Anda di halaman 1dari 10

3.

5 BKP atau JKP DAN JENIS BARANG DAN / JASA YANG TIDAK DIKENAKAN
PPN
Barang dan jasa yang tidak dikenai PPN sebagaimana diatur dalam pasal 4 a ayat 2 dan 3
UU PPN. Jenis barang yang tidak dikenai pajak pertambahan nilai adalah barang tertentu
dalam kelompok barang sebagai berikut :
1. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari
sumbernya :
a. Minyak mentah
b. Gas bumi, tidak termasuk gas bumi elpiji
c. Panas bumi
d. Asbes, batu tulis, garam batu, batu setengah permata, batu kapur, batu apung, batu
permata, bentonit, garam batu, grafit, granit, gips, kalsit, kaolin, leusit, mika,
marmer
e. Batubara sebelum diproses menjadi briket batubara
f. Bijih besi, bijih timah, bijih emas, bijih tembaga, bijih nikel, bijih perak.
2. Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan orang banyak :
a. Beras
b. Gabah
c. Jagung
d. Sagu
e. Kedelai,
f. Garam
g. Daging, daging segar yang tanpa diolah, tetapi telah melalui proses sembelih,
dikuliti, dipotongkan, didinginkan, dibekukan,
h. Telur, yang tidak diolah, termasuk telur yang dibersihkan, diasinkan, atau dikemas
i. Susu, yaitu susu perah, baik yang telah melalui proses didinginkan maupun
dipanaskan, tidak mengandung tambahan gula, atau bahan lainnya.
j. Buah-buahan
k. Sayur-sayuran
3. Makanan dan minuman yang disajikan dihotel, restoran, rumah makan, warung, dan
sejenisnya.
4. Uang, emas batangan, dan surat berharga
Jenis jasa yang tidak dikenai PPN adalah jasa tertentu dalam kelompok jasa :
1. Jasa pelayanan kesehatan :
a. Jasa dikter umum, dokter spesialis, dokter gigi
b. Jasa dokter hewan,
c. Jasa ahli kesehatan, ahli akupuntur, ahli gigi, ahli gizi,
d. Jasa kebidanan
e. Jasa paramedis,
f. Jasa rumah sakit

g. Jasa psikolog,
h. Jasa pengobatan, termasuk yang dilakukan paranormal
2. Jasa pelayanan sosial :
a. Jasa pelayanan panti asuhan
b. Jasa pemadam kebakaran
c. Jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan
d. Jasa lembaga
e. Jasa penyediaan rumah duka atau jasa pemakaman,
f. Jasa dibidang olahraga
3. Jasa pengiriman surat dengan perangko
4. Jasa keuangan
a. Jasa menghimpun dana dari masyarakat berupa giro, deposito berjangka,
tabungan,
b. Jasa menempatkan dana, meminjam dana, atau meminjamkan dana kepada phak
lain,
Denagan menggunakan surat dan sarana telekomunikasi
c. Jasa pembiayaan, termasuk pembiayaan berdasarkan prinsip syariah :
1. Sewa guna usaha
2. Anjak piutang
3. Usaha kartu kresdit
5. jasa penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai,
6. jasa penjaminan
7. jasa asuransi, asuransi kerugian, asuransi jiwa, dan reasuransi, yang dilakukan oleh
perusahaan asuransi kepada pemegang polis asuransi
8. jasa keagamaan, jasa pelayanan rumah ibadah, jasa pemberian khotbah, jasa
penyelenggaraan, kegiatan keagamaan
9. jasa pendidikan
a. jasa pendidikan pelayanan sekolah , pendidikan kedinasan, pendidikan kejuruan,
pendidikan luar biasa, pendidikan keagamaan
b. jasa penyelenggaraan pendidikan luar sekolah
10. jasa kesenian, dan hiburan
11. jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan, jasa penyiaran radio atau televisi yang
dilakukan oleh instansi pemerintah
12. jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udaran dalam negeri yang
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri
13. jasa tenaga kerja , meliputi jasa penyelenggaraan pelatihan bagi tenaga kerja , jasa
penyediaan tenaga kerja sepanjang pengusaha penyedia tenaga kerja tidak
bertanggung jawab atas hasil dari tenaga kerja
14. jasa perhotelan
15. jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintah secara
umum
16. jasa penyediaan tempat parkir, tidak terutang PPN namun jasa pengelolaan tempat
parkir merupakan jasa yang terutang PPN
17. jasa telpon umum
18. jasa pengiriman uang dengan wesel pos

19. jasa boga atau catering


Peraturan Menteri Keuangan NO.83/PMK.O3/2012 tentang kriteria atau rincian jasa
tenaga kerja yang tidak dikeni pajak pertambahan nilai mengatur sebagai berikut :
1. dalam hal penyedia jasa tenaga kerja tidak memenuhi ketntuan sebagaimana di
maksud dalam pasal 3 jasa yang dimaksud tersebut dikenai PPN, aebesar 10% di
kalikan dasar pengenaan pajak
2. dasa pengenaan pajak pada ayat 2 adalah seluruh penggantian meiputi seluruh
tagihan yang di minta oleh pengusaha jasa yaitu berupa gaji, upah, honorium
BKP tertentu bersifat strategis yang impor an penyerahannya mendapat pembebasan PPN
sesaui PP NO. 12 tahun 2001 yang telah diubah terkahir dengan PP NO. 31 Tahun 2007 :
1. barang modal berupa mesin, dan peralatan pabrik, baik dalam keadaan terpasang
maupun terlepas, tidak termasuk suku cadang, harus ada SKB (surat keterangan
bebas) pemungutan PPN jangka waktu 5 tahun
2. makanan ternak, unggas dan ikan
3. barang hasil pertanian
a. pertanian, perkebuanan, dan kehutanan
b. pertenakan, perburuan
c. perikanan baik dari penangkapan atau budidaya
4. bibit atau benih barang daari pertanian, perkebunan, peternakan, penangkaran dan
kehutan
5. ar bersih yang dialirkan melalui pipa
6. listrik kecuali perumahan daya dia ats 6.600 watt
7. rumah susun sederhana milik
BKP atau JKP tertentu yang impor dan penyerahannya mendapat pembebasan PPN Sesuai PP
NO. 146 Tahun 2000 yang telah diubah dengan PP NO. 38 Tahun 2003 :
1. barang kena pajak yang atas impornya dibebaskan dari PPN :
a. senjata, amunisi, alat angkutan di bawah air, alat angkutan di udara, serta suku
cadangnya yang diimpor oleh Depertemen Pertahanan
b. vaksin polio dalam rangka pelaksanaan program pekan imunisasi nasional
c. buku-buku pelajaran umu
d. kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal penangkjap ikan, dan suku cadang serta
alat keselamatan pelayaran yang diimpor dan digunakan oleh perusahaan
pelayaran indonesia
e. pesawat udar dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat
keselamatan manusia
f. kereta api dan suku cadan serta peralatan untuk perbaikan atau pemliharaan serta
prasarana yang diimpor dan digunakan oleh PERSERO

2. Barang kena pajak tertentu yanga atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan
PPN
a. Rumah sederhana, rumah susun sederhana, pondok boro, asrama mahasiswa, yang
batsannya itetapkan oleh Menteri Keuangan
b. Senjata, amunisi, alat angkutan air, alat angkutan di bawah air, alat angkutan di
udara, alat angkutan di darat serta suku cadangnya diserahkan oleh Departemen
Pertahanan
c. Vaksin, polio dalam rangka pelaksanaan program pekan imunisasi nasional
d. Kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau, serta suku cadangnya
yang diserahkan kepada perusahaan pelayaran niaga nasional
e. Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat
keselamatan manusia peralatan untuk perbaikan, serta suku cadang serta peralatan
untuk perbaikan atau pemeliharaan pesawat udara yang diperoleh oleh pihak yang
ditunjuk oleh perusahaan angkutan udara niaga nasional
f. Kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaiakn atau pemeliharaan
serta prasarana yang diserahkan kepada dan digunakan oleh PERSERO
g. Peralatan berikut suku cadangnya yang digunakan untuk penyediaan data bats dan
photo udara wilayah Negara Republik Indonesia
3. Jasa kena pajak tertentu yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN
a. Jasa yang diterima oleh perusahaan angkutan nasional meliputi :
1. Jasa persewaan kapal
2. Jsa kepelabuhan
3. Jasa perawatan
b. Jasa yang diterima oleh perusahaan angkutan udara niaga nasional ;
1. Jasa persewaan pesawat udara
2. Jasa perawatan atau reparasi pesawat
c. Jasa perawatan atau reparasi kereta api yang diterima oleh PT. PERSERO
d. Jasa yang diserahkan oleh kontraktor untuk pemborongan bangunan
e. Jasa persewaan rumah susun sederhana
f. Jasa yang diterima oleh departemen pertahanan
Pembebasan Bea Masuk atas PPN mendapat fasilitas tidak dipungut sesuai dengan
keputusan Menteri Keuangan NO. 231/KMK.03/2001 yang terakhir diubah dengan
peraturan Menteri Keuangan NO 70/PMK.011/2013
Barang yang dipergunakan untuk kegiatan usaha eksplorasi hulu minyak dan gas
bumi serta panas bumi :
1. Barang tersebut belum dapat diproduksi dalam negeri
2. Barang tersebut sudah diproduksi dalam negeri namun belum memenuhi
speifikasi yang dibutuhkan

3. Barang tersebut sudah iproduksi dalam negeri, namun jumlahnya belum


mencukupi kebutuhan industri

3.6 Saat terutangnya PPN dan Tata Cara Faktur Pajak


Pemungutan PPN oleh PKP sangat terkait dengan saat terutangnya PPN. Diatur dalam
pasal 17 ayat 1 s.d 10 PP No. 1 Tahun 2012 yang menyatakan :
1. Terutangnya PPN dan pajak penjualan atas barang mewah terjadi pada saat
a. Penyerahan barang kena pajak
b. Impor barang kena pajak
c. Penyerahan jasa kena pajak
d. Pemanfaatan brang kena pajak tidak berwujud dari luar daerah
e. Ekspor arang kena pajak berwujud
f. Ekspor barang kena pajak tidak berwujud
2. Dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan barang kena pajak atau
seblum penyerahan jasa kena pajak dilakukan sebelum dimulainya pemanfaatan
barang kena pajak tidak berwujud, saat terutang PPN dan pajak atas penjualan
barang mewah pada saat pembayaran
3. Penyerahan barang kena pajak sebagaimana dimaksud pada ayat 1 :
a. Penyerahan barang kena pajak berwujud yang menurut sifat dan hukumnya
berupa barang bergerak :
1. Barang kena pajak berwujud diserahkan langsung kepada pembeli
2. Barang kena pajak berwujud diserahkan secra langsung kepada penerima
3. Barang kena pajak berwujud tersebut diserahkan secara langsung kepada
juru kirim
b. Penyerahan barang kena pajak berwujud yang menurut sifat atau hukumnya
berupa barang tidak bergerak terjadi pada saat hak untuk menggunakan atau
menguasai
c. Penyerahan barang kena pajak tidak berwujud, terjadi pada saat :
a. 1. Harga atas penyerahan barang kena pajak tidak berwujud diakui
sebagai piutang pengahsilan
b. Kontrak atau perjanjian ditandangani saat mulai tersedianya fasilitas
d. Barang kena pajak berupa persediaan aset yang menurut tujuan semula tidak
diperjualbelikan yang masih tersisa saat terjadi pembubaran perusahaan
e. Pengalihan barang kena pajak dalam rangka penggabungan, pemekaran,
pemecahan, dan pengambilalihan usaha yang tidak memenuhi ketentuan
Undang-undang

4. Impor barang kena pajak sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf b terjadi pada
saat barang kena pajak tersebut dimasukkan dalam ke daerah Pabean
5. Penyerahan jasa kena pajak pada ayat 1 huruf c terjadi pada saat :
a. Harga atas penyerahan jasa kena pajak diakui sebagai piutang atau
pengahsilan
b. Kontrak atau perjanjian ditandangani
c. Mulai tersediannya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara
nyata
6. Pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dari luar daerah Pabean diatur
pada ayat 1 huruf d dan e :
a. Harga perolehan barang kena pajak tidak berwujud dinyatakan sebagai utang
oleh pihak yang memanfaatkannya
b. Harga jual barang kena pajak tidak berwujud ditagih oleh pihak yang
mnyerahkannya
c. Harga perolehan barang kena pajak tidak berwujud dibayar baik sebagian atau
selruhnya
7. Pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dari luar daerah pabean terjadi
pada tanggal ditandatangani kontrak atau perjanjian, dalam hal terjadinya
pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud
8. Ekspor barang kena pajak berwujud dimaksud pada ayat 1 huruf f terajdi pada
saat barang kena pajak dikeluarkan dari daerah pabean
9. Ekspor barang kena pajak tidak berwujud dimaksud pada ayat 1 huruf g terjadi
pada saat penggantian atas barang kena pajak tidak berwujud yang diekspor
tersebut dicatat atau diakuoi sebagai piutang
10. Ekspor jasa kena pajak apada ayat 1 huruf h terjadi pada saat penggantian atas
jasa yang dieksportersebut dicatat dan diakui sebagi piutang
Peraturan Menteri Keuangan no. 151/pmk.011.2013 tentang pembutan dan tata
cara pembetulan atau penggantian faktur pajak :
1. Pasal 7 : faktur pajak yang diterbitkan oleh pengusaha kena pajak setelah
melewati jangka waktu 3 bulan
2. Pasal 15 : pembatalan transaksi penyerahan barang kena pajak atau penyerahan
jasa kena pajak yang faktur pajaknya diterbitkan, pengusaha kena pajak yang
menrbitkan harus membatalkan faktur pajak
3. Pasal 16 : faktur pajak yang berbentul elektronik salah dalam pengisian faktur
pajak dapat diganti, Hasil cetak faktur pajak berbentuk elektronik yang hilang
dapat melakukan cetak ulang faktur pajak tersebut
4. Pasal 17 : atas faktur berbentuk kertas yang rusak, meneritkan faktur pajak
pengganti, atas faktur pajak berbentuk kertas yang hilang, pihak yang menrima

faktur pajak tersebut dapat membuat copy pajak dan dilegalisasi oleh kantor
pelayanan pajak

3.7 Tata cara retur dengan menggunakan nota retur , peraturan menteri
keuangan no. 65/PMK.03/2010 tentang tata cara pengurangan PPN atas
penjualan barang mewah atas PPN yang jasa kena pajak dibatalkan :
PASAL 2
1. dalam hal barang kena pajak yang diserakan ternyata dikembalikan oleh pembeli,
pertambahan nilai pajak atas penjulan barang mewah dari kena pajak yang
dikembalikan tersebut dapat mengurangi pajak keluaran dan pajak penjualan
barang mewah yang terutang oleh pengusaha kena pajak penjual dan
mengurangi :
a. Pajak masukan dari pengusaha kena pajak pembeli
b. Biaya atau harta bagi pengusaha kena pajak pembeli
c. Biaya atau harta bagi pembeli yang bukan pengusaha kena pajak
2. Jasa kena pajak yang diserahkan dibatalkan, baik sebagian atau seluruhnya, PPN
dari jasa kena pajak yang dibatalkan mengurangi pajak keluaran yang terutang
oleh pengusaha kena pajak dan mengurangi :
a. Pajak masukan dari pengusaha kena pajak penerima jasa,
b. Biaya atau harta bagi pengusaha kena pajak penerima jasa
c. Biaya atau harta bagi penerima jasa yang bukan pengusaha kena pajak dalam
hal PPN
PASAL 4
1. Dalam hal terjadi pengembalian barang kena pajak dimaksud dalam pasal 2 ayat 1
pembeli harus membuat dan menyampaikan nota retur kepda pengusaha kena
pajak
2. Nota retur yang dimaksud pada ayat 1 :
a. Nomor urut nota retur
b. Nomor, kode seri, dan tanggal faktur pajak
c. Nama, alamat, dan nomor pokok wajib pajak pemebeli
d. Jenis barang, jumlah harga jual barang kena pajak yang dikembalikan
e. Ppn atas barang kena pajak yang dikembalikan
f. Tanggal pembuatan nota retur
g. Nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani nota retur
3. Nota retur pada ayat 1 harus dibuat pada saat barang kena pajak dikembalikan
4. Bentuk dan ukuran nota retur dimaksud pada ayat 2 dibuat sesuai dengan
kebutuhan pembeli

5. Nota retur pada ayat 1 dibuat paling sedikit dalam rangkap dua
6. Dalam hal pembeli bukan pengusaha kena pajak, nota retur paling sedikit dibuat
dalam rangkap 3 dan lembar ke tiga harus disampaikan kepada kantor pelayanan
pajak tempat pembeli terdaftar
Pasal 5
1. Dalam hal terjadi pembatalan jasa kena pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal
ayat 2, penrima jasa harus membuat dan menyampaikan nota pembatalan kepada
pengusaha kena pajak pemberi jasa kena pajak
2. Nota pembatalan dimaksud pada ayat 1 harus dibuat pada saat jasa kena pajak
dibatalkan
3. Bentuk dan ukuran nota pembatalan dimaksud ayat 2 dibuat sesuai kebutuhn
administrasi pembeli
4. Nota pembatalan sebagaimana dimaksud ayat 1 :
a. Lembar kle 1 : untuk pengusaha kena pajak pemberi jasa kena pajak
b. Lembar ke dua : untuk arsip penerima jasa
5. Dalam hal penerima jasa bukan pengusaha kena pajak, nota pembatalan dibuat
paling sedikit dalam rangkap tiga, dan lembar ke tiga disampaikan ke kantor
pelayanan pajak

3.8 Mekanisme pemungutan PPN oleh pemungut PP


Secara umum, mekanisme pemungutan PPN dilakukan oleh PKP yang melakukan
penyerahan BKP atau JKP :
1. Pasal 27 pasal 1 UU PPN : Pemungut PPN adalah bendahara pemerintah, badan,
instansi pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk memengut,
menyetor dan melaporkan pajak yang terutang oleh pengusaha kena pajak atas
penyerahan barang kena pajak
2. Pasal16 A UU PPN : pajak yang terutang atas penyerahan barang kena pajak
kepada pemungut pajak pertambahan nilai dipungut, disetor dan dilaporkan oleh
pemungut pajak, tata cara pemungutan, penyetoran dan pelaporan pajak oleh
pemungut PPN diatur oleh Keputusan Menteri Keuangan

Yang ditunjuk sebagai pemungut PPN :


1. BENDAHARA PEMERINTAH adalah bendaharawan atau pejabat yang
melakukan pembayaran yang dananya berasal dari anggaran pendapatan dan
belanja negara ( keputusan menteri keuangan no.563/KMK.03/2003
2. Kontarktor atau pemegang kuasa
3. Badan usaha milik negara adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar
modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal
dari kekayaan negara
PPN atas penjualan barang mewah tidak dipungut oleh bendaharawan pemerintah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pembayaran yang jumlahnya paling banyak satu juta rupiah


Pembayaran pembebasan tanah
Pembayaran atas penyerahan bahan bakar minyak dan bukan bahan bakar minyak
Pembayaran atas penyerahan barang kena pajak
Pembayaran rekening telepon
Pembayaran jasa angkutan udara

PPN atas penjualan barang mewah yang tidak dipungut oleh kontraktor :
1. Pembayaran yang jumlahnya paling banyak sepuluh juta rupiah
2. Pembayaran atas penyerahan barang kena pajak mendapat fasilitas PPN tidak
dipungut
3. Pembayaran atas penyerahan bahan bakar minyak oleh PT PERSERO
4. Pembayaran rekening telepon
5. Pembayaran jasa angkutan udara
PPN atas pajak penjualan barang mewah yang tidak dipungut oleh badan usaha milik
negara
1. Pembayaran yang jumlahnya paling banyak sepuluh juta rupiah
2. Pembayaran atas penyerahan barang kena pajak mendapat fasilitas PPN tidak
dipungut
3. Pembayaran atas penyerahan bahan bakar minyak oleh PT PERSERO
4. Pembayaran rekening telepon
5. Pembayaran jasa angkutan udara

Tata cara pemungutan dan penyetoran


1. Rekanan wajib membuat faktur pajak dan SSP atas setiap penyerahan BKP
2. Faktur pajak dimaksud pada angka 1 dibuat sesuai dengan ketentuan di bidang
perpajakan

3. SSP sebagaimana dimaksud pada angka 1 diisi dengan membubuhkan NPWP


serta identitas rekanan
4. Dalam hal penyerahan BKP selain terutang PPN juga terutang PPnBM, maka
rekanan mencantumkan juga jumlah PPnBM,
5. Faktur pajak dimaksud dalam angka 1 dibuat dalam rangkap tiga :
a. Lembar kesatu untuk pemungut PPN
b. Lembar kedua untuk rekanan
c. Lembar ketiga untuk pemungut PPN
6. Pemungut PPN yang melakukan pemungutan wajib membubuhkan cap disetor
tanggal dan menandatanganinya pada faktur pajak
7. Faktur pajak dan SSP merupakan bukti pemungutan dan penyetoran PPN atau
PPN dan PPnBM. Penyetoran PPN oleh pemungut PPN paling lambat dilakukan
tanggal 15 bulan berikutnya dan SPTMasa bagi pemungut PPN.