Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS

PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK


(PPOK)

Rini Aptriani
Nim. 1008120652

Pembimbing :
dr. Zarfiardy AF, Sp.P

Definisi
penyakit yang ditandai dengan hambatan aliran
udara di saluran nafas yang sepenuhnya tidak
reversibel. Hambatan aliran udara ini bersifat
progresif dan berhubungan dengan respon
inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang
beracun atau berbahaya
Karakteristik hambatan aliran udara pada PPOK
disebabkan oleh gabungan antara obstruksi saluran
nafas kecil (obstruksi bronkiolitis) dan kerusakan
parenkim (emfisema).

Epidemiologi

The Global Burden of Disease Studies (2020) PPOK


peringkat ke-3 penyebab kematian, ke-12 penyebab
penyakit, dan ke-4 menimbulkan kecacatan.
SKRT Depkes RI 1992, PPOK peringkat ke-6 dan
merokok merupakan penyebab PPOK terbanyak di
negara berkembang.
PPOK : 10% usia > 40 tahun.

Faktor resiko
PPOK

Faktor pejamu
(host)

Faktor prilaku
(kebiasaan)
merokok

Faktor
lingkungan
(polusi udara)

Stres oksidatif

Etiologi PPOK Eksaserbasi Akut


Infeksi (virus,bakteri), pajanan dengan polutan,
penghentian
pengobatan,
bronkospasme,
dan
perubahan diet.
Basil enteric gram negatif, Pseudomonas, Chlamidia pneumonia,
dan Mycoplasma pnemoniae

Patogenesis dan patologi


Iritasi kronik saluran
pernafasan

Respon inflamasi
saluran nafas dan
paru

stress oksidatif dan


kelebihan
proteinase

perubahan patologis
pada PPOK
Bronkitis kronis
hipertrofi kelenjar mukosa bronkus
peningkatan jumlah&ukuran sel goblet,
infiltrasi sel radang
edema mukosa radang.
Peradangan dan penyempitan
penurunan VEP1

emfisema
-Defisiensi Alfa 1 antiprotease
-bawaan(idiopatik)
-stres oksidatif

kerusakan parenkim paru pada


emfisema ketidakseimbangan
ventilasi-perfusi

Gejala Klinis
1

Diagnosis
PPOK
klinis
derajat
pemeriksaan
anamnesis
(+)

Pemeriksaan penunjang

paru hiperinflasi
atau hiperusen,
diagframa
mendatar,
corakan
bronkovaskuler
meningkat,
bulla, dan
jantung
menggantung

penentuan
obstruksi
berdasarkan
penilaian VEP1
prediksi atau
VEP1/KVP.
Obstruksi:
-%VEP1
(VEP1/VEP1 pred)
<80%
- VEP1/KVP <75%

Gejala dari eksaserbasi akut, yaitu:


- Peningkatan volum sputum
- Peningkatan purulensi atau perubahan warna sputum
-Sesak nafas yang bertambah
berat.

Tipe I
Tipe II

Tipe
III

Pe

n
a
a
n
a
s
k
a
l
a
nat

KOMPLIKASI

ILUSTRASI KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn. N
Usia
: 52 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan
: Penjahit
Pendidikan terakhir: SD
No.RM
: 55-04-25
Tanggal MRS : 5 Maret 2015
Tanggal periksa : 6 Maret 2015

Keluhan Utama
Sesak napas yang semakin memberat sejak 7 hari
SMR
Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 5 tahun SMRS, pasien mulai mengeluh sesak
napas. Sesak muncul terutama saat aktifitas. Sesak
dirasakan hilang timbul. Sejak 6 bulan terakhir
keluhan sesak napas semakin sering. Dalam 7 hari ini
pasien merasakan sesak yang semakin berat dan perlu
usaha untuk mengeluarkan napas dengan mulut.
Sesak napas tidak dipicu oleh makanan atau cuaca
dingin dan tidak dipengaruhi posisi tubuh.

Sejak 5 tahun SMRS Pasien juga mengeluhkan


batuk. Batuk disertai dahak warna putih. Sejak 6
bulan terakhir gejala batuk semakin sering, dan
sejak 1 minggu ini batuk semakin sering dan
dahak berubah warna menjadi kehijauan. Batuk
darah tidak ada. Untuk mengurangi keluhannya
pasien selalu berobat ke puskesmas.
Demam dan nyeri dada tidak ada. Mual dan
muntah tidak ada, BAB dan BAK tidak ada
keluhan. Pasien kemudian berobat ke poli paru
RSUD Arifn Achmad dan kemudian dirawat.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat TB dan minum obat selama 6 bulan (+) sekitar 30
tahun yang lalu dan dinyatakan sembuh oleh dokter
Riwayat Asma dan alergi (-)
Riwayat hipertensi (+)
Riwayat DM (-)
Riwayat penyakit jantung (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang
sama
Riwayat Asma dan alergi (-)
Riwayat hipertensi (+)
Riwayat DM (-)
Riwayat penyakit jantung (-)

Riwayat sosialekonomi
Pasien seorang wiraswasta (penjahit pakaian)
Riwayat merokok (+) selama 30 tahun sebanyak 30 batang perhari dan (IB
900 = berat) berhenti merokok sejak tahun 2012
Tidak pernah mengkonsumsi alkohol
Pemeriksaan umum
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Kaadaan gizi : Baik
Vital sign
Tekan darah : 160/90 mmHg
Nadi : 120 kali/menit
Pernapasan : 24 kali/menit
Suhu : 36,70C
Tinggi badan : 170 cm
Berat badan : 65 kg

IMT

: 22,4

Pemeriksaan fisik
Kepala dan Leher
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), reflek
cahaya (+/+)
Mulut : pursed-lip breathing (+)
Leher: Pembesaran KGB (-), JVP 5-2 cmH2O
Toraks
Paru:
Inspeksi : Gerakan dinding dada simetris kanan dan kiri,
retraksi intercostal (+), barrel chest (+)
Palpasi : Vokal fremitus simetris kanan = kiri, nyeri tekan
pada dada (-),
Perkusi : Hipersonor hampir di seluruh lapangan paru
Auskultasi : Wheezing (+/+), ronki basah kasar (+/+)

Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS V
Perkusi : Batas jantung kanan di linea parasternalis dextra SIC V, batas jantung
kiri di ICS V, linea midklavikula sinistra.
Auskultasi : Bunyi jantung 1 (S1) dan 2 (S2) normal, reguler, mumur (-), gallop
(-)
Abdomen
Inspeksi : Tampak datar, venektasi, scar (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal, frekuensi 10 x/menit
Perkusi : Timpani diseluruh kuadran abdomen, shifting dullnes (-).
Palpasi : Teraba supel, nyeri tekan (-), tidak ada pembesaran hepar dan lien.
Ekstremitas
Akral hangat (+) pada semua ekstremitas
CRT < 2 detik , turgor normal pada semua ekstremitas
Edema ekstremitas (-)
Clubbing Finger / Jari tabuh (+)

Pemeriksaan Penunjang
Tanggal : 6 Maret 2015
Pemeriksaan darah
Leukosit : 12.020 /UL
Hb : 12,8 g/dl
Ht : 40,6%
PLT : 423 10^3/UL

Pemeriksaan kimia darah


GLU : 56 mg/dl

CHOR : 92 mg/dl
URE : 19 mg/dl
CRE : 1.04 mg/dl
AST/SGOT
: 10
U/L
ALT/SGPT : 6
U/L
ALB : 3.99 U/L

Foto toraks PA
Foto toraks PA
Kekerasan foto cukup,
inspirasi cukup
Tulang dan jaringan lunak
baik
Trakea di tengah
Sela iga kedua hemitoraks
melebar
Diafragma kanan dan kiri
mendatar
Sudut kostofrenikus kanan
dan kiri lancip
Perselubungan homogen pada
paru kanan bagian apeks
Hemitoraks kiri tampak
bercak berawan
CTR < 50%

Diagnosis
PPOK Eksaserbasi Akut Berat dd/pneumonia
Hipertensi Grade II terkontrol
Bekas TB paru dd/tb kambuh
RENCANA PEMERIKSAAN
Spirometri (bila stabil)
Sputum mo gram
Sputum BTA SPS

Penatalaksanaan
Non Farmakologi
Istirahat (bed rest)
Hindari aktivitas yang berlebihan
Diet Makanan Lunak Gizi Seimbang

Farmakologi
O2 nasal kanul 3L/menit
IVFD RL 20 tpm
Inhalasi combivent (salbutamol + ipratropium bromide) / 8 jam
Inj metilprednisolon 3x125 mg
Inj. Ceftriaxon 1 x 2 gr
Ambroxol 3 x 30mg tab
Retaphyl syrup 2 x 1/2
Amlodipin 1 x10 mg

PEMBAHASAN

PPOK merupakan penyakit paru kronik yang ditandai dengan hambatan


aliran udara yang bersifat persisten dan progresif. Pada pasien ini terdapat
keluhan sesak napas dan batuk berdahak yang sudah ada sejak 5 tahun yang
lalu dan bertambah berat seiring berjalannya waktu (progresif dan kronik).
Pasien juga memiliki riwayat merokok selama 30 tahun dan ditemukan
purse lip breathing (+), barrel chest (+), hipersonor diseluruh lapangan
paru, dan wheezing (+/+) pada pemeriksaan fsik, serta dari foto toraks
didapatkan sela iga kedua hemitoraks melebar dan diafragma kanan dan kiri
mendatar
Tanda-tanda dari eksaserbasi akut apabila ditemukan batuk makin sering /
hebat, produksi sputum bertambah banyak, sputum berubah warna, sesak
nafas bertambah, keterbatasan aktivitas bertambah, kesadaran menurun.
Pasien ini datang dengan batuk yang semakin sering, produksi sputum yang
bertambah banyak, sputum berubah warna menjadi kehijauan, serta sesak
napas yang semakin berat. Dengan gejala klinis yang ditimbulkan pasien
dikategorikan mengalami PPOK eksaserbasi akut berat.

Faktor resiko PPOK pada pasien ini adalah riwayat merokok, infeksi
saluran napas bawah (TB paru), dan usia yang sudah lanjut. Merokok dan
terpajan dengan partikel ataupun gas beracun dapat menyebabkan suatu
proses hipertrofi kelenjar mukus bronkial dan meningkatkan produksi
mukus sehingga menyebabkan batuk produktif. Merokok juga dapat
mengakibatkan pelepasan enzim proteolitik (protease) dan menghambat
pembentukan alfa-1 antiprotease Pada bronkitis kronis (batuk produktif >
3 bulan atau selama lebih dari 2 tahun) perubahan awal terjadi pada
saluran udara yang kecil, selain itu terjadi destruksi jaringan paru disertai
dilatasi rongga udara (emfisema), yang menyebakan hilangnya elastic
recoil, hiperinflasi, terperangkapnya udara dan peningkatan usaha untuk
bernapas sehingga terjadi sesak napas.

Dengan adanya infeksi sekunder mukosa oleh trakeobronkial akibat


bakteri yang ditandai dengan adanya batuk berdahak berwarna kehijauan
dapat memicu terjadinya peradangan lebih berat pada saluran pernapasan
sehingga terjadi obtruksi mekanis selama pernapasan. Hal inilah yang
mengakibatkan terjadinya eksaserbasi akut pada pasien dengan
peningkatan sesak selama bernapas tanpa dipengaruhi oleh aktivitas.

TERIMA KASIH