Anda di halaman 1dari 20

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK

Nana Jumhana

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK


(KAJIAN TEORITIS TENTANG PEMEROLEHAN
BAHASA PERTAMA)
Nana Jumhana
naqib_nuhat@yahoo.co.id
Abstrak;
Proses pemerolehan bahasa pada anak menjadi salah satu diskursus
yang menarik untuk didiskusikan karena selain terkait langsung dengan
proses bagaimana bahasa pertama diperoleh seorang anak, juga memiliki
keterkaitan dengan cara pandang tentang proses pembelajaran bahasa
kedua. Paling tidak ada dua teori besar yang dominan, yang berusaha
menjelaskan proses pemerolehan bahasa pertama, yaitu teori Behaviorisme,
dengan model pengondisian Operant Skinner, yang memandang bahwa
pemerolehan bahasa pertama pada anak lebih banyak dipengaruhi oleh
faktor eksternal, yaitu faktor lingkungan bahasa pertama (bahasa ibu).
Sedangkan teori kedua yaitu teori Mentalistik atau yang sering disebut juga
dengan teori Nativis memandang bahwa pemerolehan bahasa pertama lebih
dominan dipengaruhi oleh faktor internal berupa alat pemerolehan bahasa
(Language Acquisition Device) yang terdapat dalam diri seorang anak.
Tulisan ini ingin mengelaborasi kedua teori tersebut, tahapan perkembangan
pemerolehan bahasa pada anak, serta gangguan perkembangan bahasa pada
anak.
Kata kunci: pemerolehan bahasa, teori, dan perkembangan bahasa
A. PENDAHULUAN
Kapasitas menakjubkan pada seorang anak untuk menguasai
keterampilan bahasa pertama (bahasa ibu) pada tahun-tahun pertama
kehidupannya, telah mendorong para ahli untuk mengkaji perolehan bahasa
pada anak. Penelitian modern yang dimulai sejak abad delapan belas dalam
bidang ini terus dilakukan untuk menganalisis bahasa anak-anak secara
sistematis dan berusaha untuk menguak watak proses yang memungkinkan
setiap anak mencapai kontrol mudah atas sistem komunikasi yang luar biasa
109

al-Ittijh

Vol. 06 No. 02 (Juli-Desember 2014)

kompleks, serta untuk menjelaskan aspek-aspek universalitas pemerolehan


bahasa pada anak.1
Mengingat proses pemerolehan bahasa memberi gambaran tentang
perkembangan salah satu fungsi terpenting pada manusia, sebagaimana
digambarkan di atas, maka penelitian dan kajian dalam bidang ini terus
dilakukan sehingga topik pemerolehan bahasa pertama pada anak bukan
hanya menjadi salah satu di antara topik yang diselidiki para psikolinguis,
melainkan juga menjadi salah satu bidang kajian pokok dalam psikolinguistik.
Kajian tentang tentang pemerolehan bahasa pada anak cukup penting
untuk mengetahui bagaimana seorang anak dapat mempersepsi dan kemudian
memamahami ujaran orang lain, yang merupakan unsur pertama yang harus
dikuasai manusia dalam berbahasa. Begitu pula dapat diketahui bagaimana
manusia dapat memproduksi ujaran apabila dia mengetahui aturan-aturan
yang harus diikuti yang dia peroleh sejak kecil. Melalui kajian ini dapat
diketahui pula mengapa pemerolehan bahasa pada umur dewasa
memunculkan wujud bahasa yang berbeda daripada pemerolehan sejak anak
masih kecil.
Makalah ini mencoba untuk menelaah garis besar permasalahanpermasalahan dalam proses pemerolehan bahasa pertama pada seorang anak
sebagai fondasi untuk membangun pemahaman tentang prinsip-prinsip
pembelajaran bahasa kedua yang banyak diperlukan oleh para penggiat
pengajaran bahasa secara umum. Dengan demikian, yang menjadi pokok
masalah dalam penulisan makalah ini adalah: 1) Apa pengertian pemerolehan
bahasa. 2) Bagaimana teori pemerolehan bahasa anak. 3) Bagaimana proses
anak memperoleh bahasa. Sedangkan tujuan penulisan ini adalah: 1) untuk
mengetahui pengertian pemerolehan bahasa pada anak. 2.) untuk mengetahui
teori pemerolehan bahasa. 3) untuk mengetahui proses pemerolehan bahasa
pada anak.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Pemerolehan Bahasa
Istilah pemerolehan dipakai untuk padanan istilah Inggris acquisition,
yakni, proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural
terhadap bahasa ibunya (native language). Pemerolehan bahasa atau akuisisi
110

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK

Nana Jumhana

bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang anak ketika dia
memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya.2 Pemerolehan bahasa
biasanya dibedakan dari pembelajaran bahasa (language learning).
Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu
seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua, setelah dia memperoleh
bahasa pertamanya. Dengan demikian pemerolehan bahasa berkaitan dengan
bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkaitan dengan bahasa
kedua.
Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya
secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa
pertama (Bl) (anak) terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini
telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak
lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya.
Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai ciri
kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari
ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.
Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama,
pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba. Kedua,
pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul
dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik. Menurut
Fromkin dan Rodman,3 Penelitian mengenai bahasa manusia telah
menunjukkan banyak hal mengenai pemerolehan bahasa, mengenai apa yang
dilakukan atau tidak dilakukan seorang anak ketika belajar atau memperoleh
bahasa. Di antara hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Anak tidak belajar bahasa dengan cara menyimpan semua kata dan
kalimat dalam sebuah kamus mental raksasa. Daftar kata-kata itu
terbatas, tetapi tidak ada kamus yang bisa mencakup semua kalimat
yang tidak terbatas jumlahnya.
2. Anak-anak dapat belajar menyusun kalimat, kebanyakan berupa
kalimat yang belum pernah mereka hasilkan sebelumnya.
3. Anak-anak belajar memahami kalimat yang belum pernah mereka
dengar sebelumnya. Mereka tidak dapat melakukannya dengan
menyesuaikan tuturan yang didengar dengan beberapa kalimat yang
ada dalam pikiran mereka. Anak-anak selanjutnya harus menyusun
111

al-Ittijh

Vol. 06 No. 02 (Juli-Desember 2014)

aturan yang membuat mereka dapat menggunakan bahasa secara


kreatif. Tidak ada yang mengajarkan aturan ini. Orang tua tidak lebih
menyadari aturan fonologis, morfologis, sintaktis, dan semantik
daripada anak-anak.
Selain memperoleh aturan tata bahasa (memperoleh kompetensi
linguistik), anak-anak juga belajar pragmatik, yaitu penggunaan bahasa secara
sosial dengan tepat, atau disebut para ahli dengan kemampuan komunikatif.
Aturan-aturan ini termasuk mengucap salam, kata-kata tabu, bentuk panggilan
yang sopan, dan berbagai ragam yang sesuai untuk situasi yang berbeda. Ini
dikarenakan sejak dilahirkan, manusia terlibat dalam dunia sosial sehingga ia
harus berhubungan dengan manusia lainnya. Ini artinya manusia harus
menguasai norma-norma sosial dan budaya yang berlaku dalam masyarakat.
Sebagian dari norma ini tertanam dalam bahasa sehingga kompetensi
seseorang tidak terbatas pada apa yang disebut pemakaian bahasa (language
usage) tetapi juga penggunaan bahasa (language use).4
Pemerolehan bahasa pertama erat sekali kaitannya dengan
perkembangan sosial anak dan karenanya juga erat hubungannya dengan
pembentukan identitas sosial. Mempelajari bahasa pertama merupakan salah
satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu
masyarakat. Bahasa memudahkan anak mengekspresikan gagasan,
kemauannya dengan cara yang benar-benar dapat diterima secara sosial.
Bahasa merupakan media yang dapat digunakan anak untuk memperoleh
nilai-nilai budaya, moral, agama, dan nilai-nilai lain dalam masyarakat.
Dalam melangsungkan upaya memperoleh bahasa, anak dibimbing oleh
prinsip atau falsafah jadilah orang lain dengan sedikit perbedaan, ataupun
dapatkan atau perolehlah suatu identitas sosial dan di dalamnya, dan
kembangkan identitas pribadi Anda sendiri.
2. Teori-Teori Tentang Pemerolehan Bahasa
Dalam perkembangan psikolinguistik tentang pemerolehan bahasa
pada anak, terdapat dua teori yang cukup bersebrangan. Kedua teori itu
adalah aliran Behaviorisme dan aliran Mentalisme.Teori-teori Behaviorisme
hanya mengambil perilaku yang dapat diamati sebagai titik tolak untuk

112

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK

Nana Jumhana

deskripsi dan penjelasannya. Sedangkan teori mentalistik mengambil struktur


dan cara kesadaran sebagai dasarnya.
1. Teori Behavioristik Tentang Pemerolehan Bahasa
Teori belajar Behaviorisme mendeskripsikan dan menjelaskan
perilaku bahasa dengan bantuan model S-R (Stimulus-Respon). Pada teori ini
ada hubungan antara situasi stimulus (S) dari luar atau dalam organismenya
dan suatu reaksi (R) dari organisme tersebut. Dalam pendirian Behavioristik,
hanya ada kepastian jika S dan R dapat diamati. Pendapat ilmiah harus
didasarkan kepada atas perilaku yang dapat diamati.
Karena teori Behavioristik itu harus menjelaskan kelakuan belajar
semua makhluk hidup, maka tidak ada tempat untuk pengertian Mentalistik,
seperti kesadaran, rencana, maksud, dan konsep. Analisis kelakuan
Behavioristik didasarkan atas aksioma: 1) semua prilaku merupakan akibat
rangsangan faktor faktor lingkungan, 2) perilaku dapat diubah sesuai dengan
perkembangan lingkungan.5
Skinner, salah seorang tokoh aliran Behavioristik, membedakan dua
macam perilaku sehubungan dengan proses belajar, termasuk belajar dan
memperoleh bahasa pertama. Kedua perilaku itu adalah perilaku jawaban
(respondent behavior) dan perilaku operant (operant behavior). Dalam hal
perilaku jawaban, refleks timbul dengan sendirinya, segera setelah stimulus
muncul. Pada perilaku operant, stimulusnya tidak dibangkitkan, tetapi timbul
dari organisme itu sendiri. Skinner mendasarkan teorinya pada prinsip bahwa
jika suatu perbuatan mengakibatkan efek tertentu, kemungkinan bahwa
perbuatan itu diulang atau justru ditinggalkan akan meningkat. Jika
perbuatannya diulangi lebih sering, disebut penguatan positif, dan jika tidak
diulangi disebut penguatan negatif. Dengan demikian, penguatan positif
adalah peningkatan kemungkinan timbulnya suatu R (respon) karena suatu S
(stimulus) sebagai akibat dari kenyataan R tersebut benar dan mendapat upah.
Penguatan negatif (hukuman) adalah penurunan kemungkinan timbulnya
suatu R karena suatu S, sebagai akibat dari adanya kenyataan bahwa R
tersebut salah dan mendapat hukuman. Menurut Skinner, penguatan positif
yang terus-menerus adalah cara yang paling baik untuk menimbulkan

113

al-Ittijh

Vol. 06 No. 02 (Juli-Desember 2014)

kelakuan atau perilaku yang diinginkan. Penguatan positif itu akan


mengakibatkan pembentukan kebiasaan (habit formation). 6
Dalam menganalisis perilaku bahasa, Skinner mencobanya dengan
meneliti variabel-variabel yang menentukan perilaku tersebut. Variabelvariabel tersebut dilukiskan sebagai S dan R. Setiap ujaran bahasa menyusul
suatu S yang verbal atau non-verbal; dalam hal yang terakhir ada suatu
stimulus yang mengakibatkan sesorang menghasilkan suatu ujaran tertentu.
Skinner hanya mau memperhitungkan kelakuan yang dapat diamati, yaitu
hubungan antara stimuli yang dapat diukur secara objektif dan reaksi-reaksi
yang dapat diukur secara objektif dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor
yang tidak dapat diukur dalam organismenya sendiri. Skinner mengendalikan
suatu tabula rasa atau empty organism. Walaupun kemampuan belajar suatu
bahasa merupakan kekhasan spesies manusia, Skinner tidak menyibukkan diri
untuk menganalisis kemampuan yang memungkinkan manusia belajar
bahasa. Ia hanya mempelajari kelakuan bahasa melalui pengamatan dunia
yang mengelilingi pembicara. Dengan kata lain, melalui pengamatan faktorfaktor luar. 7
Data Skinner adalah ujaran-ujaran bahasa manusia dan kondisi tempat
ujaran itu dihasilkan sangatlah penting. Belajar suatu bahasa berlangsung di
bawah suatu kondisi tersebut. Selama individu-individu mengalami kondisi
yang sama, mereka juga akan belajar dengan cara yang sama. Perbedaan
dalam kemampuan belajar disebabkan oleh perbedaan dalam pengalaman
belajar; makin luas pengalaman tersebut, makin besar kemahiran dalam
penggunaan bahasa. Dengan demikian, kemahiran bahasa dicapai melalui
latihan dan pengalaman. Pengalaman itu diperoleh melalui produksi dan
persepsi ujaran bahasa. Di samping itu diperlukan pula penguatan (positif)
untuk mencapai tingkat kemahiran yang lebih tinggi. Penghargaan dari pihak
orang tua merupakan bentuk penguatan yang penting pada proses
pemeriolehan bahasa. Jika seorang anak bereaksi pada suatu S dengan ujaran
yang dipahami oleh lingkungannya, maka R dari orangtua atas ujaran tersebut
dapat berfungsi sebagai penguatan. Dengan cara demikian, penguatan bahasa
yang gramatikal benar dipacu, dan penggunaan yang tidak gramatikal tidak
dihargai. Satu R saja tidak cukup untuk proses belajar, harus ada pengulangan.
Makin banyak pengulangan, makin baik proses belajar akan berlangsung.
114

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK

Nana Jumhana

Teori Behaviorisme model pengondisian operant yang dikemukakan


oleh Skinner ini memiliki pengaruh yang sangat luas dan mendalam dalam
diskursus pemerolehan bahasa pertama, bahkan bahasa kedua, sehingga model
ini menjadi representasi teori Behaviorisme dalam bidang pemerolehan dan
pembelajaran bahasa.8 Luasnya pengaruh teori ini juga tidak terlepas dari
sokongan filsafat Empirisme dan teori Linguistik Struktural Amerika.
Psikologi Behavioristik yang sangat mengutamakan perilaku nyata yang dapat
diindra, dapat diukur dan dapat dilukiskan secara pasti, serta memfokuskan
perhatian pada peranan faktor-faktor eksternal diri manusia tampaknya sejalan
dengan filsafat Empirisme yang sangat menekankan pengalaman indrawi,
sehingga semua pengalaman non indrawi tidak menjadi perhatian.9
Sementara itu, aliran linguistik Struktural juga beranggapan bahwa bahasa
juga merupakan hasil stimulus-respon antara pembicara dan pendengar. Oleh
sebab itu linguistik Struktural beranggapan bahwa bahasa ialah sistem bunyi,
dan bunyi ini diangap sebagai perwujudan bentuk bahasa.10
2. Teori Mentalistik (Nativis) Tentang Pemerolehan Bahasa
Teori mentalistik mendeskripsikan, menjelaskan, dan meramalkan
bahwa kelakuan belajar berdasarkan struktur dan cara kerja kesadaran. Akan
tetapi, titik awal dari teori mentalistik lebih mengarah ke teori bahasa daripada
ke teori belajar. Teori ini diawali dengan pendapat-pendapat Chomsky tentang
pemerolehan bahasa. Berbeda dengan aliran Behavioristik yang menyatakan
bahwa pemerolehan bahasa banyak dipengaruhi faktor lingkungan, dalam
linguistik Chomsky, tekanan tidak lagi jatuh pada peranan faktor lingkungan,
tetapi pada faktor kemampuan lahiriah seorang anak untuk belajar suatu
bahasa. Perilaku bahasa jauh terlalu rumit untuk dapat dijelaskan semat-mata
atas dasar faktor-faktor luar yang mempengaruhi seseorang.
Kemampuan lahiriah yang memungkinkan setiap manusia belajar
bahasa apapun dinamakan Language Acquisition Device (LAD), yang berarti
piranti pemerolehan bahasa. Titik tolaknya adalah perbedaan antara struktur
lahir dan struktur batin pada kalimat. Kedua struktur tersebut saling
berhubungan melalui transformasi. Tiap kalimat memiliki struktur abstrak di
bawah permukaannya dan LAD memungkinkan anak menyusun hipotesis
tentang struktur bawah bahasa yang diperolehnya. Anak tidak sadar terhadap
115

al-Ittijh

Vol. 06 No. 02 (Juli-Desember 2014)

proses ini. Hipotesis-hipotesis yang disusun anak tanpa sadar, kemudian


dicoba dalam pemakaiannya. Hipotesis-hipotesis ini terus menerus dicoba
kebenarannya pada data yang dikumpulkan anak selama ia mendengar dan
berbicara. Oleh karena itu hipotesis-hipotesis tersebut diubah dan disesuaikan
secara terstruktur.11
Dari proses yang disebutkan di atas, lama-lama berkembanglah sistem
kaidah bahasa anak secara sistematis ke arah sistem kaidah yang dimiliki
orang dewasa. Seorang anak menangkap sejumlah ujaran yang sebagian besar
tidak gramatikal. Dari korpus yang tidak berstruktur tersebut, yang masuk
sebagian input pada LAD, dibentuklah tata bahasa sebagai input. Proses
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: 12
Input bahasa:

LAD
Kumpulan Ujaran

Output
bahasa

Tata bahasa
Dengan bantuan LAD, seorang anak dapat menemukan struktur
batin
kalimat-kalimat yang dijumpainya dan kemudian ia dapat membentuk kalimat
yang sebelumnya belum pernah dijumpainya. Gramatika yang dibentuk
dengan bantuan LAD itu mengandung sifat-sifat khas suatu bahasa tertentu,
tetapi di atas itu juga mengandung sifat-sifat universal.
Menurut Djoko Saryono, teori pemerolehan bahasa model mentalistik
atau nativis ini didukung oleh linguistik generatif Transformatif.13 Linguisttik
Generatif transformatif meyakini bahwa bahasa merupakan cermin pikir dan
hasil kecendikiawan manusia yang selalu dihasilkan secara baru oleh setiap
individu dengan operasi-operasi yang mengatasi jangakauan keinginan dan
kesadaran manusia. Dengan demikian, bahasa dianggap sebagai sesuatu yang
diciptakan oleh kedinamisan dan kemampuan oragnisme manusia yang
menitilk beratkan pada kemampuan kreatifnya.14
3. Perkembangan Pemerolehan Bahasa pada Anak-anak
Perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak merupakan salah
satu aspek dari tahapan perkembangan anak yang pasti dilewati dan mendapat
perhatian khusus dalam kajian psikolinguistik. Berdasarkan hasil berbagai
116

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK

Nana Jumhana

penelitian yang memfokuskan kepada tahap perkembangan bahasa anak pra


sekolah, secara umum para ahli membagi tahap perkembangan pemerolehan
bahasa pada anak kepada dua tahap utama yaitu tahap Pra bahasa
(Prelinguistic stage) dan Tahap Linguistik (linguistic stage).15
Tahap Prabahasa (Prelinguistic stage)
Tahap ini Terjadi pada umur 0-3 bulan dari periode lahir sampai akhir
tahun pertama. Bayi baru lahir belum bisa menggabungkan elemen bahasa
baik isi, bentuk, dan pemakaian bahasa. Selain belum berkembangnya bentuk
bahasa konvensional, kemampuan kognitif bayi juga belum berkembang.
Komunikasi lebih bersifat reflektif daripada terencana. Periode ini disebut
prelinguistik. Meskipun bayi belum mengerti dan belum bisa mengungkapkan
bentuk bahasa konvensional, mereka mengamati dan memproduksi suara
dengan cara yang unik. Ada beberapa fase yang akan dilalui anak pada
tahapan ini yaitu fase menangis, vokalisasi, raban, dan penyesuaian.16
1. Fase Menangis (Crying stage).
Tangis pada anak mulanya bukanlah ungkapan rasa sedih atau
ketidaknyamanan, tetapi merupakan suatu aktivitas fisiologis murni. Baru
setelah beberapa waktu, tangis fisiologis berkembang menjadi tanda primitif
dari ketidaknyamanan. Pengetahuan pengalaman pertama dari hubungan
antara tangis dan akibatnya, yaitu pertolongan, menjadikan tangis sebagai
bentuk pertama dari komunikasi. Komunikasi tersebut tidak sepihak sebab
dari pihak ibu (lingkungan) ada suara menenangkan yang menyertai
perawatan dan yang menandakan pada bayi bahwa kesedihannya telah
dipahami.
2. Fase Vokalisasi (Babbling Stage)
Suara lain yang berkembang sesudah tangisan yang digambarkan
diatas, sejalan dengan berkembangnya alat ucap pada anak adalah terjadinya
vokalisasi, yang pada mulanya hanya menghasilkan suara vokal netral, tetapi
dengan pembukaan mulut lebih lebar dan gerakan lidah terjadilah variasi
bunyi dan berkembanglah vokalisme primitif yang pada bulan-bulan pertama
biasanya hanya berkisar antara suara (ah) dan (ah).

117

al-Ittijh

Vol. 06 No. 02 (Juli-Desember 2014)

3. Fase Raban.
Jika pada fase vokalisasi alat ucap anak hanya sedkit bergerak, yang
hanya mengakibatkan warna vokalnya agak berubah, maka pada fase raban
alat ucapnya ditutup atau hampir ditutup, sehingga dihasilkan konsonan
hambat dan frikatif, dan jika penutupan berlangsung lebih lama juga
berbentuk nasal. Dengan demikian, disamping vokalisme primitif sekarang
dihasilkan juga konsonantisme primitif. Dalam periode Raban, ucapan bunyi
berlangsung dengan spontan dan dibuat dengan sadar.Dengan demikian hal itu
bukan berupa bunyi yang hanya fisiologis dan kebetulan.
4. Fase penyesuaian
Dalam fase ini ada pergantian perlahan-lahan. Dengan berangsurangsur suara yang tidak terdapat dalam bahasa lingkungan ditinggalkan, dan
kumpulan suara raban diperluas dengan bunyi dan kombinasi bunyi bahasa
Indonesia yang sampai saat itu belum diproduksi anak. Pada masa ini ada
pertumbuhan yang sangat jelas hingga saat ini: selam vokalisasi dan
permulaan raban, alat ucap dilatih melakukan suatu aktivitas yang makin
rumit, tetapi masih mempunyai kemungkinan variasi bebas. Pada fase
penyesuaian kebebasan itu makin terbatas, raban menjadi berciri khas bahasa
lingkungan. Ciri-ciri pertama sudah tampak dalam bulan ke-6 dan ke-7, dan
sesudah ulang tahun pertama proses penyesuaian ini selesai.
Tahap Linguistik (Linguistic Stage)
Tahapan prelinguistik yang telah dilalui seorang anak yang meliputi
fase menangis, fase vokalisasi, fase raban, dan fase penyesuaian sebagaimana
digambarkan di atas, merupakan tahap persiapan seorang anak untuk
memasuki tahapan linguistik (linguistic stage). Ada beberapa fase yang
menandai tahap ini sebagaimana dijelaskan berikut ini:17
1. Katakata pertama: transisi ke bahasa anak
Tahap ini terjadi pada umur 3-9 bulan. Salah satu perkembangan
bahasa utama milestone adalah pengucapan kata-kata pertama yang terjadi
pada akhir tahun pertama, berlanjut sampai satu setengah tahun saat
pertumbuhan kosa kata berlangsung cepat, juga tanda dimulainya pembetukan
kalimat awal. Berkembangnya kemampuan kognitif, adanya kontrol, dan
interpretasi emosional di periode ini akan memberi arti pada kata-kata
118

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK

Nana Jumhana

pertama anak. Arti kata-kata pertama mereka dapat merujuk ke benda, orang,
tempat, dan kejadian-kejadian di seputar lingkungan awal anak.
2. Perkembangan kosa kata yang cepat-Pembentukan kalimat awal.
Terjadi pada umur 9-18 bulan. Bentuk kata-kata pertama menjadi
banyak dan dimulainya produksi kalimat. Perkembangan komprehensif dan
produksi kata-kata berlangsung cepat pada sekitar umur 18 bulan. Anak mulai
bisa menggabungkan kata benda dengan kata kerja yang kemudian
menghasilkan sintaks. Melalui interaksinya dengan orang dewasa, anak mulai
belajar mengkonsolidasikan isi, bentuk, dan pemakaian bahasa dalam
percakapannya. Dengan semakin berkembangnya kognisi dan pengalaman
afektif, anak mulai bisa berbicara memakai kata-kata yang tersimpan dalam
memorinya. Terjadi pergeseran dari pemakaian kalimat satu kata menjadi
bentuk kata benda dan kata kerja.
3. Dari percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai
orang dewasa.
Terjadi pada umur 18-36 bulan. Anak dengan mobilitas yang mulai
meningkat memiliki akses ke jaringan sosial yang lebih luas dan
perkembangan kognitif menjadi semakin dalam. Anak mulai berpikir
konseptual, mengkategorikan benda, orang, dan peristiwa serta dapat
menyelesaikan masalah fisik. Anak terus mengembangkan pemakaian bentuk
fonem dewasa.
4. Perkembangan Pemerolehan komponen bahasa pada anak.
Sejalan dengan teori Chomsky (1957) bahwa kompetensi itu
mencakup tiga buah komponen tata bahasa, yaitu komponen sintaksis,
komponen semantik, dan komponen fonologi. Maka perkembangan
pemerolehan bahasa juga lazim dibagi ke dalam komponen ini. Ke dalam
perolehan sintaksis dan semantik termasuk juga perolehan kosa kata
(leksikon) atau morfologi. Walaupun demikian dalam tulisan ini penulis akan
memulai dengan perolehan fonologi. Dalam paparan ini akan ditambahkan
pula perolehan pragmatik, walaupun bukan komponen tata bahasa
sebagaimana diungkap di muka.

119

al-Ittijh

Vol. 06 No. 02 (Juli-Desember 2014)

1. Perkembangan Fonologi
Perkembangan fonologi melalui proses yang panjang dari dekode
bahasa. Sebagian besar konstruksi morfologi anak akan tergantung pada
kemampuannya menerima dan memproduksi unit fonologi. Selama usia
prasekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem fonologi
tapi juga mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang dipakai
untuk membedakan makna. Pemerolehan fonologi berkaitan dengan proses
konstruksi suku kata yang terdiri dari gabungan vokal dan konsonan. Bahkan
dalam babbling, anak menggunakan konsonan-vokal (KV) atau konsonanvokal-konsonan (KVK). Proses lainnya berkaitan dengan asimilasi dan
substitusi sampai pada persepsi dan produksi suara.
Menurut Dardjowidjoyo, seorang anak pada usia sekitar enam minggu
sudah mulai mengeluarkan bunyi-bunyi konsonan atau vokal. Bunyi-bunyi
tersebut belum dapat dipastikan bentuknya karena memang belum jelas
bentuknya. Adapun proses dari pemerolehan bunyi-bunyi tersebut dinamakan
cooing (dekutan). Dalam hal ini seorang anak telah mulai mendekutkan
bunyi-bunyi yang belum jelas identitasnya.18 Pada sekitar umur enam bulan,
anak mulai mencampur konsonan dengan vokal sehingga membentuk apa
yang disebut dengan babling, yang sering diterjemahkan dengan celotehan.
Celotehan dimulai dengan konsonan dan diikuti dengan sebuah vokal.
Konsonan yang keluar pertama adalah konsosnan bilabial hambat dan bialbial
nasal.19
2. Perkembangan Morfologi
Periode perkembangan ditandai dengan peningkatan panjang ucapan
rata-rata yang diukur dalam morfem. Panjang rata-rata ucapan, mean length of
utterance (MLU) adalah alat prediksi kompleksitas bahasa pada anak. MLU
sangat erat berhubungan dengan usia dan merupakan prediktor yang baik
untuk perkembangan bahasa. Dari usia 18 bulan sampai 5 tahun MLU
meningkat kira-kira 1,2 morfem per tahun. Penguasaan morfem mulai terjadi
saat anak mulai merangkai kata sekitar usia 2 tahun. Beberapa sumber yang
membahas tentang morfem dalam kaitannya dengan morfologi semuanya
merupakan Bahasa Inggris yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia.

120

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK

Nana Jumhana

Pada periode kalimat dua kata, seorang anak biasanya telah memulai
membuat kalimat yang terdiri dari dua kata. Kata yang digunakannya
umumnya masih berupa kata dasar yang dihubungkan. Hal ini terlihat dengan
belum adanya afiksasi pada kata dasar yang dapat menimbulkan perbedaan
arti kata. Pada kalimat dalam berbagai macam bahasa, perubahan-perubahan
yang terjadi dalam sebuah kata dalam bentuk infleksi morfologis yang
kemudian baru muncul diferensisi morfologi, ketika seorang anak mulai
mengadakan deferensiasi pada kelas kata dan deferensiasi morfologi. Adapun
deferensiasi morfologi meliputi tiga hal penting, yaitu: 1) pembentukan kata
jamak, 2) pembentukan diminutiessuffik, dan 3) perubahan kata kerja.20
3. Perkembangan Sintaksis
Susunan sintaksis paling awal terlihat pada usia kira-kira 18 bulan
walaupun pada beberapa anak terlihat pada usia 1 tahun bahkan lebih dari 2
tahun. Awalnya berupa kalimat dua kata. Rangkaian dua kata, berbeda dengan
masa kalimat satu kata sebelumnya yang disebut masa holofrastis. Kalimat
satu kata bisa ditafsirkn dengan mempertimbangkan konteks penggunaannya.
Hanya mempertimbangkan arti kata semata-mata tidaklah mungkin kita
menangkap makna dari kalimat satu kata tersebut. Peralihan dari kalimat satu
kata menjadi kalimat yang merupakan rangkaian kata terjadi secara bertahap.
Pada waktu kalimat pertama terbentuk yaitu penggabugan dua kata menjadi
kalimat, rangkaian kata tersebut berada pada jalinan intonasi. Jika kalimat dua
kata memberi makna lebih dari satu maka anak membedakannya dengan
menggunakan pola intonasi yang berbeda. Perkembangan pemerolehan
sintaksis meningkat pesat pada waktu anak menjalani usia 2 tahun dan
mencapai puncaknya pada akhir usia 2 tahun.
Menurut Abdul Chaer, ada lima
teori yang terkait dengan
pemerolehan sintaksis pada anak, yaitu 1) teori tata bahasa Pivot, 2) teori
hubungan tata bahasa nurani, 3)teori hubungan tata bahasa dan informasi
situasi, 4)teori kumulatif kompleks, dan 5)teori pendekatan semantik.21 Teori
tata bahasa Pivot menjelaskan bahwa seorang cenderung menggunakan katakata fungsi yang bercirikan 1)terdapat pada awal atau akhir kalimat. 2)
jumlahnya terbatas, 3) jarang memunculkan kata baru, 4) tidak muncul

121

al-Ittijh

Vol. 06 No. 02 (Juli-Desember 2014)

sendirian, 5) tidak muncul bersamaan dalam satu kalimat dan 6) selalu


merujuk kepada kata-kata lain.
Sedangkan teori kedua, yaitu hubungan tata bahasa nurani,
menyatakan bahwa ucapan anak meskipun terdiri dari dua kata juga memiliki
struktur kalimat yang menunjukkan urutan subjek verba dengan posisi objek
sebagai opsional. Adapun teori ketiga, menyatakan bahwa hubunganhubungan tata bahasa tanpa merujuk kepada informasi situasi (konteks)
belumlah cukup untuk menganalisis ucapan atau bahasa anak-anak. Maka
untuk dapat menganalisis ucapan anak-anak informasi situasi juga diperlukan.
Menurut teori ini, suatu gabungan kata telah digunakan oleh anak-anak dalam
suatu situasi yang berlainan di antara kata-kata dalam gabungan itu. Teori
kumulatif kompleks, yang dikemukakan oleh Brown (1973) berdasarkan data
yang dikumpulkannya, menyatakan bahwa urutan pemerolehan sintaksis oleh
kanak-kanak ditentukan kumulatif kompleks semantik morfem dan kumulatif
kompleks tata bahasa yang sedang diperoleh itu. Jadi sama sekali tidak
ditentukan oleh frekwensi munculnya morfem atau kata-kata itu dalam ucapan
orang dewasa. 22
Sedangkan teori kelima, yaitu teori pendekatan semantik menyatakan
bahwa transformasi-transformasi tata bahasa tidak diatur oleh rumus-rumus
sintaksis, melainkan oleh hubungan-hubungan semantik yang ditandai oleh
kategori-kategori
kasus itu. Jadi merupakan suatu keharusan untuk
mengikutsertakan semantik pada umumnya, dan hubungan-hubungan
semantik khususnya dalam menganalisis pengetahuan tata bahasa.23
4. Perkembangan Semantik
Karena faktor lingkungan sangat berperan dalam perkembangan
semantik, maka pada umur 6-9 bulan anak telah mengenal orang atau benda
yang berada di sekitarnya. Leksikal dan pemerolehan konsep berkembang
pesat pada masa prasekolah. Terdapat indikasi bahwa anak dengan kosa kata
lebih banyak akan lebih popular di kalangan teman-temannya. Diperkirakan
terjadi penambahan lima kata perhari di usia 1,5 sampai 6 tahun. Pemahaman
kata bertambah tanpa pengajaran langsung orang dewasa. Terjadi strategi
pemetaan yang cepat diusia ini sehingga anak dapat menghubungkan suatu
kata dengan rujukannya. Pemetaan yang cepat adalah langkah awal dalam
122

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK

Nana Jumhana

proses pemerolehan leksikal. Selanjutnya secara bertahap anak akan


mengartikan lagi informasi-informasi baru yang diterima. Definisi kata benda
anak usia pra sekolah meliputi properti fisik seperti bentuk, ukuran dan warna,
properti fungsi, properti pemakaian, dan lokasi. Definisi kata kerja anak
prasekolah juga berbeda dari kata kerja orang dewasa atau anak yang lebih
besar.
Anak prasekolah dapat menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana, untuk
apa, untuk siapa, dengan apa, tapi biasanya mereka belum memahami
pertanyaan bagaimana dan mengapa atau menjelaskan proses. Anak akan
mengembangkan kosa katanya melalui cerita yang dibacakan orang tuanya.
Begitu kosa kata berkembang, kebutuhan untuk mengorganisasikan kosa kata
akan lebih meningkat dan beberapa jaringan semantik atau antar relasi akan
terbentuk.
5. Perkembangan Pragmatik
Pragmatik adalah studi tentang penggunaan bahasa dalam
hubungannya dengan orang lain dalam masyarakat yang sama. Karena
pragmatik merupakan bagian dari perilaku berbahasa maka pembahasan
mengenai pemerolehan bahasa perlu pula mengkaji bagaimana anak
mengembangkan kemampuan pragmatiknya. 24
Perkembangan komunikasi anak sesungguhnya sudah dimulai sejak
dini, pertama-tama dari tangisannya bila bayi merasa tidak nyaman, misalnya
karena lapar, popok basah. Dari sini bayi akan belajar bahwa ia akan
mendapat perhatian ibunya atau orang lain saat ia menangis sehingga
kemudian bayi akan menangis bila meminta orang dewasa melakukan sesuatu
buatnya. Perkembangan pemerolehan pragmatik pada anak dapat
digambarkan sebagai berikut:25
a) Pada usia 3 minggu, bayi tersenyum saat ada rangsangan dari luar,
misalnya wajah seseorang, tatapan mata, suara, dan gelitikan. Ini
disebut senyum sosial.
b) Pada usia 12 minggu, mulai dengan pola dialog sederhana berupa
suara balasan bila ibunya memberi tanggapan.
c) Pada usia 2 bulan, bayi mulai menanggapi ajakan komunikasi ibunya.

123

al-Ittijh

Vol. 06 No. 02 (Juli-Desember 2014)

d) Pada usia 5 bulan, bayi mulai meniru gerak gerik orang, mempelajari
bentuk ekspresi wajah.
e) Pada usia 6 bulan, bayi mulai tertarik dengan benda-benda sehinga
komunikasi menjadi komunikasi ibu, bayi, dan benda-benda.
f) Pada usia 7-12 bulan, anak menunjuk sesuatu untuk menyatakan
keinginannya. Gerak-gerik ini akan berkembang disertai dengan
bunyi-bunyi tertentu yang mulai konsisten. Pada masa ini sampai
sekitar 18 bulan, peran gerak-gerik lebih menonjol dengan
penggunaan satu suku kata.
g) Pada usia 2 tahun, anak kemudian memasuki tahap sintaksis dengan
mampu merangkai kalimat dua kata, bereaksi terhadap pasangan
bicaranya dan masuk dalam dialog singkat. Anak mulai
memperkenalkan atau merubah topik dan mulai belajar memelihara
alur percakapan dan menangkap persepsi pendengar. Perilaku ibu
yang fasilitatif akan membantu anaknya dalam memperkenalkan topik
baru.
h) Lewat umur 3 tahun, anak mulai berdialog lebih lama sampai
beberapa kali giliran. Lewat umur ini, anak mulai mampu
mempertahankan topik yang selanjutnya mulai membuat topik baru.
Hampir 50 persen anak 5 tahun dapat mempertahankan topik melalui
12 kali giliran. Sekitar 36 bulan, terjadi peningkatan dalam keaktifan
berbicara dan anak memperoleh kesadaran sosial dalam percakapan.
Ucapan yang ditujukan pada pasangan bicara menjadi jelas, tersusun
baik dan teradaptasi baik untuk pendengar. Sebagian besar pasangan
berkomunikasi anak adalah orang dewasa, biasanya orang tua. Saat anak
mulai membangun jaringan sosial yang melibatkan orang diluar keluarga,
mereka akan memodifikasi pemahaman diri dan bayangan diri serta menjadi
lebih sadar akan standar sosial. Lingkungan linguistik memiliki pengaruh
bermakna pada proses belajar berbahasa. Ibu memegang kontrol dalam
membangun dan mempertahankan dialog yang benar. Ini berlangsung
sepanjang usia pra sekolah. Anak berada pada fase mono dialog, percakapan
sendiri dengan kemauan untuk melibatkan orang lain. Monolog kaya akan
lagu, suara, kata-kata tak bermakna, fantasi verbal dan ekspresi perasaan.

124

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK

Nana Jumhana

5. Gangguan Perkembangan Bahasa pada Anak


Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab
terhambatnya tumbuh-kembang anak yang sering ditemui. Adapun gangguan
yang sering dikeluhkan orangtua yaitu keterlambatan bicara. Beberapa
laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 510 % pada anak sekolah. Anak dikatakan mengalami keterlambatan bicara
dan harus berkonsultasi dengan ahli, bila sampai usia 12 bulan sama sekali
belum mengeluarkan ocehan atau babbling, sampai usia 18 bulan belum
keluar kata pertama yang cukup jelas, padahal sudah dirangsang dengan
berbagai cara, terlihat kesulitan mengatakan beberapa kata konsonan, seperti
tidak memahami kata-kata yang kita ucapkan, serta terlihat berusaha sangat
keras untuk mengatakan sesuatu, misalnya sampai ngiler atau raut muka
berubah. Penyebab keterlambatan bicara sangat luas dan banyak. Mulai yang
bisa membaik hingga yang sulit dikoreksi. Semakin dini mendeteksi
keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan pemulihan gangguan
tersebut. Ada beberapa gangguan yang perlu diperhatikan orangtua yaitu: 26
1. Disfasia
Adalah gangguan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan
perkembangan kemampuan anak seharusnya. Ditengarai gangguan ini muncul
karena adanya ketidaknormalan pada pusat bicara yang ada di otak. Anak
dengan gangguan ini pada usia setahun belum bisa mengucapkan kata spontan
yang bermakna, misalnya mama atau papa. Kemampuan bicara reseptif
(menangkap pembicaraan orang lain) sudah baik tapi kemampuan bicara
ekspresif (menyampaikan suatu maksud) mengalami keterlambatan. Karena
organ bicara sama dengan organ makan, maka biasanya anak ini mempunyai
masalah dengan makan atau menyedot susu dari botol.
2. Gangguan disintegratif pada kanak-kanak (Childhood Diintegrative
Disorder)
Pada usia 1-2 tahun, anak tumbuh dan berkembang dengan normal,
kemudian kehilangan kemampuan yang telah dikuasainya dengan baik. Anak
berkembang normal pada usia 2 tahun pertama seperti kemampuan
komunikasi, sosial, bermain dan perilaku. Namun, kemampuan itu terganggu
sebelum usia 10 tahun, yang terganggu di antaranya adalah kemampuan
bahasa, sosial, dan motorik.
125

al-Ittijh

Vol. 06 No. 02 (Juli-Desember 2014)

3. Sindrom Asperger.
Gejala khas yang timbul adalah gangguan interaksi sosial ditambah
gejala keterbatasan dan pengulangan perilaku, ketertarikan, dan aktivitas.
Anak dengan gangguan ini mempunyai gangguan kualitatif dalam interaksi
sosial. Ditandai dengan gangguan penggunaan beberapa komunikasi
nonverbal (mata, pandangan, ekspresi wajah, sikap badan), tidak bisa bermain
dengan anak sebaya, kurang menguasai hubungan sosial dan emosional.
4. Gangguan Multisystem Development Disorder (MSDD).
MSDD digambarkan dengan ciri-ciri mengalami problem komunikasi,
sosial, dan proses sensoris (proses penerimaan rangsang indrawi). Ciri-cirinya
yang jelas adalah reaksi abnormal, bisa kurang sensitif atau hipersensitif
terhadap suara, aroma, tekstur, gerakan, suhu, dan sensasi indera lainnya. Sulit
berpartisipasi dalam kegiatan dengan baik, tetapi bukan karena tertarik, minat
berkomunikasi dan interaksi tetap normal tetapi tidak bereaksi secara optimal
dalam interaksinya. Ada masalah yang terkait dengan keteraturan tidur, selera
makan, dan aktivitas rutin lainnya.
C. PENUTUP
Dari uraian yang dipaparkan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural
terhadap bahasa ibunya (native language). Pemerolehan bahasa atau
akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang
anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya.
2. Terdapat dua teori yang cukup bersebrangan dalam pemerolehan
bahasa pada anak.. Kedua teori itu adalah aliran Behaviorisme dan
aliran Mentalisme. Teori-teori Behaviorisme hanya mengambil
perilaku yang dapat diamati sebagai titik tolak untuk deskripsi dan
penjelasannya. Sedangkan teori Mentalistik mengambil struktur dan
cara kesadaran sebagai dasarnya.
3. Proses pemerolehan fonologi pada anak dimulai dari tahap cooing
sebagai tahapan di mana anak dapat membedakan bunyi-bunyi untuk
selanjutnya mengarah kepada tahap memahami persepsi. Sedangkan
pada proses pemerolehan morfologi, anak melakukan diferensiasi
126

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK

Nana Jumhana

kelas kata yang meliputi pembentukan kata jamak, pembentukan


imbuhan, dan perubahan kata kerja. Dalam proses pemerolehan
sintaksis, tedapat beberapa teori, di antaranya teori Pivot, teori
hubungan tata bahasa nurani, teori hubungan tata bahasa dan
informasi situasi, dan teori kumulatif kompleks, dan teori pendekatan
semantik.
4. Terdapat beberapa jenis gangguan berbahasa pada anak yang
menyebabkan terjadinya kelambatan dalam berbicara pada anak. Di
antara jenis gangguan tersebut adalah Disfasia, Gangguan
disintegratif, Sindrom Asperger, dan Gangguan Multisystem
Development Disorder.
Catatan Akhir:
1H. Douglass Brown, Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, terjemah.
Noorcholis dan Yusi Avianto, Pearson Inc. 2007, Jakarta, h. 26
2Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritis, Penerbit Rineka Cipta, 2003, hal. 167.
3Fromkin dan Rodman, An Introduction to Language, (6th Ed.) Fort Worth, TX:
Hartcourt College, 1998, h. 318
4Soenjono Dardjowidjojo, ECHA, Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia,
Grasindo, Jakarta, 2000, h. 275).
5Widjajanti W. Darmowijono, dan I Nyoman Suparwa, Psikolinguistik : Teori
Kemampuan Berbahasa dan Pemerolehan Bahasa Anak, Udayana University Press, 2009, h.
50-51.
6Ibid, h. 52.
7H. Douglass Brown, op.cit, h.29
8Djoko Saryono, Pemerolehan Bahasa: Teori dan Serpihan Kajian, Nasa Media,
Malang, 2010, h. 14.
9Ibid. h. 15
10Ibid. h. 16
11Ibid, h.30-31
12Widjajanti W. Darmowijono, dan I Nyoman Suparwa, op.cit, h. 56
13Djoko Saryono, Op.cit, h. 32
14Ibid.
15Unsa Muhammad Ahmad Qasim, Muqaddimah fi Sikulujiyyati al-Lughah, Markaz
al-Iskandariyah li al-Kitab, Mesir, 2000, h. 102
16Widjajanti W. Darmowijono, dan I Nyoman Suparwa, op.cit, h. 69-74.
17http://yayang.od.student./po.ac.id/2010/06/18/perkembangan-bahasa-pada-anak.
18Soenjono Dardjowidjojo,
Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa
Manusia, Yayasan Obor Indonesia, 2005, h. 244
19Ibid.
20
Rohmani Nurindah dan Abdurrahman, Psikolinguistik Konsep dan Isu Umum, UIN
Malang Press, 2008, h. 108.
21Abdul Chaer, op.cit, h. 183-191

127

al-Ittijh

Vol. 06 No. 02 (Juli-Desember 2014)

22Abdul

Chaer, op.cit, h. 189.


h. 190-191
24Soenjono Dardjowidjoyo, Psikolinguistik, op.cit, h.264
25http://www.idonbiu.com/2009/04/pemerolehan-bahasa-anak.html.
26http://yayang.od.student./po.ac.id/2010/06/18/perkembangan-bahasa-pada-anak.
23Ibid,

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritis, Penerbit Rineka Cipta, 2003
A.Syukur Ghazali, Pemerolehan dan Pembelajaran Bahasa Kedua, Bayu
Media Publishing, Malang, 2013
Djoko Saryono, Pemerolehan Bahasa: Teori dan Serpihan Kajian, Nasa
Media, Malang, 2010.
Fromkin dan Rodman, An Introduction to Language, (6th Ed.) Fort Worth,
TX: Hartcourt College, 1998,
H. Douglass Brown, Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, terjemah.
Noorcholis dan Yusi Avianto, Pearson Inc. Jakarta, 2007.
http://yayang.od.student./po.ac.id/2010/06/18/perkembangan-bahasa-padaanak.
Nurhadi, Dimensi-dimensi dalam Belajar bahasa Kedua, sinar Baru algesindo,
Bandung, 2010.
Rohmani Nurindah dan Abdurrahman, Psikolinguistik Konsep dan Isu
Umum, UIN Malang Press, 2008,
Soenjono Dardjowidjojo, ECHA, Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia,
Grasindo, Jakarta, 2000,
Soenjono Dardjowidjojo, Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa
Manusia, Yayasan Obor Indonesia, 2005,
Unsa Muhammad Ahmad Qasim, Muqaddimah fi Sikulujiyyati al-Lughah,
Markaz al-Iskandariyah li al-Kitab, Mesir, 2000
Widjajanti W. Darmowijono, dan I Nyoman Suparwa, Psikolinguistik : Teori
Kemampuan Berbahasa dan Pemerolehan Bahasa Anak, Udayana
University Press, 2009
Nana Jumhana, adalah Dosen pada Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN SMH Banten.
128