Anda di halaman 1dari 5

BAB II

Tinjauan Pustaka
Regulasi Diri
A. Pengertian regulasi diri
Self regulation atau regulasi diri secara bahasa mempunyai arti pengelolaan diri,
adapun pengertian regulassi diri menurut beberapa ahli dapat kita lihat dibawah ini :
Albert bandura menyatakan bahwa individu tidak dapat secara aktif beradaptasi terhadap
lingkungannya selama mampu membuat kemampuan kontrol pada proses psikologi dan
prilakunya. Menurut Zimmerman (1989) regulasi diri berkaitan dengan pembangkitan diri
baik pikiran, perasaan, serta tindakan yang direncanakan dan adanya timbal balik yang
disesuaikan pada pencapaian tujuan personal.
B. Aspek yang ada didalam regulasi diri
Menurut Zimmerman (1989) regulasi diri meliputi tiga aspek yaitu : metakognitif,
motivasi dan prilaku.
a) Metakognitif
Menurut Matlin (1989), metakognisi adalah pemahaman dan kesadaran tentang
proses kognitiif atau pikiran tentang berpikir. Ia mengatakan bahwa metakognisi
merupakan proses penting, karena pengetahuan seseorang tentang kognisinya dapat
membimbing dirinya mengatur atau menata peristiwa yang akan dihadapi dan
memilih strategi yang sesuai agar dapat meningkatkan kinerja kognisinya kedepan.
Zimmerman dan pons (1988) juga mengatakan bahwa point metakognitif bagi
individu yang melakukan regulasi diri adalah individu yang merencanakan,
mengorganisasi, mengukur diri , dan menginstruksikan diri sebagai kebutuhan selama
proses perilakunya misalnya dalam hal belajar.
b) Motivasi
Menurut Devi dan Ryan, motivasi adalah fungsi dari kebutuhan dasar untuk
mengontrol dan berkaitan dengan kemampuam yang ada pada setiap diri individu.
Zimmerman dan Pons menambahkan bahwa keuntungan motivasi adalah individu
memiliki motivasi instrinsik, otonomi, dan kepecayaan diri tinggi terhadap
kemampuan melakukan sesuatu.
c) Perilaku

Menurut Zimmerman dan Schank merupakan upaya individu untuk mengatur diri,
menyeleksi dan memanfaatkan maupun menciptakan lingkungan yang mendukung
aktivitasnya. Menurut Zimmerman dan pons(1988) pada perilaku individu memilih,
menyusun, dan menciptakan lingkungan sosial dan fisik seimbang untuk
mengoptimalkan pencapaian atas aktivitas yang dilakukan.
Ketiga aspek tersebut apabila digunakan secara tepat sesuai kebutuhan dan kondisi akan
menunjang regulasi diri yang optimal.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi regulasi diri
Menurut zimmerman dan pons (1990) ada tiga faktor yang mempengaruhi
pengelolaan diri, yaitu :
1. Individu (diri)
Faktor individu ini meliputi hal-hal dibawah ini :
a) Pengetahuan individu, semakin banyak dan beragam pengetahuan yang dimiliki
individu akan semakin membantu individu dalam melakukan pengelolaan.
b) Tingkat kemampuan metakognisi yang dimiliki individu yang semakin tinggi akan
membantu pelaksanaan pengelolaan diri dalam diri individu.
c) Tujuan yang ingin dicapai, semakin banyak dan kompleks tujan yang ingin diraih,
semakin besar kemungkinan individu melakukan pengelolaan diri.
2. Perilaku
Perilaku mengacu kepada upaya individu menggunakan kemampuan yang dimiliki. Semakin
besar dan optimal upaya yang dikerahkan individu dalam mengatur dan mengorganisasi suatu
aktifitas akan meningkatkan pengelolaan atau regulation pada diri individu. Bandura (1986)
menyatakan dalam perilaku ini ada tiga tahap yang berkaitan dengan pengelolaan diri atau
self regulation diantaranya :
a) Self observation
Self observation berkaitan dengan respons individu, yaitu tahap individu melihat
kedalam dirinya dan perilaku (performansinya). Perilaku manusia umumnya bervariasi,
tergantung dari pengamatan yang dilakukan oleh individu itu sendiri, setiap individu
memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dari individu yang lainnya.
b) Self judgement
Self judgement merupakan tahap individu penilaian atau membandingkan
performansi dan standar yang telah dilakukannya dengan standar atau tujuan yang sudah
dibuat dan ditetapkan individu. Melalui upaya membandingkan performansi dengan

standar atau tujuan yang telah dibuat dan ditetapkan, individu dapat melakukan evaluasi
atas performansi yang telah dilakukan dengan mengetahui letak kelemahan atau
kekurangan performansinya. Apabila seseorang menaruh nilai yang tinggi dalam
pencapaian tujuannya, maka individu terssebut akan melakukan banyak usaha tertentu
untuk mencapai tujuan atau kesuksesanya.
c) Self reaction
Self reaction merupakan tahap yang mencangkup proses individu dalam
menyesuaikan diri dan rencana untuk mencapai tujan atau standar yang telah dibuat dan
ditetapkan.
3. Lingkungan
Teori sosial kognitif mencurahkan perhatian khusus pada pengaruh sosial dan pengalaman
pada fungsi manusia. Hal ini bergantung pada bagaimana lingkungan itu mendukung atau
tidak mendukung.
Berdasarkan faktor faktor yang telah dijelaskan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa yang
mempengaruhi pengelolaan diri atau self regulation adalah personal, perilaku dan lingkungan.
Ketiga hal tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

Tugas Ibu dalam Keluarga


Peran dan fungsi seorang ibu adalah sebagai tiang rumah tangga amatlah penting
bagi terselenggaranya rumah tangga yang sakinah yaitu keluarga yang sehat dan bahagia,
membuat rumah tangga menjadi surga bagi anggota keluarga, menjadi mitra sejajar yang
saling menyayangi bagi suaminya. Untuk mencapai ketentraman dan kebahagian dalam
keluarga dibutuhkan isteri yang mampu melakukan kewajibannya sebagai seorang ibu dan
istri, yang dapat menjaga suami dan anak-anaknya, serta dapat mengatur keadaan rumah
sehingga tempat rapih, menyenangkan, memikat hati seluruh anggota keluarga.Para ibu
bertanggungjawab menyusun wilayah-wilayah mental serta sosial dalam pencapaian
kesempurnaan serta pertumbuhan anak yang benar.Ibu-ibu yang sering berada di luar rumah
yang hanya menyisakan sedikit waktu untuk suami serta anak-anak telah menghilangkan
kebahagian anak, menghalangi anak dari merasakan nikmatnya kasih sayang ibu, sebab
mereka menjalankan berbagai pekerjaan di luar serta meninggalkan anak disebagian besar
waktunya.

Self Efficacy

Percaya diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam
kehidupan manusia. Orang yang percaya diri yakin atas kemampuan mereka sendiri serta
memiliki pengharapan yang realistis, bahkan ketika harapan mereka tidak terwujud, mereka
tetap berpikiran positif dan dapat menerimanya.
Menurut

Thantaway

dalam

Kamus

istilah

Bimbingan

dan

Konseling

(2005:87), percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi
keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang
tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, karena
itu sering menutup diri.

Akibat Kurang Percaya Diri


Ketika ini dikaitkan dengan praktek hidup sehari-hari, orang yang memiliki kepercayaan diri
rendah atau telah kehilangan kepercayaan, cenderung merasa / bersikap sebagai berikut :
a. Tidak memiliki sesuatu (keinginan, tujuan, target) yang diperjuangkan secara sungguh
sungguh.
b. Tidak memiliki keputusan melangkah yang decissive (ngambang).
c. Mudah frustasi atau give-up ketika menghadapi masalah atau kesulitan.
d. Kurang termotivasi untuk maju, malas-malasan atau setengah-setengah.
e. Sering gagal dalam menyempurnakan tugas-tugas atau tanggung jawab (tidak
optimal).
f. Canggung dalam menghadapi orang.
g. Tidak bisa mendemonstrasikan kemampuan berbicara dan kemampuan mendengarkan
yang meyakinkan.
h. Sering memiliki harapan yang tidak realistis
i.

Terlalu perfeksionis

j. Terlalu sensitif (perasa).


Sebaliknya, orang yang mempunyai kepercayaan diri bagus, mereka memiliki perasaan
positif terhadap dirinya, punya keyakinan yang kuat atas dirinya dan punya pengetahuan
akurat terhadap kemampuan yang dimiliki. Orang yang punya kepercayaan diri bagus
bukanlah orang yang hanya merasa mampu (tetapi sebetulnya tidak mampu) melainkan
adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya mampu berdasarkan pengalaman dan
perhitungannya.

Fashion Desain