Anda di halaman 1dari 21

Laporan Kasus

Gangrene dan Ketosis Pada Diabetes Melitus Tipe II

Pembimbing: dr. Elhamida Gusti, Sp.PD


Disusun oleh:
Pratiwi Utami, S.ked
030.11.231

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM RSUD BUDHI ASIH


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2016
1

BAB I
LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. M.AR

Nomor CM

: 01027533

Usia

: 59 tahun

Alamat

: KP BABAKAN NO 50 Depok

Pekerjaan

: wiraswasta

Pendidikan

: SMA

Agama

: Islam

Status Pernikahan

: Menikah

Masuk Rumah Sakit : Senin, 7 Mei 2016

II.

ANAMNESIS

Dilakukan secara autoanamnesis dengan Pasien pada hari Kamis 10 Mei 2016 pada pukul 08.00
WIB.
1. Keluhan utama
2. Keluhan tambahan
3. RPS

: Lemas seluruh tubuh sejak 5 hari smsrs


: luka di kaki kiri.
: OS mengeluhkan lemas 5 hari smrs, hal ini dirasakan makin

memberat hingga OS datang ke UGD RS Budhi Asih. OS mengeluhkan sering merasa


lapar meski banyak makan, cepat haus (+) dan sering BAK (+) terutama pada malam
hari, namun akhir-akhir ini OS kurang minum dan BAK sedikit dengan urin berwarna
kuning pekat. OS juga sering mengalami kesemutan dan rasa baal di kaki dan tangannya.
Terdapat penurunan nafsu makan, mual muntah dan rasa tidak nyaman di perut. OS
2

memang memiliki riwayat diabetes mellitus sejak 20 tahun dan berobat ke RS, namun OS
tidak rutin mengkonsumsi obat yang diberi dokter. Selama 2 bulan belakangan, OS tidak
mengkonsumsi obat anti diabetik dan hanya mengkonsumsi obat-obat herbal.
OS memiliki luka di jempol kaki kiri sejak 5 tahun yang lalu namun 5 hari smrs
luka di kaki semakin nyeri dan bengkak. Luka tersebut awalnya kecil, disebabkan oleh
gigitan tikus. Lama kelamaan luka tersebut melebar , bernanah dan berlubang. Hal ini
dirasa tidak terlalu mengganggu sehingga OS tidak berobat kedokter untuk lukanya. Luka
hanya dibersihkan dengan air bersih oleh istri OS. Nyeri (+) bengkak (+) berbau busuk
(+) disertai demam.
4. RPD

: Riwayat DM tidak terkontrol. riwayat katarak (+)Riw hipertensi

(-), Riw penyakit Jantung (-), penyakit ginjal (-), penyakit hati (-).
5. RPK
: riwayat DM (+) Hipertensi (-) peny. Jantung (-) peny. Ginjal (-)
peny. Hati (-)
6. Riwayat pengobatan : OS telah membeli obat penurun panas sebelum masuk Rumah
Sakit, namun keluhan dirasa tidak membaik.
7. Riwayat kebiasaan : OS menyukai makanan manis, OS sering mengkonsumsi obatobatan herbal. merokok (-) alcohol (-).
8. Anamnesis menurut sistem
a. Kepala
: pusing (+), nyeri (-), trauma (-), rambut rontok (-)
b. Mata
: nyeri (-), secret (-), gangguan visus (-)
c. Hidung
: trauma (-), nyeri (-), secret (-) epistaksis (-), sumbatan (-)
d. Telinga
: nyeri (-), secret (-), perdarahan (-), tinnitus (-), gangguan
e.
f.
g.
h.

pendengaran (-)
Mulut
Tenggorokan
Leher
Thoraks

: gusi berdarah (-) lidah kotor (-), sariawan (-), gangguan kecap (-)
: dysphagia (-) serak (-)
: benjolan (-) nyeri (-)
: Jantung: berdebar (-), nyeri dada (-), orthopnoe (-). Paru: sesak

(-), hemaptoe (-)


i. Abdomen
: kembung (+), mual (+), muntah (+), muntah darah (-), nyeri perut
(-), Nyeri kolik (-), perut membesar (-), mencret (-), tinja berdarah (-), tinja hitam (-)
j. Sal. Kemih
: nyeri BAK (-), poliuria (-), polakisuria (-), hematuria (-)
k. Ekstremitas
: bengkak (+) tangan kiri, nyeri sendi (-), deformitas (-), sianosis
(-)
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada hari jumat, 11 Maret 2016 di R 602 Barat secara
autoanamnesis.
3

Keadaan Umum
o Kesadaran : Compos Mentis
o Kesan sakit : sakit sedang
o Status gizi : BB 70 kg TB 165 cm BMI: 25,71 (overweight)
o Cara bicara : normal, koheren
o Cara berbaring

: normal

o Cara duduk

: normal

o Penampilan

: rapi

o Keadaan khusus: sesak (-) sianosis (-) oedem (-)

Tanda Vital
o TD

: 120/70 mmHg

o Nadi

: 97x/menit

o RR

: 20x/menit

o Suhu

: 37,8C

Status Generalis
o Kepala

: Normocephali

o Mata

Conjungtiva anemis - , Sklera ikterik - , pupil isokor, Reflex cahaya langsung /


tak langsung +/+
o Telinga

: Normotia, sekret (-), nyeri (-), liang telinga lapang, membrane

timpani intak.
o Hidung

: tidak ada deformitas, deviasi septum (-), discharge (-)

o Mulut

: OH buruk, Tonsil T1/T1, faring hiperemis (-)

o
o
o Thoraks

Inspeksi : bentuk simetris, pergerakan napas simetris,


pernapasan thorakoabdominal, sela iga normal, sternum datar,
retraksi sela iga (-)
4

Palpasi

pernapasan

simetris,

vocal

fremitus

simetris, tidak teraba thrill

Perkusi

: hemithoraks kanan dan kiri sonor, batas paru dan

hepar setinggi ICS 5 midclavicula kanan suara redup, batas


paru dan jantung kanan setinggi ICS 3-5 garis sternalis kanan
suara redup, batas paru dan atas jantung setinggi ICS 3 garis
parasternal kiri suara redup, batas paru dan jantung kiri
setinggi ICS 5, 1 jari medial garis midclavicula kiri suara
redup, batas paru dan lambung setinggi ICS 8 garis axillaris
anterior suara timpani.

Auskultasi

: vesikuler +/+, Rhonki -/-, wheezing -/-, BJ

I&II regular, gallop (-), murmur (-)


o Abdomen

Inspeksi : rata, ikterik (-), efloresensi bermakna (-), spider


navy (-), pernapasan abdominothorakal

Auskultasi

: BU 3x/menit, venous hump (-), Arterial

Bruit (-)

Perkusi

Palpasi

: Timpani 4 kuadran, shifting dullness (-)


: supel, Nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), hepar

dan lien, tidak teraba membesar, ballottement ginjal (-),


undulasi (-)
o Ekstremitas atas

: simetris, proporsional, deformitas (-), oedem (-)

o Ekstremitas bawah : simetris, proporsional, deformitas (-), pedis dekstra


tertutup oleh verban. Oedem (+)

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Laboratorium
7 Maret 2016 (UGD)

Jenis Pemeriksaan
Hematologi
Darah Rutin
Leukosit
Eritrosit
Hb
Ht
Trombosit
Kimia Klinik
GDS
Keton Darah
Elektrolit
Na
K
Cl
Ginjal
ureum
kreatinin

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

38.800
4,4
11,0
33%
855.000

/L
Juta/L
g/dl
%
/L

3800-10600
4.4-5.9
13,2-17,3
40-52
150000-450000

493
1,5

mg/dl

70-110
<0,6

122
6,2
87

mmol/L
mmol/L
mmol/L

135-155
3,6-5,5
98-109

87
1,81

mmol/L
mmol/L

13-43
<1,2

Kimia Klinik 8 Maret 2016


Analisa gas darah
Ph
7,48
pCO2
31
pO2
71
Bikarbonat
23

mmHg
mmHg
mmol/L

7,35-7,45
35-45
80-100
21-28

(HCO3)
Total CO2
Saturasi O2
BE

mmol/L
%
mEq/L

23-27
95-100
-2,5-2,5

24
95
0,8 mEq/L

8 Maret 2016

GDS 04.00
GDS 05.00
GDS 06.00
8 Maret 2016
Jenis Pemeriksaan
Imunoserologi
anti leptospira IgM
albumin
11 Maret 2016
Jenis Pemeriksaan
Hematologi
Darah Rutin
Leukosit
Eritrosit
Hb
Ht
Trombosit
Elektrolit
Na
K
Cl

12 Maret 2016
Jenis Pemeriksaan
Hematologi
Darah Rutin
Leukosit
Eritrosit
Hb
Ht
Trombosit
Kimia Klinik
Gula darah jam 12.00
Elektrolit
Na
K
Cl

200
174
117

mg/dl
mg/dl
mg/dl

<110
<110
<110

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

g/dl

negatif
3,5 - 5,2

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

29.900
3,4
9,5
29%
552.000

/L
Juta/L
g/dl
%
/L

3800-10600
4.4-5.9
13,2-17,3
40-52
150000-450000

128
4,9
100

mmol/L
mmol/L
mmol/L

135-155
3,6-5,5
98-109

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

25.300
2,9
7,8
23%
540.000

/L
Juta/L
g/dl
%
/L

3800-10600
4.4-5.9
13,2-17,3
40-52
150000-450000

111

mg/dl

<110

130
5,0
102

mmol/L
mmol/L
mmol/L

135-155
3,6-5,5
98-109

negatif
1,7

V.

FOLLOW UP

Selasa , 8 Maret 2016


S
lemas seluruh badan , kaki kanan terasa kesemutan terkadang baal.
O
KU : compos mentis
Mata: CA -/- SI -/TD: 110/50

Jantung: SI/II reg m- g-

N : 108x

Pulmo: SNV +/+ Rh-/- Wh-/-

RR: 24x

Abd: Supel, BU 3x, NT-

S :37,9

Eks: pedis dextra tertutup verban.


lab :
- HB: 11.0 , HT : 33% Trombosit : 855rb
- keton darah : 1,5 ,
- GDS : 493
- ureum : 87, kreatinin : 1.81.
- Na : 122 , K: 6,2

- ketosis dm
- gangren diabetikum
- ckd
- hiperkalemia, hiponatremia

- trombositosis
Paracetamol 3x1

levofloxacin 1x500

kalitake 1x1

ampiciline 2x1gr

vip albumin 3x1

terpasang infus drip insulin 0,5 u/hari.

omeprazole 1x1

nacl 0,9%/8j

ondancentron 3x8mg

- periksa keton ulang tanggal 10 maret.

metronidazole 3x500

- periksa albumin dan gds perjam.


- periksa antileptospira
8

- rencana amputasi (resiko tinggi) bila


ipd acc.

Rabu , 9 Maret 2016


S
lemas (+)
O
KU : compos mentis

Mata: CA -/- SI -/-

TD: 110/60

Jantung: SI/II reg m- g-

N : 88x

Pulmo: SNV +/+ Rh-/- Wh-/-

RR: 20x

Abd: Supel, BU 3x, NT-

S :37,8

Eks: pedis dextra tertutup verban.


lab :
- HB: 11.0 , HT : 33% Trombosit : 855rb
leukosit : 38,800
- keton darah : 1,5 ,
- ureum : 87, kreatinin : 1.81.
- Na : 122 , K: 6,2
GDS :
jam 4.00 : 200g/dl
jam 5.00 : 174 g/dl
jam 6.00 : 117 g/dl
jam 7.00 : 123 g/dl
anti leptospira negatif
albumin : 1,7

- ketosis dm
- gangren diabetikum
- ckd
- hiperkalemia, hiponatremia
9

- hipoalbuminemia
P

- trombositosis
Paracetamol 3x1

levofloxacin 1x500

kalitake 1x1

ampiciline 2x1gr

omeprazole 1x1

terpasang infus drip insulin 0,5u/hari.

ondancentron 3x8mg

nacl 0,9%/8j

metronidazole 3x500

rencana amputasi (resiko tinggi) oleh


bedah bila acc dari ipd.

Kamis, 10 Maret 2016


S
lemas (+) pusing (+) sesak (-) baal di kaki kanan
O
KU : somnolen
Mata: CA -/- SI -/TD: 110/80

Jantung: SI/II reg m- g-

N : 84x

Pulmo: SNV +/+ Rh-/- Wh-/-

RR: 20x

Abd: Supel, BU 3x, NT-

S :37,8

Eks: pedis dextra tertutup verban.


lab :
- HB: 11.0 , HT : 33% Trombosit : 855rb
leukosit : 38,800
- keton darah : 1,1 (1,5->1,1)
- ureum : 87, kreatinin : 1.81.
- Na : 122 , K: 6,2
- albumin : 1,7
-anti leptospira negatif

- ketosis dm
- gangren diabetikum
- ckd
- hipoalbuminemia
- hiperkalemia, hiponatremia
10

- trombositosis
Paracetamol 3x1

levofloxacin 1x500

kalitake 1x1

ampiciline 2x1gr

vip albumin 3x1

terpasang infus drip insulin 0,5u/hari.

omeprazole 1x1

nacl 0,9%/8j

ondancentron 3x8mg

-gds/2jam

metronidazole 3x500

rencana operasi (resiko tinggi) oleh


bedah bila keluarga acc.

Jumat, 11 Maret 2016


S
lemas (+) pusing (+) sesak (-) baal di kaki kanan
O
TD: 120/70
Mata: CA -/- SI -/N : 97x/m

Jantung: SI/II reg m- g-

RR: 20x

Pulmo: SNV +/+ Rh-/- Wh-/-

S :37,8

Abd: Supel, BU 3x, NTEks: pedis dextra tertutup verban.


lab :
HB: 9,5 , HT : 29% , Trombosit : 552rb
leukosit : 29,900
- keton darah : 1,1 (1,5->1,1)
- ureum : 87, kreatinin : 1.81.
- Na : 128, K: 4,9
- albumin : 1,7
GDS :
jam 01.00 : 151g/dl
jam 10.00 : 121 g/dl
jam 12.00 : 168 g/dl
jam 14.00 : 121 g/dl
anti leptospira negatif

- ketosis dm
11

- gangren diabetikum
- ckd
- hipoalbuminemia
- hiponatremia
P

- trombositosis
Paracetamol 3x1

levofloxacin 1x500

kalitake 1x1

ampiciline 2x1gr

vip albumin 3x1

terpasang infus drip insulin 0,5 u/hari.

omeprazole 1x1

nacl 0,9%/8j

ondancentron 3x8mg

- periksa gds/4jam

metronidazole 3x500

rencana operasi (resiko tinggi) oleh


bedah bila keluarga acc.

Sabtu, 12 Maret 2016


S
baal di kaki kanan, lemas seluruh tubuh, pusing.
O
TD: 120/70
Mata: CA -/- SI -/N : 106x/m

Jantung: SI/II reg m- g-

RR: 20x

Pulmo: SNV +/+ Rh-/- Wh-/-

S : 38

Abd: Supel, BU 3x, NTEks: pedis dextra tertutup verban.


lab :
HB: 7,8 , HT : 23% , Trombosit : 540rb
leukosit : 25,300
- keton darah : 1,1 (1,5->1,1)
- ureum : 87, kreatinin : 1.81.
- Na : 130, K: 5
- albumin : 1,7
- gula darah :
jam 00.00 : 144mg/dl
12

jam 12.00 :186 mg/dl


jam 16.00 : 167 mg/dl
jam 20.00 : 173 mg/dl
A

- ketosis dm
- gangren diabetikum
- ckd
- hipoalbuminemia
- hiponatremia

- trombositosis
Paracetamol 3x1

levofloxacin 1x500

kalitake 1x1

ampiciline 2x1gr

vip albumin 3x1

terpasang infus drip insulin 0,5 u/hari.

omeprazole 1x1

nacl 0,9%/8j

ondancentron 3x8mg

transfusi PRC

metronidazole 3x500
rencana operasi (resiko tinggi) oleh
bedah bila keluarga acc.

Minggu, 13 Maret 2016


S
OS batuk dan tersedak makanan
O
KU : Kesadaran menurun.
OS apnoe

lab :
HB: 7,8 , HT : 23% , Trombosit : 540rb
leukosit : 25,300
- keton darah : 1,1 (1,5->1,1)
- ureum : 87, kreatinin : 1.81.
- Na : 130, K: 5
- albumin : 1,7

- sepsis berat
- ketosis dm
- gangren diabetikum
- CKD
13

- hipoalbuminemia
P

- hiponatremia
RJP + Bagging -> EKG Flat

OS dinyatakan meninggal jam 07.20 di


R602 RS Budhi Asih.

VI.

RINGKASAN
Tn M.A datang dengan keluhan lemas sejak 5 hari yang lalu dan dirasakan memberat

hingga 1 hari smrs. Akhir-akhir ini OS kurang minum dan BAK sedikit dengan urin berwarna
kuning pekat. OS sering mengalami kesemutan dan rasa baal di kaki dan tangannya. Terdapat
penurunan nafsu makan, mual muntah dan rasa tidak nyaman di perut. Riwayat diabetes mellitus
20 tahun yang tidak terkontrol. Selama 2 bulan belakangan, OS tidak mengkonsumsi obat anti
diabetik dan hanya mengkonsumsi obat-obat herbal. OS memiliki luka di jempol kaki kiri sejak 5
tahun yang tidak dirasakan menggangu. Luka hanya dibersihkan dengan air bersih oleh istri OS.
Nanah (+) Nyeri (+) bengkak (+). Tanda vital ; TD : 110/50 mmhg , N : 108x/m , RR: 24x/m, S:
37,9.

VII.

DAFTAR MASALAH
1. Ketosis Diabetes Mellitus
2. Diabetes Mellitus tipe II tidak terkontrol
3. Gangren pedis diabetikum

14

4. Sepsis berat
5. Electrolyte imbalance
6. Trombositosis reaktif (sekunder)
7. CKD ( Chronic Kidney Disease )

VIII. ANALISIS MASALAH


1. Ketosis Diabetes Mellitus
Pasien datang dengan keluhan lemas pada tubuh beberapa hari SMRS. Dari hasil
laboratorium didapatkan hiperglikemia dan ketonemia (1,5).
tanda dan gejala klinis:
malaise, lemas seluruh badan
mual dan muntah, penurunan nafsu makan
Adapun rencana tatalaksana yang akan dilakukan adalah:
1. Rencana diagnostik:
a. Pemantuan glukosa darah
b. Pemeriksaan analisa gas dasah (AGD) untuk mengetahui ada tidaknya
keadaan ketoasidosis diabetik
c. Pemantauan lab darah dan keton darah
d. pemantauan elektrolit darah
2. Rencana Terapi:
a. Medikamentosa: pemberian insulin, resusitasi cairan dan elektrolit
b. Non-medika mentosa: pengaturan diet DM, edukasi pasien mengenai cara
pengendalian glukosa darah seperti pengaturan makan dan berolahraga.
c. identifikasi penyebab.1

2. Diabetes Mellitus Tipe II tidak terkontrol


OS menyatakan memiliki riwayat diabetes melitus. Pada anamnesis didapatkan gejala
klasik DM yaitu polifagi, poliuri, polidipsi, polineuropati. Pasien mengaku tidak rutin
mengkonsumsi obat dokter dan 2 bulan terakhir hanya mengkonsumsi obat herbal. Pada
pemeriksaan penunjang saat masuk, kadar gula darah OS adalah 493 mg/dl. Hal ini sesuai
dengan kriteria diagnosis diabetes melitus, yaitu :
a) Jika keluhan klasik ditemukan,

maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200

mg/dL sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM


b) Pemeriksaan glukosa plasma puasa 126 mg/dL dengan adanya keluhan klasik.
c) Tes toleransi glukosa oral (TTGO). Meskipun TTGO dengan beban 75 g glukosa lebih
15

sensitif dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa, namun
pemeriksaan ini memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk dilakukan
berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan karena membutuhkan
persiapan khusus.
rencana terapi :
- pemberian drip insulin
- pemantauan kadar gula darah
- edukasi mengenai penyakit tersebut. 1
3. Gangren pedis diabetikum
Pasien disini sering merasa kesemutan atau bahkan tidak dapat merasakan
rangsangan

luar. Berbagai hal yang sederhana yang pada orang normal tak

menyebabkan luka, akibat

adanya daya proteksi nyeri, pada pasien DM dapat

berlanjut menjadi luka yang tidak disadari keberadaanya, dan kemudian menjadi tukak
diabetik. Tusukan jarum atau paku tak disadari. sehingga pasien baru menyadarinya
setelah terjadi luka yang membusuk dan

membahayakan keselamatan kaki secara

keseluruhan.
Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien mengeluh luka pada telapak kaki kiri
sejak 5

tahun SMRS yang tidak sembuh-sembuh, bahkan luka tersebut semakin

melebar, nanah (+), darah (+), bau busuk (+), warna merah sekitar luka (+), terasa panas
di sekitar luka (+), disertai demam (+). Selain itu didapatkan juga trias DM

yaitu

polidipsi, poliuri, dan polifagi pada pasien ini. Pasien memiliki diabetes melitus dan
kadar gula darah saat datang ke RS adalah 493 mg/dl.

Rencana terapi : bersihkan luka dengan NaCl 0,9 % , rencana konsul Bedah

Rencana edukasi : menjelaskan kepada pasien tentang penyakit tersebut. 2

4. Sepsis
kriteria diagnosis :
1. SIRS ( Systemic Inflamantory Response Syndrome ) :
- suhu > 38 C atau < 36 C
16

- heart rate > 90x/m


- leukosit >12.000 atau <4000
2. sepsis
- 2 SIRS criteria + telah diketahui sumber infeksinya
3. sepsis berat
- sepsis + MOD ( Multiple Organ Dysfunction )
Pada kasus ini OS memenuhi kriteria sepsis yaitu heart rate 108x, leukosit
38800/L,

suhu 37,9 C dan telah diketahui sumber infeksinya yaitu pada pedis

sinistra. Selain itu, OS juga mengalami alkalosis respiratori yang ditandai dengan pH :
7,48, dan pCO2 : 31. Hal ini disebabkan karena adanya hiperventilasi, akibatnya terjadi
penurunan pCO2 dan menyebabkan peningkatan rasio antara bikarbonat dengan pCO2.
Sehingga terjadi peingkatan pH.
Prinsip penanganan sepsis :

eliminasi sumber infeksi : drainase/pembedahan

antibiotik

dukungan hemodinamik

terapi suportif . 3,4

5. Electrolyte imbalance
OS datang dengan lemas pada seluruh tubuh. Diagnosis didasarkan pada hasil
pemeriksaan elektrolit yang menunjukan keadaan hyperkalemia (6,2 mmol/dl) ,
hyponatremia (122 mmol/dl). Rencana diagnostik yang akan dilakukan adalah
pemantauan elektrolit darah. Sedangkan, rencana terapi yang dilakukan secara
medikamentosa adalah koreksi elektrolit yang bisa dilakukan dengan pemberian cairan
infus.
6. CKD ( Chronic Kidney Disease )

17

Pada pemeriksaan penunjang didapatkan ; Hb : 11 g/dl , ureum : 87 kreatinin : 1,81


albumin : 1,7.
Jika dihitung nilai GFR menggunakan rumus Cockroft-Gault equation :
( 140 - umur ) x BB
72 x kreatinin plasma

( 140 - 59 ) x 70
72 x 1,81

43,5
ml/m/1,732m2

*nilai nomal pada laki-laki adalah 88-128 ml/m/1,73m2.


I

penjelasan
kerusakan ginjal dengan

GFR
90

GFR N

Rencana tatalaksana
terapi penyakit dasar,
evaluasi perburukan
fungsi ginjal, perkecil

II

kerusakan ginjal dengan

60-89

GFR menurun ringan


III

kerusakan ginjal dgn

IV

GFR menurun sedang


kerusakan ginjal dgn

risiko kardiovaskular
menghambat
perburukan fungsi

30-59

ginjal
evaluasi dan terapi

15-29

komplikasi
persiapan untuk

GFR menurun berat

terapi pengganti

gagal ginjal

ginjal
terapi pengganti

15

ginjal
kesimpulan : Pada kasus ini, OS mengalami CKD stage III.
Pasien memiliki riwayat diabetes melitus tidak terkontrol selama 20 tahun. Hal ini
merupakan faktor resiko untuk terjadinya komplikasi kronik diabetes salah satunya adalah
CKD. Pada awal terjadinya CKD biasanya terjadi microalbuminuria, penurunan GFR,
peningkatan ureum kreatinin di darah.
Pada pasien ini perlu dilakukan pemeriksaan urinalisis untuk mendukung diagnosis.
prinsip pengangan :
- menghambat progres proteinuria dan mencegah ekskresi albumin dengan pemberian
obat golongan ace inhibitor. 5
18

7. Trombositosis reaktif ( sekunder )


Trombosis reaktif, dalam keadaan normal, pengaturan produksi trombosit dari
megakariosit di sumsum tulang melibatkan pengikatan trombopoetin bebas di plasma
dengan megakariosit. Hal inilah yang merangsang aktifnya megakariositopoetik
memproduksi trombosit. Pada pasien ini terjadi trombositosis reaktif, penyakit dasarnya
akan merangsang peningkatan sintesis trombopoetin dengan mediator berbagai sitokin
diantaranya interliokin-6 yang selanjutnya akan meningkatkan aktifitas
megakariositopoetik memproduksi trombosit.
3
Padakasusinididapatkan jumlah trombosit 855.000/mm .
- rencana diagnostik : cek ulang trombosit.

IX.

PEMERIKSAAN ANJURAN
1. Pemeriksaan Hba1c, pemantauan glukosa darah, pemantauan keton darah, pemantauan
elektrolit darah untuk memastikan diagnosis pada pasien ini, serta menentukan rencana
terapi.
2. Foto thoraks, untuk mengetahui apakah ada sumber infeksi lain
3. Analisa gas darah, untuk memantau keseimbangan asam basa pada pasien
4. pemeriksaan urinalisis

X.

PENATALAKSANAAN
a. Medikamentosa
1. drip insulin 0,5iu
2. paracetamol tab 3x1
3. kalitake 1x1
19

4. vip albumin 3x1


5. omeprazole 1x1
6. ondancentron 3x8mg
7. ampicilin sulbctam 2x1gr
8. levofloxacin 1x500 mg
9. metronidazole 3x500
10. albuman
b. Tindakan
1. Debridement
2. Perawatan luka
c. Non-medikamentosa
1. Diet DM
2. Edukasi tatacara dan waktu perawatan luka
3. Edukasi pengaturan gula darah dengan penggunaan obat, makanan dan olahraga.
XI.

PROGNOSIS
AD VITAM
AD SANATIONAM
AD FUNGSIONAM

: dubia ad malam
: dubia ad malam
: dubia ad malam
KESIMPULAN

Pada kasus ini, OS datang dalam keadaan lemas sejak beberapa hari smrs. OS memiliki
riwayat diabetes melitus yang tidak terkontrol sejak 20 tahun sehingga beresiko tinggi untuk
tejadinya berbagai macam komplikasi. Dalam kasus ini, pasien mengalami berbagai masalah
yaitu ketosis, gangren pedis diabetikum, sepsis, dan CKD, yang merupakan komplikasi dari
diabetes melitus yang dimiliki oleh pasien.
Selama menjalani perawatan di rumah sakit, OS selalu merasa lemas dan demam dengan
suhu yang tidak pernah mencapai normal. OS menjalani perawatan bersama dengan bagian
bedah untuk mengatasi masalah gangren di pedisnya . Dari bagian bedah di rencanakan untuk
tindakan amputasi ( risiko tinggi ) namun menunggu persetujuan dari keluarga dan penyakit
dalam. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan jumlah keton menurun yaitu dari 1,5
menjadi 1,1 dan Jumlah leukosit mengalami penurunan meskipun tetap diatas nilai normal
yaitu dari 38.800 menjadi 25.300. Sedangkan jumlah Hb selalu mengalami penurunan yaitu
20

pada hari perawatan ke-1 11 g/dl, pada hari perawatan ke-4 menjadi 9,5 g/dl , dan pada hari
perawatan ke-6 turun menjadi 7,8 g/dl. Pada hari perawatan ke ke-6 ( 12/3/2016 ) OS
mengalami penurunan kesadaran, sepsis berat, dan apnoe. Kemudian dilakukan tindakan RJP,
namun OS tidak dapat tertolong. OS dinyatakan meninggal oleh dokter jaga pada pukul
07.20 tanggal 13 Maret 2016.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kasper DL, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrisons
principle of internal medicine. 19th ed. In: Powers AC: Diabetes melitus: Diagnosis,
Classification, and Pathophysiology. New York: Mcgraw-Hill; 2015.
2. Waspadji S , Kaki Diabetik, Kaitannya Dengan Neuropati Diabetik dalam Makalah
Kaki Diabetik Patogenesis dan Penatalaksanaan. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro. Semarang;1997.
3. Levey AS, Coresh J, Balk E, Kausz AT, Levin A, Steffes MW, et al. National Kidney
Foundation practice guidelines for chronic kidney disease: evaluation, classification,
and stratification. Ann Intern Med. 2003;139(2):137-47.
4. Gardner WN. The pathophysiology of hyperventilation disorders. Chest; 1996.
5. Kasper DL, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrisons
principle of internal medicine. 19th ed. In Bargman JM, Skorecki K: Chronic kidney
disease. New York: Mcgraw-Hill; 2015.

21