindak (ahli).
Yang dijadikan objek akad dapat menerima hukumnya.
Akad itu diperbolehkan syara' dilakukan oleh orang yang berhak melakukannya walaupun bukan
aqid yang memiliki barang.
Akad dapat memberikan faidah sehingga tidak sah bila rahn dianggap imbangan amanah.
Ijab itu berjalan terus, tidak dicabut sebelum terjadi kabul. Oleh karenanya akad menjadi batal
bila ijab dicabut kembali sebelum adanya kabul.
Ijab dan kabul harus bersambung, sehingga bila orang yang berijab berpisah sebelum adanya
qabul, maka akad menjadi batal.
2
3

2)

Khusus, yakni syarat-syarat yang harus ada pada sebagian akad, dan tidak disyaratkan pada
bagian lainnya. Yakni syarat-syarat yang wujudnya wajib ada dalam sebagian akad. Syarat ini
juga sering disebut syarat idhafi (tambahan yang harus ada disamping syarat-syarat yang umum,

seperti syarat adanya saksi dalam pernikahan).4[5]


b. Syarat sah akad
Adalah segala sesuatu yang disyaratkan syara untuk menjamin dampak keabsahan akad. Jika
tidak terpenuhi, akad tersebut rusak.
Ada kekhususan syarat sah akad pada setiap akad. Ulama hanafiyah mensyaratkan
terhindarnya seseorang dari enam kecacatan dalam jual-beli, yaitu kebodohan, paksaan,
pembatasan waktu, perkiraan, ada unsure kemadharatan, dan syarat-syarat jual beli rusak
c. Syarat Pelaksanaan Akad
Dalam pelaksanaan akad, ada dua syarat, yaitu kepemilikan dan kekuasaan. Maksud
kepemilikan adalah sesuatu yang dimilki oleh seseorang sehingga ia bebas beraktivitas dengan
apa-apa yang dimilkinya sesuai dengan aturan syara. Adapun kekuasaan adalah kemampuan
seseorang dalam bertasharuf sesuai dengan ketetapan syara, baik secara asli, yakni dilakukan
oleh dirinya, maupun sebagai penggantian (menjadi wakil seseorang).
Dalam hal ini, disyaratkan antara lain:
1. Barang yang dijadikan akad harus kepunyaan orang yang akad, jika dijadikan, maka sangat
bergantung kepada izin pemiliknya yang asli.
2. Barang yang dijadikan tidak berkaitan dengan kepemilikan orang lain
d. Syarat kepastian Hukum
Dasar dalam akad adalah kepastian. Diantara syarat luzum dalam jual-beli adalah terhindarnya
dari beberapa khiyar jual-beli, seperti khiyar syarat, khiyar aib, dan lain-lain. Jika luzum tampak,
maka akad batal atau dikembalikan.
Legalitas dari akad di dalam hukum Islam ada 2.
1. Sahih atau sah, yang artinya semua rukun kontrak beserta semua kondisi nya sudah terpenuhi,
2. Batil, apabila salah satu dari rukun kontrak tidak terpenuhi maka kontrak tersebut menjadi
batal atau tidak sah, apa lagi kalau ada unsur Maisir, Gharar dan Riba di dalamnya.
Akad yang efektif dibagi lagi menjadi 2 , Yaitu :
1. Lazim mengikat. Akad lazim adalah akad yang tidak dapat dibatalkan oleh salah satu pihak
tanpa persetujuan pihak yang lainnya. Contohnya: perceraian dengan kompensasi pembayaran
properti dari istri yang diberikan kepada suami.
2. Ghayr al lazim tidak mengikat. Akad ghayr al-lazim dapat dibatalkan oleh salah satu pihak
tanpa persetujuan dari pihak yang lainnya contohnya dalam transaksi partnership (musyarakah),
agency (wakalah), wasiat (wassiyyah), pinjaman (arriyah), dan penitipan (wadiah).
4

2.5 Macam-macam Syarat Akad


Syarat adalah sesuatu yang menyebabkan terwujudnya sesuatu namun syarat tidak termasuk
dalam bagian dari sesuatu tersebut atau sesuatu yang diluar hakikat sesuatu tersebut. Syarat Akad
1)

ada empat (4) acam, yaitu:


Syarat Iniqad ( ) adalah syarat yang menentukan terlaksananya suatu akad. Bila
salah satu saja syarat ini tidak terpenuhi maka akad nikah batal. Contoh, orang yang berakad

harus cakap hukum.


2) Syarat Shihah ( ) adalah syarat yang menentukan dalam suatu akad yang berkenaan
dengan akibat hukum, dalam artian jika syarat tersebut tidak dipenuhi maka menyebabkan tidak
sahnya suatu pernikahan. Contoh, mahar dalam pernikahan, tidak sah pernikahan tanpa adanya
mahar.
3) Syarat Nifaadz ( ) adalah syarat yang menentukan kelangsungan suatu akad, jika syarat
ini tidak terpenuhi maka menyebabkan fasad-nya pernikahan. Contoh, wali nikah adalah orang
yang berwenang untuk menikahkan.
4) Syarat Luzum ( ) adalah syarat yang menentukan kepastian suatu akad dalam arti
tergantung kepadanya kelanjutan berlangsungnya suatu akad sehingga dengan telah terdapatnya
syarat tersebut tidak mungkin akad yang sudah berlangsung itu dibatalkan. Hal ini berarti selama
syarat itu belum terpenuhi akad dapat dibatalkan, seperti suami harus sekufu dengan istrinya.5[6]

2.6 Pembagian Macam-macam Akad


Diantara macam-macam aqad adalah:
1. Berdasarkan adanya unsur lain didalamnya
Akad munjiz yaitu akad yang dilaksanakan langsung pada waktu selesainya akad. Pernyataan
akad yang diikuti dengan pelaksaan akad adalah pernyataan yang disertai dengan syarat-syarat
dan tidak pula ditentukan waktu pelaksanaan adanya akad.
Akad mu'alaq adalah akad yand di dalam pelaksaannya terdapat syarat-syarat yang telah
ditentukan dalam akad, misalnya penentuan penyerahan barang-barang yang diakadkan setelah
adanya pembayaran.
Akad mu'alaq ialah akad yang di dalam pelaksaannya terdapat syarat-syarat mengenai
penanggulangan pelaksaan akad, pernyataan yang pelaksaannya ditangguhkan hingga waktu
yang ditentukan. Perkataan ini sah dilakukan pada waktu akad, tetapi belum mempunyai akibat
hukum sebelum tidanya waktu yang ditentukan.6[7]
5
6

2. Dilihat dari segi ditetapkan atau tidaknya oleh syara:


Aqad musamma, adalah aqad yang telah ditetapkan oleh syara dan diberi hukum-hukumnya,
seperti jual beli, hibah, ijarah, syirkah dan lain-lain.
Aqad ghaira musawwa, adalah aqad yang belum ditetapkan istilah, hukum dan namanya oleh
syara.
3. Dilihat dari segi disyariatkan atau tidaknya:
Aqad musyaraah, aqad yang dibenarkan oleh syara seperti jual beli, hibah, gadai, dan lain-lain.
Aqad mamnuah, aqad yang dilarang oleh syara seperti menjual anak binatang yang masih dalam
kandungan.7[8]
4. Dilihat dari segi sah atau tidaknya aqad:
Aqad shahihah, aqad yang cukup syarat-syaratnya. Misalnya, menjual sesuatu dengan harga
sekian jika kontan dan sekian jika hutang.
Aqad fashihah, aqad yang cacat misalnya menjual sesuatu dengan harga yang ditentukan tapi
pembayarannya ditangguhkan.
5. Dilihat dari segi sifat bendanya:
Akad ainiyah, aqad yang diisyaratkan dengan penyerahan barang-barang seperti jual beli.
Akad ghaira ainiyah, aqad yang tidak disertai dengan penyerahan barang-barang, karena tanpa
penyerahan barang-barang pun aqad sudah akan berhasil, seperti aqad amanah.7
6. Dilihat dari bentuk atau cara melakukannya:
Dilaksanakan dengan upacara tertentu, yaitu ada saksi seperti pernikahan.
Aqad ridhaiyah, tidak memerlukan upacara tertentu dan terjadi karena keridhaan dua belah pihak
seperti akad-akad pada umumnya.8
7. Berdasarkan berlaku atau tidaknya akad
Akad nafidzah , yaitu akad yang bebas atau terlepas dari penghalang-penghalang akad
Akad mauqufah , yaitu akad akad yang bertalian dengan persetujuan-persetujuan seperti akad
fudluli (akad yang berlaku setelah disetujui pemilik harta)
8. Berdasarkan luzum dan dapat dibatalkan
Akad lazim yang menjadi hak kedua belah pihak yang tidak dapat dipindahkan seperti akad
nikah. Manfaat perkawinan, seperti bersetubuh, tidak bisa dipindahkan kepada orang lain. Akan
tetapi, akad nikah bisa diakhiri dengan dengan cara yang dibenarkan syara'.
Akad lazim yang menjadi hak kedua belah pihak, dapat dipindahkan dan dapat dirusakkan seperti
akad jual beli dan lain-lain.
Akad lazim yang menjadi hak salah satu pihak, seperti rahn, orang yang menggadai sesuatu
benda punya kebebasan kapan saja ia akan melepas rahn atau menebus kembali barangnya.
Akad lazim yang menjadi hak dua belah pihak tanpa menunggu persetujuan salah satu pihak,
seperti titipan boleh diminta oleh yang menitipkan tanpa menunggu persetujuan yang menerima

titipan atau yang menerima titipan boleh mengembalikan barang yang dititipkan kepada yang
menitipkan tanpa menunggu persetujuan dari yang menitipkan.
9. Dilihat dari tukar menukar hak:
Akad muawadlah, akad yang berlaku atas dasar timbal balik seperti jual beli.
Akad tabarruat, akad yang berlaku atas dasar pemberian dan pertolongan seperti hibah.
Akad yang tabarruat pada awalnya dan menjadi akad muawadlah pada akhirnya seperti qaradh
dan kafalah.8[9]
10. Berdasarkan harus dibayar dan tidaknya
Akad dhaman yaitu akad yang menjadi tanggung jawab pihak kedua sesudah benda-benda itu
diterima seperti qaradh.
Akad amanah yaitu tanggung jawab kerusakan oleh pemilik benda, bukan oleh yang memegang
barang, seperti titipan.
Akad yang dipengaruhi oleh beberapa unsur, salah satu segi merupakan dhaman, menurut segi
yang lain merupakan amanah, seperti rahn(gadai).
Tujuan akad, dari segi tujuannya akad dapat dibagi menjadi lima golongan:
a) Bertujuan tamlik, seperti jual beli. Bertujuan untuk mengadakan usaha bersama (perkongsian)
seperti syirkah dan mudharabah.
b) Bertujuan tautsiq(memperkokoh kepercayaan) saja, seperti rahn dan kafalah.
c) Bertujuan menyerahkan kekuasaan, seperti wakalah dan washiyah.
d) Bertujuan mengadakan pemeliharaan, seperti ida atau titipan.
11. Dilihat dari segi tujuan aqad:
Yang tujuannya tamlik, seperti BaI mudarabah.
Yang tujuannya mongokohkan saja, seperti rahn dan kafalah.
Yang tujuannya menyerahkan kekuasaan, seperti wakalah,washayah.
Yang tujuannya pemeliharaan, yaitu aqdulida.
12. Berdasarkan Fautur dan Istimrar
Akad fauturiyah yaitu akad-akad yang dalam pelaksanaannya tidak memerlukan waktu yang
lama, pelaksanaan akad hanya sebentar saja, seperti jaul beli.
Akad istimrar disebut pula akad zamaniyah, yaitu hukum akad terus berjalan, seperti iarah.9[10]
13. Berdasarkan asliyah dan tabi'iyah
Akad asliyah yaitu akad yang berdiri sendiri tanpa memerlukan adanya sesuatu yang lain seperti
jual beli dan I'arah.
Akad tahi'iyah, yaitu akad yang membutuhkan adanya yang lain, seperti akad rahn tidak akan
dilakukan tanpa adanya hutang
2.7 Berakhirnya Akad
Berakhirnya akad berbeda fasakh dan batalnya akad. Berakhirnya akad karena fasakh adalah
rusak atau putusnya akad yang mengikat antara mutaaqidain (kedua belah pihak yang
8
9

melakukan akad) yang disebabkan karena adanya kondisi atau sifat-sifat tertentu yang dapat
merusak iradah.
Para fuqaha berpendapat bahwa suatu akad dapat berakhir apabila:
1. Telah jatuh tempo atau berakhirnya masa berlaku akad yang telah disepakati,
2.

Terealisasinya tujuan daripada akad secara sempurna. Misalnya pada akad tamlikiyyah yang
bertujuan perpindahan hak kpemilikan dengan pola akad jual beli,

3. Barakhirnya akad karena fasakh atau digugurkan oleh pihak-pihak yang berakad.
4. Salah satu pihak yang berakad meninggal dunia.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Setelah memaparkan isi dari esai di atas maka saya sebagai penulis dapat
menyimpulkan :
1. Akad adalah segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang berdasarkan
keinginannya sendiri, seperti wakaf, talak, pembebasan, atau sesuatu yang
pembentukannya membutuhkan keinginan dua orang seperti jual-beli,
perwakilan, dan gadai.
2. Sumber hukum utama akad berasal dari Al Quran.
3. Aplikasi dari akad syariah dalam bisnis adalah akad dalam bentuk Al
Musyarakah (Kerjasama Modal Usaha), Al Mudharabah (Kerjasama Mitra
Usaha dan Investasi), Al Murabahah (Jual Beli dengan Pembayaran
Tangguh), Bai As Salam (Pesanan Barang dengan Pembayaran di Muka), Bai
Al Istishna (Jual Beli Berdasarkan Pesanan), Al Ijarah (Sewa/ Leasing), Qard
Al Hasan (Pinjaman Kebajikan).
4.
Macam syarat akad antara lain: syarat iniqad, syarat shihah, syarat
nafadz, dan syarat luzum

DAFTAR PUSTAKA

Sahrani, Sohari dan Rufah Abdullah. 2011. Fikih Muamalah. Bogor: Ghalia Indonesia.

Masadi, Gufron A.. 2002. Fiqh Muamalah Kontekstual. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
1.

Prof. DR. H. Racmat Syafeei, M.A. 2001. Fiqih Muamalah. Bandung : CV. Pustaka Setia.

2. Abdul Majid. 1986. Pokok-Pokok Fiqh Muamalah dan Hukum Kebendaan dalam Islam.
Bandung : IAIN SGD.
3.

Hendi Suhendi. 1997. Fiqh Muamalah. Bandung : Gunung Djati Press.

4.
M. Hasbi Ash Shiddiqie. 1997. Pengantar Fiqh Muamalah. Semarang : PT. Pustaka Rizki
Putra.
5.

Nana Masduki. 1987. Fiqh Muamalah. Bandung : IAIN SGD.

6.

Sayyid Sabiq. 1973. Fiqhus Sunnah. Beirut : Dar Al-Kitab Al-Arabiah.

7.

Sulaiman Rasjid. 1994. Fiqh Islam. Bandung : Sinar Baru Algesindo.

8.
Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhudi. 1993. Studi Islam Jilid III Muamlah. Jakarta : PT. Grafindo
Persada.
9.

Departemen Agama RI. 2003. Al Quran dan Terjemahnya. Bandung : CV. Diponegoro.

10. Nana Masduki. 1987. Fiqh Muamalah. Bandung : IAIN SGD.