Anda di halaman 1dari 35

SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN

BANGUNAN GRAHA POS INDONESIA


MAKALAH
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Utilitas I
yang diampu oleh Ibu R.R. TJahyani Busono

disusun oleh:
Andi Putra Wardani

(1301805)

Tiara Kurniawati Ramdan

(1301922)

Farah Isnaeni Syaumi

(1303565)

Rizkillah M A

(1307704)

Sonny Agustian

(1301894)

PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR


DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam pendirian sebuah bangunan terdapat beberapa sistem
utilitas yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah sistem pencegahan
dan

pemadam

kebakaran.

Kebakaran

merupakan

bencana

yang

merugikan bagi semua pihak, baik pemilik bangunan, pengelola/pengguna


atau

masyarakat

meningkatnya

lainnya

ukuran

yang

dan

berada

kompleksitas

dalam

gedung.

bangunan

gedung,

Seiring
sudah

seharusnya pula diiringi dengan peningkatan perlindungan terhadap


masyarakat dengan penyediaan sistem utilitas pada bangunan khususnya
sistem pencegahan dan pemadam kebakaran.
Saat ini banyak sekali kita temui bangunan bertingkat tinggi yang
difungsikan untuk kegiatan publik. Seiring dengan berkembangnya
pembangunan, maka sistem pengamanan yang disediakan juga semakin
canggih

dan

bervariasi.

Salah

satunya

adalah

sistem

pemadam

kebakaran. Selain sistem pemadaman terdapat pula beberapa sistem lain


yang terkait diantaranya yaitu sistem evakuasi, sistem pencegahan dan
fire safety management.
Kebakaran yang terjadi pada suatu bangunan maupun wilayah
dapat dicegah melalui hal-hal yang memang sudah dipersiapakan
sebalumnya. Pencegahan terhadap kebakaran dapat disosialisasikan
kepada masyarakat umum. Apabila kebakaran sudah terjadi maka hal
yang dapat dilakukan adalah pemadaman api dan evakuasi korban. Proses
pemadaman

dilakukan

dengan

menggunakan

beberapa

peralatan

penunjang seperti alat penyediaan air maupun proses penyaluran air


menuju titik api. Bangunan yang baik adalah bangunan yang sudah
dilengkapi oleh semua sistem utilitas utama maupun penunjang. Oleh
sebab itu sistem pemadam kebakaran sangat diperlukan pada setiap
bangunan baik itu yang difungsikan sebagai ruang privat maupun ruang
publik.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada penjelasan latar belakang di atas, rumusan
masalah yang dapat kami jabarkan diantaranya :
1. Bagaimana

cara

kerja

sistem

pemadaman

kebakaran

dan

komponen yang berpengaruh di dalamnya pada bangunan kantor


pos?
2. Bagaimana proses evakuasi korban kebakaran yang dapat
dilakukan pada bangunan kantor pos?
3. Bagaimana dengan fire safety management pada bangunan
kantor pos?
4. Apa saja bentuk pencegahan yang dapat dilakukan terhadap
kebakaran pada bangunan kantor pos?
C. Manfaat Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah yang dijabarkan di atas,
manfaat penyusunan makalah ini diantaranya :
1. Untuk mengetahui cara kerja sistem pemadaman kebakaran dan
komponen yang berpengaruh di dalamnya pada bangunan kantor
pos
2. Untuk mengetahui proses evakuasi korban kebakaran yang dapat
dilakukan pada bangunan kantor pos
3. Untuk mengetahui fire safety management pada bangunan
kantor pos
4. Untuk mengetahui bentuk pencegahan yang dapat dilakukan
terhadap kebakaran pada banguna kantor pos
D. Metode Pengumpulan Data
Pembahasan tugas ini dilakukan dengan cara survey langsung ke
lokasi tujuan yang telah ditentukan yaitu bangunan kantor pos, diskusi
antar anggota kelompok, dan juga pencarian data melalui referensireferensi yang ada, misalnya dari buku dan internet. Penyusunan tugas ini
dilakukan dengan teknik deskriptif kualitatif, yaitu pembahasan secara
menyeluruh dan detail mengenai suatu yang dijadikan pokok bahasan.

Selain itu kami juga mencantumkan beberapa buah gambar sebagai


referensi tambahan bagi pembaca.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Cara Kerja Sistem Pemadam Kebakaran


1. Cara Pencegahan
Sistem pencegahan adalah tindakan atau perhitungan yang sudah
dilakukan sebelum suatu bahaya itu muncul. Tindakan pencegahan
terhadap

bahaya

kebakaran

dapat

dilakukan

melalui

tindakan

langsung maupun pengolahan bahan-bahan disekitar kita untuk dapat


memperkecil persentase terjadinya kebakaran itu sendiri.
Sistem pencegah kebakaran atau perlindungan kebakaran adalah
salah satu sistem yang harus dipasang atau diaplikasikan pada sebuah
bangunan. Dengan adanya sistem ini pada bangunan kantor pos,
bangunan dapat terlindungi serta nyawa penghuni bangunan tersebut
dapat terselamatkan. Setiap pemasangan sistem pencegah kebakaran
atau perlindungan kebakaran patut mengikuti akta dan standard yang
bersesuaian dengan bangunan tersebut.
2. Proses Kebakaran
Kebakaran berawal dari proses reaksi oksidasi antara unsur
Oksigen ( O2 ), Panas dan Material yang mudah terbakar (bahan
bakar). Keseimbangan unsur unsur tersebutlah yang menyebabkan
kebakaran. Berikut ini adalah definisi singkat mengenai unsur unsur
tersebut :
a. Oksigen

Oksigen atau gas O2 yang terdapat di udara bebas adalah unsur


penting dalam pembakaran. Jumlah oksigen sangat menentukan kadar
atau keaktifan pembakaran suatu benda. Kadar oksigen yang kurang
dari 12 % tidak akan menimbulkan pembakaran
b. Panas
Panas menyebabkan suatu bahan mengalami perubahan suhu /
temperatur, sehingga akhirnya mencapai titik nyala dan menjadi
terbakar. Sumber sumber panas tersebut dapat berupa sinar
matahari, listrik, pusat energi mekanik, pusat reaksi kimia dan
sebagainya.
c. Bahan yang mudah terbakar ( Bahan bakar )
Bahan tersebut memiliki titik nyala rendah yang merupakan
temperatur terendah suatu bahan untuk dapat berubah menjadi uap
dan akan menyala bila tersentuh api. Bahan makin mudah terbakar
bila memiliki titik nyala yang makin rendah.
Proses kebakaran berlangsung melalui beberapa tahapan, yang
masing

masing

perkembangan

dari

tahapan
suatu

terjadi

rendah

peningkatan

kemudian

suhu,

meningkat

yaitu
hingga

mencapai puncaknya dan pada akhirnya berangsur angsur menurun


sampai saat bahan yang terbakar tersebut habis dan api menjadi mati
atau padam. Pada umumnya kebakaran melalui dua tahapan, yaitu :
Tahap Pertumbuhan ( Growth Period )
Tahap Pembakaran ( Steady Combustion )
Pada suatu peristiwa kebakaran, terjadi perjalanan yang arahnya
dipengaruhi oleh lidah api dan materi yang menjalarkan panas. Sifat
penjalarannya biasanya kearah vertikal sampai batas tertentu yang
tidak memungkinkan lagi penjalarannya, maka akan menjalar ke arah
horizontal. Karena sifat itu, maka kebakaran pada gedung gedung
bertingkat tinggi, api menjalar ketingkat yang lebih tinggi dari asal api
tersebut.
Saat yang paling mudah dalam memadamkan api adalah pada
tahap pertumbuhan. Bila sudah mencapai tahap pembakaran, api akan
sulit dipadamkan atau dikendalikan.
2. Sistem Deteksi Kebakaran

Sistem pendeteksi kebakaran adalah sistem yang menyangkut


mengenai cara kerja alat-alat yang digunakan untuk menganalisa atau
mengenali tejadinya kebakaran sejak awal proses timbulnya api atau
asap. Sistem ini berfungsi untuk mengantisipasi meluasnya proses
kebakaran pada suatu bangunan kantor pos dan untuk memberikan
peringatan bagi penghuni kantor pos agar dapat segera dievakuasi
atau menyelamatkan diri.
Sistem deteksi kebakaran umumnya diwajibkan pemasangannya
pada bangunan dengan skala dan dimensi besar serta difungsikan
sebagai ruang publik. Hal ini karena pada bangunan yang difungsikan
sebagai ruang publik akan terdapat banyak penghuni didalamnya
sehingga memerlukan perhatian lebih dari segi tingkat keamanan
termasuk mengenai sistem pemadam kebakaran. Pada bangunan
kantor pos sendiri, sistem deteksi kebakaran di tempatkan pada
bangunan yang difungsikan sebagai ruang pulik seperti area lobi di
setiap lantai, lantai 1yang merupakan area pelayanan.
Sistem pendeteksi kebakaran terdiri dari beberapa komponen
diantaranya

yaitu

dalam

bentuk

alarm

peringatan

kebakaran.

Fire Alarm System adalah alat yang berfungsi untuk memberikan


tanda bahaya (alert) bila terjadi potensi kebakaran atau kebocoran
gas. Cara Kerja Fire Alarm System adalah alat ini mendeteksi potensipotensi

kebakaran

seperti

gumpalan

asap

(smoke

detector),

temperatur tinggi (heat detector), dan adanya gas yang berbahaya


(gas detector), ketika alat ini mendeteksi potensi kebakaran tersebut
maka alat ini akan secara otomatis memberikan tanda bahaya (alert)
seperti membunyikan bell atau alarm.

Gambar 3.1.1. Komponen Fire Alarm System


Sumber : http://sistem-pemadam-kebakaran.blogspot.com/2013/05/alat-pendeteksi-kebakaran-firealarm.html

1. Komponen Fire Alarm System


a. Fire
Alarm
Control
Panel,
memiliki
berbagai
macam
bentuk dan variasi sesuai fungsi
dan produsennya. Fungsi Fire
Alarm
ini
adalah
untuk
mengintegrasikan
berbagai
sensor
dan
audio
visual
Gambar 3.1.2. Fire Alarm Control Panel
indicator
yang
berkaitan
Sumber : http://sistem-pemadamdengan fire alarm system. Fire
kebakaran.blogspot.com/2013/05/alatpendeteksi-kebakaran-fire-alarm.html
alarm
umumnya
juga
dilengkapi built-in telephone
yang dapat digunakan pada saat terjadi kebakaran.
b.

Heat Detector / Alat Pendeteksi Panas adalah sensor yang


digunakan

untuk

mendeteksi
tinggi,
panas

temperatur

yaitu
yang

diintegrasikan

detektor
dapat
dengan

panel controller (security


alarm).
c.

Smoke
adalah sensor

Detector,
yang

Gambar 3.1.3. Heat Detector


Sumber : http://sistem-pemadamkebakaran.blogspot.com/2013/05/alatpendeteksi-kebakaran-fire-alarm.html

digunakan untuk mendeteksi adanya gumpalan asap.

Gambar 3.1.4. Smoke Detector


Sumber : http://sistem-pemadamkebakaran.blogspot.com/2013/05/alatpendeteksi-kebakaran-fire-alarm.html

d. Gas

Detector /

Pendeteksi Gas / Gas


Alarm Standalone Gas
Detector adalah alat
yang dapat digunakan
untuk

mendeteksi

adanya kebocoran gas


berbahaya seperti LPG
dan
Detector

Methane.
ini

dapat

Gambar 3.1.5. Gas Detector


Sumber : http://sistem-pemadamkebakaran.blogspot.com/2013/05/alatpendeteksi-kebakaran-fire-alarm.html

berfungsi tanpa harus menggunakan panel controller. Ketika


mendeteksi gas berbahaya, alat ini akan membunyikan builtin sirine. Alat ini dapat ditempatkan pada dinding ruang yang
rentan terhadap kebocoran gas. Disamping sebagai Gas
detector, alat ini dapat diintegrasikan dengan alarm system.
e. Sprinkler
Sebuah sistem pipa basah sprinkler adalah suatu sistem
sprinkler otomatis penyiraman menggunakan kepala yang
melekat pada sistem perpipaan yang mengandung air dan
terhubung ke suplai air sehingga debit air yang segera dari
penyiram dibuka oleh panas dari api.
2. Prinsip Kerja Fire Alarm System
Rangkaian Alarm Tanda Kebakaran adalah suatu rangkaian
yang dapat dipakai untuk mengetahui adanya bahaya kebakaran.
Rangkaian ini mempunyai sensor yang sangat peka terhadap panas
yang

disebut

Thermistor

atau

NTC

(Negative

Temperature

Coefisient). Dalam pemakaiannya sebaiknya alat ini ditempatkan di


dekat

peralatan

yang

dapat

menimbulkan

panas.

NTC

ini

tahanannya akan kecil apabila kena panas dan akan mengakibatkan


transistor akan aktif dan relay akan menghubungkan alarm dengan
sumber

listrik

(baterai/accu/jala-jala

listrik)

sampai

speaker

berbunyi.
Sebagai alat pemberi tanda jika terjadi kebakaran, bangunan
dilengkapi dengan sistem tanda bahaya (alarm system) yang panel
induknya berada dalam ruang pengendali kebakaran yang terdapat
di basement 1 kantor pos, sedang sub-panelnya dapat dipasang di
setiap lantai berdekatan dengan kotak hidran. Pengoperasian tanda
bahaya dapat dilakukan secara manual dengan memecahkan kaca
tombol sakelar tanda kebakaran atau bekerja secara otomatis, di
mana

tanda

bahaya

kebakaran

dihubungkan

dengan

sistem

detektor (detektor asap atau panas) atau sistem sprinkler.


Ketika detektor berfungsi, hal itu akan terlihat pada monitor
yang ada pada panel utama pengendalian kebakaran, dan tanda
bahaya dapat dibunyikan secara manual, atau secara otomatis, di
mana pada saat detektor berfungsi terjadi arus pendek yang akan
menyebabkan tanda bahaya tertentu berbunyi.
B. Sistem Evakuasi
Setelah terjadinya kebakaran, terdapat dua hal yang umum
dilakukan yaitu tindakan pemadaman dan evakuasi. Sistem evakuasi
dalam bencana kebakaran dilakukan dengan cara menyelamatkan korban
yang terjebak di dalam areal gedung atau wilayah yang terbakar.
Penyelamatan korban dari areal gedung dapat dilaksanakan melalui
beberapa jalur evakuasi yang memang disediakan sebelumnya. Jalur-jalur
evakuasi tersebut diantaranya adalah tangga darurat, pintu keluar darurat
dan balkon pada ruang-ruang yang ada pada gedung bertingkat.
Sistem evakuasi adalah sistem yang menyangkut mengenai proses
penyelamatan korban pada suatu keadaan yang dianggap berbahaya.
Sistem evakuasi yang dilakukan untuk para korban pada lokasi kebakaran
dapat dilakukan melalui beberapa cara diantaranya sebagai berikut.

1. Komponen Sistem Evakuasi


a. Tangga Darurat
Tangga pada bangunan bertingkat rendah dan tinggi, disediakan
sebagai tangga darurat dan tangga kebakaran. Keduanya memiliki
syarat yang berbeda. Tangga darurat digunakan oleh pemakai bila alat
transportasi lain tidak berfungsi seperti lift atau escalator. Berbeda
dengan tangga kebakaran, sesuai dengan namanya, tangga kebakaran
memang digunakan pada saat kebakaran. Untuk itu faktor keselamatan
sangat diperhatikan pada tangga jenis ini.
Tangga darurat, diletakkan terbuka dan dekat dengan lobby lift,
sehingga
diletakkan

pemakai
pada

keselamatan

mudah

tempat

terhadap

menemukannya.

tertentu

bahaya

yang

Tangga

memenuhi

kebakaran.

kebakaran
persyaratan

Persyaratan

mengenai

elemen penyusun dan tata letak tangga darurat diantaranya sebagai


berikut.
1. Tangga diletakkan di dalam ruangan tangga kebakaran yang di
depan dan didalamnya diberi lampu emergency otomatis penunjuk
arah.
2. Tangga terbuat dari material yang kuat terhadap kebakaran dalam
waktu tertentu.
3. Tangga terletak di dalam ruang yang kedap api berdinding cukup
tebal dan minimal tidak ikut terbakar dalam waktu tertentu
sehingga penghuni bisa menyelematkan diri.
4. Memiliki ruang udara tekan (supaya asap tidak masuk ke dalam
ruang tangga), bisa juga menggunakan pressure fan yang berfungsi
memberikan tekanan pada udara di dalam ruangan.
5. Memiliki pintu besi tahan api yang membuka kearah dalam ruang
tangga, tetapi pada ruang paling atas dan bawah, pintu membuka
kearah luar tangga. Yang tidak kalah penting adalah ruang tangga

kebakaran yang terletak di lantai dasar memiliki pintu langsung


berhubungan dengan udara luar.
6. Ukuran lebar tangga dihitung sesuai kapasitas gedung.
7. Jarak antar tangga kebakaran sesuai dengan standar keamanan
gedung.
8. Sesuai dengan standard dan perhitungan tangga, jenis tangga ini
juga memiliki syarat keselamatan. Ukuran tinggi pijakan dan
lebarnya sesuai dengan pemakainya, begitu pula untuk material
yang digunakan cukup aman (tidak licin dan tidak membahayakan),
dan tidak mudah terbakar.
Sebagai pemakai gedung, sebaiknya juga memahami perbedaan
tangga darurat dan tangga kebakaran, sehingga dapat menggunakan
kedua jenis tangga ini dengan tepat. Keselamatan bersama dapat
terjadi dengan adanya penggunaan tangga yang tepat sesuai fungsi.
Tangga darurat Kantor POS berada di blok A dan blok C dan langsung
menuju ke luar gedung. Hal ini sangat mempermudah proses evakuasi
apabila terjadi peristiwa kebakaran.
b. Koridor
Koridor harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Lebar minimum 1,80 m

Jarak setiap titik dalam koridor ke pintu kebakaran yang terdekat


tidak boleh lebih dari 25 m.

Dilengkapi tanda-tanda penunjuk yang menunjukkan arah ke pintu


kebakaran.

c. Pintu Darurat

Persyaratan Umum
Pintu penahan asap harus dibuat sedemikian rupa sehingga asap

tidak akan melewati pintu dari satu sisi ke sisi yang lainnya, dan bila

terdapat bahan kaca pada pintu tersebut, maka bahaya yang mungkin
timbul terhadap orang yang lewat harus minimal.

Konstruksi yang memenuhi syarat.


Pintu penahan asap, baik terdiri dari satu ataupun lebih akan

memenuhi persyaratan butir bila pintu tersebut dikonstruksikan


sebagai berikut:

Daun pintu dapat berputar disatu sisi dengan arah sesuai arah

bukaan keluar; atau berputar dua arah.


Daun pintu mampu menahan asap pada suhu 2000 C selama 30

menit
Daun pintu padat dengan ketebalan 35 mm
Pada daun pintu dipasang penutup atau pengumpul asap.
Daun pintu pada umumnya pada posisi menutup; atau
Daun pintu menutup secara otomatis melalui pengoperasian
penutup pintu otomatis yang dideteksi oleh detektor asap yang
dipasang sesuai dengan standar yang berlaku dan ditempatkan
disetiap sisi pintu yang jaraknya secara horisontal dari bukaan pintu
tidak lebih dari 1,5 m, dan dalam hal terjadi putusnya aliran listrik

ke pintu, daun pintu berhenti aman pada posisi penutup.


Pintu akan kembali menutup secara penuh setelah pembukaa secara

manual.
Setiap kaca atau bahan kaca yang menyatu dengan pintu kebakaran
atau merupakan bagian pintu kebakaran harus memenuhi standar

yang berlaku.
Bilamana panel

berkaca

tersebut

bisa

membingungkan

untuk

memberi jalan keluar yang tidak terhalang maka adanya kaca


tersebut harus dapatdikenali dengan konstruksi tembus cahaya.
Hasil dilapangan yaitu hasil kajian di Kantor Pos bahwa pintu darurat
sudah memenuhi persyararatan sesuai pembahasan di atas.
2. Sistem Tanda
a. Tanda Keluar (Exit)

Suatu tanda exit harus jelas terlihat bagi orang yang menghampiri
exit dan harus dipasang pada, di atas atau berdekatan dengan setiap
:

Pintu yang memberikan jalan ke luar langsung dari satu lantai ke


tangga, jalan terusan atau ramp yang dilindungi struktur tahan api,
yang

Berfungsi sebagai eksit yang memenuhi persyaratan

Pintu dari suatu tangga, jalan terusan atau ramp yang dilindungi
struktur tahan

Api atau tiap level hamburan ke jalan umum atau ruang terbuka; dan
eksit horisontal, dan

Pintu yang melayani atau membentuk bagian dari eksit yang


disyaratkan pada lantai

Tanda Penunjuk Arah

Hasil dilapangan yaitu hasil kajian di Kantor Pos yaitu banyak tanda yang
menunjukan arah keluar. Hal ini memudahkan pengguna gedung untuk
keluar dalam keadaan darurat atau tidak.
3. Persyaratan Jalur Evakuasi
Dalam setiap bangunan harus memiliki jalur evakuasi darurat yang
berguna untuk mengevakasi penghuni bangunan apabila terjadi suatu
bencana dalam bangunan tersebut, biasanya dalam setiap bangunan
memiliki tangga dadurat yang umumnya digunakan untuk jalur evakuasi
saat terjadi kebakaran dan tidak memungkinkan menggunakan lift.
Syarat-syarat jalur evakuasi tersebuat adalah sebagai berikut :
Jalur Evakuasi bersifat permanen, menyatu dengan bangunan gedung.

Jalur

Evakuasi

harus

memiliki

akses

langsung ke jalan atau ruang terbuka


yang aman.
Jalur Evakuasi dilengkapi Penanda yang
jelas dan mudah terlihat.
Penanda/ Safety Sign dapat menyala di
kegelapan (glow in the dark).
Jalur

Evakuasi

dilengkapi

penerangan

yang cukup.
Jalur Evakuasi bebas dari benda yang
mudah terbakar atau benda yang dapat membahayakan.
Jalur Evakuasi bersih dari orang atau barang yang dapat menghalangi
gerak.
Jalur Evakuasi tidak melewati ruang yang dapat dikunci.
Jalur Evakuasi memiliki lebar minimal 71.1 cm dan tinggi langit-langit
minimal 230 cm.
Pintu Darurat dapat dibuka ke luar, searah Jalur Evakuasi menuju Titik
Kumpul.
Pintu Darurat bisa dibuka dengan mudah, bahkan dalam keadaan panik.
Pintu Darurat dilengkapi dengan penutup pintu otomatis.
Pintu Darurat dicat dengan warna mencolok dan berbeda dengan bagian
bangunan yang lain.
Tangga Darurat dirancang tahan api, minimal selama 1 jam.
Anak tangga pada tangga darurat harus terbuat dari bahan yang anti slip

Jalur evakuasi di Kantor Pos yaitu seperti koridor yang sudah diberi tanda
penunjuk arah. Penununjuk arah langsung mengarahkan ke lobbi sebagai
tempat berkumpul ketika terjadi keadaan darurat dan langsung dievakuasi
ke luar. Tangga darurat sendiri langsung mengarah ke luar gedung yang
berada di blok A dan C.
C. Fire Safety Management Bangunan Graha Pos Indonesia
Penerapan FSM telah dipersyatkan dalam Kepmeneg PU No.
11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan
Kebakaran

Perkotaan.Kenyataan

di

lapangan

menunjukkan

bahwa

sebagian besar bangunan tinggi belum menerapkan system FSM dengan


baik dan konsisten. Undang-Undang Bangunan Gedung ( UUBG-2002 )
yang mensyaratkan aspek keselamatan bangunan perlu ditindaklanjuti
dengan penerapan pedoman teknis seperti FSM dan Rencana Tindak
Darurat Kebakaran atau Fire Emergency Plan (FEP) yang merupakan sub
bagian dari FSM.
Fire Safety Management Dalam Perspektif Peraturan Perundang Undangan
Legal
a. Undang-undang Bangunan
Jaminan keselamatan bagi penghuni yang berada dalam bangunan,
secara legal telah menjadi persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu
bangunan gedung.Hal ini dituangkan melalui persyaratan keandalan yang
harus dipenuhi oleh suatu bangunan gedung.Undang-undang no. 28/2002
tentang Bangunan Gedung pasal 16 butir 1 menyatakan :
Persyaratan keandalan bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam
Pasal

ayat

(3),

meliputi

persyaratan

keselamatan,

kesehatan,

kenyamanan, dan kemudahan.


Sedangkan pada pasal 17 butir 1 :
Persyaratan keselamatan bangunan gedung sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 ayat (1) meliputi persyaratan kemampuan bangunan
gedung untuk mendukung beban muatan, serta kemampuan bangunan

gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran


dalam bahaya petir.
Pada UUBG 2002, memang tidak disebutkan secara langsung, mengenai
kewajiban

pembentukan

manajemen

keselamatan

kebakaran

pada

bangunan. Namun dalam system proteksi kebakaran., dikenal apa yang


disebut sebagai segitiga proteksi, dimana manajemen keselamatan
kebakaran (FSM) menjadi salah satu komponen tak terpisahkan, selain
dua komponen lainnya : system proteksi aktif dan system proteksi pasif.
-

Kepmenneg PU no.11/KPTS/2000
Dalam Kepmenneg PU no. 11/KPT/2000 tentang Ketentuan Teknis

Manajemen

Penanggulangan

Kebakaran

di

Perkotaan,

Bab

IV

Manajemen Penanggulangan Kebakaran Bangunan Gedung, Klausul 1.1


point 1, mensyaratkan adanya manajemen keselamatan kebakaran
pada suatu bangunan gedung :
Setiap bangunan umum termasuk apartemen yang berpenghuni
minimal 500 orang, atau yang memiliki luas lantai minimal 5.000 m2,
atau mempunyai ketinggian bangunan lebih dari 8 lantai, atau
bangunan

rumah

sakit,

diwajibkan

menerapkan

Manajemen

Penanggulangan Kebakaran (MPK).


Tujuan adanya Manajemen Penanggulangan Kebakaran (MPK) ini,
masih dalam Kepmen yang sama, sebagaimana disebutkan dalam Bab
IV klausul 2.1 point 2 :
Bangunan gedung melalui penerapan MPK harus mampu
mengatasi kemungkinan terjadinya kebakaran melakui kesiapan dan
keandalan system proteksi yang ada, serta kemampuan petugas
menangani pengendalian kebakaran, sebelum bantuan dari instansi
pemadam kebakaran tiba.
Dengan demikian, semakin jelaslah bahwa menjadi kewajiban
bagi

pemilik/penggelola

bangunan

gedung

untuk

menjamin

keselamatan penghuni bangunan gedung melalui penerapan MPK.


Fire Safety Management harus dilaksanakan dari mulai proses
desain gedung, commisioning dan operasional gedung. Selama ini dalam

pembangunan gedung, pemilik gedung hanya melibatkan konsultan


perencana bangunan (arsitek), manajemen konstruksi, listrik

dan

kontraktor bangunan tetapi belum melibatkan konsultan fire safety.


Artinya pihak pemilik/pengelola harus lebih berkoordinasi dengan pihakpihak yang kompeten untuk setiap bidang, tidak terkecuali masalah fire
safety, dalam perencanaan pembangunan gedung. Sementara di negara
maju

dalam

pembangunan

gedung

harus

melibatkan

fire

safety

consultant.
Penyusunan Fire Safety Management memang tidak mudah karena
terdiri dari beberapa rangkaian system yang harus dijelaskan secara
terinci dan dapat diaplikasikan. Berikut ini adalah model / elemen Fire
Safety Management System untuk gedung dalam keadaan beroperasi,
yakni:

Management Commitment
Baseline Assessment
Pre-Fire Planning
Implementation
Control
Audit
Management Review
Dari

elemen-elemen

Fire

safety

Management

tersebut

memperlihatkan bahwa komitmen dari manajemen menjadi dasar dalam


penyusunan Fire Management System. Dan biasanya komitmen menjadi
kendala tersendiri seperti yang sudah dijelaskan dalam penelitian Fire
Safety Management.
Elemen berikutnya adalah Baseline Assessment.Tujuan dari baseline
assessment adalah untuk memberikan gambaran kepada manajemen atas
kondisi terakhir aspek-aspek keselamatan gedung miliknya atau yang
dikelolanya.Aspek-aspek tersebut adalah personil, peralatan dan sistem
atau prosedur yang ada. Dengan data yang terkumpul dari ketiga aspek
tersebut

maka pemilik/pengelola gedung akan dapat melihat posisi

kesiapannya

dalam

menghadapi kebakaran atau bentuk emergency

lainnya. Dengan demikian baseline assessment menjadi dasar dalam


penentuan perencanaan fire emergency.

Sementara itu untuk Pre-Fire Planning terdiri dari beberapa elemen


yaitu: prevention, preparedness, response dan recovery.
Fungsi Prevention (pencegahan) di sini adalah mengidentifikasi
penyebab-penyebab maupun akibat-akibat yang ditimbulkan lebih dini
sehingga

beberapa

tindakan

dapat

dilakukan

untuk

meminimalisir

kemungkinan kejadian yang mengakibatkan kebakaran untuk mengurangi


dampak insiden pada gedung maupun sekitar gedung.
Preparedness berarti merencanakan aktivitas, program dan sistem
yang disiapkan sebelum terjadi kebakaran.Pada preparedness inilah pihak
manajemen merancang suatu perencanaan yang matang dalam hal
penciptaan kesiapan tanggap darurat kebakaran. Seperti pemberian
training kepada security agar dapat menanggulangi kebakaran dini,
emergency drill yang melibatkan penghuni, penyiapan kerjasama dalam
penanggulangan kebakaran (mutual aid), pelaksanaan fire safety meeting
dengan penghuni atau pengguna gedung dan kegiatan lain yang bersifat
peningkatan kesiapsiagaan.
Response

(Penanggulangan)

bertujuan

menstabilkan

dan

mengendalikan fire emergency.Jika suatu kebakaran terjadi maka tindakan


penanggulangan

secara

efektif

harus

dilakukan.Bagaimana

mengkoordinasikan sumber daya yang ada?Bagaimana evakuasi dapat


berjalan

dengan

efektif?Belum

lagi

aspek

keselamatan

dalam

penanggulangan merupakan pertanyaan-pertanyaan yang harus terjawab


dalam operasi penanggulangan emergency.
Recovery (Pemulihan) merupakan elemen yang dipersiapkan untuk
mengembalikan fasilitas, lingkungan sekitar gedung dan perangkat
lainnya agar kembali berfungsi.Pada recovery inilah analisa dampak dan
minimalisasi dampak kebakaran harus dituangkan dalam perencanaan
recovery yang efektif dan dilaksanakan secara konsisten. Beberapa hal
penting yang patut dipertimbangkan secara matang adalah Incident
Investigation, Damage Assessment, Clean Up and Restoration, Business
Interruption, Claim Procedures dan lainnya.
Setelah Pre-Fire Planning ini tersusun maka langkah berikutnya
adalah

tinggal pelaksanaannya.Dalam tahap pelaksanaan

ini

perlu

dilakukan pengawasan agar setiap kegiatan mencapai tujuan yang


ditetapkan.Dalam sebuah sistem, elemen yang perlu dilakukan adalah
audit. Pelaksanaan audit ini sangat esensial untuk menjamin bahwa
selama sistem berjalan pada kurun waktu tertentu telah dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan dan kebijakan perusahaan.
Fire Safety Management ini juga harus dikaji ulang (review) agar
selalu kontekstual dengan perubahan gedung dan lingkungan gedung.
Sehingga Fire Safety Management akan selalu dapat diaplikasikan dan
tidak menimbulkan kebingungan. Review ini biasanya dilakukan karena
adanya perubahan organisasi, perubahan fisik bangunan gedung, adanya
ketentuan atau perundangan yang baru, adanya tuntutan keselamatan
dari penyewa gedung dan sebagainya.
Sistem Manajemen Keamanan Kebakaran dapat dijabarkan menjadi
lima jenis, Antara lain:
1. Sistem Manajemen Penanggulangan
Sistem Manajemen Penanaggulangan Kebakaran adalah bagian
dari

sistem

manajemen

keseluruhan

yang

meliputi

struktur

organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur,


proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan,
penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan
penanggulangan kebakaran dalam rangka pengendalian risiko yang
berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang
aman, efisien, dan produktif.
Tujuan penerapan MPK adalah untuk menciptakan suatu sistem
MPK di tempat kerja dengan melibatkanunsur manajemen, tenaga
kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka :

Mencegah dan mengurangi potensi kebakaran


Menciptakan tempat kerja yang aman terhadap kebakaran,

peledakan dan kerusakan yang pada akhirnya akan mel


2. Sistem Manajemen Pemadaman
Pemadam kebakaran atau branwir adalah petugas atau dinas
yang dilatih dan bertugasuntuk menanggulangi kebakaran. Pakaian
yang digunakan pemadam kebakaran adalahpakaian khusus yang

berbentuk astronot yang biasanya dipakai untuk menyelamatkan


korbankebakaran. Biasanya para pemadam kebakaran mamakai baju
anti api agartidak mudah terbakar dan juga mereka memakai bagian
baju yang mengkilat agar mudahterlihat. Api terbentuk karena
adanya interaksi beberapa unsur/elemen yang padakesetimbangan
tertentu

dapat

menimbulkan

api.

Sedangkan

kebakaran

yaitu

peristiwabencana yang ditimbulkan oleh api, yang tidak dikehendaki


oleh manusia dan bisamengakibatkan kerugian nyawa dan harta.
Dalam pemadaman kebakaran, api ditinjau dari jenisnya dan dapat
dikategorikanmenjadi 2 jenis api yaitu api jinak dan api liar.Jenis api
jinak artinya api yang masih dapat dikuasai oleh manusia, sedang
jenis api liar tidakdapat dikuasai, inilah yang dinamakan kebakaran.
Dalam proses pemadaman kebakaran, pemadam kebakaran biasanya
menggunakan jaket berwarna orange. Jaket orange yang digunakan
oleh petugas pemadam kebakaran berfungsi untukmelindungi diri
dari panasnya api pada saat memadamkan api. Petugas pemadam
kebakaran

selain

terlatih

untuk

menyelamatkan

korban

dari

kebakaran,juga dilatih untuk menyelamatkan korban kecelakaan lalu


lintas, gedung runtuh, dan lain-lain. Dinas pemadam kebakaran
adalah unsur pelaksana pemerintah yang diberi tanggungjawab
dalam melaksanakan tugas-tugas penanganan masalah kebakaran,
yang termasukdalam dinas gawat darurat.
3. Sistem Manajemen Evakuasi
Evakuasi

merupakan

usaha

penyelamatan

korban,

yang

dimaksud dengan korban disini adalah semua orang yang mengalami


dampak negatif dari adanya sesuatu hal. Evakuasi dilakukan setelah
terjadinya kebakaran. Sedangkan sistem manajemen evakuasi dibuat
saat masih dalam proses perancangan gedung. Ada dua hal yang
perlu diperhatikan dalam membuat sistem manajemen evakuasi,
antara lain:

- Menganalisa letak potensi terjadinya kebakaran. Ini sangat


penting dilakukan karena dari sini kita dapat mengetahui
bagian mana dari bangunan yang rawan terhadap kebakaran,

sehingga kita bisa memperjelas bagaimana sistem evakuasi

apabila terjadi kebakaran.


Menganalisa jalur evakuasi. Jalur evakuasi sendiri harus
dibuat secara sistematis agar penghuni gedung dapat

dievakuasi dengan mudah.


4. Sistem Manajemen Alat dan Manusia
Dalam sistem ini, dijelaskan bagaimana cara menempatkan dan
menggunakan alat pemadam yang ada pada bangunan, dan juga
bagaimana sistem dari manusia itu sendiri dalam menggunakannya.
Sehingga diupayakan agar alat pemadam mudah untuk dilihat dan
dijangkau oleh orang dewasa.
5. Sistem Manajemen Edukasi
Manusia yang ada di dalam gedung wajib mendapatkan edukasi
mengenai api, kebakaran, dan bagaimana cara evakuasi baik secara
lisan maupun tulisan. Ini dimaksudkan agar siapapun yang berada di
lokasi kebakaran agar mampu melakukan pertolongan pertama pada
diri sendiri melalui jalur-jalur yang telah dijelaskan pada edukasi
kebakaran.
D. Usaha Pencegahan
Pencegahan dalam hal ini adalah suatu usaha secara bersama untuk
menghindari kebakaran dalam arti meniadakan kemungkinan terjadinya
kebakaran. Usaha ini pada mulanya dilakukan oleh pihak yang berwenang
dan menuntut peran serta dari masyarakat. Sebelum sebuah bangunan
itu didiami, bangunan hendaknya diperiksa terlebih dahulu oleh Pihak
Jabatan Bomba dan Penyelamat untuk mendapatkan kelulusan dalam hal
bangunan aman untuk didiami.
Usaha usaha yang dilakukan Pemerintah, yaitu:
a. Mengadakan dan menjalankan undang undang / peraturan daerah
seperti :
Undang undang gangguan yang mengatur segala sesuatu yang
berhubungan dengan tempat tinggal atau tempat mendirikan

bangunan.
Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 02/KPTS/1985 tentang
ketentuan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran
pada gedung bertingkat.

Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 3 tahun 1992 tentang


ketentuan penanggulangan bahaya kebakaran dalam wilayah DKI

Jakarta.
b. Mengadakan perbaikan kampung yang meliputi sarana sarana fisik
berupa

pembuatan

jaringan

jalan

dan

sarana

sanitasi,

serta

meningkatkan kesejahteraan sosial penduduk.


c. Mengadakan penyuluhan kepada masyarakat yang berkaitan dengan
masalah kebakaran, perlu ditekankan bahwa undang undang /
peraturan daerah yang ada serta penyuluhan penyuluhan yang
diadakan sama sekali tidak berguna bila tidak dijalankan dengan baik.
Mengenai sistem pencegahan atau perlindungan dari kebakaran pada
bangunan kantor pos, dapat diuraikan seperti di bawah ini:
1. Sistem Pencegahan Aktif
Sistem pencegahan aktif merupakan upaya pencegahan terjadinya
kebakaran secara dini dari dalam bangunan itu sendiri, yang diusahakan
sendiri

oleh

pemilik

gedung,

yang

diantaranya

adalah

dengan

memasang :

Peralatan detektor kebakaran pada titik-titik strategis,


Pemasangan peralatan detektor kebakaran pada titik-titik strategis
di tiap lantainya harus memperhatikan fungsi ruang pada lantai
tersebut

karena

fungsinya

yang

sebagai

pendeteksi

akan

terjadinya kebakaran. Pada bangunan kantor pos, terdapat 37


peralatan detektor pada basement 1 yang berupa smoke detektor,
47 peralatan detektor pada basement 2 yang juga berupa smoke
detektor, dan 2 peralatan detektor pada masing-masing lantainya
yang berfungsi sebagai ruang kerja. Masing-masing peletakannya
berada pada jarak yang konsisten yaitu setiap 4 meter.

Pemasangan sprinkle
Jumlah sprinkle yang dipasang tiap lantainya diperhitungkan dari
berapa banyak penghuni dalam ruangan tersebut, fungsi dan besar
ruangan. Seperti pada lobby kantor pos yang di dalamnya terdapat

6 buah sprinkle, sementara di ruang kerjanya bisa mencapai 25


buah sprinkle.

Penyediaan hydrant dan tabung pemadam kebakaran


Peletakan dan jumlah penyediaan hydrant dan tabung pemadam
kebakaran harus mempertimbangkan jarak atau jangkauan agar
mudah dicapai ke lokasi yang mengalami kebakaran. Sebaiknya
ditempatkan di dalam dan luar bangunan. Pada bangunan kantor
pos, peletakan hydrant dan tabung pemadam kebakaran terletak di
bagian dalam maupun luar bangunan. Jumlah penyediaannya lebih
ditekankan pada bagian dalam bangunan dibandinkan pada bagian
luar bangunan agar proses pemadaman bisa dilakukan dengan
cepat.

Alarm kebakaran
Peletakan alarm kebakaran harus diletakkan di tempat yang
strategis karena berfungsi sebagai pemberi sinyal akan terjadinya
kebakaran. Pada bangunan kantor pos, terdapat masing-masing 3
alarm kebakaran di basement 1 dan basement 2, serta 2 alarm
kebakaran pada tiap lantainya.

2. Sistem Pencegahan atau Proteksi Pasif


Sistem Proteksi Pasif (SPP) adalah sistem perlindungan bangunan
terhadap kebakaran melalui pertimbangan sifat termal bahan bangunan,
penerapan sistem kompartemenisasi dalam bangunan, serta persyaratan
ketahanan api struktur bangunan. Sistem proteksi pasif bekerja melalui
sarana pasif yang terdapat pada bangunan. Biasanya juga disebut sebagai
sistem perlindungan bangunan dengan menangani api dan kebakaran
secara tidak langsung. Caranya dengan meningkatkan kinerja bahan
bangunan, struktur bangunan, pengontrolan dan penyediaan fasilitas
pendukung penyelamatan terhadap bahaya api dan kebakaran.
Yang termasuk di dalam sistem proteksi pasif ini antara lain :
-

Perencanaan dan desain site, akses dan lingkungan bangunan

Dalam perencanaan dan desain site, akses, dan lingkungan bangunan


beberapa hal yang termasuk di dalam permasalahan site dalam kaitannya
dengan penanggulangan kebakaran ini antara lain :

Penataan blok-blok massa hunian dan jarak antar bangunan


Jika bangunan gedung bertingkat lebih dari satu bangunan, usahakan
jarak bangunan satu dengan bangunan lainnya berjarak minimal 30 m
yang dapat dipergunakan untuk akses masuk mobil pemadam
kebakaran dengan perkerasan lapisan conblock. Letak bangunan
kantor pos yang berada di pertemuan 3 jalan utama dan berjarak 30
m dari pemukiman warga, sangat memudahkan mobil pemadam
kebakaran untuk bisa mencapai ke bangunan kantor pos.

Kemudahan pencapaian ke lingkungan pemukiman maupun bangunan.


Akses ke bangunan kantor pos bisa dibilang mudah dicapai karena
terdapat 3 jalan utama di sekitar bangunan kantor pos yang dapat
digunakan sebagai jalur mobil pemadam kebakaran, yaitu Jalan Banda,
Jalan Riau, dan Jalan RM Martadinata.

Tersedianya area parkir ataupun open space di lingkungan kawasan.

Menyediakan hidrant eksterior di lingkungan kawasan.

Menyediakan aliran dan kapasitas suply air untuk pemadaman.


Terdapat beberapa titik ground tank, hydrant, dan siamese di luar
bangunan kantor pos yang sengaja dibuat sebagai penyedia air untuk
pemadaman.

Akses Petugas Pemadam Kebakaran Didalam Gedung


Fasilitas yang tersedia untuk akses petugas adalah lobby gedung yang
dapat dipergunakan untuk koordinasi operasi pemadaman kebakaran
dan juga tersedianya akses berupa lift dan tangga .

Perencanaan struktur dan konstruksi bangunan


Dalam perencanaan sistem ini hal yang perlu diperhatikan antara lain:

Pemilihan material bangunan yang memperhatikan sifat material

Gedung bertingkat dibangun dengan menggunakan kontruksi beton


yang pada dasarnya tidak mudah terbakar. Lay out interior gedung
haruslah

merupakan

ruang

terbuka

(open

space)

hal

ini

memungkinkan memperlambat api untuk menjalar. Penyekat ruang


plafond terpasang dengan bahan asbes tahan api, memungkinkan
penahan menjalarnnya api.

Kemampuan / daya tahan bahan struktur (fire resistance) dari


komponen-komponen struktur.

Penataan ruang, terutama berkaitan dengan areal yang rawan bahaya,


dengan memilih material struktur yang lebih resisten.
Dalam hal konstruksi, konstruksi yang dipilih adalah konstruksi yang

tahan terhadap api. Terdapat tipe kontruksi tahan api terdiri dari tipe A, B,
dan C menurut SNI 03-1736-989

Tipe A : Konstruksi yang unsur struktur pembentuknya tahan api dan


mampu menahan secara struktural terhadap beban bangunan.

Tipe B : Kontruksi yang elemen struktur pembentuk kompartemen


penahan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang
dalam bangunan.

Tipe C : Komponen struktur bangunannya adalah dari bahan yang


dapat terbakar serta tidak dimaksudkan untuk mampu menahan
secara struktural terhadap kebakaran.

Perencanaan

daerah

dan

jalur

penyelamatan

(evakuasi)

pada

bangunan
Perencanaan daerah dan jalur penyelamatan biasanya diperuntukkan
untuk bangunan pemukiman berlantai banyak dan merupakan bangunan
yang lebih kompleks seperti bangunan kantor pos. Beberapa hal yang
menjadi pertimbangan perencanaan sistem ini :

Kalkulasi

jumlah

penghuni/pemakai

bangunan.

penghuni/pemakai bangunan kantor pos berkisar 800 orang.

Jumlah

Tangga kebakaran dan jenisnya


Tersedia tangga darurat yang tertutup dengan pintu tahan api, tangga
darurat diharuskan adanya lebih dari satu buah, dengan jarak
maksimal 20 m dari akses pintu masuk atau pintu keluar gedung.
Tangga darurat harus langsung menuju ke arah luar bangunan. Pada
bangunan kantor pos sendiri, terdapat empat buah tangga darurat
yang disediakan sebagai jalur evakuasi pemakai/pengguna bangunan.

Pintu kebakaran

Daerah perlindungan sementara

Jalur keluar bangunan.


Terdapat simbol penanda yang mengarahkan ke jalur evakuasi
terdekat pada setiap tempat yang strategis, yaitu tangga darurat yang
langung mengarahkan ke tempat berkumpul (muster point) di luar
bangunan

kantor

pos

berupa

open

space

untuk

kepentingan

penyelamatan pengguna/pemakai bangunan. Simbol penanda ini juga


bisa terlihat dalam gelap dan harus mudah dikenali agar evakuasi
dapat berlangsung dengan cepat.

Peralatan dan perlengkapan evakuasi


Peralatan dan perlengkapan evakuasi harus lengkap, permanen, dan
mudah dikenali serta bersifat otomatis agar evakuasi dapat berjalan
dengan lancar, bisa berupa simbol penanda exit yang diletakkan di
tempat strategis dan bisa terlihat walaupun dalam keadaan gelap,
pintu darurat yang bisa tertutup secara otomatis, tangga darurat yang
tahan api, dll.

BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
utilitas sistem kebakaran pada bangunan kantor pos telah memenuhi
syarat dan sesuai dengan standar yang berlaku. Seperti adanya sistem
pencegahan serta penerapan sistem deteksi kebakaran. Dengan adanya
sistem ini pada bangunan kantor pos, bangunan dapat terlindungi serta
nyawa

penghuni

bangunan

tersebut

dapat

terselamatkan.

Setiap

pemasangan sistem pencegah kebakaran atau perlindungan kebakaran


patut mengikuti akta dan standar yang bersesuaian dengan bangunan
tersebut. Setelah terjadinya kebakaran, terdapat dua hal yang umum
dilakukan yaitu tindakan pemadaman dan evakuasi sistem evakuasi
dalam bencana kebakaran dilakukan dengan cara menyelamatkan korban
yang terjebak di dalam areal gedung atau wilayah yang terbakar.
Penyelamatan korban dari areal gedung dapat dilaksanakan melalui
beberapa jalur evakuasi yang memang disediakan sebelumnya. Jalur-jalur
evakuasi tersebut diantaranya adalah tangga darurat, pintu keluar darurat
dan balkon pada ruang-ruang yang ada pada gedung bertingkat. Proses
pemadaman

dilakukan

dengan

menggunakan

beberapa

peralatan

penunjang seperti alat penyediaan air maupun proses penyaluran air


menuju titik api. Bangunan yang baik adalah bangunan yang sudah
dilengkapi oleh semua sistem utilitas utama maupun penunjang. Oleh
sebab itu sistem pemadam kebakaran sangat diperlukan pada setiap
bangunan baik itu yang difungsikan sebagai ruang privat maupun ruang
publik.
B. Saran
Sejalan dengan simpulan diatas penyusun merumuskan saran
bahwa sistem pemadam kebakaran sangat diperlukan pada setiap
bangunan baik itu yang difungsikan sebagai ruang privat maupun ruang
publik.Dalam pendirian sebuah bangunan terdapat beberapa sistem

utilitas yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah sistem pencegahan


dan pemadam kebakaran.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN