Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN
Fungsi kardiovaskular ialah menyampaikan O2 dan nutrien kepada sel-sel,
pembuangan metabolit dan CO2, perantara sel-sel dari sistem hormon imun dan
memelihara suhu badan. Sistem ini terdiri dari jantung, pembuluh darah, dan darah.
Sedangankan respirasi ialah pertukaran gas-gas antara organisme hidup dan
lingkungan sekitarnya.1 Pada manusia dikenal dua macam respirasi yaitu eksternal dan
internal. Respirasi eksternal ialah pertukaran gas-gas antara darah dan udara sekitarnya.
Pertukaran ini meliputi beberapa proses yaitu ventilasi, distribusi, difusi, dan perfusi.1
System sirkulasi terdiri dari tiga komponen dasar yaitu; Jantung berfungsi
sebagai pompa yang melakukan tekanan terhadap darah untuk menimbulkan gradient
tekanan yang diperlukan agar darah dapat mengalir ke jaringan. Darah, seperti cairan
lain, mengalir dari daerah bertekanan lebih tinggi ke daerah bertekanan lebih rendah
sesuai penurunan tekanan gradient tekanan. Pembuluh darah berfungsi sebagai
saluran untuk mengarahkan dan mendistribusikan darah dari jantung ke semua bagian
tubuh dan kemudian mengembalikanya ke jantung. Darah berfungsi sebagai medium
transportasi tempat bahan-bahan yang akan disalurkan dilarutkan atau diendapkan.2,4
Darah berjalan secara kontinu melalui system sirkulasi ke dan dari jantung
melalui dua lengkung vaskuler (pembuluh darah) tepisah, keduanya berawal dan
berakhir di jantung (lihat gambar). Sirkulasi paru terdiri dari lengkung tertutup
pembuluh-pembuluh yang mengangkut darah antara jantung dan paru, sedangkan
sirkulasi sistemik terdiri dari pembuluh-pembuluh yang mengangkut darah antara
jantung dan system organ.4
Paru-paru sebagai organ perfusi memiliki fungsi utama dalam menyediakan
pertukaran gas terus-menerus antara udara insprasi dan darah pada sirkulasi pulmoner,
memberikan pasokan oksigen dan pengeluaran karbondioksida, yang kemudian
dibersihkan dari paru melalui pernafasan selanjutnya. Keberlangsungan kehidupan
bergantung kepada proses ini menjadi mendasar, saling mendukung, dan efisien,
bahkan ketika dihadapkan pada penyakit atau kondisi lingkungan yang tidak
mendukung. Perkembangan lebih lanjut telah menghasilkan berbagai mekanisme
kompleks untuk mencapainya, dimana beberapa diantaranya berkompromi dengan
anetesi. Pemahaman yang baik akan fisiologi pernafasan menjadi esensial untuk
memastikan keselamatan pasien selama anestesi.2
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Histologi Jantung dan Paru 2,3,4
2.1.1 Anatomi Jantung
Jantung normal dibungkus oleh perikardium terletak pada mediastinum
medialis dan sebagian tertutup oleh jarinbgan paru. Bagian depan dibatasi oleh
sternum dan iga III,IV, dan .V Hampir dua pertiga bagian jantung terletak di
sebelah kiri garis media sternum. Apeks dapat diraba pada ruang sela iga IV V
dekat garis medio-klavikuler kiri. Batas kranial dibentuk oleh aorta asendens,
arteri pulmonal dan vena kava superior.2,3
Anatomi jantung dapat dibagi dalam 2 kategori, yaitu anatomi luar dan
anatomi dalam. Anatomi luar, atrium dipisahkan dari ventrikel oleh sulkus
koronarius yang mengelilingi jantung. Pada sulkus ini berjalan arteri koroner
kanan dan arteri sirkumfleks setelah dipercabangkan dari aorta. Bagian luar kedua
ventrikel dipisahkan oleh sulkus interventrikuler anterior di sebelah depan, yang
ditempati oleh arteri desendens anterior kiri, dan sulkus interventrikularis posterior
disebelah belakang, yang dilewati oleh arteri desendens posterior.2,3

Gambar 1: Anatomi Jantung


Anatomi dalam, jantung terdiri dari empat ruang yaitu atrium kanan dan kiri,
serta ventrikel kanan dan kiri dipisahkan oleh septum. Atrium kanan, darah vena
mengalir kedalam jantung melalui vena kava superior dan inferior masuk ke dalam
atrium kanan, yang tertampung selama fase sistol ventrikel.

Secara anatomis atrium kanan terletak agak ke depan dibanding dengan


ventrikel kanan atau atrium kiri. Pada bagian antero-superior atrium kanan
terdapat lekukan ruang atau kantung berbentuk daun telinga disebut aurikel.
Permukaan endokardium atrium kanan tidak sama; pada posterior dan septal licin
dan rata, tetapi daerah lateral dan aurikel permukaannya kasar dan tersusun dari
serabut serabut otot yang berjalan paralel yang disebut otot pektinatus.Tebal rata
rata dinding atrium kanan adalah 2 mm.2,3,4
Katup jantung terdiri atas 4 yaitu katup trikuspid yang memisahkan atrium
kanan dengan ventrikel kanan , katup mitral atau bikuspid yang memisahkan
antara atrium kiri dengan ventrikel kiri setra dua katup semilunar yaitu katup
pulmonal dan katup aorta. Katup pulmonal adalah katup yang memisahkan
ventrikel kanan dengan arteri pulmonalis. Katup aorta adalah katup yang
memisahkan ventrikel kiri dengan aorta.
Jantung dipersarafi oleh sistem saraf otonom yaitu saraf simpatis dan
parasimpatis. Serabut serabut saraf simpatis mempersarafi daerah atrium dan
ventrikel

termasuk

pembuluh

darah

koroner.Saraf

parasimpatis

terutam

memberikan persarafan pada nodus sinoatrial,atrioventrikular dan serabut


serabut otot atrium, dapat pula menyebar ke ventrikel kiri.
Persarafan simpatis eferen preganglionik berasal dari medulla spinalis
torakal atas, yaitu torakal III - IV, sebelum mencapai jantung akan melalui pleksus
kardialis kemudian berakhir pada ganglion servikalis superior, medial, atau
inferior. Serabut post ganglionik akan menjadi saraf kardialis untuk masuk ke
dalam jantung.Persarafan parasimpatis berasal dari pusat nervus vagus di medulla
oblongta; serabut serabutnya akan bergabung dengan serabut simpatis di dalam
pleksus kardialis.Rangsang simpatis akan dihantar oleh asetilkolin.
Pendarahan jantung, berasal dari aorta melalui dua pembuluh darah koroner
utama yaitu arteri koroner kanan dan kiri. Kedua arteri ini keluar dari sinus
valsalva aorta.Arteri koroner kiri bercabang menjadi ramus nodi sinoatrialis,
ramus sirkumfleks dan ramus interventrikularis anterior. Arteri koroner kanan
bercabang menjadi ramus nodi sinoatrialis,

ramus marginalis dan ramus

interventrikularis posterior.

Aliran balik dari otot jantung dan sekitarnya melalui vena koroner yang
berjalan berdampingan dengan arteri koroner, akan masuk ke dalam atrium kanan
melalui sinus koronarius.Selain itu terdapat juga vena vena kecil yang disebut
vena Thebesii, yang bermuara langsung ke dalam atrium kanan.
Pembuluh limfe pada jantung terdiri dari 3 kelompok pleksus yaitu
subendokardial, miokardial dan subepikardial. Penampunga cairan limfe dari
kelompok pleksus yang paling besar adalah pleksus subepikardial, dimana
pembuluh pembuluh limfe akan membentuk satu trunkus yang berjalan sejajar
dengan arteri koroner kemudian meninggalkan jantung di depan arteri pulmonal
dan berakhir pada kelenjar limfe antara vena kava superior dan arteri inominata.
2.1.2 Histologi jantung
Dinding jantung terdiri dari 3 lapisan yaitu endokardium, miokardium dan
epikardium. Endokardium, merupakan bagian dalam dari atrium dan ventrikel.
Endokarium homolog dengan tunika intima pada pembuluh darah. Endokardium
terdiri dari endotelium dan lapisan subendokardial. Endotelium pada endokardium
merupakan epitel selapis pipih dimana terdapat tight/occluding junction dan gap
junction. lapisan subendokardial terdiri dari jaringan ikat longgar. Di lapisan
subendokardial terdapat vena, saraf, dan sel purkinje.
Miokardium, terdiri dari otot polos. Miokardium pada ventrikel kiri lebih
tebal dibandingkan pada ventrikel kanan. Sel otot yang khusus pada atrium dapat
menghasilkan atriopeptin, ANF ( Atrial Natriuretic Factor), kardiodilatin dan
kardionatrin yang berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan
elektrolit. Miokardium terdiri dari 2 jenis serat otot yaitu serat kondukdi dan serat
kontraksi.
Serat konduksi pada jantung merupakan modifikasi dari serat otot jantung
dan menghasilkan impuls. Serat konduksi terdiri dari 2 nodus di dinding atrium
yaitu nodus SA dan AV, bundle of His

dan serat purkinje. Serat purkinje

merupakan percabangan dari nodus AV

dan terletak di subendokardial. Sel

purkinje mengandung sitoplasma yang besar, sedikit miofibril, kaya akan


mitokondria dan glikogen serta mempunyai 1 atau 2 nukleus yang terletak di
sentral.

Gambar. 2: Histologi Jantung, Otot Jantung


Serat kontraksi merupakan serat silindris yang panjang dan bercabang.
Setiap serat terdiri hanya 1 atau 2 nukleus di sentral. Serat kontraksi mirip dengan
otot lurik karena memiliki striae. Sarkoplasmanya mengandung banyak
mengandung mitokondria yang besar. Ikatan antara dua serat otot adalah melalui
fascia adherens, macula adherens ( desmosom), dan gap junctions.
Epikardium terdiri dari 3 lapisan yaitu perikardium viseral, lapisan
subepikardial dan perikardium parietal. Perikardium viseral terdiri dari
mesothelium ( epitel selapis pipih). Lapisan subepikardial terdiri dari jaringan ikat
longgar dengan pembuluh darah koroner, saraf serta ganglia. Perikardium parietal
terdiri dari mesotelium dan jaringan ikat.
2.1.3

Anatomi dan Histologi Paru

Secara anatomis sistem respirasi dibagi menjadi bagian atas (upper) terdiri
dari hidung, ruang hidung, sinus paranasalis dan faring yang berfungsi menyaring,
menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk ke saluran pernapasan dan
bagian bawah (lower) terdiri dari laring, trakea, bronki, bronkioli, dan alveoli.

Secara fisiologis sistem respirasi dibagi menjadi bagian konduksi dari ruang
hidung sampai bronkioli terminalis dan bagian respirasi terdiri dari bronkioli
respiratorius sampai alveoli. Paru kanan terdiri dari tiga lobi (atas, tengah dan
bawah) dan paru kiri dua lobi (atas dan bawah).
A. Saluran Nafas Bagian Atas
a. Hidung

Gambar 3. Anatomi saluran pernapsaan atas


Hidung atau naso adalah saluran pernafasan yang pertama.Ketika proses
pernafasan berlangsung, udara yang diinspirasi melalui rongga hidung akan
menjalani tiga proses yaitu: penyaringan (filtrasi), penghangatan, dan
pelembaban. Hidung terdiri atas bagian- bagian sebagai berikut:
-

Bagian luar dinding terdiri dari kulit.

Lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan.

Lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat


yang dinamakan karang hidung (konka nasalis), yang berjumlah 3 buah
yaitu: konka nasalis inferior, konka nasalis media, dan konka nasalis
superior.

Diantara konka nasalis terdapat 3 buah lekukan meatus, yaitu: meatus


superior, meatus inferior dan meatus media. Meatus-meatus ini yang
dilewati oleh udara pernafasan, sebelah dalam terdapat lubang yang
berhubungan dengan tekak yang disebut koana.

Dasar rongga hidung dibentuk oleh rahang atas ke atas rongga hidung
berhubungan dengan rongga yang disebut sinus paranasalis,yaitu: sinus
maksilaris pada rahang atas, sinus frontalis pada tulang dahi, sinus
sfenoidalis pada rongga tulang baji, dan sinus etmoidalis pada rongga
tulang tapis.
6

Pada sinus etmoidalis keluar ujung-ujung saraf penciuman yang menuju


ke konka nasalis . Pada konka nasalis terdapat sel-sel penciuman, sel
tersebut terutama terdapat pada di bagian atas. Pada hidung di bagian
mukosa terdapat serabut saraf atau reseptor dari saraf penciuman
( nervus olfaktorius).

Di sebelah konka bagian kiri kanan dan sebelah atas dari langit-langit
terdapat satu lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak
dengan rongga pendengaran tengah. Saluran ini disebut tuba auditiva
eustachi yang menghubungkan telinga tengah dengan faring dan laring.
Hidung juga berhubungan dengan saluran air mata atau tuba lakrimalis.

Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak


mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung. Lendir di sekresi
secara terus-menerus oleh sel-sel goblet yang melapisi permukaan
mukosa hidung dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan
silia.3
Sewaktu udara masuk melalui hidung udara disaring oleh bulu-bulu

yang terdapat didalam vestibulum, dan karena kontak dengan permukaan lendir
yang dilaluinya maka udara menjadi hangat, dan oleh penguapan air dari
permukaan selaput lendir menjadi lembab.4Bakteri dan partikel dari polusi
udara terperangkap oleh mukus; silia secara berkesinambungan mendorong
mukus menuju faring. Kebanyakan mukus ini akan ditelan, dan bakteri yang
ada akan dihancurkan oleh asam HCl dalam getah lambung.5
Di dalam kavitas nasalis bagian atas terdapat reseptor olfaktorius, yang
mendeteksi uap kimiawi yang diinhalasi. Nervus olfaktorius melewati tulang
etmoidalis menuju otak.5
Sinus paranasalis adalah rongga udara yang terdapat dalam os
maksilaris, frontalis, sfenoidalis, dan etmoidalis. Sinus ini dilatasi oleh epitel
bersilia, dan mukus yang diproduksi akan dialirkan menuju kavitas nasalis.
Fungsi sinus paranasalis adalah meringankan tengkorak dan menciptakan
resonansi untuk suara.5
b. Faring
Merupakan pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai
persambungannya

dengan

oesofagus

pada

ketinggian

tulang

rawan

krikoid.Faring adalah suatu pipa muskular di belakang rongga hidung dan


mulut, di depan vertebra servikalis dan tersusun dari otot rangka.Saluran
sepanjang 12,5-13 cm yang terletak antara choanae sampai sebelah belakang
laring. Pada Nasofaring (terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius).3
- Nasofaring terletak tepat di belakang cavum nasi , di bawah basis crania
dan di depan vertebrae cervicalis I dan II. Nasofaring membuka bagian
depan ke dalam cavum nasi dan ke bawah ke dalam orofaring. Tuba
eusthacius membuka ke dalam didinding lateralnya pada setiap sisi.
Pharyngeal tonsil (tonsil nasofaring) adalah bantalan jaringan limfe pada
dinding posteriosuperior nasofaring.4 Palatum molle terangkat pada saat
menelan untuk menutup nasofaring dan mencegah makanan atau saliva
naik, bukan turun. Uvula adalah bagian palatum molle yang dapat dilihat
pada bagian belakang tenggorokan. Pada dinding posterior nasofaring,
terdapat adenoid atau tosila faringealis, suatu noduli limfoidei yang berisi
makrofag. Dua lubang yang masuk ke nasofaring adalah tuba auditiva
eustachii, yang membentang sampai rongga telinga tengah. Kegunaan tuba
ini adalah memungkin udara masuk atau keluar telinga tengah, sehingga
gendang telinga bervibrasi dengan baik.5 Nasofaring terletak diantara
choanae sampai langit-langit lunak (palatum molle). Diselaputi epitel
-

berlapis semu bersilia.6


Orofaring
Merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring, terdapat di pangkal
lidah. Orofaring adalah gabungan sistem respirasi dan pencernaan,
makanan masuk dari mulut dan udara masuk dari nasofaring dan paru.4
Orofaring berada di belakang mulut; mukosanya berupa epitel gepeng
bertingkat, merupakan kelanjutan rongga mulut. Pada dinding lateralnya
terdapat tonsila palatina, juga noduli limfoidei. Bersama adenoid dan
lingual pada dasar lidah, noduli tersebut membentuk cincin jaringan
limfatik yang mengelilingi faring untuk menghancurkan patogen yang
penetrasi ke mukosa.5 Orofaring terletak di rongga mulut, di antara palatum

molle sampai tulang hyoid. Diselaputi epitel berlapis pipih.2


Laringofaring
Laringofaring merupakan bagian paling bawah faring, yang terletak
diantara tulang hyoid sampai belakang laring, dan dengan ujung atas
esofagus (anterior).6 Di sini terjadi persilangan antara aliran udara dan

aliran makanan.4 Kontraksi dinding muskuler orofaring dan laringofaring


adalah bagian dalam refleks menelan.5
c. Laring5
-

Saluran udara dan bertindak sebagai pembentuk suara. Pada bagian pangkal
ditutup oleh sebuah lempang tenggorokan yang disebut epiglottis, yang terdiri
dari tulang-tulang rawan yang berfungsi ketika menelan makanan dengan
menutup laring.

Laring biasanya juga disebut kotak suara, suatu istilah yang mengacu pada
salah satu fungsinya, yaitu berbicara. Fungsi lain laring adalah sebagai jalan
udara antara faring dan trakea. Jalur udara harus dijaga terbuka setiap waktu,
laring tersusun atas 9 lempeng kartilago yang dihubungkan oleh ligamen.
Kartilago adalah suatu jaringan lentur yang mencegah kolaps laring. Sebagai
pembanding, esofagus adalah pipa yang kolaps, kecuali ketika makanan

melewatinya.
Kartilago terbesar pada laring adalah kartilago tiroideus yang dapat diraba pada
permukaan luar leher. Epiglotis adalah kartilago yang paling atas. Pada saat
menelan, laring terangkat, dan epiglotis menutup di bagian puncak untuk

mencegah makanan masuk ke dalam laring.


Mukosa laring adalah epitel bersilia, kecuali untuk plika vokalis (epitel gepeng
bertingkat). Silia mukosa mendorong ke atas untuk membuang mukus dan

menangkap debu dan mikroorganisme.


Plika vokalis (pita suara) berada di kedua sisi glotis, yang terbuka di antaranya.
Selama bernapas, pita suara berada di sisi glotis, sehingga udara melintas
secara bebas menuju dan keluar dari trakea. Selama berbicara, otot-otot
intrinsik laring menarik pita suara melewati glotis, dan hembusan udara
menggetarkan pita suara untuk menghasilkan suara yang bisa diubah menjadi
pembicaraan. Secara fisik mungkin kita dapat berbicara bersamaan dengan
menghirup udara, tapi ini tidak kita lakukan. Nervus kranialis yang merupakan
nervus motorik pada laring untuk fungsi bicara adalah nervus vagus dan nervus

aksesorius.5
Ada dua lipatan pada membran mukosa laring, yaitu:7
- Lipatan sebelah bawah
Disebut juga pita suara (vocal vold) : terdapat serat-serat elastis yang
dihubungkan dengan otot-otot laring dan tulang rawan.
- Lipatan sebelah atas

Disebut juga pita suara palsu (ventricular vold) yang dapat merapat untuk
menahan nafas misalnya sewaktu mengedan.Suara yang terbentuk di laringakan
beresonansi dengan udara yang berada di sinus-sinus hidung, mulut, faring
sehingga terbentuk suara.7
-

9 tulang rawan/cartilage yang mengelilingi laring:4,7


1) Satu tulang rawan epiglottis (cartilago epiglottis), terletak di puncak
laring berbentuk daun.
2) Satu tulang rawan thyroid (cartilago thyroidea), berbentuk seperti perisai
yang terletak di sebelah anterior laring
3) Satu tulang rawan cricoids (cartilago cricoidea), yang membatasi bagian
bawah, laring berbentuk cincin.
4) Dua tulang rawan arytenoids (cartilago arytenoidea), terletak diatas
cricoid.
5) Dua tulang rawan cuneiformis, terletak diantara epigottis dan arytenoid.
6) Dua tulang rawan corniculatum, berbentuk agak lancip dan terletak diatas
arytenoid.

Gambar 4. Anatomi laring

2. Saluran Nafas Bagian Bawah

10

a.

Trachea (Batang Tenggorok)


Merupakan tabung fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan lebar 2,5
cm, menghubungkan laring sampai bronkus primarius.Trachea berjalan dari
cartilago cricoidea kebawah pada bagian depan leher dan dibelakang
manubrium sterni, berakhir setinggi angulus sternalis (taut manubrium dengan
corpus sterni) atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan
di tempat ini bercabang menjadi dua bronkus (bronchi).4

Trachea tersusun atas 16 - 20 lingkaran tak-lengkap yang berupa cincin tulang


rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi
lingkaran disebelah belakang trachea, selain itu juga membuat beberapa
jaringan otot.4

Celah pada cincin kartilago pada trakea yang tidak bisa menutup secara penuh
ini berada di sisi posterior, sehingga memungkinkan ekspansi esofagus ketika
makanan ditelan.5

Terletak pada garis sagital (tengah) tubuh di bawah laring sampai vertebrae
Th5, berada di depan oesophagus.

Pada Th5 trachea bercabang dua menjadi bronchus primer kanan dan kiri.4

Dari dalam ke luar terdiri dari:7


1) Tunica mukosa
Terdiri dari epitel berlapis semu bersilia dengan sel goblet
2) Tunica sub mucosa
Terdiri dari jaringan ikat, mengandung kelenjar-kelenjar serumukosa.
3) Tunica tulang rawan
Terdiri dari 18 tulang rawan berbentuk huruf C.
4) Tunica adventitia
Terdiri dari jaringan ikat

11

b.

Bronchus
Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira
vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan
dilapisi oleh jenis sel yang sama.3

Bronchus-bronchus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah paru.


Bronchus primer kanan lebih pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal
daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi dari arteri pulmonalis dan
mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri, disebut bronchus
lobus bawah.

Bronchus primer kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan
berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelum di belah menjadi beberapa
cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah.3

Bronchus primer kiri bercabang menjadi 2 bronchus lobaris (bronchus


sekunder), bronchus kanan bercabang menjadi 3 bronchus lobaris. Sesuai
dengan jumlah lobus paru-paru kiri-2 lobus dan paru-paru kanan-3 lobus.7

Cabang utama bronchusprimerkanan dan kiri bercabang lagi menjadi


bronchus lobaris dan kemudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini
berjalan terus menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecil, sampai
akhirnya menjadi bronchiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang
tidak mengandung alveoli (kantong udara).

Diameter cabang-cabangnya ialah bronkus utama (primary) 13 mm,


bronkus lobaris 7-5 mm, bronkus segmentalis 4-3 mm, bronkus kecil 1mm,
bronkiolus respiratorius 0,5 mm, duktus alveolaris 0,3 mm dan sakkus
alveolaris 0,3 mm. Trakea terdiri dari sel-sel bersilia dan sel-sel yang dapat
mensekresi lendir. Setiap sel memiliki 200 silia yang selalu bergerak 1220x/menitnya mendorong lendir faring dengan kecepatan 0,5-1,5 cm/menit.1

Bronchiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih 1 mm. Bronchiolus


tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos
sehingga ukurannya dapat berubah.

Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronchiolus terminalis disebut


saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar
udara ke tempat pertukaran gas paru-paru yaitu alveolus.3

12

Gambar 5. Anatomi bronkus


c.

Paru-Paru3

Gambar 6. Anatomi par dan alveoli

Merupakan sepasang organ yang terletak di rongga dada. Dalam keadaan


normal paru-paru mengandung udara dan berbentuk kerucut.

Merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri atas gelembunggelembung kecil (alveoli). Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari
trachea sampai sakus alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang
dinamakan pori-pori kohn.3

Paru-paru dibagi menjadi dua bagian, yaitu paru-paru kanan yang terdiri dari
3 lobus (lobus pulmo dekstra superior, lobus pulmo dekstra media, lobus
pulmo dekstra inferior) dan paru-paru kiri yang terdiri dari 2 lobus (lobus
pulmo sinistra superior dan lobus pulmo sinistra inferior).3

Tiap-tiap lobus terdiri dari belahan yang lebih kecil yang bernama segmen.
Paru-paru kiri memiliki 10 segmen yaitu 5 buah segmen pada lobus superior
dan lima lobus inferior. Paru-paru kiri juga memiliki 10 segmen, yaitu 5 buah
segmen pada lobus superior, 2 buah segmen pada lobus medialis, dan 3
segmen pada lobus inferior. Tiap-tiap segmen masih terbagi lagi menjadi
belahan-belahan yang bernama lobulus.
13

Letak paru-paru di rongga dada datarnya menghadap ke tengah rongga dada /


kavum mediastinum. Pada bagian tengah terdapat tampuk/celah paru-paru
atau hilus. Melalui hilus, keluar masuk bronchus, syaraf, pembuluh darah dan
lymph.Pada mediastinum depan terletak jantung.

Dipisahkan oleh rongga disebut mediastinum. Di dalam mediastinum


terdapat trachea, thymus, oesophagus, jantung, pembuluh darah besar,
pembuluh lymph, dan syaraf.

Paru-paru dibungkus oleh selapis tipis yang bernama pleura. Pleura dibagi
menjadi dua yaitu pleura visceral ( selaput dada pembungkus) yaitu selaput
paru yang langsung membungkus paru-paru dan pleura parietal yaitu selaput
yang melapisi rongga dada sebelah luar. Antara kedua lapisan ini terdapat
rongga kavum yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal, kavum
pleura ini vakum/hampa udara.

Suplai Darah3
Setiap arteria pulmonalis, membawa darah deoksigenasi dari ventrikel
kanan jantung, memecah bersama dengan setiap bronkus menjadi cabangcabang untuk lobus, segmen dan lobulus.Cabang-cabang terminal berakhir
dalam sebuah jaringan kapiler pada permukaan setiap alveolus.Jaringan
kapiler ini mengalir ke dalam vena yang secara progresif makin besar, yang
akhirnya membentuk vena pulmonalis, dua pada setiap sisi, yang dilalui oleh
darah yang teroksigenasi ke dalam atrium kiri jantung.Arteria bronchiale
yang lebih kecil dari aorta menyuplai jaringan paru dengan darah yang
teoksigenasi.3 Arteri bronkus yang jauh lebih kecil dan terpisah berasal dari
arteri sistemik.Arteri-arteri ini membentuk kapiler, yang mengalirkan darah
ke dalam vena bronkus atau beranastomosis dengan kapiler atau vena
paru.Vena bronkus bermuara ke dalam vena azygos.Peredaran darah bronkus
berfungsi memberi nutrisi pada bronkus dan pleura. Saluran limfe lebih
banyak dijumpai di paru dibandingkan di organ lain.

14

d. Alveoli

Unit fungsional paru-paru adalah suatu kantung udara yang disebut alveoli.
Suatu sel pipih alveolar tipe I yang menyusun dinding alveoli adalah selapis
epitel gepeng. Dalam ruang di antara sebaran alveoli terdapat jaringan ikat
elastic, yang penting untuk ekshalasi. Dalam alveoli terdapat makrofag yang
memfagosit pathogen atau benda lain yang mungkin tidak tersapu keluar
oleh epitel bersilia dalam pohon bronkial. Ada berjuta-juta alveoli dalam
masing-masing paru, dan masing-masing alveolus dikelilingi oleh suatu
jalinan kapiler pulmonal. Ingat bahwa kapiler juga tersusun atas selapis
epitel gepeng, sehingga hanya ada dua lapis sel antara udara dalam alveoli
dan darah dalam kapiler pulmonal, yang memungkinkan difusi gas secara

efisien.
Masing-masing alveolus dilapisi lapisan tipis cairan jaringan, yang sangat
penting untuk difusi gas, karena suatu gas harus melarut dalam cairan agar
dapat memasuki atau meninggalkan sel (prinsip cacing tanahseekor cacing
tanah bernapas melalui kulit yang lembap, dan akan mati lemas jika kulitnya
mengering). Meskipun cairan jaringan ini dibutuhkan, cairan ini tetap saja
menjadi suatu kemungkinan masalah jika membuat dinding-dinding alveolus
saling melekat secara internal. Bayangkan sebuah tas plastik yang basah
pada sisi dalamnya; sisi ini akan saling melekat secara internal karena ada
tegangan permukaan air. Inilah yang terjadi dalam alveoli dan inflasi akan
menjadi sangat sulit.

Masalah ini diatasi oleh surfaktan pulmonalis, suatu lipoprotein yang


diseksresi oleh sel alveolar tipe II, juga disebut sel septal. Surfaktan
bercampur dengan cairan jaringan dalam alveoli dan menurunkan tegangan

15

permukaannya,

sehingga

memungkinkan

pengembangan

alveoli.

Pengembangan alveoli yang normal akan memungkinkan pertukaran gas.5

Dinding alveoli dandinding kapilersangat dekat membentuk membran


alveoli-kapiler(membran respirasi). Membran ini memungkinkan terjadinya
pertukaran gas antara udara alveoli dengan darah pada kapiler paru-paru.8

3. Otot-otot pernafasan

Otot inspirasi utama:


- Otot Diafragma
- M.intercostalis externus iga terangkat, sternum tertarik keluar, diameter
anteroposterior rongga dada membesar

Otot inspirasi tambahan:


- M.Scalenus mengangkat dua iga pertama
- M. Sternocleidomastoideus mengangkat sternum ke atas
- M. Serratus anterior mengangkat sebagian besar iga

Otot ekspirasi:
- M. intercostalis internus menarik rongga dada ke bawah.
- M. Rectus abdominalis menarik iga ke bawah dan meningkatkan tekanan
intraabdomen sehingga mendorong diafragma ke atas.7,8

2.2 Fisiologi jantung 3,4,5


2.2.1 Kontraksi jantung

16

Kontraksi otot jantung untuk mendorong darah dicetuskan oleh


potensial aksi yang menyebar melalui membran sel otot. Jantung berkontraksi
atau berdenyut secara berirama akibat potensial aksi yang ditimbulkan sendiri,
suatu sifat yang dikenal dengan otoritmisitas. Terdapat dua jenis khusus sel otot
jantung yaitu 99% sel otot jantung kontraktil yang melakukan kerja mekanis,
yaitu memompa. Sel sel pekerja ini dalam keadaan normal tidak menghasilkan
sendiri potensial aksi. Sebaliknya, sebagian kecil sel sisanya adalah, sel
otoritmik, tidak berkontraksi tetapi mengkhususkan diri mencetuskan dan
menghantarkan potensial aksi yang bertanggungjawab untuk kontraksi sel sel
pekerja.
Kontraksi otot jantung dimulai dengan adanya aksi potensial pada sel
otoritmik. Penyebab pergeseran potensial membran ke ambang masih belum
diketahui. Secara umum diperkirakan bahwa hal itu terjadi karena penurunan
siklis fluks pasif K+ keluar yang langsung bersamaan dengan kebocoran lambat
Na+ ke dalam. Di sel sel otoritmik jantung, antara potensial potensial aksi
permeabilitas K+ tidak menetap seperti di sel saraf dan sel otot rangka.
Permeabilitas membran terhadap K+ menurun antara potensial potensial aksi,
karena saluran K+ diinaktifkan, yang mengurangi aliran keluar ion kalium positif
mengikuti penurunan gradien konsentrasi mereka.Karena influks pasif Na+
dalam jumlah kecil tidak berubah, bagian dalam secara bertahap mengalami
depolarisasi dan bergeser ke arah ambang.Setelah ambang tercapai, terjadi fase
naik dari potensial aksi sebagai respon terhadap pengaktifan saluran Ca2+ dan
influks Ca2+ kemudian; fase ini berbeda dari otot rangka, dengan influks Na+
bukan Ca2+ yang mengubah potensial aksi ke arah positif. Fase turun disebabkan
seperti biasanya, oleh efluks K+ yang terjadi karena terjadi peningkatan
permeabilitas K+ akibat pengaktifan saluran K+.Setelah potensial aksi usai,
inaktivasi saluran saluran K+ ini akan mengawali depolarisasi berikutnya. Sel
sel jantung yang mampu mengalami otortmisitas ditemukan pada nodus SA,
nodus AV, berkas His dan serat purkinje.

Kecepatan normal pembentukan potensial aksi di jaringan otoritmik jantung


Jaringan
Potensial aksi per menit
Nodus SA ( pemicu normal)
70 80

17

Nodus AV
Berkas His dan serat serat purkinje

40 60
20 - 40

Sebuah potensial aksi yang dimulai di nodus SA pertama kali akan


menyebar ke atrium melalui jalur antar atrium dan jalur antar nodus lalu ke nodus AV.
Karena konduksi nodus AV lambat maka terjadi perlambatan sekitar 0,1 detik sebelum
eksitasi menyebar ke ventrikel. Dari nodus AV, potensial aksi akan diteruskan ke
berkas His sebelah kiri lalu kanan dan terakhir adalah ke sel purkinje.

Gambar 8. Sistem konduksi jantung


Potensial aksi yang timbulkan di nodus SA akan menghasilkan gelombang
depolarisasi yang akan menyebar ke sel kontraktil melalui gap junction.
Kontraksi otot jantung dilihat dari segi biokimia, otot terdiri dari aktin, miosin,
dan tropomiosin. Aktin, G aktin monomerik menyusun protein otot sebanyak 25 %
berdasarkan beratnya. Pada kekuatan ion fisiologik dan dengan adanya ion Mg2+ akan
membentuk F aktin. Miosin, turut menyusun 55 % protein otot berdasarkan berat dan
bentuk filamen tebal. Miosin merupakan heksamer asimetrik yang terdiri 1 pasang
rantai berat dan 2 pasang rantai ringan. Troponin ada 3 jenis yaitu troponin T yang
terikat pada tropomiosin, troponin I yang menghambat interaksi F aktin miosin dan
troponin C yang mengikat kalsium.
Mekanisme kontraksi otot, adanya eksitasi pada miosit akan menyebabkan
peningkatan kadar Ca2+ di intraseluler.Eksitasi akan menyebabkan Ca2+ msk dari
ECM ke intrasel melalui L type channels lalu Ca2+ tersebut akan berikatan dengan
reseptor ryanodin- sensitive reseptor di Sarkoplasmik retikulum dan akan dihasilkan
lebih banyak lagi Ca 2+ ( CICR = Ca2+ induced Ca2+ release). Kalsium yang masuk
akan berikatan dengan troponin C

dan dengan adanya energi dari ATP akan


18

menyebabkan kepala miosin lepas dari aktin dan dengan ATP berikutnya akan
menyebabkan terdorongnya aktin ke bagian dalam ( M line ). Proses ini terjadi
berulang ulang dan akhirnya terjadi kontraksi otot.
Sumber ATP untuk kontraksi berasal dari anaerob glikolisis, glikogenolisis,
kreatin fosfat, dan fosforilasi oksidatif. SumberATP pertama sekali adalah cadangan
ATP, setelah itu menggunakan kreatin fosfat diikuti dengan glikolisis anaerob, lalu
glikolisis aerob dan akhirnya lipolisis.
2.2.2 Siklus jantung
Siklus jantung adalah periode dimulainya satu denyutan jantung dan awal dari
denyutan selanjutnya. Siklus jantung terdiri dari periode sistol dan diastol. Sistol
adalah periode kontraksi dari ventrikel, dimana darah akan dikeluarkan dari jantung.
Diastol adalah periode relaksasi dari ventrikel, dimana terjadi pengisian darah.
Diastol dapat dibagi menjadi dua proses yaitu relaksasi isovolumetrik dan
ventricular filling. Pada relaksasi

isovolumetrik

terjadi ventrikel yang mulai

relaksaasi, katup semilunar dan katup atrioventrikularis tertutup dan volume ventrikel
tetap tidak berubah. Pada ventricular filling dimana tekanan dari atrium lebih tinggi
dari tekanan di ventrikel, katup mitral dan katup trikuspid akan terbuka sehingga
ventrikel akan terisi 80% dan akan mencapai 100 % jika atrium berkontraksi. Volume
total yang masuk ke dalam diastol disebut End Diastolic Volume .
Sistolik dapat dibagi menjadi dua proses yaitu kontraksi isovolumetrik dan
ejeksi ventrikel. Pada kontraksi isovolumetrik, kontraksi sudah dimulai tetapi katup
katup tetap tertutup. Tekanan juga telah dihasilkan tetapi tidak dijumpai adanya
pemendekan dari otot. Pada ejeksi ventrikel , tekanan dalam ventrikel lebih tinggi
dibandingkan dengan tekanan pada aorta dan pulmoner sehingga katup aorta dan katup
pulmoner terbuka dan akhirnya darah akan dipompa ke seluruh tubuh. Pada saat ini
terjadi pemendekan dari otot. Sisa darah yang terdapat di ventrikel disebut End
Systolic Volume.
Dua bunyi jantung utama dalam keadaan normal dapat didengar dengan
stetoskop selama siklus jantung.Bunyi jantung pertama bernada rendah, lunak, dan
relatif lama-sering dikatakan terdengar seperti lub. Bunyi jantung kedua memiliki
nada yang lebih tinggi, lebih singkat dan tajam- sering dikatakan dengan terdengar
seperti dup. Bunyi jantung pertama berkaitan dengan penutupan katup AV ,
19

sedangkan bunyi katup kedua berkaitan dengan penutupan katup semilunar.


Pembukaan tidak menimbulkan bunyi apapun. Bunyi timbul karena getaran yang
terjadi di dinding ventrikel dan arteri arteri besar ketika katup menutup, bukan oleh
derik penutupan katup. Karena penutupan katup AV terjadi pada awal kontraksi
ventrikel ketika tekanan ventrikel pertama kali melebihi tekanan atrium, bunyi jantung
pertama menandakan awitan sistol ventrikel.Penutupan katup semilunaris terjadi pada
awal relaksasi ventrikel ketika tekanan ventrikel kiri dan kanan turun di bawah tekanan
aorta dan arteri pulmonalis. Dengan demikian bunyi jantung kedua menandakan
permulaan diastol ventrikel.
2.2.3 Denyut jantung dan Tekanan darah
Kecepatan denyut jantung terutama ditentukan oleh pengaruh otonom pada
nodus SA. Nodus SA dalam keadaan normal adalah pemacu jantung karena memiliki
kecepatan depolarisasi paling tinggi. Penurunan gradual potensial membran secara
otomatis antara denyutan secara umum dianggap disebabkan oleh penurunan
permeabilitas terhadap K+. Jantung dipersarafi oleh kedua divisi sistem saraf otonom,
yang dapat memodifikasi kecepatan kontraksi, walaupun untuk memulai kontraksi
tidak memerlukan stimulai saraf. Saraf parasimpatis ke jantung adalah saraf vagus
terutama mempersarafi atrium, terutama nodus SA dan AV, sedangkan persarafan ke
ventrikel tidak signifikan.
Tekanan darah adalah tekanan yang diberikan oleh darah setiap satuan luas
pada pembuluh darah. Tekanan darah terdiri atas tekanan sistol dan diastol (telah
dijabarkan diatas tentang sistol dan diastol). Tekanan dipengaruhi oleh curah jantung
dengan resistensi perifer.Curah jantung adalah volume darah yang dipompa oleh tiap
tiap ventrikel per menit. Dua faktor penentu curah jantung adalah kecepatan denyut
jantung dan volume sekuncup. Volume sekuncup adalah volume darah yang dipompa
per denyut. Peningkatan volume diastolik akhir akan menyebabkan peningkatan
volume sekuncup. Hal ini disebabkan oleh semakin besar pengisian saat diastol,
semakin besar volume diastolik akhir dan jantung akan semakin teregang.Semakin
teregang

jantung,

semakin

meningkat

panjang

serat

otot

awal

sebelum

kontraksi.Peningkatan panjang menghasilkan gaya yang lebih kuat pada kontraksi


jantung berikutnya dan dengan demikian dihasilkan volume sekuncup yang lebih
besar.Hubungan intrinsik antara volume diastolik akhir dan volume sekuncup ini
dikenal sebagai hukum Frank Starling pada jantung
20

2.2.4 Sirkulasi jantung


Sirkulasi darah ditubuh ada dua yaitu sirkulasi paru dan sirkulasi sistemis.
Sirkulasi paru dimulai dari ventrikel kanan ke arteri pulmonalis, arteri besar dan kecil,
kapiler lalu masuk ke paru, setelah dari paru keluar melalui vena kecil, vena
pulmonalis dan akhirnya kembali ke atrium kiri. Sirkulasi ini mempunyai tekanan yang
rendah kira kira 15 20 mmHg pada arteri pulmonalis. Sirkulasi sistemik dimulai
dari ventrikel kiri ke aorta lalu arteri besar, arteri kecil, arteriol lalu ke seluruh tubuh
lalu ke venule, vena kecil, vena besar, vena cava inferior, vena cava superior akhirnya
kembali ke atrium kanan.
2.3 PEMBULUH DARAH 5

2.3.1 sistem arteri


Terdiri dari lapisan :

Tunica intima

a) Endotel = epitel squamosa sederhana yang melapisi arteri, jantung, klep, dan
valvula. Fungsinya permeabilitas, transpor, sintesis, dan sekresi ace
b) Jaringan ikat subendotel
c) Lamina elastica nterna = berfungsi komunikasi antar sel

Tunica media = terdiri dari sel otot polos, sel elastin, dan serabut jaringan ikat

Tunica adventitia = terdiri dari sel, serabut jaringan ikat, tempat melekatnya
pembuluh darah ke struktur sekitarnya, syaraf, pembuluh darah kecil, serta
limfe

Pada saat keluar dari jantung, darah mempunyai tekanan yang tinggi
arteri mempunyai dinding yang tebal, berotot dan agak elastic makin jauh dari jantung,
arteri besar menjadi lebih berotot, dan jumlah jaringan elastis berkurang arteri akan
bercabang-cabang menjadi lebih kecil dan lebih banyak, arteri yang terkecil disebut
arteriol kapiler merupakan perpanjangan dari tunika intima arteriol, menghubungkan

21

arteriol dan venul > menjembatani penyediaan darah ke jaringan dan pengembalian
darah ke jantung
Sistem vena:
Dibandingkan dengan arteri: diameter lebih besar, dinding lebih tipis, lebih lunak dan
relatif tidak berotot tekanan aliran darah balik ke jantung lebih rendah
vena yang terkecil disebut venul vena dan venul mempunyai katup-katup untuk
mencegah aliran balik dari darah Vena: pembuluh darah yang membawa darah ke
jantung Arteri: pembuluh darah yang membawa darah dari jantung Mikrosirkulasi:
sirkulasi darah melalui pembuluh darah yang paling kecil > diperlukan untuk
kehidupan jaringan

Mikrosirkulasi :
berfungsi untuk menyediakan O2 dan nutrisi untuk jaringan dan mengeluarkan CO2
dan zat-zat sisa terdiri dari arteriol, kapiler dan venul aliran darah melalui kapiler
menyediakan pertukaran gas dan nutrisi antara darah dan jaringan > aliran nutrisi
darah yang tidak melalui kapiler > aliran nonnutrisi atau shunt
Otot polos arteriol dapat berkontraksi > dapat menyempit > menimbulkan tahanan
terhadap aliran darah > mengatur jumlah darah yang melalui mikrosirkulasi ke
jaringan O2 berdifusi ke jaringan dan CO2 masuk ke kapiler karena perbedaan tekanan
Aliran nutrisi dan zat-zat sisa dalam melintasi dinding pembuluh darah > karena
perbedaan tekanan
Aliran darah diatur oleh: pusat vasomotor di otak berhubungan dengan sel otot polos
arteriol zat-zat metabolit lokal, katekolamin, norepinefrin, perubahan pH, perubahan
tekanan oksigen, beberapa obat-obatan.
2.3.2. Sirkulasi Darah Aorta
22

1. Aorta asendens : muncul pada basis ventrikel sinistra berjalan ke atasa dan
depan, panjangnya kira-kira 5cm, mempunyai dua cabang yaitu arteri koronia
dekstra dan arteri koronia sinstra.
a. Arteri koronia dekstra : berasal dari sinus anterior memberikan darah untuk
jantung kanan, memperdarahi sel otot miokardium.
b. Arteri koronia sinistra : memberikan darah untuk jantung kiri berasal dari
sinus posterior aorta untuk memperdarahi otot lapisan jantung miokardium.
2. Arkus aorta : merupakan lanjutan aorta asendens melengkung kea rah kiri,
terletak di belakang manubrium sterni berjalan ke atas, ke belakang dank ke
kiri trakea sedikit turun ke bawah sampai vertebra torokalis keempat. Arkus
aorta mempnyai cabang-cabang sebagai berikut :
a. Arteri brakhiosepalika (arteri anonima) : merupakan arteri terbesar setelah
aorta, mempunyai cabang.
1. Arteri korotis komunis dekstra, memberikan darah untuk kepala,
2. Arteri subklavia dekstra memberikan darah untuk anggota gerak atas
bagian kanan.
b. Arteri subklavia sinistra: memberikan darah untuk kepala.
c. Arteri karotis komunis sinistra: memberikan darah untuk anggota gerak atas
bagian kiri.
3. Aorta desendens: merupakan lanjutan dari arkus aorta menurun mulai dari
vertebrata torakalis IV.

Setelah itu berjalan di sebelah kiri korpus vertebra

setinggi angulus sterni, kemudian berlanjut pada mediastinum posterior sampai


vertebrae XII melewati hiatus aortikus diafragma berlanjut sampai vertebra
lumbalis IV kemudian bercabang dua menjadi aorta torakalis dan aorta
abdominalis.
a. Aorta torakalis: merupakan lanjutan dari arkus aorta, menurun mulai dari
vertebra torakalis ke-4 sampai vertebra lumbalis IV. Aorta berjalan di
sebelah kiri korpus vertebra setinggi angulus sterni kemudian berjalan ke
bawah manubriun sterni posterior sampai vertebra XII melewati hiatus
aortikus diafragma di garis tengah berlanjut ke bawah sampai ke lumbalis
IV. Aorta torakalis mempunyai cabang-cabang yaitu rongga torak dan
dinding torak.

23

b. Aorta abdominalis: mulai pada vertebra torakalis XII sampai ke lumbikalis


IV. Aorta abdominalis bercabang dua, yaitu arteri iliaka kommunis dekstra
dan arteri iliaka kommunis sinistra.
Vena Yang Masuk Ke Jantung
1. vena kava superior: vena besar yang menerima darah dari bagian atas leher
dan kepala yang dibentuk oleh persatuan dua vena brakiosepalika yang masuk
ke atrium dekstra.vena azigos bersatu pada permukaan posterior vena kava
superior sebelum masuk ke perikardium.
2. vena kava inferior: merupakan vena besar yang menerima darah darah dari
alat tubuh bagian bawah,menembus sentrum tendinium setinggi vertebra
torakalis dan masuk ke bagian bawah atrium dekstra.
3. vena pulmonalis: dua vena pulmonalis yang meninggalkan paru-paru
membawa darah beroksigen(banyak mengandung oksigen) dan masuk ke
atrium sinistra.
Vena Yang Bermuara Ke Vena Kava Superior
vena yang berawaltepat di belakang angulus ,mandibulare dan menyatu dengan
vena aurikularisa posterior lalu melintas muskulus sternocledomastoideus tepat di atas
klavikula dan menembus fasia servikalis frofunda dan mencurahkan isinya ke vena
subklavia.vena ini memiliki cabang-cabang berikut.
1. vena aurikularis posterior:turun melintasi muskulus sternokledomastoideus

tepat di atas klavikula menembus fasia servikalis profunda.


2. vena retro mandibularis:menerima darah dari mandibularis.
3. vena subklavia:cabang dari vena aurikularis posterior.
4. vena jugularis eksrterna posterior: bergabung dengan vena jugularis eksterna

untuk mengurus bagian kulit kepala dan leher.


5. vena suprakapularis :menerima darah dari otot bahu bagian atas.
6. vena jugularis anterior:berawal tepat di bawah dagu, menyatu turu ke leher

atas jugularis lalu berjalan ke bawah ke muskulus sternokledomastoideus dan


mencurahkan isinya ke vena jugularis eksterna.
Vena yang bermuara ke vana kava inferior
1. Vena torasika interna: bersatu membentuk pembuluh darah tunggal dan
mengalirkan darah ke vena brakiosepalika.
24

2. Vena dinding anterior dan lateral abdomen: darah yang yang berasal dari
pembuluh ini di kumpulkan ke jalinan vena-vena,dari umbilikus di alirkan ke
vena aksilaris melalui vena torakalis dan ke bawah vena femoralis melalui vena
epigastrika superfisialis.
a. Vena savena magna :menghubungkan vena melalui umbilikalis
sepanjang ligamentum terres ke vena porta dan membentuk anastomisis
vena porta dan vena sisztemik yang penting.
b. Vena

epigastrika

superior,vena

efigastrika

inferior

dan

vena

sirkumfleksa ileum fropundus mengalirkandarah ke venma iliaka


eksterna.
c. Vena intrerkostalis posterior mengalirkan darah ke vena azigo,vena
lumbaris dan vena kava inferior.
2.3.2

Sirkulasi Kapiler

Kapiler adalah pembuluh darah yang sangat kecil di sebut juga pembuluh rambut. Pada
umumnya kapiler meliputi sel-sel jaringan karena secara langsung berhubungan
dengan sel. Pembuluh kapiler terdiri atas kapiler arteri dan kapiler vena.
1. Kapiler arteri. Kapiler arteri merupakan tempat berakhirnya arteri. Semakin

kecil arteri maka akan semakin hilang lapisan dinding arteri sehingga kapiler
hanya mempunyai satu lapisan yaitu lapisan endotelium. Lapisan ini sangat
tipis sehingga memungkinkan cairan darah/limfe merembes keluar jaringan
membawa air, mineral, dan zat makanan. Proses pertukaran gas pertukaran
antara pembuluh kapiler dengan jaringan sel kapiler arteri bertujuan
menyediakan oksigen dan menyingkirkan karbon dioksida.
2. Kapiler vena. Lapisan kapiler vena hampir sama dengan kapiler arteri. Fungsi

kapiler vena adalah membawa zat sissa yang tidak terpakai oleh jaringan
berupa zat ekskresi dan karbon dioksida. Zatsissa tersebut di bawa keluar dari
tubuh melalui venolus, vena, dan akhirnya keluar tubuh melalui tiga proses
yaitu pernapasan, keringat dan feses.
Pintu masuk ke kapiler dilingkari oleh sfingter yang terbentuk dari otot polos. Bila
sfingter maka darah akan memasuki kapiler tetapi bila tertutup maka darah langsung
masuk dari arteriole ke venolus dan tidak melalui kapiler.
Tekanan darah pada kapiler arteri turun sampai 30 mmHg, hingga di ujung kapiler
vena menjadi 10 mmHg. Tekanan kapiler akan meningkat bila arteriole berdilatasi
25

karena pada saat arteriole berdilatasi, sfinter kapiler juga akan relaksasi sehingga
banyak darah masuk ke dalam kapiler.
Kapiler membuka dan menutup dengan kecepatan 6-12 kali/menit. Relaksasi
kapiler terjadi sebagai respons terh ar oksigen yang terjadi dalam darah. Relaksasi
tersebut

menimbulkan banyak darah yang mencapai jaringan sehingga terjadi

peningkatan aktivitas metabolik. Sfingter kapiler yang menuju ke kulit akan


berelaksasi sebagai respons terhadap peningkatan suhu tubuh, sedangkan peningkatan
sirkulasi melalui kapiler disebabkan oleh turunnya suhu tubuh.
tekanan sistolik yaitu :
tekanan yang terjadi pada saat kontraksi puncak ventrikel = tekanan puncak yang
terjadi pada arteri oleh darah yang dipompa jantung selama kontraksi ventrikel
normal: + 120 mmHg
tekanan diastolik yaitu :
tekanan yang terjadi selama fase istirahat jantung antara 2 kontraksi ventrikel =
tahanan pada arteri elastis dan arteriol = tahanan pembuluh
normal: < 90 mmHg
Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah (blood pressure = BP) :

perubahan curah jantung (cardiac output = CO)

perubahan tahanan perifer total ( total peripheral resistance = TPR)

dinyatakan dengan rumus; BP = CO X TPR

Curah jantung adalah volume darah yang dipompa oleh jantung dalam satu menit
normal: 5-6 liter/menit
rumus: CO = HR X SV
Isi sekuncup
dipengaruhi oleh:

tekanan pengisian ventrikel

kontraktilitas miokardium

tahanan aliran darah

melibatkan 2 faktor:

end-diastolic volume (EDV): volume darah pada akhir diastolik jumlah darah dalam
ventrikel setelah pengisian sebelum kontraksi end-systolic volume (ESV): volume

26

darah pada akhir sistolik volume darah yang tertinggal dalam ventrikel setelah
kontraksi
rumus: SV = EDV ESV
Left ventricular ejection fraction = SV/EDV SV (normal): + 80 ml
Hukum Starling: makin besar regangan diastolik pada otot jantung, makin kuat
kontraksinya Peningkatan EDV > peningkatan SV
Tahanan perifer total: jumlah tahanan yang dihasilkan oleh seluruh arteri dan arteriol
terhadap aliran darah diatur oleh tonus arterial dan arteriol
Pengukuran tekanan darah menggunakan:

stetoskop

sfignomanometer

cuff dipompa sampai mencapai tekanan yang cukup tinggi untuk menghentikan aliran
darah, tidak ada bunyi udara dikeluarkan perlahan-lahan:
suara yang pertama kali terdengar > tekanan sistolik
suara mulai menghilang > tekanan diastolic
2.4 Fisiologi Paru
2.4.1

Fisiologi Sistem Respirasi

Respirasi adalah pertukaran gas-gas antara organisme hidup dan lingkungan


sekitarnya.Pada manusia dikenal dua macam respirasi yaitu eksternal dan internal. 1
Respirasi eksternal ialah pertukaran gas-gas antara darah dan udara sekitarnya.
Pertukaran ini meliputi beberapa proses yaitu:1
1. Ventilasi : proses masuk udara sekitar dan pembagian udara tersebut ke alveoli.
2. Distribusi : distribusi dan percampuran molekul-molekul gas intrapulmoner.
3. Difusi : masuknya gas-gas menembus selaput alveoli-kapiler.
4. Perfusi: pengambilan gas-gas oleh aliran darah kapiler paru yang adekuat.
Respirasi internal ialah pertukaran gas-gas antara darah dan jaringan. Pertukaran
ini meliputi beberapa proses yaitu:1
1. Efisiensi kardiosirkulasi dalam menjalankan darah kaya oksigen.
2. Distribusi kapiler.
3. Difusi, perjalanan gas ke ruang interstitial dan menembus dinding sel.
4. Metabolisme sel yang melibatkan enzim.

27

Fungsi utama respirasi ialah pertukaran O2 dan CO2 antara darah dan udara
pernapasan. Fungsi tambahan ialah pengendalian keseimbangan asam basa,
metabolisme hormon dan pembuangan partikel. Paru ialah satu-satunya organ tubuh
yang menerima darah dari seluruh curah jantung.1

2.2.1. Mekanisme Pernapasan


Ventilasi adalah istilah untuk pergerakan udara dari dan keluar alveoli. Dua
aspek ventilasi adalah inhalasi dan ekshalasi, yang dijalankan oleh system saraf dan
otot-otot pernafasan. Pusat pernafasan terletak di medulla oblongata dan pons. Fungsi
khususnya akan dibahas pada bagian berikut, tetapi adalah medulla yang
membangkitkan impuls untuk otot-otot pernafasan.5
Otot-otot yang dimaksud adalah diafragma dan muskuli interkostale eksterni
serta interni. Diafragma adalah otot berbentuk kubah di bawah paru-paru; ketika otot
ini berkontraksi, diafragma akan mendatar dan bergerak ke bawah. Muskuli
interkostale eksterni menarik iga ke atas dan ke sisi luar, dan muskuli interkostale
interni menarik iga ke bawah dan ke dalam. Ventilasi adalah hasil kerja otot respirasi
yang menghasilkan perubahan tekanan dalam alveoli dan pohon bronkial.
Dengan memperhatikan proses pernapasan, ada tiga penekanan penting, yaitu:5
1. Tekanan atmosfer: tekanan udara di sekitar kita. Pada permukaan laut, tekanan
atmosfer adalah 760 mmHg. Tentu saja pada ketinggian yang lebih, tekanan
atmosfer menurun.
2. Tekanan interpleural: tekanan dalam ruangan potensial pleura antara pleura
parietal dan pleura viseral. Ruang ini lebih tepat disebut potensial daripada
ruang yang nyata. Suatu lapisan tipis cairan serosa menyebabkan dua membran
28

pleura terpisah satu sama lain. Tekanan intrapleural senantiasa sedikit dibawah
tekanan atmosfer (sekiar 756 mmHg), dan ini disebut tekanan negatif. Paruparu yang elastis selalu cenderung kolaps dan menarik pleura viseralis
menjauhi pleura parietalis. Namun, cairan serosa mencegah kedua membran
pleura ini terpisah.
3. Tekanan intra pulmonal: tekanan dalam pohon bronkus dan alveoli. Tekanan ini
berfluktuasi antara di bawah dan di atas tekanan atmosfer selama masingmasing siklus pernafasan.
Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan udara (inspirasi)
dan pengeluaran udara ( ekspirasi) maka mekanisme pernapasan dibedakan atas dua
macam, yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut
terjadi secara bersamaan.9
a. Pernapasan Dada9
Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk.
Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.
1). Fase inspirasi
Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga
dada mengembang.Pengembangan rongga dada menyebabkan volume paruparu juga mengembang akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih
kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk
2) Fase ekspirasi
Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antartulang
rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga
dada menjadi kecil.Rongga dada yang mengecil menyebabkan volume paruparu juga mengecil sehingga tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar
daripada tekanan luar.Hal tersebut menyebabkan udara dalam rongga dada
yang kaya karbon dioksida keluar.
b. Pernapasan Perut9
Pernapasan perut merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan
aktivitas otot-otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada.
Mekanisme pernapasan perut dapat dibedakan menjadi dua fase, yakni:
1) Fase inspirasi
Fase inspirasi merupakan kontraksi otot diafragma
mengembang,

akibatnya

paru-paru

ikut

mengembang.Hal

sehingga
tersebut

menyebabkan rongga dada membesar dan tekanan udara di dalam paru-paru


lebih kecil daripada tekanan udara luar sehingga udara luar dapat masuk ke
dalam.
2) Fase ekspirasi

29

Fase ekspirasi merupakan fase relaksasi otot diafragma (kembali ke


posisi semula) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan udara di dalam
paruparu lebih besar daripada tekanan udara luar, akibatnya udara keluar dari
paru-paru.

a. Tekanan Pleura dan Perubahannya Selama Pernapasan8


Tekanan pleura adalah tekanan cairan dalam ruang sempit antara pleura paru
dan pleura dinding dada. Seperti yang telah ditekankan di atas, secara normal terdapat
sedikit isapan, yang berarti suatu tekanan negative yang ringan. Tekanan pleura normal
pada saat dimulainya inspirasi adalah sekitar 5 sentimeter air, yang merupakan nilai
isap yang dibutuhkan untuk mempertahankan paru agar tetap terbuka sampai nilai
istirahatnya. Kemudian, selama inspirasi, pengembangan rangka dada akan mendorong
permukaan paru dengan kekuatan yang sedikit lebih besar dan menciptakan tekanan
yang sedikit lebih negative turun sampai rata-rata sekitar 7,5 sentimeter air.
Hubungan antara tekanan pleura dan perubahan volume, pada bagian bawah
terjadi peningkatan negativitas tekanan pleura dari 5 menjadi 7,5 selama inspirasi,
biasanya terjadi peningkatan volume paru sebanyak 0,5 liter. Kemudian, selama
ekspirasi, peristiwa yang terjadi adalah kebalikannya.

b. Tekanan Alveolus8
Tekanan alveolus adalah tekanan di bagian dalam alveoli paru. Ketika glotis
terbuka, dan tidak ada udara yang mengalir ke dalam atau ke luar paru, maka tekanan
pada bagian semua bagian jalan napas, sampai alveoli, semuanya sama dengan tekanan
atmosfer, yaitu 0 sentimeter tekanan air. Untuk menyebabkan aliran udara ke dalam
selama inspirasi, maka tekanan dalam alveoli harus turun sampai nilainya sedikit
dibawah tekanan atmosfer. Garis gelap kedua memperlihatkan suatu penurunan
tekanan alveolus sampai sekitar 1 sentimeter air pada inspirasi normal. Tekanan yang
30

sedikit negatif ini cukup untuk mengalirkan sekitar 0,5 liter udara ke dalam paru dalam
waktu 2 detik sebagaimana yang diperlukan untuk inspirasi.
Selama ekspirasi, terjadi perubahan yang berlawanan. Tekanan alveolus
meningkat sampai sekitar +1 sentimeter air, dan tekanan ini mendorong 0,5 liter udara
inspirasi ke luar paru selama 2 sampai 3 detik waktu ekspirasi.
Tekanan transpulmoner. Akhirnya terdapat perbedaan antara tekanan alveolus
dan tekanan pleura. Perbedaan ini disebut tekanan alveoli dan tekanan pada permukaan
luar paru, dan ini adalah nilai daya elastic dalam paru yang cenderung mengempiskan
paru pada setiap titik pengembangan, disebut tekanan daya lenting paru.
c. Compliance paru8
Nilai dimana pengembangan paru untuk setiap unit dapat meningkatkan
tekanan transpulmoner, disebut compliance. Nilai compliance total normal dari kedua
paru seorang dewasa rata-rata sekitar 200 ml/cm tekanan air, tetapi nilai ini bervariasi
kurang lebih sebanding dengan berat badan orang yang tanpa lemak. Artinya, setiap
kali tekanan transpulmoner meningkat sebanyak 1 sentimeter air, maka terjadi
pengembangan paru sebanyak 200 milimeter.
Ciri khas diagram compliance ditentukan oleh daya elastic paru. Daya elastis
ini dapat dibagi menjadi dua bagian : (1) daya elastis jaringan paru itu sendiri dan (2)
daya elastis yang disebabkan oleh tegangan permukaan cairan yang membatasi dinding
bagian dalam alveoli dan ruang udara paru lainnya.
Daya elastisitas jaringan paru terutama ditentukan oleh serat elastin dan serat
kolagen yang terletak berselang-seling diantara parenkim paru. Pada paru yang
mengempis, serat-serat ini secara elastis berkontraksi dan menjadi kaku, dan kemudian
ketika paru mengembang, serat-serat menjadi terengang dan tidak kaku lagi, dengan
demikian menjadi lebih panjang tapi tetap mengerahkan daya elastisitas untuk kembali
ke keadaan awalnya.
2.3.2.Pertukaran Gas Dalam Pernapasan
Ada dua tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida: paru-paru dan
jaringan tubuh. Pertukaran gas antara udara di alveoli dan darah di kapiler pulmonal
disebut respirasi eksternal. Pada keadaan ini eksternal berarti pertukaran yang
melibatkan udara dari lingkungan eksternal. Respirasi internal adalah pertukaran gas
antara darah dalam kapiler sistemik dan cairan jaringan (sel) pada tubuh.5

31

Udara yang kita hirup (atmosfer bumi) mengandung kurang lebih 21% oksigen
dan 0,04% karbon dioksida. Meskipun sebagian besar (78%) kandungan atmosfer
adalah nitrogen, gas ini tidak secara fisiologis tersedia untuk kita, sehingga kita
kemudian mengeluarkannya. Udara yang kita keluarkan ini juga mengandung kurang
lebih 16% oksigen dan 4,5 karbon dioksida, sehingga jelas bahwa sejumlah oksigen
tetap berada dalam tubuh, dan karbon dioksida yang dihasilkan sel dihembuskan
keluar.5
Jumlah oksigen yang diambil melalui udara pernapasan tergantung pada
kebutuhan dan hal tersebut biasanya dipengaruhi oleh jenis pekerjaan, ukuran tubuh,
serta jumlah maupun jenis bahan makanan yang dimakan. Pekerja-pekerja berat
termasuk atlit lebih banyak membutuhkan oksigen dibanding pekerja ringan. Hal ini
karena pekerja berat lebih banyak memerlukan energi sehingga untuk menghasilkan
energi yang banyak, tubuh membutuhkan oksigen yang banyak pula untuk membakar
bahan sumber energi. Demikian juga seseorang yang memiliki ukuran tubuh lebih
besar, dengan sendirinya membutuhkan oksigen lebih banyak. Seseorang yang
memiliki kebiasaan memakan lebih banyak daging akan membutuhkan lebih banyak
oksigen daripada seseorang yang memakan sayur-sayuran.9
Sebagian besar oksigen diangkut oleh darah dengan terikat pada hemoglobin
dalm sel darah (meskipun beberapa oksigen terlarut dalam plasma darah, tetapi ini
tidak cukup untuk kelangsungan hidup). Mineral besi adalah bagian hemoglobin dan
memberikan kemampuan kepada protein ini untuk membawa oksigen.9
Oksigen berdifusi dari bagian konduksi paru ke bagian respirasi paru sampai ke
alveoli. Setelah O2 menembus epitel alveoli, membrana basalis dan endotel kapiler,
dalam darah sebagian besar O2 bergabung dengan hemoglobin (97%) dan sisanya larut
dalam plasma (3%).1
Dewasa muda pria jumlah darahnya 75 ml/kg, wanita 65 ml/kg. Satu ml
darah pria mengandung 4,3-5,9 juta eritrosit, wanita 3,5-5,5 juta eritrosit. Satu sel
eritrosit mengandung kira-kira 280 juta molekul Hb. Satu molekul Hb sanggup
mengikat 4 molekul O2 membentuk HbO2 oksi-hemoglobin. Satu gram Hb dapat
mengikat 1,34-1,39 ml O2.1
Hb adalah protein konjugasi dengan berat molekul 66,700. Bentuk Hb normal
hanya HbA (adult, dewasa) mengandung banyak 2,3 DPG (DiPhosphoGliserat) yang
memudahkan O2 lepas dari Hb dan HbF (fetal) mengandung sedikit 2,3 DPG. HbF
menghilang setelah bayi berusia 4-6 bulan.Jenis Hb lain abnormal.MyoHb adalah jenis
32

Hb yang berada di otot lurik yang hanya sanggup mengikat 1 molekul O 2 dan melepas
O2 kalau benar-benar PaO2 rendah.1
Dalam keadaan normal 100 ml darah yang meninggalkan kapiler mengangkut
200 ml O2. Rata-rata dewasa muda normal membutuhkan O2 setiap menitnya 225 ml.
Oksigen yang masuk ke dalam darah dari alveoli sebagian besar diikat oleh Hb dan
sisanya larut dalam plasma:1
O2 + Hb <--> HbO2 (97%)
O2 + plasma <--> larut (3%)
Jika semua molekul Hb mengikat O 2 secara penuh, maka saturasinya 100%.Jika
kemampuan setiap molekul Hb hanya mengikat 2 molekul O2, maka saturasinya 50%.
Jumlah O2 yang larut dalam 100 ml darah adalah 0,29 ml pada tekanan PaO2 95 mmHg
dan tunduk pada hukum Henry.1
Konsentrasi gas = a x tekanan bagian
a = koefisien kelarutan gas dalam darah pada suhu tertentu.
Pada suhu normal a O2 = 0,003 ml/dl/mmHg
Ikatan oksigen-hemoglobin dibentuk di dalam paru-paru, yang memiliki PO 2
tinggi. Namun, ikatan ini relative tidak stabil, dan ketika darah melewati jaringan
dengan PO2 rendah, ikatan pecah, dan oksigen dilepas ke jaringan. Pada keadaan
jaringan rendah konsentrasi O2, oksigen berlebih yang ada di hemoglobin akan
dilepaskan. Ini berarti bahwa jaringan aktif, seperti otot yang bekerja, menerima lebih
banyak oksigen untuk menjalankan respirasi sel. Faktor lain yang meningkatkan
pelepasan oksigen dari hemoglobin adalah PCO2 yang tinggi (pada pH yang rendah)
dan temperature yang tinggi, keduanya juga merupakan karakteristik jaringan yang
aktif.5
Dalam keadaan biasa, manusia membutuhkan sekitar 300 cc oksigen sehari (24
jam) atau sekitar 0,5 cc tiap menit. Kebutuhan tersebut berbanding lurus dengan
volume udara inspirasi dan ekspirasi biasa, kecuali dalam keadaan tertentu saat
konsentrasi oksigen udara inspirasi berkurang atau karena hal lain, misalnya
konsentrasi hemoglobin darah berkurang. Di dalam proses pertukaran O2 dan CO2,
oksigen yang dibutuhkan berdifusi masuk ke darah dalam kapiler darah yang
menyelubungi alveolus. Selanjutnya, sebagian besar oksigen diikat oleh zat warna
darah atau pigmen darah (hemoglobin) untuk diangkut ke sel-sel jaringan tubuh.

33

Secara sederhana, pengikatan oksigen oleh hemoglobin dapat diperlihatkan menurut


persamaan reaksi bolak-balik berikut ini:9

Reaksi di atas dipengaruhi oleh kadar O2, kadar CO2, tekanan O2 (PO2),
perbedaan kadar O2 dalam jaringan, dan kadar O2 di udara. Proses difusi oksigen ke
dalam arteri demikian juga difusi CO2 dari arteri dipengaruhi oleh tekanan O2 dalam
udara inspirasi.Tekanan seluruh udara lingkungan sekitar 1 atmosfer atau 760 mm Hg,
sedangkan tekanan O2 di lingkungan sekitar 160 mm Hg. Tekanan oksigen di
lingkungan lebih tinggi daripada tekanan oksigen dalam alveolus paru-paru dan arteri
yang hanya 104 mm Hg. Oleh karena itu, oksigen dapat masuk ke paru-paru secara
difusi.9
Dari paru-paru, O2 akan mengalir lewat vena pulmonalis yang tekanan O 2-nya
104 mm Hg; menuju ke jantung. Dari jantung, O 2 mengalir lewat arteri sistemik yang
tekanan O2-nya 104 mm Hg menuju ke jaringan tubuh yang tekanan O2 -nya 0 40 mm
Hg. Di jaringan, O2 ini akan dipergunakan. Dari jaringan, CO2 akan mengalir melalui
vena sistemik ke jantung. Tekanan CO2 di jaringan di atas 45 mm Hg, lebih tinggi
dibandingkan vena sistemik yang hanya 45 mmHg. Dari jantung, CO 2 mengalir lewat
arteri pulmonalis yang tekanan CO2-nya sama, yaitu 45 mm Hg. Dari arteri pulmonalis,
CO2 masuk ke paru-paru lalu dilepaskan ke udara bebas. Untuk lebih jelasnya
perhatikan skema berikut.9

34

Setiap 100 mm3 darah dengan tekanan oksigen 100 mmHg dapat mengangkut
19 cc oksigen. Bila tekanan oksigen hanya 40 mm Hg maka hanya ada sekitar 12 cc
oksigen yang bertahan dalam darah.
Karbon dioksida (CO2) adalah hasil metabolisme aerobik dalam jaringan perifer
dan

produksinya

bergantung

jenis

makanan

yang

dikonsumsi.Pengangkutan

karbondioksida sedikit lebih rumit.Dalam darah sebagian besar CO2 (70%) diangkut
dan diubah menjadi asam karbonat (HCO3)dengan bantuan enzim carbonic anhydrase
(CA).Sebagian kecil CO2 diikat oleh Hb dalam sel eritrosit. Sisa CO 2 (23%) larut
dalam plasma:1,5
CO2 + H2O <--> H+ + HCO3- (70%)
CO2 + Plasma <--> Larut (23%)
CO2 + HbNH2<--> H+ + HbNHCOO- (sisanya)
Ketika karbondioksida memasuki darah, sebagian besar berdifusi menuju sel
darah merah, yang di dalamnya terdapat enzim karbonik anhidrase. Enzim mini (yang
mengandung seng) mengatalisis reaksi karbon dioksida dan air untuk membentuk asam
karbonat:5
CO2 + H2O

H2CO3

Asam karbonat kemudian mengalami disosiasi:


H2CO3

H+ + HCO3-

Ion bikarbonat berdifusi keluar dari sel darah merah menuju plasma,
meninggalkan ion Hidrogen (H+) di dalam sel darah merah. Ion H + yang banyak akan
cenderung membuat sel darah merah terlalu asam, tetapi hemoglobin bertindak sebagai
dapar untuk mencegah asidosis. Untuk mempertahankan keseimbangan ionik, ion
klorida (Cl-) dari plasma klorida. CO2 berada di dalam plasma sebagai bagian ion
HCO3-. Ketika darah mencapai paru, daerah dengan PCO2 yang lebih rendah, reaksi ini
akan membalik, CO2 akan kembali dibentuk dan berdifusi menuju alveoli untuk
diekshalasi.5
Tiap liter darah hanya dapat melarutkan 4,3 cc CO 2 sehingga mempengaruhi
pH darah menjadi 4,5 karena terbentuknya asam karbonat yang menyebabkan darah
bersifat asam. Keasaman tersebut dinetralkan oleh ion-ion natrium dan kalium dalam
darah.
Pengangkutan CO2 oleh darah dapat dilaksanakan melalui 3 cara, yakni sebagai
berikut:9
35

a. Karbondioksida larut dalam plasma, dan membentuk asam karbonat dengan enzim
anhidrase (7% dari seluruh CO2).
b. Karbondioksida terikat pada hemoglobin dalam bentuk karbomino hemoglobin
(23% dari seluruh CO2).
c. Karbondioksida terikat dalam gugus ion bikarbonat (HCO 3) melalui proses berantai
pertukaran klorida (70% dari seluruh CO2). Reaksinya adalah sebagai berikut:

Gangguan terhadap pengangkutan CO2 dapat mengakibatkan munculnya gejala


asidosis karena turunnya kadar basa dalam darah. Hal tersebut dapat disebabkan karena
keadaan pneumoni. Sebaliknya apabila terjadi akumulasi garam basa dalam darah
maka muncul gejala alkalosis.
2.4.3.Volume dan Kapasitas Paru
Parameter yang sering diukur dalam uji faal paru ialah isi paru dengan
beberapa bagiannya. Isi paru ini menggambarkan fungsi statik paru. Ada dua
golongan isi paru, yaitu yang biasa disebut isi paru dan kapasitas.
a. Volume Paru1,5,8,10
Ada empat jenis isi paru yang masing-masing berdiri sendiri, tidak saling
tercampur, yaitu :

Volume Alun napas (tidal volume), yaitu jumlah udara yang dihisap atau
dihembuskan dalam satu siklus napas. Alun napas waktu istirahat lebih kecil
daripada waktu kerja. Makin berat kerjanya, makin besar alun napas.
Tentunya sampai batas tertentu. Apabila alun napas ini dikalikan dengan
frekuensi napas semenit, akan didapat nilai napas semenit. Dewasa +500 ml

(10 12 ml/KgBB).
Volume Cadangan inspirasi(IRV, inspiratory reserve volume), yaitu jumlah
maksimal udara yang masih dapat diinspirasi setelah akhir inspirasi tenang.
Jumlah udara melebihi volume tidal, yang biasa dicapai dengan bernapas
sedalam mungkin. Normalnya, berkisar dari 2000 sampai 3000 ml (rata-rata

dewasa +1500 ml).


Volume Cadangan ekspirasi(ERV, ekspiratory reserve volume), yaitu jumlah
maksimal udara yang masih dapat dihembuskan sesudah akhir ekspirasi

36

tenang. Jumlah udara melebihi tidal volume, yang bisa dikeluarkan dengan
ekshalasi paling kuat.Pada pernafasan tenang, ekspirasi terjadi secara pasif,
tidak ada otot ekspirasi yang bekerja. Ekspirasi hanya terjadi oleh daya
lenting dinding dada dan jaringan paru semata-mata. Posisi rongga dada dan
paru pada akhir ekspirasi ini merupakan posisi istirahat. Bila dari posisi
istirahat ini dilakukan gerak ekspirasi sekuat-kuatnya sampai maksimal,
udara cadangan ekspirasi itulah yang keluar.Ekspirasi normal berkisar dari

1000 sampai 1500 ml (dewasa +1200 ml).


Volume residu (RV, residual volume), yaitu jumlah udara yang masih ada di
dalam paru sesudah melakukan ekspirasi maksimal, rata-rata berkisar dari
1000 sampai 1500 ml (dewasa +2100 ml). Udara residu penting untuk
memastikan bahwa adasejumlah udara dalam paru-paru setiap waktu,
sehingga pertukaran gas akan berkesinambungan, meskipun di antara tarikan

napas.
b. Kapasitas paru1,5,8,10
Nilai kapasitas ini mencakup dua atau lebih nilai isi paru padabutir (1) di atas.

Kapasitas paru total (TLC, total lung capacity), IRV + TV + ERV + RV, yaitu
jumlah maksimal udara yang dapat dimuat paru pada akhir inspirasi maksimal.
Dewasa +5300 ml.

Kapasitas vital (VC, vital capacity ), IRV + TV + ERV, yaitu jumlah


maksimal udara yang dapat dihembuskan dengan sekuat-kuatnya dari posisi
akhir inspirasi maksimal.Dengan kata lain, kapasitas vital adalah jumlah
udara yang terlibat pada inhalasi terdalam yang diikuti oleh ekshalasi terkuat.
Jumlah rata-rata berkisar dari 3500 sampai 5000 ml (dewasa +3200 ml).

Kapasitas Inspirasi(IC, inspiratory capacity),TV+IRV,yaitu jumlah maksimal


udara yang dapat diinspirasi setelah akhir ekspirasi tenang. Dewasa +2000 ml.

Kapasitas residu fungsional (FRC, functional residual capacity), ERV+RV,


yaitu jumlah udara yang masih tertinggal dalam paru pada posisi
istirahatsetelah akhir ekspirasi tenang. Dewasa +3300 ml.

37

Gambar: Isi dan Kapasitas Paru


Kapasitas paru bervariasi sesuai ukuran dan umur seseorang. Orang yang tinggi
memiliki paru-paru lebih besar daripada orang yang pendek. Juga, senakin tua,
kapasitas paru-paru kita akan menurun karena paru-paru kehilangan elastisitasnya dan
otot-otot respirasi menjadi kurang efisien. Untuk volume pulmonal berikut, nilai yang
diberikan adalah untuk mereka yang berusia muda dan sehat. Beberapa volume yang di
gambarkan di atas dapat di ukur dengan alat yang disebut spirometer, yang mengukur
pergerakan udara.
2.4.Ventilasi Paru11
Isi paru hanya memberi gambaran secara umum tentang udara yang dapat
masuk atau keluar paru atau udara yang dapat dimuat paru pada gerak napas atau sikap
bernapas tertentu. Gerak serta dinamika pernapasan dan ventilasi yang dihasilkannya,
yang merupakan fungsi dinamik paru, tidak tergambarkan olehnya. Maka untuk
menguji ventilasi paru perlu pemeriksaan-pemeriksaan lain.11
Parameter yang menentukan ventilasi itu sendiri ada beberapa yaitu:11
1. Frekuensi napas
Frekuensi napas ini dapat memberikan gambaran kasar tentang ventilasi, dan
merupakan parameter yang sering diukur secara rutin di rumahsakit. Pada orang sehat
dalam keadaan basal,
frekuensi napas berkisar antara 11 sampai 14 kali per menit.
2. Alun napas (Volume Tidal)
3. Ruang rugi
Pertukaran gas di dalam paru terjadi antara alveoli dan darah di kapiler alveoli.
Alveoli hanya terdapat di ujung-ujung saluran napas sesudah bronkeoli terminalis.
Udara yang dihisap paru tidak semuanya mencapai tempat yang mengandung alveoli.
Udara yang mencapai alveoli akan mengalami proses difusi. Udara yang tidak
38

mencapai alveoli tidak mengalami proses difusi. Ditinjau dari tujuan pernapasan, yaitu
mengadakan pertukaran gas dengan proses difusi, maka adanya udara yang dihisap
paru tetapi tidak mengalami proses difusi merupakan suatu kerugian. Ruang dalam
sistem pernapasan yang ditempati oleh udara yang tidak mengalami proses difusi
tersebut disebut ruang rugi. Ruang rugi tadi ada dua macam, yaitu ruang rugi anatomi
dan ruang rugi fisiologi. Ruang rugi anatomi yaitu bagian saluran napas, dari ujung
luar hidung sampai bronkeoli terminalis, yang tidak mengandung alveoli. Ruang rugi
fisiologi yaitu ruang rugi anatomi ditambah dengan ruang alveoli dari alveoli yang
tidak mengandung pembuluh darah atau alveoli yang udaranya berlebih untuk
mengarterialkan darah. Hal di atas biasanya hanya terjadi pada orang sakit. Pada orang
sehat, ruang rugi anatomi dan ruang rugi fisiologi boleh dikatakan sama besar.11
Volume ruang rugi normal pada orang dewasa muda kira-kira 150 ml. Nilai ini
meningkat dengan bertambahnya usia.8
4. Napas semenit (minute volume) dan ventilasi alveoli.
Dengan mengetahui alun napas, frekuensi dan ruang rugi, napas semenit dan
ventilasi alveoli dapat dihitung. Bernapas cepat dan pendek atau bernapas lambat dan
dalam, napas semenit dapat sama, tetapi ventilasi alveoli yang terjadi berbeda.
Misalnya napas pendek dengan alun napas 250 ml dan frekuensi 32x/ menit, atau
napas dalam dengan alun napas 1000 ml dan frekuensi 8 x/menit, napas semenit
keduaduanya 8000 ml. Tetapi ventilasi alveoli pada napas pendek hanya 3200 ml,
sedang pada napas dalam 6800 ml.
Frekuensi dan alun napas merupakan dua parameter yang saling berkaitan.
Untuk memperoleh alun napas yang besar, diperlukan waktu yang lama. Dengan
demikian alun napas yang besar akan membatasi frekuensi. Sebaliknya dengan
frekuensi yang tinggi tidak dapat diperoleh alun napas yang besar. Untuk memperoleh
napas semenit maksimal, diperlukan frekuensi dan alun napas optimal. Napas semenit
maksimal sering disebut Kapasitas Pernapasan Maksimal (KPM). Kapasitas
pernapasan maksimal dikurangi napas semenit istirahat disebut cadangan pernapasan.
Cadangan pernapasan ini menggambarkan kapasitas fungsi ventilasi paru secara
umum.11
Volume nafas semenit adalah jumlah total udara baru yang masuk ke dalam
saluran pernapasan tiap menit, dan ini sesuai dengan volume alun napas dikalikan
dengan frekuensi pernapasan. Volume alun normal 500 ml dan frekuensi pernapasan
normal kira-kira 12x/menit.Oleh karena itu, volume pernapasan semenit rata-rata
39

sekitar 6 l/menit.Seseorang dapat hidup untuk waktu yang pendek dengan volume
pernapsan semenit serendah 1,5 l/menit dan dengan frekuensi pernapasan 2-4x/menit.
Frekuensi pernapasan kadang-kadang meningkat sampai 40-50x/menit, dan volume
alun napas dapat menjadi sama dengan kapasital vital, kira-kira 4600 ml pada laki-laki
dewasa muda. Keadaan ini dapat menimbulkan volume pernapasan semenit
>200L/menit, atau lebih dari 30 kali normal. Kebanyakan orang tidak dapat menahan
lebih dari setengah sampai duapertiga jumlah ini selama lebih dari 1 menit atau lebih.8
Yang paling penting dari sistem ventilasi paru adalah terus-menerus
memperbarui udara dalam area pertukaran gas paru, dimana udara dan darah paru
saling berdekatan.Yang termasuk area-area ini adalah alveoli, kantong alveolus, duktus
alveolaris, dan bronkiolus respiratorius.Kecepatan udara baru yang masuk pada area
ini disebut ventilasi alveolus.Udara dapat masuk sampai ke dalam alveoli dalam jarak
yang pendek yaitu dengan cara difusi. Difusi deisebabkan oleh gerakan kinetis
molekul-molekul, tiap molekul gas bergerak dengan kecepatan tinggi di antara molekul
lainnya. Kecepatan gerak molekul dalam udara pernapasan demikian besar melalui
jarak yang begitu pendek yaitu dari bronkiolus terminalis ke alveoli di mana gas
bergerak hanya dalam waktu sepersekian detik.8
2.3.5.Fungsi Dinamik Paru1
Ventilasi dapat terselenggara kalau arus udara ke dan dari alveoli melalui
saluran napaslancar. Arus udara ini selain ditentukan oleh isi paru, juga ditentukan
tekanan yang menimbulkan aliran, dan tahanan saluran napas (Raw). Tekanan yang
menimbulkan aliran ada dua macam, yaitu tekanan oleh kontraksi otot pernapasan
(Pmus) dan tekanan daya lenting jaringan paru (Pel). Kedua tekanan tadi dilawan oleh
tahanan saluran napas.
Pmus merupakan salah satu faktor penentu besar arus. pengukuran Pmus ini
dapat memastikan ada atau tidak adanya kelainan sistem saraf-otot. Pengukuran Pmus
ini dilakukan dengan manometer yang mempunyai botol pengaman atau dengan
manometer anaeroid.
Raw juga merupakan salah satu faktor penentu besar arus. Dapat digunakan
untuk menentukan letak penyempitan (sentral atau perifer). Pengukuran dilakukan
dengan teknik Dubois menggunakan plethysmograph khusus.
Uji fungsi dinamik paru ini meliputi beberapa pemeriksaan, yang secara garis
besar dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu yang menyatakan hubungan antara isi
40

paru dan waktu pengaliran (volume-time curve), dan antara besar arus dan isi paru
(flow-volume curve).
1. Hubungan antara isi paru dan waktu pengaliran (Volume-Time).
Ada lima pemeriksaan untuk fase ekspirasi dan satu pemeriksaan untuk fase
inspirasi :

FVC (Forced Vital Capacity), yaitu kapasitas vital yang diperoleh dengan
ekspirasi sekuat-kuatnya, secepat-cepatnya, dan sehabis-habisnya, dinyatakan

dalam liter.
FEV1 (Forced Expiratory Volume 1 second),yaitu jumlah liter udara yang

diekspirasikan dalam detik pertama dengan FVC.


FEV1/FVC%, yaitu persentase FEV1 terhadap FVC.
FEF25-75% (Forced Expiratory Flow Rate 25 75%), yaitu besar arus pada

nilai tengah FVC, dinyatakan dalam LPS (liter per detik).


FFF2001200, yaitu besar arus pada waktu keluarnya satu liter udara pada
bagian 200 1200 ml di bawah nilai kapasitas paru total. Untuk mengetahui
kelima nilai di atas cukup hanya dengan melakukan gerakan untuk memperoleh
kurve FVC, dengan menggunakan spirometer biasa dengan putaran kimograf

yang tercepat.
FIF2001200 (Forced Inspiratory Flow Rate 2001200), yaitu besar arus
pada waktu dilakukan inspirasi sekuatkuatnya dan secepat-cepatnya, pada

waktu masuknya udara bagian 200 1200 ml di atas isi residu.


2. Hubungan antara besar arus dan isi paru (Flow - Volume).
Kurve hubungan ini menggambarkan besar arus dari waktu ke waktu sejak saat
dikeluarkannya udara kapasitas paru total sampai dicapainya isi residu. Besar arus
selalu dinyatakan dalam LPS. Untuk fase inspirasi dan fase ekspirasi, kurvenya dapat
dibuat dalam satu gambar. Pembuatan kurve fase ekspirasi, perhitungannya dapat dari
kurve FVC. Sedang untuk fase inspirasi, diperlukan kurve Forced Inspiratory
VitalCapacity.
Kurve hubungan ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian yang
bergantung kepada kerja otot pernapasan dan bagian yang tidak bergantung kepada
kerja otot pernapasan dan bergantung hanya kepada daya lenting paru dan tahanan
saluran napas. Untuk fase ekspirasi, yang bergantung kepada kerja otot pernapasan
terletak pada bagian 20 25% kapasitas paru total.
Untuk dianalisis dari kurve hubungan ini dapat dipilih empat titik, yaitu titiktitik :

41

(a) Arus puncak (peak flow). Arus terbesar ini terjadi terutama atas usaha otot
pernapasan.
(b) Vmax25, yaitu besar arus pada 25% di bawah Kapasitas Paru Total (KPT)
untuk fase ekspirasi atau 25% di atas Isi Residu untuk fase inspirasi.
(c) Vmax50, yaitu besar arus pada 50% di bawah KPT atau di atas Isi Residu (IR).
(d) Vmax75, besar arus pada 75% di bawah KPT atau di atas IR.
Nilai (c) dan (d) tidak bergantung kepada kerja otot. Arus puncak pada fase
ekspirasi biasanya teijadi bersamaan dengan Vmax25, sedang pada fase inspirasi
bersamaan dengan Vmax 50.Untuk menilai fungsi dinamik paru ini juga diperlukan
nilai pembanding dan nilai duga. Nilai duga juga ditentukan berdasarkan tinggi, umur
dan jenis kelamin.11
2.3.6.Fungsi Perfusi11
Perfusi ialah pemberian cairan/darah ke jaringan tubuh. Perfusi paru
bergantung kepada keutuhan fungsi pembuluh darah paru. Di dalam paru terdapat kirakira 6 ribu juta kapiler dan 300 juta alveoli. Berarti tiap alveoli mempunyai kira-kira
2000 kapiler. Dalam keadaan istirahat, hanya 25% dari kapiler tersebut diperfusi.
Kebutuhan darah yang meningkat ditampung dengan mengerahkan kapiler yang belum
diperfusi dan dengan dilatasi kapiler. Dengan demikian paru mempunyai kapasitas
cadangan peredaran darah yang sangat besar. Peredaran darah paru adalah suatu sistem
peredaran darah dengan tekanan rendah. Maka dengan kapasitas cadangan yang
besarini peningkatan curah jantung beberapa kali lipat tidak banyak meningkatkan
tekanan darah. Peningkatan tekanan arteria pulmonalis hanya akan timbul bila terjadi
pengurangan daya tampung atau peningkatan tahanan sistem peredaran darah paru
secara nyata. Kenyataan ini memungkinkan dilakukannya operasi pembuangan
sebagian paru, bahkan satu paru sekalipun.
Untuk keberhasilan proses difusi antara alveoli dan darah, tidak saja diperlukan
ventilasi yang merata dan mencukupi, tetapi juga perfusi daerah paru yang merata dan
mencukupi. Dan karena perfusi ini bergantung kepada sistem peredaran darah paru,
maka pemeriksaan fungsi sistem peredaran darah paru sebagai bagian dari uji faal paru
merupakan suatu kewajaran.
1. Pemeriksaan fungsi sistem peredaran darah paru.
Parameter untuk menguji faal sistem peredaran darah paru diantaranya ialah :

Arus darah kapiler paru (Pulmonary Capillary Blood Flow).


Tekanan Arteria Pulmonalis.

42

Jumlah darah dalam kapiler paru (Pulmonary Capillary blood Volume).


Tekanan darah kapiler paru.
Gangguan fungsi sistem peredaran darah paru dapat terjadi misalnya oleh

penyakit paru yang menimbulkan obliterasi atau penekanan pembuluh darah, atau
oleh penyakit primer pembuluh darah paru, misalnya arteritis, trombosis, sklerosis
dan emboli.
2. Pemeriksaan perbandingan ventilasi (V) dan arus darah (Q)
(Ventilation/Bloodflow ratio = V/Q).
Yang penting di sini ialah V/Q regional. Untuk keperluan ini sekarang di
Indonesia

mungkin

dapat

dikembangkan

pemeriksaan

Pulmonary

Scintiphotography, yaitu suatu scanning paru dengan radioisotop. Pemeriksaan ini


dapat menggantikan pemeriksaan bronkospirometri yang ditujukan untuk
menentukan fungsi paru regional.
2.3.7.Fungsi Difusi11
Difusi ialah berpindahnya partikel-partikel zat dari suatu kompartemen ke
kompartemen yang lain oleh tenaga yang dimiliki oleh partikel-partikel itu sendiri.
Dalam pernapasan, difusi biasanya diartikan berpindahnya partikel-partikel gas dari
alveoli ke dalam sel darah merah (O 2) atau dari dalam sel darah merah ke alveoli
(CO2). Dan juga dari dalam sel darah merah ke dalam sel-sel jaringan (O 2) dan dari
dalam sel jaringan ke dalam sel darah merah (CO2).
Di dalam tubuh, kecepatan difusi bergantung kepada beberapa hal, di antaranya
ialah :
1. Selisih tekanan bagian masing-masing gas yang berdifusi diantara kompartemenkompartemen.
Gas berdifusi dari tempat yang tekanan bagiannya tinggi, ke tempat yang
tekanan bagiannya rendah. Untuk oksigen, dari alveoli ke darah dan kemudian ke sel
jaringan. Tekanan bagian oksigen di jaringan selalu rendah karena oksigen yang
sampai ke jaringan dipakai untuk pembakaran. Dalam proses pembakaran di dalam
sel, karbondioksida selalu terbentuk sehingga tekanan bagian CO2 di dalam sel
tinggi, dan ini dikeluarkan dengan proses difusi. Jadi CO 2 berdifusi dari sel jaringan
ke darah, kemudian ke alveoli.
Untuk kepentingan uji faal paru, hal-hal yang perlu di periksa ialah :

43

a) Susunan udara alveoli, yaitu tekanan bagian O 2 (PAO2), dan tekanan bagian
CO2 (PACO2).
Tekanan udara alveoli dapat dianggap sama dengan tekanan barometer. Di
dalam alveoli terdapat gas N2, H2O, O2 dan CO2. Tekanan barometer, tekanan
bagian N2 dan H2O hanya bervariasi sangat kecil dan dapat dianggap
tetap.Maka nilai (PAO2 + PACO2) juga tetap. Ini berarti bila yang satu naik,
yang lain akan turun, dan sebaliknya.
b) Susunan darah arteria, yaitu tekanan bagian O2 (PaO2). Tekanan CO2 (PaCO2),
kejenuhan O2, selisih PAO2 -- PaO2 setelah bernapas dengan udara dengan
berbagai kadar O2, dan pH.
1. Jarak yang harus ditempuh oleh partikel yang berdifusi.
2. Sifat membran dan daya larut partikel yang akan berdifusi di dalam membran
tersebut.
3. Luas permukaan difusi.11
2.3.8. Pengaturan Pernapasan5
Ada dua jenis mekanisme yang mengatur pernapasan; mekanisme saraf dan
mekanisme kimiawi. Karena setiap perubahan frekuensi dan kedalaman pernapasan
ditimbulkan oleh impuls saraf, kita akan membahas mekanisme saraf lebih dahulu.
1.Pengaturan Saraf
Pusat pernapasan terletak di medulla oblongata dan pons, yang merupakan
bagian batang otak. Medula merupakan pusat inspirasi dan ekspirasi.5
Pusat respirasi merupakan kelompok neuron luas terletak di substansia retikuler
medula oblongata dan pons terdiri dari pusat apnestik, area pneumotaksis, area
ekspiratori dan area inspiratori. Diafragma diinervasi oleh nervus frenikus yang keluar
dari akar saraf C3-5. Trauma servikal di atas C5 akan mengganggu pernapasan spontan
karena selain nervus frenikus juga saraf interkostal terkena.1
Perangsangan nervus vagus akan menyebabkan konstriksi dan sekresi bronkus
via reseptor muskarinik. Sebaliknya perangsangan terhadap simpatis T1-4 akan
menyebabkan dilatasi bronkus via reseptor beta-2. Stimulasi reseptor adrenergik alfa-1
akan menurunkan sekresi.1
Pusat inspirasi secara otomatis membangkitkan impuls dalam irama ritmis.
Impuls ini berjalan sepanjang saraf menuju otot respirasi untuk merangsang
kontraksinya. Hasilnya adalah inhalasi. Saat paru-paru terinflasi, beroreseptor di

44

jaringan paru mendeteksi perengangan ini dan membangkitkan impuls sensorik menuju
medula; impuls ini mulai mendepresi pusat inspirasi. Ini disebut refleks inflasi HeringBauer, yang membantu mencegah paru yang berlebihan.5
Ketika pusat inspirasi terdepresi, terjadilah penurunan impuls yang menuju otot
pernapasan, yang akan berelaksasi untuk menimbulkan ekshalasi. Kemudian pusat
inspirasi aktif kembali untuk memulai siklus pernapasan lain. Ketika dibutuhkan
ekshalasi yang lebih kuat, seperti ketika melakukan latihan, pusat inspirasi
mengaktifkan pusat ekspirasi, yang membangkitkan impuls menuju muskuli
interkostale interni dan muskuli abdominis.
Dua pusat pernapasan di pons yang bekerja dengan pusat inspirasi
menghasilkan irama pernapasan normal. Pusat apneustik memperlama inhalasi, dan
kemudian diinterupsi oleh impuls dari pusat pneumotaksis, yang merupakan salah satu
yang mempengaruhi ekshalasi. Pada pernapasan normal, inhalasi berlangsung satu
sampai dua detik, diikuti oleh ekshalasi yang sedikit lebih lama (dua sampai tiga
detik), yang menghasilkan kisaran normal frekuensi pernapasan antara 12-20 x/menit.5
Kondisi emosi biasanya mempengaruhi respirasi; ketakutan yang tiba-tiba bisa
menyebabkan terengah-engah dan teriakan, dan kemarahan biasanya mempercepat
pernapasan. Pada situasi ini, impuls dari hipotalamus memodifikasi keluaran dari
medula. Korteks serebral mampu mengubah kecepatan atau irama pernapasan kita
secara volunter untuk berbicara, menyanyi, bernapas lebih cepat atau lambat, bahkan
untuk berhenti bernapas sekitar satu sampai dua menit. Namun, perubahan tersebut
tidak bisa terus-menerus, dan medula, pada akhirnya akan mengambil kendali.5
Batuk dan bersin merupakan refleks untuk mengeluarkan iritan dari jalan
napas; medula berisi pusat bagi kedua refleks ini. Bersin dirangsang oleh bahan yang
mengiritasi mukosa hidung, dan batuk dirangsang oleh iritasi pada mukosa faring,
laring atau trakea Kerja refleks pada hakikatnya sama untuk keduanya: suatu inhalasi
diikuti ekshalasi yang dimulai dengan penutupan glotis terbuka tiba-tiba dan ekshalasi
terjadi eksplosif.Batuk akan langsung dikeluarkan lewat mulut, sementara bersin
langsung dikeluarkan lewat hidung.5
Pada batuk, terdapat suatu rangkaian peristiwa otomatis digerakkan oleh
lintasan neuronal medula, menyebabkan efek antara lain: (1) kira-kira 2,5liter udara
diinspirasi; (2)Epiglotis menutup, dan pita suara menutup erat-erat untuk menjerat
udara dalam paru; (3)Otot-otot perut berkontraksi dengan kuat mendorong diafragma,
sedangkan otot-otot ekspirasi lainnya, seperti interkostalis internus, juga berkontraksi
45

kuat, akibatnya tekanan dalam paru meningkat sampai 100 mmHg atau lebih; (4)Pita
suara dengan epiglottis sekonyong-konyong terbuka lebar, sehingga udara bertekanan
tinggi dalam paru meledak keluar, biasanya dengan kecepatan 75-100 mil/jam,
selanjutnya terdapat penekanan kuat pada paru yang menyebabkan bronkus dan trakea
menjadi kolaps sehingga bagian yang tidak berkartilago ini berinvaginasi ke dalam,
akibatnya udara yang meledak tersebut benar-benar mengalir melalui celah-celah
bronkus dan trakea. Udara yang mengalir dengan cepat tersebut biasanya membawa
pula benda asing apapun yang terdapat dalam bronkus atau trakea.8
Refleks bersin sangat mirip dengan refleks batuk kecuali bahwa refleks ini
berlangsung pada saluran hidung, bukan pada saluran napas bagian bawah.Rangsangan
yang menimbulkan refleks bersin adalah iritasi dalam saluran hidung, impuls aferen
berjalan dalam nervus V menuju medula, di mana refleks ini dicetuskan.Terjadi
serangkaian reaksi mirip dengan reflek batuk; tetapi, uvula ditekan, sehingga sejumlah
besar udara dengan cepat melalui hidung, dengan demikian membantu membersihkan
saluran hidung dari benda asing.8
Refleks ekspirasi yang lain adalah menguap. Kebanyakan kita menguap ketika
lelah, tetapi stimulus untuk dan tujuan menguap tidak diketahui dengan pasti. Ada
beberapa kemungkinan, seperti kekurangan oksigen atau akumulasi karbon dioksida,
tetapi yang benar-benar pasti belum diketahui. Demikian juga, kita tidak tahu kenapa
menguap itu menular, tetapi dengan melihat seseorang menguap hamper dipastikan
membuat diri kita juga menguap.5
2.Pengaturan Kimiawi5
Pengaturan kimiawi mengacu pada efek pernapasan terhadap pH darah dan
kadar oksigen dan karbon dioksida dalam darah. Kemoreseptor yang mendeteksi
perubahan dalam gas darah dan pH terletak di korpus karotikus dan aortikus dan di
dalam medula itu sendiri.
Penurunan kadar oksigen darah (hipoksia) dideteksi oleh kemoreseptor di
korpus karotikus dan aortikus. Impuls sensorik dibangkitkan oleh reseptor tersebut lalu
menjalar sepanjang nervus vagus menuju medula, yang berespons dengan meningkat
kedalaman atau frekuensi respirasi (atau keduanya). Respons ini akan membawa lebih
banyak udara memasuki paru-paru sehingga lebih banyak oksigen dapat berdifusi ke
darah untuk memperbaiki keadaan hipoksia.

46

Karbon dioksida akan menjadi masalah jika jumlahnya berlebihan dalam darah,
karena CO2 menurunkan pH ketika bereaksi dengan air untuk membentuk asam
karbonat (suatu sumber ion H+). Artinya, kelebihan CO2 menyebabkan tubuh atau
cairan tubuh lain menjadi kurang alkalis (atau lebih asam). Medula berisi kemoreseptor
yang sangat sensitive terhadap perubahan pH, khususnya penurunan pH. Jika di
akumulasi CO2 menurunkan pH darah, medula merespons dengan meningkatkan
respirasi. Ini tidak untuk tujuan inhalasi, tetapi lebih untuk ekshalasi lebih banyak CO 2
guna meningkatkan pH kembali ke normal.
Oleh karena itu, karbon dioksida pasti merupakan pengatur utama respirasi, dan
alasannya ialah bahwa karbon dioksida mempengaruhi pH darah. Sebagaimana telah
disebutkan, kelebihan CO2 menyebabkan penurunan pH darah, suatu proses yang tidak
boleh dibiarkan. Oleh karena itu, peningkatan CO2 darah secara cepat dikompensasi
oleh peningkatan pernapasan untuk mengeluarkan lebih banyak CO2.
Pada beberapa keadaan, oksigen menjadi pengatur utama respirasi. Pertukaran
oksigen dan karbon dioksida di paru-paru pada orang yang mengalami penyakit paru
kronis yang parah seperti emfisema telah menurun. Penurunan pH yang disebabkan
oleh akumulasi CO2 dikoreksi oleh ginjal, tetapi kadar oksigen darah terus menurun.
Pada akhirnya, kadar oksigen menurun sampai begitu rendah sehingga member
rangsangan sangat kuat untuk meningkatkan frekuensi dan kedalaman pernapasan.5

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Jantung terletak antara dua struktur tulang, sternum dan vertebra,

memungkinkan kita secara manual mendorong darah keluar dari jantung apabila
jantung tidak memompa secara efektif dengan menekan sternum secara berirama,
maneuver ini menakan jantung antara sternum dan vertebra, sehingga darah diperas
seolah-olah jantung sedang berdenyut. Kompresi jantung eksternal ini , yang
merupakan bagian dari Resusitas jantung Paru (RJP), sering berfungsi sebagai tindakan
darurat penyelamatan nyawa sampai terapi yang sesuai dapat diberikan untuk
memulihkan fungsi normal jantung.
47

Jantung terdiri dari 4 katup yaitu katup aorta, katup pulmonaris, katup bicuspid
dan katup mitral dan terdiri dari 4 bilik yaitu Atrium kanan,atrium kiri, ventrikel kanan
dan ventrikel kiri. Dan juga memiliki sistem listrik atau listrik jantung yaitu: Nodus SA
(sinoatrium), nodus AV (atrioventrikel), Berkas his dan serat purkinje.
Jantung pada dasarnya adalah suatu pompa ganda yang menghasilkan tekanan
pendorong agar darah mengalir melalui sirkulasi sistemik.
Otot jantung diberi oksigen dan nutrien oleh darah yang disalurkan oleh
sirkulasi koroner, bukan oleh darah didalam bilik-biliknya. Alirah darah koroner dapat
terganggu oleh pembentukan plak aterosklerotik, yang dapat menyebabkan penyakit
jantung iskemik yang keparahannya bervariasi dan dari nyeri dada ringan sewaktu
berolahraga sampai serangan jantung yang fatal. Penyebab ateroskleretik tidak
diketahui, tetapi tampaknya rasio kolesterol di dalam plasma berkaitan dengan
lipoprotein berdensitas tinggi (HDL) dibandingkan lipoprotein berdensitas rendah
(LDL) merupakan faktor penting.
Walaupun semua darah melewati jantung, otot jantung tidak mampu
mengektrasi O2 dari darah yang terdapat di bilik-biliknya. Otot jantung menerima
sebagian besar pasokan darahnya sewaktu jantung dalam keadaan ditasol.
Pada waktu normal otot jantung tetap menerima darah yang adekuat untuk
menunjang aktifitasnya, bahkan ketika berolahraga, saat kecepatan aliran darah
koroner meningkat sampai lima kali lipat dibandingkan kecepatanya saat istirahat.
Aliran darah koroner terutama disesuaikan terhadap perubahan kebutuhan jantung akan
oksigen.
Walaupun kurang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan energinya
melalui metabolisme anaerobik dan sangat bergantung pada pasokan O2, Jantung dapat
mentolerir variasi pasokan nutrient yang sangat lebar. Jantung terutama menggunakan
asam lemak bebas dengan tingkat yang lebih kecil, glukosa dan laktat sebagai sumber
bahan bakar. Karena otot jantung terkenal sangat adiktif dan dapat merubah jaluir
metabolisme untuk menggunakan apapun nutrient yang tersedia, bahaya utama dari
gangguan aliran darah koroner bukanlah bahan bakar tetapi defisiensi O2.
Paru-paru sebagai organ perfusi memiliki fungsi utama dalam menyediakan
pertukaran gas terus-menerus antara udara insprasi dan darah pada sirkulasi pulmoner,
memberikan pasokan oksigen dan pengeluaran karbondioksida, yang kemudian
dibersihkan dari paru melalui pernafasan selanjutnya. Keberlangsungan kehidupan
bergantung kepada proses ini menjadi mendasar, saling mendukung, dan efisien,
48

bahkan ketika dihadapkan pada penyakit atau kondisi lingkungan yang tidak
mendukung. Perkembangan lebih lanjut telah menghasilkan berbagai mekanisme
kompleks untuk mencapainya, dimana beberapa diantaranya berkompromi dengan
anetesi. Pemahaman yang baik akan fisiologi pernafasan menjadi esensial untuk
memastikan keselamatan pasien selama anestesi.
3.2

Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan penulis an mahasiswa mampu

memahami dan mengetahui dari letak posisi jantung patu pada tubuh manisia, sirkulasi
jantung, aktivitas listrik jantung, fungsi paru dan lain lain yang berhubungan dengan
aktivitas jantung atau system kardiovaskuler.

DAFTAR PUSTAKA
1. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Ilmu dasar Anestesi in Petunjuk Praktis
Anestesiologi 2nd ed. Jakarta: FKUI; 2009, 3-8.
2. Guyton, A.C., Hall, J.E. (Setiawan Irawati, editor). Buku Ajar fisiologi
Kedokteran, Edisi 9. Jakarta: EGC, 1997, 598-612.
3. Ganong, W.F. (Andita Novrianti, dkk., editor). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran,
Edisi 22. Jakarta: EGC, 2008.
4. Setiadji, V.S., Nur, B.M., Gunawan, B. Uji Faal Paru, dalam: Cermin Dunia
Kedokteran No. 24, 1981 HAL 7-11. (online) (diunduh tanggal 10 september
2015).

Diunduh

dari:

http://www.scribd.com/doc/7493514/cdk-024-

Pernapasan-Kedokteran-Penerbangan

49

5. Nugraha, P. 2010. Fungsi Respirasi pada Anestesi. (online) (diunduh tanggal 10


september 2015). Diunduh dari: http://www.scribd.com/doc/45918855/Fungsi
-Respirasi-Pada-Anestesi.
6. Yustisa, R. dkk. 2010. Anatomi dan Fisiologi Pernapasan. (online) (diunduh
tanggal

12

september

2015).

Diunduh

dari:

http://www.scribd.com/doc/47049677/Anatomi-dan-Fisiologi- Pernapasan.
7. Scanlon, V.C. (Komalasari R., Subekti N.B., Alfrina H., editor). Buku Ajar
Anatomi dan Fisiologi, Edisi 3. Jakarta: EGC, 2006, 315-334.
8. Rita, S. 2010. Sistem Pernapasan. (online) (diunduh tanggal 11 september
2015). Diunduh dari: http://www.scribd.com/doc/47065513/Sistem-Pernapasan.

9. Sibarani, V. 2010. Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan. (online) (diunduh


tanggal

september

2015).

Diunduh

dari:

http://www.scribd.com/doc/40009076/Anatomi-Fisiologi- Sistem-Pernapasan.
10. Anonim. Sistem Pernapasan Manusia(online) (diunduh 10 september 2015).
Diunduh

dari:

http://www.scribd.com/doc/49702384/

Sistem-Pernapasan-

Manusia.

50