Anda di halaman 1dari 10

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

DALAM MEMBACA CERITA PADA MATA PELAJARAN


BAHASA INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN METODE SQ3R
(SURVEY,QUESTION, READ, RECITE, REVIEW)
Neneng Nurhasanah1 dan Uyu Muawwanah2
Abstrak
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual,
sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa
diharapkan membantu paserta didik mengenali dirinya, budayanya, dan
budaya orang lain. Sehubungan dengan permasalahan menyampaikan
materi pembelajaran di kelas, maka penggunaan metode yang bervariasi
menjadi hal yang penting agar proses pembelajaran didalam kelas tidak
terasa membosankan. Variasi penyampaian harus selaras dengan sasaran
dan tujuan yang telah direncanakan. metode yang sesuai dengan bahan
pelajaran yang diajarkan kepada peserta didik salah satunya adalah
dengan menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite,
Review). Dimana pada metode pembelajaran ini siswa ditekankan untuk
aktif dalam memahami bacaan cerita. Hal ini diharapkan dapat membantu
atau mempermudah guru dalam melaksanakan pembelajaran bahasa
Indonesia. Selain itu, dengan pendekatan ini diharapkan siswa mampu
menyusun pengetahuan sendiri dan memahami bacaan cerita yang telah
mereka baca. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) di
lapangan dapat disimpulkan bahwa pada prasiklus dari jumlah siswa 42
siswa sebagian besar siswa 33 orang atau (87,92%) masih belum mencapai nilai kriteria ketuntasan minimum (KKM), sementara siswa yang sudah
mencapai nilai KKM hanya 9 orang (21,42%). sedangkan pada siklus I
sebagian besar siswa 23 orang (62,61) sudah mencapai nilai kriteria
ketuntasan minimum (KKM), sementara sisanya yang belum mencapai
ketuntasan adalah 19 orang (45,23). Dan pada siklus ahir yang dilakukan
yaitu siklus II dikatakan hasil belajar siswa dinyatakan tuntas yaitu
88,09%. Dan ini menunjukan bahwa siklus II telah tuntas dilaksanakan
karna dilihat dari hasil belajar tersebut.
Kata Kunci: SQ3R, PTK, Bahasa Indonesia dan hasil belajar
Pendahuluan
Mata pelajaran bahasa Indonesia berfungsi untuk mengembangkan
kemampuan bernalar, berkomunikasi dan menggungkapkan pikiran dan
perasaan. Serta membina persatuan dan kesatuan bangsa mata pelajaran
bahasa Indonesia di sekolah dasar berisi bahan pelajaran untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan dasar menggunakan bahasa yang
meliputi mendengarkan, berbicara, bercerita, membaca dan menulis,

1
2

Alumni PGMI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN SMH Banten.


Pengajar pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN SMH Banten.

302

Ibtidai Volume 1 No. 02, Juli Desember 2014

mengarang khususnya di SD/MI diutamakan mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia yang sederhana melalui membaca, menulis,
mengarang, dan imla (dikte) dengan menggunakan kata bahasa indonesia
baku. Untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan dasar
menggunakan bahasa, dalam kegiatan pembelajaran diberikan pengetahuan sederhana tentang lingkungan alam dan sosial.
Pembelajaran bahasa Indonesia juga di tunjukan agar siswa:
1. Menghargai dan mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan nasional dan Negara
2. Memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi
serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacammacam tujuan, keperluan, dan keadaan.
3. Memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk
intelektual kematangan emosional dan kematangan sosial.
4. Memiliki disiplin dalam berfikir kreatif dan berbahasa (berbicara, dan
menulis) mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan bahasa serta,
5. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah
budaya dan intelektual manusia Indonesia.3
Strategi pembelajaran yang berdimensi pada perencanaan merupakan suatu pemikiran yang mengupayakan secara strategi untuk merumuskan, memilih, dan menetapkan aspek-aspek dan pembentukan sistem pengajaran sehingga aspek-aspek tersebut menjadi konsisten. Hal ini
tampak jelas dalam rancangan pengajaran atau persiapan mengajar
seorang guru. Kejelasan strategi pembelajaran berdasarkan perencanaan
akan banyak membantu guru dalam menciptakan situasi kegiatan belajar
mengajar yang efektif.
Sehubungan dengan permasalahan menyampaikan materi pembelajaran di kelas, maka penggunaan metode yang bervariasi menjadi hal
yang penting agar proses pembelajaran di dalam kelas tidak terasa
membosankan. Variasi penyampaian harus selaras dengan sasaran dan
tujuan yang telah direncanakan. Untuk dapat menciptakan suasana
pembelajaran yang menyenangkan, perlu diawali dengan adanya niat
yang kuat atau kepercayaan seorang guru akan kemampuan dan motivasi
siswa. Guru harus dapat menarik keterlibatan siswa dengan cara
menjalin rasa simpati dan saling pengertian agar suasana kelas menjadi
kondusif. Oleh karenanya guru perlu menciptakan kesempatan dan
membawa kegembiraan ke dalam kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dalam proses belajar
mengajar. Pada mata pelajaran bahasa Indonesia dalam membaca cerita
siswa banyak yang belum mencapai nilai kriteria kelulusan minimal

Herry Asep Hermawan, dkk. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran.


Jakarta: Universitas Terbuka p.8.27
3

Neneng Nurhasanah & Uyu Muawwanah

303

(KKM). Itu semua dilihat dari hasil belajar siswa yang hanya mencapai
nilai rata-rata kelas 55,59. Pada saat pembelajaran berlangsung, suasana
kelas masih sepi, siswa belum berani bertanya maupun mengemukakan
pendapat. Hal ini disebabkan model pengajaran yang digunakan guru
belum mampu mengajak siswa untuk aktif, karena siswa hanya duduk
dan diam mendengarkan penjelasan guru, kemudian mengerjakan soal
jika guru memberikan tugas. Selain itu, siswa menjadi tidak kreatif
karena hanya meniru apa yang ditulis guru. sehingga hasil belajar siswa
pada umumnya sangat rendah. salah satu rendahnya hasil belajar siswa
adalah guru kurang mampu menguasai materi yang relevan dengan
situasi perkembangan anak, serta pemilihan metode yang kurang tepat
dan media pembelajaran yang kurang memadai yang mengakibatkan
kegiatan proses belajar mengajar menjadi tidak bermakna, karna setiap
proses pembelajaran hanya dengan memberikan materi yang hanya
terpaku pada guru saja, dan prilaku mengajar yang kebanyakan menggunakan metode ceramah di sebagian aktivitas proses pembelajaran di
kelas.
Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah
dengan menerapkan metode yang sesuai dengan bahan pelajaran yang
diajarkan kepada peserta didik salah satunya adalah dengan menerapkan
metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review). Dimana pada
metode pembelajaran ini siswa ditekankan untuk aktif dalam memahami
bacaan cerita. Hal ini diharapkan dapat membantu atau mempermudah
guru dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia. Selain itu,
dengan pendekatan ini diharapkan siswa mampu menyusun pengetahuan
sendiri dan memahami bacaan cerita yang telah mereka baca. Pada
model pembelajaran ini, peran guru adalah pertama Memberikan bahan
bacaan kepada siswa untuk dibaca. Kedua, Memberikan tugas kepada
siswa untuk membuat pertanyaan dari ide pokok yang ditemukan dengan
menggunakan kata-kata apa, mengapa, siapa, dan bagaimana. Ketiga,
Memberikan tugas kepada siswa untuk membaca dan menanggapi/
menjawab pertanyaan yang telah di susun sebelumnya. Keempat, Meminta siswa untuk membuat intisari dari seluruh pembahasan pelajaran
yang dipelajari hari ini. Kelima, Menugaskan siswa membaca intisari dari
yang dibuat dari rincian ide pokok yang ada dalam benaknya.
Hasil belajar
Hasil belajar merupakan pernyataan kemampuan siswa yang di
harapkan dalam menguasai sebagian atau seluruh komponen yang
dimaksud.4 Komponen-komponen tersebut meliputi pengetahuan, kebia
Hamalik Oemar, 2008. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya), p.135.
4

304

Ibtidai Volume 1 No. 02, Juli Desember 2014

saan, kecakapan, sikap, pengertian, penguasaan, dan penghargaan pada


diri siswa.
Pada hakikatnya, hasil belajar tersirat dalam tujuan pengajaran.
Untuk itu, hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh kemampuankemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Sehingga hasil belajar dapat
diartikan sebagai Hasil dari suatu tindak belajar dan tindak mengajar.
Selain itu, hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh
siswa dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan
pendidikan yang ditetapkan.5
Dengan demikian, hasil belajar merupakan tujuan atas proses
belajar mengajar, tujuan akan tercapai jika siswa memperoleh hasil
belajar sesuai dengan yang diterapkan di dalam proses belajar mengajar.
Benyamin Bloom menggolongkan tujuan belajar kedalam tiga klasifikasi
atau taksonomi yaitu tujuan yang bersifat kognitif, efektif dan psikomotorik.6
Tujuan belajar yang bersifat kognitif dalam pendidikan adalah satu
hal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Melalui tujuan
belajar yang bersifat kognitif ini siswa di harapkan dapat berpikir,
mengetahui dan memecahkan masalah berkenaan dengan pengetahuan
teori, pemahaman fakta, prinsip serta penerapannya. Aspek kognitif ini
sangat berperan dalam belajar bahasa Indonesia yang memerlukan
kemampuan intelektual yang tinggi. Selain itu, aspek efektif juga berpengaruh terhadap kemampuan belajar siswa. Tujuan belajar bersifat psikomotoris merupakan aspek ketiga yang berpengaruh juga terhadap
kemampuan dan keberhasilan belajar siswa. Aspek psokomotoris ini,
berperan penting dalam keterampilan dan kemampuan siswa bertindak
ssetelah ia menerima pengalaman belajar Bahasa Indonesia.
Membaca
Membaca adalah kegiatan berbahasa yang secara aktif menyerap
informasi atau pesan yang disampaikan melalui media tulis, seperti buku,
artikel, modul, surat kabar, atau media tulis lainya. Disebut aktif karna
membaca bukan hanya sekedar memahami lambang tulis, tapi juga
membangun makna, memahami, menerima, menolak, membandingkan,
dan meyakini isi tulisan.
Membaca pada hakikatnya sangat erat sekali dengan kegiatan yang
dilakukan oleh siswa sekolah dasar, karena dengan proses pembelajaran
membaca siswa lebih paham dalam merespon pelajaran. Islah cahyani
mengemukakan bahwa membaca merupakan suatu proses penyendian
kembali dan pembacaan sandi (arecording and decoding process) berlain
Sudjana, 2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (Bandung: PT.
Rosdakarya), p. 22
6 ibid
5

Neneng Nurhasanah & Uyu Muawwanah

305

an dengan berbicara dan menulis yang melibatkan penyandian (decoding).7 Sedangkan Parida Rahim mengemukakan bahwa merupakan
pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi pembaca yang
sesuai dengan konteks dalam rangka mengkontruks makna ketika membaca. Beberapa definisi tersebut dapat dirumusan bahwa membaca:
1. Dalam kegiatan membaca adanya proses recording dan recoding.
2. Membaca perlu menggunakan strategi dan teknik-teknik .
3. Kegiatan yang dilakukan pada saat kegiatan membaca adanya
interaksi.
Membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan karena dengan
kegiatan membaca akan memperoleh pengetahuan dan menambah
pengalaman yang luas, sehingga dapat berinteraksi dengan masyarakat
luas.
Hakikat pembelajaran bahasa Indonesia
Pengertian bahasa Indonesia adalah alat komunikasi melalui
bahasa untuk berkomunikasi saling berbagi pengalaman, saling belajar
dari yang lain dan meningkatkan keampuan intelektual. Oleh karna itu
belajar bahasa Indonesia pada hakekatnya adalah belajar berkomunikasi,
pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajaran dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan.
Bahasa sebagai bahan kajian disajikan secara bermakna dan secara
fungsional. Yang diajarkan kepada siswa bukan struktur yang ada dalam
angan-angan, melainkan struktur sebagaimana yang digunakan dalam
komunikasi, yakni struktur yang mengait pada konteks wacana dengan
tema tertentu. Konteks itu adalah konteks yang wajar, konteks yang
memang sungguh terdapat pada interaksi antara penutur yang berkomunikasi bukan konteks yang dibuat-buat demi pembelajaran struktur
tertentu. Ini berarti pengajaran bahasa berlangsung secara kontekstual
dan fungsional.
Pada hakikatnya belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi.
Oleh karna itu pengajaran bahasa yang mengunakan pendekatan
komunikakatif diarahkan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam
berkomunikasi. Pengajaran bahasa Indonesia di SD pun menggunakan
pendekatan komunikatif. Karna itu pembelajaran-pembelajaran bahasa
Indonesia di SD diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun
tertulis. Ini berarti belajar bahasa, berarti belajar berkomunikasi.
Mata pelajaran bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang
diwajibkan oleh pemerintah, mulai dari taman kanak-kanak hingga

Cahyani Islah, dkk, 2007. Kemampuan Berbahasa Indonesia di Sekolah Dasar,


(Bandung: UPI PRESS), p.98
7

306

Ibtidai Volume 1 No. 02, Juli Desember 2014

perguruan tinggi. Tujuannya untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa dan peka terhadap lingkungan sosial budaya. Bahasa
memegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena bahasa
merupakan alat komunikasi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)
Pertama Memberikan bahan bacaan kepada siswa untuk dibaca.
Kedua, Memberikan tugas kepada siswa untuk membuat pertanyaan dari
ide pokok yang ditemukan dengan menggunakan kata-kata apa,
mengapa, siapa, dan bagaimana. Ketiga, Memberikan tugas kepada siswa
untuk membaca dan menanggapi/menjawab pertanyaan yang telah di
susun sebelumnya. Keempat, Meminta siswa untuk membuat intisari dari
seluruh pembahasan pelajaran yang dipelajari hari ini. Kelima, Menugaskan siswa membaca intisari dari yang dibuat dari rincian ide pokok yang
ada dalam benaknya.
Metode
Peneliti ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Penelitian Tindakan Kelas berasal dari Bahasa Inggris yaitu Classroom
Action Research (CAR) yang berarti suatu pencermatan terhadap kegiatan
belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi
dalam sebuah kelas secara bersama.8 Model Penelitian Tindakan Kelas
yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Kemmis dan Mc.
Taggart, yang dilakukan dalam dua siklus dan setiap siklusnya terdiri
dari: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Pra siklus
Kegiatan pra siklus dilaksanakan pada hari sabtu, tanggal 30
Agustus 2013. Kegiatan pra siklus lebih dikenal dengan sebutan kegiatan
melihat kondisi awal pembelajaran. Pada tahap pra siklus kegiatan yang
dilakukan adalah wawancara kepada guru. Pada tahap ini, nilai yang
diperoleh siswa adalah nilai hasil dari tes belajar siswa pada pelajaran
bahasa Indonesia tentang membaca cerita melalui soal cerita berupa
essay, tes ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam
memahami materi.
Siklus I
a. Perencanaan
Kegiatan ini peneliti bersama guru kelas membuat rancangan
pembelajaran yang akan dilakukan seperti:
1) Merancang rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada pokok
bahasan membaca cerita dengan menggunakan metode SQ3R
(Survey, Question, Read, Recite, Review)

Arikunto, 2004. Penelitian Tindakan Kelas. (Jakarta: Bumi Aksara), p.58.

Neneng Nurhasanah & Uyu Muawwanah

307

2) Membuat pedoman observasi dan tes hasil belajar siswa pada pokok
bahasan cerita
3) Menyebutkan sumber belajar
b. Tindakan
Tahap ini peneliti mulai melakukan tindakan yang akan dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dengan metode SQ3R (Survey, Question,
Read, Recite, Review). Pelaksanaan merupakan implementasi dari isi
perencanaan. Guru diharapkan melaksanakan dan berusaha mengikuti
apa yang telah dirumuskan dalam rencana tindakan. Pelaksanaan tetap
bersifat fleksibel, tidak menutup kemungkinan terjadi perubahan dalam
penerapannya. Kegiatan yang akan dilakukan adalah penerapan SQ3R
(Survey, Question, Read, Recite, Review) dalam membaca cerita pada
pembelajaran bahasa Indonesia dengan penerapan metode SQ3R (Survey,
Question, Read, Recite, Review) meliputi:
1. Guru membagi siswa dalam berkelompok, setiap kelompoknya
ditentukan oleh guru.
2. Guru menjelaskan kegiatan pembelajaran mengenai bahasan tentang
Bahasa Indonesia.
3. Guru memberikan bahan bacaan kepada setiap kelompok siswa
untuk dibaca.
4. Guru menginformaskan kepada setiap kelompok bagaimana
menemukan ide pokok/tujuan pembelajaran yang telah dicapai.
5. Guru membimbing dan memantau setiap kelompok pada saat proses
belajar berlangsung.
6. Setiap kelompok diberi tugas untuk membuat pertanyaan dari ide
pokok yang ditemukan.
7. Guru meminta siswa untuk membuat intisari dari isi cerita yang
telah mereka baca.
8. Guru meminta setiap kelompok untuk membaca intisari dari yang
dibuat dari rincian ide pokok.
c. Observasi
Pada tahap ini observasi harus mengamati pelaksanaan dan hasil
pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Observasi dan perekaman tindakan adalah kegiatan mengumpulkan data, mengobservasi, dan merekam apapun yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung.
Peneliti dan guru harus bersikap netral dan objektif selama penelitian.
Peneliti harus menilai apa yang dilihat selama penelitian berlangsung.
1. Melakukan observasi dengan memakai format observasi
2. Menilai hasil tindakan.
Berdasarkan pada tabel kriteria penilaian observasi siswa dalam
kegiatan belajar, nilai tersebut termasuk kedalam kategori cukup, jadi

308

Ibtidai Volume 1 No. 02, Juli Desember 2014

aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar pada siklus I terbilang


cukup, yaitu mencapai nilai 2,27.
Siklus II
a. Perecanaan
Mengembangkan dan merancang pembelajaran yang akan
dilakukan dengan materi bahasan membaca cerita dengan menggunakan
metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) menggunakan tes,
lembar tes yang akan digunakan untuk melengkapi kekurangan pada
siklus I yang meliputi:
1. Menyiapkan kelas.
2. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
3. Menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk mengetahui sejauh
mana keberhasilan siklus I dan siklus II pada mata pelajaran Bahasa
Indonesia tentang membaca cerita dengan menggunakan metode
SQ3R.
4. Menyiapkan instrumen penilaian.
5. Menyiapkan instrumen observasi.
b. Tindakan
Tahap ini dilakukan kegiatan perbaikan pembelajaran berdasarkan
hasil perencanaan siklus I yaitu pembelajaran dengan menggunakan
metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) pada mata pelajaran bahasa Indonesia.
1. Guru membagi siswa dalam berkelompok, setiap kelompoknya
ditentukan oleh guru.
2. Guru menjelaskan kegiatan pembelajaran mengenai bahasan tentang
Bahasa Indonesia.
3. Guru memberikan bahan bacaan kepada setiap kelompok siswa
untuk dibaca.
4. Guru menginformaskan kepada setiap kelompok bagaimana
menemukan ide pokok/tujuan pembelajaran yang telah dicapai.
5. Guru membimbing dan memantau setiap kelompok pada saat proses
belajar berlangsung.
6. Setiap kelompok diberi tugas membaca selintas dengan cepat u tuk
menemukan ide pokok/ tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
7. Setiap kelompok diberi tugas untuk membuat pertanyaan dari ide
pokok yang ditemukan.
8. Setiap kelompok membaca aktif sambil memberikan tanggapan
terhadap apa yang telah mereka baca dan menjawab pertanyaan
yang mereka buat.
9. Setiap siswa diperintahkan untuk membuat intisari dari isi cerita
yang telah mereka baca

Neneng Nurhasanah & Uyu Muawwanah

309

10. Guru meminta setiap kelompok untuk membaca intisari dari yang
dibuat
c. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa pada proses
kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kegiatan observasi dilakukan
dengan menggunakan instrument observasi. Hal-hal yang diamati meliputi:
1. Peran aktif siswa dalam diskusi kelompok
2. Kepercayaan diri siswa dalam melaksanakan tugas
3. Pemahaman siswa dalam membaca cerita
Berdasarkan pada tabel kriteria penilaian observasi siswa dalam
kegiatan belajar, nilai tersebut mengalami peningkatan dibandingankan
dengan siklus I yang hanya mencapai 2,79. Ini termasuk kedalam kategori baik, jadi aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar pada siklus II
yaitu mencapai nilai 3,09. Adapun hasil belajar siswa pada siklus II dapat
dilihat dari tabel berikut:
Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa nilai tes hasil belajar
siswa pada siklus II, nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan dari
siklus sebelumnya. Dalam hal ini bisa dibandingkan pada pra siklus ratarata kelas mencapai 55,59, pada tahap siklus I meningkat mencapai nilai
rata-rata 62,61 dan pada siklus II nilai rata-rata kelas mengalami
peningkatan kembali menjadi 68,57. Selain mengalami peningkatan pada
nilai rata-rata kelas, ketuntasan belajar siswa pun meningkat. Pada tahap
pra siklus ketuntasan belajar hanya mencapai 21,42%, pada siklus I
mengalami peningkatan mencapai 54,76%, dan pada siklus II mengalami
peningkatan yang mencapai 88,09%.seperti yang telah di jelaskan pada
tabel sebelumnya.
d. Refleksi
Pada siklus II, kemampuan nilai rata-rata yang diperoleh siswa
sudah mengalami peningkatan prestasi belajar. Kemampuan siswa yang
diukur melalaui tes hasil belajar sudah memenuhi kriteria ketuntasan
minimal (KKM).
Kesimpulan
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian tindakan
kelas terhadap peningkatan hasil belajar siswa dapat di simpulkan
bahwa: Interaksi guru dan siswa sangat baik, maka dapat disimpulkan .
Dengan memperhatikan lembar observasi dan nilai hasil belajar pada
setiap siklusnya maka dapat dikatakan adanya peningkatan pada hasil
belajar dan pemahaman siswa kelas IV SDN Pancamarga, dengan
menggunakan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)
dalam proses pembelajaran. yang mereka dapatkan dan telah diteliti.

310

Ibtidai Volume 1 No. 02, Juli Desember 2014

Peningkatan siswa terhadap materi pembelajaran menunjukan keberhasilan, hal ini ditunjukan dengan nilai rata-rata hasil evaluasi, pra siklus
tanpa menggunakan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite,
Review) adalah 21,42%, setelah perbaikan pada siklus I menjadi 54,76%
dan dilakukan perbaikan kembali pada siklus II yang hasilnya meningkat
menjadi 88,09%, sehingga dikatakan berhasil dalam proses penelitiannya.
Daftar Pustaka
Ahmad Lisyanto, 2010. Speed Reading dan Metode Membaca Cepat.
Jogjakarta: A plus Books.
Cahyani Islah, dkk, 2007. Kemampuan Berbahasa Indonesia Di Sekolah
Dasar, Bandung UPI PRESS.
Depdiknas, 2006. Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Untuk
SD. Jakarta: Puskur Balitbang.
Depdikbud,1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gunung
Agung.
Hamzah B Uno, 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Herry Asep Hermawan, dkk, 2008. Pengembangan Kurikulum dan
Pembelajaran., Jakarta: Universitas Terbuka.
Muhibin Syah,1999. Psikologi Belajar, Jakarta: Logos.
Mulyati Yeti, 2004. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas
Tinggi. Jakarta: Universitas Terbuka.
Muslich Mansur, 2009. Melaksanakan PTK Itu Mudah (Classroom Action
Reseach). Jakarta: Bumi Aksara.
M. Yunus, dkk, 2007. Bahasa Indonesia, Jakarta: Universitas Terbuka
Oemar Hamalik, 2008. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Sanjaya Wina, 2010. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Kencana.
Slameto, 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi, Jakarta:
Rineka Cipta.
Sudjana, 2000. Teori-Teori Belajar Untuk Pengajaran, Jakarta: Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.
Sudjana, 1989. Dasar-Dasar Proses Balajar Mengajar. Bandung: PT Sinar
Baru Algresindo.
Tarigan Djago, 2004. Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Tarigan Djago, 2004. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas
Rendah, Jakarta: Universitas Terbuka
Tarigan, HG, 2008. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa,
Bandung: Aksara.
Trianto, 2010. Mendesain Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep,
Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta: Putra Grafika.