Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISIS MAKANAN MINUMAN DAN KOSMETIK


ZAT TAMBAHAN

Oleh :

Kelompok : IV (empat)
Asisten

: Almi Kombong

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI
MAKASSAR
2015

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar belakang
Makanan yang kita konsumsi sehari-hari mengandung karbohidrat,
protein, kalsium, zat besi, vitamin, dan zat penting lainnya. Namun dalam
pengolahannya banyak ditambahkan bahan-bahan kimia lain yang
secara sengaja ataupun tidak sengaja ditambahkan. Bahan kimia yang
ditambahkan biasanya bahan tambahan ini tidak memiliki nilai gizi yang
berarti.
Bahan tambahan makanan adalahbahan yang ditambahkan atau
dicampurkan ke dalam suatu produk pangan sewaktu pengolahan untuk
meningakatkan mutu dan kuaalitas dari produk pangan yang dapat
dikategorikan sebagai bahan tambahan, yaitu pengawet, pemanis,
penyedap rasa, antioksidan, antikempal dan lain-lain. Semua zat
tamabahan memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Dalam praktikum ini, akan dibahas terlebih khusus zat tambahan
berupa zat pengawet dan zat pemanis. Zat pengawet merupakan zat
tambahan yang berfungsi untuk menjaga ketahanan suatu pangan dari
kontaminasi

mikroba

sedangkan

zat

pemanis

berfungsi

untuk

memberikan rasa manis terhadap suatu bahan pangan.


Adapun hubungan percobaan ini dengan dunia farmasi, yaitu
seorang famasis yang bertanggung jawab dalam pengawassan obat dan
makanan perlu mengetahui teknik-teknik dalam proses analisis bahan
tambahan pangan.

I.2. Maksud dan Tujuan Percobaan


I.2.1. Maksud Percobaan
Adapun maksud dari percobaan ini, yaitu mengetahui adanya
kandungan pemanis (natrium siklamat dan sakarin) dan pengawet
(asam benzoat) yang terdapat dalam bahan pangan.
I.2.2. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini, yaitu menentukan zat pemanis
dan zat pengawet yang terdapat dalam sampel dengan metode
nitritometri dan titrasi alkalimetri.
I.3. Prinsip percobaan
Adapun prinsip dari percobaan ini, yaitu berdasarkan analisi
kualitatif untuk mengetahui adanya pemanis dalam sampel dan analisis
kuantitatif dengan metode nitritometri dan titrasi alkalimetri untuk
menentukan kadar pemanis dan pengawet dalam sampel.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Teori umum
Zat pemanis sintetik merupakan zat yang dapat menimbulkan rasa
manis atau dapat membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa
manis tersebut, sedangkan kalori yang dihasilkan jauh lebih rendah dari
pada gula. Umumnya zat pemanis sintetik mempunyai struktur kimia
yang berbeda dengan struktur polihidrat gula alam. (Winarno, 1984)
Zat pemanis sintetik yang kini banyak digunakan dalam makanan
dan minuman adalah garam Ca atau Na-sakarin. Penggunaan sakarin
tergantung

dari

intensitas

kemanisan

yang

dikehendaki.

Pada

konsentrasi tinggi sakarin akan menimbulkan rasa pahit dan getir.


Kemurnian sakarin empat ratus kali lebih besar dari kemanisan larutan
sukrosa

10%.

(Winarno, 1984)
Dari hasil penelitian di Canada didapatkan bahwa penggunaan 5%
sakarin dalam racun tikus dapat merangsang terjadinya tumor di kandung
kemih. Dengan alasan tersebut telah diusahakan beragam penggunaan
sakarin dalam diet food ancl berveroger. Pelarangan itu ditunda untuk
mendapatkan data lebih lanjut. (Winarno, 1984)
Zat pengawet anorganik yang masih sering dipakai adalah sulfit,
nitrat, dan nitrit. Sulfit digunakan dalam bentuk gas SO 2, garam (Na), atau
k-sulfit, bisulfit dan metabolisulfit. Bentuk efektifnya sebagai pengawet
adalah asam sulfit yang tak terdisosiasi dan terutama terbentuk pada pH
dibawah 3. (Winarno, 1984)
Zat pengawet terdiri dari senyawa organik dalam bentuk atom atau
garamnya. Aktivitas aktivitas bahan pengawet tidaklah sama, misalnya

ada yang efektif terhadap bakteri, khamir, ataupun kapang. (Winarno,


1984)
Zat pengawet organik lebih banyak dipakai dari pada yang
anorganik karena bahan bahan ini lebih mudah dibuat. Bahan organic
digunakan baik dalam bentuk asam maupun dalam bentuk garamnya. Zat
kimia yang sering dipakai sebagai bahan pengawet ialah asam sorbat,
asam proponat, asam benzoate, asam asetat, dan epoksida. (Winarno,
1984)
Asam benzoat (C6H5COOH) merupakan bahan pengawet yang
luas penggunaannya dan sering digunakan pada bahan makanan yang
asam. Bahan ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan khamir dan
bakteri. Benzoate efektif pada pH 2,5-4,0 karena kelarutan garamnya
lebih besar makanya biasanya digunakan dalam bentuk garam natrium
benzoat sedangkan dalam bahan, garam benzoat terurai menjadi bentuk
efektif, yaitu bentuk asam benzoat yang tak terdisosiasi. (Winarno, 1984)
Dalam tubuh terdapat mekanisme detoksifikasi terhadap asam
benzoate, sehingga tidak terjadi penumpukan asam benzoate. Asam
benzoate akan bereaksi dengan glisin menjadi asam hiporat yang akan
digunakan oleh tubuh. Asam benzoate secara alami terdapat dalam
rempah-rempah seperti cengkeh dan kayu manis. (Winarno, 1984)
Cuka adalah larutan 4% asam asetat dalam air dan sering
digunakan sebagai bahan pengawet dalam roti untuk mencegah
pertumbuhan khamir. Cuka aktivitasnya lebih besar pada pH rendah.
(Winarno, 1984)
Penggunaan

natrium

nitrit

sebagai

pengawet

dan

untuk

mempertahankan warna daging atau ikan, ternyata menimbulkan efek


yang membahayakan kesehatan. (Winarno, 1984)
Banyak penelitian mencoba menghubungkan struktur kimia
senyawa rasanya manis dengan efek rasa sederet teori telah diusulkan

Shallenberger 1971. Teori yang paling baru ditemukan oleh Shallenberger


dan Arcree (1967) dan dapat diangap sebagai perbaikan beberapa
pemikiran yang terdapat dalam teori sebelumnya. Menurut teori ini,
disebut AH, B, semua senyawa yeng menimbulkan tanggapan rasa
manis mempunyai atom A yang elektronegatif seperti oksigen dan
nitrogen. Atom ini mempunyai juga proton yang terikat padanya dengan
ikatan kovalen tunggal. Karena itu AH dapat berupa gugus hidroksil,
gugus amina atau gugus metina. (John.M, 1997)
Bahan pengawet organic yang banyak digunakan, yaitu asam
benzoate, ester asam P, hidroksi benzoat, asam salisislat yang banyak
digunakan yaitu sakarin, dulsin, dan siklamat. (apriyanto, 1980)
Metode titrasi diazotasi disebut juga dengan nitritometri yakni
metode penetapan kadar secraa kuantitatif dengan menggunakan larutan
baku natrium nitrit. Metode ini didasarkan pada reaksi diazotasi yakni
reaksi antara amina aromatik primer dengan nitrit dalam suasana asam
membentuk garam diazonium. (Rahman, 2009)
Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya untuk mencegah
pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, da benda kimia yang
mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia.
Pangan yang tidak aman dapat menyebabkan penyakit yang disebut
dengan foodboine diseases, yaitu gejala penyakit yang timbul akibat
mengkonsumsi pangan yang mengandung bahan atau senyawa beracun
atau pangan. (Hardiansyah dan Syarif, 2001)
Suatu bahan pangan mentah atau olahan menjadi tidak aman
dikonsumsi apabila telah dicemari. Pencemaran ini dapat ditinjau dari 2
segi

kontaminasi

sekunder,

kontaminasi

dapat

berasal

dari

mikroorganisme maupun zat-zat kimiawia. Salah satu contohnya adalah


bahan tambahan pangan. (Baliwati dkk, 2004)

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menetapkan


batasan-batasan penggunaan bahan tambahan pangan, yaitu : (Baliwati
dkk, 2004)
1. Perkiraan jumlah pangan yang dikonsumsi atau bahan tambahan
pangan yang diusulkan ditambahkan.
2. Ukuran minimal yang pada pengujiannya terhadap binatang percobaan
menghasilkan penyimpangan yang ditentukan.
3. Batasan terendah yang cukup aman bagi kesehatan semua golongan
konsumen.
Salah satu masalah keamanan pangan yang masing-masing
memerlukan penyelesaian adalah penggunaan bahan tambahan pangan
untuk berbagai keperluan. Penggunaan bahan tambahan pangan
dilakukan pada industry pengolahan pangan, maupun dalam pembuatan
berbagai pangan jajanan yang umumnya dilakukan oleh industry kecil
atau industri rumah tangga. (Cahyadi, 2008)
Sejak pertengahan abad ke-20, peranan bahan tambahan pangan
semakin penting sejalan dengan kemajuan teknologi produksi bahan
tambahan pangan sintesis. Banyaknya bahan tambahan pangan
umumnya dalam bentuk lebih murni dan tersedia secara komersil dengan
harga yang relativ murah akan mendorong meningkatnya pemakaian
bahan tambahan pangan yang berarti meningkatkan konsumsi bahan
tersebut bagi setiap individu. (Cahyadi, 2008)

II.2. Uraian bahan


1. Aquadest (FI edisi III : 96)

Nama resmi
Nama lain

: AQUA DESTILLATA
: Aquadest atau air suling

RM/BM

: H2O/18,02

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna; tidak berbau, tidak


mempunyai rasa

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: sebagai pelarut

2. Barium klorida (FI edisi III : 656)


Nama resmi
: BARII CHLORIDUM
Nama lain
: Barium klorida
RM/BM
: BaCl2
Pemerian
: Hablur, tidak berwarna
Kelarutan
: larut dalam 5 bagian air
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan
:
3. Asam klorida (FI edisi III : 53)
Nama resmi
: ACIDUM HIDROCHLORIDUM
Nama lain
: Asam klorda
RM/BM
: HCl/36,46
Pemerian
: Cairan; tidak berwarna;

berasap,

bau

merangsang. Jika diencerkan dengan 2 bagian air,


Penyimpana
Kegunaan

asap dan bau hilang.


: Dalam wadah tertutup rapat
:

4. Natrium hidroksida (FI edisi III : 412)


Nama resmi
: NATRII HYDROXYDUM
Nama lain
: Natrium hidroksida
RM/BM
: NaOH/40,00
Pemerian
: Bentuk batang, butiran, massa hablur, atau
keping, kering, keras, rapuh, dan menunjukkan
susunan hablur; putih, mudah meleleh, basah,
sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap
CO2.

Kelarutan

: sangat mudah larut dalam aair dan dalam etanol

(92%)P
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan
:
5. Asam sulfat (FI edisi III : 58)
Nama resm
: ACIDUM SULFURICUM
Nama lain
: Asam sulfat
RM/BM
: H2SO4/98,07
Pemerian
: Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak
berwarna,

jika

ditambahkan

kedalam

air

menimbulkan panas.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan
:
6. Natrium klorida (FI edisi III : 403)
Nama resmi
: NATRII CHLORIDUM
Nama lain
: Natrium klorida
RM/BM
: NaCl/58,44
Pemerian
: Hablur heksahedral, tidak berwarna atau
Kelarutan

serbuk hablur putih; tidak berbau, rasa asin.


:Larut dalam 28 bagian air, dalam 2,7 bagian
air mendidih dan dalam lebih kurang 10 bagian

gliserol P; sukar larut dalam etanol (95%)P.


Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan
:
7. Etanol (FI edisi III : 65)
Nama resmi
: AETHANOLUM
Nama lain
: Etanol
RM/BM
: C2H5OH/
Pemerian
: Cairan tidak berwarna, jernih, tidak menguap
dan mudah bergerak; bau khas, rasa panas.
Mudah terbakar dengan memberikan nyala
Kelarutan

biru yang tidak berasap


: Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform

Penyimpanan

P dan dalam eter P


: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari

cahaya.
Kegunaan

8. Kloroform (FI edisi III : 151)


Nama resmi
: CHLOROFORUM
Nama lain
: Kloroform
RM/BM
:
Pemerian
: Cairan mudah menguap, tidak berwarna, bau
Kelarutan

khas, rasa manis dan membakar


: Larut dalam lebih kurang 200 bagian air;
mudah larut dalam etanol mutlak P, dalam eter
P, dalam sebagian besar pelarut organic dalam

Penyimpanan

minyak atsiri dan dalam minyak lemak.


: Dalam wadah tertutup baik dan bersumbat
kaca.

Kegunaan
:
9. Metilen Blue (FI edisi III : 381)
Nama resmi
: METHYLTHIONINI CHLORIDUM
Nama lain
: Metilen blue, metiltiona klorida
RM/BM
: C16H18CIN3.2H2O/372,90
Pemerian
: Serbuk hablur mengikat seperti logam atau
suram kehijauan tua atau serbuk warna
Kelarutan

cokelat; hampir tidak berbau, higroskopik.


: Larut dalam 40 bagian air, dalam 110 bagian
etanol

(95%)P

dan

dalam

450

bagian

kloroform P.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan
:
10. Fenolftalein (FI edisi III : 675)
Nama resmi
: FENOLFTALEIN
Nama lain
: Fenolftalein
RM/BM
: C20H14O4/318,33
Pemerian
: Serbuk hablur, putih atau kekuningan lemah,
tidak berbau, stabil di udara.
Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

11. Natrium nitrit (FI edisi III : 714)


Nama resmi
: NATRII NITRIS

Nama lain
RM/BM
Pemerian

: Natrium nitrit
: NaNO2/69,00
: Hablur atau granul, tidak berwarna, atau putih

Kelarutan

kekuningan rapuh.
: Larut dalam 1,5 bagian air, agak sukar larut

Penyimpanan
Kegunaan

dalam etanol (95%)P.


: Dalam wadah tertutup rapat
: Sebagai penitran

BAB III
METODE KERJA
III.1. Alat dan Bahan
III.1.1. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah
ballpump, buret, corong, corong pisah, erlenmeyer, gelas kimia,
gelas ukur, hot plate, klem, pipet tetes, pipet ukur, pipet volume,
statif.
III.1.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
aquadest (H2O), asam sulfat (H2SO4), barium klorida (BaCl2),
etanol, indikator metilen blue, indicator PP, indikator TOO,
kloroform, metiol, mountea, natrium klorida (NaCl), natrium nitrit
(NaNO2), phanter,
III.2. Cara kerja
III.2.1. Penentuan kadar sikalamat
III.2.1.1. Analisis kualitatif
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dipipet 20 ml sampel (serbuk jasjus yang telah
dilarutkan) dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer.
Kemudian ditambahkan 5 ml HCl 10%
3. Kemudian ditambahkan 1 ml BaCl2 dan 1 ml NaNO2
4. Lalu dipanaskan diatas hot plate dan diamati
perubahan warna yang terjadi.

III.2.1.2. Analisi kuantitatif


1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

2. Ditimbang 5 gram sampel (serbuk jasjus) dan


ditambahkan 40 ml aquadest
3. Kemudain disaring larutan dan diambil filtratnya
4. Filtratnya dimasukkan kedalam erlenmeyer

dan

ditambahkan 5 ml HCl 0,1N


5. Kemudian ditambahkan indicator TOO dan indicator
MB. Kemudian didinginkan di dalam wadah yang
berisi es batu
6. Kemudian dititrasi dengan NaNO2 0,1N. lalu diamati
perubahan warna yang terjadi.
III.1.2. Penentuan kadar sakarin
III.1.2.1. Analisis kualitatif
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dipipet 10 ml sampel (minuman mountea)
dimasukkan kedalam Erlenmeyer dan ditambahkan 5
tetes

H2SO4

P.

kemudian

dipanaskan

sampaii

terbentuk warna hijau


3. Kemudian ditambahkan NaOH dan diamati perubahan
warna yang terjadi.
III.1.2.2. Analisis kuantitatif
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dipipet 10 ml sampel (minuman mountea) dan
ditambahkan 5 ml HCl 0,1N
3. Dimasukkan kedalam corong pisah dan ditambahkan
kloroform 20 ml
4. Diambil residunya dan ditambahkan aquadest bebas
CO2 10 ml
5. Dimasukkan kedalam erlenmeyer dan ditambahkan
etanol netral dan indikator PP
6. Kemudian dititrasi dengan NaOH 0,1N
III.2.3. Penentuan kadar pengawet
1. Disisapkan alat dan bahan yang akan digunakan

2. Dipipet 10 ml sampel (Sirup ABC) dan ditambahkan NaCll


jenuh secukupnya
3. Kemudain ditambahkan 5 ml NaOH dan dicukupkan dengan
NaCl hingga 100 ml
4. Dipipet 25 ml larutan dan ditambahkan 5 ml HCl
5. Dimasukkan kedalam corong pisah kemudian ditambahkan
20 mll kloroform dan 5 ml aquadest
6. Diuapkan dan diambil residunya dan ditambahkan etanol
netral dan ditambahkan aquadest bebas CO2
7. Ditambahkan indikator PP dan dititrasi dengan NaOH 0,1N
8. Diamati perubahan warna yang terjadi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1. Hasil pengamatan
IV.1.1. Analisis kualitatif
a. Siklamat
Sampel

Perlakuan

Pengamatan

+ 5 ml HCl 10%

Tidak terbentuk

10 ml larutan

+ 1 ml BaCl2

endapan putih

Jasjus

+ 1 ml NaNO2
Panaskan

b. Sakarin
Sampel

Perlakuan

Pengamatan

+ 1 tetes H2SO4
10 ml mountea

Dipanaskan

Tidak terjadi

+ Resorsin dan

perubahan warna

NaOH

IV.1.2. Analisis kuantitatif


a. Siklamat
Sampel
40 ml larutan
Jasjus

Volume titrasi

Perubahan warna
Tidak terjadi

perubahan warna

b. Sakarin
sampel
10 ml mountea

Volume titrasi
_

Pengamatan
Tidak terjadi
perubahan warna

c. Asam benzoat
Sampel
Sirup ABC
Mountea

Perlakuan
+ HCl
+ Etanol
+ H2O bebas CO2
+ Indikator PP

Pengamatan
Tidak terjadi
perubahan warna

IV.2. Reaksi
a. Reaksi Siklamat
HCl + NaNO2

HNO2 + NaCl

b. Reaksi sakarin
IV.3. Pembahasan
Pemanis sintetik merupakan zat yang dapat menimbulkan rasa
manis atau dapat membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa
manis tersebut, sedangkan kalori yang dihasilkan jauh lebih rendah dari
pada gula.
Pengawet merupakan bahan tambahan makanan yang dapat
mencegah atau menghambat penguraian terhadap makanan yang
disebabkan oleh mikroorganisme.
Zat pemanis sintetik yang diuji dalam percobaan ini adalah natrium
siklamat dan sakarin. Sedangkan zat pengawet yang diuji dalam
percobaan ini, yaitu asam benzoat.
Analisi pemanis dengan zat pemanis natrium siklamat dengan
menggunakan sampel jasjus yang dilakukan dengan uji kualitatif dan uji
kuantitatif berdasarkan metode titrasi nitritometri (diazotasi). Sedangakn
untuk zat pemanis sakarin dengan menggunakan sampel mountea
dilakukan dengan uji kualitatif dan kuantitatif berdasarkan metode titrasi
alkalimetri.
Prinsip dari metode titrasi nitritometri (diazotasi), yaitu didasarkan
pada pembentukan garam diazonium dari gugus amin aromatis bebas
yang direaksikan dengan asam nitrit, dimana asam nitrit ini diperoleh
dengan cara mereaksikan natrium dalam suasana asam membentuk
garam diazonium.

Sedangkan prinsip dari metode titrasi alkalimetri, yaitu sampel


dalam suasana asam dititrasi dengan menggunakan larutan baku basa
sehingga terjadi reaksi asam basa.
Pada analisis pemanis (natrium siklamat), pada uji kualitatif
sampel jasjus ditambahkan HCl dengan tujuan karena endapat
terbentuk dalam suasanaa asam. Selain itu, ditambahkan BaCl 2 yang
bertujuan untuk memutuskan iktan sulfat dan siklamat. Kemudian
dipanaskan sampai terbentuk endapan putih. Endapan putih tersebut
merupakan hasil reaksi antara natrium nitrit dengan natrium siklamat
dimana SO3 (sulfat) bereaksi dengan NaNO2 dan BaCl2 membentuk
endapan BaSO4.
Selanjutnya dilakukan analisis kuantitatif, dimana sampel jasjus
ditambahkan 40 ml aquadest untuk melarutkan sampel. Selanjutnya
disaring lalu fiitratnya ditambahkan HCl untuk memberi suasana asam.
Selanjutnya ditambahkan indikator TOO (indikator dalam) yang
merupakan indikator asam basa yang berwarna merah dalam suasana
asam dan berwarna kuning dalam suasana basa jika dioksidasi oleh
adanya kelebihan asam nitrit.
Sedangkan indikator MB digunakan sebagai pengontrol warna
sehingga pada titik akhir titrasi terjadi perubahan warna dari ungu
menjadi biru bahkan hijau tergantung dari senyawa yang dititrasi.
Namun, dalam percobaan ini diharapkan warna yang terbentuk adalah
warna hijau berfluoresensi. Setelah ditambahkan indikator TOO dan
indikator MB, kemudian dititrasi dengan NaNO 2. Titrasi ini digunakan
apabila sampel yang digunakan mengandung gugus amin aromatis
(NH).
Pada analisis pemanis (siklamat), pada uji kualitatif, sampel
mauntea ditambahkan asam sulfat pekat yang berfungsi untuk memberi
suasana asam, karena reaksi harus terjadi dalam suasana asam,

selanjutnya larutan dipanaskan dengan ditambahkan batu didih untuk


mencegah terjadinya letupan. Proses pemanasan dilakukan untuk
mempercepat reaksi antara sampel dan asam sulfat pekat. Setelah itu
ditambahkan NaOH secukupnya untuk melarutkan sampel hingga
terbentuk warna hijau berfluorens. Apabila tidak terbentuk warna hijau
pada

proses

pemanasan,

maka

dapat

dilakuakn

penambahan

resorsional dan NaOH.


Sedangkan pada uji kuantitatif, sampel mountea ditambahkan HCl
untuk memberi suasana asam lalu dimasukkan kedalam corong pisah
untuk diekstraksi lalu ditambahkan kloroform untuk mengikat zat-zat lain
selain sakarin. Selain itu dikocok lalu dikeluarkan uapnya, dilakukan
berulang kali. Residunya kemudian diambil dan ditambahkan H 2O bebas
CO2 dan etanol netral dan indikator PP. Setelah itu dititrasi dengan
NaOH 0,1N sampai terbentuk warna pink.
Pada analisis pengawet (asam benzoat), sampel ditambahkan
NaCl

jenuh

secukupnya

yang

berfungsi

untuk

menarik

atau

mengumpulkan natrium benzoate. Setalah itu, ditambahkan NaOH yang


berfungsi untuk memperbanyak endapan dari natrium benzoat. Setelah
itu, dicukupkan dengan NaCl jenuh hingga 100 ml. larutan kemudian
dipipet 25 ml dan ditambahkan HCl untuk mengasamkan larutan.
Selanjutnya dimasukkan kedalam corong pisah lalu ditambahkan
kloroform dan H2O lalu diuapkan. Diambil residu (kloroform) lalu
ditambahkan dengan etanol netral agar tidak bereaksi dengan sampel
dan zat-zat lain yang ditambahkan. Selanjutnya ditambahkan H 2O
bebas CO2 dan indicator PP lalu dititrasi dengan NaOH hingga
terbentuk warna yang dikehendaki.
Percobaan yang diperoleh, pada analisis pemanis yaitu sakarin
dan natrium siklmat, sampel yang dianalisis tidak mengandung sakarin.
Hal ini ditandai dengan tidak terjadi perubahan warna yang dikehendaki

setelah diberi perlakuan. Begitupun dengan analisis pengawet, sampel


mountea tidak pengandung zat pengawet asam benzoat.

BAB V
PENUTUP
V.1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Pada sampel jasjus, ketika dilakukan analisis pemanis secara
kualitatif,

hasil

yang

diperoleh

tidak

mengandung

siklamat.

Begitupun saat diuji dengan uji kuantitatif.


2. Pada sampel mountea, saat dilakukan uji kualitatif dan kuantitatif
hasil yang diperoleh juga tidak mengandung sakarin.

3. Pada samel sirup ABC dan phanter juga saat dilakukan analisis
pengawet dengan uji kuantitatif, hasil yang diperoleh tidak
mengandung asam benzoat.
V.2. Saran
V.2.1. Laboratorium
Agar alat dan bahan yang sudah rusak dapat diganti,
sehingga proses selama praktikum dapat berjalan lancar dan
percobaan dapat sukses.
V.2.2. Asisten
Agar asisten dapat hadir tepat waktu sesuai dengan waku
yang ditentukan sehingga percobaan yang dilakukan tidak terburuburu..
V.2.3. Dosen
Agar dosen pengampuh dapat hadir pada saat praktikum
untuk membimbing dan mengarahkan asisten dan praktikan.

DAFTAR PUSTAKA
Apriyanto, A. dkk. 1989. Petunjuk Laboratorium Analisis Pangan. IPB :
Bogor.
Baliwati, F. Yayuk. Dkk. 2001. Pengantar Pangan dan Gizi. Swadaya :
Jakarta.
Cahyadi, Wisnu. 2008. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan
Pangan. Bumi Aksara : Jakarta.
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. DEPKES RI : Jakarta.
Hardiansyah, Syarif. 2001. Sistem mutu dan Kemanan Pangan dalam
Analisis Bahaya dan Keracunan Pangan. Roeswan : Jakarta.
John. 1997. Kimia Makanan. Institut Tekhnologi Bandung : Bandung.

Rahman, Abdul. Dkk. 2009. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar :


Jakarta.
Winarno, F.G. 1984. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Media Pustaka Utama :
Jakarta.