Anda di halaman 1dari 11

PROPOSAL TERAPI BERMAIN

PADA ANAK USIA 0 12 BULAN


Stase Keperawatan Anak

Oleh :
Dimas Kurniawan
NIM : G3A 015 024

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Efek hospitalisasi yang dialami anak saat dirawat di rumah sakit perlu
mendapatkan perhatian dan pemecahan masalah agar saat dirawat seorang
anak mengetahui dan kooperatif dalam menghadapi permasalahan yang terjadi
saat perawatan. Reaksi stres yang ditunjukkan anak saat dilakukan perawatan
sangat bermacam-macam seperti ada anak yang bertindak agresif yaitu sebagai
pertahanan diri dengan mengeluarkan kata-kata mendesis dan membentak
serta menutup diri dan tidak kooperatif saat menjalani perawatan (Alifatin,
2003).

Perawat dapat membantu orangtua menghadapi permasalahan yang berkaitan


dengan perawatan anaknya di rumah sakit karena perawat berada di samping
pasien selama 24 jam. Fokus intervensi keperawatan adalah meminimalkan
dukungan psikologis pada anak anggota keluarga. Salah satu intervensi
keperawatan dalam mengatasi dampak hospitalisasi pada anak adalah dengan
memberikan terapi bermain. Terapi bermain dapat dilakukan sebelum
melakukan prosedur pada anak, hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa
tegang dan emosi yang dirasakan anak selama prosedur (Suparto, 2003)
Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan
yang sangat tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan
nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami
anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah
sakit. Untuk itu, perlu adanya suatu kegiatan yang dapat melepaskan anak dari
ketegangan dan stress yang dialaminya, salah satunya yaitu dengan terapi
bermain. Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual,
emosional, dan sosial. Bermain merupakan media yang baik untuk belajar
karena dengan bermain, anak-anak akan berkata-kata (berkomunikasi), belajar

menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa

yang dapat

dilakukannya, dan mengenal waktu, jarak serta suara (Wong, 2009).

Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulasi bagi perkembangan anak


secara optimal. Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas
bermain ini tetap dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan kondisi anak.
Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan
yang sangat tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan
nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami
anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah
sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari
ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan permainan
anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan
relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan. Tujuan bermain di
rumah sakit pada prinsipnya adalah agar dapat melanjutkan fase pertumbuhan
dan perkembangan secara optimal, mengembangkan kreatifitas anak, dan
dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress. Bermain sangat penting bagi
mental, emosional, dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan
dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di
rumah sakit (Wong, 2009).

Dengan aktivitas bermain diharapkan dapat dijadikan salah satu cara untuk
mengajak anak untuk kooperatif dalam perawatan dan dapat memperlancar
pemberian pengobatan dan perawatan. Hal ini akan mempercepat proses
penyembuhan penyakit anak dan dapat mencegah pengalaman yang traumatik
saat anak mendapat perawatan lagi di rumah sakit.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah diajak bermain, diharapkan anak dapat melanjutkan tumbuh
kembangnya,

mengembangkan

aktifitas

dan

kreatifitas

melalui

pengalaman bermain dan beradaptasi efektif terhadap stress karena


penyakit dan dirawat.

2. Tujuan khusus
Setelah diajak bermain selama 30 menit, anak diharapkan :
a. Gerakan motorik halusnya lebih terarah
b. Kejenuhan selama dirawat di RS berkurang
c. Melatih kerjasama mata dan tangan
d. Melatih daya imajinasi.
e. Memfasilitasi anak untuk mengekspresikan perasaannya
f.

Meningkatkan kreatifitas bermain

C. Sasaran
Anak anak usia 0 24 bulan yang berada di Ruang Melati RSUD Dr.
Adhyatma Tugurejo Semarang

BAB II
DESKRIPSI KASUS

A. Karakteristik Kasus
Peserta yang mengikuti terapi bermain ini adalah anak usia 0 24 bulan yang
sedang menjalani perawatan di Ruang Melati dengan kesadaran compos
mentis, kooperatif, dan keadaan umum baik

B. Prinsip Bermain
1. Tidak banyak mengeluarkan energi, singkat dan sederhana
2. Mempertimbangkan keamanan
3. Kelompok umur yang sama
4. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak
5. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak
6. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat
keterampilan tangan lebih majemuk.
7. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain
8. Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit

C. Karakteristik Permainan
1. Solitary play
Jenis permainan dimana anak bermain sendiri walaupun ada beberapa
orang lain yang bermain disekitarnya.
2. Paralel play
Permainan sejenis dilakukan oleh suatu kelompok anak masing-masing
mempunyai mainan yang sama tetapi yang satu dengan yang lainnya tidak
ada interaksi dan tidak saling tergantung,
3. Asosiatif play
Permainan dimana anak bermain dalam keluarga dengan aktifitas yang
sama tetapi belum terorganisasi dengan baik, belum ada pembagian tugas,
anak bermain sesukanya.

4. Kooperatif play
Anak bermain bersama dengan sejenisnya permainan yang terorganisasi
dan terencana dan ada aturan tertentu.

D. Fungsi Bermain
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik,
perkembangan sosial, perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran
diri, perkembangan moral dan bermain sebagai terapi,
1. Perkembangan Sensoris-motorik
Pada saat melakukan permainan aktivitas sensoris-motoris merupakan
komponen

terbesar

yang

digunakan

anak

sehingga

kemampuan

penginderaan anak dimulai meningkat dengan adanya stimulasi-stimulasi


yang diterima anak seperti: stimulasi visual, stimulasi pendengaran,
stimulasi taktil (sentuhan) dan stimulasi kinetik.
2. Perkembangan Intelektual (Kognitif)
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan memanipulasi segala
sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna,
bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan objek.
3. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan
lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan
menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk
mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah dari
hubungan tersebut.
4. Perkembangan Kreativitas
Dimana melalui kegiatan bermain anak akan belajar mengembangkan
kemampuannya dan mencoba merealisasikan ide-idenya.
5. Perkembangan Kesadaran diri
Melalui bermain anak akan mengembangkan kemampuannya dan
membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya

dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah


lakunya terhadap orang lain.
6. Perkembangan Moral
Anak mempelajari nilai yang benar dan salah dari lingkungan, terutama
dari orang tua dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan
mendapat kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga
dapat diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan
aturan-aturan kelompok yang ada dalam lingkungannya.
7. Bermain sebagai Terapi
Pada saat anak dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai
perasaan yang sangat tidak menyenangkan seperti : marah, takut, cemas,
sedih dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi
yang dialami anak karena menghadapi beberapa stresor yang ada di
lingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak
akan terlepas dari ketegangan dan stres yang dialaminya karena dengan
melakukan permainan, anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada
permainannya (distraksi)

E. Kategori Bermain
1. Bermain aktif
Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari apa yang dilakukan anak,
apakah dalam bentuk kesenangan bermain alat misalnya mewarnai
gambar, melipat kertas origami, puzzle dan menempel gambar. Bermain
aktif juga dapat dilakukan dengan bermain peran misalnya bermain dokterdokteran dan bermain dengan menebak kata
2. Bermain pasif
Dalam bermain pasif, hiburan atau kesenangan diperoleh dari kegiatan
orang lain. Pemain menghabiskan sedikit energi, anak hanya menikmati
temannya bermain atau menonton televisi dan membaca buku. Bermain
tanpa mengeluarkan banyak tenaga, tetapi kesenangannya hampir sama
dengan bermain aktif

BAB III
METODOLOGI BERMAIN

A. Deskripsi permainan
Menyusun atau memasukan lingkaran donat dan boneka bunyi yang
digunakan sebagai bahan permainan yang berfungsi untuk menstimulus
motorik halus dan kasar serta menstimulus kemampuan audio visual anak

B. Tujuan permainan
1. Untuk melanjutkan tumbuh kembang yang mormal pada saat sakit. Pada
saat

sakit

anak

mengalami

gangguan

dalam

pertumbuhan

dan

perkembangannya
2. Mengekspresikan perasaan, keinginan dan fantasi serta ide-idenya.
Permainan adalah media yang sangat efektif untuk mengekspresikan
berbagai perasaan yang tidak menyenangkan.
3. Mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah.
Permainan akan menstimulasi daya pikir, imajinasi dan fantasinya untuk
menciptakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya.
4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan di rawat
di RS
5. Mengurangi tingkat kecemasan atau ketakutan yang dirasakan oleh anakanak akibat hospitalisasi

C. Jenis permainan
Jenis permainan yang digunakan dalam permainan ini adalah menyusun atau
menata plastik donat dan mencari sumber suara yang dikeluarkan boneka karet

D. Alat bermain
Puzzle plastik donat dan boneka karet berbunyi

E. Proses bermain
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Memisahkan lingkaran donat pada tempatnya
3. Membiarkan anak untuk menyusun donat plastik
4. Memantau pergerakan anak
5. Membenarkan penyusunan apabila ada kesalahan dalam penyusunan

F. Waktu pelaksanaan
Permainan dilaksanakan pada :
Hari, tanggal

: Sabtu , 5 Maret 2016

Waktu

: 09.00 10.00 WIB

Tempat

: Ruang Melati RSUD Tugurejo Semarang

G. Hal hal yang perlu diwaspadai


1. Kejenuhan anak dalam menyelesaikan permainan
2. Anak lelah
3. Anak tidak mau mengikuti permainan

H. Antisipasi meminimalkan hambatan


1. Mengajak atau melibatkan orang tua
2. Berkomunikasi dengan baik pada anak

I. Pengorganisasian
Dalam

pelaksananannya

langkah-langkah

(pengorganisasian) pelaksananan adalah:


1. Mengatur tempat bermain
2. Mempersiapkan alat dan bahan
3. Mempersiapkan anak
4. Memberi salam
5. Menjelaskan proses bermain

jalannya

terapi

bermain

J. Sistem Evaluasi
1. Standar persiapan (struktur dan proses)
a. Alat : Puzzle donat plastic
b. Pengaturan tempat: di Ruang Bermain di ruang Melati
2. Standar hasil evaluasi pada akhir kegiatan:
a. Anak menikmati permainan
b. Anak dapat menyusun puzzle

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bermain sangat penting bagi mental, emosional dan kesejahteraan anak seperti
kebutuhan perkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat
anak sakit atau anak di rumah sakit (Wong, 2009).

Bermain memiliki beberapa fungsi yaitu, meningkatkan perkembangan


sensoris-motorik,

sebagai

terapi,

meningkatkan perkembangan sosial,

perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan


moral, dan perkembangan intelektual (kognitif).

Berdasarkan kategori bermain jenis permainan menempel dan menyusun


merupakan bermain aktif. Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari apa
yang dilakukan anak, apakah dalam bentuk kesenangan bermain alat misalnya
mewarnai gambar, melipat kertas origami, puzzle dan menempel gambar.
Bermain aktif juga dapat dilakukan dengan bermain peran misalnya bermain
dokter-dokteran dan bermain dengan menebak kata (Hurlock, 1998).

Setelah dilakukan tindakan terapi bermaian ini diharapkan anak dapat


melanjutkan tumbuh kembang yang mormal pada saat sakit, mengekspresikan
perasaan, keinginan dan fantasi serta ide-idenya, mengembangkan kreativitas
dan kemampuan memecahkan masalah, dapat beradaptasi secara efektif
terhadap stress karena sakit dan di rawat di RS, serta mengurangi tingkat
kecemasan atau ketakutan yang dirasakan oleh anak-anak akibat hospitalisasi.