Anda di halaman 1dari 6

REVIEW ARTIKEL UPAYA PENEGAKAN PERATURAN

PENATAAN RUANG
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum dan Administrasi
Perencanaan (TKP432)
Dosen Pengampu : Hadi Wahyono

Oleh :
Laras Kun Rahmanti Putri
21040113130114

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota


Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Semarang
2016

Latar Belakang
Penataan ruang ialah upaya memanfaatkan ruang agar dapat memberikan manfaat kepada
masyarakat luas. Dalam pemanfaatan ruang ini, suatu wilayah diklasifikasikan menjadi kawasan
lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung dikhususkan untuk fungsi perlindungan
terhadap kelestarian lingkungan hidup, yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya
buatan. Sedang kawasan budidaya difungsikan sebagai ruang budidaya atas dasar kondisi dan
potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Atau dapat dikatakan
bahwa kawasan budidaya ialah ruang yang mewadahi kegiatan-kegiatan aktivitas masyarakat,
baik yang memanfaatkan alam seperti pertanian, perkebunan, dan peternakan, maupun yang
memanfaatkan fisik buatan seperti gedung-gedung dan bangunan.
Kawasan lindung ditentukan dan ditetapkan agar kelestarian alam tetap terjaga, tidak
terjadi bencana alam, sehingga kegiatan atau aktivitas masyarakat yang diwadahi dalam kawasan
budidaya dapat terus berlangsung. Kawasan lindung ditetapkan agar terdapat suatu keberlanjutan
dari segi lingkungan. Salah satu jenis kawasan lindung ialah kawasan hutan lindung.
Di Kalimantan Barat, terdapat pengalihfungsian hutan dari fungsi hutan lindung, hutan
produksi, hutan produksi terbatas, dan hutan produksi yang dapat dikonservasi menjadi Areal
Peruntukan Lain (APL) yakni kegiatan ekonomi non konservasi. Pengalihfungsian ini bahkan
ditetapkan ke dalam SK No.936//Menhut-II/2013 tentang perubahan peruntukan, fungsi, dan
penujukan kawasan hutan Kalimantan Barat. Kegiatan ekonomi ini antara lain pemberian izin
atas pelaksanaan industri yang melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2014. Adanya
perubahan peruntukan fungsi dan penunjukan kawasan ini merupakan konversi lahan yang
dinilai pro-bisnis, atau hanya menjadi ajang dan media pemutihan konsesi sawit. Adanya
perubahan fungsi hutan menjadi APL ini tentu berdampak terhadap keberlangsungan makhluk
hidup yang ada di dalam perlindungannya.
Masalah
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Tata Ruang yang Adil dan Berkelanjutan menilai
K.936/Menhut-II/2013 tentang perubahan peruntukan, fungsi, dan penujukan kawasan tak lebih
tata ruang pro-bisnis. Surat keputusan ini, hanya menjadi sarana pemutihan konsesi perkebunan
sawit di awasan hutan dan mengabaikan ruang hidup warga. Sekitar 20-an perwakilan LSM di
Kalimantan Barat (Kalbar) yang tergabung dalam koalisi mendesak Menteri Kehutanan
(Menhut) mencabut SK 936 yang diterbitkan 13 Desember 2013 ini. Koalisi mendesak Menhut
segera mendorong proses hukum perusahaan yang terindikasi melanggar hukum.
Hermawansyah dari Lembaga Gemawan mengatakan, berbagai upaya ditempuh
masyarakat sipil untuk mengingatkan pemerintah dan DPRD Kalbar. Dari dengar pendapat,
opini di media, demonstrasi, hingga menyampaikan hasil public review dan draf masukan
Ranperda RTRWP detail, katanya di Pontianak.
Lima tahun sejak usulan revisi RTRWP Kalbar pertama, Menhut mengeluarkan
SK.936/Menhut-II/2013. Di Kalbar, perubahan-perubahan itu meliputi kawasan hutan menjadi
APL mencapai 554.137 hektar. Sedangkan dari kawasan hutan menjadi fungsi kawasan hutan
lainn seluas 352.772 hektar.

Arif Munandar dari Swandiri Institute mengatakan, jika ditelisik lebih jauh, perubahan
peruntukan dan fungsi kawasan hutan RTRWP Kalbar, sangat jelas kelihatan menguntungkan
kelompok koorporasi pemegang konsesi perkebunan sawit dan HTI (hutan tanaman industri).
Perubahan peruntukan kawasan hutan menjadi APL, di dalamnya ditemukan 257 konsesi
perkebunan sawit dengan luas 163.649,01 hektar. Bahkan 51 konsesi telah ditanami sawit
dengan luasan 24.912,88 hektar. Selain itu, perubahan fungsi kawasan hutan, terdapat 51
konsesi HTI, baik berstatus SK definitif, pencadangan, dan telaahan seluas 59.591,87 hektar.
Saya kira SK Menhut 936 ini hanya sarana pemutihan kawasan saja.

Sumber: mongabay.com

Sejak Januari 2012, koalisi menilai pembahasan RTRWP Kalbar tertutup dan tidak
partisipatif. Koalisi mendesak, RTRWP Kalbar, memperjelas status lahan yang selama ini
menjadi wilayah kelola masyarakat. Baik dalam kawasan budidaya maupun lindung, dan
melindungi sentra produksi pangan masyarakat. RTRWP Kalbar dianggap memfasilitasi investasi
yang menimbulkan konflik sosial dan lingkungan seperti perkebunan sawit, industri kehutanan
dan pertambangan, dan tidak lebih memprioritaskan pengembangan perkebunan rakyat.
RTRWP Kalbar harus mengatur mekanisme mitigasi dan resolusi konflik pemanfaatan
ruang yang marak terjadi selama ini. Begitu pula, pemerintah provinsi dan kabupaten harus
menjaga dan menambah fungsi ekosistem kawasan lindung yang akan ditetapkan dalam RTRWP.

Hingga tidak menjadi pemicu banjir di Kalbar. Pemerintah juga harus melindungi habitat satwa
liar dilindungi, baik di kawasan budidaya maupun lindung. Koalisi menduga proses persetujuan
subtansi Menhut yang tertuang dalam SK.936 itu lambat karena tarik-ulur kepentingan
transaksional.
Selanjutnya, SK 936 ini mengindikasikan potensi ancaman kehilangan tutupan hutan
alam yang tergambar dengan perubahan fungsi hutan potensial menjadi HTI. Begitu pula HL
(hutan lindung) dan HPT (hutan produksi terbatas) menjadi kawasan HP (hutan produksi) seluas
55.864,72 hektar. Selain berpotensi kehilangan hutan alam juga terjadi perubahan peruntukan
kawasan HL, HP, HPT, HPK menjadi APL seluas 48.360,22 hektar.
Pada sektor pertambangan, terjadi perubahan peruntukan kawasan HL, HPT, HP, HPK
menjadi APL, di dalamnya ada konsesi tambang seluas 231.984,58 hektar. Perubahan ini
menimbulkan potensi konflik dengan wilayah kelola masyarakat. Pertambangan di APL juga
potensial mengancam kerusakan lingkungan karena akan dilakukan kegiatan pertambangan
secara terbuka.
Selain itu, terdapat pula perubahan peruntukan kawasan hutan menjadi APL untuk
permukiman sebanyak 448 titik. Namun, hal juga potensial terjadi konflik karena wilayah itu
sudah incaran investasi berbasis lahan. Perubahan ini juga mengancam habitat orangutan karena
wilayah yang menjadi home range orangutan dikonversi. Wilayah pertanian masyarakat seluas
282.228,57 hektar juga terancam konflik dengan perkebunan sawit, karena wilayah sebaran
sentra pertanian masyarakat menjadi APL.
Berdasarkan fakta-fakta ini, koalisi mendesak Menhut segera mencabut SK.936/MenhutII/2013 dan mendorong proses hukum terhadap perusahaan yang terindikasi melanggar.
Pemerintah dan DPRD Kalbar, didesak menunda pembahasan Ranperda RTRWP sampai ada
kepastian pemenuhan hak masyarakat.
Peraturan
Peraturan-peraturan terkait yang dilanggar dalam kasus ini antara lain: Undang-Undang No. 26
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun
2010 Tentang Bentuk Dan Tata Cara Peran Masyarakat Dalam Penataan Ruang.
Pembahasan
Pelanggaran atas UU No. 26 Tahun 2007 adalah: bahwa revisi ini melanggar asas
perlindungan kepentingan umum dalam Pasal 2 yang menyebutkan bahwa penataan ruang
diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan masyarakat, sedang dalam kasus ini, yang
diutamakan ialah kepentingan korporasi perkebunan sawit. Selain itu, juga melanggar asas
keberlanjutan yang menyebutkan bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan menjamin
kelestarian dan kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan dengan
memperhatikan kepentingan generasi mendatang. Sedang dalam kasus ini, perubahan peruntukan
lahan mengurangi kapasitas hutan sebagai kawasan lindung sehingga dikhawatirkan akan

menimbulkan bencana banjir, kekeringan, serta mengurangi kualitas dan kuantitas sumber daya
baik air, tanah, maupun udara yang mengancam keberlanjutan generasi mendatang.
Pelanggaran atas Pasal 91 PP Nomor 15 tahun 2010 ialah revisi yang dilakukan
diperuntukakan pemutihan konsesi perkebunan sawit yang sebelumnya beroperasi di dalam
kawasan hutan, sedang Pasal 91 tersebut menyebutkan: revisi terhadap rencana tata ruang
dilakukan bukan untuk pemutihan terhadap penyimpangan pelaksanaan pemanfaatan ruang.
Pelanggaran atas PP Nomor 68 Tahun 2010 ialah bahwa masyarakat tidak dilibatkan
dalam proses perencanaan penataan ruang, dan malah cenderung ditutup-tutupi. Pada Pasal 4,
disebutkan bahwa tujuan dari pelibatan masyarakat dalam penataan ruang adalah untuk
mewujudkan pelaksanaan penataan ruang yang transparan, efektif, akuntabel, dan berkualitas;
dan meningkatkan kualitas pelayanan dan pengambilan kebijakan penataan ruang. Dari sini,
revisi penataan ruang tersebut tidak transparan, hasilnya tidak berkualitas dan pengambilan
kebijakan tidak memberi keputusan yang bijak.

Tampilan Website Artikel