Anda di halaman 1dari 15

http://ferryfawziannor.blogspot.co.id/2011/07/miliariakeringat-buntet-bhs-jawa.

html
dr. Ferry Fawzi 17 Juli 2011

Miliaria ( keringat buntet ( bhs Jawa ) )


Latar belakang
Miliaria adalah gangguan umum dari kelenjar keringat ekrin yang sering terjadi
dalam kondisi dimana ada peningkatan panas atau suhu dan kelembaban. Miliaria
dianggap disebabkan oleh penyumbatan saluran keringat, yang menyebabkan kebocoran
keringat yang keluar dari kelenjar ekrin menuju ke epidermis atau dermis.1, 2
Terdapat 3 jenis miliaria yang diklasifikasikan menurut tingkat di mana terhalangnya
saluran keringat terjadi. Dalam miliaria crystallina, obstruksi duktus yang paling dangkal,
terjadi di stratum corneum. Klinisnya, bentuk penyakit ini menghasilkan vesikula kecil,
rapuh, dan jelas. Dalam Miliaria rubra, penyumbatan terjadi lebih dalam dari epidermis dan
menghasilkan papula erythematous yang sangat gatal ( pruritic ). Dalam Miliaria profunda,
obstruksi duktus terjadi pada gabungan dermal-epidermal. Keringat bocor ke papiler dermis
dan menghasilkan daging halus asimtomatik berupa papula berwarna. Ketika pustula
berkembang dalam lesi Miliaria rubra, istilah Miliaria pustulosa digunakan.

Miliaria

Patofisiologi
Faktor utama yang berperan bagi perkembangan miliaria adalah kondisi panas tinggi
dan kelembaban yang menyebabkan berkeringat berlebihan. Occlusion kulit karena
pakaian, perban, atau lembaran plastik (dalam pengaturan percobaan) selanjutnya dapat
berkontribusi untuk pengumpulan keringat pada permukaan kulit dan pengeluaran cairan
atau keringat berlebih (overhydration) dari lapisan corneum. Pada orang yang rentan,
termasuk bayi, yang relatif belum matang kelenjar ekrinnya, pengeluaran cairan atau
keringat (overhydration) dari stratum corneum dianggap cukup untuk menyebabkan
penyumbatan sementara dari acrosyringium.
Jika kondisi lembab dan panas bertahan, individu terus memproduksi keringat
berlebihan, tetapi dia tidak dapat mengeluarkan keringat ke permukaan kulit karena
penyumbatan duktus. Sumbatan ini menyebabkan kebocoran keringat dalam perjalanannya
ke permukaan kulit, baik di dalam dermis atau epidermis, dengan anhidrosis relatif.
Ketika titik kebocoran di lapisan corneum atau hanya di bawahnya, seperti dalam
Miliaria crystallina, akan ada sedikit peradangan yang menyertai, dan lesi tidak

menunjukkan gejala. Sebaliknya, pada Miliaria rubra, kebocoran keringat ke lapisan


subcorneal menghasilkan vesikula spongiotic dan sel inflamasi kronis periductal yang
menginfiltrasi di papiler dermis dan epidermis bawah. Pada Miliaria profunda, keluarnya
keringat ke dermis papiler menghasilkan suatu substansial, menginfiltrasi limfositik
periductal dan spongiosis dari duktus intra-epidermis.
Bakteri

seperti

Staphylococcus

epidermidis

dan

Staphylococcus

aureus,

diperkirakan memainkan peran dalam patogenesis miliaria. Pasien dengan Miliaria memiliki
3 kali lebih banyak bakteri per satuan luas kulit dibandingkan subyek kontrol sehat. Agen
antimikroba efektif dalam menekan Miliaria akibat eksperimental. Periodic Acid-Schiff positif
bahan tahan diastase telah ditemukan di sumbatan intraductal yang konsisten dengan
substansi polisakarida ekstraselular stafilokokal (EPS). Dalam pengaturan percobaan,
hanya Staphylococcus epidermidis yang menghasilkan EPS yang dapat menginduksi
miliaria.
Pada akhir tahap Miliaria, hyperkeratosis dan parakeratosis dari acrosyringium
(bagian paling atas dari saluran/duktus kelenjar keringat) dapat diamati. Sebuah sumbatan
hyperkeratotic mungkin muncul untuk menghalangi saluran ekrin, tetapi sekarang ini
diyakini menjadi perubahan akhir dan bukan penyebab yang mempercepat terjadinya
penyumbatan keringat.

Frekuensi
Amerika Serikat
Miliaria crystallina adalah kondisi umum yang terjadi pada neonatus, dengan
puncaknya pada mereka yang berusia 1 minggu, dan pada individu yang demam atau
mereka yang baru saja pindah ke tempat dengan kondisi suhu yang panas, dan beriklim
lembab.

Miliaria rubra juga umum terjadi pada bayi dan orang dewasa yang pindah ke
sebuah lingkungan tropis, bentuk ini terjadi pada sebanyak 30% dari orang-orang yang
terkena kondisi seperti pada lingkungan tropis.
Miliaria profunda merupakan suatu kondisi yang jarang yang terjadi pada hanya
sebagian kecil dari mereka yang telah mengalami serangan berulang dari Miliaria rubra.

Internasional
Data terbaik tentang kejadian Miliaria pada bayi baru lahir berasal dari survei Jepang
terhadap lebih dari 5000 bayi. Survei ini mengungkapkan bahwa Miliaria crystallina muncul
pada 4,5% dari neonatus, dengan usia rata-rata 1 minggu. Miliaria rubra muncul pada 4%
dari neonatus, dengan rata-rata usia 11-14 hari. Survei tahun 2006 dari studi dari Iran
menemukan sebuah insiden Miliaria sebanyak 1,3% dari angka kelahiran baru.
Di seluruh dunia, Miliaria adalah yang paling umum terjadi di lingkungan tropis,
terutama di kalangan orang-orang yang baru saja pindah ke lingkungan seperti dari daerah
beriklim lebih tinggi dalam hal panas dan kelembapan. Miliaria telah menjadi masalah
penting bagi personil militer Amerika dan Eropa yang bertugas di Asia Tenggara dan Asia
Pasifik.

Mortalitas / Morbiditas
-

Miliaria crystallina umumnya bersifat asimtomatik yang sembuh tanpa


komplikasi selama beberapa hari. Ini mungkin terjadi lagi jika panas dan kondisi
lembab bertahan.

Miliaria rubra juga cenderung untuk sembuh secara spontan ketika pasien
dipindahkan ke lingkungan yang lebih dingin. Tidak seperti pasien dengan
Miliaria crystallina, namun mereka yang menderita Miliaria rubra cenderung
menunjukkan gejala, mereka dapat merasakan gatal dan menyengat. Anhidrosis

berkembang di daerah yang terkena. Pada kondisi umum, anhidrosis dapat


menjadi hyperpyrexia dan panas. Infeksi sekunder adalah komplikasi lain dari
miliaria rubra, ini juga muncul sebagai impetigo atau beberapa abses diskret
yang dikenal sebagai periporitis staphylogenes.

Miliaria profunda sendiri merupakan komplikasi dari episode berulang dari


Miliaria rubra. Lesi dari miliaria profunda tidak menunjukkan gejala, tetapi
pengeluaran cairan atau keringat berlebih (Hyperhidrosis) dari wajah dan ketiak
dapat berkembang. Ketidakmampuan untuk berkeringat, akibat dari duktal ekrin
yang pecah, dikenal sebagaianhidrotic tropis asthenia, kondisi ini menyebabkan
pasien merasa kelelahan selama dalam iklim hangat .

Faktor Resiko
Ras
Miliaria terjadi pada individu-individu dari semua ras, walaupun beberapa studi
menunjukkan bahwa orang-orang Asia, yang menghasilkan lebih sedikit keringat dari kulit
putih, kurang beresiko memiliki Miliaria rubra.

Jenis Kelamin
Tidak ada kecenderungan terhadap jenis kelamin tertentu. Resiko terhadap laki
laki dibanding perempuan adalah sama.
Usia
-

Miliaria crystallina dan miliaria rubra dapat terjadi pada orang-orang dari segala
usia, tetapi yang paling umum terjadi adalah pada bayi. Dalam sebuah survei
Jepang lebih dari 5.000 bayi, crystallina Miliaria muncul pada 4,5% dari
neonatus, dengan usia rata-rata 1 minggu. Miliaria rubra muncul pada 4% dari
neonatus, dengan rata-rata usia 11-14 hari.

Tiga kasus dari miliaria crystallina telah dilaporkan.

Miliaria profunda lebih sering terjadi pada orang dewasa dibandingkan pada
bayi dan anak-anak.

Gejala Klinis
Miliaria crystallina
-

Bentuk ini biasanya menyerang bayi baru lahir (neonatus) yang berusia kurang
dari 2 minggu dan orang dewasa yang menderita demam atau mereka yang
baru saja pindah ke iklim tropis.

Lesi muncul dalam beberapa hari sampai beberapa minggu dari terpaparnya
cuaca panas dan menghilang dalam beberapa jam sampai beberapa hari.

Lesi umumnya asimtomatik.

Miliaria rubra
-

Bentuk ini biasanya menyerang neonatus usia 1-3 minggu dan orang dewasa
yang tinggal di tempat yang panas, dan lingkungan yang lembab.

Lesi dapat terjadi dalam beberapa hari setelah pajanan terhadap kondisi panas,
tetapi lebih cenderung muncul setelah berbulan-bulan setelah terpapar panas
dan lembab.

Lesi sembuh dalam beberapa hari setelah pasien dipindahkan dari kondisi
panas dan lingkungan lembab.

Lesi menyebabkan gatal atau pruritus intensif dan menyengat yang diperburuk
oleh demam, panas, atau pengerahan tenaga (exertion).

Pada pasien dapat muncul kelelahan dan intoleransi panas, dan mereka
mungkin akan melihat penurunan atau tidak ada keringat di tempat yang
terkena.

Miliaria profunda
-

Bentuk ini terjadi pada individu yang biasanya tinggal di iklim tropis dan
memiliki episode berulang dari Miliaria rubra.

Lesi berkembang dalam beberapa menit atau jam setelah stimulasi berkeringat.
Lesi ini sembuh dengan cepat, biasanya dalam waktu kurang dari satu jam
setelah stimulus yang menyebabkan berkeringat dihilangkan atau dihindari.

Lesi tidak menunjukkan gejala.

Pasien dapat melaporkan peningkatan produksi keringat di kulit yang tidak


terserang,

pembengkakan kelenjar getah bening, hyperpyrexia dan gejala

kelelahan akibat panas, yang mencakup pusing, mual, dyspnea, dan palpitasi.

Manifestasi Klinis
1. Miliaria crystallina
-

Lesi yang jelas, vesikula dangkal yang berdiameter 1-2 mm.

Lesi yang terjadi sering bertemu (confluent), tanpa eritema sekitarnya.

Pada bayi, lesi cenderung terjadi pada kepala, leher, dan bagian atas tubuh.

Pada orang dewasa, lesi terjadi pada tubuh.

Lesi pecah dengan mudah dan sembuh dengan desquamation dangkal.

Miliaria crystallina pada bayi. Perhatikan bahwa lesi adalah konfluen. Courtesy of
K.E. Greer, MD.

Gambar 2
Miliaria crystallina. Tampak gambaran air-drop pada lesi. Courtesy of K.E.
Greer, MD.

Gambar 3
Miliaria crystallina pada anak yang baru lahir. Courtesy of K.E. Greer, MD.
2. Miliaria rubra
-

Lesi seragam, kecil, vesikula eritem dan veskular papula pada latar belakang
atau dasar eritema.

Lesi terjadi dalam distribusi nonfollicular dan tidak menjadi konfluen.

Pada bayi, lesi terjadi pada leher dan di pangkal paha dan ketiak.

Pada orang dewasa, lesi terjadi pada kulit tertutup di mana gesekan terjadi,
daerah ini antara lain leher, kulit kepala, bagian atas tubuh, dan siku atau
persendian.

Pada tahap akhir, anhidrosis dapat diamati di kulit yang terkena.

Gambar 4
Miliaria rubra pada orang dewasa. Courtesy of K.E. Greer, MD.
3. Miliaria profunda
-

Lesi tegas, berwarna daging, papula nonfollicular yang berdiameter 1-3 mm.

Lesi terjadi terutama pada tubuh, tetapi mereka juga dapat muncul pada
ekstremitas.

Lesi sementara waktu ada setelah melakukan aktifitas atau rangsangan lain
yang mengakibatkan berkeringat.

Kulit yang terkena menunjukkan penurunan produksi atau tidak ada keringat.

Pada kasus yang parah yang menyebabkan kelelahan panas, hyperpyrexia dan
takikardia dapat diamati.

Penyebab
-

Ketidakmatangan dari saluran ekrin, neonatus diperkirakan saluran ekrin yang


belum matang yang mudah pecah ketika berkeringat, ini mengarah pada
Miliaria.

Kurangnya aklimatisasi. Miliaria adalah umum terjadi pada individu yang


bergerak dari iklim sedang ke iklim tropis. Kondisi biasanya sembuh setelah

individu telah tinggal di panas, kondisi lembab selama berbulan-bulan sebagai


bentuk akhir dari adaptasi.
-

Panas, kondisi lembab: iklim tropis, inkubator pada neonatal, dan penyakit
demam dapat menimbulkan atau mempercepat terjadinya Miliaria.

Aktifitas. Setiap rangsangan berkeringat dapat memicu atau memperburuk


Miliaria.

Tipe

pseudohypoaldosteronism.

Gangguan

ini

menyebabkan

resistensi

mineralokortikoid kehilangan garam berlebihan melalui sekresi kelnjar ekrin dan


berhubungan dengan episode berulang dari Miliaria rubra menjadi pustula.
-

Morvan sindrom: Miliaria rubra telah dilaporkan dalam gangguan autoimun


langka ini ditandai oleh neuromyotonia, insomnia, halusinasi, rasa sakit, berat
badan, dan hyperhidrosis.

Obat-obatan: Bethanechol, obat yang meningkatkan produksi keringat, telah


dilaporkan dapat menyebabkan Miliaria, begitu juga clonidine dan neostigmine.
Isotretinoin, obat yang mempengaruhi diferensiasi folikel, juga telah dilaporkan
menyebabkan miliaria. Kasus tunggal dari Miliaria crystallina, doksorubisin juga
dilaporkan menjadi penyebab miliaria.

Bakteri. Staphylococcus berhubungan dengan Miliaria, dan antibiotik mencegah


Miliaria.

Radiasi ultraviolet: Beberapa peneliti menemukan bahwa Miliaria crystallina


kadang terjadi pada kulit yang terpapar Ultra Violet.

Diferensial Diagnosis
-

Kandidiasis Kutaneus

Pityrosporum folikulitis

Chickenpox

Pseudomonas Folliculitis

Erythema Toxicum Neonatorum

Folliculitis

Herpes Simplex

Infantile acne

Viral exanthem

Pemeriksaan
Pemeriksaan Laboratorium
-

Miliaria secara klinis berbeda, karena itu, beberapa tes laboratorium diperlukan.

Dalam

Miliaria

crystallina,

pemeriksaan

sitologi

vesikuler

gagal

untuk

mengungkapkan isi sel atau multinuklear peradangan sel raksasa (seperti yang
diharapkan pada vesikula herpes).
-

Dalam Miliaria pustulosa, pemeriksaan sitologi dari pustula mengungkapkan isi


sel-sel inflamasi.

Tidak seperti eritema toxicum neonatorum, eosinofil tidak menonjol.

Pewarnaan

Gram

dapat

mengungkapkan

cocci

gram

positif

(misalnya,

staphylococci).

Temuan histologis
-

Dalam Miliaria crystallina, subcorneal vesikula atau intracorneal berkomunikasi


dengan

kelenjar

keringat

eccrine,

tanpa

sel-sel

peradangan

sekitarnya.

Terhalangnya saluran eccrine dapat diamati di stratum corneum.


-

Dalam Miliaria rubra, spongiotic vesikula dan spongiosis diamati dalam lapisan
Malphigi, bekerjasama dengan keringat eccrine duktus. Peradangan Periductal
juga muncul.

Pada awal luka di Miliaria profunda, yang didominasi infiltrasi limfositik


periductal muncul dalam papiler dermis dan epidermis bawah. Sebuah PAS-

positif eosinofilik diastase-resistant cast dapat dilihat dalam lumen duktus. Pada
lesi selanjutnya, sel-sel peradangan mungkin ada yang muncul lebih rendah di
dalam dermis, dan limfosit dapat memasuki saluran ekrin. Spongiosis di sekitar
epidermis dan parakeratotic hyperkeratosis dari acrosyringium dapat diamati.

Pengobatan
-

Tidak ada alasan kuat untuk mengobati Miliaria crystallina karena kondisi ini
asimtomatik

dan

merupakan self-limited

disease (sembuh

sendiri

tanpa

pengobatan).
-

Miliaria rubra dapat menyebabkan rasa yang sangat tidak nyaman, dan Miliaria
profunda dapat menyebabkan kelelahan akibat panas. Pengobatan kondisi ini
dibenarkan.

Pencegahan dan pengobatan Miliaria terutama mengendalikan kondisi panas


dan kelembaban sehingga produksi keringat tidak terangsang. Langkah mungkin
melibatkan

mengobati

penyakit

demam,

menghilangkan

pakaian

yang

menyerap panas, membatasi kegiatan, menyediakan AC, atau sebagai pilihan


terakhir pasien pindah ke iklim yang lebih dingin.
-

Perawatan topical yang telah dianjurkan melibatkan lotion yang mengandung


losio, asam borat, atau mentol, kompres sejuk basah-kering, sering mandi
dengan sabun (walaupun beberapa tidak menyarankan penggunaan sabun yang
berlebihan), topikal kortikosteroid dan antibiotik topikal.

Anhidrat lanolin topikal telah menghasilkan perbaikan dramatis pada pasien


dengan Miliaria profunda.

Miliaria yang profilaksis dengan antibiotik oral dilaporkan. Pasien juga telah
diobati dengan oral retinoid, vitamin A, dan vitamin C, dengan variabel
keberhasilan. Percobaan telah dilakukan untuk menunjukkan efektivitas dari
setiap terapi sistemik ini.

Agen antimikroba efektif dalam menekan Miliaria akibat eksperimental.

Aktivitas
-

Karena aktifitas meningkat menyebabkan berkeringat, yang akan sangat


memperburuk Miliaria, pasien harus disarankan untuk membatasi kegiatan
mereka, terutama pada cuaca panas, sampai Miliaria sembuh atau hilang.

Pasien dengan Miliaria profunda adalah risiko yang sangat tinggi mengalami
kelelahan akibat panas saat beraktifitas pada cuaca panas, karena kemampuan
mereka

untuk

menghantarkan

panas

dengan

cara

penguapan

keringat

terganggu.

Medikasi
Tujuan dari perawatan Miliaria rubra dan Miliaria profunda adalah memberikan
bantuan dan mencegah gejala hyperpyrexia dan kelelahan akibat panas. Para penulis tahu
tidak ada bukti kuat yang menunjukkan efektivitas dengan obat-obatan sistemik, karena itu,
obat-obatan topikal lebih disukai.

Topikal terapi
Lanolin anhydrous diyakini untuk mencegah penyumbatan duktus, membiarkan
keringat mengalir ke permukaan kulit. Calamine memberikan gejala pendinginan setelah
Miliaria berkembang.

Lanolin anhydrous
Untuk mencegah penyumbatan duktus, membiarkan keringat mengalir ke permukaan kulit.
Dosis
Dewasa

Terapkan topikal untuk daerah yang terkena sebelum latihan di cuaca panas
Pediatric
Berlaku seperti pada orang dewasa

Calamine (Caladryl)
Memberikan sensasi dingin setelah Miliaria berkembang.
Dosis
Dewasa
Terapkan untuk kulit yang terkena
Pediatric
Berlaku seperti pada orang dewasa

Pencegahan
-

Pasien harus menghindari paparan kondisi panas tinggi dan kelembaban.

Ketika pasien berada dalam iklim tropis, mereka harus memakai pakaian yang
ringan, menghindari aktivitas, gunakan tabir surya, dan tinggal di gedung berAC sebanyak mungkin.

Pada pasien dengan riwayat Miliaria, aplikasi topikal anhydrous lanolin sebelum
latihan dapat membantu mencegah pembentukan lesi baru.

Komplikasi
Yang paling umum Miliaria adalah komplikasi dari infeksi sekunder dan intoleransi panas.
-

Infeksi sekunder dapat muncul sebagai impetigo atau karena beberapa abses
terpisah dikenal sebagai periporitis staphylogenes.

Intoleransi panas yang paling mungkin untuk berkembang pada pasien dengan
Miliaria profunda; itu dikenal dengan anhidrosis kulit yang terkena, kelemahan,

kelelahan, pusing, dan bahkan roboh. Dalam bentuk yang paling parah,
intoleransi panas ini dikenal sebagai anhidrotic tropis asthenia.
Prognosis
Kebanyakan pasien sembuh dalam hitungan minggu, setelah mereka pindah ke
lingkungan yang lebih dingin.

Edukasi Pasien
-

Pasien yang telah menderita Miliaria, terutama Miliaria profunda, harus


menyadari peran panas dan kelembaban dapat menimbulkan kondisi ini.

Pasien ini harus disarankan untuk memakai pakaian ringan yang menyerap
keringat, tinggal keluar dari matahari, menghindari aktifitas dalam cuaca panas,
dan tinggal di lingkungan ber-AC sebanyak mungkin