Anda di halaman 1dari 4

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Evaluasi Belajar
Menurut Haryanto (2013), evaluasi merupakan aktifitas pengukuran dan
penilaian. Pengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran,
bersifat kuantitatif. Penilaian

adalah mengambil suatu keputusan terhadap

sesuatu dengan ukuran baik buruk, bersifat kualitatif.


Evaluasi

merupakan

salah

satu

komponen

pembelajaran

yang

dilaksanakan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi


pelajaran. Dengan pelaksanaan evaluasi dapat diketahui ketuntasan belajar siswa
baik secara individu maupun klasikal. Menurut Usman dan Setiawati (2001)
belajar tuntas (mastery learning) adalah pencapaian taraf penguasaan minimal
yang diterapkan untuk setiap unit bahan pelajaran baik secara perseorangan
maupun kelompok, dengan kata lain, apa yang dipelajari siswa dapat dikuasai
sepenuhnya.
Evaluasi

hasil

belajar

merupakan

berkesinambungan. Oleh karena itu,

kegiatan

berencana

dan

ragamnya pun banyak mulai dari yang

paling sederhana sampai yang paling kompleks. Menurut Syah (2004), ragamragam evaluasi adalah sebagai berikut :
(1)

Pre-test dan Post-test


Pre-test bertujuan untuk mengidentifikasi taraf pengetahuan siswa mengenai
bahan yang akan disajikan, sedangkan post-test bertujuan untuk mengetahui
taraf penguasaan siswa atas materi yang telah diajarkan.

(2)

Evaluasi Prasyarat
Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi penguasaan siswa atas materi lama
yang mendasari materi baru yang akan diajarkan.

(3)

Evaluasi Diagnostik
Instrumen evaluasi jenis ini dititikberatkan pada bahasan tertentu yang
dipandang telah membuat siswa mendapat kesulitan.
Rusli Haryanti, SP, SMKN 1 Kota Besi

Halaman 5

(4)

Evaluasi Formatif
Tujuannya adalah untuk memperoleh umpan balik guna mendiagnosis
(mengetahui kesulitan) kesulitan belajar siswa.

(5)

Evaluasi Sumatif
Ragam penilaian sumatif dapat dianggap sebagai ulangan umum yang
dilakukan untuk mengukur kinerja akademik atau prestasi belajar siswa pada
akhir periode pelaksanaan program pengajaran.
Menurut Sugiyono (2013), pembelajaran produktif adalah pembelajaran

praktik yang diberikan pada peserta didik agar mereka memiliki ketrampilan
tertentu sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan. Sistem pembelajaran
praktik dilaksanakan di bengkel terdiri atas job yang akan dikerjakan yang
tersusun dalam job sheet, shop talk yang diberikan oleh guru praktik sebelum
siswa melaksanakan praktik, bahan yang akan dikerjakan, mesin atau peralatan
yang digunakan untuk mengerjakan, metode kerja dan sistem penilaian yang akan
digunakan mengukur keberhasilan kerja. Berdasarkan pembelajaran tersebut,
maka menurut Haryanto (2013), teknik evaluasi yang digunakan adalah :
1. Evaluasi unjuk kerja atau perbuatan (performance)
2. Evaluasi sikap (afective)
3. Evaluasi tertulis (paper and pencil test)
4. Evaluasi tugas proyek (project)
5. Evaluasi hasil karya siswa (product)
6. Evaluasi kumpulan hasil kerja siswa (portfolio)
7. Evaluasi diri (self assessment)
B. Sistem Evaluasi Belajar
Menurut Haryanto (2013), unsur-unsur yang berfungsi sebagai faktor
penentu dalam kegiatan evaluasi, antara lain: siswa, guru dan personal lainnya,
bahan pelajaran, metode mengajar, sistim evaluasi, sarana penunjang, dan sistim
administrasi.
Sistem evaluasi berkaitan dengan tahapan kegiatan dalam

melakukan

evaluasi. Untuk mendapatkan hasil belajar yang berkualitas tentunya sistem


evaluasi yang digunakan harus sesuai dengan kondisi siswa. Tahapan yang harus
dilalui oleh siswa yang ada masalah dalam pembelajaran tentunya harus berbeda
dengan yang tidak ada masalah. Salah satu yang harus dilakukan adalah guru
Rusli Haryanti, SP, SMKN 1 Kota Besi
Halaman 6

perlu membuat pola penilaian beragam agar kompetensi yang dicapai oleh seluruh
siswa dapat merata. Hal ini sesuai dengan pendapat Haryanto (2013) bahwa salah
satu fungsi dari evaluasi pembelajaran produktif adalah untuk mengembangkan
pola penilaian yang beragam sesuai dengan keberagaman potensi peserta didik
SMK.
C. Kompetensi Siswa Perkebunan dalam Praktek Industri (PI)
Menurut Tim KTSP ATP SMKN 1 Kota Besi (2012), tujuan dari
Kompetensi Keahlian Agribisnis Tanaman Perkebunan (ATP) adalah :
1. Menyiapkan lahan budidaya tanaman perkebunan.
2. Menanam tanaman perkebunan
3. Merawat dan memelihara tanaman perkebunan
4. Memanen dan menangani hasil panen.
5. Memasarkan hasil panen.
6. Mengelola usaha budidaya tanaman perkebunan.
7. Menerapkan prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam usaha
budidaya tanaman perkebunan
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, siswa diberi keahlian melalui
pembelajaran yang dituangkan pada masing-masing materi pelajaran produktif
(Standar Kompetensi). Keahlian tersebut dapat diperoleh siswa dalam
pembelajaran di sekolah maupun di DU/DI. Berdasarkan KTSP ATP SMKN 1
Kota Besi, Standar Kompetensi yang harus didapat siswa ATP Kelas XI Semester
IV pada DU/DI adalah sebagai berikut :
1. Mengendalikan Penyakit pada tanaman
2. Mengatur/ memberikan perlakuan pada tanaman
Sedangkan pekerjaan umum yang didapat siswa pada DU/DI adalah
sebagai berikut:
1. Melakukan sensus tanaman
2. Melakukan sanitasi, kastrasi, dan pruning.
3. Memanen hasil tanaman perkebunan
4. Mengangkut hasil panen
5. Melakukan Pengendalian Gulma
6. Melakukan Pengendalian Hama
7. Membuat Bangunan Tapak Timbun
D. Hipotesis
Rusli Haryanti, SP, SMKN 1 Kota Besi
Halaman 7

Hipotesis yang diajukan dalam penelitan ini adalah : dengan menggunakan


pengembangan sistem evaluasi PI maka ada perbedaan signifikan terhadap
kompetensi siswa.

Rusli Haryanti, SP, SMKN 1 Kota Besi


Halaman 8