Anda di halaman 1dari 15

METODE PENANGKAPAN IKAN

DENGAN PANCING TONDA (Troll Line)

Disusun Oleh :
INDRI NURAENI
ASEP SUTRISNA
GILANG NURHADIANSYAH

230110130006
230110130009
230110130019

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Karena dengan
rahmat dan karunia-Nya penulis diberi kesempatan untuk dapat menyelesaikan
tugas mata kuliah metode penangkapan ikan yang berjudul Metode Penangkapan
Ikan Dengan Pancing Tonda (Troll Line) sesuai dengan waktu yang telah

ditetapkan. Laporan ini berisi mengenai penangkapan ikan dengan menggunakan


pancing tonda sebagai syarat nilai mata kuliah metode penangkapan ikan. Dalam
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang
tergabung kedalam kelompok 9 yang telah membantu dalam menyelesaikan
pembuatan tugas makalah mata kuliah ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan dari
tugas makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritikan dan masukan
kepada dosen serta rekan-rekan supaya penulis dapat membuat tugas yang lebih
baik lagi. Penulis berharap tugas makalah ini dapat memberikan manfaat untuk
kita semua.

Jatinangor, Februari 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Bab

I.

II.

III.
...
...

Halaman
KATA PENGANTAR........................................................................
DAFTAR ISI......................................................................................
PENDAHULUAN..............................................................................
1.1 Latar Belakang...........................................................................
1.2 Tujuan.........................................................................................
1.3 Manfaat.......................................................................................
METODE PENANGKAPAN PANCING TONDA
2.1 Pengertian Pancing Tonda..........................................................
2.2 Deskripsi Pancing Tonda............................................................
2.2.1 Bagian Alat Kapal......................................................................
2.2.2 Alat Bantu Penangkapan............................................................
2.2.3 Pembagian Tugas Crew..............................................................
2.3 Metode Penangkapan.................................................................
2.4 Hasil Tangkapan.........................................................................
2.5 Daerah Penangkapan Ikan..........................................................
SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan.....................................................................................
3.2 Saran...........................................................................................
DAFTAR ACUAN.............................................................................

ii

i
ii
3
3
4
12
13
15
17

21
22
43

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegiatan untuk menangkap ikan-ikan pelagis seperti ikan tongkol
(Thunnus tonggol) yang berkumpul dan bergerombol pada siang hari begitu sulit
dikarenakan ikan ikan ini selalu bergerak (migrasi) dengan lincah dan gesit pada
areal yang luas. Selain ikan tongkol adapula jenis ikan lainnya diantaranya ikan
Lemadang (Coryphaena hippurus), Alu-alu (Sphyraena forsteri), Madidihang
(Neothunnus albacora), Layaran (Histiophorus orientalis) dan sejumlah spesies
cucut.
Perairan yang berada disekitar rumpon laut dalam adalah baik sekali untuk
melakukan penangkapan ikan-ikan pelagis dengan tonda. Pada kenyataannya
rumpon tidak hanya diperuntukkan untuk mengumpulkan ikan yang dapat
ditangkap sekaligus banyak (pukat cincin), tapi juga dapat pancing tegak
(vertikal line) atau BPPI semarang menyebutnya dengan pancing ulur (Baithur
syarif) juga pancing tonda (trolling).
Pancing tonda telah meningkat menjadi alat penangkap ikan yang
tergolong elit. Trolling banyak dilakukan oleh para orang-orang kaya pencinta
lautan yang ingin membuktikan dirinya lebih kuat dari ikan (lahan bagus untuk
usaha pariwisata bahari). Di Indonesia terkenal dengan istilah Popping.
Makalah ini akan membahas tentang tonda yang dapat dioperasikan oleh
para nelayan atau oleh orang-orang yang memiliki hobi dalam menangkap ikan
dengan menggunakan pancing tonda.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar dapat menambah ilmu
pengetahua dan wawasan dalam penangkapan ikan, khususnya :
Mendapatkan pengetahuan mengenai metode penangkapan ikan
dengan menggunakan pancing tonda

Mendapatkan pengetahuan mengenai daerah penangkapan ikan dan


ikan apa saja yang dapat ditangkap dengan pancing tonda

1.3 Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah agar dapat memperoleh
pengetahuan dan memperluas wawasan berfikir khususnya di bidang penangkapan
pada perikanan serta mendapatkan gambaran dan pengetahuan dalam metoda
penangkapan ikan.

BAB II
METODE PENANGKAPAN
PANCING TONDA (Troll Line)
1

Pengertian Pancing Tonda

Gambar 1. Pancing Tonda


Pancing tonda adalah alat penangkap ikan yang terdiri dari seutas tali panjang, mata
pancing, dan umpan serta tidak menggunakan pemberat. Pancing ditarik di belakang perahu
motor atau kapal yang sedang bergerak. Umpan yang dipakai adalah umpan buatan. Pancing
tonda termasuk ke dalam alat penangkap ikan pancing. (Ayodyoa, 1981).
Pancing tonda dikenal dengan nama kap Tunda,pancing Irid,pancing
pengencer,pancing pemalesan,pancing klewer dan masih banyak nama-nama daerah
lainnya. Alat penangkap ikan pancing tonda termasuk ktif, terdiri dari tali, mata pancing,
swivel dan umpan buatan yang juga berfungsi sebagai pemberat yang di tarik di atas kapal.
Pancing tonda diklasifikasikan kedalam alat tangkap pancing (Subani dan Barus 1989).
Pancing tonda terdiri dari 2 komponen utama, yaitu tali (line), mata pancing (hook), kilikili (swivel), tali kawat (stainles steel), dan umpan. Tali pancing biasanya terbuat dari bahan
benang katun, nylon, atau polyethylen. Mata pancing dibuat dari kawat baja, kuningan atau
bahan lain yang anti karat. Jumlah mata pancing yang terdapat pada setiap perangkat pancing
bisa tunggal atau ganda, tergantung jenis pancingnya. Ukuran mata pancing yang digunakan
tergantung jenis pancingnya. (Sub

6
ani dan Barus, 1989)
Mata pancing yang digunakan bernomor 4, 5, dan 6. Ukuran pancing nomor 4 tinggi 6,5
cm dengan lebar 2,8 cm. Mata pancing nomor

5 tinggi 5,6 cm dengan lebar 2,5 cm. Sedangkan untuk mata pancing nomor 6 tinggi 5,2 cm
dengan lebar 2,2 cm. (Nugroho, 2002). Parameter utama dari pancing tonda adalah ukuran
mata pancingnya.
2

Deskripsi Pancing Tonda

2.2.1 Bagian Alat Kapal


Secara umum perahu atau kapal yang digunakan pada pancing tonda adalah perahu
motor tempel jenis congkreng. Perahu terbuat dari kayu sengon. Perahu pancing tonda
dilengkapi dengan kayu penyeimbang pada sisi kiri dan sisi kanan. Perahu digunakan untuk
mengangkut tenaga kerja dan membawa hasil tangkapan. (Nugroho, 2002). Kayu
penyeimbang inilah yang disebut kincang. Kincang terbuat dari bambu atau kayu, dengan
panjang 6 m dan lebar 4 m. (Nugroho, 2002). Sedangkan untuk Kontruksi pancing tonda
terdiri dari mata pancing (hook), tali pancing, rol penggulung, kili-kili (swivel) dan umpan
buatan (Sukandar, 2007 dalam Sulandari, 2011).

Gambar 2. Bagian Kapal Pancing Tonda


Keterangan (gambar 2) :
1 Boom; 2: Labrang; 4: Hand reel line; 5: Tali yang dipasang tetap pada boom untuk
mengikatkan tali pengaman; 6. Kotak penyimpan hasil tangkapan; 7: Kotak tempat
7

8
membunuh ikan; 8: Lazy line; 9: Backing

cord;

10:

Kili-kili;

11:

Tali utama; 12:

papan penenggelam; 13: Umpan; 14: Pancing bermata tunggal; 15: Kili-kili; 16: Pemberat;
17: Trace; 18:Cincin; 19: Umpan buatan (lure); 20: Pancing bermata ganda; 21: Pancing
bermata tiga.
a. Mata Pancing
Mata Pancing terdiri dari dua komponen utama, yaitu tali (line) dan mata pancing (Hook).
Tali pancing biasanya terbuat dari benang katun, nylon, polyethylen dan lain-lain. Mata
pancing dibuat dari kawat baja, kuningan atau bahan lain yang anti karat. Umumnya mata
pancing tersebut berkait balik, namun ada juga yang dibuat tanpa kait balik. Jumlah mata
pancing yang terdapat pada setiap perangkat pancing bisa tunggal atau ganda, tergantung
jenis pancingnya. Ukuran mata pancing umumnya bervariasi dan disesuaikan dengan ukuran
ikan sasaran (subani dan Barus, 1989). Menurut gunarso dalam (1989) dalam Nugroho
(2002), pada satu kapal di operasikan sejumlah tali pancing tonda, masing-masing tali
pancing tonda itu dapat terdiri dari sejumlah mata pancing, masing-masing mata pancing
tersebut ditautkan pada tali-tali pancing tonda tersebut.
b. Tali Pancing
Tali pancing tonda terdiri dari tali utama (Main Line), tali cabang (Branch Line). Tali
utama yang digunakan adalah ukuran nomor 500 dengan panjang 20 25 m. Sedangkan
untuk branch line memiliki ukuran nomor 200 300 dengan panjang 8 10 m. Tali pancing
terbuat dari benang senar (PA. Monofilamen). Selain itu adapula bahan-bahan lain yang
digunakan sebagai bahan untuk tali pancing tertera pada tabel 1.
Tabel 1. Bahan Yang Digunakan Tali Pancing Tonda
Bahan
senar
(PA.
Monofilamen).

Keunggulan

Kelemahan

Multi
strand
(3-ply) Nylon
monofilemaen
t

1Mudah dipegang (tidak


terlalu licin)
2Elastis pada tarikan normal.
Tidak mudah kusut

1 Kuat sesuai dengan


diameternya.
2 Murah dan mudah didapat, dan tersedia di
pasaran dalam berbagai
ukuran diameter.

Kaku, mudah
putus dan kusut
dan mudah
tertekuk sulit
untuk digulung

Pada panjang yang sama


memerlukan ruang
penyimpanan yang jauh
lebih luas

Twine, cord atau


rope Polyethylene

1 Biasanya lebih murah


dari monofilament
2 Tidak memipih saat
memperoleh tekanan

Mudah putus
dan
Lebih cepat rusak
dibanding dengan
nylon

Piano
wire
(wire leader)

1 Kuat sebanding dengan


diameternya
2 Tersedia di pasaran dalam
berbagai ukuran
3 Tidak mudah putus

1 Tidak elastis
2 Rapuh
3 Mudah putus
jika sudah
tertekuk

c. Kili-kili
Kili kili yang dipakai adalah jenis biasa (terbuat dari baja) dan ukurannya kurang lebih
4 cm. Tipe swipel adalah jenis Borrel swivel.
d. Penggulung Tali Pancing
Penggulung yang digunakan dalam pancing tonda terbuat dari kayu. Fungsi
rolpenggulung adalah untuk menggulung benang senar yang digunakan

untuk

rol

penggulung yang digunakan dalam. Fungsi rol tali pancing. dengan penggulung ini tali
pancing menjadi rapi dan tidak mudah terpuntal, setelah melakukan setting maupun
setelah hauling.
e. Umpan
Umpan merupakan faktor yang sangat penting di dalam usaha penangkapan ikan
menggunakan alat tangkap pancing tonda, sebab umpanlah satu-satunya alat perangsang agar
ikan dapat mencapai mata pancing (Ayodhoya, 1981). Umumnya ikan mendeteksi adanya
umpan melalui reseptor yang dimilikinya dan hal ini bergantung pada jenis reseptor tertentu
yang mendominasi pada jenis ikan tersebut. Oleh karna itu, memilih umpan disesuaikan
dengan kesukaan makan ikan sasaran, dengan mempertimbangkan kemampuan ikan
mendeteksi makanan. Pada umumnya umpan dibagi menjadi dua golongan yaitu umpan asli
dan umpan palsu (buatan). Di Indonesia, untuk menonda jarang sekali digunakan umpan asli,
karena umpan asli akan mudah lepas atau rusak oleh gerakan air selama proses penangkapan
ikan berlangsung. Gunarso (1998) dalam Nugroho (2002).
Umpan buatan yang digunakan banyak berasal dari bulu ayam yang halus, yaitu bulu
yang terdapat pada dibagian leher dan ujung ekor saja. Bulu ayam yang digunakan biasanya

10
berwarna putih. Selain umpan buatan dari bulu ayam, juga ada yang terbuat dari tali rafiah
dan bahan plastik.
Pada umumnya umpan yang digunakan pancing tonda adalah umpan buatan atau umpan
tiruan. Umpan tiruan tersebut banyak terbuat dari bulu ayam yang halus (chicken feaders),
bulu domba (sheep wools), bahan dari plastik berbentuk miniatur menyerupai bentuk aslinya
(misal : cumi-cumi, ikan). (Subani dan Barus, 1989).

f. Pelampung
Pelampung yang digunakan pada nelayan pancing tonda di wilayah Pelabuhan ratu
berupa drum atau dirigen. Ukuran drum yang banyak digunakan oleh nelayan tersebut yaitu
35 x 10 x 25 cm. Adapun penggunaan pelampung ini hanya sebatas sebagai alat penggulung
apabila pancing tonda tidak dioperasikan. (Gunarso, 1985).
2.2.2 Alat Bantu Penangkapan
a.

Rumpon

Alat bantu penangkapan pada pancing tonda adalah rumpon. Rumpon merupakan alat
bantu

penangkapan

yang

digunakan

dalam

pengoperasian

unit

penangkapan

ikan handline dan pancing tonda. Terutama pada unit penangkapan ikan di Teluk Palabuhan
ratu (Inizianti, 2010). Definisi rumpon menurut Kepmen Kelautan dan Perikanan No. Kep
30/MEN/2004adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan di perairan
laut. Penggunaan dan penelitian rumpon untuk memikat ikan sudah dimulai sejak tahun
1900-an. Rumpon biasanya dijadikan alat bantu penangkapan karena alat ini hanya dijadikan
sebagai tambahan yang digunakan sabagai pengumpul ikan pada suatu tempat alat titik untuk
kemudian dilakukan operasi penangkapan berdasarkan alat tangkap yang dikehendaki
(Subani, 1986).
Prinsip suatu penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu rumpon adalah untuk
mengumpulkan ikan, sehingga nantinya ikan akan lebih mudah ditangkap. Diduga ikan
tertarik dan berkumpul disekitar rumpon karena rumpon berfungsi sebagai tempat untuk
berlindung dan mencari makan. Adanya ikan disekitar rumpon menciptakan suatu hubungan
makan dan dimakan, dimulai dengan tumbuhnya bakteri dan mikroalga sejak rumpon
dipasang diperairan (Subani, 1986 dalam Octavianus, 2005). Ada beberapa alasan mengapa
ikan senang berada di sekitar rumpon (Sudirman dan Mallawa, 2004 dalamWahyudin, 2007) :

10

Rumpon tempat berkumpulnya plankton dan ikan kecil lainnya sehingga mengundang

ikan-ikan yang lebih besar untuk tujuan feeding.


Merupakan suatu tingkah laku dari berbagai jenis ikan untuk berkelompok disekitar
kayu terapung seperti jenis-jenis tuna dan cakalang. Dengan demikian, tingkah laku
ini dimanfaatkan untuk tujuan penangkapan.
Selain itu kepadatan gerombolan ikan pada rumpon diketahui oleh nelayan

berdasarkan buih atau gelembung-gelembung udara yang timbul di permukaan air, warna air
yang gelap karena pengaruh gerombolan ikan atau banyaknya ikan kecil yang bergerak di
sekitar rumpon. Tujuan penggunaan rumpon di lingkungan perairan laut menurut Agus,
2005 dalam Wahyudin, 2007 adalah :

Meningkatkan produksi perikanan


Meningkatkan produksi perikanan komersial
Lokasi produksi akuakultur
Lokasi rekreasi pancing
Mengontrol daya recruitment sumberdaya ikan
Posisi rumpon yang terbaik adalah tempat yang dikenal sebagai lintasan ruaya ikan,

daerah upwelling, water fronts, arus eddy, dasar perairan yang datar, tidak dekat dengan
karang dan berada di ambang suatu palung laut (Desan, 1982 dalam Sianipar, 2003).
b. Konstruksi Rumpon
Adapun konstruksi rumpon yang digunakan sebagai alat bantu tangkap adalah sebagai
berikut :

Pelampung (float); mempunyai kemampuan mengapung yang cukup baik (bagian


yang mengapung di atas 1/3 bagian), konstruksi cukup kuat, tahan terhadap

gelombang, mudah dikenali dari jarak jauh dan bahan pembuatnya mudah diperoleh.
Pemikat (Attractor); mempunyai daya pikat yang baik terhadap ikan, tahan lama,
mempunyai bentuk seperti posisi potongan vertikal dengan arah ke bawah dan terbuat

dari bahan yang kuat, tahan lama dan murah.


Tali-temali (rope); terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mudah busuk, harga relatif
murah, mempunyai daya apung yang cukup untuk mencegah gesekan terhadap benda-

benda lainnya dan terhadap arus dan tidak bersimpul.


Pemberat (sinker); bahannya murah, kuat dan mudah diperoleh serta masa jenisnya
besar, permukaannya tidak licin dan dapat mencengkram.
c. Mekanisme Pengumpulan Ikan dengan Rumpon

11

12
Rumpon

merupakan

suatu tropic

level yang

lengkap

yang

terdiri

atas fitoplankton sebagai produsen sampai dengan predator sebagai konsumen. Oleh karena
itu, berbagai jenis ikan tertarik untuk berkumpul disekitar rumpon, mulai dari ikan pelagis
kecil sampai ikan pelagis besar yang didominasi oleh tuna dan cakalang (Monintja dan
Zulkarnain, 1995 dalam Ardianto, 2005).
Menurut Bergstrom (1983) dalam Imawati (2003) rumpon merupakan suatu arena
makanan. Awal terjadinya arena tersebut adalah timbulnya bakteri dan mikroalga ketika
rumpon pertama kali dipasang. Makhluk renik tersebut bersama hewan-hewan kecil menarik
perhatian ikan pelagis ukuran kecil. Terakhir adalah giliran ikan pelagis kecil yang akan
memikat ikan pelagis besar sehingga di sekitar rumpon didapatkan adanya gerombolan ikan
yang datang untuk keperluan makan.
2.2.2 Pembagian Tugas Crew
Jumlah nelayan yang diperlukan untuk pengoperasian alat tangkap ini tergantung dari
besar kecilnya kapal atau perahu yang digunakan. Untuk perahu berukuran kecil biasnya
digunakan tenaga nelayan sebanyak 4-6 orang dengan satu orang sebagai nahkoda yang
merangkap menjadi fishing master, satu orang menjadi juru mesin, 2-4 orang ABK (Anak
Buah Kapal) yang masing-masing mengoperasikan satu atau lebih pancing tonda sekaligus
(Gunarso, 1985).
3

Metode Penangkapan
Pengoprasian pancing tonda diawali dengan tahap persiapan. Tahap persiapan terbagi

atas dua hal, yaitu persiapan di darat seperti pengisian dan pengecekan alat tangkap dan
pengecekan alat bantu penangkapan. Sedangkan untuk persiapan di laut, hal yang harus
diperhatikan adalah pengaturan tali pancing adalah gulungn tali pada posisi yang telah
ditentukan agar tali pancing tidak mudah terbelit.
Pengoperasian pancing tonda dimulai dari pagi hari sampai sore hari antara pukul
15.00-17.00. Proses penangkapan diawali dengan scouting pencarian gerakan ikan sebagai
tanda bahwa lokasi tersebut terdapat banyak ikan. Setelah itu pancing tonda mulai melakukan
pemasangan alat tangkap (setting) dengan mengulur agar tangkap perlahan-lahan ke perairan
dan mengikat ujung tali pada salah satu ujung kanan atau kiri perahu dengan jarak tertentu
dan kecepatan perahu dinaikkan sekitar 1-2 knot. Setelah setting selesai dilakukan, kecepatan
peahu dinaikkan sampai 4 knot dan perahu dijalankan ke arah kumpulan ikan.

12

Umpan yag berada di sisi kanan dan kiri perahu akan bergerak-gerak seperti ikan
mangsa. Saat ikan memakan umpan, laju perahu dipercepat agar ikan yang memakan umpan
tersangkut pada kail. Ikan yang tersangkut tersebut kemudian diangkat dan kecepatan perahu
mulai diturunkan untuk melakukan setting kembali pada kail yang telah dimakan ikan. Proses
tersebut berlangsung secara terus-menerus sampai hasil tangkapan yang didapat dirasa sudah
cukup banyak untuk dibawa kedarat.
4

Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan utama pancing tonda adalah ikan tongkol (Auxis sp.), ikan cakalang

(Katsuwonus pelamis), ikan tenggiri (Scomberomorus spp.), Pari (Dahsyatis sp.), cucut botol
(carcharinus sp.), madidihang (Thunnus albacora), tuna mata besar (Thunnus obsesus), tunas
sirip biru(Thunnus maccoyii), ikan pedang (Xipias gladias), setuhuk hitam (Makaira indica),
setuhuk putih (Makaira masara).
5

Daerah Penangkapan Ikan


Pancing tonda lapisan perairan atas hampir terdapat dimana-mana, untuk tonda lapisan

dalam terutama di sekitar selat Alas, Muna-Buton dan beberapa daerah perikanan Indonesia
Timur. Sedangkan untuk lapisan permukaan dasar banyak digunakan di daerah Jawa Tengah.
(Subani dan Barus, 1989). Selain itu juga, dalam melakukan pengoprasian pada tonda relatif
mudah untuk menangkap ikan permukaan. Adapun untuk penangkapan ikan pelagis besar,
alat tonda ini masih belum umum digunakan karena sasaran tangkap jauh lebih dalam dari
pada operasi pancing tonda. Walaupun menggunakan sistem pemberat, papan selam atau
tabung selam dan dikombinasikan dengan perhitungan kecepatan kapal, maka dari operasi
kedalaman dari pancing dapat di atur mendekati swimming layer ikan tuna. Sehingga alat
tangkap pancing tonda sangat memungkinkan untuk menangkap ikan tuna. (Wijaya, 2012).
Menurut Samsudin 2011, daerah penangkapan ikan dengan menggunakan pancing
tonda merupakan daerah dimana oprasi penangkapan ikan berlangsung yang diduga tempat
ikan-ikan bergerombol, biasanya daerah yang menjadi sasaran tangkapan adalah daearh
dimana terdapat ikan tuna yaitu pertemuan antara 2 arus yang terjadi, tempat terjadinya
Upwelling, konvergensi, dan divergensi yang merupakan daearh berkumpulnya plankton,
perairan yang memiliki salinitas 34%, temperatur optimum berkisar anatar 150C-300C
pancing tonda juga di operasikan di daerah tempat ikan-ikan pelagis. Pancing tonda
dioprasikan dibeberapa daerah seperti india, pelabuhan ratu, teluk lampung, banda aceh dan
lain-lain.
13