Anda di halaman 1dari 23

KECURANGAN DALAM PENDAPATAN

DAN PERSEDIAAN

Oleh:
Alvina (00000002296)
Angel Stefani Lieando (00000000798)
Jessica Bernacilia (00000003891)
Ricky Hartanto Sjalim (00000002870)
Winsen (00000001734)

JURUSAN AKUNTANSI
BUSINESS SCHOOL
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
KARAWACI
2016

Kecurangan Pendapatan
Committee of Sponsoring Organization (COSO) menemukan bahwakun yang paling
sering dimanipulasi ketika melakukan kecurangan laporan keuangan adalah
pendapatan dan/atau piutang dagang. COSO juga mememukan bahwa cara yang
paling umum untuk memanipulasi akun pendapatan adalah dengan mencatat
pendapatan fiktif dan mencatat pendapatan yang tidak sesuai waktunya. Ada dua
alasan umum kecurangan laporan keuangan terkait dengan pendapatan. Alasan
pertama adalah karena ketersediaan berbagai alternative yang dapat diterima dalam
pengakuan pendapatan, dan alasan kedua yaitu mudahnya memanipulasi pendapatan
bersih menggunakan akun pendapatan dan piutang dagang.

Alternatif-Alternatif yang Dapat Diterima


Setiap organisasi itu berbeda begitu pula dengan jenis pendapatannya. Perbedaan ini
memerlukan kriteria dan metode pengakuan dan pelaporan yang berbeda pula. Dalam
banyak kasus, sulit untuk mengidentifikasi suatu peristiwa yang seharusnya
menimbulkan aktivitas pencatatan pendapatan. Sejumlah perbedaan dalam pengakuan
pendapatan dan kriteria antar-organisasi mempersulit pengembangan standar
pengakuan pendapatan untuk berbagai macam model bisnis dalam perekonomian saat
ini

Kemudahan

Memanipulasi

Pendapatan

Bersih

Menggunakan

Pendapatan dan Piutang


Cara paling mudah untuk menggelembungkan laba bersih adalah dengan menciptakan
pendapatan dan piutang yang terkait dengan pendapatan tersebut. Contohnya,
perusahaan dapat mengakui pendapatan lebih awal. Selain itu perusahaan juga dapat
membuat dokumen, penjualan, atau pelanggan fiktif guna menunjukkan penjualan
yang tinggi.

Mengidentifikasi Eksposur Kecurangan Pendapatan


Eksposur kecurangan pendapatan harus diperhatikan dalam setiap bisnis. Salah satu
cara terbaik untuk memahami berbagai kecurangan pendapatan dapat dilakukan
dengan memahami berbagai transaksi pendapatan dalam perusahaan. Berikut adalah
beberapa skema kecurangan pendapatan yang umum dilakukan :
1

Transaksi dengan pihak terkait adalah kesepakatan atau perjanjian bisnis yang
dibuat oleh pihak yang memiliki hubungan
Penjualan fiktif adalah ungkapan untuk berbagai penjualan fiktif
Faktur diterbitkan tetapi barang ditahan (bill-and-hold sales) adalah permintaan
terhadap barang yang disimpan penjual namun pembeli belum siap menerima
barang pada saat pemesanan
Kesepakatan sepihak adalah syarat dan perjanjian penjualan di luar saluran
pelaporan yang biasa digunakan
Penjualan konsinyasi adalah transaksi ketika suatu perusahaan menyimpan dan
menjual barang yang dimiliki oleh perusahaan lain
Channel stuffing adalah praktik yang digunakan untuk membujuk pelanggan
membeli persediaan ekstra agar penjualan tahun berjalan meningkat
Lapping atau kiting adalah suatu praktik ketika penerimaan kas dicatat secara tidak
benar untuk menyembunyikan piutang fiktif
Penanggalan ulang atau pembaruan transaksi merupakan tindakan mengubah
tanggal transaksi penjualan ke periode yang lebih baru untuk mencegah agar
transaksi tersebut tidak dianggap sebagai piutang macet
Kebijakan pengembalian bebas memungkinkan pelanggan untuk mengembalikan
barang dan membatalkan penjualan di masa mendatang
Pengiriman sebagian merupakan skema yang mencakup pencatatan atas penjualan
dengan jumlah penuh walaupun penjualan yang dikirimkan hanya sebagian
Pisah batas yang tidak tepat terjadi ketika transaksi di catat diperiode yang salah
Round-tripping merupakan tindakan penjualan asset yang tidak digunakan dengan
janji akan membeli kembali asset tersebut atau sejenis dengan harga yang sama
Keseluruhan skema kecurangan tersebut menghasilkan pendapatan danlaba bersih
yang lebih saji.

Mengidentifikasi Indikator Kecurangan Pendapatan


Indikator kecurangan dapat dibagi menjadi enam kategori, yaitu :
1. Indikator analitis. Peristiwa ekonomi, transaksi akuntansi, atau hubungan
keuangan dan non keuangan terlihat tidak wajar
2. Indikator akuntansi atau dokumentasi. Ketidaksesuaian dalam pencatatan atau
sistem akuntansi
3. Indikator gaya hidup. Kebutuhan gaya hidup mendesak memotivasi kecurangan
terjadi

4. Indikator pengendalian. Berbagai gangguan dalam lingkungan pendendalian,


sistem akuntansi, atau aktivitas prosedur pengendalian internal yang sering kali sangat
serius sehingga mengisyaratkan adanya pengabaian oleh pihak manajemen
5. Indikator perilaku dan indicator verbal. Sebagian besar pelaku kecurangan
adalah orang yang melakukannya untuk pertama kali. Akibatnya akan muncul rasa
bersalah yang berujung pada stress. Untuk mengatasi stress, pelaku kecurangan
mengubah perilaku mereka untuk menyembunyikan indicator kecurangan. Perubahan
perilaku ini sering kali merupakan indicator kecurangan yang sangat terlihat
6. Informasi dan pengaduan. Indikator kecurangan dapat dilihat dari pengaduan dari
pegawai, pasangan, pemasok, pelanggan, maupun pihak lainnya.

Pencarian Secara Aktif Indikator Kecurangan Pendapatan


Supaya kecurangan laporan keuangan dapat terdeteksi, indikator kecurangan harus
diamati dan diketahui. Pihak-pihak yang berkepentingan seperti auditor dapat mencari
indikator kecurangan dengan dua cara: menunggu sampai mereka "mungkin
menemukan indikator secara kebetulan," atau mereka ''melakukan pencarian secara
proaktif terhadap kemungkinan adanya indikator tersebut,"
Selama bertahun-tahun, auditor dan akuntan pada umumnya mengandalkan penemuan
secara kebetulan (informasi, anomali dari sampel yang diambil, bukti kecurangan
yang ditemukan secara kebetulan, dan sebagainya) untuk menemukan adanya
indikator kecurangan. Karena adanya perkembangan teknologi dan pembelajaran
yang dapat diambil dari riset mengenai kecurangan, saat ini kita memiliki alat dan
pengetahuan yang dapat digunakan untuk mencari indikator kecurangan tersebut
secara proaktif.

Pencarian secara Aktif lndikator Analitis terkait Pendapatan


Indikator analitis yang berhubungan dengan akun pendapatan membuat akun tersebut
menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah, meningkat terlalu cepat atau lambat, atau
hubungan abnormal lainnya. Cara praktis untuk mulai melakukan pencarian indikator
analitis adalah dengan berfokus pada perubahan dan perbandingan dalam laporan
keuangan. Analisis secara khusus yang biasanya dilakukan adalah:
1. Melakukan analisis terhadap saldo keuangan dan hubungannya dalam laporan
keuangan.
3

2. Membandingkan jumlah atau hubungan dalam laporan keuangan dengan informasi


di luar laporan keuangan.
Dua cara yang paling umum digunakan dalam analisis laporan keuangan adalah
dengan mencari perubahan yang tidak wajar dalam (1) saldo akun dari periode ke
periode (melihat trend) dan (2) hubungan terkait pendapatan dari periode ke periode.
Dua jenis analisis juga dapat dilakukan ketika jumlah dan hubungan dalam laporan
keuangan dibandingkan dengan informasi lain. Kedua analisis tersebut adalah:
1. Membandingkan hasil keuangan dan trend perusahaan dengan hasil keuangan dan
trend dari perusahaanperusahaan sejenis dalam industri yang sama atau dengan ratarataindustri.
2. Membandingkan jumlah pendapatan yang tercatat dalam laporan keuangan dengan
aset atau informasi finansial ataupun nonfinansial lainnya.

Berfokus pada Perubahan Saldo (Jumlah) Akun yang Tercatat dari


Periode ke Periode
Terdapat tiga cara untuk membandingkan jumlah yang tercatat dari satu periode
dengan jumlah yang tercatat di periode lainnya. Cara pertama yang kurang efektif
adalah dengan berfokus pada dan menghitung perubahan angka yang sebenarnya
terdapat dalam laporan keuangan itu sendiri. Namun, sering kali sulit untuk menilai
besarnya atau pentingnya perubahan dalam saldo akun hanya dengan melihat data
mentah, terutama jika jumlahnya relative besar.
Cara kedua, merupakan cara yang lebih mudah untuk mengetahui adanya indikator
kecurangan, yakni dengan menggunakan proses yang disebut dengan analisis
horizontal. Analisis horizontal merupakan metode yang dilakukan dengan
membandingkan persentase perubahan dalam saldo akun dari satu periode ke periode
berikutnya.
Cara ketiga untuk mengetahui adanya perubahan dari satu periode ke periode lainnya
adalah dengan mempelajari laporan arus kas. Hal ini tentu lebih mudah dibandingkan
dengan menghitung kembali perbedaan antara dua laporan keuangan secara berturutturut pada akun-akun tertentu , tetapi terkadang cara ini kurang efektif bila diban
ingkan dengan menggunakan analisis horizontal.

Berfokus pada Perubahan Hubungan terkait Pendapatan


Terdapat dua cara untuk mengetahui adanya perubahan-perubahan hubungan dalam
laporan keuangan dari satu periode ke periode lainnya. Cara pertama adalah berfokus
pada perubahan berbagai rasio yang terkait dengan pendapatan dari satu periode ke
periode lain. Memeriksa rasio terkait pendapatan merupakan metode paling efisien
untuk berfokus pada indikator-indikator hubungan dalam laporan keuangan. lngatlah
ketika menganalisis rasio, perubahan dari rasio lebih penting daripada ukuran rasio
itu sendiri.
Cara kedua untuk berfokus pada hubungan-hubungan dalam laporan keuangan
sebagai indikator kecurangan adalah dengan mengonversikan laporan keuangan dalam
bentuk persentase dan melakukan analisis vertikal. Seperti halnya analisis horizontal
yang merupakan cara sangat efektif dalam menemukan adanya indikator analitis
kecurangan terkait perubahan saldo-saldo akun, analisis vertikal juga efektif dalam
mengidentifikasi adanya sejumlah perubahan dalam hubungan-hubungan pada
laporan keuangan yang harus diinvestigasi.

Membandingkan Informasi Laporan Keuangan Antarperusahaan


Salah satu cara terbaik untuk mendeteksi kecurangan laporan keuangan adalah dengan
membandingkan kinerja perusahaan yang sedang

diperiksa dengan kinerja

perusahaan lain yang sejenis dalam industri yang sama. Kinerja yang berlawanan
dengan perusahaan lain dalam industri yang sama sering kali memberikan sinyal
adanya kecurangan. Perbandingan dengan perusahaan lain dapat dilakukan dengan
analisis horizontal atau analisis vertical, analisis ratio, perubahan-perubahan yang
dilaporkan dalam laporan arus kas, atau perubahan-perubahan pada angka-angka yang
ada di dalam laporan keuangan itu sendiri. Namun data dalam bentuk persentase
biasanya jauh lebih mudah dibandingkan dengan data awal yang ada dalam laporan
keuangan.

Membandingkan Jumlah dalam Laporan Keuangan dengan Jumlah


Aset yang Direpresentasikan
Pendekatan ini tidak dapat mendeteksi adanya kecurangan pendapatan sebagaimana
mendeteksi kecurangan kas, persediaan, dan aset fisik lainnya. Secara umum,
pendapatan tidak berkaitan dengan aset fisik yang dapat diperiksa. Yang menjadi
5

pengecualian adalah ketika perusahaan menghasilkan pendapatan dari membangun


aset yang melibatkan proyek kontsruksi jangka panjang seperti gedung, jembatan,
atau jalan raya dan mengakui pendapatan berdasarkan metode persentase
penyelesaian. Dalam kasus ini, aset yang telah dibangun harus diperiksa untuk
menentukan apakah pendapatan yang diakui wajar terkait tingkat penyelesaian
proyek tersebut.

Pencarian secara Aktif Indikator Akuntansi atau Indikator


Dokumentasi
Salah satu cara yang umumnya digunakan oleh manajemen untuk melakukan
kecurangan adalah dengan melakukan posting satu atau lebih ayat jurnal secara
langsung pada catatan akuntansi. Ayat-ayat jurnal ini sering kali tidak sesuai proses
posting ayat jurnal yang seharusnya, sehingga mengabaikan adanya proses
pengendalian internal. Ayatayat jurnal ini sering disebut sebagai ayat jurnal topside,
yang berarti bahwa ayat jurnal diposting secara langsung pada jurnal ringkasan atau
buku besar, bukan pada buku besar pembantu yang memuat informasi pendukung.
Perusahaan besar mungkin memiliki jutaan ayat jurnal setiap tahunnya. Oleh karena
itu, pencarian terhadap beberapa ayat jurnal yang mengandung kecurangan tentu
merupakan sesuatu yang sangat menantang. Namun, perangkat lunak dan perangkat
keras komputer dapat digunakan untuk melakukan pencarian secara efektif ayat-ayat
jurnal yang mengandung kecurangan tersebut. Sebagaimana yang telah dibahas
sebelumnya, pendekatan yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan metode
induktif atau deduktif untuk mencari ayat-ayat jurnal tersebut.

Pencarian secara Aktif Indikator Pengendalian


Pentingnya mengidentifikasi kelemahan pengendalian sebagai kemungkinan adanya
indikator kecurangan telah dibahas sebelumnya. Namun, perlu dibahas dua poin
terkait dengan pengendalian dalam hubungannya dengan kecurangan pendapatan.
Pertama, akuntan dan auditor laporan keuangan terbiasa mendapatkan pengecualian
pengendalian dalam jumlah yang terbatas, ketika menilai kecukupan dari sistem
pengendalian internal. Pendekatan

ini digunakan karena mereka memandang

gangguan dan kelemahan pada pengendalian internal sebagai sesuatu yang harus
diperbaiki "di masa yang akan datang." Faktanya, salah satu cara yang paling umum
6

digunakan dalam mendeteksi kecurangan adalah dengan menginvestigasi kelemahan


atau pengabaian pengendalian untuk melihat apakah sedang terjadi penyalahgunaan.
Faktor pengendalian yang kedua yang perlu diperhatikan dalam mendeteksi
kecurangan laporan keuangan adalah lingkungan pengendalian. Dalam banyak kasus
dari kecurangan laporan keuangan, komite audit atau dewan direksi merupakan pihak
yang lemah

atau tidak aktif, dan satu atau dua eksekutif memiliki kekuatan

pengendalian dalam organisasi. Komite audit atau dewan direksi yang lemah dapat
menyebabkan lingkungan pengendalian yang tidak menghargai perilaku etis.
Undang-undang terbaru seperti Sarbanes-Oxley Act 2002 yang dijelaskan dalam
Lampiran A di Bab 2 seharusnya dapat membantu mengatasi situasi seperti ini di
perusahaan publik. Walapun begitu, terdapat banyak perusahaan nonpublik yang
melakukan kecurangan laporan keuangan, dan masih ada perusahaan-perusahaan lain
yang memiliki dewan direksi, komite audit, dan eksekutif yang tidak bertindak
sebagaimana mestinya.
Auditor eksternal saat ini diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap efektivitas
lingkungan pengendalian seorang auditee. Hal ini merupakan sesuatu yang penting,
tetapi sangat sulit karena manajemen mungkin terlihat seperti memiliki lingkungan
pengendalian yang kuat, tetapi mereka sebenarnya sedang menyembunyikan fakta
bahwa mereka mengabaikan adanya pengendalian.

Pencarian secara Aktif Indikator Perilaku atau Indikator Verbal dan


Indikator Gaya Hidup
Indikator gaya hidup lebih membantu kita ketika mendeteksi kecurangan yang
dilakukan pegawai dibandingkan dengan kecurangan yang dilakukan pada laporan
keuangan. Kecurangan laporan keuangan tidak dirasakan langsung oleh pelaku , saat
memanipulasi data laporan keuangan maka otomatis harga saham perusahaan naik
dan benefit yang di rasakan oleh mereka berupa bonus keuangan fiktif. Dalam menginvestigasi kecurangan auditor sering kali tidak menggunakan alat deteksi kecurangan
sedangkan SAS 99 mengharuskan audit eksternal untuk melakukan wawancara
dengan pihak manajemen ( manajemen , anggota komite audit , personel audit internal
, pegawai-pegawai lainnya ) Sering kali informasi tentang kecurangan didapatkan dari
pegawai tingkat bawah karena cenderung pihak manajemen atas menyembunyikan
tindakan curang tersebut. Para pelaku kecurangan cenderung melibatkan personel lain
7

untuk melancarkan aksi mereka seperti : akuntan dan personel anak perusahaan , oleh
karena itu auditor harus bisa bertanya mengenai pertanyaan utama terkait kecurangan.
Contoh : Apakah ada sesuatu yang mencurigakan yang harus diwaspadai dalam
perusahaan ini?, apakah ada upaya untuk mengatur laba? Auditor harus berupaya
membangun komunikasi yang baik dengan manajer sehingga bisa mendeteksi
kecurangan yang terjadi karena kecurangan dapat di-deteksi saat adanya
ketidakkonsisten-an yang dikatakan oleh manajer. Terkait dengan indikator perilaku
ingatlah bahwa pelaku kecurangan selalu akan mendapatkan tekanan dan tingkah
lakunya menjadi berubah.

Pencarian secara Aktif untuk Informasi dan Pengaduan


Cara terbaik untuk melakuka pencarian informasi dan pengaduan untuk berbagai
macam kecurangan adalah dengan membentuk ombudsman , sauran pengaduan , atau
sistem lainnya yang memungkinkan oran-orang dapat menyampaikan informasi dan
pengaduan secara anonim. Terkadang seseorang ragu untuk menyampaikan informasi
karena :

Mereka tidak mengetahui siapa yang harus diberitahu atau bagaimana caranya

memberi tahu
Mereka tidak ingin salah menuduh orang
Mereka takut akan konsekuensi menjadi whistleblower
Mereka hanya memiliki kecurigaan tanpa adanyya bukti

Sistem whistleblowing sering kali efektif untuk mendapatkan informasi dari orangorang yang ragu-ragu dalam memberikan informasi mengenai kecurangan. Setiap
informasi dan pengaduan mengenai manejemen puncak dan personel penting lainnta
atau mengenai kecurangan laporan keuaanggan , pengendalian , ketentuan hukum ,
atau kecurangan itu sendiri harus ditelusuri dengan seksama. Whistleblower tidak
ingin melaporkan secara langsung mengenai kecurangan , melainkan mengenai
aktivitas-aktivitas tidak wajar yang dilakukan oleh seseorang yang dicurigai sehingga
orang tersebut akan diawasi secara hati-hati.

Menindaklanjuti Indikator-Indikator Kecurangan Pendapatan


Sebagai seorang pemeriksa kecurangan adanya indikator-indikator kecurangan
menimbulkan dugaan atau alasan untuk meyakini bahwa kecurangan mungkin saja
8

sedang terjadi , ketika ada dugaan investigasi harus dilakukan. Prosedur-Prosedut


yang secara khusus digunakan dan bagaimana urutan penggunaannya tergantung dari
jenis kecurangan yang anda duga dan tingkat kemudahan dalam pengumpulan bukti.

Kecurangan Persediaan dan Harga Pokok Penjualan


Akun-Akun persediaan berpengaruh terhadap laporan laba rugi komprehensif ,
perhitungan dalam laba rugi komprehensif dapat dilihat pada tabel 3.4
Tabel 3.4 Pengaruh Persediaan yang Lebih saji terhadap Laporan Laba Rugi
komprehensif
Laporan Laba Rugi Komprehensif
Jika Persediaan yang lebih saji maka
Pendapatan ( penjualan ) kotor
Tidak Berpengaruh
Retur Penjualan
Tidak Berpengaruh
Potongan Penjualan
Tidak Berpengaruh
Pendapatan ( penjualan ) Bersih
Tidak Berpengaruh
Harga Pokok Penjualan
Kurang Saji
Margin Kotor
Lebih Saji
Beban
Tidak Berpengaruh
Laba Bersih
Lebih Saji
Berdasarkan analisis diatas dapat dilihat jika persediaan lebih saji maka harga pokok
penjualan menjadi kurang saji , dan margin kotor serta laba bersih menjadi lebih saji
dengan jumlah yang sama ( tidak termasuk pajak ) Hal ini juga menunjukkan tentang
persediaan akhir yang lebih saji pada periode 1 akan berpengaruh pada harga pokok
penjualan yan baik pada periode 1 maupun periode 2 , harga pokok penjualan dapat
menjadi kurang saji dengan memperkecil jumlah pembelian atau dapat juga kurang
saji dengan cara memperbesar retur pembelian/potongan pembelian. Memperbesar
persediaan akhir cenderung menjadi kecurangan yang paling sering dilakukan karena
dapat mengakibatkan peningkatan laba bersih dan aset yang tercatat agar laporan
keuangan yang disajikan terlihat bagus/baik. Pada periode 1 : persediaan akhir lebih
saji , HPP kurang saji , dan menjadikan margin kotor dan laba bersih menjadi lebih
saji , namun persediaan akhir yang lebih saji tersebut akan menjadi persediaan awal
periode 2 yang berarti bahwa persediaan akhir periode selanjutnya harus dibuat lebih
saji / HPP pada periode 2 akan menjadi lebih saji dan membuat margin kotor dan laba
bersih menjadi kurang saji. Dampak dilakukannya penyeimbangan satu periode ke
periode berikutnya mengharuskan pelaku memperbesar nilai persediaan akhir pada
periode 2 dengan jumlah yang bahkan lebih besar agar dapat menyeimbangkan
terjadinya persediaan awal yang lebih saji untuk melakukan kecurangan lagi.
9

Megidentifikasi Eksposur Kecurangan Persediaan


Pertama kita akan mengidentifikasi eksposur kecurangan laporan keuangan , kedua
membahas indikator kecurangan persediaan , ketiga cara untuk melakukan pencarian
secara

aktif

indikator

kecurangan

persediaan

dan

terakhir

kita

akan

mempertimbangkan cara-cara untuk menindaklanjuti indikator tersebut untuk


menemukan adanya kecurangan persediaan. Ada beberapa skema yang paling umum
adalah :
1. Pencatatan Ganda = terjadi ketika akun persediaan tertentu dihitung 2 kali , hal
ini terjadi ketika perusahaan memindahkan persediaan dari satu lokasi yang
telah dilakukan perhitungan persediaan ke lokasi yang jumlah persediaannya
belum dihitung.
2. Kapitalisasi biaya yang seharusnya dibebankan = terjadi ketika perusahaan
menggelembungkan nilai persediaannya dengan menambahkan biaya-biaya
seperti biaya penjualan , atau biaya administrasi , dan umum pada akun
persediaan , bukan mencatat biaya-biaya tersebut sebagai beban pada periode
terjadinya.
3. Permasalahan pisah batas = terjadi ketika perusahaan menunda penurunan
nilai buku persediaan usang , mencatat retur dari periode yang lebih awal ,
mencatat pembeliaan pada periode berikutnya , dan melakukan praktik sejenis
lainnya.
4. Estimasi berlebihan terhadap persediaan = terjadi ketika menerapkan metode
pengambilan sampel yang tidak tepat.
5. Faktur diterbitkan tetapi barang ditahan ( bill-and-hold sales ) = penjual
menahan barang untuk pembeli karena pembeli mungkin belum siap atau
belum mampu menerima pengiriman pada saat dilakukan pemesanan.
6. Persediaan Konsiyasi = barang yang ditahan dan dijual oleh perusahaan untuk
perusahaan lain.
Salah satu cara terbaik untuk mengidentifikasi eksposur kecurangan laporan
keuangan adalah dengan membuat diagram mengenai jenis transaksi terkait
persediaan yang terjadi dalam organisasi. Kecurangan persediaan mungkin
dilakukan dengan memperkecil nilai persediaan dan laba bersih , dengan
kecurangan persediaan persediaan akhir yang lebih saji pada suatu periode
menjadi persediaan awal yang lebih saji pada periode berikutnya dan
menyebabkan laba bersih menjadi kurang saji di periode kedua.
10

Mengidentifikasi Indikator Kecurangan Persediaan


1. Indikator Analitis
Saldo persediaan yang dilaporkan terlihat terlalu tinggi atau mengalami
peningkatan terlalu cepat
Potongan pembelian yang dilaporkan terlihat terlalu tinggi atau
mengalami peningkatan terlalu cepat
Pembelian yang dilaporkan terlihat terlalu rendah untuk tingkat
penjualan atau persediaan
2. Indikator Akuntansi atau Indikator Dokumentasi
Transaksi persediaan atau harga pokok penjualan yang tidak dicatat
secara lengkap atau tepat waktu atau dicatat secara tidak tepat dari segi
jumlah, periode akuntansi, klasifikasi atau entitas
Dokumen-dokumen yang hilang terkait persediaan dan/atau harga
pokok penjualan
Perbedaan di antara laporan penerimaan persediaan dan persediaan
yang sebenarnya diterima
3. Indikator Pengendalian
Manajemen mengabaikan aktivitas pengendalian internal yang
signifikan terkait pembelian, persediaan, dan harga pokok penjualan
Pemasok baru atau tidak umum yang tampaknya tidak masuk melalui
proses persetujuan pemasok yang sesuai prosedur
Kelemahan dalam proses penghitungan persediaan
4. Indikator Perilaku atau Indikator Verbal
Respons yang tidak konsisten, tidak jelas, atau tidak masuk akal dari
manajemen atau pegawai terhadap munculnya pertanyaan atau
prosedur analitis terkait persediaan, pembelian, atau harga pokok
penjualan
Respons dari manajemen yang tidak benar, tidak konsisten, atau
mencurigakan

terkait

pertanyaan-pertanyaan

auditor

seputar

persediaan, harga pokok penjualan, atau pertanyaan lainnya


Penolakan akses terhadap fasilitas, pegawai, catatan, pelanggan,
pemasok atau pihak lain yang menjadi sumber bukti terkait persediaan
dan harga pokok penjualan
5. Indikator Gaya Hidup
Indikator yang serupa dengan kecurangan pendapatan (misalnya
penjualan saham, bonus dan kepemilikan saham). Namun, harus

11

diingat bahwa indikator gaya hidup sering kali tidak efektif dalam
mendeteksi adanya kecurangan laporan keuangan
6. Informasi dan Pengaduan
Informasi dan pengaduan yang dihasilkan melalui sistem wishtleblowing atau melalui media lain dapat menunjukan bahwa skema
kecurangan persediaan mungkin saja sedang terjadi

Fokus pada Perubahan Saldo yang Tercatat dari Periode ke Periode


Terdapat tiga cara untuk berfokus pada perubahan saldo yang tercatat dari periode ke
periode. Metode yang pertama adalah dengan berfokus pada perubahan dalam angkaangka yang terdapat dalam laporan keuangan yang sebenarnya. Metode kedua,
metode yang sama digunakan untuk mempelajari laporan arus kas. Laporan ini
mengidentifikasi perubahan saldo akun dari satu periode ke periode berikutnya.
Metode

ketiga

adalah

menggunakan

analisis

horizonal. Analisis

horizotal

memungkinkan anda untuk menganalisis perubahan persentase saldo akun dari


periode ke periode.

Fokus pada Perubahan Hubungan dari Periode ke Periode


Terdapat dua metode utama yang dapat digunakan untuk berfokus pada perubahan
hubungan dari periode ke periode. Metode pertama adalah dengan menganalisis
perubahan rasio dari satu periode ke periode berikutnya. Metode kedua adalah dengan
mengonversi laporan keuangan ke dalam bentuk laporan common size dan
menggunakan analisis vertikal untuk menganalisis perubahan persentase dari periode
ke periode. Cara pertama, rasio yang paling membantu untuk digunakan memeriksa
hubungan-hubungan persediaan dan harga pokok penjualan adalah: Rasio (margin)
laba kotor dihitung dengan cara membagi laba kotor dengan penjualan. Rasio ini
dapat membantu mengidentifikasi kecurangan persediaan karena ketika perusahaan
memperbesar saldo persediaan, harga pokok penjualan umumnya akan menjadi
kurang saji. Hasilnya akan mengakibatkan peningkatan pada rasio laba kotor.
Perputaran persediaan dihitung dengan cara membagi harga pokok penjualan
dengan rata-rata persediaan dan berguna untuk menentukan apakah persediaan
tersebut lebih saji atau harga pokok penjualan tersebut kurang saji. Jumlah hari
untuk penjualan persediaan mengukur rata-rata waktu yang diperlukan untuk

12

menjual persediaan dan dihitung dengan cara membagi jumlah hari dalam satu
periode dengan rasio perputaran persediaan.
Empat rasio lainnya juga dapat membantu mendeteksi kecurangan persediaan,
diantaranya: pertama, rasio perputaran aset yang dihitung dengan cara membagi
penjualan bersih dengan rata-rata total aset menunjukan ukuran berapa lama suatu
organisasi melakukan perputaran asetnya. Kedua, Rasio perputaran modal kerja
dihitung engan cara membagi penjualan bersih dengna rata-rata modal kerja selama
satu periode. Ketiga, Rasio kinerja operasional dihitung dengan cara membagi laba
bersih dengan penjualan bersih. Rasio ini menunjukan ukuran margin laba sebuah
perusahaan. Keempat, Laba per lembar saham merupakan rasio yang paling banyak
digunakan, mengukur profitabilitas organisasi.
Cara kedua untuk berfokus pada hubungan-hubungan yang ada dalam laporan
keuangan adalah dengan mengonversi laporan keuangan menjadi bentuk laporan
common size dan melakukan analisis vertikal. Jika persediaan sebagai persentase dari
total aset atau sebagai persentase dari penjualan terus mengalami peningkatan, atau
jika harga pokok penjualan sebagai persentase dari penjualan bersih terus mengalami
penurunan, terdapat kemungkinan terjadinya kecurangan.

Pencarian secara Aktif Indikator Akuntansi atau Indikator


Dokumentasi
Sebagaimana kecurangan pendapatan, cara umum yang digunakan manajemen untuk
melakukan kecurangan persediaan adalah dengan cara memposting ayat jurnal
topside pada catatan akuntansi. Perangkat lunak seperti ACL dapat digunakan untuk
menentukan apakah setiap ayat jurnal tidak umum, ditinjau dari lima W, yaitu whosiapa yamg memposting jurnal, what-untuk apa jurnal tersebut, when-kapan jurnal
diposting, where-dimana entri tersebut diposting dalam sistem akuntansi, whymengapa jurnal tersebut diposting.

Pencarian secara Aktif Indikator Pengendalian Persediaan


Karena kecurangan persediaan sangat banyak ditemukan seperti halnya kecurangan
pendapatan, lingkungan pengendalian danprosedur pengendalian yang baik harus
diperhatikan. Sbagian besar perusahaan yang melakukan kecurangan laporan
keuangan adalah perusahaan yang relatif kecil dan memiliki komite audit yang tidak
13

aktif, dewan direksi yang didominasi oleh orang dalam dan direksi abu-abu dengan
kepimilikan ekuitas yang signifikan dan minimnya pengalaman sebagai direksi pada
perusahaan lain, serta adanya hubungan keluarga di antara direksi atau pejabat.
Pengendalian persediaan harus diperiksa secara seksama. Ingatlah bahwa tidak
memadainya pengendalian yang utama akan menciptakan peluang kekurangan yang
membentuk segitiga kecurangan (fraud tringle). Terkait persediaan, pembelian, dan
harga pokok penjualan, focus utama kita adalah pengendalian terhadap proses
pembelian (permintaan pembelian dan order pembelian, dsb.), penerimaan (laporan
penerimaan, pengendalian fisik, dsb.), pencatatan liabilitas (faktur pemasok, memo
debit, dsb.), pengeluaran kas (cek,dsb.), penyimpanan, pemrosesan, dan pengiriman
persediaan, transfer harga pokok persediaan, menelusuri biaya persediaan yang
sebenarnya (terutama pada perusahaan manufaktur) dan pemeriksaan persediaan
secara fisik.
Ketika pengendalian persediaan menjadi lemah atau dapat dengan mudah diabaikan,
hilangnya sistem pengendalian atau pengabaian terhadap sistem pengendalian
merepresentasikan adanya indikator keccurangan bukan hanya sekedar kelemahan
pengendalian.

Pencarian secara Aktif Indikator Perilaku atau Indikator Verbal dan


Indikator Gaya Hidup
Sama halnya dengan kecurangan laporan keuangan lainnya, indikator gaya hidup
biasanya tidak cukup efektif dalam membantu Anda menemukan kecurangan laporan
keuangan terkait persediaan karena kecurangan laporan keuangan biasanya tidak
memberikan keuntungan langsung pada pelaku. Namun, mencari indikator perilaku
dan indikator verbal akan bermanfaat. Sering kali, jumlah persediaan yang tercatat
tergantung pada tujuan manajemen. Contohnya, jika manajemen berencana, dan
percaya bahwa perusahaan dapat menjual produk yang ada, maka perusahaan tidak
akan menghapus jumlah persediaan tersebut sebagai produk usang. Umumnya, bukti
yang paling tepat terkait tujuan manajemen adalah dengan melakukan wawancara atau
investigasi.
Pencarian secara Aktif Informasi dan Pengaduan
Informasi dan pengaduan adalah hal-hal yang sangat bermanfaat dalam mendeteksi
kecurangan persediaan. Pada banyak kasus, karena karakteristik fisiknya, persediaan
14

harus dibawa masuk ke dalam perusahaan, dikelola di dalam perusahaan, dan dikirim
ketika dijual. Semua pergerakan ini berarti bahwa orang-orang harus terlibat dalam
mengelola dan menangani arus fisik persediaan. Sebagai contoh manfaat dari
pengajuan berbagai pertanyaan dan meminta informasi, perhatikan kasus staf auditor
dari KAP yang sebelumnya merupakan salah satu KAP The Big Six yang sedang
melakukan audit persediaan pada sebuah perusahaan manufaktur pipa penyemprot air.
Ketika mengamati persediaan, sebagian dari persediaan itu terlihat usang dan tidak
dapat dijual. Namun, ketika hal tersebut ditanyakan pada CEO dan CFO, mereka
mengatakan bahwa persediaan itu baik-baik saja dan akan dijual sesuai prosedur yang
umumnya dilakukan. Namun, ternyata setelah menanyakan hal yang sama kepada
para pekerja gudang, auditor mendapatkan jawaban yang berbeda. Para pekerja
tersebut sangat jujur mengatakan bahwa kebanyakan dari pipa tersebut tidak dapat
lagi dijual karena sudah tidak dapat berfungsi.
Hal terpenting yang harus diingat adalah meskipun sebagian besar perusahaan saat ini
memiliki sistem whistle blower, Anda tetap harus meminta informasi secara aktif.
Kecurangan laporan keuangan terkait pendpatan dan persediaan adalah sesuatu yang
saling berkaitan, karena pendapatan dihasilkan melalui penjualan persediaan.
Persediaan memiliki karakteristik fisik yang unik. Mengidentifikasi karakteristik fisik ini
dan memastikan bahwa angka yang dilaporkan dalam laporan keuangan tersebut telah
sesuai dengan karakteristik tersebut (volume, berat, dsb.) adalah cara yang tepat untuk
memastikan bahwa jumlah yang dilaporkan adalah jumlah yang realistis. Kemudian,
ketika berurusan dengan kecurangan persediaan, penting untuk mengidentifikasi
indikator dan eksposur yang terkait, melakukan pencarian secara aktif adanyan
indikator kecurangan, dan kemudian melakukan tindak lanjut.

STUDI KASUS
Kasus Kecurangan Enron Enron Corporation memulai bisnisnya sebagai distributor
gas alam skala kecil dan selama kurun waktu 15 tahun telah berkembang menjadi
perusahaan terbesar ketujuh di Amerika Serikat. Segera setelah pemerintah federal
melakukan deregulasi atas saluran gas alam pada tahun 1985, Enron didirikan dari
upaya merger antara Houston Natural Gas dengan InterNorth, perusahaan pipa
salurahn kilang minyak Nebraska. Awalnya, Enron hanya terlibat dalam distribusi gas,
tetapi kemudian berkembang menjadi pembuat pasar dalam memfasilitasi pembelian
dan penjualan gas alam, listrik, broadbrand, dan produk lainnya di masa yang akan
15

datang. Namun, Enron terus berkembang yang pada gilirannya kemudian berakhir
karena kasus kecurangan laporan keuangan yang kompleks dan sejumlah skandal
yang menggiring Enron pada tingkat penurunan yang drastis hingga kebangkrutan.
Kenneth Lay, pimpinan dan CEO, menggunakan jasa perusahaan konsultasi
MCKinsey & Company untuk mendukung pengembangan rencana baru untuk
membantu Enron kembali berdiri tegak. Jeff Skilling, seorang konsultan muda
McKinsey yang memilikii latar belakang dalam perbankan dan aset serta pengelolaan
liabilitas, ditugaskan untuk bekerja dengan Enron. Ia merekomendasikan supaya
Enron menciptakan sebuah bank gas untuk membeli dan menjual gas. Skilling,
yang kemudian menjadi kepala eksekutif di Enron, memahami bahwa Enron dapat
melakukan kapitalisasi pada fluktuasi harga gas dengan bertindak sebagai perantara
dan menciptakan pasar kontrak berjangka bagi para pembeli dan penjual gas; Enron
akan membeli dan menjual gas untuk digunakan besok pada harga yang stabil hari ini.
Meskipun gagasan mengenai bank gas secara teori sangat sukses, tetapi gagasaan
bank gas dari Skilling tersebut menghadapi sebuah permasalahan besar. Produsen gas
alam yang setuju untuk memasok bank gas Enron sangat membutuhkan uang dan
mensyaratkan uang sebagai pembayaran atas produk mereka. Namun, Enron juga
tidak memiliki jumlah uang yang memadai. Dengan arahan Andrew Fastow, pakar
keuangan yang baru, Enron juga menciptakan beberapa entitas bertujuan khusus
(special purpose entity SPE), yang akan berperan sebagai alat untuk menyalurkan
uang dari bank kepada para pemasok gas, sehingga transaksi-transaksi ini tidak
dibukukan oleh Enron. Karena bisnis Enron menjadi semakin bertambah rumit,
kerentanan terhadap adanya kecurangan dan bencana juga muncul. Pada awalnya,
kemitraan dan SPE yang baru terbentuk bekerja untuk mendatangkan keuntungan bagi
Enron. Namun pada akhirnya, penciptaan SPE inilah yang menjadi penyebab jatuhnya
Enron.
Untuk terus meningkatkan nilai pertumbuhan dan dominasi perusahaannya, Enron
mulai merekrut para pedagang yang terbaik dan paling unggul. Akan tetapi, secapat
itu pula Enron memberhentikan para pegawainya, kemudian merekrut yang baru.
Manajemen menciptakan Performance Review Committee (PRC), yang dikenal
sebagai sistem pemeringkatan tenaga kerja yang paling keras di negara tersebut.
16

Metode dalam mengevaluasi kinerja pegawai ini disebut rank and yank oleh para
pegawai Enron. Setiap 6 bulan, para pegawai akan diperingkat dengan skala 1 hingga
5. Peringkat dengan kategori terendah (1) akan segera diberhentikan-yanked (atau
dipecaat) dari posisi mereka dan akan digantikan dengan pegawai baru. Tinjauan
kinerja yang kejam ini menciptakan persaingan internal yang keras di antara sesama
pegawai yang menghadapi ultimatum yang tegas bekerja secara memuaskan atau
dipecat. Lebih jauh lagi, hal ini menciptakan lingkungan kerja yang tidak dapat
memberikan kesempatan pada para karyawan untuk mengeluarkan opini atau
kekhawatiran atas ketakutan pemberian peringkat yang terllau rendah oleh atasan
mereka.
Dengan begitu banyaknya tekanan untuk berhasil dan mempertahankan posisisnya
sebagai pemimpin pasar energi global, Enron mulai merusak integritasnya dengan
melakukan kecurangan. SPE, yang semula digunakan untuk tujuan bisniss yang baik,
sekarang digunakan secara illegal untuk menyembunyikan investasi yang buruk, aset
yang memiliki kinerja buruk, dan utang; untuk memanipulasi rusk as; dan akhirnya,
untuk melaporkan pendapatan fiktif sebesar lebih dari $1 miliar. Contoh berikut
menggambarkan bagaimana SPE tertentu digunakan secara curang.
Chewco Pada tahun 1993, Enron dan California Public Employees Retirement
System (CalPERS) membentuk kemitraan 50/50 yang dinamakan Joint Energy
Development Investments Limted (JEDI). Pada tahun 1997, Andrew Fastow dari
Enron mendirikan SPE Chewco, yang dirancang untuk membeli kembali saham
ekuitas CalPERS yang ada di JEDI dengan keuntungan yang besar. Namun, Chewco
melampaui batas legalitas dengan dua cara. Pertama, dia tidak mempunyai aturan
ekuitas 3 persen, yang memungkinkan perusahaan seperti Enron untuk tidak
melakukan konsolidasi jika pihak luar memiliki konstribusi sebesar 3 persen atas
modal, tetapi 97 persen lainnya harus berasal dari perusahaan. Kedua, karena Fastow
merupakan pejabat Enron, ia tidak diotorisasi untuk menjalankan Chewco secara
pribadi tanpa persetujuan langsung dari dewan direksi Enron dan pengungkapan
public pada SEC. Dalam usahanya untuk melanggar batasan ini secara diam-diam,
Fastow menunjuk salah satu bawahannya, Michael Kopper, untuk menjalankan
Chewco di bawah supervise dan pengaruh Fastow.

17

Chewo pada akhirnya dipaksa untuk mengonsolidasikan lapora keuangannya dengan


Enron. Namun, tindakan tersebut menyebabkan kerugian besar pada laporan posisi
keuangan Enron dan laporan keuangan lainnya. SPE Chewco berkontribusi sebesar 80
persen (kira-kira $400 juta) dari keseluruhan penyajian ulang laporan keuangan SPE
Enron. Lebih lanjut lagi, Chewco menetapkan sejumlah tahapan bagi Fastow karena
ia melanjutkan untuk memprebesar keuntungan pribadinya dari kerajaan SPE tersebut.
LJM 1&2 SPE LJM (LJM 1 dan LJM 2) merupakan 2 organisasi yang didanai oleh
Enron, yang juga berperan sangat besar dalam pembuatan kontrak keseepakatan yang
mengandung kecurangan. LJM 1 dan penerusnya, LJM 2, mirip dengan SPE Chewco
karena keduanya sama-sama melanggar dua aturan penting yang ditetapkan oleh SEC.
Pertama, meskipun kurang dari 3 persen dari ekuitas SPE yang dimiliki oleh investor
pihak luar, pembukuan LJM dibuat secara terpisah dari Enron. Kesalahan dalam
penilaian oleh Arthur Andersen yang menyebabkan laporan keuangan LJM tidak
dikonsolidasikan. Lebih jauh lagi, Fastow (saat ini menjadi CFO Enron) ditunjuk
secara pribadi untuk mengawasi keseluruhan kegiatan operasional di LJM. Tanpa
adanya pengendalian tata kelola yang seharusnya dilakukan, maka kecurangan
menjadi tak terelakkan.
LJM 1 pertama kali diciptakan oleh Fastow sebagai hasil dari kontrak kesepakatan
Enron yang telah dilakukannya dengan penyedia layanan Internet berkecepatan tinggi,
Rhythms NetConnections. Pada Maret 1998, Enron membeli saham Rhythms senilai
$10 juta dan setuju untuk memegang saham tersebut hingga akhir tahun 1999, ketika
penjualan saham-saham tersebut diotorisasi. Rhythms merilis IPO pertamanya pada
April 1999, dan saham Enron pada saham Ryhthms melonjak dengan cepat menjadi
senilai $300 juta.
Karena takut nilai sahamnya mungkin akan jatuh lagi sebelum dapat terjual, Enron
mencari investor yang memungkinkannya untuk membeli opsi jual dari investor
tersebut (seperti asuransi terhadap jatuhnya harga saham). Namun, karena Enron
memiliki saham dalam jumlah besar dan karena Rhythms merupakan perusahaan yang
beresiko, Enron tidak dapat menemukan investor dengan tingkat harga yang
diharapkan. Oleh karena itu, dengan persetujuan dari dewan direksi dan surat
pernyataan untuk lepas dari kode etik Enron, Fastow mendirikan LJM 1, yang
menggunakan saham Enron sebagai modalnya untuk menjual opsi jual saham
18

Rhythms kepada Enron. Akibatnya, Enron menjaminkan dirinya sendiri terhadap


merosotnya harga saham Rhythms.
LJM 2 merupakan lanjutan dari LJM 1 dan terkenal buruk karena keterlibatannya
dalam empat kontrak kesepakatan utama yang dikenal dengan sebutan Raptors.
Raptors merupakan kontrak kesepakatan yang dibuat antara Enron dan LJM 2 yang
memungkinkan Enron untuk menyembunyikan kerugiannya sekitar $1,1 miliar dari
laporan posisi keuangan Enron.
LJM 1 dan LJM 2 digunakan oleh Enron untuyk mengubah laporan keuangan yang
sebenarnya dan digunakan oleh Fastow untuk keuntungan pribadinya. Pembukuan
Enron mendapat pukulan telak ketika LJM akhirnya mengonsolidasikan laporan
keuangannya, menyajikan kembali SPE senilai $100 juta. Pada akhirnya, Fastow
memperoleh jutaan dollar dari keterlibatannya dengan SPE LJM.
Melalui skema akuntansi yang rumit, Enron dapat mengelabui public untuk berpikir
bahwa labanya akan terus tumbuh. Raksasa energy tersebut secara diam-diam
mengubah akun-akun dengan menyembunyikan liabilitas dan kerugian yang nilainya
signifikan dari investasi yang bernilai negative dan aset yang rusak, dengan tidak
mengakui penurunan dalam nilai aset lamanya, dengan melaporkan adanya
pendapatan fiktif lebih dari $1 miliar, dan dengan memanipulasi arus kasnya, sering
kali selama kuartal keempat. Namun, segera setelah public mengetahui kecurangan
yang dilakukan oleh Enron, baik para investor maupun perusahaan lah yang
menanggung kerugian. Investor yakin bahwa jatuhnya Enron dikarenakan pembuatan
kontrak kesepakatan yang mengandung kecurangan, demikian pula harga saham
Enron. Hanya dalam waktu 1 tahun, saham Enron merosot dari nilai yang cukup
tinggi, sekitar $95 per lembar saham menjadi di bawah $1 per lembar saham.
Penurunan dalam ekuitas membuat Enron tidak mungkin menutup seluruh beban dan
liabilitasnya, dan perusahaan tersebut terpaksa menyatakan kebangkrutannya pada 2
Desember 2001. Enron telah jatuh dari perusahaan dengan total kekayaan aset senilai
hampir $62 miliar menjadi perusahaan yang hampir tidak ada harganya.
1. Apa pengendalian internal penting yang diabaikan ketika LJM 1 didirikan?

19

Pengendalian tata kelola LJM 1 begitu buruk yang menyebabkan kecurangan tidak
dapat terelakkan. Misalnya, laporan keuangan LJM 1 tidak dikonsolidasikan.
Selain itu, Fastow yang merupakan CEO Enron juga bertanggung jawa untuk
mengawasi kegiatan operasional di LJM 1.
2. Bagaimana mungkin Performance Review Committee Enron yang keras telah
membantu para eksekutif perusahaan dalam melakukan kecurangan ?
Karena PRC Enron ini menggunakan metode pengevaluasi yang keras yaitu rank
and yank. Dimana para pegawai akan dinilai berdasarkan peringkat dengan skala
1 sampai 5. Peringkat dengan kategori terendah (1) akan langsung diberhentikanyanked (dipecat) dari posisi mereka dan digantikan dengan pegawai baru. Para
pegawai dengan peringkat 2 atau 3 juga diberikan peringatan bahwa mereka
memiliki kecenderungan untuk diberhentikan pada masa yang akan datang. Hal ini
membuat para karyawan takut untuk mengeluarkan opini dan khawatir atas
ketakutan pemberian peringkat yang terlalu rendah oleh atasan mereka. Yang
berdampak mereka selalu mematuhi dan tidak pernah menantang atasan mereka.
Dalam kondisi ini justru memberikan kemudahan kepada para eksekutif
perusahaan dalam melakukan kecurangan , karena walaupun mereka berbuat
kecurangan sekalipun , karyawan perusahaan tidak akan berani untuk memprotes
dan hanya menerima semua keputusan atasan nya yaitu eksekutif perusahaan
dikarenakan system PRC yang ketat ini membuat mereka mudah dipecat jika
melawan aturan dari atasan.
3. Kasus kecurangan yang melanda Enron hanya salah satu dari banyak kecurangan
laporan keuangan skala besar yang telah terjadi dalam beberapa tahun belakangan
ini ( Qwest , Global Crossing , Worldcom , dan sebagainya ) Apa saja faktor yang
dapat menjelaskan mengapa pemalsuan laporan keuangan sangat sering terjadi ?
Sebutkan 4 faktor.

Tekanan = Tekanan yang diberikan oleh eksekutif untuk para manajernya,


mengakibatkan mereka untuk melakukan manipulasi angka yang menjadi
dasar untuk memperoleh kompensasi moneter yang besar.

Kesempatan = Para

eksekutif melebih-lebihkan nilai kontrak

yang

dihasilkan dari estimasi internal. Pada proyek perdagangan luarnegerinya


20

misal di India dan Brasil, para eksekutif membukukan laba yang


mencurigakan. Strategi yang salah, investasi yang buruk & pengen-dalian
keuangan yang lemah menimbulkan ketimpangan neraca yang sangat besar
dan harga saham yang dilebih-lebihkan.

Rasionalisasi = Pemalsuan laporan keuangan merupakan hal biasa yang


dilakukan oleh perusahan-perusahaan agar menunjukkan bahwa performa
kinerja nya baik sehingga berdampak pada harga sahamnya.

Independensi Auditor = Kantor Akuntan Publik (KAP) Arthur Andersen


merupakan salah satu The big six tidak hanya melakukan memanipulasi
laporan keuangan Enron tetapi juga telah melakukan tindakan yang tidak etis
dengan menghancurkan dokumen-dokumen penting yang berkaitan dengan
kasus Enron. Independen sebagai auditor terpengaruh dengan banyaknya
mantan pejabar dan senior KAP Arthur Andersen yang bekerja dalam
department akuntansi Enron.

1. Anggaplah Anda adalah seorang pemeriksa kecurnagan yang bersetifikasi, tetapi


senang melakukan investasi di pasar modal sebagai sumber penghasilan tambahan.
Dalam penelitian terkait saham Enron, Anda mengetahui bahwa meskipun
sahamnya memiliki sejarah pertumbuhan yang kuat dan memiliki masa depan yang
terlihat menjanjikan, laporan keuangan Enron tidak jelas, dan sebenarnya
membingungkan. Pada kenyataannya, Anda bahkan tidak dapat menjelaskan
bagaimana Enron menghasilkan uang. Dapatkah kurangnya kejelasan dalam
laporan keuangannya dijadikan sebagai indikator untuk memperingatkan Anda
akan kemungkinan terjadinya tindakan kecurangan di Enron? Mengapa ya atau
mengapa tidak?
Kita tidak bisa memberikan kepastian absolut bahwa dengan laporan keuangan
yang tidak jelas bisa menjadi indikator untuk memperingatkan adanya
kemungkinan terjadinya tindakan kecurangan di Enron. Tetapi, dengan laporan
keuangan yang tidak jelas, ada kemungkinan terjadinya kecurangan. Kita bisa
melakukan investigasi yang lebih dalam. Jika Enron tidak bisa membuktikan
bahwa dari mana mereka menghasilkan uang tersebut, maka bisa di katakan Enron
melakukan suatu kecurangan. Seperti asset misappropriation atau corruption.
Memanipulasi data dengan overstating revenues bisa dilakukan Enron untuk
mempertahankan appearance of sustainability mereka.
21

5. Bagaimana mungkin auditor, dalam kasus ini Arthur Andersen, telah melakukan
audit terhadap laporan keuangan Enron dan tidak menemukan adanya kecurangan?
Mungkinkah seorang auditor laporan keuangan menjalankan audit sesuai dengan
standar audit yang berlaku umum (generally accepted auditing standards-GAAS)
dan tidak menemukan adanya kecurangan besar dalam laporan keuangan?
Bagaimana audit yang dilakukan berdasarkan GAAS perlu diubah untuk menjamin
bahwa seluruh tindakan kecurangan dapat diantisipasi?
Meskipun laporan keuangan Enron terlah diaudit namun, KAP Arthur Andersen
tidak menemukan adanya kecurangan, karena KAP Arthur Andersen juga turut
terlibat dalam persekongkolan dengan pihak Enron untuk menyajikan laporan
keuangan yang tampak menarik namun pada kenyataannya tidak. Hal ini
menunjukkan kelemahan dalam independensi auditor, sebab ternyata banyak para
mantan petinggi dan senior di KAP Arthur Andersen yang bekerja di departemen
akuntansi Enron. Selain itu, besarnya consultant fee yang diperoleh KAP Arthur
Andersen menyebabkan KAP tersebut bersedia kompromi terhadap temuan
auditnya dalam Enron.
Seorang auditor mungkin saja sudah melakukan audit sesuai dengan GAAS tetapi
tetap tidak menemukan adanya fraud, karena bisa saja disebabkan oleh faktor lain
seperti, auditor tersebut memang tidak memiliki keahlian yang memadai,
kurangnya profesionalisme auditor, keterbatasan dalam memperoleh bukti-bukti
yang cukup dan sebagainya.
Jika melihat pada kasus Enron dan KAP Arthur Andersen, maka sebaiknya ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam audit berbasis GAAS:
Antara auditor dan audit client tidak boleh memiliki hubungan istimewa
KAP tidak boleh memberikan jasa non-audit terhadap audit clientnya

22