Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
Martha Tilaar mejadi salah satu perusahan kosmetik paling banyak
dikenal dikalangan masyarakat indonesia bahkan menjadi ikon lokal
dimata dunia, membuat produk seperiti sariayu bisa dikatakan sebagai
salah satu produk yang paling banyak dikenal bahkan sudah tidak asing
lagi didengar bagi masyarakat, khusus indonesia. Dengan berbagai
produk kecantikan yang terbukti kualitasnya serta berbagai inovasinya
yang tidak ada hentinya.
Founduction dikenal sebagai jenis kosmetik untuk perawatan kulit
yang dikenal dengan alas bedak sebagai dasar tata rias wajah dimana
dimaksudkan kedalam kelompok kosmetika untuk pemiliharaan atau untuk
perawatan kulit agar kulit menjadi bersih, sehat, terlindung dari kekeringan
baik panas matahari maupun dingin dengan memberikan tekstur kulit
lembut dan menarik.
founduction cair merupakan sedian alas bedak berbentuk cair atau
liquid yang bertujuan memberikan kesan ringan pada wajah dan dapat
menutupi jerawat jerawat kecil.
CPOB suatu sistem yang menjamin obat dibuat secara konsisten,
memenuhi persyaratan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dan
sesuai penggunaanya dimana PT Martina Berto Tbk terdaftar pada CPKB
(cara pembuatan kosmetik yang baik) pada tahun 2012. Sedangkan PT

Bio Farma Tbk Menerapkan aspek CPOB (cara pembuatan obat yang
baik) pada tahun 2012.
Tujuan dilakukannya

praktek kerja lapangan

industri untuk

menambah pengetahuan dan keterampilan mahasiswa cara pembuatan


kosmetik maupun vaksin dan antisera yang baik di industri farmasi, serta
praktek kerja lapangan industri ini memberikan gambaran untuk dapat
melihat,

mengetahui

menerima

dan

menyerap

sistem

pelayanan

kesehatan dan cara pemilihan kosmetik yang sesuai agar ilmu yang
didapatkan

dapat

diapliasikan

dengan

melihat

secara

langsung

pembuatan kosmetik yang baik maupun vaksin dan antisera dengan


melakukan kunjungan kepabrik-pabrik atau industri farmasi.

BAB II
GAMBARAN UMUM
II.1 Sejarah Singkat Pabrik
A. PT Martina Berto Tbk
Dr. Martha Tilaar mengawali usaha dengan membuka salon
kecantikan pada tahun 1970 digarasi kediaman orang tuanya yang
berukuran empat kali enam meter selain itu beliau menimba ilmu
diamerika, setelah sukses dalam bisnis salon kecantikan beliau
menidirikan sekolah kecantikan di bawah bendera PT Martha
Beauty Gallery. Kesuksesan tersebut mendorong beliau memulai
memproduksi kosmetik dan jamu dan akhirnya mendirikan PT
Martina Berto pada tanggal 1 juni 1997.
B. PT Bio Farma Tbk
Pada tanggal 6 Agustus 1890 Bio Farma berdiri dengan
nama Parc Vaccinogene merupakan tonggak sejarah awal
berdirinya perusahaan vaksin dan sera di indonesia. Setelah
hampir berdiri selama 20 tahun berstatus sebagai peru, melalui
Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1997, nama perusahaan
kembali berubah dari Perum Bio Farma menjadi Perusahaan
Perseroan (Persero) atau lebih dikenal dengan nama PT Bio Farma
(Persero) sampai dengan saat ini.

II.2 Arti Logo

Martha Tilaar memiliki warna pokok logo yaitu warna emas. Arti dari
warna emas ini adalah kekayaan. Maksud dari kekayaan ini adalah
agar Martha Tilaar Group selalu berja sampai kapanpun. Logo martha
tilaar terdiri dari dua gabungan huruf, yaitu huruf M dan huruf , huruf M
melambangkan

sayap

yang

megembang

sedangkan

huruf

melambangkan bentuk badan burung itu sendiri. Filosofi dari logo


tersebut adalah agar Martha Tilaar Group seperti yang selalu terbang
keatas dengan sayap yang mengembang yang melambangkan
kejayaan.erak dibidang vaksin dan serum.

Arti logo Pt Bio Farma Tbk yaitu warna dominan hijau secara
psikologi menyiratkan suatu nilai higienitas dan kesehantan. Jingga
dan kuning secara terpadu menyiratkan semangat progresif dan
keberanian agar berinofasi agar selalu menjadi terdepan. Logo
tersebut merupakan adaptasi bentuk pencitraan dari Crystalprotein
dan Glicoprotein hal tersebut mereflesikan bahwa biofarma adalah
sebuah perusahaan dibidang vaksin dan serum. Mencitrakan ilusi
pendar bintang (Sparkling), dalam hal ini pendar bintang yang
dimaknai sebagai semngat dan dinamika biofarma yang memiliki
masa

depan yang cemerlang. Warna dominan hijau ini yang

mengartikan bahwa secara psiologis menyiratkan suatu nilai higenitas


dan kesehatan. Warna jingga dan kuning secara terpadu menyiratkan
semangat progresif dari keberanian untuk berinofasi agar selalu
menjadi yang terdepan.
II.3 Visi Misi
PT Martina Berto
Visi
menjadi

perusahaan

perawatan

kecantikan

dan

spa

yang

terkemuka didunia dengan produk yang bernuansa ketimuran dan


alami, melalui pemanfaatan teknologi moderen, penelitian dan
pengembangan sebagai sarana peningkatan nilai tambah bagi
konsumen dan pemangku kepentingan lainnya
Misi

1. Mengembangkan, meproduksi dan memasarkan produk perawatan


kecantikan dan spa yang bernuansa ketimuran dan alami dengan
standar mutu internasional guna memenuhi kebutuhan konsumen
diberbagai segmen pasardari premium, menegah atas, menegah,
dan menegah bawah dalam suatu portofolio yang sehat dan setiap
merek mampu mencapai posisi tiga besar di indonesia disetiap
segmen pasar yang dimasukinya.
2. Menyediakan pelayanan yang prima kepada semua pelanggan
dalam porsi yang seimbang, termasuk konsumen dan para
penyalur produk.
3. Memperthankan kondisi keuangan yang sehat dan pertumbuhan
bisnis.
4. Merekrut, melatih dan mempertahankan tenaga kerja yang
kompeten dan produktif sebagai bagian dari aset perseroan.
5. Memanfaatkan metode operasi, sistem dan teknologi yang esien
dan efektif diseluruh unit dan fungsi usaha.
6. Menerapkam Good Corporate Governance secara konsisten demi
kepentigan para pemangku kepentingan (stakeholders)
7. Memberikan tingkat keuntungan
yang wajar kepada para
pemegang saham
8. Mengembangkan pasar internasional kosmetik produk spa dan
herbal denga fokus jangka menegah dikawasan asia dan fokus
jangka panjang dipasar global dengan produk dan merek pilihan.
PT Biofarma
Visi
Menjadi produsen vaksin dan antisera dam antisera yang berdaya
saing global

Misi
1. Memproduksi memasarkan dan mendistribusikan vaksin dan
antisera

yang

berkualitas

internasional

untuk

kebutuhan

pemerintahan, swasta nasional dan internasional.


2. Mengembangkan inovasi vaksin dan antisera sesuai dengan
kebutuhan pasar.
3. Mengelola perusahaan agar tumbuh dan berkembang dengan
menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance.
4. Meningkatkan kesejahteraan karyawan dan pemegang saham
dengan tetap memperhatikan kepentingan Stakeholders lainnya.
II.4 Sertifikat Sertifikat
A. PT Martina Berto Tbk
1. Penyerahan sertifikat halal dan halal assurance system status
dilakukan pada acara peletakan batu pertama pembangunan
pabrik PT.Martina Berto Tbk-Cikarang,yang diselenggarakan hari
senin 23 april 2012. Sertifikat halal ini diserahkan oleh direktur
LPPOM MUI, bapak Ir. Lukmanul Hakim.,Msi kepada ibu Dr Martha
Tilaar selaku komisaris utama PT Martina Berto,Tbk. Sedangkan
halal assurence status diserahkan oleh sekertaris jendral MUI,
bapak Drs. H. Ichwan.,Sam kepada ibu Dr. Martha Tilaar.
2. Corporate Image Award 2011, Anugrah Business Review 2011.
3. Indonesia Customer Satifaction Award 2011.
4. Social Media Award 2011.
5. Penghargaan PROPER.
6. Indonesia Most Favorite Brand 2011.
7. Choice Brand Award 2011.
8. Top Brand Award 2011.
9. Top Brand For Teens 2011.
10. Marketers Award Indonesia Brand Champion 2011
11. Marketers Award Indonesia Most Favorite Women Brand 2011.
B. PT Bio Farma Tbk

1. pengakuan

WHO

(WHO

recognition),

yaitu

dngan

didapatkannya prakualifikasi WHO untuk produk-produk vaksin


yaitu: Vaksin virus: Polio, Campak, Hepatitis B Uniject dan
mOPV-1 (monovalen Oral Polio Vaccine Tipe 1), Vaksin Bakteri:
Difteri, Pertussis, Tetanus dan Tetanus dalam kemasan sehinga
termasuk dalam daftar WHO prequalified products
2. Sertifiat CPOB (cara Pembuatan Obat yang Baik/GMP-Good
Manufacturing Pratices) dari Badan Pengawasan Obat dan
Makanan RI Sertifikat OHSAS 18001 untuk Pengoelolaan
Keamanan, Keselamatan dan Kesehatan Bekerja dari Lembaga
Sertifikasi LIoyds Register Quality Assuranse Ltd. Singapura.
3. Sertifikat ISO 9001 untuk Sistem Manajemen Mutu dari
Lembaga Sertifikat LIoyds Register Quality Assurance Ltd.
singapura
4. Sertifikat ISO 14001 untuk Sistem Manajemen Lingkungan dari
Lembaga Sertifikat LIoyds Register Quality Assurance Ltd,
singapura.
II. 5 Peranan Aspek CPOB
A. Aspek CPKB (PT Martina Berto Tbk)
1. Personalia
Personalia harus mempunyai pengetahuan, pengalaman,
keterampilan dan kemampuan yang sesuai dengan tugas dan
fungsinya dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Mereka harus
dalam keadaan sehat dan mampu menangani tugas yang
dibebankan kepadanya.
1. Organisasi, Kualifikasi dan Tanggung jawab
a. Dalam struktur organisasi perusahaan, bagian produksi dan
pengawasan mutu hendaklah dipimpin oleh orang yang
berbeda dan tidak ada keterkaitan tanggungjawab satu
sama lain.
b. Kepala bagian produksi harus memperoleh pelatihan yang
memadai dan berpengalaman dalam pembuatan kosmetik.
Ia harus mempunyai kewenangan dan tanggungjawab

dalam

manajemen

produksi

yang

meliputi

semua

pelaksanaan kegiatan, peralatan, personalia produksi, area


produksi dan pencatatan.
c. Kepala bagian pengawasan mutu harus memperoleh
pelatihan yang memadai dan berpengalaman dalam bidang
pengawasan mutu. Ia harus diberi kewenangan penuh dan
tanggungjawab dalam semua tugas pengawasan mutu
meliputi penyusunan, verifikasi dan penerapan semua
prosedur pengawasan mutu. Ia mempunyai kewenangan
menetapkan persetujuan atas bahan awal, produk antara,
produk ruahan dan produk jadi yang telah memenuhi
spesifikasi, atau menolaknya apabila tidak memenuhi
spesifikasi, atau yang dibuat tidak sesuai prosedur dan
kondisi yang telah ditetapkan.
d. Hendaknya dijabarkan kewenangan dan tanggungjawab
personil-personil lain yang ditunjuk untuk menjalankan
Pedoman CPKB dengan baik.
e. Hendaknya tersedia personil yang terlatih dalam jumlah
yang memadai, untuk melaksanakan supervisi langsung di
setiap bagian produksi dan unit pemeriksaan mutu.
2. Pelatihan
a. Semua personil yang langsung terlibat dalam kegiatan
pembuatan harus dilatih dalam pelaksanaan pembuatan
sesuai dengan prinsip-prinsip Cara Pembuatan yang Baik.
Perhatian khusus harus diberikan untuk melatih personil
yang bekerja dengan material berbahaya.
b. Pelatihan CPKB harus dilakukan secara berkelanjutan.
c. Catatan hasil pelatihan harus dipelihara dan keefektifannya
harus dievaluasi secara periodik.
3. Bangunan dan fasilitas
Bangunan dan fasilitas harus dipilih pada lokasi yang
sesuai, dirancang, dibangun, dan dipelihara sesuai kaidah, yaitu
sebagai berikut:

a.

Upaya yang efektif harus dilakukan untuk mencegah kontaminasi

b.

dari lingkungan sekitar dari hama.


Produk kosmetik dan produk perbekalan kesehatan rumah tangga
yang

mengandung

bahan

yang

tidak

berbahaya

dapat

menggunakan sarana dan peralatan yang sama secara bergilir


asalkan dilakukan usaha pembersihan dan perawatan untuk
menjamin agar tidak terjadi kontaminasi silang dan risiko campur
c.

baur.
Garis pembatas, tirai plastik penyekat yang fleksibel berupa tali

d.

atau pita dapat digunakan untuk mencegah terjadinya campur baur.


Hendaknya disediakan ruang ganti pakaian dan fasilitasnya. Toilet
harus terpisah dari area produksi guna mencegah terjadinya

e.

kontaminasi.
Apabila memungkinkan hendaklah disediakan area tertentu, seperti
penerimaan material, pengambilan contoh material, penyimpanan
barang datang dan karantina, gudang bahan awal, penimbangan
dan penyerahan, pengolahan, penyimpanan produk ruahan,
pengemasan, karantina sebelum produk dinyatakan lulus, gudang
produk jadi, tempat bongkar muat, laboratorium, tempat pencucian

f.

peralatan.
Permukaan dinding dan langit-langit hendaknya halus dan rata
serta mudah dirawat dan dibersihkan. Lantai di area pengolahan
harus mempunyai permukaan yang mudah dibersihkan dan

g.

disanitasi.
Saluran pembuangan air (drainase) harus mempunyai ukuran
memadai dan dilengkapi dengan bak kontrol serta dapat mengalir
dengan baik. Saluran terbuka harus dihindari, tetapi apabila

h.

diperlukan harus mudah dibersihkan dan disanitasi.


Lubang untuk pemasukan dan pengeluaran udara dan pipa-pipa
salurannya hendaknya dipasang sedemikian rupa sehingga dapat

i.

mencegah timbulnya pencemaran terhadap produk.


Bangunan hendaknya mendapat penerangan yang efektif dan
mempunyai ventilasi yang sesuai untuk kegiatan dalam bangunan.

j.

Pipa, fitting lampu, lubang ventilasi dan perlengkapan lain di area


produksi harus dipasang sedemikian rupa untuk mencegah
terjadinya ceruk yang sukar dibersihkan dan sebaiknya dipasang di

k.
l.

luar area pengolahan.


Laboratorium hendaknya terpisah secara fisik dari area produksi.
Area gudang hendaknya mempunyai luas yang memadai dengan
penerangan

yang

sesuai,

diatur

dan

diberi

perlengkapan

sedemikian rupa sehingga memungkinkan penyimpanan bahan dan


produk dalam keadaan kering, bersih dan rapi.
m. Area gudang hendaknya harus memungkinkan pemisahan antara
kelompok material dan produk yang dikarantina. Area khusus dan
terpisah hendaklah tersedia untuk penyimpanan bahan yang
mudah terbakar dan bahan yang mudah meledak, zat yang sangat
beracun, bahan yang ditolak atau ditarik serta produk kembalian.
a. Apabila diperlukan hendaknya disediakan gudang
khusus dimana suhu dan kelembabannya dapat
dikendalikan serta terjamin keamanannya.
b. Penyimpanan bahan pengemas / barang cetakan
hendaklah ditata sedemikian rupa sehingga masingmasing tabet yang berbeda, demikian pula bahan
cetakan lain tersimpan terpisah untuk mencegah
terjadinya campur baur
4. Peralatan
Peralatan harus didesain dan ditempatkan sesuai dengan
produk yang dibuat.
1. Rancang Bangun
a. Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan bahan
yang diolah tidak boleh bereaksi atau menyerap bahan.
b. Peralatan tidak boleh menimbulkan akibat yang
merugikan terhadap produk misalnya melalui tetesan oli,
kebocoran katub atau melalui modifikasi atau adaptasi
yang tidak salah/tidak tepat.
c. Peralatan harus mudah dibersihkan.

d. Peralatan yang digunakan untuk mengolah bahan yang


mudah terbakar harus kedap terhadap ledakan.
2. Pemasangan dan Penempatan
a. Peralatan/mesin harus ditempatkan sedemikian rupa
sehingga tidak menyebabkan kemacetan aliran proses
produksi dan harus diberi penandaan yang jelas untuk
menjamin tidak terjadi campur baur antar produk.
b. Saluran air, uap, udara bertekanan atau hampa udara,
harus dipasang sedemikian rupa sehingga mudah
dicapai selama kegiatan berlangsung. Saluran ini
hendaknya diberi label atau tanda yang jelas sehingga
mudah dikenali.
c. Sistem-sistem penunjang seperti sistem pemanasan,
ventilasi, pengatur suhu udara, air (air minum, air murni,
air suling), uap, udara bertekanan dan gas harus
berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuannya dan
dapat diidentifikasi.
3. Pemeliharaan
a. Peralatan untuk menimbang mengukur, menguji dan
mencatat harus dipelihara dan dikalibrasi secara berkala.
Semua

catatan

pemeliharaan

dan

kalibrasi

harus

disimpan.
b. Petunjuk cara pembersihan peralatan hendaknya ditulis
secara rinci dan jelas diletakkan pada tempat yang
mudah dilihat dengan jelas.
4. Sanitasi dan hygiene
Sanitasi dan higiene hendaknya

dilaksanakan

untuk

mencegah terjadinya kontaminasi terhadap produk yang


diolah. Pelaksanaan sanitasi dan hygiene hendaknya
mencakup

personalia,

bangunan,

peralatan serta bahan awal.


a. Personalia
Personalia harus dalam

mesin-mesin

keadaan

sehat

dan

untuk

melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya.

Hendaknya dilakukan pemeriksaan kesehatan secara


teratur untuk semua personil bagian produksi yang

terkait dengan proses pembuatan.


Semua personil harus melaksanakan

perorangan.
Setiap personil yang pada suatu ketika mengidap

higiene

penyakit atau menderita luka terbuka atau yang dapat


merugikan kualitas tidak diperkenankan menangani
bahan baku, bahan pengemas, bahan dalam proses

dan produk jadi.


Setiap personil diperintahkan untuk melaporkan setiap
keadaan (sarana, peralatan atau personil) yang
menurut penilaian mereka dapat merugikan produk,

kepada penyelia.
Hindari bersentuhan langsung dengan bahan atau
produk yang diproses untuk mencegah terjadinya
kontaminasi. Personil harus mengenakan pakaian
kerja, tutup kepala serta menggunakan alat pelindung

sesuai dengan tugasnya.


Merokok, makan-minum, mengunyah atau menyimpan
makanan, minuman, rokok atau barang lain yang
mungkin dapat mengkontaminasi, hanya boleh di
daerah tertentu dan dilarang di area produksi,
laboratorium, gudang atau area lain yang mungkin

dapat merugikan mutu produk.


Semua personil yang diizinkan masuk ke area
produksi harus melaksanakan higiene perorangan

termasuk mengenakan pakaian kerja yang memadai.


b. Bangunan
Hendaklah tersedia wastafel dan toilet dengan
ventilasi yang baik yang terpisah dari area produksi.

Hendaklah tersedia locker di lokasi yang tepat untuk


tempat ganti pakaian dan menyimpan pakaian serta

barang-barang lain milik karyawan.


Sampah di ruang produksi secara teratur ditampung di
tempat sampah untuk selanjutnya dikumpulkan di

tempat penampungan sampah di luar area produksi


Bahan sanitasi, rodentisida, insektisida dan fumigasi
tidak boleh mengkontaminasi peralatan, bahan baku /
pengemas, bahan yang masih dalam proses dan

produk jadi.
c. Peralatan Dan Perlengkapan
Peralatan / perlengkapan harus dijaga dalam keadaan

bersih.
Pembersihan dengan cara basah atau vakum lebih
dianjurkan. Udara bertekanan dan sikat hendaknya
digunakan dengan hati-hati dan sedapat mungkin

dihindari karena menambah risiko pencemaran produk.


Prosedur Tetap Pembersihan dan Sanitasi mesin-

mesin hendaknya diikuti dengan konsisten.


5. Produksi
a. Bahan Awal
1. A i r
Air harus mendapat perhatian khusus karena
merupakan

bahan

penting.

Peralatan

untuk

memproduksi air dan sistem pemasokannya harus


dapat memasok air yang berkualitas. Sistem
pemasokan

air

hendaknya

disanitasi

sesuai

Prosedur Tetap.
Air yang digunakan untuk produksi sekurangkurangnya berkualitas air minum. Mutu air yang
meliputi parameter kimiawi dan mikrobiologi harus
dipantau secara berkala, sesuai prosedur tertulis
dan setiap ada kelainan harus segera ditindak
lanjuti dengan tindakan koreksi.

Pemilihan

metoda

pengolahan

air

seperti

deionisasi, destilasi atau filtrasi tergantung dari


persyaratan produk. Sistem penyimpanan maupun

pendistribusian harus dipelihara dengan baik.


Perpipaan hendaklah dibangun sedemikian rupa
sehingga terhindar dari stagnasi dan resiko

terjadinya pencemaran.
2. Verifikasi Material (Bahan)
Semua pasokan bahan awal (bahan baku dan
bahan

pengemas)

hendaklah

diperiksa

dan

diverifikasi mengenai pemenuhannya terhadap


spesifikasi yang telah ditetapkan dan dapat

ditelusuri sampai dengan produk jadinya.


Contoh bahan awal hendaklah diperiksa secara
fisik

mengenai

pemenuhannya

terhadap

spesifikasi yang ditetapkan, dan harus dinyatakan

lulus sebelum digunakan.


Bahan awal harus diberi label yang jelas.
Semua bahan harus bersih dan diperisa kemasnnya
terhadap kemngkinan terjadinya kebocoran, lubang
atau terpapar.

3. Pencatatan Bahan
Semua bahan hendaklah memiliki catatan yang
lengkap mengenai nama bahan yang tertera pada
label

dan

pada

bukti

penerimaan,

tanggal

penerimaan, nama pemasok, nomor batch dan


jumlah
4. Material Ditolak (Reject)
Pasokan bahan yang tidak memenuhi spesifikasi
hendaknya ditandai, dipisah dan untuk segera
diproses lebih lanjut sesuai Prosedur Tetap.
5. Sistem Pemberian Nomor Bets
Setiap produk antara, produk ruahan dan produk
akhir hendaklah diberi nomor identitas produksi

(nomor

bets)

yang

dapat

memungkinkan

penelusuran kembali riwayat produk.


Sistem pemberian nomor bets hendaknya spesifik
dan tidak berulang untuk produk yang sama untuk

menghindari kebingungan / kekacauan.


Bila memungkinkan, nomor bets hendaknya

dicetak pada etiket wadah dan bungkus luar.


Catatan pemberian nomor bets hendaknya

dipelihara.
6. Penimbangan dan Pengukuran
Penimbangan hendaknya dilakukan di tempat
tertentu

menggunakan

dikalibrasi.
Semua
pelaksanaan
pengukuran

harus

peralatan

yang

penimbangan

dicatat

dan

telah
dan

dilakukan

pemeriksaan ulang oleh petugas yang berbeda.


7. Prosedur dan Pengolahan
Semua bahan awal harus lulus uji sesuai

spesifikasi yang ditetapkan.


Semua prosedur pembuatan harus dilaksanakan

sesuai prosedur tetap tertulis.


Semua pengawasan selama

diwajibkan harus dilaksanakan dan dicatat.


Produk ruahan harus diberi penandaan sampai

dinyatakan lulus oleh Bagian Pengawasan Mutu.


Perhatian khusus hendaknya diberikan kepada

proses

yang

kemungkinan terjadinya kontaminasi silang pada

semua tahap proses produksi.


Hendaknya dilakukan pengawasan yang seksama
terhadap kegiatan pengolahan yang memerlukan
kondisi

tertentu,

misalnya

pengaturan

tekanan, waktu dan kelembaban.


Hasil akhir proses produksi harus dicatat.
8. Produk Kering

suhu,

Penanganan

bahan

dan

produk

kering

memerlukan perhatian khusus dan bila perlu


dilengkapi dengan sistem pengendali debu, atau
sistem hampa udara sentral atau cara lain yang
sesuai.
9. Produk Basah
Cairan, krim, dan lotion harus diproduksi demikian
rupa untuk mencegah dari kontaminasi mikroba

dan kontaminasi lainnya.


Penggunaan sistem produksi dan transfer secara

tertutup sangat dianjurkan.


Bila digunakan sistem perpipaan untuk transfer
bahan dan produk ruahan harus dapat dijamin
bahwa

sistem

yang

digunakan

mudah

di

bersihkan.
10. Produk Aerosol
Pembuatan aerosol memerlukan pertimbangan

khusus karena sifat alami dari bentuk sediaan ini.


Pembuatan harus dilakukan dalam ruang khusus
yang dapat menjamin terhindarnya ledakan atau

kebakaran.
11. Pelabelan dan Pengemasan
Lini pengemasan hendaklah diperiksa sebelum
dioperasikan.

Peralatan

harus

bersih

dan

berfungsi baik. Semua bahan dan produk jadi dari


kegiatan

pengemasan

dipindahkan.
Selama proses

pelabelan

sebelumnya
dan

harus

pengemasan

berlangsung, harus diambil contoh secara acak

dan diperiksa.
Setiap lini pelabelan dan pengemasan harus
ditandai secara jelas untuk mencegah campur
baur.

Sisa

label

dan

bahan

pengemas

harus

dikembalikan ke gudang dan dicatat. Bahan


pengemas yang ditolak harus dicatat dan diproses
lebih lanjut sesuai dengan Prosedur Tetap.
12. Produk Jadi, Karantina dan Pengiriman ke Gudang
Produk Jadi
1. Semua produk jadi harus dikarantina terlebih
dahulu. Setelah dinyatakan lulus uji oleh bagian
Pengawasan Mutu dimasukkan ke gudang produk
jadi. Selanjutnya produk dapat didistribusikan.
6. Pengawasan Mutu
Pendahuluan Pengawasan mutu merupakan bagian penting
dari CPKB, karena memberi jaminan konsistensi mutu produk
kosmetik yang dihasilkan.
1. Hendaknya diciptakan Sistem Pengawasan Mutu untuk
menjamin bahwa produk dibuat dari bahan yang benar,
mutu dan jumlah yang sesuai, serta kondisi pembuatan
yang tepat sesuai Prosedur Tetap.
2. Pengawasan mutu meliputi:
Pengambilan contoh (sampling), pemeriksaan dan
pengujian terhadap bahan awal produk dalam
proses, produk antara, produk ruahan dan produk

jadi sesuai spesifikasi yang ditetapkan.


Program pemantauan lingkungan,

tinjauan

terhadap dokumentasi bets, program pemantauan


contoh pertinggal, pemantauan mutu produk di
peredaran, penelitian stabilitas dan menetapkan
spesifikasi bahan awal dan produk jadi agar

senantiasa memenuhi standar yang ditetapkan.


Pengambilan contoh hendaklah dilakukan oleh
tenaga yang terlatih dan diberi kewenangan untuk
tugas tersebut, guna menjamin contoh yang

diambil senantiasa sesuai dengan indentitas dan


kualitas bets yang diterima
Pengolahan Ulang
1. Metoda

pengolahan

ulang

hendaklah

senantiasa

dievaluasi untuk menjamin agar pengolahan ulang


tidak mempengaruhi mutu produk.
2. Pengujian tambahan hendaklah dilakukan terhadap
produk jadi hasil pengolahan ulang.
Produk Kembalian
1. Produk

kembalian

hendaklah

diidentifikasi

dan

disimpan terpisah di tempat yang dialokasikan untuk


itu atau diberi pembatas yang dapat dipindah-pindah
misalnya pembatas dari bahan pita, rantai atau tali.
2. Semua produk kembalian hendaklah diuji kembali
apabila perlu, disamping evaluasi fisik sebelum
diluluskan untuk diedarkan kembali
3. Produk kembalian yang tidak memenuhi syarat
spesifikasi hendaklah ditolak.
4. Produk yang ditolak hendaklah dimusnahkan sesuai
Prosedur Tetap.
5. Catatan produk kembalian hendaklah dipelihara.
7. Dokumentasi
a. Pendahuluan Sistem dokumentasi hendaknya meliputi
riwayat setiap bets, mulai dari bahan awal sampai
produk jadi. Sistem ini hendaknya merekam aktivitas
yang

dilakukan,

meliputi

pemeliharaan

peralatan,

penyimpanan, pengawasan mutu, distribusi dan hal-hal


spesifik lain yang terkait dengan CPKB.
1. Hendaknya
ada
sistem
untuk

mencegah

digunakannya dokumen yang sudah tidak berlaku.


2. Bila terjadi atau ditemukan suatu kekeliruan dalam
dokumen

hendaknya

dilakukan

pembetulan

sedemikian rupa sehingga naskah aslinya harus tetap


terdokumentasi.

3. Bila dokumen merupakan instruksi, hendaknya ditulis


langkah demi langkah dalam bentuk kalimat perintah.
4. Dokumen hendaklah diberi tanggal dan disahkan.
5. Salinan dokumen hendaklah diberikan kepada pihakpihak yang terkait dan pendistribusiannya dicatat.
6. Semua dokumen hendaknya direvisi dan diperbaharui
secara berkala, dokumen yang sudah tidak berlaku
segera ditarik kembali dari pihak-pihak terkait untuk
diamankan.
b. Spesifikasi
Semua spesifikasi harus disetujui dan disahkan oleh
personil yang berwenang.
Spesifikasi bahan baku dan bahan pengemas
meliputi:
1. Nama bahan.
2. Uraian (deskripsi) dari bahan.
3. Parameter uji dan batas penerimaan (acceptance
limits).
4. Gambar teknis, bila diperlukan.
5. Perhatian khusus, misalnya kondisi penyimpanan

dan keamanan, bila perlu.


Spesifikasi Produk Ruahan dan Produk Jadi
meliputi:
1. Nama produk.
2. Uraian.
3. Sifat-sifat fisik.
4. Pengujian kimia dan atau mikrobiologi serta batas
penerimaannya, bila perlu.
5. Kondisi penyimpanan dan peringatan keamanan,

bila perlu.
c. Dokumen Produksi
1. Dokumen Induk
Dokumen Induk

harus

tersedia

setiap

diperlukan. Dokumen ini berisi informasi :


Nama produk dan kode/nomor produk.
Bahan pengemas yang diperlukan dan kondisi

penyimpanannya.
Daftar bahan baku yang digunakan.

Daftar peralatan yang digunakan.


Pengawasan selama pengolahan
batasan-batasan

dalam

dengan

pengolahan

dan

pengemasan, bila perlu.


2. Catatan Pembuatan Bets
Catatan pembuatan bets hendaklah disiapkan

untuk setiap bets produk.


Dokumen ini berisi informasi mengenai:
1. Nama produk
2. Formula per bets.
3. Proses pembuatan secara ringkas.
4. Nomor bets atau kode produksi.
5. Tanggal mulai dan selesainya pengolahan
dan pengemasan.
6. Identitas peralatan utama, lini atau lokasi
yang digunakan.
7. Catatan pembersihan

peralatan

yang

digunakan untuk pemrosesan.


8. Pengawasan selama pargolahan dan hasil
uji laboratorium, seperti misalnya catatan pH
dan suhu saat diuji.
9. Catatan inspeksi pada lini pengemasan
10. Pengambilan contoh yang dilakukan setiap
tahap proses pembuatan.
11. Setiap investigasi terhadap

kegagalan

tertentu atau ketidaksesuaian.


12. Hasil pemeriksaan terhadap produk yang
sudah dikemas dan diberi label
3. Catatan Pengawasan Mutu
Catatan setiap pengujian, hasil
pelulusan

atau

penolakan

bahan,

uji

dan

produk

antara, produk ruahan dan produk jadi harus

disimpan.
Catatan yang dimaksud meliputi;
1. Tanggal pengujian.
2. Identifikasi bahan
3. Nama petanggal penerimaan.
4. Nomor bets asli dari bahan baku bila ada.

5. Nomor bets produk yang sedang dibuat.


6. Nomor pemeriksaan mutu.
7. Jumlah yang diterima.
8. Tanggal sampling.
9. Hasil pemeriksaan mutu.
8. Audit Internal
Audit Internal terdiri dari kegiatan penilaian dan
pengujian seluruh atau sebagian dari aspek produksi dan
pengendalian mutu dengan tujuan untuk meningkatkan
sistem mutu. Audit Internal dapat dilakukan oleh pihak
luar

.atau auditor profesional atau tim internal yang

dirancang

oleh

manajemen

untuk

keperluan

ini.

Pelaksanaan Audit Internal dapat diperluas sampai ke


tingkat
pemasok dan kontraktor, bila perlu. Laporan harus
dibuat pada saat selesainya tiap kegiatan Audit Internal dan
didokumentasikan dengan baik.
1. Penyimpanan
a. Area Penyimpanan
1. Area penyimpanan hendaknya cukup luas untuk
memungkinkan penyimpanan yang memadai dari
berbagai kategori baik bahan maupun produk, seperti
bahan awal, produk antara, ruahan dan produk jadi,
produk yang dikarantina, dan produk yang lulus uji,
ditolak, dikembalikan atau ditarik dari peredaran.
2. Area penyimpanan hendaknya dirancang

atau

disesuaikan untuk menjamin kondisi penyimpanan


yang baik. Harus bersih, kering dan dirawat dengan
baik. Bila diperlukan area dengan kondisi khusus (suhu
dan kelembaban) hendaknya disediakan, diperiksa dan
dipantau fungsinya.
3. Tempat
penerimaan

dan

pengiriman

barang

hendaknya dapat melindungi material dan produk dari


pengaruh

cuaca.

Area

penerimaan

hendaknya

dirancang dan diberi peralatan untuk memungkinkan

barang

yang

datang

dapat

dibersihkan

apabila

diperlukan sebelum disimpan.


4. Area penyimpanan untuk produk karantina hendaknya
diberi batas secara jelas.
5. Bahan berbahaya hendaknya disimpan secara aman.
b. Penanganan dan Pengawasan Persediaan
1. Penerimaan Produk
Pada
saat
penerimaan,
barang
dokumen
hendaknya diperiksa dan dilakukan verifikasi fisik
dengan bantuan keterangan pada label yang

meliputi tipe barang dan jumlahnya.


Barang kiriman harus diperiksa dengan teliti
terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan dan
atau cacat. Hendaknya ada Catatan Pertinggal

untuk setiap penerimaan barang.


2. Pengawasan
Catatan-catatan harus dipelihara meliputi semua
catatan penerimaan dan catatan pengeluaran

produk.
Pengawasan

prinsip rotasi barang (FIFO).


Semua label dan wadah produk tidak boleh diubah,

hendaknya

meliputi

dirusak atau diganti.


9. Kontrak Produksi dan Pengujian
Pelaksanaan kontrak produksi

pengamatan

dan

pengujian

hendaknya secara jelas dijabarkan, disepakati dan diawasi,


agar tidak terjadi kesalahpahaman atau salah dalam
penafsiran di kemudian hari, yang dapat berakibat tidak
memuaskannya

mutu

produk

atau

pekerjaan.

Guna

mencapai mutu-produk yang memenuhi standard yang


disepakati,

hendaknya

semua

aspek

pekerjaan

yang

dikontrakkan ditetapkan secara rinci pada dokumen kontrak.


Hendaknya ada perjanjian tertulis antara pihak yang
memberi

kontrak

dan

pihak

penerima

kontrak

yang

menguraikan secara jelas tugas dan tanggungjawab masingmasing pihak.


Dalam hal kontrak pengujian, keputusan akhir terhadap
hasil pengujian suatu produk, tetap merupakan tanggung
jawab

pemberi

kontrak.

Penerima

kontrak

hanya

bertanggungjawab terhadap pelaksanaan pengujian sampai


diperoleh hasil pengujian.
10. Penanganan Keluhan dan Penarikan Produk
a. Penanganan Keluhan
1. Hendaknya
ditentukan
Personil

yang

bertanggungjawab untuk menangani keluhan dan


menentukan upaya pengatasannnya. Bila orang yang
ditunjuk

berbeda

dengan

personil

yang

diberi

kewenangan untuk menangani hal tersebut, yang


bersangkutan hendaknya diberi arahan untuk waspada
terhadap

kasus-kasus

keluhan,

investigasi

atau

penarikan kembali (recall).


2. Harus ada prosedur tertulis yang menerangkan
tindakan yang harus diambil, termasuk perlunya
tindakan penarikan kembali (recall), bila kasus keluhan
yang terjadi meliputi kerusakan produk.
3. Keluhan mengenai kerusakan produk hendaknya
dicatat secara rinci dan diselidiki.
4. Bila kerusakan produk ditemukan atau diduga terjadi
dalam

suatu

bets,

hendaknya

dipertimbangkan

kemungkinan terjadinya kasus serupa pada bets lain.


Khususnya bets lain yang mungkin mengandung
produk proses ulang dari bets yang bermasalah
hendaknya diselidiki.
5. Setelah evaluasi dan penyelidikan atas keluhan,
apabila diperlukan dapat dilakukan tindak lanjut yang
memadai termasuk kemungkinan penarikan produk.

6. Semua keputusan dan upaya yang dilakukan sebagai


tindak lanjut dari keluhan hendaknya dicatat dan
dirujuk kepada catatan bets yang bersangkutan.
7. keluhan hendaknya ditinjau secara periodik untuk
menemukan masalah spesifik atau masalah yang
berulang yang memerlukan perhatian dan mungkin
menjadi dasar pembenaran bagi penarikan produk di
peredaran.
8. Apabila terjadi kegagalan produk dan kerusakan
produk

yang

keamanan

menjurus

produk,

kepada

Instansi

yang

terganggunya
berwenang

hendaknya diberitahu.
b. Penarikan Produk
Hendaknya dibuat sistem penarikan kembali dari
peredaran terhadap produk yang diketahui atau diduga
bermasalah.
1. Hendaknya ditunjuk Personil yang bertanggungjawab
atas pelaksanaan dan koordinasi penarikan kembali
produk termasuk personil lain dalam jumlah yang
cukup.
2. Harus disusun Prosedur Tetap penarikan kembali
produk

yang

secara

periodik

ditinjau

kembali.

Pelaksanaan penarikan kembali hendaknya dapat


dilakukan cepat dan efektif.
3. Catatan pendistribusian primer hendaknya segera
diterima oleh orang yang bertanggungjawab untuk
melakukan penarikan kembali produk, dan catatan
tersebut harus memuat informasi yang cukup tentang
distributor.
4. Perkembangan proses penarikan kembali produk
hendaknya dicatat dan dibuat laporan akhir , meliputi
rekonsiliasi jumlah produk yang dikirim dan ditemukan
kembali.

5. Keefektifan pengaturan penarikan kembali produk


hendaknya dievaluasi dari waktu ke waktu.
6. Hendaklah dibuat instruksi tertulis yang menjamin
bahwa produk yang ditarik kembali disimpan dengan
baik pada daerah yang terpisah sambil menanti
keputusan selanjutnya.
11. ISO 9000
ISO (the Internasional Organization for Standardication)
9000 bukan merupakan standar produk melainkan standar
system mutu yang digunakan bukan pada produk atau
pelayanan melainkan suatu proses yang menciptakan
produk dan pelayanan tersebut. Ini dirancang dan diinginkan
untuk diterapkan pada hamper semua produk atau jasa yang
dibuat oleh setiap proses dimana saja di dunia.
Spesifikasi yang tepat akan tergantung pada kegiatan
usaha organisasi, yaitu:
a. ISO 9001; ini digunakan dimana organisasi itu terlihat
dalam desain/ pengembangan, produksi, instansi, dan
servis.
b. ISO 9002; ini dapat digunakan dimana tidak ada
kegiatan desain yaitu organisasi, manufaktur untuk
mengetahui desain atau memberikan layanan yang tidak
termasuk elemen desain.
c. ISO 9003; ini adalah untuk industry yang memproduksi
produk yang rekatif sederhana dimana kualitas dapat
dijamin oleh pemeriksaan akhir dan pengujian tanpa
control kualitas spesifik selama tahap produksi.
B. ASPEK CPOB
1. Manajemen Mutu
Manajemen bertangung jawab untuk pencapaian tujuan ini
melalui suatu kebijakan Kebijakan Mutu yang memerlukan
partisipasi dan komitmen jajaran di semua departemen di
dalam perusahaan, para pemasok dan para penstributor. Untuk
mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat diandalkan,

diperlukan sistem pemastian mutu yang didesain secara


meyeluruh dan diterapkan secara benar serta menginkorporasi
cara pembuatan obat yang baik termasuk pengawasan mutu
manajemen resiko mutu. Hal ini hendaklah didokumentasikan
dan dimonitor efektivitasnya.
Unsur dasar manajemen mutu adalah:
a. Suatu instruktif atau sistem mutu yang tepat mencakup
struktur organisasi, prosedur, proses dan sumber daya dan;
b. Tindakan sistematis yang diperlukan untuk mendapatkan
kepastian

dengan

tingkat

kepercayaan

yang

tinggi,

sehingga produk (atau jasa pelayanan) yang dihasilkan


akan selali memenuhi persyaratan telah ditetah ditetapkan.
Keseluruhan tindakan disebut pemastian mutu
2. Pemastian Mutu
Pemastian mutu adalah suatu konsep luas yang mencakup
semua hal baik secara tersendiri maupun secara kolektif, yang
akan mempengaruhi mutu dari obat yang dihasilkan.
3. Pengawasan Mutu
Pengawasan

mutu

dalah

bagian

dari

CPOB

yang

berhubungan dengan pengambilan sampel, spesifikasi dan


pengujian, serta dengan organisasi, dokumentasi dan prosedur
penulusuran

yang

memastikan

bahwa

pengujian

yang

diperlukan dan relevan telahdilakukan dan bahwa bahan yang


belum diluluskan dan tidak dijual atau dipasok sebelum
mutunya dinilai dan dinyatakan memenuhi syarat.
4. Pengkaji Mutu Produk
Pengkaji mutu produk secara berkala hendaklah dilakukan
terhadap semua obat terdaftar, termasuk produk ekspor,
dengan

tujuan

untuk

membuktikan

konsentrasi

proses,

kesesuaian dari spesifikasi bahan aal, bahan pengemas dan


produk jadi, untuk melihat trend dan mengidentifikasi perbaikan
yang diperlukan untuk produk secara berkala biasanya

dilakukan

tiap

tahun

dan

didokumentasikan,

dengan

mempertimbangkan hasil kajian ulang sebelumnya.


5. Manajemen Resiko Mutu
Manajemen rasiko mutu adalah suatu proses sitematis untuk
melakukan penilaian, pengendalian dan pengkajian resiko
terhadap suatu produk. Hal ini dapat diaplikasikan secara
proaktif maupun retrospektoif. Manajemen resiko hendaklah
memastikan bahwa:
a. Evaluasi resiko terhadap mutu dilakukan berdasarkan
pengetahuan secara ilmiah, pengalaman dengan proses
dan pada akhirnya terkait pada perlndungan pasien;
b. Tingkat usaha, formalitas dan dokumentasi dari proses
manajemen resiko mutu sepadan dengan tingkat resiko.
6. Pendahuluan dan Ruang Lingkup Aplikasi
Mengacu pada pedoman manajemen resiko dan mutu
memberi pedoman mengenai pendekatan sistematis terhadap
manajemen resiko mutu dan kemudahan bagi pemenuhan
CPOB dan persyaratan mutu lain. Ini mencakup prinsip yang
digunakan dan beberapa pilihan proses metode dan perangkat
yang dapat digunakan pada saat menerapkan pendekatan
manajemen resiko mutu secara formal. Contoh penggunaan
manajemen resiko mutu di industri farmasi saat ini, namun
ruang lingkupnya terbatas dan tidak mewakili keseluruhan
konstribusi yang dapat diberikan manajemen resiko.
7. Validasi Prinsip
Validasi madalah suatu tindakan pembuktian dengan cara
yang sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan,
sistem, perlengkapan ataupun mekanisme yang digunakan
dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai
hasil yang diinginkan.
8. Dokumentasi Prinsip
Dokumentasi adalah

bagian

dari

sistem

informasi

manajemen dan dokumentasi yang baik merupakan bagian dari


esensial dan pemastian mutu.

9. Penanganan Keluhan Terhadap Produk dan Penarikan


Kembali Produk
Semua keluhan dan informasi lain yang berkaitan dengan
kemungkinan terjadi kerusakan obat harus dikaji dengan teliti
sesuai dengan prosedur tertulis. Untuk menangani semua
kasus yang mendesak, hendaklah disusun suatu sitem bila
perlu mencakup penarikan kembali produk yang diketahui atau
diduga cacat dari peredaran secara capat dan efektif.
10. Inspeksi Diri Audit, Mutu dan Audit dan Persetujan
Pemasokan
Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah
semua aspek produksi dan pengawasan mutu industri farmasi
memenuhi ketentuan CPOB. Program inspeksi diri hendaklah
dirancang untuk mendeteksi kelemahan dalam pelaksanaan
CPOB dan untuk menetapkan tindakan perbaikan yang
diperlukan.

Inspeksi

diri

hendaklah

dilakukan

secara

independen dan rinci oleh petugas yang kompeten dari


perusahaan yang dapat mengevaluasi penerapan CPOB
secara obyektif.
11. Personalia
Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan
dan penerapan sistem pemastian yang memuaskan dan
pembuatan obat yang benar. Oleh sebab itu industri farmasi
bertanggung jawab untuk menyediakan personalia yang
terkualifikasi

dalam

jumlah

yang

memadai

untuk

melaksanakan semua tugas.


12. Produksi
Produksi hendaklah dilaksanakan denga mengikuti prosedur
yang telah ditetapkan, dan memenuhi ketentuan CPOB yang
menjamin senantiasa menghasilkan prosedur yang memenuhi
persyaratan mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan
dan izin edar.

13. Sanitasi dan higiene


Tingkat

Sanitasi

dan

higiene

yang

tinggi

hendaklah

mengenakan pakaian pelindung yang sesuai dengan kegiatan


yang dilaksanakan prosedur higiene perorangan termasuk
persyaratan untuk mengenakan pakaian pelindung hendaklah
diberlakukan bagi semua porsenil yang memasuki are produksi,
baik personil purnawaktu, paruhwktu atau bukan personil yang
berada

di

area

pabrik,

misalnya

personalia

pengunjung anggota manajemen senior dan inspektor

BAB III
GAMBARAN KHUSUS

kontkator,

CPKB merupakan suatu konsep dalam industri farmasi mengenai


prosedur atau langkah-langkah yang dilakukan dalam suatu industri
farmasi untuk menjamin komsmetik yang dihasilkan sudah sesuai atau
menghasilkan

kosmetik

yang

baik

jadi,

yang

diproduksi

dengan

menerapkan Good Manufacturing Practices dalam seluruh aspek dan


rangkaian kegiatan

produksi sehingga kosmetik yang dihasilkan

senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan sesuai dengan


tujuan penggunaannya. CPKB bertujuan untuk menjamin kosmetik yang
dibuat secara dinamis sesuai dengan perkembangan zaman, memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
CPKB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu. Dimana
Martha Tilaar menerapkan aspek CPKB tahun 2012.
Foundation atau yang lebih dikenal secara umum sebagai alas
bedak memiliki fungsi bukan hanya untuk lebih merekatkan bedak pada
wajah tetapi juga untuk menutup kekurangan kecil yang mungkin terdapat
pada wajah anda, misalnya semacam flek atau bintik hitam. Dengan
foundation ini tekstur wajah juga akan terlihat lebih halus dan meratakan
warna yang ada, tentu saja dengan pemilihan warna foundation yang
tepat untuk jenis dan warna kulit.
Liquid foundation. Liquid foundation terdiri atas dua jenis: berbahan
dasar air, dan berbahan dasar minyak. Foundation berbahan dasar air
cocok untuk kulit berminyak dan sensitif. Sementara yang berbahan dasar
minyak cocok untuk kulit kering atau yang mengalami dehidrasi.

Penggunaan kosmetik memang harus disesuaikan dengan jenis


kulit. memilih kosmetik yang aman, bebas dari bahan kimia yang dapat
mengakibatkan iritasi pada kulit. Sebenarnya sudah mulai banyak merekmerek kosmetik yang menawarkan produk dengan bahan-bahan yang
aman tanpa bahan kimia toksik berbahaya. Tetapi sayangnya kosmetikkosmetik seperti itu harganya cukup tinggi yang membuat sebagian orang
menjadi berpikir untuk membelinya.
Kosmetik yang paling sering dipakai sehari-hari biasanya adalah
lipstik, lip tint, foundation, BB cream dan sun block. tidak perlu
mengeluarkan banyak uang,

dengan membuat founduction dengan

sendiri lebih ekonomis, selain itu lebih tenang untuk menggunakannya


karena tahu bahan apa saja yang digunakan untuk membuat kosmetik
tersebut. Dari beberapa kosmetik yang bisa dibuat sendiri, membuat
bedak foundation yang sangat mudah. Bahan dasar yang diperlukan untuk
membuat bedak foundation ini adalah satu sampai dua sendok makan
tepung umbi garut, satu sampai dua sendok tepung sendok makan cocoa
powder (tanpa pemanis), skin tone, bentonite clay, Cool skin tone, Warm
skin tone dan

Jika Anda lebih suka dengan foundation cair, tinggal

tambahkan minyak zaitun.

BAB IV
PEMBAHASAN
PT. Martha Berto merupakan salah satu perusahaan kosmetik dan
jamu atau obat tradisional yang ada di indonesia. Dimana salah satu
produknya adalah liquid founduction caring colour.dilakukannya peraktek
kerja lapangan industri ke Martha Tilaar Group ini untuk memberika
gambaran kepada mahasiswa maupun mahasiswi tentang pengetahuan
dan keterampilan yang didapatkan selama melaukuan pendidikan. Selain
itu praktek kerja lapangangan industri ini untuk dapat melihat secara
lansung pembuatan,penerapan dan penerimaan pelayanan kesehatan
dan produk kosmetik yang ada diindonesia.
Liquid founduction caring colour ini dikenal juga sebagai alas
bedak, yang memiliki fungsi bukan hanya untuk lebih meratakan bedak
pada wajah tetapi juga untuk menutup kekurangan kecil yang terdapat
pada wajah. Misalnya flek atau bintik-bintik hitam yang terdapat pada
wajah, dengan founduction flek atau bintik-bintik hitam dapat diatasi
sehingga tekstur wajah akan terlihat lebih halus dan meratakan warna kulit
dengan pemilihan founduction yang tepat.
Pentingnya penggunaan founduction pada kesempurnaan seni
meke-up, banyak hal yang perlu diketahui untuk membuat fungsinya
semaksimal mungkin. Yang perlu diketahui dalam pemilihan founduction
adalah sebelum membeli founduction sebaiknya test produk deengan
mengoleskannya

didaerah

wajah

seperti

pipi

atau

dagu

untuk

mendapatkan hasil yang pas dengan warna kulit, untuk pemilihan warna
sebaiknya pilihlah warna yang memiliki tingkat kecerahan satu tingkat di
atas warna kulit wajah. Hal ini dimaksudkan untuk membuat warna kulit
lebih bersih dan cerah.
Founduction yang sering digunakan biasanya berbahan krim,
padat, atau cair. Semua bahan ini mudah diaplikasikan secara merata
keseluruh wajah cukup dengan menggunakan jari tangan. Founduction
cair cocok digunakan untuk jenis kulit yang kering agar dapat
menghasilkan kesan kulit yang licin. Tetapi bisa juga ingin diterapkan pada
kulit normal karena kulit normal cenderung tidak bermasalah dengan jenis
kosmetik apapun. Karena founduction cair ini lebih ringan, maka bisa anda
gunakan dalam sehari-hari. Kadang dengan menggunakan founduction
terasa seperti memakai pelembab hanya saja founduction memiliki
beberapa tekstur warna.
Ada beberapa cara yang digunakan untuk pemakaian founduction
yang tepat. Pertama penerapan founduction pada wajah bisa dilakukan
dengan berbagai cara yaitu dengan jari, spons. Kedua cara tersebut maka
dapat

melekatkan

founduction

dengan

pipi.

Kedua

penggunaan

founduction yang terlalu tebal sebaiknya dihindari karena setelah


pemakaian founduction pasti masih ada tempelan bedak yang akan
menambah ketebalan maka sebaiknya oleskan founduction seperlunya
atau sedikit saja.Cara penyimpanan Founduction cair ini yaitu disimpan
pada suhu kamar karena dalam suhu kamar.

Contoh sedian founduction cair di Martha Tilaar Tbk yaitu Make UP


PCR EVER yaitu Liquid Lift Founduction, Mustika Ratu yaitu Oxy
Founduction, Sari Ayu yaitu Sariayu alas bedak Energizing Aromatic,
Make UP FOR EVER yaitu Liquid Lift Pounduction.
Cara pembuatan Founductin secara Tradisonal yaitu satu sampai
dua sendok makan tepung umbi garut, satu sampai dua sendok tepung
sendok makan cocoa powder (tanpa pemanis), Campurkan kedua bahan
diatas (masing-masing 1 sendok makan), lalu oleskan pada pergelangan
tangan dengan menggunakan kuas untuk melihat apakah warnanya
sudah cocok dengan warna kulit wajah Anda. Jika terlalu gelap tambahkan
tepung umbi garut dan jika ingin lebih gelap tambahkan cocoa powder.
beberapa bahan alami untuk mendapatkan warna yang benar-benar
sesuai dengan skin tone. Skin tone adalah lapisan warna di bawah kulit
yang memancarkan warna pada permukaan kulit dan warna ini tidak bisa
berubah. Berikut bahan alami lain yang bisa ditambahkan sesuai dengan
skin tone, Cool skin tone Untuk mendapatkan bedak foundation yang
sesuai dengan cool skin tone tambahkan bentonite clay. Jenis tanah liat
yang berwarna hijau keabu-abuan, Warm skin tone Campurkan bubuk
kayu manis halus. Tambahkan sedikit demi sedikit. Komposisi bubuk kayu
manis ini tidak boleh melebihi bahan utama bedak foundation ini, karena
jika terlalu banyak dapat mengiriasi kulit dan Jika lebih suka dengan
foundation cair, tinggal tambahkan minyak zaitun, minyak almond, jojoba

oil atau minyak kelapa murni (VCO). Tambahkan sedikit demi sedikit
sampai mengental.
Founduction cair serta produk Martha Tilaar yaitu Mustika Ratu
Bengkong Whitening alas bedak Founduction yaitu alas bedak dengan
sari bengkoang dan akar manis untuk membuat munutup noda hitam dan
mencerahkan kulit wajah, dimana diperkaya Titanium Dioxide sebagai
tabir surya. Menghasilkan tata rias yang halus, tidak berminyak dan kulit
wajah tampak lebih cerah. Cara penggunaannya yaitu dengan cara
mengoleskan diwajah secara mereta untuk mendapatkan hasil yang baik
pada wajah gunakan terlebih dahulu pelembab bengkoang whitening.
Cara penyimpana founduction ini yaitu pada suhu kamar sebaiknya jika
membuka sediaan jangan biarkan tidak dalam kondisi tertutup rapat karna
sedian dapat mengering.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
PT Martina Berto Tbk terdaftar CPKB (cara pembuatan
kosmetik yang baik) pada tahun 2012. Sedangkan Tbk PT
Biofarma Menerapkan aspek CPOB (cara pembuatan obat yang
baik) pada tahun 2012. Liquid Foundaction terdiri atas dua jenis
berbahan dasar air, dan berbahan dasar minyak, yang digunakan
untuk sebagai alas bedak untuk meratak make up pada wajah.
V.2 Saran
Adapun saran pada praktek kerja lapangan industri ini yaitu
sebaiknya dalam pembuatan kosmetik harus menggunakan bahan
yang alami, aman selain itu menghindari pemakain bahan kimia pada
kosmetik agar tidak membahayakan bagi kulit.

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN INDUSTRI


PT Martina Berto Tbk & PT Biofarma Tbk
Liquid founduction caring colour

OLEH:

NAMA

: SITTI HAISYAH

NIM

:13.01.018

KELAS

: STIFA-A

PEMBIMBING

: Sukriani Kursia,S.Farm.,M.kes

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI


MAKASSAR
2015