Anda di halaman 1dari 9

Hematemesis Melena e.

c Tukak Lambung
Kevin Dyonghar
10-2014-261
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Terusan Arjuna No.6, Kebon Jeruk Jakarta Barat
Pendahuluan
Perdarahan saluran cerna merupakan masalah yang sering dihadapi. Manifestasinya bervariasi
mulai dengan perdarahan massif yang mengancam jiwa hingga perdarahan samar yang tidak
dirasakan. Pendekatan utama pada pasien dengan perdarahan saluran cerna adalah menentukan
beratnya perdarahan dan lokasi perdarahan. Hematemesis ( muntah darah segar atau
hitam)menunjukkan perdarahan dari saluran cerna bagian atas, proksimaldari ligamentum Treitz.
Melena ( tinja hitam dengan bau yang khas) biasanya akibat perdarahan saluran cerna bagian
atas.
Pada makalah kali ini akan dibahas tentang hematemesis melena e.c. tukak gaster

Skenario 2
Seorang laki-laki 50 tahun datang kepoliklinik umum dengan keluhan muntah berwarna
kehitaman,seperti kopi 3x sejak 2 hari yang lalu. Pasien juga mengeluh 3 hari terakhir ini perutnya terasa
sakit pada ulu hati, dan bertambah saat dirinya mencoba makan. Nyeri agak berkurang saat dirinya
minum obat maag. Keluhan nyeri ulu hati ini dirasakan pasien hilang timbul sejak 2 tahun belakangan
ini.pasien juga mengatakan BABnya berwarna hitam dan berbau busuk sejak 2 hari yang lalu. Pasien saat
ini mengonsumsi aspirin untuk penyakit jantungnya. Riwayat penurunan berat badan tidak ada.
Pemeriksaan fisik: konjungtiva anemis, abdomen: nyeri tekan (+) region eigastrium, bising usus (+)
normal, pemeriksaan lab belum ada.

1. Anamnesis
Identitas pasien :

Nama: Tuan S
Usia : 50 tahun
Keluhan utama
Pasien datang ke dokter karena mengeluh muntah berwarna kehitaman 3x sejak 2 hari yang lalu.
Keluhan penyerta : perut terasa sakit pada ulu hati, dan bertambah saat mencoba untuk makan.
Pada kasus hematemesis melena kita dapat menanyakan hal-hal seperti berikut1 :
a. Sejak kapan terjadi perdarahan, perkiraan jumlah, durasi dan frekuensi perdarahan
b. Riwayat perdarahan sebelumnya dan riwayat perdarahan dalam keluarga
c. Ada tidaknya perdarahan di bagian tubuh lain
d. Riwayat muntah berulang yang awalnya tidak berdarah (Sindrom Mallory-Weiss)
e. Konsumsi jamu dan obat (NSAID dan antikoagulan yang menyebabkan nyeri atau pedih
di epigastrium yang berhubungan dengan makanan)
f. Kebiasaan minum alkohol (gastritis, ulkus peptic, kadang varises)
g. Kemungkinan penyakit hati kronis, demam dengue, tifoid, gagal ginjal kronik, diabetes
mellitus, hipertensi, alergi obat
h. Riwayat tranfusi sebelumnya
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan TTV ( tanda-tanda vital) yang meliputi tekanan darah,
suhu, pernapasan, dan denyut nadi.
Status lokalis pada region epigastrium
Hasil pemeriksaan : konjungtiva anemis, abdomen: nyeri tekan (+) region eigastrium, bising usus
(+) normal, pemeriksaan lab belum ada.
a. Inspeksi : memperhatikan bentuk abdomen ( datar, membuncit, atau cekung) dan simetris atau
asimetris, menyebutkan warna kulit dan lesi kulit.
b. Palpasi : Superficial ( palpasi dinding perut apakah ada ketegangan atau distensi abdomen) dan
pada deep palpation atau profunda ( teknik schuffner untuk spleen, palpasi hati untuk
mengetahui apakah adanya hepatomegali)
c. Perkusi : untuk mengetehui apakah ada kelainan pada organ organ dalam ( misalnya hati atau
lambung) dan bagian abdomen secara umum.
d. Auskultasi : bising usus ( bising usus (-) atau (+) menurun atau (+) normal, atau (+) meningkat.
Menyebutkan jika terdapat bunyi patologis.1
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Lab pada Tinja
a. Pemeriksaan Makroskopik

Pemeriksaan warna : tinja normal berwarna coklat ( sterkobilin). Jika berwarna hitam bisa
diakibatkaan karena melena, perdarahan saluran cerna bagian atas, atau memakan charcoal,
atau bismuth, dan terapi besi. Berwarna merah disebut hematoskesia karen perdarahan
saluran cerna bagian bawah, zat warna makanan, obat rifampisin dan bromsulfonftalein).

Berwarna hijau karena makan sayuran hijau, empedu (terapi antibiotik).


Konsistensi normal agak lunak dan berbentuk. Konsistensi cair biasanya karena diare,

lengeket karena steatore,.


Volume dan frekuensi : normal 100-300 g/hari. Jika lebih dari 300 disebut diare atau

steatore. Frekuensi 1-2 kali/ hari. Normal tidak berlendir


Bau : indol dan skatol hasil pemercahan protein dan metabolisme bakteri usus.
b. Pemeriksaan Mikroskopik
Pemeriksaan leukosit dan eritrosit dengan menggunakan eosin 2%. Normal tidak terdapat

leukosit, jika terdapat > 3/lpb : inflamasi, atau infeksi


Pemeriksaan sisa mkanan : serat tumbuhan dan serat daging dengan menggunkan eosin
10% dalam alcohol. Suspensi nya dibuat dari 1 bagian tinja ditambah 2 bagian NaCl

0,5%.
Pemriksaan amilum dengan menggunakan lugol dan pemeriksaan lemak dengan

mengunakan pereaksi Sudan.


Pemeriksaan darah samar : normal < 2,5 ml darah/ hari setara dengan 2mg Hb/gram tinja.

Adanya darah dalam tinja dapat diketahui bila perdarahan lebih dari 50ml/hari.
Pemeriksaan berdasarkan Hemoglobin-Heme: guaiac, benzidin, dan o-tolidin.
Hemoglobin bersifat peroksidase yang dapat merubah indikator tidak berwarna menjadi
berwarna.

Pemeriksaan dengan elektrokardiogram


Elektrokardiogram terutama bila pasiem berusia di atas 40 tahun, ureum dan kreatinin
serum, karena pada perdarahan SCBA pemecahan darah oleh kuman usus akan mengakibatkan
kenaikan ureum, sedangkan kreatinin kuman usus akan mengakibatkan kenaikan ureum, sedangkan
kreatinin serum tetap normal atau sedikit meningkat. Juga perlu periksa elektrolit ( Na, K, Cl ),
dimana perubahan elektrolit bisa terjadi karena perdarahan, tranfusi, atau kambuh lambung.2
Pemeriksaan EGD
Disebut juga endoskopi SCBA, merupkan pemeriksaan yang paling akurat untuk
identifiksi sumber perdarahan. Sedangkan pemeriksaan USG ( ultrasonografi) dapat mendiagnosis
adanya hipertensi portal dan sirosis hati.2

4. Diagnosis
Working diagnosis : Hematemesis melena ec tukak gaster
Differential Diagnosis : Hematemesis melena ecesofagitis, Hematemesis melena ec. Tumor
lambung, Hematemesis melena ec. Tukak duodenum.
Hematemesis Melena
Hematemesis adalah muntah darah berwarna hitam, melena adalah buang air besar berwarna hitam
( seperti ter/aspal) yang berasal darin saluran crna bagian atas ( SCBA)/ proksimal ligamentum
Treiz, mulai dari jenjunum proksimal, duodenum, gaster, dan esophagus.3
Etiologi
Penyebab perdarahan SCBA antara lain :
Kelainan pada esophagus : varises, esofagitis, ulkus, sindroma Mallory-weiss, dan

keganasan.
Kelainan pada lambung dan duodenum : gastritis erosive, ulkus pepikum ventrikuli dan

duodeni, keganasan,polip.
Penyakit darah : leukemia, DIC, trombositopeni
Penyakit sistemik : uremia

Keluhan pokok :
Muntah darah brwarna hitam atau tanah merah (coffee ground ) dan BAB berwarna hitam
ter
Ada sindrom dispepsi
Mungkin ada riwayat makan obat anti reumatik atau analgetik kain
Ada riwayat sirosis hepatis
Nyeri ulu hati3
Tanda penting :
Sakit ringan sampai berat
Tanda tanda hipovolemik sampai syok :
Takikardi, akral dingin , kulit pucat, tensi rendah

Differential Diagnosis:
1. Hematemesis melena ec. Esofagitis
Esofagitis adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada lapisan
esofagus. Kondisi ini dapat menyebabkan terbentuknya ulkus, kesulitan menelan, dan
sakit tenggorokan. Esofagitis disebabkan oleh infeksi atau iritasi dari esofagus yang
melemahkan sistem kekebalan tubuh4.

Gejala klinis
Esofagitis yang menimbulkan perdarahan lebih sering bersifat intermiten atau kronis, biasanya
ringan, sehingga lebih sering timbul melena daripada hemetemesis.4
2. Hematemesis melena ec. Tumor lambung
Etiologi
Tumor gaster terdiri dari tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak lebih jarang
daripada tumor ganas. Seperti pada umumnya tumor ganas di tempat lain, penyebab
tumor ganas gaster jga belum diketahui secara pasti. Faktor yang mempermudah
timbulnya tumor ganas gaster adalah perubahan mukosa yang abnormal, antara lain
seperti gastritis atrofi, polip dig aster, dan anemiapernisiosa. Disamping itu, pengaruh
keadaan lingkungan mungkin memegang peranan penting. Dapat disimpulkan bahwa
kebiasaan hidup mempunyai peran penting, makanan panas dapat merupakan faktor
timbulnya tumor ganas gaster. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah faktor
herediter, golongan darah terutma golongan darah A, dan faktor infeksi H.pylori.6

Patologi
Kebanyakan kanker gaster adalah adenokarsinoma. Kebanyakan lokasi tumor pada
daerah antropilik, kurvatura minor lebih sering daripada kurvatura mayor. Karsinoma
gaster berasal dari perubahan epitel pada membrane mukosa gaster, yang berkembang
pada bagian bawah gaster, sedangkan pada atrofi gaster didapatkan bagian atas gaster dan
secara multisenter
Karsinoma gaster terlihat beberapa bentuk :
Seperempatnya berasal dari propia yang berbentuk fungating dan tumbuh ke

lumen sebagi massa


Seperempat berbentuk tumor yang berulseras
Massa yang tumbuh melalui dinding menginvasi lapisan otot
Penyebaran melalui dinding yang dicemari penyebaran pada permukaan.6

Gejala klinis
Keluhan utama tumor gans gaster adalah berat badan menurun, nyeri epigastrium,
muntah, keluhan pencernaan, anoreksia, disfagia, nausea, sendawa, hematemesis,
regurgitasi, dan lekas kenyang. Kanker gaster dini jarang mempunyai keluhan dan sulit
dideteksi. Pada pmeriksaan fisik yang dapat membantu diagnosis berupa berat badan
menurun dan anemia, dan diaerah epigastrium ditemukan suatu masaa.6

3. Hematemesis melena ec Tukak duodenum


Etiologi
Tukak duodenum disebabkan oleh Helicobacter pylori, obat anti inflamasi nonsteroid, asam lambung/pepsin dan faktor lingkungan serta kelainan atu atau beberapa
faktor pertahanan yang merusak pertahanan mukosa.6
Faktor faktor agresif :
Helicobacter pylori, merupakan bakteri gram negative yang dapat hidup dalam
suasana asam dalamlambung atau duodenum ( antrum, korpus, bulbus), berbentuk
kurva, mempunyai satu atau lebih flagel pada salah satu ujungnya. Bila terjadi
infeksi H.pylori, maka bakteri ini akan melekat pada permukaan epitel dengan
bantuan adhesin sehingga dapat lebih efektif merusak mukosa dengan melepas
sejumlah zat sehingga terjadi gastritis akut yang dapat berlanjut menjadi gastritis
kronik aktif. Untuk terjadi kelainan selanjutnya yang lebih berat seperti tukak,
tumor ditentukan leh virulensi H.pylori dan faktor-faktor lain, baik dari host

sendiri maupun adanya gangguan fisiologis lambung atau duodenum.6


Obat antiinflamasi non-steroid ( OAINS)
Obat ini dan asam asetil salisilat merupakan salah satu obat yang paling sering

digunakan dalam berbagai keperlun, seperti antipiretik, anti inflamasi, analgetik,


antitrombotik. Pemakaian OAINS atau ASA secara kronik dan regular dapat
menyebabkan terjadinya resiko perdarahan gastrointestinal 3 kali lipat dibanding
yang bukan pemakai. Pada usia lanjut penggunaan OAINS/ASA dapat meningkatkan
angka kematian akibat terjadinya kompikasi berupa perdarahan atau perforasi dari
tukak. Pemakaian OAIN/ASA bukan hanya dapat menyebabkan kerusakan structural
tetapi juga pada usus halus dan usus besar berupa infalamasi, ulserasi atau perforsi.
Pathogenesis terjadinya kerusakan mukosa terutama gastroduodenal penggunaan
OAINS/ASA adalah akibat efek toksin atau iritasi langsung pada mukosa yang
memerangkap OAINS/ASA yang bersifat asam sehingga terjadi kerusakan epitel
dalam berbagai tingkat, namun yang paling utama adalah efek menghambat kerja dari
enzim siklooksigenase (COX) pada asam arakidonat sehingga menekan produksi

prostaglandin endogen.6
Gambaran klinis
Gambaran klinik tukak duodeni sebagai salah satu bentuk dyspepsia organic
adalah sindrom dyspepsia, berupa nyeri dan atau rasa tidak nyaman ( discomfort) pada

epigastrium. Gejala gejala tukak duodeni memiliki periode remisi dan eksaserbasi,
menjadi tenang berminggu-minggu-berbulan-bulan dan kemuadian terjadi eksaserbasi
beberapa minggu merupakan gejala khas. Nyeri epigastrium merupakan gejala yang
paling dominan, walaupun sensitivitas dan spesifitasnya sebagai marker adanya ulserasi
mukosa rendah. Nyeri seperti rasa terbakar, nyeri rasa lapar, rasa sakit tidak nyaman yang
mengganggu tidak terlokalisir. Biasanya terjadi setelah 90 menit sampai 3 jam post
pradial dan nyei dapat berkurang sementara sesuadah makan, munum susu atau minum
antasida. . nyeri yang spesifik adalah nyerin yang timbul pada dini hari, antara tengah
malam, dan jam 3 din hari yang dapat membangunkan pasien.6
Working Diagnois
1. Hematemesis melena ec Tukak Gaster6
Tukak Gaster merupakan luka terbuka dengan pinggir edem disertai indurasi dengan dasar tukak
ditutpi debris 6
Epidemiologi
Tukak Gaster tersebar diseluruh dunia dengan pravalensi berbeda tergantung pada sosial
ekonomi,demografi, dijumpai lebih banyak pada pria meningkat pada usia lanjut dan keompok
sosial ekonomi rendah dengan puncak pada dekade keenam.
Patofisologi
Faktor asam lambung
Sel parietal mengeluarkan asam lambung Hcl, sel peptik mengeluarkan pepsinogen yang
oleh hcl diubah menjadi pepsin dimana Hcl dan pepsin adalah faktor agresif. Bahan iritan akan
menimbulkan defek barier mukosa dan terjadi difusi balik ion H+ . Histamin terangsang untuk
lebih banyak mengeluarkan asam lambung, timbul dilatasi dan peningkatan permebialitas
pembuluh kapiler, kerusakan mukosa lambung, gastritis akut/kronik dan tukak gaster
Gambaran Klinis

Pasien mengeluhkan Dispepsia


Nyeri ulu hati
Rasa tidak nyaman disertai muntah

Penatalaksanaan Non medika Mentosa


o Diet
o Istirahat
o Obat-obatan OAINS harus di hindari.
Therapi pada Tukak Gaster
Obat yang diberikan pada penyakit tukak gaster
Contoh
Dosis
Mylanta
100-140 meq/L
Mealox
Antagonis reseptor H2
Cimetidine
400mg
Ranitidine
300mg
Famotidinie
40mg
Nizatidine
PPI
Omeprazol
20mg
Lansoprazole
40 mg
Obat
pelindung
mukosa Sucralfate
1g qid
Jenis obat
Antasida

sukralfat
Analog Prostaglandin
Misoprostol
Obat
yang
mengandung Bismuth

200 ug qid

Bismut
Tindakan Operasi6
Elektip (tukak refrakter/ gagal pengobatan )
Darurat ( komplikasi : perdarahan, perforasi)
Tukak gaster dengan sangkaan keganasaan

Kesimpulan
Hematemesis adalah muntah darah berwarna hitam, melena adalah buang air besar
berwarna hitam ( seperti ter/aspal) yang berasal darin saluran crna bagian atas ( SCBA). Penyebab
perdarahan SCBA antara lain : kelainan pada esophagus (varises, esofagitis, ulkus, sindroma
Mallory-weiss, dan keganasan), kelainan pada lambung dan duodenum (gastritis erosive, ulkus
pepikum

ventrikuli

dan

duodeni,

keganasan,polip),

Penyakit

darah

(leukemia,

DIC,

trombositopeni), penyakit sistemik (uremia). Keluhan pokok : muntah darah brwarna hitam atau
tanah merah (coffee ground ) dan BAB berwarna hitam ter ,ada sindrom dispepsi, mungkin ada
riwayat makan obat anti reumatik atau analgetik kain, ada riwayat sirosis hepatis, nyeri ulu hati.

Daftar pustaka
1. Swartz M. Buku ajar diagnostic fisik. Jakarta: EGC; 2002. hlm. 87
2. Ndraha S. Bahan ajar Gastroenterohepatologi. Jakarta: Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK
3.
4.
5.
6.

UKRIDA; 2012. hlm. 99, 25.


Mubin H. Panduan Praktis Kedaruratan Penyakit dalam. Jakarta: EGC; 2010. hlm. 144-7
Esofagitis di unduh dari www.academia.edu
Robbins S, Kumar V. Buku Ajar Patologi II. Jakarta: EGC; 1995. hlm. 234-9
Sudoyo A, Setiyo B, Alwi I, Simadibrata M, Setiani S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1.
Jakarta: Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam; 2009. hlm.509, 523.

Anda mungkin juga menyukai