Anda di halaman 1dari 13

MARSIPOMETRA

BOTHRIOCEPHALUS
Kelompok 14

Anggota Kelompok :
Asri Astuti 230110140072
Yunia Qonitatin Al Masyani 230110140106
Egi Ramadhan 230110140125
Gilang Ramadhan230110140126

Marsipometra hastata
I. Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Cestoda
Ordo : Pseudophyllidea
Family : Amphicotylidae
Marsipometra
Genus : Marsipometra
hastata
Species: Marsipometra hastata

II. Ciri Morfologi


Tubuhnya terdiri dari segmen-segmen yang
disebut proglotida (lebih dari 4000) yang berisi
testes dan folikel, daerah leher pendek dan
memiliki sepasang celah penghisap.
Larva berupa plerocercoid
Larva sparganum berwarna putih, keriput,
berbentuk pita dan memperlihatkan gerakan
otot yang jelas.
Telur Marsipometra mansoni berukuran lebih
kecil daripada telur Diphyllobothrium latum .
Telur Marsipometra mansoni berbentuk elips
dan memiliki operkulum yang menonjol dan
berbentuk kerucut (Onggowaluyu, 2002).

III. Siklus Hidup


Telur dikeluarkan melalui lubang uterus proglotid gravid dan ditemukan
dalam tinja.
Pada suhu yang sesuai telur menetas dalam waktu 9-12 hari setelah sampai
di air.
Embrio didalam embriofor yang bersilia keluar melalui lubang operkulum.
Korasidium bersilia yang berenang bebas dimakan dalam waktu 1-2 hari
oleh binatang yang termasuk copepoda seperti Cyclops dan Diaptomus.
Dalam hospes perantara ini larva kehilangan silianya, menembus dinding
dengan bantuan kait-kaitnya dan sampai kerongga badan. Disini larva
tersebut bertambah besar dari 55 sampai 550 mikron dan dibentuk larva
proserkoid yang memanjang (Ishii A et al, 2003).
Bila copepoda yang mengandung larva ini dimakan oleh hospes perantara II
yaitu bebagai macam binatang kecil, ular, dan katak, maka larva
proserkoidnya akan menembus dinding usus ikan dan masuk ke rongga
badan dan alat-alat dalam, jaringan lemak dan jaringan ikat serta otot-otot.
Dalam waktu 7-30 hari larva ini berubah menjadi larva pleroserkoid atau
sparganum yaitu larva yang berbentuk seperti kumparan dan terdiri dari
pseudosegmen, dengan ukuran 10-20 x 2-3 mm.
Bila hospes perantara II tersebut dimakan hospes definitif, misalnya anjing,
kucing dan karnivora liar maka sparganum di rongga usus halus tumbuh
dalam waktu 3-5 minggu ( Ishii A et al, 2003).

IV. Patologi
Pada manusia larva dapat ditemukan disetiap bagian tubuh terutama
didalam dan sekitar mata, didalam jaringan subkutia dan otot toraks,
abdomen dan paha. Di daeah inguinal dan di alat-alat dalam dari
pada toraks. Sparganum dapat bermigrasi melalui jaringan. Larva
yang memanjang dan berkontraksi didalam matriks yang berlendir
menyebabkan edema peradangan dari jaringan sekitarnya, yang
menimbulkan rasa nyeri. Larva yang telah mengalami degenerasi
menyebabkan peradangan setempat yang hebat dan nekrosis. Akan
tetapi tidak menyebabkan pembentukan jaringan ikat. Orang yang
menderita infeksi dapat menunjukkan indurasi lokal giant urtikaria
yang periodik, sembab, dan eritem disertai dengan menggigil, panas
badan, dan eosinofili yang tiba-tiba. Infeksi mata yang relatif sering
terjadi di Asia tenggara, menimbulkan konjungtivitis yang disertai
edema dan rasa sakit dengan lakrimasi dan petosis. Prognosis
tergantung daripada lokalisasi parasit dan pengeluarannya yang
berhasil atau tidak. Sparganosis miliaris mempunyai prognosis buruk
(Ishii A et al, 2003).

V. Pengendalian
Cara membasmi cacing jenis ini adalah dengan
melawannya menggunakan obat niklosamida dan
frazikuantel. Untuk ikan obat tersebut bias
ditumbuk kemudian dilarutkan dalam media. Selain
itu dapat dicampur dengan pakan dan disuntikkan
langsung ke dalam penceranaa ikan.

Bothriocephalus sp
I. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari parasit
Bothriocephalus sp menurut William and
Ernest (1994) adalah sebagai berikut:
. Kingdom : Animalia
. Filum : Cestoda
. Kelas : Cestoidea
. Ordo : Pseudophyllidea
Bothriocephalu
. Famili : Bobhriocephalidae
s sp
. Genus : Bothriocephalus sp

II. Ciri Morfologi


Cacing ini mempunyai skolek yang lonjong, kadangkadang bulat dan membesar di bagian posterior.
Botria bentuknya memanjang, seperti celah di skolek dan
tidak berleher.
Tubuh terdiri atas segmen-segmen (proglottid) yang
hermaprodit.
Proglotid muda yang terletak di dekat kepala yang
bentuknya kampanulatus atau anapolitik.
Testis terletak di medula laberai dan ovariumnya padat
dan memanjang ke samping, kadang-kadang berbentuk
lobus, dan letak ovarium adalah di tengah.
Tidak mempunyai reseptakula seminis dan cosberior dari
lubang uterus.
Telur
bercangkang
bipis,beroperkulum
dan
tidak
berembrio.

III. Siklus Hidup


Telur yang ditaruh di air akan menetaskan
corgsidium, dan bila dimakan Copepoda akan
tumbuh menjadi procercoid dan bila Copepoda
dimakan ikan akan tumbuh menjadi dewasa di
usus ikan.
Selain Copepoda, ikan kecil dapat juga menjadi
pembawa procercoid.
Jenis
Bothriocephalus
pada
ikan
adalah
Bothriocephalus Claviceps pada Anguilla Rostrata,
Microptaerus Dolomieui, Lepomis Gibbosus larva
dapat pada ikan kecil, Bothriocephalus Cuspidatus
didapat di Perca Flavescens, Lepomis Gibbosus,
Micrptaerus Dolomleui dan Cyprinus Carpio.

IV. Gejala Klinis


Bothriocephalus merupakan cacing yang menjadi masalah utama
di kolam koi yang dasar kolamnya berupa tanah. Gejala yang
diperlihatkan menyerupai hexamita atau tuberculosis, dimana
ikan mengalami kerusakan saluran pencernaan karena usus yang
mengalami luka-luka.
Tanda-tanda klinis Ikan terinfeksi tampak lambat, tubuh kurus
karena tidak makan. Parasit ini umumnya ditemukan pada bagian
usus ikan. Parasit dapat menyebakan enteris hemorhage karena
adanya kerusakan pada epithel usus. Tahap dewasa dapat
menyebabkan gangguan proses penyerapan makanan dalam
usus sehingga dapat mengurangi food intake. Kemungkinan
terjadi infeksi sekunder oleh bakteri (Hilal anshary, 2008).
Parasit Cestoda pada ikan bisa didapatkan dalam bentuk dewasa
misalnya Bothriocephalus mempunyai final host yaitu flatfish
atau dalam larva dan mempunyai final host pada mamalia
misalnya Diphylobothrium latum (Mler dan Anders 1986).

V. Pengendalian
Untuk sejauh ini penelitian mengenai cara
menangani bothriocephalus sulit untuk ditemukan.
Namun berdasarkan habitat dan siklus hidup, kita
bias memotong distribusinya dengan mematikan ia
selagi bedara di kolam tanah. Mungkin bias dengan
melapisi bagian tanah dengan membuat kolam
tembok

Sekian
Terimaka
sih