Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam praktek sehari-hari, baik pada praktek umum maupun praktek spesialis sebagian
besar pasien datang dengan keluhan fisi. Dokter biasanya baru menyadari adanya gangguan
psikiatri setelah dilakukan berbagai macam pemeriksaan dan pengobatan tanpa hasil yang
memuaskan (Shatri, 2005). Gangguan psikiatri yang mendasari terjadinya masalah somatik pada
pasien yang berkunjung ke dokter adalah gangguan cemas, depresi dan somatoform (Gelder et al,
1995).
Somatoform adalah kelompok gangguan yang meliputi gejala fisik (misalnya nyeri, mual,
dan pusing) namun tidak dapat ditemukan penjelasan secara medis . Gangguan somatoform
berasal dari kata soma yang berarti tubuh dalam bahasa Yunani. Pada gangguan somatoform,
penderita hadir dengan berbagai gejala yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak
ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan sebagai penyebab gangguan tersebut ( Kaplan &
Sadock, 1997). Prevalensi gangguan somatoform sekitar 30% ( Budiyono, 2005).
Gangguan somatoform sering kali berkomorbid dengan gejala-gejala kecemasan
(anxietas) dan depresi yang nyata. Sering kali, pasien dengan gangguan ini juga memiliki
perilaku mencari perhatian atau histrionik. Hal ini umumnya terjadi pada pasien yang kesal
karena tidak berhasil membujuk dokternya untuk menerima bahwa keluhan yang diutarakannya
adalah benar penyakit fisik. Selain itu, walaupun diketahui bahwa terdapat asosiasi antara gejalagejala yang dimiliki pasien dengan peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan ataupun
konflik, pasien biasanya menolak upaya-upaya untuk membahas kemungkinan adanya penyebab
psikologis (Depkes RI, 1993).
Berdasarkan latar belakang yang sudah dijabarkan, kami selaku penulis tertarik untuk
membahas mengenai gangguan somatoform ditinjau dari segi definisi, etiologik, klasifikasi
hingga penatalaksanaan dengan begitu diharapkan dapat memberikan potensi untuk prognosis
yang lebih baik dengan diagnosis dini, mencegah terjadinya kesalahan diagnosis, mencegah
terjadinya kesalahan pengobatan, dan memungkinkan untuk mencegah penyakit berlarut-larut.

I.2 Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum:

Untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti program studi kepaniteraan klinik
kesehatan jiwa di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta

1.2.2. Tujuan Khusus:

Untuk mengetahui dan memahami dengan baik penjelasan mengenai gangguan


somatoform berikut dengan subtipenya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik
(sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) dimana tidak dapat ditemukan penjelasan
medis yang adekuat.
Pada gangguan somatoform, orang memiliki simptom fisik yang mengingatkan pada
gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan sebagai
penyebabnya. Gejala dan keluhan somatik menyebabkan penderitaan emosional/gangguan

pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Gangguan
somatoform tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan (Kaplan &
Sadock, 1997)
II.2 Klasifikasi
Dalam membedakan keluhan-keluhan pasien, secara garis besar DSM IV (Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorder) membagi gangguan somatoform menjadi lima
subtipe sebagai berikut:
1) Gangguan somatisasi; ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem
organ.
2) Gangguan konversi; ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.
3) Hipokondriasis; ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan
pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.
4) Gangguan dismorfik tubuh; ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang
berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
5) Gangguan nyeri; ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan
faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
Selain itu, DSM IV juga memiliki dua kategori residual untuk diagnostik gangguan
somatoform, yaitu:
6) Undiferrentiated somatoform; gangguan somatoform yang tidak tidak termasuk pada
salah satu penggolongan diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.
7) Golongan somatoform yang tidak terperinci (NOS : not otherwise specified) adalah
kategori untuk gejala somatoform yang tidak memenuhi diagnosis gangguan somatoform
yang disebutkan salah satu diatas (Kaplan & Sadock, 1997)
Sedangkan berdasarkan PPDGJ III gangguan somatoform dibagi menjadi (Maslim, 2003):
F.45.0 gangguan somatisasi
F.45.1 gangguan somatoform tak terperinci

F.45.2 gangguan hipokondriasis


F.45.3 disfungsi otonomik somatoform
F.45.4 gangguan nyeri somatoform menetap
F.45.5 gangguan somatoform lainnya
F.45.6 gangguan somatoform YTT
II.2.1 Gangguan Somatisasi
Gangguan somatisasi atau yang juga dikenal sebagai Briquets Syndrome dicirikan
dengan berbagai gejala somatik yang bermacam-macam (multipel), berulang dan sering
berubah-ubah yang tidak dapat dijelaskan dengan pemeriksaan fisik maupun
laboratorium. Gejala-gejala fisik tersebut umumnya telah berlangsung beberapa tahun
sebelum pasien datang ke psikiater. Keluhan yang diutarakan pasien dapat meliputi
berbagai sistem organ seperti gastrointestinal, seksual, saraf, dan bercampur dengan
keluhan nyeri (Elvira dkk, 2010)
II.2.1.1 Epidemiologi
Wanita memiliki rasio 5 : 1 dengan laki-laki
II.2.1.2 Etiologi

Faktor Psikososial
Secara psikososial, gejala-gejala pada gangguan somatisasi adalah bentuk
komunikasi sosial yang bertujuan menghindarkan diri dari kewajiban,
mengekspresikan emosi, atau menyimbolkan perasaan.

Faktor Biologis
Data genetik mengindikasikan adanya transmisi genetik pada gangguan
somatisasi dengan prevalensi 10-20% pada perempuan turunan pertama,
sedangkan saudara laki-lakinya cenderung terlibat pada penyalahgunaan zat dan
gangguan kepribadian antisosial. Prevalensi pada kembar monozigot adalah 29%
dan pada kembar dizigot 10% (Kaplan & Sadock, 1997)

II.2.1.3 Gambaran Klinis


Pasien dengan gangguan somatisasi memiliki banyak keluhan somatik dan
riwayat medis yang lama dan sulit. Gejala yang sering dikeluhkan yaitu, mual, muntah,
kesulitan menelan, nyeri di lengan dan tungkai, nafas pendek, amnesia, dll. Sering juga
terjadi penderitaan psikologis yaitu kecemasan dan depresi (Kaplan & Sadock, 1997)
II.2.1.4 Diagnosis
Berdasarkan DSM-IV-TR, diagnosis gangguan somatisasi terpenuhi apabila gejala
diawali sebelum usia 30 tahun. Selama perjalanan gangguan, keluhan pasien harus
memenuhi minimal 4 gejala nyeri, 2 gejala gastrointestinal, 1 gejala seksual, dan 1 gejala
pseudoneurologik, serta tidak satu pun yang dapat dijelaskan melalui pemeriksaan fisik
dan laboratorium. Berikut kriteria gangguan somatisasi menurut DSM-IV-TR:
A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi
selama periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan
bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada
sembarang waktu selama perjalanan gangguan:
1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat
tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi,
anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau
selama miksi)
2. Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain
nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau
intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)
3. Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif
selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi,
menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang
kehamilan).

4. Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang
mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala
konversi seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau
kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi
urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan,
ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain
pingsan).
C. Salah satu (1)atau (2):
1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat
dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek
langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau
pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.
D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau
pura-pura) (Kaplan & Sadock, 1997).
Sedangkan menurut PPDGJ III, diagnosis pasti dari gangguan somatisasi
memerlukan semua hal berikut (Maslim, 2003):
A. Adanya banyak keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat dijelaskan atas
adanya dasar kelainan fisik, yang sudah berlangsung sedikitnya 2 tahun.
B. Tidak mau menerima nasihat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada
kelainan fisik yang dapat menjelaskan kelainan-kelainannya.
C. Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga, yang berkaitan
dengan keluhan keluhan nya dan dampak dari perilakunya.
II.2.1.5 Diagnosis Banding

Hipokondriasis
penyakit tertentu

: ditandai oleh keyakinan palsu bahwa seseorang menderita

Gangguan konversi : terbatas pada satu atau dua gejala neurologis (Kaplan & Sadock,

1997)
II.2.1.6 Terapi
Dokter harus mendengarkan keluhan somatiknya sebagai ekspresi emosional
bukan sebagai keluhan medis. Peran dokter pelayanan primer, meningkatkan kesadaran
pasien mengenai adanya keterlibatan factor psikologis dalam gejala yang pasien alami
sehingga pasien mau mengunjungi klinisi kesehatan mental.
Pemberian medikasi psikotropik atau apabila terdapat gangguan somatisasi
disertai dengan gangguan mood atau kecemasan (Kaplan & Sadock, 1997)
II.2.1.7 Prognosis
Gangguan somatisasi cenderung bersifat kronis dan berfluktuasi. Remisi total
jarang tercapai. Dengan tatalaksana yang tepat maka distress dapat dikurangi namun tidak
dapat sama sekali dihilangkan.

1. Shatri H. 2005. Pendekatan Praktis Diagnosis dan Tatalaksana Cemas dan Depresi, Dalam:
Kolopaking SM, Sari NK, Harimurti K, Laksmi PW editor, Current Diagnosis and Treatment
in Internal Medicine2005, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
2. Gelder M, Geth D, Mayou R, Cowen P editor. 1996. Psychiatry and Medicine, In : Oxford
Textbook of Psychiatry, 3rd ed. Oxford Univversity.
3. Budiyono DA. 2005. Gangguan Psikosomatik dalam Dilematika Ambiguitas Gangguan
Somatoform, Kongres PDSKJI ke V, Medan
4. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. 1993. Pedoan
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia II. Departemen Kesehatan :
Jakarta.
5. Elvira, S. D., dkk (editor), 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
6. Kaplan, H.I., Saddock, B.J., dan Grebb J.A., 1997. Kaplan-Sadock Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Jilid 2 Edisi 7. Jakarta: Binanupa Aksara
7. Maslim, R. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta: Bagian
Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.

Anda mungkin juga menyukai