Anda di halaman 1dari 12

UNIVERSITAS GAJAH MADA

TUGAS FINANCIAL MANAGEMENT

Gainesboro
Machine Tools
Corporation

Kelompok 7
Angga Yusarga
Didit Kalbu Adi
Edi Haryo Susanto
Novita Windasari
Ribka Wardhani
Silvester Wahyu Kuncoro Adi

A. Background
Seminggu setelah badai Katrina di Sept 2005, saham Gainesboro turun
18% menjadi $22.15 sehingga perusahaan ingin melakukan buy back sahamnya.
Ashley Swenson selaku CFO bingung mau menggunakan dana perusahaannya
untuk membayar dividen shareholder atau buy back sahamnya.
Sejak tahun 2000 Gainesboro mempunyai

pendapatan yang kuat dan

pertumbuhan dividen yang pasti. Namun dividen sudah mulai mengecil pada
tahun 2003, bahkan di tahun 2004 walaupun rugi secara persentase pendapatan
tetapi BOD tetap membagikan dividen walaupun kecil. Dan akhirnya di awal 2005
BOD menyatakan tidak ada dividen. Tetapi di surat khususnya BOD tetap berjanji
untuk membayar dividen secepat.
Oleh sebab itu, management mempertimbangkan untuk menaikkan
kampanye mengenai image perusahaan dengan cara mengganti nama menjadi
Gainesboro Advance System International, Inc dan mencoba melakukan
restructurisasi di bagian operasi.
Apakah market memandang Gainesboro sebagai sebuah perusahaan
yang

sedang

menyusut,

saham

blue

chip,

atau

saham

yang

potensial

bertumbuh? Apakah semuanya itu dapat mempengaruhi persepsi? Akankah


penggantian

nama

dapat

mengubah

cara

pandang

investor

terhadap

perusahaan? Apakah investor mengharapkan pertumbuhan modal atau dividen


yang mantap? Apakah buyback saham mempengaruhi investor dalam melihat
perusahaan? Dan apabila terjawab, apakah dampak dari kebijakan dividen
Gainesboro ke depan?

I. Gainesboro Corporation
Perusahaan Gainesboro didirikan pada tahun 1923 di Concord, New
Hampshire oleh James Gaines dan David Scarboro. Awalnya Gainesboro bergerak
di bidang komponen mesin industry pertanian dan berkembang menjadi
komponen industry militer pada masa perang dunia kedua.

Pada tahun 1980

gainesboro memasuki bidang baru yaitu Computer-aided Design dan Computeraided Manufacturing (CAD/CAM), sampai pada akhirnya Gainesboro mengakuisisi
perusahaan software dan mengembangkan CAD software canggih beserta

peralatan manufakturnya yang memungkinkan teknisi mendesain komponen


yang akan dibuat pada komputer dan sekaligus membuatnya pada Gainesboro
CAD/CAM. Akhir tahun 2004, CAD/CAM menyumbang 45% dari total penjualan
Gainesboro, mesin press dan peleburan 40%, dan komponen lain sebesar 15%.
Gainesboro telah lama menjadi pemimpin pasar untuk segmen mesin press dan
peleburan, namun untuk segmen CAD/CAM software sudah terdapat beberapa
pemain besar yang lebih dahulu ada seperti Autodesk, Inc., Cadence Design, dan
Synopsys, Inc.
Gainesboro

termasuk

perusahaan

yang

terlambat

dalam

hal

mengantisipasi permintaan pasar akan software CAD/CAM yang lebih userfriendly serta dapat terintegrasi antara desain dan manufaktur, sehingga
perusahaan mengalami penurunan pendapatan dari 911 juta USD pada 1998 ke
757 juta USD pada 2004.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut perusahaan

melakukan dua pendekatan, yaitu:


1. Mengkhususkan anggaran yang lebih besar untuk Research and
Development di bidang CAD/CAM software supaya dapat menjadi
market leader.
2. Menjalankan dua restrukturisasi besar-besaran, yaitu pertama dengan
menjual dua lini bisnis yang tidak menguntungkan, menjual dua pabrik,
memutus sewa lima fasilitas, dan mengurangi pegawai. Yang kedua di
tahun 2004 dengan mengubah strategi produksi, memfokuskan kembali
penjualan dan marketingnya, dan mengurangi pegawai serta fasilitas
administrasi.

Total

biaya

restrukturisasi

di

tahun

2004

tersebut

mencapai 89 juta USD.


Meskipun restructuring memakan biaya $202 million, namun di akhir
2005 aktifitas R&D berhasil mengembangkan Artificial Workforce yaitu sebuah
sistem yang menggabungkan kontrol hardware, software, dan aplikasi yang dapat
menghubungkan informasi di keseluruhan pabrik.

Melalui Artificial Workforce,

teknisi dapat membuat komponen melalui CAD/CAM software dengan campuran


yang disesuaikan dengan kebutuhan teknisi pada berbagai mesin yang tersedia.
Dalam

penjualan

pertamanya,

October 2004,

permintaan

Artificial

Workforce mencapai 75 juta USD dan di akhir tahun mencapai 100 juta USD.
Management mengharapkan pendapatan domestik akan mencapai 90 juta USD di
tahun 2005 dan 150 juta USD di tahun 2006. Di awal 2007 diharapkan mendapat

tambahan revenue 150 juta USD pada berbagai industri, mulai kimia, minyak,
dan gas sampai kepada industri mobil dan pesawat.
Di sisi lain terdapat dua kekhawatiran manajemen terhadap penjualan
Artificial Workforce yaitu rencana competitor yang akan memperkenalkan
pesaing Artificial Workforce dalam 12 bulan ke depan dan kondisi makro Amerika
Serikat

yang

kurang

baik,

yang

dikhawatirkan

mempengaruhi

penjualan

Gainesboro yang bersifat siklus.

II.

Strategi Perusahaan
Manajemen Gainesboro pada intinya menginginkan perusahaan dapat

bertumbuh dengan average annual compound rate 15%. Apabila rate tersebut
tercapai di tahun 2011 maka perusahaan dapat memperoleh sales sebesar 2
milyar USD dan net income sebesar 160 juta USD. Untuk mencapai pertumbuhan
tersebut, Gainesboro memfokuskan kepada tiga hal yaitu:
1. Perubahan komposisi produksi, produksi CAD/Cam software dan
peralatan dengan teknologi tinggi akan mencapai dari total
penjualan, sementara sisanya akan digunakan untuk memproduksi
peralatan mesin press dan peleburan.
2. Ekspansi ke pasar Internasional, setengah dari penjualan akan
diarahkan ke pasar Internasional.
3. Ekspansi perusahaan, dengan akuisisi perusahaan software untuk
memenuhi setengah target R&D, sementara setengah target R&D yang
lain akan dipenuhi melalui inhouse research.
Gainesboro mempunyai kebijakan pembiayaan perusahaan yang tidak
pernah melebihi 22% dari Debt to Capital ratio, hal ini sesuai dengan prinsip
pendiri Gainesboro yang menginginkan perusahaan tumbuh dengan mandiri dan
dengan prinsip kehati-hatian. Bahkan David Scarboro mengatakan bahwa 40%
DER adalah indikasi manajemen yang ceroboh dan bermain dengan masalah.
Kepemilikan saham keluarga Gaines dan Scarboro hanya tersisa 13% dan
hanya menempatkan 3 orang di jajaran manajemen, namun kepentingan

shareholders tetap diutamakan oleh manajemen bahkan manajemen yang


berasal dari keluarga Gaines dan Scarboro telah sepakat untuk menaikkan nilai
saham perusahaan.

III.

Issues Deviden Policy


Sebelum tahun 1999, Gainesboro secara berkelanjutan selalu membayar

dividen kepada pemegang saham. Permasalahan muncul di awal tahun 2000


sampai dengan tahun 2003, terjadi penurunan dividen yang signifikan, bahkan
pada

tahun

2004

di

saat

perusahaan

mengalami

kerugian,

manajemen

melakukan pinjaman untuk dapat membagi dividen.


Di awal tahun 2005 manajemen telah mendeklarasikan bahwa tidak akan
membagi dividen kepada pemegang saham. Namun manajemen tetap akan
berusaha membayarnya setelah tahun 2005. Pada bulan Agustus 2005, muncul
beberapa

opsi

yang

dapat

diambil

berkaitan

dengan

kebijakan

dividen

Gainesboro, yaitu:

1. Zero-dividend payout
Kebijakan ini akan memberi sinyal bahwa perusahaan memiliki uang
yang banyak untuk melakukan ekpansi usaha dan siap bertumbuh
mengembangkan teknologi CAD/CAM. Swenson juga mendapati bahwa
pembagian dividen turun dari 66,5% di 1978 menjadi 20,8% di 1999,
sehingga kemungkinan market akan beraksi baik apabila menerapkan
kebijakan ini.
2. 40% dividend payout
Apabila dengan kebijakan ini perusahaan akan dinilai mampu
mengatasi permasalahan yang ada dan mempunyai strategi yang jelas
untuk target ke depannya. Karena dengan pembagian dividen yang
cukup tinggi, perusahaan akan tetap memenuhi kebiasaan management
sejak lama yaitu membagikan dividen. Sehingga rate akan bertumbuh
10%-20%.
3. Residual-divident payout
Beberapa manager memberi masukan untuk membagikan dividen ketika
perusahaan mempunyai NPV yang positif. Kebijakan ini akan membuat
perusahaan

mengutamakan

pembiayaan

project

pengembangan

CAD/CAM terlebih dahulu dan membagikan dividen dari sisanya. Hal ini

akan

membangun

kepercayaan

kepada

investor

sehingga

akan

memberikan nilai lebih. Swenson juga mendapati bahwa perusahaan


yang membayar dividen tinggi adalah perusahaan yang mempunyai
pertumbuhan rendah, sedangkan apabila perusahaan membayar dividen
rendah mengindikasikan bahwa perusahaan sedang bertumbuh tinggi.
Swenson berada di posisi yang sulit. Managemen tidak setuju dengan
masa depan Gainesboro yang sangat alami. Beberapa manager melihat
perusahaan harusnya memasuki masa dimana pertumbuhan sangatlah cepat dan
pembagian dividen yang sangat besar tidaklah tepat. Sedangkan di sisi lain
pembagian dividen juga dibutuhkan supaya publik dapat melihat bahwa
management percaya diri dapat kembali mengalami pertumbuhan seperti dimasa
tahun 80-90an. Adanya pilihan untuk buyback stock juga menambah bingung
Swenson. Apakah mayoritas shareholders memiliki pendapat yang sama atau
berbeda dengan management?

B. Analysis

1. Zero Dividend Payout


Apabila management melakukan kebijakan Zero Deviden Payout maka
perusahaan akan memiliki positive cash flow sebesar $4.2 million pada
tahun 2007. Tetapi dengan tidak adanya pembagian dividen akan
memberikan indikasi yang tidak baik bagi para investor mengenai kondisi
perusahaan, dimana sejak tahun 1989 sampai dengan tahun 2001
perusahaan selalu membagikan dividend dan juga nilai Dividend per share
(DPS) Gainesboro juga selalu mengalami peningkatan sebesar 1.03.
Walaupun

pada

tahun

2004

mengalami

perusahaan tetap membagikan dividen.

penurunan

menjadi

0.25

Kelebihan

dan

kekurangan

yang

dihasilkan

dengan

menjalankan

perusahaan

untuk

mencatakan

kebijakan ini adalah:


Kelebihan
a. Sejalan

dengan

strategi

pertumbuhan tinggi
b. Sesuai tipikal perusahaan lain dalam industri (CAD/CAM companies
software)
c. Tidak menambah beban utang perusahaan untuk pembayaran
dividen
d. Sisa kas negatif dalam Laporan Keuangan hanya tercatat pada
periode 2005 dan 2006 saja
Kekurangan
a. Manajemen gagal memenuhi komitmen untuk selalu membagi
dividen
b. Bagi investor yang menginginkan dividen, mungkin akan beralih ke
perusahaan lain
c. Proyeksi sisa kas positif pada tahun 2007 hanya akan tercapai bila
target pertumbuhan perusahaan 15% per tahun tercapai

2. 40% Dividend Payout


Apabila kebijakan 40% Deviden Payout dijalankan oleh management
maka hutang perusahaan akan semakin besar mengingat sampai dengan
tahun 2010 excess cash masih minus, di sisi lain perbankan mempunyai
kebijakan bahwa fasilitas pinjaman hanya dapat dialokasikan untuk
proses produksi. Hal tersebut juga masih dipengaruhi oleh biaya untuk
melakukan ekpansi ke pasar international yang pasti akan memerlukan
jumlah uang yang besar. Namun dengan adanya pembagian dividen yang
tinggi sebesar 40% maka investor akan melihat perusahaan mampu
mengatasi permasalahan yang ada dan juga management sudah memiliki
solusi untuk dapat terus bertumbuh, terlepas dari hal itu bahwa budaya
perusahaan untuk selalu membagikan dividen masih terpelihara dengan
baik untuk menjaga kepercayaan investor.

Dengan kebijakan ini maka kelebihan dan kekurangan yang dihasilkan


oleh perusahaan adalah:
Kelebihan

a. Manajemen memenuhi komitmen untuk selalu memberikan dividen


b. Perusahaan dapat memberikan kesan kepada investor

bahwa

perusahaan dengan pertumbuhan tinggi masih mampu memberikan


dividen yang besar
c. Menunjukkan kepada investor bahwa perusahaan sedang berada
dalam kondisi keuangan yang sangat baik
d. Sesuai

dengan

tipikal

perusahaan

dalam

industri

electrical

manufacture
Kekurangan
a.

Diperlukan tambahan modal untuk pembayaran dividen (menambah


utang)

b.

Tidak seperti tipikal perusahaan dalam industri CAD/ CAM

c.

Berdasarkan proyeksi, sisa kas positif dalam Laporan Keuangan baru


akan dicapai pada periode 2011

3. Residual Dividend Payout


Melalui
kebijakan

kebijakan
pembayaran

dividen

residual,

dividen

setelah

management
semua

menetapkan

investasi

yang

menguntungkan habis dibiayai. Dividen yang dibayarkan merupakan sisa


(residual), dimana perusahaan akan memaksimalkan cash yang dimiliki
terlebih dahulu untuk mengambil semua proyek yang menghasilkan NPV
positif. Mengacu pada exhibit 8, diketahui bahwa Earning After Tax
perusahaan akan digunakan untuk membiayai investasi (capex) dan baru
terdapat excess cash positif mulai tahun 2007. Dengan demikian maka
management baru akan membagikan dividen kepada Pemegang Saham
dimulai dari tahun 2007. Total dividen yang akan dibagikan adalah sebesar
excess cash yang dimiliki oleh perusahaan. Sehingga besarnya dividen
yang akan dibagikan kepada pemegang saham akan berbeda setiap
tahunnya tergantung dari excess cash yang dimiliki oleh perusahaan.
Dengan kebijakan Residual Deviden Payout maka kelebihan dan
kekurangan yang dihasilkan oleh perusahaan adalah:
Kelebihan
a. Perusahaan masih dapat melakukan pengembangan usaha dengan
optimal
b. Tidak menambah beban utang perusahan

c. Pembayaran

dividen

tidak

akan

berlawanan

dengan

target

pertumbuhan perusahaan
d. Berdasarkan proyeksi, mulai periode 2007 perusahaan akan dapat
memberikan dividen secara konsisten bertumbuh tiap tahunnya
kepada investor
Kekurangan
a.

Tidak

sejalan

dengan

stigma

perusahaan

berkembang,

yang

cenderung berinvestasi daripada membagikan dividen


b.

Tidak adanya pembagian dividen pada periode 2005 2006 dapat


memberikan kesan buruk pada investor, dan berdampak negatif pada
harga saham

c.

Periode

pembagian

dividen

tidak

dapat

diprediksi

(Proyeksi

pembayaran dividen mulai tahun 2007 hanya dapat dicapai bila

target pertumbuhan usaha perusahaan tercapai)


4. Buyback Stock

Dengan

melakukan

kebijakan

buyback

stock

maka

perusahaan

memperoleh kelebihan dan kekurangan berikut ini:


Kelebihan
a.

Secara teori akan dapat menaikkan harga saham di pasar

b.

Menunjukkan optimisme manajemen atas potensi perusahaan ke


depan

Kekurangan
a.

Membutuhkan modal untuk buyback

b.

Perusahaan tidak akan membagi dividen (sisa kas digunakan untuk


buyback)

c.

Kenaikan

harga

saham

pada

saat

periode

buyback

tidak

meningkatkan nilai perusahaan


5. Perubahan nama dan image perusahaan
Apabila management melakukan penggantian nama perusahaan, maka
memperoleh kelebihan dan kekurangan berikut ini:
Kelebihan
a. Dengan nama baru, menunjukkan komitmen perusahaan untuk
terus maju dan melakukan pengembangan skala internasional
b. Menegaskan evolusi perusahaan
Kekurangan
a. Membutuhkan biaya tidak sedikit dalam upaya sosialisasi atas
b.

identitas baru
Bila tujuannya adalah menaikkan harga saham, tidak ada literatur
yang menyatakan ada hubungan antara perubahan nama perusahaan
dengan kenaikan harga saham

C. Recommendation

Setelah membaca dan menganalisa kasus Gainesboro, kelompok kami

memberikan rekomendasi kepada perusahaan untuk mengambil kebijakan


pembagian dividen yang ketiga yaitu Residual Dividend Payout. Melalui
kebijakan ini perusahaan dapat membagikan dividen ketika excess cash yang
dimiliki oleh perusahaan sudah positif. Apabila di tahun 2005 dan 2006 ketika
excess cash yang dimiliki perusahaan masih negatif maka perusahaan juga
tidak bisa dipaksakan untuk membayar dividen karena perbankan memiliki
kebijakan bahwa pinjaman di bank tidak boleh digunakan untuk hal selain

proses produksi atau sesuatu hal yang berkaitan dengan kegiatan utama
perusahaan yang menghasilkan net income.
Berdasarkan tabel perhitungan dividend payout ratio yang ada, dapat
dilihat bahwa pada tahun 2007 perusahaan sudah dapat memperoleh excess
cash yang positif. Setelah pendapatan perusahaan dialokasikan ke project
project yang berkaitan untuk menaikkan pertumbuhan perusahaan, sisa dari
excess cash tersebut sepenuhnya digunakan untuk membayar dividen.
Dengan mekanisme pembagian dividen seperti itu, maka kelompok kami
berpendapat bahwa:
1. Perusahaan tetap dapat bertumbuh secara maksimal dengan adanya
alokasi dana yang cukup untuk membiayai project pengembangan product
perusahaan dan sesuai ekspansi yang telah ditargetkan management.
2. Kebiasaan management untuk selalu membagikan dividen juga dapat
selalu dipelihara supaya kepercayaan investor kepada perusahaan terjaga
baik.
Selain mengenai kebijakan pembagian dividen, kelompok kami juga
menyetujui apabila management akan merubah nama perusahaan untuk
memperbaiki dan menambah nilai perusahaan. Dengan langkah ini, kami
berharap tetap adanya respon yang positif dari para investor (terutama tahun
2005-2006 di saat perusahaan belum dapat membagikan dividen) supaya posisi
management yang sedang memperbaiki dan berfokus pada pertumbuhan
perusahaan yang memerlukan alokasi biaya yang tidak sedikit tetap dapat
dipercaya.
Namun kelompok kami tidak merekomendasikan management untuk
melakukan buyback stock karena walaupun akan menaikkan harga saham
tetapi untuk masa mendatang hal ini tidak bisa menjamin bahwa image
perusahaan akan naik karena selain memerlukan biaya yang cukup besar untuk
melakukan buyback, perusahaan juga tidak dapat mempunyai alokasi dana
yang cukup untuk melakukan pembiayaan project dan ekspansi sesuai target
yang telah ditentukan oleh management.