Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH PEMBERIAN SITOKININ TERHADAP PENGHAMBATAN

DEGRADASI KLOROFIL

Oleh:
Nurfitriyani
Dwi Oktaviani
Mohammad Afifudin
Retno Mayangsari
Rombongan
Kelompok
Asisten

B1J013032
B1J013057
B1J013063
B1J013074
:I
:2
: Cyninta Kirana

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI ZAT PENGATUR TUMBUH

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO

2015
I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Klorofil adalah zat hijau daun pada tanaman yang memfasilitasi penyerapan
cahaya dari matahari. Klorofil memiliki kemampuan untuk mengubah energi cahaya
agar menjadi bentuk yang dapat digunakan untuk berbagai proses seperti fotosintesis,
yaitu pada tanaman hijau untuk menyiapkan makanannya sendiri. Sel Tanaman
menyimpan sinar matahari dan kemudian membuatnya agar bisa kita konsumsi.
ItulH alasan di balik warna hijau dan pigmentasi pada tanaman. Ada berbagai macam
bentuk klorofil yang terbentuk secara alami, seperti klorofil a dan klorofil b. Namun
yang paling penting dan banyak terdapat dalam tanaman adalah klorofil a
(Dwidjoseputro, 1992).
Warna merupakan salah satu daya tarik dari suatu bahan pangan. Dalam
bahan pangan atau dalam istilah biologi, warna dapat kita sebut dengan pimen.
Beberapa

jenis pigmen yang kita tahu seperti pigmen klorofil dan pigmen

karotenoid. Pigmen klorofil memberikan warna pada daun tanaman sehingga kita
mampu untuk melihat warna hijau daun. Begitu pula dengan pigmen karotenoid.
Wortel yang kaya akan gizi memiliki warna oranye yang sangat menarik dan biasa
digunakan sebagai sumber pewarna makanan. Tetapi, seiring dengan perubahan
waktu, pigmen klorofil dan karotenoid dapat berunah. Warna daun yang awalnya
hijau dan terlihat segar akan berubah menjadi coklat dan layu. Pigmen karotenoid
yang menghasilkan warna oranyepun lambat laun warnanya akan memudar. Oleh
karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai klorofil dan karotenoid serta
perubahannya (Kusumo, 1990).

B. Tujuan
Tujuan praktikum adalah untuk mempelajari pengaruh pemberian sitokinin
terhadap penghambatan degradasi klorofil.

II.

MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat yang digunakan klorofil meter, cawan petri, gunting.


Bahan yang digunakan daun terong, media ms cair, BAP dengan konsntrasi 0, 5,
10, 15, 20 mikromolar.
B. Metode
Metode yang digunakan dalam acara praktikum kali ini adalah sebagai berikut:

(a
)

(b
)

(c)

(d
)

(a) = Tanaman terong


(b) = Daun terong dipotong
(c) = Dipotong lagi kecil kecil dengan panjang dan lebar masing masing 1 cm
sebanyak 5 potong.
(d) = Ditaruh dalam cawan petri, direndam dalam Ms cair dan masing masing
potongan diberi perlakuan BAP berbagai konsentrasi (0, 5, 10, 15, 20
mikromolar) setelah itu di inkubasi dan diukur klorofilnya setiap pengamatan.
Pengamatan dilakuakan selama 1minggu (tiga hari sekali).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Daun 1
Ulangan
1
Ulangan
2
Ulangan
3

26,2

16,9

15,2

27,7

7,9

25,2

20,8

21,6

20,7

6,7

25,7
Daun 2

20,3
22,7
Minggu ke 1
Daun 3
Daun 4

25,6
Daun 5

7, 8

19,9

14,6

14,1

23,6

6,7

21,4

15,5

13,9

15,2

5,4

19,8

Daun 1
Ulangan
1
Ulangan
2
Ulangan
3

Daun 5

10,2

Daun 1
Ulangan
1
Ulangan
2
Ulangan
3

Nilai Indeks Klorofil (CCL)


Minggu ke 0
Daun 2
Daun 3
Daun 4

Daun 2

16,7
16,3
Minggu ke 2
Daun 3
Daun 4

23,2
Daun 5

4,1

7,8

7,6

7,1

10,4

3,2

11,2

6,8

6,2

8,1

2,1

9,7

5,8

5,3

9,8

Gambar 3.1 . Hasil pengukuran pemotongan daun terong dan pengukuran


menggunakan klorofil meter

Gambar 3.2. Hasil daun terong yang di rendam dalam MS cair.


B. Pembahasan
Hasil dari pengamatan pada minggu ke 0 sampai minggu ke 2 telah
menunjukkan penurunan kandungan klorofil pada potongan daun terong. Misalnya
pada minggu ke 0, daun 1, ulangan 1, nilai indeks klorofilnya (ccl) sebesar 10,7.
Kemudian, minggu ke 1, daun 1, ulangan 1, nilai indeks klorofilnya (ccl) sebesar 7,8
dan pada minggu ke 2, daun 1, ulangan 1, nilai indeks klorofilnya (ccl) menunjukkan
sebesar 4,1. Begitupun pada daun dan ulangan seterusnya menunjukkan bahwa
potongan daun terong tersebut mengalami degradasi dan dalam hal ini sitokinin
berperan penting dalam penghambatan degradasi klorofil daun terong.
Sitokinin adalah senyawa yang dapat meningkatkan pembelahan sel pada
jaringan tumbuhan serta mengatur pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sama
halnya dengan kinetin (6-furfurylaminopurine). Peranan auksin dan sitokinin sangat
nyata dalam pengaturan pembelahan sel, pemanjangan sel, diferensiasi sel, dan
pembentukan organ (Aryalina, 2007).
Pemberian sitokinin ke dalam medium kultur jaringan penting untuk
menginduksi perkembangan dan pertumbuhan eksplan. Senyawa tersebut dapat
meningkatkan pembelahan sel, proliferasi pucuk dan morfogenesis pucuk. Bahkan
menurut George dan Sherrington, apabila ketersediaan sitokinin di dalam medium
kultur sangat terbatas maka pembelahan sel pada jaringan yang dikulturkan akan
terhambat. Akan tetapi, apabila jaringan tersebut disubkulturkan pada medium
dengan sitokinin yang memadai maka pembelahan sel akan berlangsung secara
sinkron (George dan Sherrington, 1984).
Secara singkat biosintesis sitokinin dapat dijelaskan sebagai berikut:Jaringan
tumbuhan yang mengandung enzim isopentenil AMP diubah menjadi isopentenil
adenosine 5 fosfat (isopentenyl AMP) dihidrolisi oleh enzim fosfatase menjadi
isopentenil adenosine melepaskan gugus ribose menjadi isopentenil adenine
(sitokinin) mengelami oksidadi menjadi zeatin (sitokinin) mengalami reduksi
NADPH menjadi dihidrozeatin (sitokinin) (Salisbury and Ross, 1995).
Secara sederhana sitokinin diangkut melalui xylem ke bagian pucuk tanaman.
Namun demikian, floem merupakan jalan transport sitokinin yang lebih efektif
dibandingkan dengan xylem yang dipengaruhi oleh proses transpirasi. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Salisbury and Ross (1992) bahwa, pengangkutan berbagai jenis

sitokinin pasti terjadi di dalam xylem. Namun, tabung tapis juga mengandung
sitokinin. Hal ini dapat dibuktikan dengan menggunakan daun dikotil yang dipetik.
Ketika sehelai daun dewasa dipetik dari tumbuhan spesies tertentu dan dijaga
kelembabannya, sitokinin bergerak ke pangkal tangkai daun dan tertimbun di situ.
Pergerakan ini mungkin terjadi melalui floem, bukan melalui xylem, karena
transpirasi sangat mendukung aliran xylem dari tangkai ke helai daun. Penimbunan
sitokinin di tangkai menunjukkan bahwa helai daun dewasa dapat memasok sitokinin
ke daun muda lainnya melalui floem, asalkan daun tersebut mampu mensintetis
sitokinin atau menerimanya.
Mekanisme kerja sitokinin dalam jaringan yang berbeda bergantung pada
keadaan fisiologis. Keberadaan sitokinin sama dengan hormon yang lain yaitu
terdapat dalam konsentrasi rendah (0.01- 1 M). Pembentukan RNA dan enzim
diduga karena adanya efek

pemacuan oleh sitokinin. Sitokinin eksogen dapat

meningkatkan pembelahan sel pada sintesis DNA tapi efek khususnya belum dapat
diketahui. Pemacuan sitokinesis merupakan salah satu respon sitokinin yang
terpenting. Sitokinin mendorong pembelahan sel dalam biakan jaringan dengan cara
meningkatkan peralihan dari G2 (fase istirahat) ke mitosis. Hal tersebut terjadi
karena sitokinin menaikkan laju sintesis protein yang dibutuhkan untuk mitosis.
Sintesis protein dapat ditingkatkan dengan cara memacu pembentukan RNA kurir
(RNA yang mengkode sintesis protein tertentu). Kajian terhadap pembelahan sel
yang diaktifkan oleh sitokinin di meristem apikal diperoleh bukti bahwa benziladenin
dapat mempersingkat laju berlangsungnya fase S dalam daur sel (dari G2 ke mitosis)
dan bahwa hal tersebut terjadi karena sitokinin menaikkan laju sintesis protein.
Beberapa protein itu berupa protein pembangun atau enzim yang dibutuhkan untuk
mitosis. Diduga protein tersebut memacu pembelahan sel secara langsung dengan
cara mengendalikan sintesis DNA (Lakitan, 1996).
Menurut

Salisbury

dan

Ross

(1995),

dijelaskan

bahwa

sitokinin berperan sebagai berikut:


1) Memacu pembelahan sel dan pembentukan organ
Pada penelitian Skoog dan kawannya dalam media kultur
terlihat bahwa, jika sitokinin ditambahkan sitokenesis terpacu
sekali.

Terbukti

dengan

terbentuknya

massa

sel

yang

terspesialisasi, tak beraturan, dan poliploid yang disebut kalus.

tak

2) Menunda penuaan dan meningkatkan aktivitas wadah


penampung hara.
Hal ini dapat terlihat pada tanaman bunga matahari,
kandungan sitokinin dalam cairan xilem meningkat selama masa
pertumbuhan-cepat, kemudian sangat menurun saat pertumbuhan
berhenti dan tanaman mulai berbunga. Hal tersebut menunjukkan
bahwa

berkurangnya

angkutan

sitokinin

dari

akar

ke

tajuk

mengakibatkan penuaan terjadi lebih cepat.


3) Memacu pertumbuhan kuncup samping tumbuhan dikotil
Jika sitokinin diberikan pada kuncup samping yang tak
tumbuh karena kalah oleh pertumbuhan apeks tajuk yang terletak
di atasnya, sering kuncup samping itu bisa tumbuh. Pada beberapa
penelitian, perbandingan sitokinin dan auksin berperan penting
untuk

mengendalikan

mendorong

dominansi

perkembangan

kuncup

apikal;
dan

nisbah
nisbah

yang
yang

tinggi
rendah

mendukung dominansi.
4) Memacu

pembesaran

sel

pada

kotiledon

dan

daun

tumbuhan dikotil
Pada semua hasil percobaan dengan menggunakan kotiledon
biji tumbuhan dikotil menunjukkan bahwa, sitokinin meningkatkan
baik sitokinesis maupun pembesaran sel, tapi sitokinesis tidak
meningkatkan pertumbuhan organnya sendiri, sebab sitokinesis
hanya merupakan proses pembelahan saja. Sehingga, keseluruhan
pertumbuhan membutuhkan pemelaran sel dan pertumbuhan yang
terpacu oleh sitokinin meliputi pemelaran sel yang lebih cepat dan
produksi sel yang lebih banyak.
5) Memacu perkembangan kloroplas dan sintesis klorofil
Efek pemberian sitokinin pada daun atau kotiledon yang
teretiolasi selama beberapa jam sebelum diberi cahaya akan
menghasilkan 2 efek utama yaitu:

a) Memacu

perkembangan

etioplast

menjadi

kloroplast

(khususnya dengan mendorong pembentukan grana)


b) Meningkatkan laju pembentukan klorofil
Kedua

efek

tersebut

muncul

karena

sitokinin

mendorong

terbentuknya protein tempat klorofil menempel. Diduga sitokinin


endogen meningkatkan perkembangan kloroplas daun dengan cara
yang sama. Kemampuan sitokinin dalam mengaktifkan sintesis
protein yang mengikat klorofil a dan b berhubungan dengan
mekanisme kerja sitokinin.
Degradasi klorofil pada jaringan sayuran dipengaruhi oleh pH. Pada media
basa (pH 9), klorofil sangat stabil terhadap panas, sedangkan pada media asam(pH 3)
tidak stabil. Penurunan satu nilai pH yang terjadi ketika pemanasan jaringan tanaman
melalui pelepasan asam, hal ini mengakibatkan warna daun memudar setelah
pemanasan. Penambahan garam klorida seperti sodium, magnesium atau kalsium
menurunkan feofitinisasi, karena terjadi pelapisan elektrostatik dari garam (Latunra,
2010).
Tumbuhan yang mengandung klorofil akan mengalami kerusakan. Proses
kerusakan tersebut berjalan secara bertahap. Tahap awal saat tanaman memiliki
pigmen klorofil, karoten dan xantofil, sehingga tanaman tersebut memiliki
bermacam-macam

warna.

Tahap

selanjutnya

saat

pigmen-pigmen

tersebut

mengalami kerusakan, sehingga mengakibatkan warna daun menjadi kekuningkuningan. Dan tahap terakhir adalah tahap saat daun-daun gugur dari pohonnya.
Menurut Ratna (2008) menyatakan bahwa klorofil dapat mengalami kerusakan pada
musim gugur, sehingga muncul warna kuning kecoklatan. Klorofil menyerap warna
biru, ungu, dan merah terang dan memancarkan warna hijau. Selama masatumbuh,
ekspresi klorofil menutupi pigmen-pigmen lain, seperti xantofil, karotendan tanin
yang terdapat pada daun.Salah satu penyebab terjadinya pelayuan adalah karena
adanya proses transpirasi atau penguapan air yang tinggi melalui bukaan-bukaan
alami seperti stomata, hidatoda dan lentiselyang tersedia pada permukaan dariproduk
sayuran daun. Kadar air (85-98%) dan rasio yangtinggi antara luas permukaan
dengan berat produk memungkinkan laju penguapan air berlangsung tinggi sehingga
proses pelayuan dapat terjadi dengan cepat.
Penggunaan sitokinin dalam penghambatan degradasi klorofil atau warna
daun berkaitan dengan penurunan biosinteis etilen dan penurunan sensitivitas

terhadap etilen. Produksi etilen selama perubahan warna memicu degradasi sitokinin
dan inaktivasi oleh O-Glucocylation. Hal tersebut karena sitokinin memliki peran
yang berkebalikan dengan etilen dan ABA yaitu bersifat menunda, contohnya pada
senescence bunga krisan (Wijayanti dan Hendaryono, 1994).

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan

praktikum

pengaruh

pemberian

sitokinin

terhadap

penghambatan degradasi klorofil yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :


Penggunaan sitokinin dalam penghambatan degradasi klorofil atau warna
daun berkaitan dengan penurunan biosinteis etilen dan penurunan sensitivitas
terhadap etilen. Pada percobaan yang telah dilakukan sitokinin berperan nyata dalam
penghambatan degradasi klorofil, meskipun daun terong yang mengandung klorofil
akan mengalami kerusakan. Proses kerusakan tersebut berjalan secara bertahap.
B.Saran
Ketika dalam dalam penyampaian materi, usahakan catatan dipersingkat dan
diperjelas karena jika materi terlalu banyak dan kurang jelas akan menghabiskan
waktu praktikum.

DAFTAR REFERENSI

Aryulina. 2007. Biologi 3. Esis, Jakarta.


Dwidjoseputro, D. 1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
George, E. F. dan P. D. Sherrington. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture.
Eastern Press. England.
Kusumo, S. 1990. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. CV Yasaguna, Bogor.
Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
Latunra, A. I. 2010. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Universitas
Hasanuddin, Makassar.
Ratna, D. A. 2008. Peranan dan Fungsi Fitohormon bagi Pertumbuhan Tanaman.
Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung.
Salisbury, F. B., dan Ross, C. W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. ITB Press,
Bandung.
Salisbury, F.B. dan C.W. Ross. 1992. Plant Physiology 3th. ITB, Bandung
Wijayani A. dan Hendaryono D. P. S. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Penerbit
Kanisius.