Anda di halaman 1dari 10

TUGAS KOROSI

FAKTOR PENGARUH LAJU KOROSI

Oleh :
Fajar Rizki Pratama (K2513020)

PENDIDIKAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITASN NEGERI SEBELAS MARET
2015

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU KOROSI

Korosi atau pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan


bahan logam yang pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion
pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan berair
dan oksigen. Contoh yang paling umum, yaitu kerusakan logam besi
dengan terbentuknya karat oksida. Dengan demikian, korosi menimbulkan
banyak kerugian.
Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam
menjadi ion dengan melepaskan elektron ke dalam (permukaan) logam
dan proses katodik yang mengkonsumsi electron tersebut dengan laju
yang sama : proses katodik biasanya merupakan reduksi ion hidrogen
atau oksigen dari lingkungan sekitarnya.
Perkaratan besi adalah peristiwa elektrokimia sebagai berikut :

Besi dioksidasi oleh H2O atau ion hydrogen


Fe(s) Fe2+(aq) + 2e- (oksidasi)
2H+ (aq) 2H(aq) ( reduksi )
Atom-atom H bergabung menghasilkan H2
2H(aq) H2(g)
Atom-atom H bergabung dengan oksigen
2H(aq) + O2(aq) H2 O(l)

Jika konsentrasi H+ cukup tinggi (pH rendah), maka reaksi


Fe + 2H+

(aq)

2H(aq) + Fe2+

(aq)

2H(aq) H2(g)

Ion Fe2+ juga bereaksi dengan oksigen dan membentuk karat (coklat
keerah-merahan) dengan menghasilkan ion H+ yang selanjutnya
direduksi menjadi H24Fe2+

(aq)

+ O2(aq) + 4H2 O(l) + 2xH2 O(l) 2Fe2O3H2O)x(s) + 8H+

Reaksi totalnya menjadi


4Fe(s) + 3O2(aq) + 2x H2 O(l) 2Fe2O3H2O)x(s)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi suatu logam dapat


terkorosi dan kecepatan laju korosi suatu logam. Sua logam yang sama
belum tentu mengalami kasus korosi yang sama pula pada lingkungan
yang berbeda. Begitu juga dua logam pada kondisi lingkungan yang sama
tetapi jenis materialnya berbeda, belum tentu mengalami korosi yanga
sama. Dari hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa terdapat dua faktor
yang dapat mempengaruhi korosi suatu logam, yaitu faktor metalurgi dan
faktor lingkungan.

1. Faktor Metalurgi
Faktor metalurgi adalah pada material itu sendiri. Apakah suatu
logam dapat tahan terhadap korosi, berapa kecepatan korosi yang dapat
terjadi pada suatu kondisi, jenis korosi apa yang paling mudah terjadi, dan
lingkungan apa yang dapat menyebabkan terkorosi, ditentukan dari faktor
metalurgi tersebut.
Yang termasuk dalam faktor metalurgi antara lain :
a. Jenis logam dan paduannya
Pada lingkungan tertentu, suatu logam dapat tahan tehadap korosi.
Sebagai

contoh,

aluminium

dapat

membentuk

lapisan

pasif

pada

lingkungan tanah dan air biasa, sedangkan Fe, Zn, dan beberapa logam
lainnya dapat dengan mudah terkorosi.
b. Morfologi dan homogenitas
Bila suatu paduan memiliki elemen paduan yang tidak homogen, maka
paduan tersebut akan memiliki karakteristik ketahanan korosi yagn
berbeda-beda pada tiap daerahnya.
c. Perlakuan panas

Logam yang di-heat treatment akan mengalami perubahan struktur


kristal atau perubahan fasa. Sebagai contoh perlakuan panas pada
temperatur 500-800 0C terhadap baja tahan karat akan menyebabkan
terbentuknya endapan krom karbida pada batas butir. Hal ini dapat
menyebabkan terjadinya korosi intergranular pada baja tersebut. Selain
itu, beberapa proses heat treatment menghasilkan tegangan sisa. Bila
tegangan sisa tesebut tidak dihilangkan, maka dapat memicu tejadinya
korosi retak tegang.
d. Sifat mampu fabrikasi dan pemesinan
Merupakan suatu kemampuan material untuk menghasilkan sifat yang
baik setelah proses fabrikasi dan pemesinan. Bila suatu logam setelah
fabrikasi memiliki tegangan sisa atau endapan inklusi maka memudahkan
terjadinya retak.

2. Faktor Lingkungan
Faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi korosi antara lain:
a. Komposisi kimia
Ion-ion tertentu yang terlarut di dalam lingkungan dapat mengakibakan
jenis korosi yang berbeda-beda. Misalkan antara air laut dan air tanah
memiliki sifat korosif yang berbeda dimana air laut mengandung ion klor
yang sangat reaktif mengakibatkan korosi. Gambar berikut menunjukkan
pengaruh komposisi elemen paduan terhadap ketahan korosi terhadap
paduan tembaga.
b. Konsentrasi
Konsentrasi

dari

elektrolit

atau

kandungan

oksigen

akan

mempengaruhi kecepatan korosi yang terjadi. Pengaruh konsentrasi


elektrolit terlihat pada laju korosi yang berbeda dari besi yang tercelup
dalam H2SO4 encer atau pekat, dimana pada larutan encer, Fe akan
mudah larut dibandingkan dalam H2SO4 pekat. Pengaruh konsentrasi
terhadap laju korosi dapat dilihat pada gambar berikut.

Suatu logam yang berada pada lingkungan dengan kandungan O2


yang berbeda akan terbagi menjadi dua bagian yaitu katodik dan anodik.
Daerah anodik terbentuk pada media dengan konsentrasi O2 yang rendah
dan katodik terbentuk pada media dengan konsentrasi O2 yang tinggi.

c. Temperatur
Pada lingkungan temperatur tinggi, laju korosi yang terjadi lebih tinggi
dibandingkan dengan temperatur rendah, karena pada temperatur tinggi
kinetika reaksi kimia akan meningkat.
Gambar berikut menunjukkan pengaruh temperatur terhadap laju
korosi pada Fe. Semakin tinggi temperatur, maka laju korosi akan semakin
meningkat, namun menurunkan kelarutan oksigen. Sehingga pada suatu
sistem terbuka, diatas suhu 800C, laju korosi akan mengalami penurunan
karena oksigen akan keluar sedangkan pada suatu sistem tertutup, laju
korosi akan terus menigkat karena adanya oksigen yang terlarut.
d. Gas, cair atau padat
Kandungan kimia di medium cair, gas atau padat berbeda-beda.
Misalkan pada gas, bila lingkungan mengandung gas asam, maka korosi
akan mudah terjadi (contohnya pada pabrik pupuk). Kecepatan dan
penanganan korosi ketiga medium tersebut juga dapat berbeda-beda.
Untuk korosi di udara, proteksi katodik tidak dapat dilakukan, sedangkan
pada medium cair dan padat memungkinkan untuk dilakukan proteksi
katodik.
e. Kondisi biologis
Mikroorganisme

sepert

bakteri

dan

jamur

dapat

menyebabkan

terjadinya korosi mikrobial terutama sekali pada material yang terletak di


tanah. Keberadaan mikroorganisme sangat mempengaruhi konsentrasi
oksigen yang mempengaruhi kecepatan korosi pada suatu material.
Faktor-faktor metalurgi dan lingkungan harus dievaluasi secara integral.
Dalam suatu industri, sering diterapkan beberapa jenis logam dalam suatu
kondisi lingkungan, atau sebaliknya satu jenis logam berada dalam
beberapa jenis kondisi lingkungan. Kondisi yang paling rumit adalah
beberapa jenis logam berada pada beberapa jenis lingkungan.
3. Faktor Gas Terlarut
a. Oksigen (02)

Adanya oksigen yang terlarut akan menyebabkan korosi pada metal


seperti laju korosi pada mild stell alloys akan bertambah dengan
meningkatnya

kandungan

oksigen.

Kelarutan

oksigen

dalam

air

merupakan fungsi dari tekanan, temperatur dan kandungan klorida. Untuk


tekanan 1 atm dan temperatur kamar, kelarutan oksigen adalah 10 ppm
dan kelarutannya akan berkurang dengan bertambahnya temperatur dan
konsentrasi garam. Sedangkan kandungan oksigen dalam kandungan
minyak-air yang dapat mengahambat timbulnya korosi adalah 0,05 ppm
atau kurang. Reaksi korosi secara umum pada besi karena adanya
kelarutan oksigen adalah sebagai berikut :
Reaksi Anoda : Fe Fe2- + 2e
Reaksi katoda : 02 + 2H20 + 4e 4 OH
b. Karbondioksida (CO2),
Jika kardondioksida dilarutkan dalam air maka akan terbentuk asam
karbonat (H2CO2) yang dapat menurunkan pH air dan meningkatkan
korosifitas, biasanya bentuk korosinya berupa pitting yang secara umum
reaksinya adalah:
CO2 + H2O H2CO3
Fe + H2CO3 FeCO3 + H2
FeC03 merupakan corrosion product yang dikenal sebagai sweet corrosion
4. Keberadaan Zat Pengotor
Zat Pengotor di permukaan logam dapat menyebabkan terjadinya
reaksi reduksi tambahan sehingga lebih banyak atom logam yang
teroksidasi. Sebagai contoh, adanya tumpukan debu karbon dari hasil
pembakaran BBM pada permukaan logam mampu mempercepat reaksi
reduksi gas oksigen pada permukaan logam yang mengakibatkan proses
korosi semakin cepat pula.
5. Kontak dengan Elektrolit

Keberadaan

elektrolit,

seperti

garam

dalam

air

laut

dapat

mempercepat laju korosi dengan menambah terjadinya reaksi tambahan.


Konsentrasi elektrolit yang besar dapat meningkatkan laju aliran elektron
sehingga laju korosi meningkat.

6. Faktor Padatan Terlarut


a. Klorida (CI),
Klorida menyerang lapisan mild steel dan lapisan stainless steel.
Padatan ini menyebabkan terjadinya pitting, crevice corrosion, dan juga
menyebabkan

pecahnya

alooys.

Klorida

biasanya

ditemukan

pada

campuran minyak-air dalam konsentrasi tinggi yang akan menyebabkan


proses korosi. Proses korosi juga dapat disebabkan oleh kenaikan
konduktivity larutan garam, dimana larutan garam yang lebih konduktif,
laju korosinya juga akan lebih tinggi.
b. Karbonat (C03),
Kalsium karbonat sering digunakan sebagai pengontrol korosi dimana
film karbonat diendapkan sebagai lapisan pelindung permukaan metal,
tetapi dalam produksi minyak hal ini cenderung menimbulkan masalah
scale.
c. Sulfat (S04),
Ion sulafat ini biasanya terdapat dalam minyak. Dalam air, ion sulfat
juga ditemukan dalam konsentrasi yang cukup tinggi dan bersifat
kontaminan, dan oleh bakteri SRB sulfat diubah menjadi sulfida yang
korosif.

DAFTAR PUSTAKA
Angel,

Feya.

2013.

Diakses

pada

tanggal

19

nopember

2015,

http://fiaandja.blogspot.co.id/2013/11/korosi.html
Sanjaya,

Riki.

2012.

Diakses

pada

tanggal

19

Nopember

2015,

http://navale-engineering.blogspot.co.id/2012/04/korosi-sebabsebab-korosi-macam-macam.html