Anda di halaman 1dari 7

IDENTIFIKASI HUBUNGAN POLA ASUPAN PROTEIN HEWANI DENGAN RESIKO

GOUT ARTHRITIS DI KOTA BATU


Handono Kalim*, Sri Sunarti**, Prisca Anindhita***
ABSTRAK
Gout Arthritis adalah penyakit metabolisme dengan manifestasi klinik arthritis gout
akut, akumulasi kristal pada jaringan yang merusak tulang, batu asam urat, dan yang jarang
adalah kegagalan ginjal. Salah satu faktor risiko munculnya gout arthritis adalah pola
asupan protein hewani yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
antara pola asupan protein hewani dengan resiko gout arthritis. Penelitian ini menggunakan
jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan
data dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
peserta seminar di Rumah Sakit Baptis, Batu. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 117
yang diambil secara purposive sampling dengan kriteria yang telah ditetapkan. Penelitian ini
menunjukkan nilai p=0,001 (p0.05) yang berarti H1 diterima artinya ada hubungan yang
bermakna antara pola asupan protein hewani dengan resiko gout arthritis. Hasil analisis juga
menunjukkan nilai OR=17,192 dengan batas antara 6,340-46,615 untuk confidence interval
95%, yang berarti subjek penelitian dengan pola asupan protein hewani tinggi memiliki
peluang 17,192kali untuk mendapat serangan gout arthritis dibandingkan sengan subjek
penelitian dengan pola asupan protein hewani rendah. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan
bisa menjadikan penelitiannya lebih baik dengan acuan penelitian ini serta agar bisa
menggali faktor-faktor lain yang bisa menyebabkan gout arthritis.
Kata kunci: pola asupan protein hewani, gout arthritis
ABSTRACT
Gout Arthritis is a metabolic disease. In the clinical manifestation of acute gout
arthritis, there is an accumulation of crystals in the tissue which can damage the bone,
causing uric acid stone, and rarely lead to kidney failure. One of the potential risk factor that
causes gout arthritis is high intake of animal protein. The purpose of this research is to know
the relationship between the pattern of animal protein intake and the risk of gout arthritis.
This research is an analytic observation study with cross section approach. Data collection
was conducted using questionnaires. The population in this study were from the seminar in
Baptis Hospital, Batu. In this study, 117 participants were chosen by the purposive sampling
with certain criteria. The result shows the value p=0,001 (p0.05) which means H 1 is
accepted that there is a significant relationship between the pattern of animal protein intake
with the risk of gout arthritis. The result also shows the value OR=17,192 with the border
limit between 6,340-46,615 for the confidence interval 95%, which means that the research
subjects with high high animal protein will have gout arthritis 17,192 times easier than the
research subjects with low intake of animal protein. However, the next researcher should
conduct a better research in order to be able to find some other factors which will cause gout
arthritis.
Keyword: pattern of animal protein intake, gout arthritis
*Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang
** Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang
***Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang

PENDAHULUAN

laki, tekanan darah, berat badan, dan

Gout arthritis merupakan penyakit

konsumsi alkohol. Ada korelasi langsung

yang sering ditemukan di masyarakat.

antara kadar asam urat dalam serum

Gout

dengan insidensi dan prevalensi gout.

arthritis

adalah

penyakit

metabolisme dengan manifestasi klinik

Hiperurisemia adalah keadaan di

arthritis gout akut, akumulasi kristal pada

mana terjadi peningkatan kadar asam urat

jaringan yang merusak tulang, batu asam

(AU) darah di atas normal. Hiperurisemia

urat, dan yang jarang adalah kegagalan

yang

ginjal.

menyebabkan gout, namun tidak semua


Gout arthritis merupakan penyakit

berkepanjangan

hiperusemia akan menimbulkan kelainan

yang multifaktorial. Faktor-faktor resiko

patologi berupa gout.

gout antara lain adalah pria di atas 30

Protein

tahun,

wanita

postmenopause,

dapat

yang

terdapat

dalam

ras

makanan merupakan salah satu sumber

Africans Americans, usia tua, obesitas,

purin. Asam urat merupakan hasil akhir

konsumsi obat-obatan tertentu (misalnya

dari metabolisme purin, suatu produk sisa

diuretik), dan konsumsi makanan kaya

yang tidak mempunyai peran fisiologi.

purin dan alkohol. Makanan ataupun

Sebuah survey nutrisi yang dilakukan oleh

minuman

hanya

Hyon Choi pada tahun 2010 menyatakan

meningkatkan produksi urat tetapi juga

bahwa peningkatan berat badan, obesitas,

menurunkan eliminasi urat melalui ginjal.1

konsumsi bir, daging dan makanan laut,

Bir memiliki kandungan purin tertinggi di

minuman yang mengandung fruktosa dan

antara makanan dan minuman beralkohol

gula

sehingga

resiko

arthritis. Makanan yang memiliki efek

gout.2

menurunkan risiko gout arthritis antara

wine

tidak

lain penurunan berat badan, konsumsi

terjadinya

gout.

makanan rendah lemak, vitamin C, dan

Menariknya, sebuah study yang baru-baru

kopi. Faktor diet lain yang bersifat netral

ini dilakukan oleh Choi et al menunjukkan

terhadap

bahwa

kaya

antara lain anggur, teh, minuman bersoda,

pada

produk-produk susu tinggi lemak, dan

peningkatan

sayuran kaya purin. Hal ini bertolak

menurunkan

belakang dengan anggapan masyarakat

beralkohol

tidak

merupakan

tertinggi

untuk

Sebaliknya,

perkembangan

anggur

meningkatkan

faktor

atau

resiko

mengkonsumsi

protein

tidak

perkembangan
konsumsi

sayuran

berpengaruh
gout

produk

dan
susu

insiden gout.3
Menurut studi, konsentrasi asam

bahwa

merupakan

faktor

perkembangan

sumber

protein

resiko

gout

nabati

gout

arthritis

dapat

memicu gout arthritis.

urat (resiko gout), berkorelasi dengan

Pada penelitian diteliti hubungan

umur, kadar kreatinin dalam serum, kadar

pola asupan protein hewani dengan resiko

nitrogen urea dalam darah, gender laki-

gout arthritis di Kota Batu.

responden yang berusia antara 56-70


tahun

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis

(41,9%).

Berdasarkan

status

pernikahan, sebagian besar responden

penelitian observasional analitik dengan

masih

studi cross sectional. Variabel

bebas

Berdasarkan jenis pendidikan, sebagian

pada penelitian ini adalah pola asupan

besar responden berpendidikan SMA dan

protein

sederajat

hewani

sedangkan

variabel

dalam

penelitian

ini

adalah warga yang datang ke seminar di


responden.

sampel

Teknik

dalam

pengambilan

penelitian

ini

adalah

purposive sampling dimana ada kriteria


inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi
dalam

penelitian

ini

(32,5%).

berprofesi

(91,5%).

Berdasarkan

jenis

adalah

bersedia

mengikuti penelitian dan menandatangani


informed consent, penduduk Kota Batu
baik pria maupun wanita yang berusia

sebagi

ibu

rumah

tangga

univariat

dalam

(59,8%).
Hasil

Rumah Sakit Baptis, Batu yang berjumlah


118

menikah

pekerjaan, sebagian besar responden

terikatnya adalah gout arthritis.


Populasi

berstatus

analisis

penelitian ini adalah


Tabel

5.2.1

Karakteristik

Responden

yang

Diukur
Karakteristik

Frekuensi (N)

Presentase (%)

34

29.1%

83

70.9%

Status Penyakit
a.

Gout positif

b. Gout negatif
Pola
Asupan
Protein Hewani

lebih dari 30 tahun, dan penduduk dengan

a.

Rendah

85

72,6%

atau

b.

Tinggi

32

27.4%

tanpa

gout

arthritis

sedangkan

kriteria eksklusinya adalah penduduk yang


menderita Systemic Lupus Erythematosus
dan tidak bersedia mengikuti penelitian
dan

tidak

consent.

menandatangani

Dari

118

informed

responden,

yang

memenuhi kriteria inklusi adalah 117


responden. Untuk instrumen penelitian,
dalam

penelitian

ini

menggunakan

kuesioner.

sebagian

besar

berjumlah

83

merupakan

gout

Mengenai

di

atas,

responden
responden
negatif.

yakni
(70,9%)

Kemudian

responden

(29.1%).

Sebanyak

85

responden (72.6%) memiliki pola asupan


protein hewani yang rendah dan sebanyak
responden

(27.4%)

memiliki

pola

asupan protein hewani yang tinggi.


karakteristik

umum

responden, berdasarkan jenis kelamin,


responden yang hadir sebagian besar
kelamin

tabel

didapatkan gout positif berjumlah 34

32

HASIL PENELITIAN

berjenis

Berdasarkan

wanita

(94,9%).

Berdasarkan usia, yang terbanyak adalah

Adapun

hasil

analisis

bivariat

dalam penelitian ini adalah


5.2.2

Hubungan Pola Asupan Protein Hewani

dengan Resiko Gout Artritis

Tabel 5.2.2 Hasil Analisis Chi-Square antara

Penelitian ini juga menunjukkan

Hubungan Pola Asupan Protein Hewani dan

bahwa sumber protein hewani yang paling

Resiko Gout Artritis


Pola
Asupan

banyak dikonsumsi warga adalah telur,

Gout Arthritis
Gout (+)
Gout (-)

Protein

Hewani
Tinggi

23

19.7

7.7

Rendah

11

9.4

74

ayam, dan daging sapi.


P

OR

value

95% CI

0,001

17,192

63.2

6,340- 46,615

p=0,001. Karena nilai p<0,05 yang berarti


H0 ditolak dan H1 diterima, maka dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan yang
bermakna antara pola asupan protein
hewani yang tinggi dengan resiko gout
arthritis. Hasil analisis juga menunjukkan
nilai OR=17,192 dengan batas antara
6,340 46,615 untuk confidence interval
95%, yang berarti subjek penelitian yang
dengan pola asupan protein hewani tinggi
menderita

peluang
gout

17,192
arthritis

kali

untuk

dibandingkan

dengan subjek penelitian dengan pola


asupan protein hewani yang rendah.

penelitian

ini,

peneliti

membagi pola asupan protein hewani


menjadi dua yakni pola asupan protein
hewani tinggi dan rendah. Hasil penelitian
menunjukkan sebanyak 85 responden di
Rumah Sakit Baptis cenderung memiliki
pola asupan protein hewani yang rendah
(72,6%),

(29,1%)

menderita

gout

(70,9%) tidak menderita gout arthritis.


Keluhan yang paling sering dirasakan
responden adalah lebih dari 1 serangan
gout

arthritis

(82,9%),

serangan

oligoarthritis ( 60,7%), dan pernah benarbenar

sembuh

sempurna

setelah

serangan (41,9%).
Berdasarkan

hasil

analisis

menggunakan uji chi-square didapatkan


nilai p=0,001. Karena p<0,05 maka H0
ditolak dan H1 diterima yang berarti
terdapat hubungan bermakna antara pola
asupan protein hewani dengan resiko gout
arthritis. Hal ini sesuai dengan penelitian
cross-sectional yang dilakukan oleh Hyon
Choi pada tahun 2010 yang menunjukkan
hubungan yang positif antara pola asupan
protein hewani dan resiko gout arthritis di
populasi. Penelitian ini juga menunjukkan

PEMBAHASAN
Dalam

responden

arthritis dan sebanyak 83 responden

Hasil uji statistik diperoleh nilai

memiliki

Dari hasil penelitian, sebanyak 34

sedangkan

32

responden

(27,4%) memiliki pola asupan protein


hewani yang tinggi.

bahwa sayuran yang kaya purin bersifat


netral sebagai faktor resiko gout arthritis.
Penelitian lain yang juga dilakukan oleh
Hyon Choi et. al. pada tahun 2005
menyebutkan
nabati

yang

menyebabkan

bahwa

sumber

selama

ini

protein
diduga

peningkatan asam

urat

seperti kacang-kacangan, bayam, jamur,


dan kembang kol tidak terkait dengan
peningkatan resiko gout arthritis.

Nilai
adalah

OR

dalam

17,192

penelitian

urat

yang

dapat

mencetuskan terjadinya serangan gout

penelitian dengan pola asupan protein

arthritis akut terdiri atas asam urat

hewani tinggi memiliki peluang 17,192 kali

endogen (80%) yaitu asam urat yang

untuk mendapat serangan gout arthritis

diproduksi sendiri oleh tubuh dan asam

dibandingkan dengan subjek penelitian

urat eksogen (20%) yang berasal dari

dengan

makanan. Walaupun persentase asam

asupan

berarti

Asam

subjek

pola

yang

ini

protein

hewani

rendah.

urat eksogen jauh lebih kecil daripada


Pada

85

responden

(72,6%)

endogen , tetapi asam urat eksogen

dengan pola asupan protein rendah, 11

memiliki

orang di antaranya juga menderita gout

menyebabkan fluktuasi kadar asam urat

arthritis. Hal ini karena gout arthritis

dalam tubuh. Penelitian yang dilakukan

merupakan penyakit yang multifaktorial,

oleh Hyon Choi pada tahun 2010 juga

yang berarti tidak hanya dipicu oleh pola

menyebutkan bahwa jus buah sebagai

asupan

tinggi.

salah satu faktor resiko gout arthritis.

Selain itu, serangan akut arthritis gout

Kandungan fruktosa yang tinggi pada jus

tidak selalu harus dalam keadaan asam

buah

urat tinggi. Fluktuasi kadar asam urat

tubulus

yang cenderung turun-naik, juga bisa

reabsorbsi asam urat meningkat.

protein

hewani

yang

mengakibatkan serangan akut. Konsumsi

peran

yang

menghambat

besar

kinerja

sehingga

dalam

enzim

di

menyebabkan

Faktor lain yang dapat memicu

sumber protein hewani ini menyebabkan

serangan

kadar asam urat naik secara mendadak.

hipertensi. Penelitian oleh Edward dan

Sebaliknya, seseorang dengan kadar

Becker (2001) serta Wirama Diana dan

asam urat tinggi bisa mendapat serangan

Raka Putra (2007) melaporkan 25-50%

akut bila melakukan diet terlalu ketat atau

dan 2-14% pasien hipertensi menderita

minum

urat

gout. Oleh karena kadar asam urat serum

(allopurinol) dosis tinggi. Diet ketat atau

berhubungan secara langsung dengan

konsumsi obat tersebut menyebabkan

resistensi vaskuler di perifer dan vaskular

kadar asam urat turun drastis (5mg

renal. Penurunan aliran darah ke ginjal

obat

penurun

asam

gout

arthritis

akut

adalah

%). Penelitian lain yang dilakukan oleh

mungkin berhubungan dengan hipertensi

Tjokorda Raka Putra pada tahun 2009

dan

menyebutkan

terhadap 40 penderita hipertensi ringan

bahwa

kelainan

fungsi

hiperurisemia.
sedang

Penelitian
yang

lain

ginjal sebagai faktor resiko gout arthritis.

sampai

Hal ini dikaitkan dengan adanya kelainan

pemeriksaan asam urat dan ekskresi

ekskresi urat di tubulus menurunkan

asam

urat

kilrens urat endogen.5

asam

urat

mendapatkan
serum

dan

dilakukan
konsentrasi
prevalensi

hiperurisemia lebih tinggi pada penderita

hipertensi dibandingkan dengan mereka

jam. Ini dikaitkan dengan kandungan

dengan tekanan darah normal. Pada

purin dalam hal ini guanosine, yang

penderita dengan hipertensi yang disertai

merupakan

hiperurisemia

mudah

didapatkan

kadar

bentuk

diabsorbsi.

purin

yang

Alkohol

juga

(Fractional Uric Acid Clearance ) FUAC

menyebabkan

lebih rendah dibandingkan orang normal.

hiperurisemia

Hubungan antara asam urat dengan

ekskresi asam urat. Konsumsi alcohol

FUAC yang ditemukan pada penderita

yang

hipertensi

tingginya

mengakibatkan asam organik seperti

prevalensi hiperurisemia pada hipertensi

laktat, sehingga menghambat sistem

esensial

transport urat. Pada penelitian ini

menjelaskan
disebabkan

oleh

ekskresi asam urat di ginjal.


Konsumsi

gangguan

alkohol

karena

dapat

alkohol

penurunan

berlebihan

berdasarkan
juga

terjadinya

akan

kebiasaan

didapatkan

pada

minum
mereka

meningkatkan resiko gout arthritis. Hasil

yang

ini sesuai dengan penelitian oleh

dengan peminum alkohol sebanyak

Brusch

12 orang (42,8%). Sedangkan pada

(1957),

OSullivan

(1970),

hiperurisemia

kebanyakan

Krupp (1974), dan Herlianthy (2000)

kelompok

hiperurisemia

juga

penurunan

ekskresi

mendapatkan

hasil

terdapat

karena

asam

urat

hubungan antara konsumsi alkohol

didapatkan mereka yang merupakan

dengan FUAC.

Hasil penelitian ini

peminum alkohol sebanyak 40,8%.

sesuai

dengan

sebuah

yang

dilakukan

penelitian

Gibson,et

al.

terhadap 5 laki-laki penderita gout

KESIMPULAN
1. Berdasarkan

tabel

5.2.1

diketahui

dan 5 laki-laki dengan kadar asam

bahwa responden yang menderita

urat

gout arthritis adalah sebanyak 34

normal

alkohol

responden (29.1%) dan sebanyak 83

periode 4 jam selama 2 hari berturut-

responden (70.9%) tidak menderita

Terjadi

atau

mengkonsumsi
dalam

turut.

(bir

yang

squash)

peningkatan

kadar

laktat serum setelah konsumsi bir

gout arthritis.
2. Dari tabel 5.2.2

diketahui

hasil

peningkatan

p=0,000 (p<0,05) yang berarti H1

asam urat serum hanya terdapat

diterima dan H0 ditolak, yang artinya

dan

squash,

tetapi

pada yang mengkonsumsi bir. Klirens


urat meningkat pada kedua jenis
minuman, tetapi hanya pada mereka
yang

mengkonsumsi

bir

terjadi

peningkatan ekskresi asam urat 24

terdapat

hubungan yang bermakna

antara pola asupan protein hewani


dengan resiko gout arthritis.
3. Dari tabel 5.2.2 diketahui hasil uji ChiSquare didapatkan nilai OR=17,792
dengan batas antara 6,340-46,615

untuk confidence interval 95%, yang


berarti subjek penelitian dengan pola
asupan protein hewani tinggi memiliki
peluang 17,192 kali untuk mendapat
serangan gout arthritis dibandingkan
dengan subjek penelitian dengan pola

SARAN
1. Informasi bahwa pola asupan protein
hewani yang tinggi merupakan faktor
resiko terjadinya gout arthritis yang
membantu

dalam

usaha

pencegahan.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
dengan metode cohort

untuk dapat

memperkuat hipotesis awal.


3. Perlu dilakukan penyuluhan kepada
masyarakat

mengenai

2. Choi, Hyon K, Atkinson K, Karlson


EW, et al,. 2010. Alcohol Intake
and Risk of Incidence Gout in Men
: a Prospective Study. Lancet 363 :
1277-81.
3. Sunkureddi, Prashant, NguyenOghalai, Tracy U., Karnath,
Bernard M., 2006. Clinical Signs of
Gout. Hospital Physician 39-47.

asupan protein hewani rendah.

dapat

Absence of Obesity and Alcohol


Abuse. Clin Rheumatol 9 : 28 31.

pemilihan

sumber protein hewani yang baik.


DAFTAR PUSTAKA
1. Collantes Estevez E, Pineda
Priego M, A-Non Barbudo J, et al.
2010.
Hyperuricaemiahyperlipidemia Association in The

4. Padang,
Caecilia.
2006.
Characteristics of Chronic Gout in
Northern Sulawesi. Indonesian
Rheumatic Center.
5. Raka Putra, Tjokorda. 2009. .
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid III Edisi V. Jakarta : Pusat
Penerbitan
Departemen
Ilmu
Penyakit
Dalam
Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
6. Rama Putra, I Made. 2010.
Korelasi antara Konsumsi Alkohol
dan Fractional Uric Acid Clearance
(FUAC) pada Populasi Suku Bali
di Desa Penglipuran, Kubu<
Bangli. Bagian SMF/ Ilmu Penyakit
Dalam FK Unud RSUP Sanglah
Denpasar: 164-170.